WAHYU , KEKUASAAN, DAN KEWIBAWAAN DALAM KEPEMIMPINAN JAWA A Raja, Rakyat, dan Kekuasaan Mistis
D. Kepemimpinan Nyakrawati dan NJongkeng Kawibawan
Konsep kekuasaan Jawa ada juga implikasi-implikasinya bagi konsepsi- konsepsi tentang kedaulatan, integritas teritorial, dan hubungan-hubungan luar negeri. Moertono dan lain-lainnya telah memperlihatkan ketentuan yang hampir tidak berubah dalam lakon-lakon wayang dan dalam tradisi historis, bahwa nama-nama kekaisaran atau kerajaan sama dengan nama ibu kotanya. Di antara contoh -contoh yang terkenal adalah Majapahit, Singasari, Kediri dan Demak. Memang bahasa Jawa tidak membuat perbedaan etimologis yang jelas antara ibu kota negara dan kerajaan itu sendiri. Kedua pengertian ini tercalcup dalam kata rcgari. Jadi negara secara khas ditentukan, bukan oleh batas wiiayahnya, melainkan oleh pusatnya. Luas wilayah negara selalu mengalami perubahan sesuai dengan jumlah kekuasaan yang dikonsentrasikan di pusat. Tapal-tapal batas tertentu dan umumnya diakui dalam praktik, umpamanya hambatan-hambatan geografis yang hebat, seperti pegunungan dan lautan, yang juga cenderung dianggap sebagai tempat penting.
Kekuasaan raja itu diungkapkan oleh kemampuannya untuk menciptakan para pengganti (Ian memindahkan kekuasaannya kepada mereka. Orang Jawa biasa tidak mempunyai cara untuk mengetahui kesuburan penguasa, selain dengan mengetahui jumlah anak yang dihasilkannya. Seandainya penguasa itu impoten atau tidak dapat beranak, hal itu dapat dianggap sebagai tanda kelemahan politik biasa pertapa yang kadang-kadang dilakukan penguasa, akan menjadi lebih besar artinya kalau di samping itu vitalitas seksualnya jelas sekali. Adalah menarik bahwa dalam Iakon- lakon wyang, sedikit disebut hubungan seksual antara para satria dengan para mereka yang tidak langsung mengakibatkan kehamilan. Kesuburan dalam hubungan seksual ini sampai dibawa kepada hal-hal yang lucu dalam beberapa lakon dagelan di mana dikatakan bahwa bahkan dewa-dewa itu sendiri menjadi hamil sewaktu mereka mandi dalam suatu kolam di mana satria Pandawa, Arjuna, sedang melakukan sanggama di bawah kekuatan-kekuatan gaib yang besar kuasanya. Dengan
pengecualian itu, kerajaan biasanya dianggap tidak mempunya batas-batas yang tetap dan dipetakan; tetapi mempunyai bata batas tidak tetap dan selalu berubah.
Dalam pengertiam sesungguhnya, tapal batas politis tidak ada sama sekali, karen kekuasaan seorang penguasa berangsur-angsur semakin lama di kejauhan dan secara tak terasa menyatu dengan kekuasaa raja tetangga yang semakin menanjak. Perspektif ini memperjelas perbedaan fundamental antar gagasan lama mengenai suatu kerajaan Asia Tenggara dan negara modem yang bersumber dari pandangan-pandanga yang sama sekali berbeda tentang arti tapal batas. Implisit di dalam gagasan negara modem ialah konsepsi bahwa tapal batass menandai turunnya secara cepat dan mendadak "voltase"; kekuasaan para penguasa negara itu. Sepuluh meter di sebelahi sini tapal batas kekuasaan mereka "berdaulat"; sepuluh meter di sebelah sana dalam teori, kekuasaan mereka tidak berarti. Lagi pula, di tempat mana pun di dalam wilayah tapal batas negara, kekuasaan pusat secara teoretis seragam beratnya. Para warga negara yang tinggal di daerah pinggiran kerajaan, harus mempunyai status yang sama dengan warga negara yang tinggal di pusat, dan kewajiban-kewajiban hukum harus berlaku seragam di seluruh daerah negara. Karena gagasan tradisional tentang kekuasaan sama sekali berbeda sifatnya, dan gagasan untuk menerapkan kekuasaan secara seragam di seluruh wilayah tidak ada artinya, maka konsep tapal batas terbatas sekali artinya; sifat negara tradisional ditentukan oleh pusatnya, bukan oleh batas pinggimya. ''
Sifat pemikiran Jawa tradisional yang sangat berorientasi keadaan pusat, jelas sekali dilukiskan oleh terbaginya dunia menjadi dua jenis negara: Jawa dan sabrang (kata yang tidak dibedakan yang berarti "seberang lautan", tetapi pada pokoknva dipergunakan untuk tnenunjukkan semua kelompok dan satuan politik yang bukan Jawa). Walaupun sopan-santun dan persyaratan ideologi nasionalisme Indonesia dewasa ini teiah menjadikan pembagian seperti ini tidak dapat diterima di depan umum, namun dalam pembicaraan-pembicaraan pribadi dengan banyak orang Jawa masih kita dapati sisa-sisa konsepsi intelehtual ini dengan kuat dan jelas. Bahkan demikian dalamnya gagasan itu tertanam, sehingga orang Belanda telah menerimanya kira-kira tanpa disadarinya, dengan membagi wilayah-wilayah jajahan mereka dengan istilah-istilah Jawa dan daerah-daerah War. Banyak orang Jawa yang masih merasa sangat sukar sekali menerima sepenuhnya pendapat bahwa Indonesia terdiri dari gugusan pulau-pulau yang sederajat. dan berinteraksi, ialah Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan pulau-pulau lain. Semua pulau itu cenderung dipandang dalam hubungannya dengan pusatnya (Jawa). Demikian pula, banyak orang Jawa sukar membayangkan terdapatnya dua negari, setidak-tidaknya di Jawa. Jadi walaupun kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta, masing-masing telah berdiri secara terpisah selama lebih dari 200 tahun, dan jarak antara keduanya kurang lebih hanya 60 kilometer, banyak, orang Jawa masih biasa menggunakan kata nega7z (unipamanya dalam kalimat: Kulo bade dateng negari, yang artinya: Saya akan pergi ke negari) dengan maksud satu ibu kota, dan menyebut lainn,ya dengan namanya saja, sebagaimana mereka menyebut nama kota lain mana pun di Indonesia.'
Ajaran ini menekankan kultus ekspansi yang merupakan suatu dorongan yang perlu untuk perjuangan mempertahankan hidup, untuk menyatakan diri serta demi dominasi dunia, dan faktor dinamis yang diperhitungkan untuk mengganggu
keseimbangan hubungan-hubungan antar negara. Nafsu berperang suatu negara pertama-tama ditujukan kepada satu atau beberapa negara tetangga terdekat, dan dengan demikian diperlukan persahabatar: negara yang berada di sebelah "sana" dari musuh itu, yang karena dekatnya, menjadi musuh yang wajar pula dari musuh itu. Tetapi seandainya musuh bersama itu telah ditaklukkan, maka kedua sekutu itu akan menjadi tetangga-tetangga dekat, yang tentu akan menimbulkan permusuhan baru. Jadi lingkaran persekutuan dan permusuhan ini akan selalu meluas sampai tercapai suatu perdamaian universal, dengan didirikannya suatu negara dunia dengan seorang penguasa tunggal tertinggi (chakravartin)."'
Beberapa hal penting timbul dari gambaran mandala ini sebagai dasar hubungan-hubungan intemasional atal.t, lebih tepat lagi, hubungan-hubungan antara kerajaan. Yang per-tama adalah bahwa musuh a priori seorang penguasa adalah tetangga terdekatnya. Moertono tidak menjelaskan lebih lanjut alasanalasan mengapa pola seperti ini harus ada. Tetapi kalau garis umum argumentasi saya itu benar, maka logikanya menjadi amat jelas. Telah saya kemukakan bagaimana dalam pemikiran orang Jawa, kekuasaan penguasa tidak terbagi rata di seluruh wilayah kerajaan, tetapi cenderung untuk menipis secara merata jika semakin jauh dari pusat, sehingga ia paling lemah justru pada titik di mana daerah kekuasaa n menyatu dengan daerah tetangganya. Jadi kalau ia ingin agar kekuasaannya tidak diperkecil dan diperlemah oleh tarikan kekuasaan tetangganya, haruslah ia pertama - tama berusaha m?nggunakan kekuasaannya iiu terhadap kekuasaan tetangganya. Kita dapat mengingat kembali mengenai gagasan bahwa jumlah kekuasaart dalam alam semesta ini tetap, mengandung arti bahwa kalau jumlah kekuasaan di suatu tempat bertambah besar, maka jmuiail kekuasaan di tempat lain berkurang dalam jumlah yang tepat sama. Karena kekuasaan itu seperti zat cair dan tidak stabil, selalu siap terpencar dan membaur, maka agresi anta Negara sudah tentu menjadi asumsi pokok dalam hubungan antamegara.
Ada tiga cara yang mungkin dilakukan dalam menghadapi ancaman yang datang dari pemusatan-pemusatan kekuasaarl yang dekat, yaitu menghancurkan dan mengobrak-abrik, menyerap, atau kombinasi kedua hal itu. Menghancurkan musuh sebagaimana yang misalnya dilakukan Sultan Agung dalam rangkaian operasi penaklukannya yang kejam terhadap negara-negara kota perdagangan di pasisir (pantai utara Pulau .1awa), ada kerugian-kerugiannya. Pada tingkat praktisnya saja, penghancuran total akan meuyebabkan habisnya penduduk set;empat, menimbulkan kekacauan dan kemunduran ekonomi, dan kemudian mungkin akan menyebabkan timbulnya pemberontakan dan perlawanan gerilya. Pemindahan penduduk mungkin dapat mencegah timbulnya masalah yang tersebut terakhir ini, tetapi seandainya pemindahan itu tidak menyeluruh, maka timbulnya masalah ini mungkin tidak dapat dicegah secara pasti.f" Dipandang dari segi yang lebih teoretis, mcmusnahkan orang-orang lain tidak dengan sendirinya berarti memperluas atau memperbesar kekuasaan penguasa itu, tetapi hanya berarti menceraiberaikan kekuasaan lawan, yang mungkin diambil atau diserap oleh lawan - lawan lain. Lagi pula, menghancurkan itu sendiri adalah cara yang paling kasar untuk menaklukkan musuh, dan karena itu merupakan cara yang paling tidak diinginkan. Yang lebih memuaskan adalah cara menyerap, yang dalam praktik
mungkin berupa tekanan diplomasi, dan cara-cara lain yang halus (beradab) untuk menyebabkan diakuinya keunggulan dan kekuasaannya.
Dalam teori, penyerapan itu dianggap sebagai tunduknya kerajaan-kerajaan yang bertetangga secara sukarela kepada kekuasaan seorang penguasa yang tertinggi. Karena itu, dalam pelukisan klasik raja-raja besar dulu kala kita jumpai bahwa raja sewu negara nungkul (sujud), (seribu raja tunduk kepadanya). Patut juga diperhatikan bahwa dalam sanjungan terhadap seorang penguasa, tidak disebut keberaniannya dalam menakhlukkan kekuasaan lain.
Ketiga, akibat terakhir yang logis dari hubungan-hubungan antarmandala adalah timbulnya chakravartin, yang dalam bahasa Jawa ialah: prabu murbeng wisesa anyakrawati (penguasa dunia). Bentuk ideal kekuasaan duniawi adalah suatu kerajaan dunia, di mana seluruh satuan politik digabung dalam suatu persatuan yang padu, sehingga pasang surutnya kekuasaan yang terkandung dalam alam
semesta yang mempunyai banyal: mandala yang saling bententangan satu sama lain untul: sementara tidak akan ada lagi. Suatu ilustrasi yang menarik dari posisi sentral yang dipunyai oleh universalisme dalam pemikiran politik Jawa ialah bahwa kata-kata yang berarti alam semesta (buwana) dan dunia alamiah (alam) terdapat dalam gelar tiga dari empat raja Jawa sekarang ini: Paku Buwana, Hamengku Buwana dan Paku Alam.
Akhirnya, barangkali bukan hanya suatu kebetulan bahwa pola khas hubungan - hubungan politik antara Jawa dan pulaupulau lain cenderung untuk menyerupai hubungan "lompat katak" yang digambarkan oleh Moertono dalam pembahasannya tentang mandala. Dalam periode kemerdekaan saja, kita temukan contoh -contoh menarik dari pola ini dalam hubunganhubungan yang erat antara pusat dan Batak Karo dalam menghadapi Batak Toba yang dominan di Sumatra Timur: antara pusat dan kelompok-kelompok Dayak pedalaman dalam menghadapi orang Banjar di Kalimantan Selatan; dan antara pusat dengan orang Toraja pedalaman dalam menghadapi orang Bugis dan orang Makassar di Sulawesi Selatan. Walaupun pola "lompat katak" ini dapat dipahami dengan baik berdasarkan teori politik Barat, namun pola itu tidak amat konsisten dengan suatu kerangka intelektual lain yang amat berbeda.
BAB XV
KEPEMIMPINAN JAWA MASA DEPAN