• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PERADILAN PIDANA ANAK MENURUT UU NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

A. Pengaturan Hukum Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan

3. Sanksi Pidana dan Tindakan a. Sanksi Pidana

Penggunaan istilah pidana diartikan sebagai sanksi pidana. Untuk pengertian yang sama sering juga digunakan istilah lain yaitu hukuman, penghukuman, pemidanaan, penjatuhan hukuman, pemberian pidana dan hukuman pidana.

Menurut Van Hammel Pidana (Straf) merupakan suatu penderitaan yang bersifat khusus yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama negara sebagai penanggung jawab dari ketertiban hukum umum bagi seorang pelanggar, yakni semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara.84

Sudarto menyatakan secara tradisional, pidana didefinisikan sebagai nestapa yang dikenakan oleh negara kepada seseorang yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang, sengaja agar dirasakan sebagai nestapa.85

Berdasarkan rumusan mengenai apa yang dimaksud dengan pidana seperti yang dikemukakan oleh pakar tersebut di atas, lain halnya dengan pendapat Hulsman.Menurut Hulsman hakikat pidana adalah86“menyerukan untuk tertib. Pidana pada hakikatnya mempunyai dua tujuan utama, yakni untuk mempengaruhi tingkah laku dan penyelesaian konflik. Penyelesaian konflik ini dapat terdiri perbaikan kerugian yang dialami atau perbaikan hubungan baik yang dirusak atau pengembalian kepercayaan antar sesama manusia.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pidana mengandung unsur-unsur serta ciri-ciri sebagai berikut :

84 Marlina, Hukum Penitensier,Op.Cit,hlm.18

85 Ibid, hlm. 19

86

1. Pidana pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan nestapa atau penderitaan atau akibat lain yang tidak menyenangkan.

2. Pidana diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang).

3. Pidana itu diberikan kepada orang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.

Rumusan sanksi pidana dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak mengatur dua jenis sanksi pidana yang berupa pidana dan tindakan namun bentuk sanksi yang ditentukan tidak menunjukkan tujuan pemidanaan yang hendak melindungi kepentingan anak.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juga menyatakan bahwa terdapat dua sanksi pidana yaitu berupa pidana dan tindakan.

Sanksi pidana yang dapat dijatukan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 meliputi87 :

1. Pidana pokok bagi anak terdiri atas : a. Pidana Peringatan

Pidana peringatan merupakan pidana ringan yang tidak menyebabkan pembatasan kebebasan anak.88

87 Pasal 71 ayat (1) Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

Berdasarkan penjelasan pasal 9 ayat (2) huruf b UU No. 11 Tahun 2012 dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan pidana ringan dalam pasal 72 UU No. 11 Tahun 2012 adalah pidana penjara atau pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan.

b. Pidana dengan Syarat

Berdasarkan Pasal 73 ayat (1) jo. Ayat (2), jo. Ayat (3) jo ayat (4) UU No. 11 Tahun 2012, dapat diketahui bahwa pidana dengan syarat adalah pidana yang dijatuhkan oleh hakim kepada anak yang tidak perlu dilaksanakan oleh anak, dengan syarat bahwa selama menjalani masa pidana, anak harus memenuhi syarat umum berupa tidak akan melakukan tindak pidana dan syarat khusus berupa untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu yang ditetapkan dalam putusan hakim, yang mana pidana dengan syarat dapat dijatuhkan oleh Hakim dalam hal pidana penjara yang dijatuhkan paling lama 2 (dua) tahun, dengan jangka waktu masa pidana dengan syarat paling lama 3 (tiga) tahun.

Bentuk pidana dengan syarat yang dapat dijatuhkan oleh hakim antara lain89:

1) Pembinaan di luar lembaga

Pembinaan di luar lembaga dapat berupa :

a) Mengikuti program pembimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh pejabat Pembina.

89 71 ayat (1) huruf b UU No.11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

b) Mengikuti terapi di rumah sakit jiwa, atau

c) Mengikuti terapi akibat penyalahgunaan alcohol,narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

2) Pelayanan masyarakat

Berdasarkan Pasal 76 ayat (1) jo ayat (3) UU No. 11 Tahun 2012 Pidana pelayanan masyarakat merupakan pidana yang dimaksudkan untuk mendidik anak dengan meningkatkan kepeduliannya pada kegiatan kemasyarakatan yang positif.

Pidana pelayanan masyarakat untuk anak dijatuhkan paling singkat 7 (tujuh) jam dan paling lama 120 (seratus dua puluh) jam.

3) Pengawasan

Penjelasan pasal 77 ayat (1) UU No.11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “pidana pengawasan”

adalah pidana yang khusus dikenakan untuk anak, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh penuntut umum terhadap perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari di rumah anak dan pemberian bimbingan yang dilakukan oleh pembimbing kemasyarakatan.

Pidana pengawasan yang dapat dijatuhkan kepada anak paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun.

c. Pelatihan Kerja

Penjelasan Pasal 78 ayat (1) jo ayat (2) UU No. 11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “lembaga yang

melaksanakan pelatihan kerja antara lain balai latihan kerja, lembaga pendidikan vokasi yang dilaksanakan, misalnya oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan,pendidikan, atau sosial, yang dilaksanakan paling singat 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.

d. Pembinaan dalam Lembaga

Berdasarkan pasal 80 ayat (1), (2), dan (3) dapat diketahui bahwa Pidana pembinaan dalam lembaga dilakukan di tempat pelatihan kerja atau lembaga pembinaan yang diselenggarakan, baik oleh pemerintah maupun swasta. Pidana pembinaan dalam lembaga dijatuhkan apabila keadaan dan perbuatan anak tidak membahayakan masyarakat, yang dilaksanakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

e. Penjara

Pidana penjara merupakan pidana pembatasan kebebasan yang diberlakukan dalam hal anak melakukan tindak pidana berat atau tindak pidana yang disertai dengan kekerasan, yang mana keadaan dan perbuatan anak akan membahayakan masyarakat, yang hanya digunakan sebagai upaya terakhir.

Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak paling lama ½ (satu perdua) dari maksimum pidana penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa yang dilaksanakan di LPKA sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Jika tindak pidana

yang dilakukan oleh Anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.

Penjelasan pasal 79 ayat (2) UU SPPA tersebut menyebutkan bahwa maksimum ancaman pidana bagi orang dewasa adalah maksimum ancaman pidana penjara terhadap tindak pidana yang dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam KUHP atau undang-undang lain, yang mana minimum khusus pidana penjara tidak berlaku terhadap anak.

2. Pidana tambahan yang dapat dijatuhkan terhadap anak terdiri atas perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana atau pemenuhan kewajiban adat.90

Penjelasan Pasal 71 ayat (1) huruf b UU No. 11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “kewajiban adat” adalah denda atau tindakan yang harus dipenuhi berdasarkan norma adat setempat yang tetap menghormati harkat dan martabat anak serta tidak membahayakan kesehatan fisik dan mental anak.

b. Sanksi Tindakan

Tindakan adalah apa yang dibebankan kepada orang yang melakukan tindak pidana yang bukan merupakan penderitaan atau apa yang bukan merupakan penderitaan atau apa yang bukan merupakan reaksi

atas delik yang bukan berwujud suatu nestapa yang ditimpahkan negara pada pembuat delik itu.

E. Utrecht mengemukakan bahwa hukuman bertujuan memberi penderitaan yang istimewa kepada pelanggar supaya ia merasa akibat perbuatannya, sedangkan tujuan tindakan lebih bersifat melindungi, mendidik dan lebih bersifat sosial.

Jenis-jenis tindakan yang dapat dikenakan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum, antara lain91:

a. Pengembalian kepada orang tua atau wali b. Penyerahan kepada seseorang;

Penjelasan pasal 82 ayat (1) huruf b UU No. 11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “penyerahan kepada seseorang” adalah penyerahan kepada orang dewasa yang dinilai cakap, berkelakuan baik dan bertanggung jawab oleh hakim serta dipercaya oleh anak.

c. Perawatan di rumah sakit jiwa

Penjelasan pasal 82 ayat (1) huruf c UU No, 11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa tindakan ini diberikan kepada anak yang pada waktu melakukan tindak pidana menderita gangguan jiwa atau penyakit jiwa.

d. Perawatan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS).

91 Pasal 82 UU No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

e. Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta.

f. Pencabutan surat izin mengemudi.

g. Perbaikan akibat tindak pidana

Penjelasan pasal 82 ayat (1) huruf g UU No.11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “perbaikan akibat tindak pidana”, misalnya memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh tindak pidananya dan memulihkan keadaan sesuai dengan sebelum terjadinya tindak pidana.

Berdasarkan pasal 21 UU No.11 Tahun 2012, diketahui bahwa dalam hal anak belum berumur 12 (dua belas tahun) melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, Penyidik, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Pekerja Sosial Profesional mengambil keputusan untuk Menyerahkannya kembali kepada orang tua atau wali;

Mengikutsertakannya dalam program pendidikan, pembinaan, dan pembimbingan di instansi pemerintah atau LPKS di instansi yang menangani kesejahteraan sosial, baik di tingkat pusat maupun daerah,paling lama 6 (enam) bulan.

Mengenai penjatuhan sanksi pidana maupun tindakan terhadap anak, pasal 69 UU No.11 Tahun 2012 menentukan bahwa anak hanya dapat dijatuhi pidana atau dikenai tindakan berdasarkan ketentuan dalam UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Anak yang

belum berusia 14 (empat belas) tahun hanya dapat dikenai tindakan92. Artinya anak yang berkonflik dengan hukum yang berusia dibawah 14 tahun tidak dapat dikenai sanksi pidana, tetapi dapat dikenai sanksi tindakan, sedangkan anak yang berkonflik dengan hukum yang berusia 14 tahun keatas sudah dapat dikenai sanksi pidana.

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 menawarkan konsep tindakan (maatregel) sebagai upaya alternatif selain penjatuhan pidana (straf), seperti pada Pasal 82 dimana alternatif penyelesaian harus menjadi prioritas. Hal ini disebabkan karena secara konseptual hukum pidana merupakan ultimum remidium.93

Tidak dijatuhkannya pidana maupun tidak dikenakannya tindakan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dapat dilakukan dengan mempertimbangkan ringannya perbuatan, keadaan pribadi anak atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan.94

B. Proses Peradilan Pidana Anak Pelaku Tindak Pidana Pencabulan