• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemimpin Jawa Ideal 1 Memiliki Limabelas Sifat

Dalam dokumen 20. Menulis buku Falsafah Kepemimpinan Jawa (Halaman 62-65)

IDEOLOGI KEPEMIMPINAN JAWA A Simbol Ideologis Pemimpin Jawa

B. Pemimpin Jawa Ideal 1 Memiliki Limabelas Sifat

Detik kegagalan reformasi telah diambang pintu, jika tidak segera terobati. Amanat reformasi yang harus memberantas KKN, bisa rapuh jika Mega memberikan abolisi pada Soeharto atau tak segera menuntaskan KKN wong gedhe. Ini menjadi sangat lucu sebagai tontonan politik, kata Slamet Rahardjo. Karena, hukum belum memutuskan Soeharto bersalah atau tidak, pemerintah telah gentar. Terlebih lagi, jika Yusril Ehsa Mahendra, M A Rahman, dan Bagir Manan, yang dulu mungkin pernah di sekitar mantan orang nomor satu itu – mulai goyah.

Bahkan, Akar Tandjung pun demikian patah – hampir ikut campur agar kasus Soeharto dihentikan. Belum lagi, Ahmad Tirto Sudira, ketua DPA yang akan memberi saran kepada Mega, sehingga membuat situasi keadilan semakin berwajah suram

Akhirnya, setelah publik menyentak rencana “main-main” itu, kejaksaan akan

menyidangkan kasus Soeharto. Namun, persidangan ini pun masih menyimpan misteri

– kemungkinan sekedar bumbu-bumbu politik saja. Akibatnya, jika benteng Mega

“jebol”, tamatlah hukum kita. Berarti pula, akan menjadi tonggak awal kegagalan

reformasi.

Begitulah gerak-gerik pemimpin kita yang amat memalukan. Kadang-kadang formulasi orde baru masih sangat lekat di hati mereka. Itu semua terjadi, karena mereka kurang memahami hakikat kepemimpinan. Kepemimpinan yang hanya dilandasi ambisi berkuasa, bukan amanah, hanya sia-sia. Itulah sebabnya, tak salah apabila pemimpin bangsa ini mencoba berkiblat pada keperkasaan kepemimpinan Patih Gadjah Mada di jaman Majapahit.

Dalam Serat Negarakertagama, terdapat 15 sifat Patih Gadjah Mada yang patut diteladani oleh pemimpin bangsa. Namun, dari 15 sifat tersebut ada yang masih

relevan dengan kondisi kepemimpinan dan ada pula yang kurang relevan. Sifat kepemimpinan termaksud adalah: (1) wignya, artinya bijaksana dalam memerintah. Ia penuh hikmah dalam menghadapi berbagai kesukaran. Akhirnya bisa berhasil menciptakan ketenteraman; (2) mantriwira, pembela negara yang berani karena benar; (3) wicaksaneng naya, bijaksana dalam sikap dan tindakan. Kebijaksanaannya selalu terpancar dalam setiap perhitungan dan tindakan, baik ketika menghadapi lawan maupun kawan, bangsawan maupun rakyat jelata; (4) matanggwan, memperoleh kepercayaan karena tanggungjawabnya yang besar sekali dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang dilimpahkan di atas batu kepalanya. (5) satya bhakti aprabu, bersikap setia dengan hati yang tulus ikhlas kepada negara serta pemimpin di atasnya. Empat puluh lima tahun ia selalu setia mengabdi kepada negara dan raja. Padahal, ia sebenarnya dapat merebut kerajaan, namun tak pernah dilakukan. Setia bakti telah mendarah mendaging dalam jiwanya; (6) wagmi wak, pandai berpidato dan berdiplomasi mempertahankan atau meyakinkan sesuatu; (7) sarjjawopasama, berwatak rendah hati, berbudi pekerti baik, berhati emas, bermuka manis dan penyabar; (8) dhirotsaha, terus-menerus bekerja rajin dan sungguh-sungguh; (9) tan lalana, selalu tampak gembira meskipun di dalamnya sedang gundah gulana; (10) diwyacitta, mau mendengarkan pendapat orang lain dan bermusyawarah; (11) tan satrisna, tidak memiliki pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan yang berisi girang dan birahi; (12) sih-samastabhuwana, menyayangi seluruh dunia sesuai dengan falsafah hidup bahwa segala yang ada di dunia ini adalah fana, bersifat sementara. Ia menghargai alam semesta sebagai rahmatan lil alamin; (13) ginong pratidina, selalu mengerjakan yang baik dan membuang yang buruk. Sikap amar ma’ruf nahi munkar; (14) sumantri, menjadi abdi negara yang senonoh dan sempurna kelakuannya; (15) anayaken musuh, bertindak memusnahkan musuh. Ia tak gentar menewaskan musuh, meskipun sebenarnya selalu menjalin kasih sayang kepada sesama negara.

Dari 15 sifat di atas, apabila pemimpin bangsa ini menerapkan konsep ke (1) dan (3) tentang memerintah penuh kebijaksanaan – kiranya reformasi tak akan salah arah. Tak akan ada bohong-bohongan dan saling menutupi di bidang hukum. Apalagi, kalau pemimpin kita juga menerapkan sifat ke (10) diwyacitta, yaitu mau mendengarkan pendapat orang lain dan bermusyawarah dan ke (11) tan satrisna, tidak memiliki pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan. Persoalannya, maukah pemimpin kita mendengarkan suara rakyat yang tertuang melalui TAP MPR tentang pemberantasan KKN? Ini tantangan berat bagi pemerintahan Mega yang masih dilingkari sejumlah kroni-kroni pejabat yang hobi KKN. Lebih penting lagi, kalau mereka kompak (ngotot) memberikan abolisi dan atau menghentikan kasus Soeharto – apakah tak memiliki komoditi politik?

Lalu, kalau pemimpin kita tak mau menegakkan amanat reformasi – berarti mereka sengaja atau tidak telah (akan) melanggar TAP MPR kan? Buktinya, kali ini banyak LSM yang menuding pemerintah yang tak serius menangani KKN. Hukum

hanya “milik” rakyat, sebaliknya orang besar kebal hukum. Reformasi macam apa kalau

seperti ini berlanjut terus. Apakah tak ironis kalau bangsa kita mencanangan pembentukan masyarakat madani kelak? Kalau pembaharuan hukum saja masih

konyol, menangani kasus Soeharto saja “takut”, repot. Jangan-jangan memang yang

2. Menjadi Sumber 3 K

Memang, ada pesan pujangga besar tentang kewajiban dan larangan seorang pemimpin. Mempelajari karya KGPAA Mangkunagara IV, dalam Serat Salokantoro, Sriyatna, Wedhatama, Tripama, dan lain-lain sama halnya mencermati ajaran kepemimpinan suatu bangsa. Hal ini seperti yang dilakukan seorang antropolog Margaret Mead, Clifford, Hildred Geertz (Ratna, 2011:67) ketika mempelajari Bali. Dengan menganut wawasan antropologi sastra, kita dapat mencermati ajaran kepemimpinan Jawa lewat sastra karya pujangga.

Menurut KGPAA Mangkunagara IV kewajiban pemimpin bangsa ada enam yang harus ditaati. Yakni, (1) nut wiradat, artinya mengikuti upaya dan usaha manusia dengan penuh tanggung jawab; (2) nyangkul sagawene, artinya menjalankan tugas sepenuh hati, tak banyak menolak dan komentar. Kritis boleh saja asalkan benar, namun sikap setia justru lebih baik apabila pekerjaan itu mulia. Karena itu, pemimpin perlu menjalankan tugas dengan wekel (rajin dan sungguh-sungguh) dan tawakal (berserah diri kepada Tuhan); (3) mbiyantu negara sakadare, artinya mau membantu kesejahteraan dan ketenteraman rakyat menurut kemampuannya. Bantuan diberikan dengan ikhlas dan tanpa pamrih; (4) ngowel ing kapitunan, artinya lebih hati-hati menjalankan tugas. Tak banyak tingkah dan apalagi melakukan KKN yang merugikan rakyat banyak; (5) milu rumeksa pakewuh, artinya ikut menjaga dan mempertahankan negara dengan sepenuh hati. Jika ada masalah negara, tak saling melempar, tapi harus bertanggung jawab; (6) murinani rusake praja, artinya selalu mengetahui kesulitan rakyat banyak. Tentunya, lalu ingin mencari jalan keluar. Termasuk di dalamnya selalu memperhatikan suara rakyat.

Adapun larangan bagi seorang pemimpin negara, ada lima hal, yaitu: (1) aja akarya giyuh, artinya jangan sampai seorang pimpinan justru membuat kerusuhan atau masalah. Termasuk jangan menjadi dalang kerusuhan dan masalah; (2) aja karya isin, artinya pimpinan jangan sampai membuat malu diri sendiri dan kroninya. Pimpinan harus bersih dan berwibawa. Jika sampai membuat malu, selamanya akan menjadi ciri dan titik kejelekan; (3) aja rusuh ing pangrengkuh, artinya pimpinan diharapkan mampu melindungi warga negara, jangan sampai membuat rasa kawatir rakyat. Jika dalam memimpin bangsa membuat situasi tak menentu dan krisis berkepanjangan, sebaiknya mengundurkan diri saja; (4) aja mrih pihala, artinya seorang pimpinan jangan sampai berbuat yang tak terpuji. Pimpinan adalah tauladan rakyat. Jika sekali berbuat salah, apalagi menyalahgunakan jabatan dan wewenang akan dinilai jelek oleh rakyat; (5) aja kardi nepsu, artinya jangan sampai seorang pimpinan mudah marah, tanpa alasan yang jelas. Pimpinan sebaiknya banyak senyum kedamaian.

Jika pemimpin bangsa ini, termasuk elit politik mampu melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan tersebut, niscaya negara akan aman dan damai. Tak akan ada lagi perseteruan di antara elit politik yang dibakar oleh ambisi sesaat. Tak akan ada PKB kembar, PPP kembar, dan dulu juga pernah PDI kembar. Begitu pula tak akan ada saling melempar dan saling tuding antara pemerintah (eksekutif), legislatif, dan yudikatif. Karena itu, pimpinan yang baik, sebaiknya menjadi sumber tiga hal (tiga K) yang selalu didambakan rakyat, yaitu:

Pertama, kasenengan (kesenangan). Pimpinan harus mampu menciptakan kesenangan, dengan cara menghargai pendapat rakyat, dan bersikap demokratis. Karena, pimpinan yang otokratik, biasanya tak disukai rakyat. Rakyat akan bungkam,

seperti di era orde baru. Itulah sebabnya, diharapkan ada pimpinan yang bisa manjing ajur-ajer, artinya bisa menyatu dengan hati rakyat. Kesenangan pimpinan juga kesenangan rakyat, bukan sepihak.

Kedua, kasugihan (kekayaan). Yakni, pimpinan yang mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa sangat diharapkan. Tidak sebaliknya, negara semakin memperbanyak hutang ke luar negeri, sementara uangnya dikorupsi pejabat. Kelak yang harus menyahur hutang rakyat dengan memungut pajak berlebihan dan menaikkan harga BBM. Ini jelas cermin pemimpin yang tercela. Pemimpin yang membebani rakyat, merupakan isyarat terjadinya kiamat dunia.

Ketiga, ketenteraman, yaitu pimpinan yang berwatak sabda pandhita ratu. Artinya, pemimpin yang taat pada janji dan sumpah. Kalau anggota DPR/MPR bersumpah menjadi wakil rakyat, tentu tak akan mementingkan partai atau golongannya, atau bahkan pribadinya. Kalau presiden bebrsumpah ingin mengemban amanat reformasi, tentu harus jalan terus meskipun ada pengaruh dari mana-mana. Begitu pula aparat penegak hukum yang telah bersumpah, tentu tak akan main-main menangani suatu perkara. Mereka akan adil dalam memutuskan perkara. Itulah jiwa kepemimpinan yang benar-benar benar-benar mengabdi pada rakyat. Jabatan sebagai amanat yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Karenanya, dalam segala sikap dan tindakannnya dapat menenteramkan hati rakyat.

Dalam dokumen 20. Menulis buku Falsafah Kepemimpinan Jawa (Halaman 62-65)