WAHYU , KEKUASAAN, DAN KEWIBAWAAN DALAM KEPEMIMPINAN JAWA A Raja, Rakyat, dan Kekuasaan Mistis
C. Wahyu Kepemimpinan Jawa
Orang Jawa selalu beranggapan bahwa menjadi pemimpin itu karena wahyu. Maksudnya, tidak semua orang dapat menjadi pemimpin. Pemimpin adalah orang pilihan. Yang dimaksud dengan wahyu, adalah karunia Tuhan. Keyakinan Jawa pemimpin itu ada campur tangan dari dzat adikodrati. Jika sang adikodrati sudah
menurunkan wahyu, tentu siapapun tidak akan dapat menghalangi. Mungkin sekali yang dipilih oleh wahyu adalah orang kecil, sederhana, kurang berwibawa. Mungkin pula pilihan wahyu adalah orang besar. Hal ini amat tergantung pada sebuah pulung.
Falsafah Jawa mengatakan bahwa drajat, pangkat lan semat bisa oncat, artinya kedudukan sebagai pimpinan itu tidak langgeng. Pimpinan itu hanya sebuah sampiran pakaian ibaratnya. Artinya, suatu saat sampiran itu akan diambil oleh yang punya kain. Pimpinan juga sebuah baju (ageman) saja, sehingga sewaktu-waktu harus siap dilucuti atau ditanggalkan (dilukar). Hal itu menjadi bahan pertimbangan bagi para pemimpin. Di dunia tidak ada yang langgeng. Semua serba sementara, bagaikan kilat menyambar sekejap tanpa bekas. Saat menjabat pimpinan ia terhormat dan dipuja, namun jika pergantian tiba, ia dapat dihujat dan dihina oleh siapa pun. Dalam ranah kepemimpinan, kawan dan sahabat seakan tak mengenalnya. Ia dilupakan. Ironis. Kawan kadang- kadang menjadi lawan, jika telah ada perebutan pucuk pimpinan.
Perebutan kepemimpinan selalu membawa korban. Terlebih lagi jika masing- masing yang berebut tidak berpikir bahwa pimpinan itu wahyu. Raja sebagai pimpinan mempunyai wahyu keprabon atau wahyu kanarendran. Presiden, menteri, direktur, rector, dekan, kepala dinas, ketua jurusan, dan sebagainya tetap ada wahyu. Jika hal ini tidak disadari, seringkali orang berebut pimpinan sampai ada darah mengalir. Setidaknya, antar teman yang semula baik, jadilah musuh bebuyutan. Dari sini lahirlah dendam kesumat yang sulit dibendung.
Saya mempunyai pengalaman menarik, ketika ada pemilihan Dekan dan Wakil dekan. Secara kebetulan saya ikut di dalamnya, ikut menjadi mak jomblang (kader) salah satu calon. Namun karena calon saya itu kalah, dia menjadi anti pati pada calon yang jadi. Celakanya, calon yang kalah itu merasa jengkel dan dendam kesumat, selain pada pimpinan terpilih juga pada saya. Saya dianggap tidak mampu menjembatani pencalonan dia. Akibatnya, hubungan sosial budaya menjadi renggang. Bahkan saya lihat sendiri hubungan calon terpilih dengan yang gagal itu canggung. Dia merasai dicederai, diingkari janjinya, sehingga sampai berprinsip: dadia godhong emoh nyuwek, dadia banyu emoh nyawuk. Maksudnya, dia tidak lalgi ingin menjadi teman.
Itulah watak manusia ketika kecewa, tidak legawa menganggap pimpinan itu sebuah pulung atau wahyu. Akibatnya, saling berhantam dan menuding satu sama lain. Wahyu yang tidak berpihak pada seseorang itu sering dihembuskan dalam tindakan yang kadang-kadang tidak nalar, ingin membunuh nasib teman, ingin mencederai, dan balas dendam. Sungguh gila orang itu, dia sedang sakit jiwa. Oleh karena, dia yang bodoh tidak paham wahyu kepemimpinan, malah berbalik meneror. Ini hanya terjadi pada orang yang tidak siap menerima wahyu atau sebaliknya ditinggalkan wahyu. Wahyu itu hanya dapat diminta, tetapi keberuntungan (pulung) terserah saja.
Pada hal kita tahu tidak ada manusia sempurna. Ada sisi baik dan sisi buruk. Setelah jatuh kebaikan tertutup kekurangan. Pengalaman Prapanca penggubah Nagarakertagama dituangkan dalam Nirartaprakerta, masa pemerintahan Hayam Wuruk menjabat sebagai bhiksu pemuka agama Bhuda dan adyaksa (jaksa) membuktikannya. Setelah purna tugas ia menyendiri tinggal di Swecchapura, lembah Sungai Brantas. Jauh dari kawan seperjuangan dan sepengabdian. Mereka menjauh. Kesendirian itu dimanfaatkan untuk menggubah Nirartaprakerta, sebagai kompensasi. Kompensasi itu positif, karena ia tidak putus asa, tidak larut dalam kesendirian. Nir
diembannya. Tetapi ia punya iman yang kuat. Ia mendekatkan diri kepada Yang Agung. Ia sadar hanya kepada-Nya ia akan kembali. Bahwa keabadian dan kelanggengan hanya milik-Nya, pemilik alam semesta, penentu segalanya.
Dharma seorang pemimpin yang bijak seperti dijabarkan dalam astabrata, dalam Ramayana dan citra pemimpin bangsa dalam Serat Pamarayoga, sebaiknya dijadikan pegangan, demi mencapai kesejahteraan rakyat. Konsep tersebut mampu menopang kepemimpinan bangsa yang multikultural. Sosok pemimpin bangsa yang bijak dibutuhkan guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa didukung UUD 45, sumber segala hukum di Indonesia, sasanti Bhinneka Tunggal Ika dalam cengkeraman burung garuda putra bhagawan Kasyapa dalam kitab Adiparwa. Garuda menjadi wahana dewa Wisnu, dewa pengayom alam semesta yang menjelma pada diri pemimpin bangsa. Dilengkapi dasar negara Pancasila, di bawah naungan pataka sang saka merah putih, lambang kehidupan jelmaan lingga dan yoni di Nusantara yang mahardika, dirangkai dalam Sutasoma. Tan Tular berpesan kepada bangsa pancasila
gĕgĕn den teki haywa lupa, bahwa ’pancasila harus dipegang teguh, jangan diabaikan’.
Pancasila, Bhinneka tunggal ika dan mahardika, pataka sang saka pengikat NKRI dalam untaian manikam sepanjang khatulistiwa.
Pemimpin bangsa telah dipilih, melalui pileg dan pilpres. Siapa pun mereka pilihan bangsa. Tempat menggantungkan harapan dan masa depan yang lebih baik di bumi yang gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinumbas, tata titi tentrem kerta raharja, dalam arti murah sandang pangan seger kuwarasan, bukan hanya slogan. Mutiara kata itu harus direalisasikan oleh mereka yang mendapatkan amanah, sebagai perwujudan lukisan negeri Amarta yang didendangkan ki dalang dalam pentas wayang. Bukan sekedar impian, dengan memanfaatkan potensi alam anugerah Allah Swt. yang membentang sepanjang khatulistiwa, dalam bentuk hutan, gunung, laut dan sungai, simpanan harta karun yang tak ternilai harganya. Semua dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat. Mereka harus bekerjasama saiyeg saekapraya membangun bangsa. Eksekutif, legislatif dan yudikatif memiliki tugas membangun negara dan bangsa. Sebagai pemimpin mereka memiliki tanggung jawab yang cukup berat. Kesejahteraan rakyat tidak bisa diwakilkan, tetapi direalisasikan. Bila wakil rakyat hidup sejahtera bukan berarti rakyat pun merasakannya.
Ekonomi kerakyatan bukan sekedar janji. Rakyat kecil tidak menuntut terlalu banyak. Kebutuhan mereka sederhana. Sandang pangan tercukupi, kesehatan terjaga, dan menyekolahkan anak demi masa depan calon pemimpin bangsa terlaksana. Kebutuhan itulah yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Salah satu solusinya dengan menciptakan lapangan kerja. Agar gepeng, pengamen, pengasong di jalanan tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. Ungkapan hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri pun pudar. Rumput tetangga tampak lebih hijau. Rakyat berbondong-bondong ke negeri orang mengadu nasib. Yang beruntung meraup uang sementara yang kurang beruntung ada yang pulang tinggal nama, menjadi jenazah, karena siksaan sang majikan. Cukupkah mereka mendapat gelar pahlawan devisa?.
Dalam Nagarakŗtagama dijelaskan bahwa Hayam Wuruk, setiap tahun anjangsana melihat langsung suasana pedesaan membaur kembul bujana dan berkomunikasi dengan rakyat, sambil membagikan sedekah. Sebagai raja ia sangat dekat dengan rakyat dan merakyat. Tidak ada jarak di antaranya. Rakyat pun merasa diperhatikan.
Rakyat mempersembahkan berbagai hasil bumi, sebagai rasa hormat dan ungkapan rasa terima kasih dan ajrih asih. Dengan demikian rasa asih dan asuh tercipta antara pemimpin dengan yang dipimpin. Ibarat ikan dan air, singa dan hutan, atau tegal dan rumput, menyatu saling membutuhkan seperti yang diungkapkan dalam Serat Panittisastra.
Masyarakat Jawa percaya bahwa wahyu kaprabon, dalam diri seorang pemimpin masih ada. Asal pemimpin masih sanggup memberikan pangayoman, maka rakyat akan loyal. Seorang pemimpin harus waspada. Sebab di antara punggawa ada yang mbalela, sengaja berkhianat demi jabatan yang diincarnya. Bagi masyarakat konsep ratu adil, wahyu dan pulung merupakan trilogi dalam demokrasi. Untuk mendapatkan pulung atau wahyu, memerlukan laku, dengan mesu budi atau mesu brata, minta kepada Hyang Agung dengan jalan berpuasa atau bertapa. Wahyu merupakan jelmaan suara-Nya di balik suara umat manusia yang dipercaya mampu menerimanya. Sedangkan trilogi yang dianut oleh kraton Mangkunagaran, melu handarbeni, wajib hangrukebi, mulat sarira munggengwani. Bahwa seorang pemimpin harus merasa memiliki, membela kebenaran dan mawas diri. Mau mengakui kasalahan pribadi tanpa menyalahkan orang lain.