• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MELEMAHNYA KOMITMEN AMERIKA SERIKAT

B. Faktor Eksternal

2. Ancaman Rogue States terhadap Amerika Serikat

a. Iran

Iran merupakan salah satu negara dengan tingkat kapabilitas rudal balistik yang cukup agresif dalam menggunakan teknologi asing yang berasal dari Rusia, Cina, dan Korea Utara. Iran diyakini masih belum mampu memiliki mesin atau pun teknologi yang dapat menciptakan rudal balistik. Pada tahun 1998 Iran berhasil mengembangkan rudal Scud dengan kategori SRBM yang merupakan awal untuk menciptakan rudal Shahab III dengan kategori MRBM (1.300 km) yang dikembangkan pada tahun 2000 (Central Intelligence Agency 2002: 2).

Gambar IV.B.1.a.1 Iranian Shahab-3 Variant MRBM (1.300-2.000 km)

Sumber: Ballistic Missile Defense Review Report, U.S. Department of Defense, 2010

Paska meluncurkan rudal Shahab III dengan kategori MRBM, pada tahun 2001 Iran mengumumkan akan mengembangkan rudal Shahab dengan kapasitas SLV. Rudal balistik ini memiliki jangkauan 2.000 km yang akan diluncurkan melalui ruang angkasa dan berpotensi menjadi rudal ICBM.

95

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah Shahab IV diluncurkan, Menteri Pertahanan Iran mengumumkan bahwa Iran tengah menyiapkan Shahab V dengan jarak kemampuan jarak tempuh yang masih bersifat spekulatif apakah MRBM atau ICBM. Akan tetapi CIA memprediksi bahwa Iran tengah menyiapkan rudal Shahab V dengan kapasitas ICBM yang dalam kurun waktu 10- 15 tahun ke depan mampu menyerang Amerika Serikat (Krepps 2002: 83).

Gambar IV.B.1.a.1 Iranian Space Launch Vehicle (SLV)

Sumber: Ballistic Missile Defense Review Report, U.S. Department of Defense, 2010

Dalam laporan Ballistic Missile Defense, Amerika Serikat juga memetakan wilayah jangkauan rudal Shahab yang dimiliki Iran. Hasil pemetaan tersebut menunjukkan bahwa target rudal Iran yang berkapasitas MRBM mampu menjangkau daratan Eropa dengan jarak tempuh maksimal 2.000 km (Ballistic Missile Defense Review Report 2010: 5).

96

Gambar IV.B.1.a.3. Iranian Growing Ballistic Missile Threats

Sumber: Ballistic Missile Defense Review Report, U.S. Department of Defense, 2010

Gambar IV.B.1.a.4. Ranges of Iran’s Missiles

Sumber: Feickert, Missile Survey: Ballistic and Cruise Missiles of Foreign Countries, The Library of Congress, 2004

Peta di atas menunjukkan bahwa kemampuan rudal Shahab III dengan kategori MRBM mampu mencapai wilayah asia dan Eropa. Kemampuan Iran secara massive membangun rudal balistik dengan wilayah jangkauan mencapai eropa serta asia tentu menjadi ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat di wilayah tersebut. Departemen pertahanan Amerika Serikat merilis bahwa pada

97

tahun 2015 Iran diprediksi telah mampu mengujicoba rudal balistik dengan kategori ICBM (Krepps 2002: 83).

b. Korea Utara

Pengembangan rudal balistik yang dimiliki Korea Utara telah dimulai pada tahun 1993 dengan membangun rudal No Dong kategori MRBM dengan jarak tempuh mencapai 1.300 km. Selang 5 (lima) tahun berikutnya, Korea Utara berhasil mengujicoba rudal Taepo Dong I yang juga merupakan perangkat SLV. Tidak lama setelah ujicoba Taepo Dong I, Korea Utara juga tengah mengembangkan Taepo Dong II. Rudal ini diproyeksi akan mampu menempuh jarak 3.500-5.000 km (Intermediate Range Ballistic Missile/IRBM) dengan berat 1.000 kg yang merupakan perangkat SLV (Krepps 2002: 83-84).

Dalam perkembangannya, Korea Utara berasumsi bahwa jika beban berat yang diangkut oleh Taepo Dong II dapat dikurangi sebanyak 100 kg, maka Korea Utara diprediksi akan mampu membangun rudal ICBM yang jarak tempuhnya mencapai 10.000-15.000 km. Korea Utara dapat dikatakan sebagai salah satu negara eksportir perlengkapan rudal balistik terbesar di dunia.

Tidak hanya mengekspor rudal balistik dengan komponen yang lengkap akan tetapi Korea Utara juga mengekspor ahli-ahli rudal balistik ke Iran dan Pakistan. Kondisi ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi keamanan nasional Amerika Serikat sehingga memasukkan Korea Utara ke dalam kelompok rogue states (Krepps 2002: 84).

98

Gambar IV.B.2.b.1. Potential North Korean Long Range Missile Capabilities

Sumber: Feickert Missile Survey: Ballistic and Cruise Missiles of Foreign Countries, The Library of Congress, 2004

Peta tersebut menunjukkan wilayah jangkauan rudal Taepo Dong II yang dimiliki Korea Utara. Rudal ini mampu mencapai wilayah darat dan laut Amerika Serikat dan Kanada. Asumsi jangkauan rudal yang mencapai 10.000-15.000 maka hal tersebut akan menjadi ancaman bagi wilayah Amerika Serikat dan sekitarnya. Amerika Serikat juga memprediksi bahwa Taepo Dong II dengan kategori ICBM sedang dalam pembangunan dan akan diujicoba dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama (Central Intelligence Agency 2002: 7).

c. Irak

Irak merupakan negara di wilayah Timur Tengah yang diprediksi banyak negara khususnya Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki produktifitas yang tinggi dalam membangun rudal balistik. Irak telah memulai pembangunan rudal balistik pada tahun 1980 dengan menciptakan rudal Scud kategori SRBM

99

(300 km) dan mendapat dari Uni Soviet. Penggunaan rudal Scud dimulai pada tahun 1991 ketika Irak menyerang Kuwait dengan menyertakan senjata kimia berjenis racun Botulinum atau gas syaraf dan rudal kategori ini memiliki kode Al- Husayn. Tidak hanya Kuwait, rudal Scud dengan penggunaan bahan kimia yang dimiliki oleh Irak juga turut menyerang Israel, Arab Saudi dan Bahrain pada saat perang teluk. Ketika berlangsungnya perang teluk, Irak telah membangun dan mengujicoba dalam peperangan yakni rudal balistik dengan kode Al-Abbas yang memiliki jangkauan 900 km (Central Intelligence Agency 2002: 4).

Pada paska berakhirnya invasi ke Kuwait pada tahun 1991, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Dewan Keamanan memutuskan untuk memberlakukan Resolusi Dewan Keamanan Nomor 687 yang menyatakan permintaan kepada Irak untuk menghancurkan seluruh rudal Scud yang memiliki bahan kimia. Selain itu, resolusi tersebut meminta kepada Irak untuk bersedia diawasi oleh United Nations Special Commision on Iraq (UNSCOM) dalam misi penghancuran senjata kimia (Feickert, 2003: 1).

Ketika berada dalam pengawasan PBB, Irak tetap melanjutkan program rudal balistiknya yang bernama Al-Samoud II dengan jangkauan 150 km. Selain rudal Samoud II, Irak juga mengembangkan rudal Ababil yang memiliki bahan berupa cairan pembakar yang juga digolongkan ke dalam WMD. Kedua jenis rudal tersebut telah berhasil diujicoba pada tahun 1997 dan akan segera ditempatkan di seluruh area militer Irak. Akan tetapi perkembangan kedua jenis ruda tersebut tidak diketahui secara detail oleh pengawas PBB. Hal ini dikarenakan para pengawas mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi

100

mengenai perkembangan rudal tersebut oleh pemerintah Irak saat itu (Central Intelligence Agency 2002: 5).

CIA menduga bahwa Irak tengah mencoba menyembunyikan lokasi pembangunan perangkat rudal balistiknya. Selain itu, diprediksi bahwa Irak dalam 15 (lima belas) tahun mendatang akan mampu menciptakan perangkat rudal ICBM dengan bantuan pihak asing. Amerika Serikat tentunya telah memastikan bahwa Rusia merupakan pemodal utama Irak dalam mengembangkan rudal balistik dengan menggunakan bahan kimia (Krepps 2002: 84).

Dalam sebuah data foto yang dirilis oleh CIA melalui National Intelligence Council (2002: 7-10), Irak memiliki perangkat bom serta komponen rudal balistik dengan bahan kimia. Selain itu, data tersebut juga memperlihatkan wilayah penyebaran fasilitas rudal balistik yang dimiliki oleh Irak.

Gambar yang dihasilkan dari citra foto satelit inframerah tersebut juga menampilkan berbagai komponen rudal balistik yang dimiliki oleh Irak. Selain itu citra foto tersebut memperlihatkan juga wilayah jangkauan rudal Scud yang dimiliki Irak dan secara langsung mengancam keberadaan negara-negara di kawasan tersebut.

101

Gambar IV.B.2.c.1. Iraq’s Ballistic Missile Program

Sumber: Iraq’s Weapons of Mass Destruction, Director of Central Intelligence, 2002

102

Gambar IV.B.2.c.2. (Iraq’s Biological Warheads)

Sumber: Iraq’s Weapons of Mass Destruction, Director of Central Intelligence, 2002

Gambar IV.B.2.c.3. (Iraq’s Nuclear Facilities)

Sumber: Iraq’s Weapons of Mass Destruction, Director of Central Intelligence, 2002

103

Gambar IV.B.2.c.4 Chemical-Filled Munitions Declared by Iraq

Sumber: Iraq’s Weapons of Mass Destruction, Director of Central Intelligence, 2002

Dari gambar di atas jelas menunjukkan bahwa aktivitas pembangunan rudal balistik yang dilakukan oleh Irak dapat dikatakan cukup massive. Hal ini juga diperkuat dengan senjata kimia yang terafiliasi di dalam perangkat rudal balistik. Iran juga diketahui memiliki banyak wilayah penyebaran instalasi nuklir untuk menciptakan rudal balistik. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan sekutunya ketika melihat kenyataan bahwa Irak telah mampu mengembangkan senjata nuklir bukan untuk keperluan damai.

104

Penjelasan di atas mengenai eksistensi Irak dalam mengembangkan senjata pemusnah massal (Weapons of Mas Destruction) menjadi perdebatan apakah benar Irak memiliki WMD. Dalam artikel yang dirilis oleh Robert Jervis (2006: 4) menyatakan bahwa salah persepsi yang dilakukan Amerika Serikat, Inggris dan Australia mengenai WMD adalah sebuah kesalahan kontra-intelijen yang dilakukan oleh CIA. CIA dianggap tidak cermat dalam menganalisis berbagai kemungkinan yang terjadi sebelum melancarkan serangan ke Irak. Pihak intelijen CIA dianggap gagal untuk mengintegrasikan antara analisis teknis dan politik yang berkaitan dengan Irak.

Selain itu, kontra-intelijen Amerika Serikat dianggap gagal dalam invasi ke Irak dikarenakan CIA lebih mengedepankan berbagai asumsi serta kesimpulan yang dianggap wajar untuk menyerang Irak tanpa memverifikasi mengenai keberadaan WMD (Jervis 2006: 42). Pada dasarnya Amerika Serikat melalui CIA telah menyadari ketiadaan WMD yang dimiliki Irak, bahkan informasi ini tentu mengurangi kemampuan deterrence yang dimiliki Irak. Namun Amerika Serikat memiliki asumsi lain dengan kekhawatiran bahwa WMD yang belum diketahui oleh Amerika Serikat justru mampu digunakan oleh Irak (Jervis 2006: 44).

Secara umum dapat disimpulkan bahwa tidak pernah ada WMD di Irak yang mengakibatkan runtuhnya rezim Saddam Husein pada tahun 2003. Alasan terselubung yang dimiliki Amerika Serikat pada dasarnya ingin menguasai pengelolaan minyak di Irak, yang dianggap Amerika Serikat pihak Saddam Husein tidak lagi bersikap kooperatif kepada Amerika Serikat. Oleh karena itu, alasan menginvasi Irak dilancarkan dengan alasan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal/WMD (Gordon, Trainor 2006: 4).

105 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berbicara mengenai rudal balistik tentu tidak lepas dari eksistensi sebuah negara dalam mengembangkan senjata nuklir. Rudal balistik dapat dikatakan sebagai instrumen penting dalam aktivitas pertahanan dan keamanan sebuah negara. Perlombaan dari segi kualitas maupun kuantitas menjadi prioritas sebuah negara sebagai dasar dari strategi penangkalan serta bertahan dari adanya kemungkinan serangan dari negara lain atau pun fakor eksternal lainnya semisal kelompok teroris.

Teknologi rudal balistik dalam hal ini telah dimulai paska berakhirnya Perang Dunia II. Hal ini diwujudkan dalam sebuah arena peperangan yang bernama Perang Dingin yang mengedepankan kecanggihan serta dominasi rudal balistik dengan hulu ledak nuklir. Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi aktor penting dalam peperangan yang cukup menghabiskan dana yang tidak sedikit pada masa itu. Dinamika perlombaan senjata yang dilakukan Amerika Serikat dan Uni Soviet membawa kedua negara pada penurunan tensi antara blok barat dan blok timur dalam hal persenjataan strategis. Kedua negara secara kooperatif menyepakati kerjasama pengendalian senjata secara berkelanjutan.

Kerjasama pengendalian senjata yang dilakukan kedua negara didasari atas kesadaran akan bahaya senjata nuklir. Kedua negara menyadari jika perang nuklir terjadi maka dampaknya akan cukup besar bagi konstelasi politik internasional saat itu. Oleh karena itu pada 1969 merupakan awal peredaan senjata strategis

106

dengan ditandatangani kesepakatan SALT yang selanjutnya menuju pada ABM Treaty pada tahun 1972.

Traktat Anti Rudal Balistik merupakan awal yang baik dari kedua negara untuk menyepakati aturan terkait sistem pertahanan anti rudal serta larangan untuk menyebarkan sistem pertahanan anti rudal lebih dari satu lokasi. Paska disepakatinya Traktat Anti Rudal Balistik, maka kerjasama pengendalian senjata selanjutnya juga disepakati kedua negara dengan menandatangani kerjasama START I,II, dan III. Namun setelah 30 tahun Traktat Anti Rudal Balistik dilaksanakan, Amerika Serikat memutuskan untuk mundur dari Traktat Anti Rudal Balistik dengan argumen bahwa Amerika Serikat merasa terancam dengan eksistensi rogue states dan akan membangun sebuah sistem pertahanan yang komprehensif bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Kebijakan Amerika Serikat yang memutuskan mundur dari Traktat Anti Rudal Balistik yang dibentuk pada tahun 1972 tentunya didasari oleh pertimbangan yang matang terkait kondisi keamanan nasional Amerika Serikat. Pertimbangan tersebut tentunya seiring dinamika teknologi rudal balistik yang telah mampu dikembangkan oleh banyak negara di dunia. Pidato Presiden George Walker Bush bahwasanya Amerika Serikat memerlukan sebuah sistem pertahanan yang canggih dan perlu untuk segara diujicoba merupakan indikasi bahwa Amerika Serikat semakin tidak peduli mengenai perjanjian Traktat Anti Rudal Balistik yang telah berjalan selama 30 tahun.

Faktor internal dan eksternal dapat dikatakan cukup mewakili keinginan Amerika Serikat untuk mundur dari Traktat Anti Rudal Balistik. Hal ini dapat dilihat ketika Amerika Serikat menerbitkan kebijakan SDI, GPALS, serta

107

National Missile Defense yang telah menunjukkan indikasi bahwa Amerika Serikat memulai wacana untuk mundur dari Traktat Anti Rudal Balistik dengan mengembangkan rudal balistik secara massive. Selain itu, faktor eksternal yang melatarbelakangi permasalahan tersebut adalah kehadiran negara-negara yang dikelompokkan ke dalam rogue states oleh Amerika Serikat, yang dianggap telah mampu secara ofensif mengembangkan rudal balistik seperti Iran, Korea Utara, dan Irak.

Perkembangan mengenai rudal balistik sudah jelas tidak akan pernah menciptakan kondisi dunia yang damai. Akan tetapi semakin mempersulit aktor- aktor negara dalam hal ini pemerintah dalam mengamankan kondisi negaranya dari setiap ancaman yang datang dari luar negaranya. Hal ini dikarenakan ada kondisi yang menunjukkan perlombaan senjata strategis dalam bentuk rudal balistik. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa rudal balistik juga menjadi faktor utama yang melatarbelakangi perang dingin. Rivalitas antara Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak terbatas hanya pada penyebaran ideologi, tetapi juga pada dominasi teknologi rudal balistik dengan kuantitas dan kualitas yang massive.

Paska berakhirnya perang dingin, paradigma sistem keamanan nasional secara otomatis berubah ketika semakin banyak negara yang memiliki rudal balistik. Amerika Serikat mengisyaratkan adanya perlombaan senjata dalam bentuk rudal balistik ketika Amerika Serikat melakukan standar ganda dengan bersikap memperbaharui setiap program pertahanan dan keamanan negaranya. Hal ini tentunya memicu banyak negara tidak terkecuali rogue states untuk mengembangkan rudal balistik bahkan dengan menggunakan bahan kimia.

108

Pembaharuan program pertahanan dan keamanan Amerika Serikat secara global berujung pada keputusan Amerika Serikat mundur dari Traktat Anti Rudal Balistik. Paska keputusan tersebut, Amerika Serikat memiliki komitmen yang kuat untuk segera menciptakan serta menyebarkan sistem pertahanan nasional berupa perangkat rudal balistik yang mendominasi dari segi kualitas maupun kuantitas.

Berdasarkan penjelasan di atas, kesimpulan dalam skripsi ini menyatakan bahwa skripsi ini telah berusaha mengelaborasi secara detail mengenai faktor- faktor yang melatarbelakangi mundurnya Amerika Serikat dan Traktat Anti Rudal Balistik. Selanjutnya, penelitian skripsi ini diharapkan dapat dilanjutkan dengan meneliti bagaimana perkembangan rudal balistik dalam level internasional paska mundurnya Amerika Serikat dari Traktat Anti Rudal Balistik.

B. Saran

Penelitian ilmiah dalam bentuk skripsi dengan topik yang berhubungan dengan pertahanan dan keamanan serta perkembangan persenjataan strategis suatu negara merupakan hal yang signifikan untuk dibahas. Dalam kerangka ilmu hubungan internasional, permasalahan mengenai pertahanan dan keamanan suatu negara tidak akan pernah selesai untuk dibahas dan terus mengalami perkembangan baik secara akademis maupun praktis. Oleh karena itu dalam saran yang terdapat di dalam kesimpulan penelitian ini, penulis menyarankan agar penelitian-penelitian yang berkenaan dengan masalah pertahanan dan keamanan terus dikembangkan secara spesifik. Selain itu diharapkan literatur-literatur mengenai isu rudal balistik terus mengalami perkembangan dalam bentuk buku serta laporan dan dokumen resmi sebagai acuan penelitian ilmiah.

xv

DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

Axton, Gary. 2001: Implications of the US Withdrawal from the Nuclear Anti Ballistic Missile Treaty. UK: Lockheed Martin. Diunduh 7 Juni 2013 (http://csis.org/images/stories/poni/110921_Axton.pdf).

Bailey, Norman A. 1998. The Strategic Plan That Won The Cold War: National Security Decision Directive 75. Virginia: The Potomac Foundation. Diunduh 18 Maret 2013 (http://www.hacer.org/pdf/Bailey001.pdf)

Baucom, Donad R., ed. 2001. Briefing Book of Ballistic Missile Defense. Washington, DC: Council for a Livable World Education Fund. Diunduh 12 Juni 2013

(http://missilethreat.wpengine.netdna-cdn.com/wp-

content/uploads/2012/10/20010900-CLW-briefingbookbmd.pdf).

Bhakti, Ikrar Nusa. 2001. Indonesia dalam Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Australia. Jakarta: LIPI.

Brown, Chris, dan Ainley, Kirsten. 2005. Understanding International Relations. New York: Palgrave Macmillan.

Creswell, John W. 1998. Research Design: Quanlitative & Quantitative Approaches dalam S. Nasution. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

DeConde, Alexander, Richard Dean Burns, Fredrik Logevall, dan Louise B. Ketz, eds. 2002. Encyclopedia of American Foreign Policy. New York: Charles Scribner’s Sons. Diunduh 10 Januari 2011

(http://www.gmu.ac.ir/download/booklibrary/e-library-1/Encyclopedia of American Foreign Policy.pdf).

Frankel, Joseph. 1988. International Relations in a Changing World 4th Edition. Oxford: Oxford University Press.

Gansler, Jacques S. 2010. Ballistic Missile Defense: Past and Future. Washington, DC: Center for Technology and National Security Policy,

National Defense University. Diunduh 26 Juni 2013

(http://www.dtic.mil/cgi-bin/GetTRDoc?AD=ADA527876).

Gordon, Michael R., dan General Bernard E. Trainor. 2006. Cobra II: Inside Story of the Invasion and Occupation of Iraq. New York: Phanteon Books. Harrison, Lisa. 2007. Metodologi Penelitian Politik. Jakarta: Kencana. Hasyim, M. 1995. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Peneliti UI.

xvi

Holsti, Kalevi Jaakko. 1992. International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global Dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Larsen, Jeffrey A. 2002. Arms Control: Cooperative Security in A Changing Environment. USA: Lynne Rienner Publishers. Diunduh 12 April 2013 (https://www.rienner.com/uploads/47d6f750a53eb.pdf).

Malhotra. 2004. International Relations. New Delhi: Anmol Publications Pvt.Ltd. Mas’oed, Mochtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.

Jakarta: LP3ES.

McNair, Brian. 1991. Glasnost, Perestroika and the Soviet Media. London: Routledge Chapman and Hall, Inc. Diunduh 3 November 2013 (http://monoskop.org/images/5/55/McNair_Brian_Glasnost_Perestroika_a nd_the_Soviet_Media.pdf).

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Norris, Robert S., dan Thomas B. Cochran, eds. 1997. US-USSR/Russian Strategic Offensive Nuclear Forces 1945-1996. Washington, DC: Natural Resources Defense Council, Inc. Diunduh 20 Desember 2012 (http://docs.nrdc.org/nuclear/files/nuc_01009701a_181.pdf).

Notosusanto, Indraya Smita. 1996. Politik Global Amerika Serikat Paska Perang Dingin dalam Juwono Sudharsono, eds. 1996. Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Pifer, Steven, ed. 2010. U.S. Nuclear and Extended Detterence: Considerations and Challenges. Washington, DC: The Brookings Institution. Diunduh 20

Januari 2014

(http://www.brookings.edu/~/media/research/files/papers/2010/6/nuclear% 20deterrence/06_nuclear_deterrence).

Rosenau, James N. 1976. World Politics: An Introduction. New York: The Free Press.

Rusten, Lynn F., eds. 2010. U.S. Withdrawal from the Anti Ballistic Missile Treaty. Washington, D.C.: National Defense University Press. Diunduh 28 November 2012

xvii

Smith, Daniel, eds. 2000. National Missile Defense: What Does It All Mean (A Brief History of Missiles and Ballistic Missile Defense). Washington, DC:

Center for Defense Information. Diunduh 4 Juni 2013

(http://missilethreat.wpengine.netdna-cdn.com/wp-

content/uploads/2012/10/20000900-CDI-bmdwhatdoesitmean.pdf.)

Steury, Donald P. 1996. Intentions and Capabilities: Estimates on Soviet Strategic Forces, 1950-1983. Washington, DC: Central Intelligence Agency. Diunduh 20 Januari 2014 (https://www.cia.gov/library/center-for-the- study-of-intelligence/csi-publications/books-and-

monographs/Est%20on%20Soviet%20Strategic.pdf). JURNAL:

Jervis, Robert. 2006. Reports, Politics, and Intelligence Failures: The Case of Iraq dalam The Journal of Strategic Studies 29:1: 3-52. Diunduh 23 Januari 2014

(http://www.neuroscience-arena.com/journals/pdf/papers/fjss_lr_3- 52.pdf).

Jervis, Robert. 2006. The Remaking of a Unipolar World. The Washington Quarterly 29:3: 7-19. Diunduh 12 Februari 2013

(http://www.mafhoum.com/press9/280P5.pdf).

Kort, Michael. 1998. The Columbia Guide to the Cold War dalam Lilik Salamah Meninjau Kembali Konflik Perang Dingin: Liberalisme vs Komunisme. Jurnal Global Strategis 2: 225-237. Diunduh 3 Desember 2012 (http://journal.unair.ac.id/article_2823_media23_category23.html).

Krepps, Andrew. 2002. Missile Proliferation dalam Jurnal Assesments and Weapons. Diunduh 5 Juni 2013 (http://www.policevolunteers.org/PDF/05- Missile.pdf).

McNamara, Robert. 1989. Out of the Cold: New Thinking for American Foreign Policy in the 21th Century dalam Lilik Salamah Meninjau Kembali Konflik Perang Dingin: Liberalisme vs Komunisme. Jurnal Global & Strategis 2: 225-237.Diunduh 3 Desember 2012

(http://journal.unair.ac.id/article_2823_media23_category23.html). Payne, Keith B. 2005. Bush Administration Strategic Policy: A Reality Check

dalam The Journal of Strategic Studies 28:5: 775-787. Diunduh 4

September 2013

(http://www.nipp.org/Publication/Downloads/Publication%20Archive%20 PDF/Payne%20Article.pdf).

xviii

_____. 2000. The Case for National Missile Defense dalam Jurnal Orbis America the Vulnerable: Three Threats and What to do about them. Philadelphia: Foreign Policy Research Institute Conference. Diunduh 4 Juni 2013 (http://www.fpri.org/americavulnerable/11.CaseforNationalMissileDefens e.Payne.pdf).

Salamah, Lilik. 2008. Meninjau Kembali Konflik Perang Dingin: Liberalisme vs Komunisme. Jurnal Global & Strategis 2: 225-237. Diunduh 3 Desember 2012 (http://journal.unair.ac.id/article_2823_media23_category23.html).

ARTIKEL:

Baty, Todd D. 2008. En-Route to Containment: Domestic Roots of American Foreign Policy 1945-1947. University of Southern Methodist. Diunduh 18

Desember 2012

(http://www.thepresidency.org/storage/documents/Fellows2008/Baty.pdf). Neuneck, Götz, dan Michael Schaaf. 2000. The Proposed U.S. “National Missile Defense” System Architecture and Its Compatibility With the ABM Treaty. University of Hamburg. Diunduh 4 Juni 2013

(http://www.ifsh.de/dokumente../artikel/missile.pdf).

Polmar, Norman. 1994. The Polaris: A Revolutionary Missile System and Concept. USA: Naval Historical Center, Department of the Navy. Diunduh 26 Juni 2013

(http://www.ekt.bme.hu/CM-BSC-MSC/PERTReadings01.pdf).

Wilson, Ward. 2008. The Myth of Nuclear Detterence dalam Jurnal Nonproliferation Review 15 (3). Diunduh 30 Agustus 2013

(http://cns.miis.edu/npr/pdfs/153_wilson.pdf).

WAWANCARA

Siswanto, 25 November 2013 LIPI Jakarta pukul 13.00-13.45

LAPORAN & DOKUMEN RESMI:

Ackerman, David M. 2002. Withdrawal from the ABM Treaty: Legal Considerations. Congressional Research Service: The Library of Congress. Diunduh 28 November 2012 (http://research.policyarchive.org). Ballistic Missile Defense Review Report. 2010. U.S. Department of Defense.

Diunduh 19 Desember 2012

(http://www.defense.gov/bmdr/docs/BMDRas of 26JAN100630_for web.pdf).

xix

Baucom, Donald R., eds. 1995. The U.S. Missile Defense Program, 1944-1994: A Protracted Revolution. Washington, DC: Ballistic Missile Defense

Dokumen terkait