• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan sistem adalah perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Menurut Satjipto Rahardjo sistem adalah suatu kesatuan yang bersifat kompleks, yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain.

Peradilan adalah suatu proses yang dijalankan di pengadilan yang berhubungan dengan tugas memeriksa, memutus dan mengadili perkara.13 Pengertian peradilan menurut Sjachran Basah, adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas dalam memutus perkara dengan menerapkan hukum, menemukan hukum in concreto dalam mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum materil, dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal, oleh karena itu peradilan itu merupakan salah

13

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt548d38322cdf2/perbedaan-peradilan-satu kekuasaan yang berdiri sendiri dan berdampingan dengan kekuasaan lainnya

.

Perwujudan Pemberian keamanan kepada setiap warga negara diperlukan tindakan dari aparat penegak hukum dengan melaksanakan proses hukum terhadap pelaku tindak pidana. Pelaksanaan proses hukum terhadap pelaku tindak pidana berada dalam satu sistem yang terdiri dari subsistem yang berhubungan yang disebut dengan sistem peradilan pidana (Criminal Justice System).14

Sistem Peradilan Pidana yang digunakan sebagai perangkat hukum dalam menanggulangi berbagai bentuk kriminalitas di masyarakat dianggap bentuk respon penanggulangan kriminal dan wujud usaha penegakan hukum pidana. Sistem tersebut diharapkan mampu menyelesaikan persoalan kejahatan yang terjadi, akan tetapi dalam pelaksanaannya tujuan tersebut belum seluruhnya berhasil. Sebagai contoh banyak pelaku tindak pidana yang telah melewati semua tahapan sistem peradilan pidana kembali mengulangi kejahatannya atau residivis.

Hakikatnya sejak tanggal 17 agustus 1945 pengaturan anak diatur dalam ketentuan pasal 45, pasal 46, dan pasal 47 KUHP. Dalam ketentuan KUHP tersebut pengadilan anak dilakukan terhadap orang yang belum berumur 16 (enam belas) tahun dimana terhadap mereka dapat dijatuhi pidana, dikembalikan kepada orang tua atau wali atau pemeliharaannya tanpa pidana apapun atau dijadikan Anak Negara.

14

Pengaturan anak ini dari perspektif teoritis dan praktik lebih lanjut diatur dalam SEMA RI nomor 3 tahun 1959 tanggal 15 februari 1959 yang pada pokoknya menentukan bahwa demi kepentingan anak-anak disarankan pemeriksaan perkara anak-anak dengan pintu tertutup tanggal 1 maret 1996 pada hakikatnya keterangan pemerintah menyampaikan pokok pikiran yang melatarbelakangi penyusunan peradilan anak, yaitu :

a. Rancangan Undang-Undang Peradilan Anak disusun dengan dasar pemikiran bahwa anak merupakan bagian dari generasi muda adalah aset bangsa.

b. Peradilan anak meliputi semua aktivitas pemeriksaan dan pemutusan perkara yang menyangkut kepentingan anak.

c. Secara sosiologis perhatian anak sebenarnya sudah sejak lama diberikandari pelbagai pertemuan ilmiah yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun oleh badan-badan.

d. Secara yuridis, pemberian perlindungan hak-hak anak oleh dunia internasional dimulai sejak Deklarasi PBB tahun 1959 tentang hak-hak anak dan terakhir konvensi hak-hak anak (convention on the rights of the child).

Peraturan khusus tentang anak diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak maka dalam hal anak yang berhadapan dengan hukum para penegak hukum berpedoman pada peraturan tersebut, namun seiring berjalannya waktu peraturan tersebut dirasa kurang cukup untuk memberikan perlindungan khusus bagi anak, maka dari itu

dikeluarkanlah suatu pembaharuan dalam sistem peradilan pidana anak dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Sesuai dengan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak defenisi daripada Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai dari tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

Pada tanggal 31 Juli 2014 Undang-Undang SPPA efektif, normatif, teoritis dan praktik berlaku menggantikan UU Nomor 3 Tahun 1997. UU SPPA mengatur keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. Dari konteks ini dapat dijabarkan lebih lanjut, bahwa Sistem peradilan pidana anak meliputi :

1. Penyidikan dan penuntutan pidana anak yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang;

2. Persidangan anak yang dilakukan oleh pengadilan di lingkungan peradilan umum; dan

3. Pembinaan, pembimbingan, pengawasan, dan/atau pendampingan selama proses pelaksanaan pidana atau tindakan dan setelah menjalani pidana atau tindakan. Undang-Undang SPPA tidak mengenal

paradigma kategori anak pidana, anak negara dan anak sipil sebagaimana diatur dalam Undang-Undang nomor 3 tahun 1997.

Sistem Peradilan Pidana Anak mempunyai karakteristik sebagai berikut 15:

1. Sistem Peradilan Pidana Anak terdiri atas komponen atau subsistem yang berupa :

a. Penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik, yaitu pejabat polisi negara RI sebagaimana yang dimaksud dalam UU No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara RI.

b. Penuntutan yang dilakukan oleh Penuntut Umum, yaitu Jaksa sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI.

c. Pemeriksaan di sidang yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri sebagai Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tinggi sebagai Pengadilan Tingkat Banding, yaitu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 dan Pasal 51 ayat (1) UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

d. Petugas kemasyarakatan yang terdiri atas a.Pembimbing Kemasyarakatan; b.Pekerja Sosial Profesional; c. Tenaga Kesejahteraan Sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 UU No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

15

2. Komponen atau subsistem dari Sistem Peradilan Pidana Anak tersebut dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya saling berhubungan satu sama lain dalam suatu pola saling ketergantungan seperti yang ditentukan dalam atau mengikuti Hukum Acara Peradilan Anak, yaitu dalam Bab III dari UU No. 11 Tahun 2012

3. Keseluruhan Sistem Peradilan Anak lebih dari sekadar penjumahan dari komponen-komponennya dalam pengertian sistem peradilan pidana anak yang terpenting bukanlah soal kuantitas suatu komponen sistem peradilan anak, tetapi soal kualitas dari komponen sistem peradilan pidana anak secara keseluruhan. Mardjono Reksodipoetra mengemukakan bahwa empat komponen sistem peradilan pidana anak haruslah dapat bekerja sama dan dapat membentuk suatu integrated criminal justice system. Aspabila keterpaduan dalam bekerja sistem tidak dilakukan, maka terdapat tiga kerugian yang mungkin timbul, yakni :

a. Kesukaran dalam menilai sendiri keberhasilan atau kegagalan masing-masing instansi, sehubungan dengan tugas mereka bersama.

b. Kesulitan dalam memecahkan sendiri masalah pokok masing-masing instansi (sebagai subsistem dari sistem peradilan pidana) c. Karena tanggung jawab masing-masing instansi sering kurang jelas

terbagi, maka setiap instansi tidak terlalu memperhatikan efektivitas menyeluruh dari sistem peradilan pidana.

3. Tinjauan Tentang Tindak Pidana Pencabulan 3.1. Pengertian Tindak Pidana dan Unsur Tindak Pidana.

A. Pengertian Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis formal, tindak pidana merupakan bentuk tingkah laku yang melanggar undang-undang pidana. Oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilarang oleh undang-undang harus dihindari dan arang siapa melanggarnya maka akan dikenakan pidana.16

Tindak Pidana berasal dari kata “straftbaar feit” merupakan rangkaian dari kata“strafbaar”dan kata“feit” untuk pengertian “strafbaar feit” terdapat banyak istilah antara lain, tindak pidana, perbuatan pidana, peristiwa pidana atau delik. Istilah “tindak pidana” adalah istilah yang paling seringdijumpai sebagai istilah yang sudah dibakukan..“Strafbaar”

mengandung pengertian “dapat dihukum“ sedangkan “feit” berarti sebagian dari suatu kenyataan. Jadi secara harfiah arti “strafbaar feit”

adalah sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum. Pengertian secara harfiah tersebut merupakan pengertian yang tidak tepat, dikarenakan yang dapat dihukum adalah manusia pribadi ataupun korporasi, bukan suatu kenyataan.

16 P.A.F. Lamintang ,Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. 1996, Bandung:

PT. Citra Adityta Bakti, hlm. 7

Pengertian Tindak Pidana yang lebih tepat, dapat dilihat dari pendapat para ahli, yang secara doktrinal terdiri atas dua pandangan, yakni pandangan monistis dan pandangan dualistis. Pandangan Monistis adalah suatu pandangan yang melihat keseluruhan syarat untuk adanya pidana itu kesemuanya merupakan sifat dari perbuatan. Pandangan ini memberikan prinsip-prinsip pemahaman, bahwa didalam pengertian perbuatan atau tindak pidana sudah tercakup didalamnya perbuatan yang dilarang (Criminal act) dan pertanggung-jawaban pidana atau kesalahan (Criminal responbility).

Adapun beberapa pengertian dari Tindak Pidana (straftbaar feit) menurut para ahli yang dapat digolongkan menganut pandangan monoistis tidak adanya pemisahan antara criminal act dan criminal responsibility, yaitu :

1) Simons

Simons merumuskan strafbaar feit sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. Hal itu dikarenakan: a) Untuk adanya suatu strafbaar feit disyaratkan bahwa di dalamnya harus terdapat suatu tindakan yang dilarang ataupun yang diwajibkan oleh undang-undang, dimana pelanggaran terhadap larangan ataupun kewajiban semacam itu telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum; b) Agar sesuatu

tindakan dapat dihukum, maka tindakan tersebut harus memenuhi semua unsur dari delik seperti yang dirumuskan di dalam undang-undang;c) Setiap strafbaar feit sebagai pelanggaran terhadap larangan atau kewajiban menurut undang-undang itu, pada hakikatnya merupakan suatu tindakan melawan hukum atau merupakan suatu “onrechtmatige handeling”.17 2) J.Bauman

“Menurut J.Bauman, perbuatan tindak pidana adalah perbuatan yang memenuhi rumusan delik, bersifat melawan hukum dan dilakukan dengan kesalahan”

3) Wirjono Prodjodikoro

Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana18

Berbeda dengan pandangan Monistis yang melihat perbuatan yang dilarang (Criminal act) dan pertanggung-jawaban pidana atau kesalahan (Criminal responbility), pandangan dualistis memisahkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana. Apabila menurut pandangan Monistis dalam pengertian tindak pidana sudah tercakup di dalamnya baik Criminal Act maupun Criminal responsibility, menurut pandangan dualistis dalam tindak pidana hanya dicakup Criminal act, dan Criminal responsibility tidak menjadi unsur tindak pidana. Menurut pandangan dualistis, untuk adanya pidana tidak cukup hanya apabila telah terjadi

17 Abidin A.Z dan Andi Hamzah, Pengantar Dalam Hukum Pidana Indonesia, 2010, Jakarta: Yarsif Watampone, hlm. 224-225

18

tindak pidana, tetapi dipersyaratkan juga adanya kesalahan atau pertanggungjawaban pidana 19.

Adapun pengertian Tindak Pidana menurut ahli yang dapat digolongkan menganut pandangan dualistis, yaitu :

1) H.B. Vos

H.B. Vos mengemukakan bahwa strafbaar feit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang undangan .20

2) Pompe

Pompe berpendapat bahwa menurut hukum positif tindak pidana (strafbaat feit) adalah tidak lain daripada suatu tindakan yang menurut rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum .21

3) Moeljatno

Moeljatno memberi arti bahwa tindak pidana adalah perbuatan pidana sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut.

Pada dasarnya tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan hukum, yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan. Orang yang melakukan perbuatan pidana akan mempertanggungjawabkan perbuatan dengan pidana apabila ia mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada

19 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana,1993, Jakarta:Rineka Cipta, hlm 54.

20 Adami Chazawi, Op.Cit,hlm. 72

21

waktu melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukan pandangan normatif mengenai kesalahan yang dilakukan 22

B. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Pengenaan Pidana mempunyai syarat-syarat tertentu yang lazim disebut dengan Unsur-Unsur Tindak Pidana yang harus dipenuhi untuk dapat mengenakan pidana pada pelaku tindak pidana. Untuk menjabarkan suatu rumusan delik kedalam unsur-unsurnya, maka mula-mula yang dapat kita jumpai adalah disebutkannya suatu tindakan manusia, dengan tindakan itu seorang telah melakukan suatu tindakan yang terlarang oleh undang-undang.

Membicarakan mengenai unsur-unsur tindak pidana, dapat dibedakan setidak-tidaknya dari dua sudut pandang, yakni dari sudut teoritis dan dari sudut Undang-undang. Maksud teoritis ialah berdasarkan pendapat para ahli hukum,yang tercermin pada bunyi rumusannya, sedangkan dari sudut Undang-undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana itu dirumuskan menjadi tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal peraturan perundang undangan yang ada.23

1. Unsur-Unsur Tindak Pidana Menurut Beberapa Teoritis

a. Menurut Lamintang, setiap tindak pidana dalam KUHP pada umumnya dapat dijabarkan unsur-unsurnya menjadi dua macam, yaitu unsur-unsur subyektif dan obyektif. Yang dimaksud dengan unsur-unsur ”subyektif” adalah unsur-unsur yang melekat pada

22 Andi Hamzah ,Hukum Acara Pidana,2001, Jakarta: Grafika, hlm 22

diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk kedalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Sedangkan yang dimaksud dengan unsur

”obyektif” itu adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu keadaan-keadaan di mana tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan. 24

Unsur-unsur subyektif dari suatu tindak pidana itu adalah : a. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (culpa atau dolus).

b. Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP.

c. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan – kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain.

d. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti misalnya terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP.

e. Perasaaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.

Sementara itu, Unsur –unsur objektif dari suatu tindak pidana itu adalah :

a. Sifat melanggar hukum.

24 Lamintang, Op.Cit. Hlm 183

b. Kualitas si pelaku; misal “keadaan sebagai seorang pegawai negeri” di dalam tindak pidana jabatan menurut pasal 415 KUHP atau “keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseorangan terbatas” di dalam tindak pidana menururt pasal 398.

c. Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.25

b. Menurut Andi Hamzah , Unsur-unsur tindak pidana adalah sebagai berikut:

1) Kelakuan dan akibat (perbuatan)

2) Hal ikhwal atau keadaan yang menyertai perbuatan 3) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana 4) Unsur melawan hukum yang objektif

5) Unsur melawan hukum yang subyektif.

c. Menurut Moelyatno, unsur tindak pidana adalah: 1) perbuatan ; 2) yang dilarang (oleh aturan hukum); 3) ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan.26Adapun Perbuatan yang dilarang hanyalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yang dilarang oleh aturan hukum,yang apabila perbuatan manusia yang dilarang oleh aturan hukum itu dilakukan, maka seseorang dapat dikenai ancaman pidana yang merupakan penderitaan atau kenestapaan

25

akibat melakukan perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum pidana.

2. Unsur Rumusan Tindak Pidana Dalam Undang-Undang

Tindak Pidana tertentu yang masuk ke dalam kelompok kejahatan maupun pelanggaran sebagaimana yang dimuat dalam Buku II KUHP (Kejahatan) dan Buku III KUHP (Pelanggaran) memiliki rumusan-rumusan dalam pasal-pasalnya. Dalam setiap rumusan ternyata ada unsur-unsur yang selalu disebutkan dalam setiap rumusan, yaitu mengenai tingkah laku perbuatan, walaupun ada pengecualian seperti Pasal 351 KUHP (Penganiayaan).

Berdasarkan Rumusan-rumusan tindak pidana tertentu yang terdapat dalam KUHP, dapat diketahui adanya 8 unsur tindak pidana, yaitu:

1) Unsur tingkah laku 2) Unsur melawan hukum 3) Unsur kesalahan

4) Unsur akibat konstitutif

5) Unsur keadaan yang menyertai

6) Unsur syarat tambahan untuk dapat dituntut pidana 7) Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana 8) Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana27

27

3.2. Pengertian dan Unsur Tindak Pidana Pencabulan A. Pengertian Tindak Pidana Pencabulan

Pengertian pencabulan atau cabul dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai berikut pencabulan adalah kata dasar dari cabul, yaitu kotor dan keji sifatnya tidak sesuai dengan sopan santun, tidak susila, melanggar kesusilaan. Pencabulan merupakan kecenderungan untuk melakukan aktivitas seksual dengan orang yang tidak berdaya seperti anak, baik pria maupun wanita, dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan.

KUHP menjelaskan perbuatan cabul sebagai berikut: “segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, misalnya:

Cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dsb. Persetubuhan masuk pula dalam pengertian cabul”.

Lebih tegas Adami Chazawi mengemukakam perbuatan cabul sebagai “segala macam wujud perbuatan baik yang dilakukan pada diri sendiri maupun pada orang lain mengenai dan yang berhubungan dengan alat kelamin atau bagian tubuh lainnya yang dapat merangsang nafsuseksual, misalnya mengelus-elus atau menggosok-gosok penis atau vagina, memegangbuah dada, mencium mulut seorang perempuan dan sebagainya”

Adapun beberapa jenis istilah tentang pencabulan yaitu sebagai berikut :

a. Exhibitionism: Yaitu sengaja memamerkan alat kelamin kepada orang lain.

b. Voyeurism: Yaitu mencium seseorang dengan bernafsu.

c. Fondling: Yaitu mengelus atau meraba alat kelamin seseorang.

d. Fellatio : Yaitu memaksa seseorang untuk melakukan kontak mulut.

Menurut Moeljatno dikatakan sebagai segala perbuatan yang melanggar susila Atau perbuatan keji yang berhubungan dengan nafsu kelaminannya.

KUHP menggolongkan tindak pidana Pencabulan ke dalam tindak pidana kesusilaan. KUHP belum mendefinisikan dengan jelas maksud dari pada pencabulan itu sendiri dan terkesan mencampuradukkan pengertiannya dengan perkosaan ataupun persetubuhan, sedangkan dalam konsep KUHP yang baru ditambahkan kata “persetubuhan” disamping pencabulan, sehingga pencabulan dan persetubuhan dibedakan. Menurut R. Soesilo yang dimaksud dengan “persetubuhan” ialah peraduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuanyang biasa dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggota kemaluan laki-laki harus masuk ke dalam anggota kemaluan perempuan, sehingga mengeluarkan air mani, sesuai

dengan Arriest Hoge Raad 5 Februari 1912.28Dalam pengertian persetubuhan di atas disimpulkan bahwa suatu tindakan dapat dikatakan suatu persetubuhan jika alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat kelamin perempuan sampai mengeluarkan air mani yang dapat mengakibatkan kehamilan. Persetubuhan adalah persetuhan sebelah dalam dari kemaluan si laki-laki dan perempuan, yang pada umumnya dapat menimbulkan kehamilan. Tidak perlu bahwa telah terjadi pengeluaran mani dalam kemaluan si perempuan. Pengertian “bersetubuh” pada saat ini diartikan bahwa penis telah penestrasi (masuk) ke dalam vagina.29

Berdasarkan uraian diatas bahwa pengertian bersetubuh berdasarkan dengan yang diungkapkan oleh R.Soesilo karena disini tidak disyaratkan terjadi pengeluaran air mani dari penis laki-laki yang dapat menyebabkan kehamilan. Dengan demikian terlihat jelas perbedaan antara pencabulan dan persetubuhan yaitu jika seseorang melakukan persetubuhan itu sudah termasuk perbuatan cabul sedangkan ketika seseorang melakukan perbuatan cabul, belum dikategorikan telah melakukan persetubuhan karena suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai suatu persetubuhan jika disyaratkan masuknya penis ke dalam vagina perempuan kemudian laki-laki mengeluarkan air mani yang biasanya menyebabkan terjadinya kehamilan sehingga jika salah satu syarat tidak terpenuhi maka bukan dikategorikan sebagai suatu

28R.Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal,1996, Bogor :Politeia

29

persetubuhan melainkan perbuatan cabul. Perbuatan cabul tidak menimbulkan kehamilan.

B. Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencabulan

Untuk mengetahui unsur-unsur dari perbuatan cabul, penulis akan menjabarkan unsur-unsur dari pasal-pasal yang menyangkut dengan perbuatan cabul. Ketentuan mengenai perbuatan cabul diatur dalam Pasal 289 KUHP sebagai berikut :

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diamcam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan

,

dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.”

Adapun unsur-unsur dalam tindak pidana pencabulan yaitu:

a. Barangsiapa

Sebagian pakar berpendapat bahwa “barangsiapa” bukan merupakan unsur, hanya memperlihatkan si pelaku (dader) adalah manusia, tetapi perlu diuraikan lagi manusia siapa dan beberapa orang, jadi indentitas “barangsiapa” tersebut harus jelas.

b. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

Dengan kekerasan dimaksudkan yaitu suatu perbuatan yang dilakukan dengan kekuatan badan yang berlebihan. Pasal 89 KUHP memperluas pengertian kekerasan sehingga

memingsangkan atau melemahkan orang, disamakkan dengan melakukan kekerasan. Ancaman kekerasan tersebut ditujukan terhadap wanita itu sendiri dan bersifat sedemikian rupa sehingga berbuat lain tidak memungkinkan baginya selain membiarkan dirinya untuk disetubuhi.

c. Memaksa

Perbuatan memaksa ini harus di tafsirkan sebagai ssuatu perbuatan sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa takut orang lain.

d. Seseorang

Merupakan individu yang mempunyai hak asasi yang sama dengan yang lainnya dan berhak untuk hidup secara bebas dan mendapatkan perlindungan hukum.

e. Melakukan perbuatan cabul

Suatu perbuatan yang dilakukan terhadap orang lain akibat dorongan seksual yang ada pada diri untuk melakukan perbuatan cabul untuk memuaskan nafsu birahinya.

Pasal 82 Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga mengatur mengenai delik pencabulan dengan rumusan :

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan, tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan atau membiarkan dilakukan

perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (Lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.

300.000.000,00 (Tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.

60.000.000,00 (Enam puluh juta rupiah)”.

Adapun unsur-unsur dari pasal tersebut adalah sebagai berikut : 1. Unsur Objektif :

a. Perbuatannya memaksa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk

b. Objeknya seseorang yang melakukan atau membiarkan melakukan;

c. Perbuatan cabul

2. Unsur Subjektif yaitu Sengaja.

Beberapa unsur-unsur dari Pasal 82 inimemiliki kesamaan dengan unsur-unsur perbuatan cabul pada Pasal 289 KUHP yang telah diuraikan diatas, hanya saja perbedaannya pada Pasal 82 ini terdapat beberapa perbuatan yang tidak dirumuskan dalam Pasal

Beberapa unsur-unsur dari Pasal 82 inimemiliki kesamaan dengan unsur-unsur perbuatan cabul pada Pasal 289 KUHP yang telah diuraikan diatas, hanya saja perbedaannya pada Pasal 82 ini terdapat beberapa perbuatan yang tidak dirumuskan dalam Pasal