• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anekdot Kepemimpinan pada Lakon Petruk Dadi Ratu

Dalam dokumen 20. Menulis buku Falsafah Kepemimpinan Jawa (Halaman 142-144)

PARODI KEPEMIMPINAN JAWA A Parodi Kepemimpinan Punakawan

D. Anekdot Kepemimpinan pada Lakon Petruk Dadi Ratu

Dalam jagat pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia tokoh yang selalu hadir ketika suasana buntu, membeku, dan menjadi

tokoh ‘satir’ ketika priyayi andalannya ternyata mengecewakan publik. Dengan

demikian ia hadir sebagai pemimpin atau tokoh keterpaksaan karena tidak ada pilihan lain.

Kehadiranya selalu dengan gaya humor, ngelantur, omong kosong, ngalor ngidul dan menghibur. Memecah kebekuan, menghalau kesunyian dan menebarkan kesahajaan. Ia seorang abdi yang selalu lekat dengan kaum priyayi. Ia merepresentasikan kaum kecil, berpendidikan rendah, dan merakyat. Ia pun sebenarnya pernah sekolah, tapi nggak lulus, kemudian menempuh ‘kejar paket’, hanya untuk label etiket.

Selang beberapa tahun kemudian, kariernya meroket. Ia duduk-duduk dan masuk dalam link pemerintahan Pandawa dan bala tengen. Ia sering ikut priyayi besar dalam acara-acara kenegaraan dan peperangan. Ia pun akhirnya berfikir bagaimana agar dirinya sejajar dengan priyayi atasannya. Maka ia pun menempuh kuliah ‘instan’ di

pertapan ‘Tanpakariya’, dan berkat kesaktiannya, ia pun menyandang gelar sarjana. Sarjana hiburan, untuk pantas-pantasan, untuk menghibur hatinya agar kelihatan mentereng di hadapan priyayi juragannya.

Yang jelas, walau gelar sarjana sudah menempel. ia sendiri nggak paham dengan gelar kesarjanaannya, apa keahliannya, bagaimana menerapkannya, dan bagaimana prosesnya. Yang penting gelar sarjana sudah melekat di pundaknya. Yang penting lagi, orang desa semakin bangga dengan dirinya. Di samping ia merakyat, ia juga sarjana. Maka tak heran, pada waktu pilkades, ia pun terpilih menjadi lurah, yang didukung penuh oleh rakyatnya. Gelar barunya Ki Lurah Petruk Kanthong Bolong.

Sekarang kita kembali pada kisah di atas. Pada suatu hari, Bambang Pecruk Panyukilan ingin berkelana mencari lawan tanding, guna menguji kekuatan dan kesaktiannya. Semua rapalan mantra, ajian kebal, senjata pethel sakti, keris junjung luhur, junjung derajat, dan lainnya, telah disiapkan dalam ransel dan lipatan sarungnya. Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang tengah refreshing jogging di atas bukit, sambil bermain ruyung di tangannya. Melihat

ada orang yang kelihatan kemlelet tergerak hatinya untuk mencoba kekebalannya. Ia pun segera menghampiri pemuda tersebut, dan menantangnya duel.

Tak dinyana, ternyata Bambang Sukodadi pun mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang tengah mengiringi Batara Ismaya menghabiskan masa resesnya di Ngarcapada. Mereka kemudiaan dilerai dan diberi petuah dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.

Karena wujud tampannya telah rusak gara-gara berkelai tadi, maka mereka pun segera berganti nama. Mereka segera datang di kantor catatan sipil; Pecruk Panyukilan mengubah namanya menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng. Sebuah nama yang indah dan top markotop untuk dirinya, sesuai dengan bentuk tubuhnya.

Dalam kisah Ambangaun Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai Gatutkaca, sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudian menjadi rebutan antara negeri Imantaka dan negara Ngamarta.

Di dalam kekeruhan dan kekacauan politik tersebut, Petruk yang biasa blusukan di kampung-kampung itu, mengambil kesempatan mencuri Jamus Kalimasada ndik rumahnya Dewi Mustakaweni , yang kebetulan tengah pergi ke salon kecantikan. Petruk hafal betul dengan kebiasaan Dewi Mustakaweni istri pengusaha terkenal itu. Tepat pada jam 8.00, Petruk berhasil menyelinap di halaman luas dan kamarnya Mustakaweni. Sehingga dengan leluasa, Petruk berhasil mencuri Jamus Kalimasada. Ia pun segera meninggalkan negeri Imantaka, dan segera mensosialisasikan kehebatannya pada penduduk desa di negeri Lojitengara.

Kontan, karena kekuatan dan pengaruhnya Jamus Kalimasada yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Petruk yang dulunya jadi abdi para satriya Pandawa termasuk Prabu Dwarawati, atau Prabu Kresna, kini berbalik, Prabu Kresna

dan Pandawa jadi anak buahnya. Ya, kalau dalam tv mirip tayangan ‘tukar nasib’.

Dasar namanya saja Si Petruk, maka dalam masa pemerintahannya penuh dengan

‘lonyotan’, banyolan ngalor-ngidul omongannya ngawur, tak terukur, nggak koneks

dengan masalah yang tengah dibicarakan. Setiap memimpin rapat hanya menyerahkan persoalan pada kabagnya. Ia nggak memiliki kompetensi dan nggak nyandak

kemampuannya dalam kontek kenegaraan yang lebih luas. Gaya ‘kepala desa’ masih

melekat di dalam dirinya. Para kabag, dan camat dan para sarjana sejati yang dulu jadi atasannya, disamakan dengan orang-orang desa yang miskin pengetahuannya. Kadang marah-marah, emosi tinggi gara-gara mereka nggak segera bekerja.”Bekerja

apa??, lha wong programnya saja nggak nggenah” kata camat terheran-heran.

Prabu Kresna, Puntadewa, Werkudara, Janaka, Nakula dan Sadewa yang menjabat jadi kabag, serta Gathutkaca, Abimanyu, Antarja, Antasena yang menjadi camat, nampak termangu , tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Prabu

Welgeduwelbeh yang PD terlalu tinggi. Berkali-kali mereka bertatap muka saling berpandangan geli. Mereka menatap jauh. Pemerintahan nampak mulai rapuh tidak berwibawa lagi. Sang Prabu Welgeduwelbeh semakin mabuk kekuasaan, ia benar-

benar nggak faham dengan kepemimpinannya serta kondisi dirinya. “Inilah

pemerintahan coba-coba. Yang diaplikasikan dari konsep parsial ‘merakyat’ saja” desah Prabu Kresna mengingatkan

“Werkudara…”

“Apa Jlitheng kakangku”

“Lakon iki kudu ndang dipungkasi, mesakne para kawula lan Negara Ngamarta ing

tembe mburi. Mula tugasmu Werkudara, murih lakon iki ndang babar jeneng sira enggal

papagen Si Bagong mara..”

Singkat cerita, akhirnya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Ki Lurah Petruk kembali. Petruk yang asli dulu, yang badut dulu, yang kepala desa dulu. Kalimasada kemudian dikembalikan kepada pemilik aslinya, Prabu Puntadewa.

Dengan demikian berakhirlah anekdot kepemimpinan di negeri wayang, yang penuh dengan kepura-puraan. Intinya, seorang pemimpin tidak cukup hanya bermodalkan merakyat saja. Akan tetapi kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional sangat amat diperlukan dalam rangka kebijakan yang sangat strategis dalam kerangka kebutuhan zaman yang semakin canggih.

Dalam dokumen 20. Menulis buku Falsafah Kepemimpinan Jawa (Halaman 142-144)