• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSIP DPR RI

(RAPAT : SETUJU) Silakan Pak Otong mau berjalan

Baik.

Terima kasih.

Dari Fraksi Gerindra, mohon seizin Bapak/Ibu dan Forum Rapat Kerja Tingkat I Partai Gerindra menyerahkan Pandangan Mini Fraksi karena Beliau tidak hadir, mungkin ada persiapan-persiapan di lapangan Pak tetapi prinsipnya kalau Saya boleh bacakan Fraksi Partai Gerindra menyatakan bisa menerima Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Bisa disepakati?

Bisa ya?

ARSIP DPR RI

48 Baik.

(RAPAT : SETUJU)

Adapun yang untuk Pemerintah menyusul Pak, karena hanya 1 di tempat kami. Nanti untuk Gerindra.

Silakan kami undang dari Hanura terakhir, Pak Syarifuddin Sudding.

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) : Baik.

Pimpinan, Bapak/Ibu Anggota Komisi III yang Saya hormati;

Unsur Pemerintah yang Saya hormati.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saatnya, Hati Nurani bicara.

Selaku Hamba Allah marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT/Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah senantiasa memberikan rahmat, hidayah dan taufiq sehingga Alhamdulillah pada hari ini kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan dalam rangka menunaikan tugas-tugas kenegaraan kita selaku anak-anak bangsa.

Bapak/Ibu yang Saya hormati,

Beberapa pandangan Fraksi Hanura Saya tidak akan bacakan keseluruhan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pandangan ini baik dalam kaitannya dengan tinjauan filosofis, sosiologis dan yuridis tentang bagaimana sistem peradilan anak ini memang betul-betul dibutuhkan dalam memberikan perlindungan terhadap anak, karena ketika Saya akan bacakan ini memakan waktu yang cukup lama, sehingga ada beberapa poin saja yang Saya sampaikan pada kesempatan ini tentang hal-hal perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan Sistem Peradilan Anak ini.

1. Kaitan dalam proses penyidikan anak, Penuntut Umum sampai pada menjalani proses peradilan harus dijalankan betul-betul dengan azas perlindungan non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, penghargaan terhadap pendapat anak, kelangsungan hidup tumbuh berkembangnya si anak, pembinaan dan pembimbingan anak proporsional serta tanpa merampas kemerdekaan anak itu sendiri.

2. Mengenai penempatan anak yang menjalani proses peradilan, dapat ditempatkan dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak, tidak boleh disamakan dengan Orang Dewasa. Ini betul-betul menjadi perhatian bagi kita.

3. Pengaturan secara tegas mengenai keadilan restoraktif dan diversi, dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan dapat dikembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar. Keadilan Restoratif merupakan suatu proses diversi dimana semua pihak harus terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu bersama-sama memecahkan masalah, menciptakan suatu kewajiban untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan

ARSIP DPR RI

49 melibatkan pelaku korban, keluarga mereka dan pihak lain yang terkait dengan suatu tindak pidana sebagai upaya mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi dan menentramkan hati yang tidak berdasarkan pembalasan.

Berikutnya, yang lain-lain Saya tidak akan bacakan secara keseluruhan.

Ketua, Bapak/Ibu Anggota Komisi III,

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, dengan ucapan Bismillahirohmanirohim Fraksi Partai Hanura menyatakan menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Anak untuk selanjutnya ditindaklanjuti berdasarkan Peraturan Perundang-undangan dan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Demikian Pandangan Fraksi Hanura Saya sampaikan.

Atas perhatiannya, Saya ucapkan terima kasih.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bapak Ketua,

Pandangan Fraksi ini belum ditandatangani Ketua Fraksi dan Sekretaris Fraksi dan Saya bisa pertanggungjawabkan apa yang Saya bacakan ini baik di dunia maupun di hadapan illahi rabbi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Ini silakan Pak.

Memang Pak Sudding ini sebentar lagi Ketua Fraksi Pak, tinggal waktunya saja jadi Ketua Fraksi.

Baik.

Bapak/Ibu Forum Rapat Kerja Tingkat I Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Anak yang kami hormati,

Telah kita dengar bersama Pandangan-pandangan Fraksi-fraksi yang pada prinsipnya menyetujui yang secara tertulis, maka kami dari meja Pimpinan untuk mempersingkat waktu kami menjadwalkan.

MENTERI HUKUM DAN HAM RI (AMIR SYAMSUDIN, SH., MH):

Mohon perkenan Pimpinan dan Anggota untuk sedikit tambahan Saudara Pimpinan, yaitu sehubungan dengan sebelum penandatanganan, mohon izin kiranya sehubungan dengan sanksi pidana dalam konteks penahanan, Pemerintah sepenuhnya mendukung usulan beberapa fraksi tadi yaitu PDIP, PPP, PKS dan kawan-kawan lain untuk menurunkan besaran sanksi. Pemerintah mengusulkan angka 6 bulan Pasal 97, 98, 99.

Jadi, kami mohon menyampaikan bahwa Pemerintah mendukung dan oleh karenanya demi suksesnya implementasi RUU ini, mohon persetujuan dari Pimpinan dan Anggota Dewan yang terhormat.

ARSIP DPR RI

50 KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) :

Baik.

Usulan dari Pemerintah dari 2 tahun, mau diturunkan 6 bulan. Sebenarnya kalau benar, kenapa takut kan begitu? Kalau takut jangan berenang, tenggelam nanti. Saya tidak bisa mutus, Saya sebagai juru bicara, Saya harus meminta pandangan fraksi-fraksi lagi ini kalau begini mengenai dari 2 tahun diusulkan terhadap Pasal 97, 98 dan 99. Ini minta diusulkan 6 bulan.

Jangan dulu ditulis Mas, ini belum Mas, ini belum pandangan fraksi. Argumen kan tadi sudah disebutkan, usulan dari PPP tadi katanya dan PKS, PKS tetapi tadi bukan Kapoksinya. Jadi, tidak sah itu Pak. Itu sub ordinat dari Kapoksi. Jadi, tidak bisa kita terima disini.

Nah ini usulannya dari 2 tahun menjadi 6 bulan dengan pertimbangan ya faktor, Saya kurang tahu Pak Menteri pertimbangannya apa Pak?

MENTERI HUKUM DAN HAM RI (AMIR SYAMSUDIN, SH., MH):

Saya kira pertimbangannya semata-mata kita tadi telah memberikan jalan dengan adanya pasal baru tadi, Saya kira maka peluang terjadinya pelanggaran mengenai hal yang sama Saya kira akan menjadi sangat kecil Saudara Pimpinan. Itu menurut pendapat kami.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Baik.

Pandangan dari Pemerintah setelah kita dengar, kami undang Bu Eva sudah pegang mic mau bicara toh.

Kami undang dari Fraksi PDI Perjuangan.

Kami persilakan.

ANGGOTA (Dra. EVA KUSUMA SUNDARI MA, MDE/ F-PDIP) :

Saya tidak berani mengambil keputusan, karena tidak terlibat secara intensif di dalam diskusi. Tidak tahu kalau ada amanat untuk Pak Ichsan mungkin.

ANGGOTA (ICHSAN SOELISTIO/ F-PDIP) :

Saya kira kita akan diskusikan dulu dengan Fraksi Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) :

Saya pikir juga begitu nih, Saya juga tidak berani Pak putus Pak, harus Ketua Fraksi juga.

Bagaimana Pak, kita perlu waktu diskusi, kita tunda minggu depan?

ANGGOTA (H. SYARIFUDDIN SUDDING, SH, MH/ F- HANURA) : Ketua,

Sedikit Ketua.

Pak Menteri,

Kalau kita mengacu ke Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak, Konvensi on the right of the childs 25 Agustus di New York, Saya kira itu sangat jelas sekali bagaimana Negara memberikan perlindungan terhadap Anak. Saya kira harus jelas disitu, kita dudukan dulu persoalannya bahwa memang anak ini dibutuhkan perlindungan Pak Menteri. Artinya, ketika ada pihak-pihak yang tidak

ARSIP DPR RI

51 memberikan suatu, menjaga tentang harkat, martabat, kehormatan si anak, itu sangat jelas itu, Konvensi PBB yang sudah diratifikasi. Jadi, jangan lalu kemudian ketika ada pihak-pihak yang ingin mengorbankan masa depan si anak, lalu kemudian kita memberikan toleransi, Saya kira ini juga perlu jadi bahan pertimbangan bagi kita. Saya kira menyangkut masalah hukuman, bukan hal yang sangat mendasar. Artinya, ketika memang kita punya keinginan yang kuat, semua aparat-aparat penegak hukum memang memiliki pandangan yang sama, Saya kira hukuman itu jangan dijadikan suatu beban Ketua, saatnya Hati Nurani bicara begitu loh. Tidak ada suara rakyat suara Golkar, ini hati nurani Pak yang bicara ini.

Begitu loh.

Kalau memang kita semua ingin on the track untuk menjalankan suatu norma-norma hukum dan memberikan perlindungan si anak, siapa yang dukung? Bagi Saya Ketua, dengan sanksi 2 tahun itu Saya kira itu cukup baik karena kalau diturunkan lagi itu sudah masuk dalam tindak pidana ringan Ketua, Tipiring. Saya kira Pak Menteri tahu bagaimana kalau, itu pelanggaran Pak. Kalau 6 bulan itu pelanggaran, bukan lagi kejahatan. Bukan lagi kejahatan, karena kalau tindak pidana ringan itu ya Pak Menteri tahulah bagaimana kalau tipiring orang yang melanggar-langgar lalu lintas. Itu Tipiring namanya itu Pak, tetap harus melalui proses.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Sebentar Pak.

Saya akan kasih tambah masing-masing.

Inikan Pak Sudding sudah menyampaikan, PKS mau menyampaikan?

Silakan PKS.

ANGGOTA (ABOE BAKAR AL-HABSY, SE/ F-PKS) :

Kalau Saya lihat Pak Menteri, Pak Ketua, kalau pola sidang kita seperti ini, maka agak sulitlah kita. Tetapi ini yang disampaikan oleh Pak Menteri juga tidak terlalu signifikan sekali Saya melihat. Angka 6 bulan, 2 tahun inikan cuman masalah rasa. Tetapi kalau dia melaksanakan hukum sebenarnya, tidak akan ada masalah sebenarnya, kenapa jadi harus diperingan.

Jadi, menurut Saya kita konsisten. Saya pikir kita tetap dengan yang sama dan kita lanjutkan dan kita tandatangani hari ini, jangan tunda lagi Pak. Komisi III ini lelah nanti, banyak hal lagi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Sebentar dulu Pak.

Ini PPP atas nama fraksi atau atas nama Anggota?

Oke, atas nama fraksi boleh.

Silakan.

ARSIP DPR RI

52 ANGGOTA (ACHMAD DIMYATI N., SH, MH, M.Si/ F-PPP) :

Soalnya Saya Ketua DPP ini.

Pimpinan dan Anggota yang Saya hormati;

Pemerintah yang Saya hormati.

Apa yang disampaikan oleh Pak Menteri itu boleh kita pertimbangkan, karena memang ini sanksi yang diberikan sangat membuat goyah seseorang yang tadinya berani mengambil keputusan, akhirnya takut mengambil sebuah keputusan karena terlalu berat memang.

Oleh sebab itu, usulan Pak Menteri itu 6 bulan memang terlalu ringan Pak Menteri tetapi bisa ditingkatkanlah. 1 tahunlah begitu minimal. Kenapa demikian? Karena kesalahan abuse of power yang dilakukan oleh Penyidik bisa saja dilakukan oleh Penyidik itu. Kalau tanda ada sanksi yang berat, maka dengan sendirinya si pelaksana ini akan menyalahgunakan wewenangnya.

Oleh sebab itu, 2 tahun Pimpinan itu bisa dikurangi Saya pikir.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Baik.

Pak Nudirman sebagai Fraksi ya?

Oke, Saya kuasakan.

ANGGOTA (H. NUDIRMAN MUNIR, SH/ F-PG) : Terima kasih Pimpinan.

Pak Menteri yang terhormat,

Kita sudah menghabiskan waktu cukup banyak dan melelahkan serta meletihkan.

Seandainya hal ini disampaikan dalam waktu-waktu yang lalu, kemungkinan besar ini bisa saja diterima. Tetapi kita sudah mendekati babak akhir. Jadi, di injury time ini kita terus begini, lalu ini kapan selesainya. Apalagi ini ditunda minggu depan, belum tentu itu minggu depan karena Fraksi-fraksi belum tentu akan ada kesepakatan. Akhirnya, ditunda masa sidang yang akan datang.

Padahal Bapak Menteri yang terhormat, inikan hukuman maksimal, maksimal 2 tahun, bukan minimal 2 tahun. Jadi kalau maksimal 2 tahun, seandainya nanti kesalahannya itu dianggap tidak terlalu berat, ya hukum sajalah 4 bulan atau 5 bulan. Itukan hak dari Hakim sendiri, tetapi kalau ini ditunda lagi, kita memang sudah sangat letih, belum lagi Undang-Undang yang banyak begini yang harus kita bahas, lalu kapan kita selesai.

Jadi, Saya mohon Pak Menteri karena ini cuman masalah yang tidak terlalu prinsip sebetulnya karena toh putusan pengadilan yang menentukan, karena ini hanya maksimal 2 tahun.

Jadi, bisa 6 bulan, bisa 5 bulan, terserah dari Hakim yang menilai. Jadi, Saya rasa 7 hari kalau sampai yang terjadi di daerah Saya, digantung sampai mati, ya mungkin hukumannya akan lebih berat.

Jadi, itulah Bapak Pimpinan yang bisa Saya sampaikan, mengingat waktu Bapak Pimpinan.

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

53 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Pak Menteri wakil dari Pemerintah yang dalam hal ini mewakili Presiden,

Tentu kalau kita lihat nuansa yang berkembang, hanya 1 fraksi Pak. Tetapi kalau Bapak masih tetap bertahan, Saya akan menggunakan mekanisme, tetapi kalau tidak, kalau tidak, Saya bisa lanjutkan.

Kami persilakan Pak Menteri.

MENTERI HUKUM DAN HAM RI (AMIR SYAMSUDIN, SH., MH):

Ya, kami patuh kepada apa yang berkembang di dalam persidangan Komisi III ini.

Sementara, kami tarik usulan tersebut.

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Baik.

Terima kasih Pak Menteri wakil dari Pemerintah.

Baik.

Rekan-rekan Anggota Rapat Kerja RUU Sistem Peradilan Pidana Anak yang kami hormati, Melanjutkan kepada acara berikutnya, perlu kami sampaikan dan perlu kesepakatan dalam Forum Rapat Kerja Tingkat I Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, rencananya ini akan masuk pada tanggal 3 Juli masuk ke Tingkat II untuk dibawakan dalam Paripurna, apakah Pak Menteri wakil dari Pemerintah waktunya cocok tanggal 3 Juli?

Siap?

Baik ya.

Terima kasih.

(RAPAT : SETUJU)

Dan surat secara resmi akan kami kirimkan kepada Pimpinan DPR untuk penjadwalan dalam Rapat Badan Musyawarah dan selanjutnya, kami minta dan kami undang Wakil-wakil dari Fraksi dan Wakil dari Presiden dalam hal ini Pemerintah Pak Menteri dan jajaran untuk bisa ke depan menandatangani Rancangan Undang-Undang untuk lebih menyakinkan dan sebagai pegangan kita di masa-masa yang akan datang.

Kami persilakan untuk administrasi.

(PENANDATANGANAN RUU TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK) Baik.

Bapak/Ibu Komisi III dan Forum Rapat Kerja Tingkat I Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, Memasuki agenda berikutnya, mohon Bapak/Ibu yang di sayap Pemerintah untuk duduk kembali. Selanjutnya, kami undang sambutan dari Wakil dari Pemerintah dalam hal ini dari Presidan yaitu Bapak Menteri Hukum dan HAM.

Waktu dan tempat, kami persilakan.

ARSIP DPR RI

54 MENTERI HUKUM DAN HAM RI (AMIR SYAMSUDIN, SH., MH):

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR RI yang terhormat;

Hadirin yang kami hormati.

Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kuasa, rahmat dan karunia-Nya kita masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan ibadah, karya dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Pada hari yang berbahagia ini, Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak telah dapat kita selesaikan pada Pembicaraan Tingkat I dan sebagaimana telah kita dengarkan bersama bahwa seluruh Fraksi telah memberikan pendapatnya dan menyepakati RUU tersebut untuk diteruskan pada Pembicaraan Tingkat II guna Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripurna DPR RI. Kita semua mengharapkan semoga RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dapat disetujui bersama dalam Rapat Paripurna DPR RI untuk disahkan menjadi Undang-Undang sehingga akan menjamin kepastian hukum yang sejalan dengan penghormatan, perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia khususnya hak anak.

Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR RI yang terhormat;

Hadirin yang kami hormati.

Setelah melalui proses diskusi yang panjang dan demokratis, pada akhirnya kita dapat memperoleh solusi pengaturan mengenai beberapa substansi penting di dalam pembahasan RUU tentang Sistem Peradilan Anak, antara lain:

1. Sistem Peradilan Anak wajib dilaksanakan dengan semangat keadilan restoratif justice sebagai suatu penyelesaian secara adil yang melibatkan pelaku, korban, keluarga mereka dan pihak lain yang terkait dalam suatu tindak pidana secara bersama-sama mencari penyelesaian terhadap tindak pidana tersebut dan implikasinya dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan.

2. Definisi mengenai Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang telah berumur 12 tahun tetapi belum berumur 18 tahun yang diduga melakukan tindak pidana.

3. Adanya kewajiban terhadap Aparat Penegak Hukum untuk mengupayakan diversi dalam Sistem Peradilan Anak yakni pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

4. Adanya kewajiban setiap orang untuk merahasiakan identitas anak, anak korban dan atau anak saksi dalam pemberitaan di media cetak maupun elektronik yang disertai dengan adanya sanksi pidana bagi setiap orang yang melanggar kewajiban tersebut.

5. Penahanan terhadap anak harus bersifat ultimum remedium dengan syarat yang sangat ketat dan ditempatkan di lembaga penempatan anak sementara (LPAS).

Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR RI yang terhormat;

ARSIP DPR RI

55 Hadirin yang kami hormati.

Pada akhirnya, kami mewakili Presiden menyetujui dan menyambut baik serta menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas diselesaikannya pembahasan RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak pada Pembicaraan Tingkat I untuk diteruskan pada Pembicaraan Tingkat II guna Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripurna DPR RI.

Dalam kesempatan ini pula, perkenankan kami mewakili Presiden menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR RI yang dengan penuh dedikasi, toleransi dan kerja keras dapat menyelesaikan pembahasan RUU ini.

Ucapan terima kasih tidak lupa kami sampaikan juga kepada Sekretariat, Para Tenaga Ahli Komisi III DPR RI dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian pembahasan RUU ini dan juga kepada Wartawan baik cetak maupun elektronik yang telah meliput proses pembahasan RUU ini.

Atas segala pemikiran dan perhatian Pimpinan dan Anggota Komisi III yang terhormat, kami ucapkan terim kasih. Semoga Allah SWT/Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.

Amin.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

A.n. Presiden Republik Indonesia

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia t.t.d

Amir Syamsudin

KETUA RAPAT (Dr. H AZIZ SYAMSUDDIN, SH/ F-PG) : Baik.

Terima kasih kepada Wakil dari Presiden yang dibacakan oleh Menteri Hukum dan HAM.

(PENYERAHAN PENDAPAT AKHIR PEMERINTAH) Baik.

Terima kasih.

Sekali lagi, kami ucapkan kepada Wakil dari Presiden RI dibacakan oleh Menteri Hukum dan HAM. Selanjutnya, atas nama Pimpinan dan segenap jajaran, kami dari Komisi III mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak khususnya kepada Menteri Hukum dan HAM beserta seluruh jajaran, Menteri Sosial atau yang mewakili beserta jajaran, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak beserta jajaran atau yang mewakili dan Menteri Negara Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang mewakili dan beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan tugas konstitusi kita pada hari ini yang telah kita saksikan dan tanda tangani bersama dalam pembicaraan Rapat Tingkat I Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Anak yang Insya Allah akan kita laksanakan Tingkat II dalam Rapat

ARSIP DPR RI

56 Paripurna, jadwal tentatif tanggal 3 Juli tergantung jadwal nanti dalam Badan Musyawarah atau dalam Rapat Paripurna DPR RI yang terdekat.

Atas nama Pimpinan dan segenap jajaran seluruh Anggota Komisi III dan Forum Rapat Kerja Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Anak juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh Rekan-rekan Wartawan yang telah meliput baik yang meliput secara positif maupun yang meliput tentang hotel tidak apa-apa, mudah-mudahan kritikan itu bisa menjadi motivasi tersendiri bagi kami yang melaksanakan bersama-sama dengan Pemerintah.

Demikian.

Usikum Binafsi Witallah;

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(RAPAT DITUTUP PUKUL 13.30 WIB)

Ketua Rapat, t.t.d

Dr. Aziz Syamsuddin A - 197

ARSIP DPR RI