• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSIP DPR RI

PEMERINTAH (AHLI BAHASA) : Terima kasih

Harus segera itu sebenarnya bisa digunakan, tetapi dari segi hukum tadi kalau wajib ada sanksinya, kalau harus itu kan harus ada persyaratan yang harus dipenuhi. Jadi, segera itu memberikan penekanan harus. Jadi, penekanan saja. Ya boleh dipakai harus segera.

ARSIP DPR RI

32 KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) :

Bagaimana Pemerintah tidak keberatan kata “wajib” diganti “harus segera”?

Tidak keberatan.

Bisa disepakati?

(RAPAT : SETUJU)

Kalau begitu Saya minta tolong Pasal 81 Pak, tolong Pasal 81.

Tidak apa-apa Pak Sudding boleh juga ini, sudah belajar Ahli Bahasa Pak Sudding ini sekarang.

Pasal 81 Pak di ayat (4)-nya itu, ayat (4), oh sudah jadi Pasal 82 ya?

Nah itu Peraturan Pemerintah itu sudah ditambah ya?

Sudah ya?

Oke, tidak ada masalah.

Baik.

Pak Sudding bisa diterima semua ya?

(RAPAT : SETUJU) Baik.

Kami undang dari Fraksi Partai Demokrat.

ANGGOTA (Hj. HIMMATUL ALYAH SETIAWATY SH.MH/ F-PD) : Terima kasih Pimpinan.

PENDAPAT AKHIR MINI FRAKSI PARTAI DEMOKRAT DPR RI

TERHADAP

RANCANGAN UNDANG-UNDANG SISTEM PERADILAN PINDANA ANAK Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Sejahtera untuk kita semua.

Yang kami hormati Saudara Pimpinan Rapat Kerja Komisi III DPR RI;

Saudara Menteri Hukum dan HAM RI, Saudara Menteri Sosial RI, Saudara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Saudara Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi;

Para Anggota Komisi III DPR RI; dan Hadirin yang kami hormati.

Sebagai umat yang beragama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat kekuasaan-Nyalah sehingga kita secara bersama-sama diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menjalankan amanah konstitusional rakyat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk menyampaikan Pendapat Akhir Mini Fraksi terhadap Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

ARSIP DPR RI

33 Saudara Pimpinan, Saudara Menteri, Para Anggota Komisi III dan Hadirin yang kami hormati,

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam menjalankan fungsi legislasinya senantiasa memperhatikan berbagai aspek yang terkait dengan Rancangan Undang-Undang yang tengah dibahas, juga termasuk memperhatikan berbagai pandangan dan pendapat Fraksi-fraksi di DPR RI.

Fraksi Partai Demokrat DPR RI mengawali pandangan ini dengan melihat sistem peradilan pidana sebagai suatu proses penegakan hukum dengan menerapkan sistem peradilan pidana yang ditetapkan dan diatur dalam hukum pidana formal atau hukum acara pidana yang berwujud rasa keadilan masyarakat dan kepastian hukum bila substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum dapat diaplikasikan secara terpadu. Sinergitas Penegakan Hukum tersebut, perlu diterapkan di dalam segala aspek kehidupan masyarakat kita terutama penegakan pada salah satu elemen masyarakat yakni anak, karena anak merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya, bahkan Indonesia telah mengesahkan Konvensi Hak-hak Anak atau Convention on The Rights of the Child pada tanggal 20 Agustus 1990 yang mengatur mengenai prinsip perlindungan hukum terhadap anak, bahkan telah ada peraturan perundang-undangan yakni Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Namun seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, masih dibutuhkan perlindungan yang lebih komprehensif terhadap eksistensi anak terhadap perlindungannya ketika berhadapan dengan hukum.

Dalam Draft Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana yang terdiri dari 10 bab dan 89 pasal, Fraksi Partai Demokrat DPR RI memandang sebagai berikut:

1. Mendukung di dalam penerapan sistem peradilan anak wajib mengutamakan pendekatan keadilan restoratif sebagai suatu penyelesaian secara adil yang melibatkan pelaku korban keluarga dan pihak lain yang terkait di dalam suatu tindak pidana secara bersama-sama mencari penyelesaian terhadap tindak pidana tersebut dan implikasinya dengan menekankan pemulihan kembali kepada keadaan semua dan bukan pembalasan. Hal ini sangat penting mengingat sistem peradilan pidana anak dilaksanakan berdasarkan azas perlindungan non diskriminasi kepentingan terbaik bagi anak, penghargaan terhadap pendapat anak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, pembinaan dan pembimbingan anak, proporsional serta perampasan kemerdekaan sebagai upaya terakhir.

2. Diversi sebagai suatu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar pidana, upaya non litigasi ini Fraksi Partai Demokrat DPR RI memandang sebagai suatu penerapan azas opportunitas di dalam hukum dimana suatu azas kebijakan tanpa melalui proses hukum tuntas dengan alasan untuk kepentingan umum. Dalam konteks Rancangan Undang-Undang ini, kepentingan umum yang dimaksud adalah kepentingan terhadap masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa.

ARSIP DPR RI

34 3. Di dalam Pasal 17 Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak perlu ada ketegasan berlakunya hukum acara pidana, karena dengan azas legalitas yang berlaku di Indonesia dengan istilah nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang artinya peristiwa pidana tidak akan ada jika ketentuan pidana dalam Undang-Undang tidak ada terlebih dahulu. Artinya, anak dikenakan pidana berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya sehingga terjaminlah hak kemerdekaan anak berdasarkan dengan Pasal 1 dan ayat (1) KUHP yaitu tiada suatu perbuatan boleh dihukum melainkan atas kekuatan pidana dalam Undang-Undang yang ada terdahulu daripada perbuatan itu.

Saudara Pimpinan, Saudara Menteri, Para Anggota Komisi III dan Hadirin yang kami hormati,

Dengan prinsip-prinsip hukum berupa pandangan tersebut di atas, pada hakikatnya Fraksi Partai Demokrat DPR RI tidak keberatan dan menyetujui Rancangan Undang-Undang ini untuk ditetapkan menjadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna DPR RI yang akan datang demi untuk menjamin perlindungan anak terhadap hukum.

Demikianlah Pendapat Akhir Mini Fraksi Partai Demokrat DPR RI terhadap Rancangan Undang-Undang ini.

Terima kasih kami sampaikan kepada Saudara Pimpinan, Saudara Menteri Hukum dan HAM, Menteri Sosial, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatu Negara dan Reformasi Birokrasi beserta para Anggota Komisi III dan Hadirin sekalian, semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhai segenap aktivitas kita semua.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Sejahtera bagi kita semua.

Jakarta, 27 Juni 2012 PIMPINAN

FRAKSI PARTAI DEMOKRAT

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Ketua, Sekretaris,

t.t.d t.t.d

Dr. Hj. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si Saan Mustafa

No. Anggota : 515 No. Anggota : 480

Demikian Pimpinan, tetapi untuk bahan yang ini untuk sementara kami belum dapat sampaikan karena akan kami lebih sempurnakan.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

ARSIP DPR RI

35 KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) :

Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Baik.