• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MELEMAHNYA KOMITMEN AMERIKA SERIKAT

B. Faktor Eksternal

1. Munculnya Negara-Negara Produsen Rudal Balistik

Ketika Perang Dingin berakhir, tren yang berkembang dalam situasi keamanan global adalah mengenai semakin banyaknya negara-negara yang telah mampu mengembangkan rudal balistik. Amerika Serikat sebagai pemegang kendali dalam konstelasi keamanan internasional cukup khawatir mengenai kondisi tersebut, terlebih jika rudal balistik mampu dikembangkan dengan menggunakan tenaga nuklir. Jika pada perang dingin negara yang harus diwaspadai hanya terfokus pada Uni Soviet, maka paska perang dingin fokus Amerika Serikat mengarah pada banyak negara khususnya di wilayah Timur Tengah dan Asia.

Pada bulan Juli 1998, Komisi Rumsfeld bertujuan mengidentifikasi seberapa besar ancaman rudal balistik terhadap Amerika Serikat. Laporannya mengungkap bahwa Korea Utara dan Iran merupakan 2 (dua) negara yang berpotensi mengancam keamanan nasional Amerika Serikat dan sekutunya serta termasuk ke dalam rogue states (Krepps, 2002: 69).

89

“The extraordinary level of resources that North Korea and Iran are now devoting to developing their own ballistic missile capabilities poses a substantial and immediate danger to the U.S., its vital interests and its allies”(Krepps 2002: 69).

Korea Utara dan Iran telah mampu mengembangkan rudal balistik dengan kemampuan yang luar biasa dan secara langsung menimbulkan bahaya besar bagi kepentingan vital Amerika Serikat dan sekutunya dalam lima tahun ke depan.

Amerika Serikat menganggap dalam 5 tahun ke depan, kedua negara mampu memproduksi rudal balistik dengan kategori ICBM yang memiliki jangkauan lebih dari 5000km. Selain itu, ancaman tidak hanya dari segi jangkauan tetapi juga diprediksi bahwa kedua negara akan menyertakan senjata kimia di dalam komponen rudal balistik tersebut (Krepps 2002: 69).

CIA merilis bahwa tidak hanya Korea Utara dan Iran saja yang menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan sekutunya. Akan tetapi, ada 7 (tujuh) negara yang dianggap sebagai rogue states dalam kebijakan pertahanan Amerika Serikat; Korea Utara, Iran, dan Irak. Kemampuan negara- negara tersebut dalam mengembangkan rudal balistik diyakini bukan dilandasi atas keinginan untuk melakukan perang terbuka dan bukan juga dijadikan sebagai strategi penangkalan. (Smith 2000: 8).

Dengan adanya 3 (tiga) negara rogue states tersebut, maka terdapat 12 (dua belas) negara yang masing-masing telah mampu memproduksi serta memiliki fasilitas yang canggih dalam teknologi rudal balistik yaitu; Ukraina, India, Cina, Taiwan, Pakistan, Korea Selatan, Korea Utara, Iran, Irak, Israel, Mesir dan Syria (Feickert 2004: 2-3).

Secara garis besar, negara-negara yang telah mampu mengembangkan rudal balistik dibedakan atas kemampuan negara-negara tersebut berdasarkan jangkauan rudal balistik yang dimilikinya;

90

Tabel IV.B.1.1 Missiles by Categories of Range

Sumber: Feickert, Missile Survey: Ballistic and Cruise Missiles of Foreign Affairs, The Library of Congress, 2004

Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh CIA dengan dokumen bernama CIA Report of Terror Countries, ada 3 (tiga) negara rogue states yang mampu menciptakan rudal balistik dengan kategori MRBM (Medium Range Ballistic Missile/1.000-3.000km). Iran, Korea Utara, Irak. Selain itu, negara yang bukan tergolong rogue states namun mampu mengembangkan rudal balistik kategori MRBM yaitu; India, Pakistan, dan Syria, yang juga berpotensi mengembangkan rudal ICBM berdasarkan laporan CIA Report of Terror Countries (CIA 2002: 1).

Isu penyebaran senjata nuklir tentu tidak hanya terkait dengan jarak tempuh serta kemampuan dalam menghancurkan musuh, akan tetapi isu yang menjadi proritas utama adalah mengenai penggunaan senjata kimia. Selain itu, Amerika Serikat mengkhawatirkan bahwa negara-negara yang mampu mengembangkan rudal balistik khususnya rogue states juga membangun

91

kendaraan tempur untuk mengangkut perangkat rudal balistik beserta bahan kimia yang merupakan bagian dari Weapon of Mass Destruction (WMD). Prediksi Amerika Serikat mengenai penggunaan senjata kimia atau WMD telah dibuktikan oleh Irak dalam invasi ke Kuwait atau dikenal dengan Perang Teluk tahun 1991. CIA melaporkan bahwa Irak menggunakan racun botulinum dan virus antraks dalam perangkat rudal balistiknya untuk menyerang Kuwait (Feickert 2004: 3).

Dalam konteks global, terdapat 2 (dua) pembagian spesifik mengenai eksistensi negara-negara yang mampu mengembangkan rudal balistik. Pertama, klasifikasi negara-negara produsen rudal balistik yang tidak termasuk dalam States of Moderate Proliferation Risk yakni India, Pakistan, dan Syria. Kedua, klasifikasi negara yang termasuk ke dalam Three Hard Cases/Rogue States, yakni Iran, Irak, dan Korea Utara. (Krepps 2002: 79-80).

Pembagian tersebut merupakan bagian pembahasan faktor eksternal dalam penelitian skripsi ini, yang membahasan mengenai 2 (dua) pembagian mengenai negara-negara yang telah mampu mengembangkan rudal balistik;

1. India

Berbicara mengenai India, tentunya tidak hanya terbatas pada kemampuan negara ini dalam menciptakan perangkat rudal balistik. Akan tetapi juga berbicara tentang kebijakan luar negeri India dalam perjanjian NPT tahun 1970. India merupakan satu dari tiga negara yang tidak pernah menandatangani NPT, termasuk Israel dan Pakistan (Kerr et.al 2010: 1). India merupakan salah satu negara dengan kemampuan menciptakan perangkat rudal balistik yang cukup baik dan matang dari sisi teknologi. Konstruksi rudal balistik dengan kategori Short Range Ballistic Missile/70-1.000 km (SRBM) menghasilkan rudal balistik dengan

92

kode Privthi I dengan jarak tempuh 150 km dengan berat 1.000 kg. Setelah Privthi I, maka India melanjutkan dengan pembangunan rudal kategori MRBM dengan kode Privthi II dengan jarak tempuh 250 km dengan berat 500 kg yang digunakan oleh angkatan udara India (Krepps 2002: 80).

Paska dirilisnya rudal Privthi II sebagai perangkat militer angkatan udara, maka India segera memperkenalkan rudal balistik berkode Dhanush yang termasuk dalam kategori MRBM sebagai perangkat angkatan laut India. Tidak hanya Privthi I dan II, India juga melanjutkan pembangunan rudal balistik dengan kategori MRBM dengan kode Agni I dan Agni II. Pada tahapan berikutnya, India merencakan akan melanjutkan pembangunan rudal balistik Agni III dengan kategori IRBM dengan ekspektasi jangkauan mencapai 3.000 km (Krepps 2002: 81).

2. Syria

Peta konstelasi politik regional di wilayah timur tengah jika dikaitkan dengan kapabilitas kekuatan militer tentu akan mengarah kepada Syria. Syria merupakan salah satu negara di wilayah timur tengah yang memiliki potensi dalam mengembangkan rudal balistik kategoti MRBM. Syria berhasil mengembangkan rudal balistik kategori SRBM dengan kode Scud-B dan Scud-C serta SS-21. Dalam perkembangannya, pada tahun 2000, Syria telah berhasil mengujicoba rudal Scud-D. Percobaan rudal balistik kategori SRBM ini diprediksi mampu menjangkau wilayah Irak, Israel, Yordania dan Turki. Berdasarkan laporan National Intelligence Estimate (NIE) pada awal 2001, Syria memiliki keinginan untuk mengembangkan rudal ICBM sebelum tahun 2015 (Krepss 2002: 85).

93

Kondisi ini tentu cukup mengkhawatirkan bagi kepentingan Amerika Serikat di wilayah timur tengah ketika ada salah satu negara yang mampu mengembangkan rudal balistik secara massive. Tidak hanya Amerika Serikat yang merasa terancam dengan kondisi tersebut, sekutu dekat Amerika Serikat yaitu Israel cukup terancam dengan perkembangan rudal balistik yang dimiliki Syria. Bahkan Israel mengklaim lewat surat kabar Ha’aretz Daily, bahwa Syria telah menggunakan bahan kimia dalam perangkat rudal balistiknya ketika melakukan beberapa kali percobaan (Krepps 2002: 86).

3. Pakistan

Salah satu negara yang secara terbuka mendapat bantuan pembangunan rudal balistik dari Cina dan Korea Utara di wilayah asia adalah Pakistan. Pada pembangunan rudal balistik yang dimulai pada tahun 2001, Pakistan menyandingkan 2 (dua) perusahaan besar dalam bidang teknologi nuklir yakni Khan Research Laboratories dengan Pakistan Atomic Energy Commission. Kedua perusahaan ini dilebur oleh pemerintah Pakistan untuk bekerjasama untuk pengembangan rudal balistik dalam sebuah badan yang bernama Nuclear Defense Complex (NDC) (Krepps 2002: 83).

Melalui pengawasan NDC bekerjasama dengan Cina, Pakistan berhasil membangun serta mengujicoba 3 (tiga) rudal balistik yakni: rudal MRBM (1.300 km) dengan kode Ghauri, rudal SRBM The Hatf III (Ghaznavi), dan rudal SRBM Hatf II (Abdali). Setelah berhasil mengujicoba ketiga jenis rudal tersebut, Pakistan melanjutkan pengembangan Shaheen I kategori SRBM (750 km) serta Shaheen II dengan kategori MRBM (2.000 km) yang seluruhnya mampu menjangkau serangan ke wilayah India (CIA 2002: 9).

94

Dokumen terkait