• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSIP DPR RI

(RAPAT : SETUJU) Melalui Pemerintah Pak

Baik.

Bapak/Ibu Anggota Komisi III yang kami hormati;

Forum Rapat Kerja Tingkat I Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak yang kami hormati.

Melangkah kepada agenda kedua, kami undang dari Fraksi Partai Demokrat Juru Bicaranya untuk menyampaikan.

Kami persilakan.

ANGGOTA (Drs. H. AHMAD KURDI MOEKRI/ F-PPP) : Pak,

Kalau boleh PPP minta pertama bagaimana? Karena Saya Pansus-nya rangkap ini.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Demokrat keberatan?

Tidak keberatan.

Silakan PPP, persilakan.

ANGGOTA (Drs. H. AHMAD KURDI MOEKRI/ F-PPP) : Terima kasih Pak Ketua.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang terhormat Saudara Pimpinan Komisi III DPR RI;

Yang terhormat Saudara Menkumham;

Yang terhormat Saudara Menteri Sosial atau yang mewakili;

Yang terhormat Saudara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI yang kami hormati;

Yang terhormat Saudara Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur dan Reformasi atau yang mewakili;

Yang terhormat Rekan-rekan Anggota Dewan; dan Hadirin yang berbahagia.

ARSIP DPR RI

27 Mengawali pertemuan ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang atas perkenan-Nya jualah pada siang hari ini kita dapat berkumpul bersama di ruangan ini dalam rangka menghadiri forum konstitusional Rapat Kerja Komisi III DPR RI dalam keadaan sehat wal’afiat untuk mendengarkan Pendapat Akhir Fraksi-fraksi atas Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Selanjutnya, shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjunan Alam Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kepada keluarga dan umat-Nya yang telah membuat umat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang. Semoga kita dapat mewarisi dan mengaktualisasikan keteladanan Beliau Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia di muka bumi ini.

Rapat Kerja Komisi III yang kami hormati,

Ikhtiar untuk mengatasi berbagai persoalan anak yang berhadapan dengan hukum secara arif dan bijak dengan tetap menjaga dan menjamin hak-hak anak telah menjadi komitmen kita bersama. Hal tersebut dimanifestasikan dengan melakukan penggantian atas Undang-Undang No.

3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang dinilai belum sepenuhnya mampu memberikan jaminan dan perlindungan terhadap hak-hak anak. Secara mendasar RUU ini telah menerapkan paradigma baru dengan keniscayaan untuk melibatkan semua pihak baik masyarakat, Pemerintah maupun Lembaga Negara lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan anak dan memberikan perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan masalah hukum. Dalam RUU ini, peran Pemerintah terutama aparat penegak hukum lebih ditingkatkan yaitu dituntut untuk memiliki minat, perhatian, dedikasi dan memahami masalah anak sehingga aparatur yang menangani adalah para Polisi, Jaksa dan Hakim yang khusus untuk anak.

Dengan demikian, diharapkan mereka memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan komitmen yang lebih tinggi dalam melindungi hak-hak dan kepentingan anak. Kemudian, Pemerintah juga diamanatkan oleh RUU ini untuk mendirikan Lembaga Pembinaan Khusus Anak/LPKA, Lembaga Penempatan Anak Sementara/LPAS dan Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial atau LPKS. Keberadaan berbagai lembaga ini sangat penting untuk memisahkan anak yang bermasalah dengan hukum dengan orang dewasa yang bermasalah dengan hukum, karena apabila penempatan mereka secara bersama-sama terbukti telah berdampak buruk bagi anak, pengisian personalia di berbagai lembaga di atas juga tidak hanya profesional tetapi harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap hak-hak dan kepentingan anak, karenanya selain telah mengikuti pendidikan secara khusus, juga harus memiliki minat perhatian, dedikasi dan memahami masalah anak. Selain daripada itu dan baru pada RUU inilah bagi para pihak yang tidak mengindahkan atau mengabaikan ketentuan-ketentuan yang seharusnya dilakukan oleh para pihak tersebut tidak dilaksanakan, maka yang bersangkutan diancam sanksi dengan hukuman pidana. Barangkali kami PPP akan fleksibel mengenai soal jumlah sanksinya atau besaran sanksi pidananya. Usulan 6 bulan mungkin kami juga bisa menyetujui, tetapi kalau menghilangkan saksi kami tidak setuju.

ARSIP DPR RI

28 Substansi yang mendasar lainnya dalam RUU ini adalah dilakukan pendekatan keadilan restoratif dan diversi untuk menghindari anak dari proses peradilan. Dengan mekanisme ini, semua pihak menyelesaikan suatu tindak pidana tertentu secara bersama-sama dengan melibatkan korban, wali atau wakilnya, anak dan masyarakat untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak yang terlibat. Agar mekanisme ini bisa berjalan efektif, Pemerintah terutama Lembaga yang terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan anak perlu melakukan sosialisasi secara masif agar masyarakat dan aparatur memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mempersepsi maupun dalam menangani masalah anak, bahwa ada pendekatan keadilan restoratif dan diversi untuk menghindari anak dari proses peradilan. Terhadap batasan usia anak yang berhadapan dengan hukum, yaitu telah berumur 12 tahun dan belum mencapai 18 tahun, Fraksi PPP dapat memberikan persetujuan karena anak dalam usia tersebut secara psikologis masih sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, karenanya memerlukan penanganan yang benar-benar khusus apabila anak tersebut berhadapan dengan hukum.

Dalam RUU ini juga telah dilakukan penyempurnaan terhadap hukum acara peradilan anak agar penanganan masalah anak dapat dijalankan sebagaimana dimaksud dalam RUU ini.

Kemudian, dalam hal sanksi terhadap anak meliputi pidana dan tindakan dan bagi anak yang belum berusia 14 tahun, hanya bisa diberikan tindakan. Kami juga menyetujui terhadap sanksi yang diatur dalam RUU ini secara bervariasi yang pada prinsipnya adalah melakukan pembinaan, pelayanan, bimbingan, penyuluhan, pendidikan dan pelatihan terhadap anak agar nantinya anak dapat kembali hidup wajar dan diterima dalam lingkungan sosialnya. Namun kami sangat menyayangkan bahwa RUU ini mengamanatkan hingga paling lama 5 tahun setelah diberlakukan RUU ini, adanya Polisi Khusus Anak, Jaksa Khusus Anak, Hakim Khusus Anak, Bapas, LPKA, LPAS, LPKS juga sebagian sudah ada.

Fraksi PPP sesungguhnya mengharapkan waktu yang lebih singkat yaitu 3 tahun. Namun demikian mengingat keterbatasan Pemerintah dalam hal ini kami bisa memahaminya dan juga menyetujui barangkali.

Yang terhormat Saudara Pimpinan Komisi III DPR RI;

Bapak-bapak dan Ibu sekalian yang kami hormati.

Berdasarkan pokok-pokok pikiran dan uraian yang telah kami sampaikan di atas, dengan senantiasa mengharap ridha Allah SWT serta dengan ucapan Bismillahirohmanirohim, Fraksi PPP memberikan persetujuan agar RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak untuk ditetapkan menjadi Undang-Undang. Kecuali, yang tadi disepakati akan diubah besaran-besarannya. Semoga dengan akan diberlakukannya RUU ini membawa semangat dan kesadaran baru bagi kita sebagai bangsa untuk lebih baik dalam menangani anak. Artinya, agar lebih komprehensif dalam memberikan perlindungan secara khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Juga dilakukannya perubahan paradigma baru dan bahwa dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum sejatinya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat, Pemerintah maupun Lembaga Negara lainnya. Bagi kita umat Islam, anak merupakan amanah Allah yang

ARSIP DPR RI

29 memiliki peranan penting dan aset bagi kehidupan masa depan bangsa seperti diungkapkan oleh Rasulullah SAW, subbanul yaum rijalul ghod anak atau pemuda-pemudi masa kini adalah pemimpin masa depan.

Akhirul kata, demikianlah pendapat akhir Fraksi PPP atas RUU ini disampaikan kepada Saudara Pimpinan Rapat, Para Menteri, Ibu Menteri, Rekan-rekan Anggota Dewan, Pers dan Hadirin sekalian kami ucapkan terima kasih atas kesabaran dan perhatiannya.

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah;

Wallahulmuwafiq Illa Aqwamithoriq;

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Juru Bicara t.t.d

Ahmad Kurdi Moekri No. A-299 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Kami persilakan Fraksi PPP menyampaikan kepada Pemerintah dan Pimpinan.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) : Ketua,

Saya mohon izin Ketua.

Sedikit saja Ketua.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Boleh, diselesaikan dulu Pak Sudding.

Sebentar, Saya belum izinkan Pak Sudding bicara.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) : Ya, makanya Saya mohon izin Ketua.

Sebentar 1 menit Ketua.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : 1 menit.

Silakan Pak Sudding.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) : Baik Ketua.

Saya betul-betul hanya didasari pada semangat bagaimana suatu produk Undang-Undang ini betul-betul bisa dilaksanakan secara baik dan mengatur hal-hal yang betul-betul secara komprehensif begitu. Artinya, untuk apa kita membuat suatu Undang-Undang kalau masih ada celah-celah hukum yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan suatu pelanggaran-pelanggaran kan begitu.

Saya mohon maaf Ketua, Saya betul-betul mohon maaf.

ARSIP DPR RI

30 Dengan penambahan Pasal 40 tadi, kalau boleh bisa ditayangkan kembali, di Pasal 40 itukan ada mengandung kata wajib disitu.

ANGGOTA (Drs. H. AHMAD KURDI MOEKRI/ F-PPP) : Ketua,

Saya mohon izin ke Pansus.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Silakan Pak Kurdi.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) :

Coba ditayangkan dulu di Pasal 40. Ini masih menggelitik di hati Saya. Selaku orang praktisi yang terkadang kita mengalami hal-hal di tingkat implementasi, tolong ditayangkan Pasal 40 Mas.

Mohon maaf Ketua.

Ini Saya kira ini semangat kita untuk bagaimana membuat suatu Undang-Undang yang.

Tidak, di Pasal 40 inikan dalam hal jangka waktu penahanan, ini penambahan yang tadi Mas ya?

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Tambahan ini Pak Sudding.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) :

Dalam hal jangka waktu penahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) dan seterusnya telah berakhir, Petugas Tempat Anak ditahan wajib mengeluarkan demi hukum. Disitu, ada kata “wajib”. Ketika ada kata “wajib” itu mengandung sanksi. Ini menyangkut masalah Petugas Pak, penahanan beda, ketika bicara menyangkut masalah Pasal 33 yang menahan dan sebagai-sebagainya, itu 2 hal yang sangat berbeda.

Nah maksud Saya ketika ada kata wajib disitu, Saya usulkan ada penambahan sanksi di Pasal 101 misalnya, penambahan pasal lagi. Artinya, Saya usulkan Petugas yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 dipidana dengan pidana penjara. Saya kira harus ada disitu, harus ada suatu sanksi yang diberikan kepada Petugas yang tidak melaksanakan ketentuan Pasal 40 ini. Jadi, harus ada penambahan pasal disitu di ketentuan sanksi pidana.

Itu usulan Saya Ketua dengan tidak mengurangi rasa hormat Ketua dalam forum ini, tetapi bagaimana membuat suatu produk Undang-Undang yang betul-betul komprehensif-lah. Untuk apa kita buat Undang-Undang, lalu kemudian ada celah-celah yang bisa dimanfaatkan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Baik.

Sebelum Saya ingatkan bahwa ini adalah Forum Fraksi Bapak/Ibu yang kami hormati.

Kalau ini perlu Saya kasih gambaran Pak Sudding dari Fraksi Hanura, Petugas Lapas inikan sifatnya hanya menampung Lapas atau Rutan ini, menampung Rutan ini, yang nitip ini adalah si Polisi, si Jaksa dan si Hakim. Pada saat dia menampung karena ini sudah habis batal demi hukum,

ARSIP DPR RI

31 dia harus keluarkan. Keinginan Pak Sudding inikan juga si Petugas ini kalau tidak mengeluarkan Ka. Lapas ini juga kena sanksi. Kan begitu? Ini keinginan dari Hanura ini. Kalau dibongkar akan terjadi lagi yang menjamin, pada saat dia menjamin penangguhan penahanan, dia harus juga kena sanksi. Itu yang mendasari itu perdebatan hampir 4 jam, 5 jam tidak selesai di dalam ruang Panja.

Jadi, menurut Saya Pak Sudding dengan segala hormat, Petugas ini sifatnya kan hanya melaksanakan, dia menerima titipan untuk dibebas demi hukum. Saya pikir cukuplah pihak Polisi, Jaksa atau itunya.

Ya kalau Pak Sudding berkeras, Saya mengikuti Tata Tertib saja. Nanti silakan Pak Sudding mengikuti aturan mekanisme yang ada dalam Tatib kita. Karena ini sudah Forum Fraksi Pak Sudding, main des nota Pak Sudding kami catat dalam forum ini.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) : Baik.

Kalau begitu mohon dicatat, karena ini kan semangat Pasal 40 ini kita harus cerna benar ini. Bukan dalam kaitannya dengan Polisi, Jaksa dan Hakim tetapi ini Petugas yang menahan begitu loh.

Ini seperti yang disampaikan oleh Pak Menteri tadi.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Baik Pak Sudding.

Kalau memang Pak Sudding keberatan dengan kata “wajib”, karena wajib itu harus ada sanksi, kita gantilah wajib itu harus, harus mengeluarkan anak demi hukum.

Bagaimana Pak Menteri setuju atau tidak kata “wajib” diganti “harus” supaya sanksi wajibnya tidak ada kan Pak Sudding? Pak Sudding kan hanya terganggu itu kan? Karena Ahli Bahasa. Ya makanya kalau diganti ditahan, harus ganti kata harus, keberatan atau tidak?

Ah tidak keberatan dong, tidak ada sanksinya lagi Pak Sudding, harus segera mengeluarkan.

Ya Pak Sudding ya?

Bisa toh?

Ada Ahli Bahasa dari Pemerintah.

Nah silakan Ahli Bahasa.

Tunggu Pak Sudding, Pak Sudding ini SH bukan Ahli Bahasa.

Silakan Ahli Bahasa.

PEMERINTAH (AHLI BAHASA) :