• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGGOTA (ANDI RIO IDRIS PADJALANGI, SH, M.KN/ F-PG) : Terima kasih Pimpinan

ARSIP DPR RI

ANGGOTA (ANDI RIO IDRIS PADJALANGI, SH, M.KN/ F-PG) : Terima kasih Pimpinan

Bahan menyusul ya?

Dari Fraksi Partai Golkar.

Kami persilakan.

ANGGOTA (ANDI RIO IDRIS PADJALANGI, SH, M.KN/ F-PG) : Terima kasih Pimpinan.

PANDANGAN FRAKSI PARTAI GOLKAR DPR RI ATAS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA Disampaikan oleh :

Andi Rio Padjalangi No. Anggota : A-265

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat Saudara Pimpinan Komisi III DPR RI;

Yang terhormat Saudara Menteri Hukum dan HAM RI.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Sebentar-sebentar Pak Andi Rio.

Ini jam 12, boleh Saya perpanjang ya sampai 12.30 WIB?

Bisa ya Pak ya?

Pemerintah, bisa 12.30 WIB ya?

Ini selesai kok tinggal baca-baca.

Ya, silakan Pak Rio.

ANGGOTA (ANDI RIO IDRIS PADJALANGI, SH, M.KN/ F-PG) : Terima kasih Pimpinan.

Yang terhormat Saudara Pimpinan Komisi III;

Yang terhormat Saudara Menteri Hukum dan HAM RI;

Yang terhormat Saudara Menteri Sosial;

Yang terhormat Saudara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI;

Yang terhormat Saudara Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI; Yang terhormat Saudara Anggota Komisi III DPR RI; dan

Hadirin yang kami muliakan.

Saya mungkin ringkas-ringkas saja Ketua.

ARSIP DPR RI

36 Pimpinan Komisi III, Para Anggota DPR RI yang hadir yang kami muliakan,

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mestinya untuk menjamin terpenuhnya hak-hak atas anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan dimana pada dasarnya anak dipandang haruslah mendapatkan perlindungan. Pengaturan tentang Pengadilan Anak Indonesia sampai saat ini diatur khusus dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Akan tetapi terkait dengan perkembangan zaman termasuk berkembangnya konsep HAM di dalam peraturan Undang-Undang di Indonesia khususnya mengenai cara pandangan menyikapi tindak pidana yang dilakukan oleh seorang anak termasuk begitu banyaknya Konvensi-konvensi Internasional khususnya terkait dengan instrumen HAM seorang, maka Fraksi Partai Golkar sedari awal terlibat dalam perumusan Rancangan Undang Sistem Peradilan Pidana Anak ini merasa Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak perlu ditinjau kembali untuk disesuaikan dan disempurnakan baik dari sisi yuridis, sosiologis maupun psikis penanganan terhadap seorang anak.

Pimpinan Komisi III, Para Anggota DPR RI yang hadiri yang kami muliakan,

Fraksi Partai Golkar memandang ada beberapa hal yang diperhatikan terkait dengan isi Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini antaranya adalah:

1. Fraksi Partai Golkar memandang positif terjadinya penyelesuaian Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Konvensi Internasional terkait dengan hak seorang anak, apalagi terhadap Konvensi yang telah diratifikasi oleh Indonesia.

2. Fraksi Partai Golkar memandang positif pengaturan di dalam Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengenai Koordinasi antar Instansi terkait karena Sistem Peradilan Anak melibatkan lebih dari 1 instansi, bahkan bukan hanya Pemerintah Pusat tetapi juga Pemerintah Daerah sebagaimana tertera dalam Pasal 104 ayat (3).

3. Fraksi Partai Golkar memandang positif pengaturan yang lebih baik di dalam menangani anak terkait dengan mekanisme penahanan bagi anak, kualifikasi Penasehat Hukum atau Advokat yang memiliki kemampuan di bidang penahanan seorang anak termasuk bantuan hukum dari negara, pengaturan peranan lembaga pembina dan pembimbing bagi anak dan alternatif bentuk lain pengganti pemidanaan bagi seorang anak sebagai bentuk implementasi restoratif justice dan diversi di dalam sistem peradilan pidana anak.

4. Terlepas dari adanya pendapat bahwasanya peranan diversi tidak diperlukan persetujuan dari korban dan juga tidak mengindahkan Beijing Rules, Fraksi Partai Golkar menilai bahwasanya rumusan Pasal 9 ayat (2) dimana pihak korban menjadi salah satu pihak yang dimintai persetujuan di dalam kesepakatan diversi dengan kondisi-kondisi tertentu, adalah suatu upaya maksimal yang sudah dilakukan oleh

ARSIP DPR RI

37 seluruh pihak terkait dengan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini. Fraksi Partai Golkar menyambut baik rumusan Pasal 30 ayat (5) di dalam Rancangan Undang-Undang ini yang mengatur perkiraan anggaran bagi anak yang ditempatkan di LPKS, dibebankan pada Kementerian yang menyelenggarakan urusan Pemerintah di bidang sosial. Hal ini menunjukan bahwasanya perihal penanganan anak di dalam Sistem Peradilan bukan hanya beban dan tanggung jawab penegak hukum secara formal semata, akan tetapi seluruh pihak lain yang terkait. Fraksi Partai Golkar mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mengawasi dan mengawal pelaksanaan dari Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini apabila telah disahkan menjadi Undang-Undang.

Fraksi Partai Golkar mengingatkan bahwasanya harmonisasi peraturan perundang-undangan setelah tersusunnya Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak wajib dan mutlak untuk dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Pimpinan Komisi III, Para Anggota DPR RI dan Hadiri yang kami muliakan,

Terlepas dari segala kelemahan yang ada dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini, karena pada dasarnya kita manusia adalah makhluk yang bisa melakukan kesalahan. Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini diharapkan dapat menjadi pengayom masyarakat di dalam mewujudkan penegakan dan kepastian hukum khususnya yang terkait dengan penanganan terhadap anak di dalam sistem peradilan pidana.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang ini baik dari pihak Pemerintah, Kawan-kawan Anggota DPR RI khususnya Anggota Panja Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini Komisi III dan lainnya, Fraksi Partai Golkar juga mengucapkan permintaan maaf apabila selama pembahasan Rancangan Undang-Undang ini ada hal-hal yang kurang berkenan di hati.

Sungguh apa yang telah Fraksi Partai Golkar tampilkan termasuk kritisan kami semata-mata kami lakukan untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Indonesia.

Oleh karena itulah memperhatikan pendapat yang di atas, dengan ini Fraksi Partai Golkar menyatakan menyetujui Draft Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak ini disahkan menjadi Undang-Undang. Demikianlah Pendapat Fraksi Partai Golkar.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sekalian dalam menjalankan tugas dan fungsi kita dengan sebaik-baiknya.

Billahi Taufiq Wal Hidayah;

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, 27 Juni 2012 PIMPINAN KOMISI III, FRAKSI PARTAI GOLKAR DPR RI

DR. H. Aziz Syamsuddin

ARSIP DPR RI

38 KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) :

Baik.

Kami persilakan untuk disampaikan ke Pemerintah.

Silakan dari Fraksi PDI Perjuangan.

ANGGOTA (Drs. M. NURDIN, MM/ F-PDIP) : Terima kasih Pimpinan.

PENDAPAT AKHIR MINI

FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

TENTANG

RUU TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK Di sampaikan oleh : Drs. M. Nurdin/A-352

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Sejahtera bagi kita semua.

Om Swastiastu.

MERDEKA!!!

Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Komisi III;

Bapak Menteri Hukum dan HAM serta jajarannya, Bapak Menteri Sosial serta jajarannya, Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta jajarannya, Bapak Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi serta jajarannya.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Maha Kuasa yang senantiasa memberikan berkah, rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua terlebih-lebi kita hingga kita pada hari ini dapat bertemu melaksanakan tugas dengan agenda penyampaian pendapat akhir mini fraksi atas RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Anak adalah bagian yang tidak terpisah dari kelangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Untuk itu, anak perlu mendapat perlindungan dari dampak perkembangan negatif dari sistem peradilan pidana yang diterapkan. Perlakuan terhadap anak yang melakukan tindak pidana harus dilakukan secara hati-hati dan sistematis dengan tujuan agar anak yang bersangkutan bilamana melakukan pembimbingan untuk menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik. Harus diakui bahwa sistem peradilan telah menimbulkan stigma terhadap pelaku dan proses pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan banyak yang tidak berjalan sebagaimana diharapkan sehingga harus ada perhatian khusus terhadap anak.

Perubahan Undang-Undang Peradilan Anak harus mampu melakukan perubahan serta mencegah ekses negatif dari sistem peradilan pidana yang ada. Perlakuan terhadap anak harus menghindari kemungkinan adanya stigma serta proses pembimbingan harus benar-benar diarahkan dalam upaya perbaikan terhadap anak. Setelah melakukan pembahasan terhadap Undang-Undang RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang dimaksudkan untuk mengganti Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 termasuk yang terakhir tadi dibahas, Fraksi PDI Perjuangan

ARSIP DPR RI

39 dapat menyetujui untuk melanjutkan dalam proses tahap II untuk disahkan menjadi Undang-Undang, karena pengesahan RUU ini Fraksi PDI Perjuangan ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu:

1. Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahmakamah Konstitusi. Dari ketentuan konstitusi tersebut, maka tidak dikenalkan adanya Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Anak. Namun Fraksi PDI Perjuangan memahami perkembangan pemikiran yang terjadi dalam pembahasan RUU ini dan dapat menerima nomenklatur RUU untuk menggunakan nama Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Namun tetap sebagai catatan, Sistem Peradilan Pidana Anak merupakan bagian dari sistem peradilan umum sebagaimana ditentukan dalam konstitusi.

2. Sesuai dengan azas perlindungan, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak serta pembinaan dan pembimbingan Anak, maka Undang-Undang yang akan berlaku nantinya tidak memberikan catatan kriminal terhadap anak yang telah berhasil diselesaikan melalui proses diversi. Hal ini penting mengingat konsep teori dan praktek sangat berbeda, harus dihindari praktek dari diversi yang menyimpang diselenggarakan diversi.

3. Terhadap tanggung jawab Penjamin agar tidak melakukan penahanan terhadap anak sebagaimana tercantum dalam Pasal 32 ayat (6), kalau dalam rapat panja dinyatakan dihapus namun Fraksi PDI Perjuangan memberikan catatan perlunya sanksi terhadap penjamin yang tidak melaksanakan kewajibannya agar penjamin tetap memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan proses peradilan yang sangat didambakan oleh korban dan oleh pencari keadilan pada umumnya.

4. Proses Peradilan Anak tidak hanya menghukum anak yang tidak berhasil melakukan proses diversi, tetapi yang terpenting adalah tetap memperhatikan anak yang telah selesai menjalani pidana, bagaimana kelangsungan hidup anak yang telah selesai menjalani pidana agar mereka tidak terjebak lagi dan berurusan dengan sistem peradilan pidana, merupakan bagian akhir yang sangat penting untuk dipastikan dalam hal ini disepakati akan dipastikan dalam peraturan pelaksanaan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Demikian Pendapat Akhir Mini Fraksi PDI Perjuangan atas RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Pada kesempatan ini, Fraksi mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Pimpinan, Anggota Panja serta Para Menteri dan jajaran yang telah bersungguh-sungguh melakukan pembahasan substansi Undang-Undang ini. Akhir kata, semoga Undang-Undang ini dapat diterapkan dengan baik sesuai dengan tujuan serta fungsi yang diemban.

ARSIP DPR RI

40 Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

MERDEKA!!!!

Jakarta, 27 Juni 2012 Juru Bicara

t.t.d M. Nurdin

A-352

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Selanjutnya, siap-siap PKS.

Kalau bisa dipersingkat saja Bib, kita mau shalat Dzuhur Jamaah disini Bib.

Baik.

Kami persilakan PKS.

ANGGOTA (ABOE BAKAR AL-HABSY, SE/ F-PKS) :