M. Bantuan Penanggulangan Padi Puso (BP-3)
2. Anggota National Plant Protection Organization (NPPO)
Dalam rangka mendukung tugas Organisasi Perlindungan Tanaman Nasional (National Plant Protection Organization), dibentuk Komisi Ahli Karantina Tumbuhan yang mempunyai tugas memberikan saran dan solusi pemecahan terhadap permasalahan di dalam pelaksanaan tugas, serta melakukan kajian dan analisis terhadap perkembangan perlindungan dan perkarantinaan tumbuhan secara reguler atau insidentil. Anggota komisi terdiri dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan praktisi perlindungan.
B. Kerjasama Luar Negeri 1. Mengikuti CPM ke-7
Pada Tahun 2012, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan ikut berpartisipasi dalam menghadiri sidang Commission of Phytosanitary Measures (CPM) – 7 pada tanggal 19-23 Maret 2012 di Roma, italia. Sidang CPM-7 IPPC ini dihadiri oleh para wakil pejabat tinggi dari negara-negara anggota berjumlah 177 negara. Pembahasan umum materi sidang terkait kebijakan internasional system perlindungan tumbuhan dan penetapan standard internasional dengan ruang lingkup pertanian, kehutanan, lingkungan hidup dan tumbuhan yang hidup di air dalam mewujudkan ketahanan pangan dan harmonisasi perdagangan global selaras dalam WTO-SPS. Delegasi Indonesia pada sidang CPM-7 dihadiri oleh Ketua delegasi Ir. Banun Harpini, MSc, Kepala Badan Karantina Pertanian dengan anggota Dr. Ir. Arifin Tasrif, MSc, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati
Nabati, Ir. Erma Budiyanto, M.Si., Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Dr. Ir. Antarjo Dikin, Wakil Asia Anggota Standard Committee IPPC dari Badan Karantina Pertanian, Yadi Rusyadi, Kepala Subdit Teknologi Pengendalian OPT.
Agenda sidang CPM-7 yang disepakati membahas butir-butir penting yang perlu menjadi perhatian dan tindak lanjut :
Laporan kerja Standard Committee selama tahun 2011 telah membuat konsep standard atas usulan dari Sidang CPM dalam pertemuan Standard Committee 25 negara secara rutin dan pemanfaatan virtual elektronik, namun masih lambat penyelesaian draft, serta kompleksitas permalahan untuk penerapan kebijakan internasional tersebut dalam perdagangan global antara lain : konsep standard pemeriksaan kontainer kosong (empty sea container) dari mobiltas antar negara dalam pencegahan kontaminasi quarantine pests, perlakuan dielectric treatment (microwave) hanya terbatas pada komodtas kayu bukan untuk kemasan kayu.
Diterimanya pada pleno CPM terhadap revisi terminologi dari istilah Official Control dan Not Widely Distributed yang masih selas definisi dalam PP No. 14 tahun 2002 tentang karantina tumbuhan.
Diterimanya dalam pleno terdapat Annex ISPM 27 Diagnostic Protocol untuk
Trogoderma granarium Everts dan Plum Pox Virus sedangkan untuk
perlakuan Cold treatment diserahkan kembali kepada Standard Committee (SC) untuk dilakukan kaji ulang pada pertemuan SC mendatang.
Cold treatment terhadap buah untuk perlakuan lalat buah dibatalkan diterima untuk CPM, tentunya ini akan diteruskan ke SC untuk pembahasanl ebihlanjut.
Beberapa hal disampaikan pembahasan terkait untuk upaya peningkatan percepatan proses dan kualitas pembuatan standard IPPC dengan 30 rekomendasi yang disampaikan dari Focus Group antara lain : selama masa 14 hari sebelum sidang CPM, masing-masing negara hanya diperkenankan mengajukan koreksi bersifat substansi dengan alasan teknis yang dapat dipertanggung jawabkan, Sekretariat akan memperhatikan usulan NPPO bila adanya surat resmi keberatan terhadap akan ditetapkan standard dan setiap standard harus memuat kajian dampak terhadap biodiversity.
NPPO perlu memperhatikan usulan revisi dari proces pengembangan standard dari IPPC yang akan disyahkan dalam CPM meliputi tahapan umum :
Pengembangan program kerja IPPC berupa pembuatan daftar topik standard yang akan dibuat; drafting; member consultation dan adopsi serta publikasi. Dalam pleno disampaikan review terhadap kelangsungan pelaksanaan IPPC meliputi : Strategic Framework tahun 2012-2019; Financial report 2011; Budget and operational plan 2012; the IPPC resource mobilization strategy. Sekretariat IPPC melakukan kajian ulang terhadap daftar standard yang akan diselesaikan oleh SC berdasarkan urutan prioritas kebutuhan serta sekretariat menghapus terhadap usulan CPM sebelumnya untuk dikerjakan SC. Indonesia keberatan akan dihapuskannya standard IPPC tentang Appropriate Level of Protection (ALOP). Standard ini perlu dibuat oleh sekretariat mengingat setiap negara menetapkan batasan ALOP beragam yang tidak diketahui parameter yang digunakan, diharapkan bila ada standard untuk penetapan ALOP maka akan lebih transparan suatu negara dan dapat meminimalkan hambatan import terutama dari negara maju. STDF dari WTO Geneva akan menyelenggarakan seminar internasional Invasive Aliens Species, IAS pada tanggal 12-13 July 2012 sebelum sidang WTO-SPS. Tujuan dari seminar untuk memberikan pemahaman tentang IAS dan hubungan yang penting antara SPS, lingkungan pada perdagangan. Diharapkan negara anggota dapat menghadiri seminar dengan pendaftaran 16 April 2012 secara online.
Selaras dengan pengembangan layanan single window dalam upaya percepatan arus barang dalam perdagangan, STDF WTO akan membentuk working group untuk mewujudkan harmonisasi perdangan dan peningkatan pengelolaan SPS pada perbatasan negara. Topik bahasan merupakan kerjasama antara Karantina, Badan POM dan instansi Bea Cukai.
Terbentuknya organisasi perlindungan tumbuhan regional untuk kelompok negara Near East (NEPPO) merupakan bagian dari IPPC, semoga NEPPO dapat berkontribusi dan kerjasama dengan APPPC.
e-Phyto yang telah dibahas dalam workshop diselenggarakan di Korea merupakan bentuk sertifikat elektronik dari ISPM 12 diharapkan secara voluntari negara anggota dapat mengembangkannya dengan negara mitra dalam perdagangan. Usulan dari CPM agar untuk dapat operasionalnya e-phyto akan dibentuk sterring committee atas nama CPM forum. Indonesia menyampaikan dalam sidang CPM bahwa telah siap aplikasi e-phyto untuk bermitra dari aplikasi yang telah dikembangkan Badan Karantina Pertanian.
Penggunaan logo ISPM 15 pada kemasan kayu sebagai pengganti sertifikat kesehatan (Phytosanitary Certificate,PC) yang dikeluarkan oleh NPPO masing-masing negara sebagai mandat penggunaan logo ISPM 15 dikeluarkan oleh FAO perlu dilindungi secara hukum agar tidak terjadi penyalahgunaan. PC merupakan dokumen resmi negara yang dikeluarkan NPPO, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian. Badan Karantina Pertanian wajib mengendalikan penggunaan mark logo ISPM 15 pada kemasan kayu dalam perdagangan internasional. Logo ISPM 15 yang dikeluarkan oleh NPPO wajib dipatenkan dari lembaga paten Indonesia, selanjutnya secara resmi disampaikan kepada FAO untuk pengawasan penyalah gunaan tingkat internasional, ditetapkan persyaratan penggunaan logo dapat diterima internasional oleh NPPO. Selanjutnya NPPO wajib berkontribusi kepada FAO terkait untuk jaminan perlindungan terhadap logo secara internasional untuk biaya perpanjangan registrasi sebesar US $ 27,000.00.
Adanya MoU IPPC dan Ozone secretariat agar menjadi perhatian Negara anggota IPPC sebagai tindak lanjut pertemuan Montereal Protocol di Bali 21-25 Nopember 2011, maka penggunaan fumigan methyl bromide (MB) hanya untuk aplikasi karantina dan pra-pengapalan. Terkait perlakuan karantina hanya untuk eradikasi quarantine pests saja dan dilarang untuk penggunaan karantina terhadap non-quarantine pests. Upaya yang perlu dilakukan untuk pengurangan/pengganti penggunaan methyl bromide oleh setiap negara yaitu: penggunaan alternative MB, mengurangi penggunaan MB, mengurangi secara fisik dari emisi MB, dan mencatat penggunaan MB secara kuantitas, jenis OPTK yang diberikan treatment, komoditas yang diberikan perlakuan, untuk tujuan impor atau export pada tindakan karantina. Penggunaan MB selama ini agar dilaporkan kepada sekretariat ozone, the United Nation of Environmental Program, Nairobi, Kenya sebelum 13 Maret 2013.
Pembahasan rules dan procedures terkait pemilihan ketua dan wakil ketua dari CPM masih memerlukan perhatian untuk disepakati serta pertimbangan pemberlakuan urutan 7 regional IPPC, serta pengusulan ketua mendatang sidang CPM-8 akan dipimpin oleh wakil regional Asia. Indonesia untuk pemilihan ketua CPM-8 mendatang mendukung Korea selaku wakil Regional Asia, namun dari hasil voting dari 128 negara dihasil sbb: 2 abstaint, 1 rusak, 63 untuk UK dan 62 untuk Korea (Asia).
Simposium dilakukan disela-sela CPM dan materi penting yang perlu menjadi perhatian terhadap perdagangan tumbuhan melalui internet global sebagai pathway, dari hasil observasi bahwa umumnya tidak dilengkapi persyaratan
kesehatan dan sungguh berisiko bagi negara. Selain itu terhadap perhatian mobilitas tumbuhan aquatik diperdagangkan yang belum diketahui status tanaman dapat bermanfaat atau sebagai pests (gulma).
2. Mengikuti Pertemuan “The 1 st Meeting Of Asean-China SPS Cooperation-Technical Working Group Meeting on Food Safety, Animal Inspection and Quarantine, and Plant Inspection and Quarantine ”
Pada Tahun 2012, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan ikut berpartisipasi dalam Pertemuan The 1 st Meeting Of Asean-China SPS Cooperation-Technical Working Group Meeting on Food Safety, Animal Inspection and Quarantine, and Plant Inspection and Quarantine pada tanggal 4-6 Juni 2012
di Lombok, Indonesia. Pertemuan dihadiri oleh peserta delegasi dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Sekretariat ASEAN dan Asisten Pembangunan Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Hasil dari pertemuan ini adalah:
a. Diprioritaskan pertukaran informasi tentang Inspeksi dan persyaratan karantina, peringatan pada makanan, status hama dan penyakit tumbuhan dan pembaharuan otoritas kompetensi
b. Semua pemberitahuan maupun pertukaran informasi antar negara anggota disampaikan melalui portal webside dan e-mail
c. Sekretariat ASEAN akan menjadwalkan secara bergantian mengadakan pertemuan pembahasan masing-masing kelompok kerja teknis (TWG) yang akan diajukan pada bulan Juli 2012. Hal tersebut disebabkan karena adanya perbedaan pelaksanaan prosedur dan peraturan karantina, serta kesulitan dalam analisis risiko juga standar yang berbeda dan kesenjangan dalam mekanisme peraturan SPS.
d. Dalam rangka memperkecil kesenjangan dan permasalahan disepakati adanya pelatihan, seminar dan pertukaran personil /tenaga ahli, yang juga termasuk melakukan kerjasama kursus singkat di masing-masing wilayah, rencana kerja 2012-2014 diusulkan oleh masing-masing TWGs
e. Untuk memiliki pemahaman yang lebih baik dalam persyaratan SPS, diprioritaskan membahas kesenjangan dan pengakuan terhadap kerjasama SPS ASEAN-Cina, disepakati untuk diadakan konferensi Plant Inspection and
Quarantine dan Animal Inspection and Quarantine pada tahun 2014, di mana
tanggal dan tempat akan ditentukan lebih lanjut, sedangkan untuk pelaksanaan konferensi Food Safety dijadwalkan pada Mei-Juni 2013.
f. Memperhatikan isu-isu terkait kegiatan SPS yang melibatkan pemangku kepentingan dalam melaksanakan kegiatan, bahwa koordinasi antar lembaga diperlukan untuk memfasilitasi perdagangan yang efektif dan sinergi serta mempersatukan perbedaan atau kesamaan dari inisiatif dalam kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan SPS.
g. China berinisiatif melakukan "Workshop Pencegahan Penyebaran Hama Exotic lintas perbatasan antara China-ASEAN", yang akan diselenggarakan pada 23-27 Juli 2012 di Beijing, Cina. Dalam konteks ini, diharapkan TWGs untuk berkoordinasi dengan Kontak Poin ASEAN-China SPS dari negara masing-masing untuk membahas kemungkinan untuk berpartisipasi dalam lokakarya.
h. Untuk memajukan harmonisasi dan mempersempit kesenjangan, China diminta untuk mendukung negara-negara, khususnya Kamboja, Laos dan Myanmar, dalam terjemahan dokumen SPS dalam bahasa inggris. Pertemuan rutin TWG akan diselenggarakan secara bergiliran antar negara anggota ASEAN dan China, Sekretariat ASEAN diminta berkonsultasi dengan Cina untuk mengkonfirmasi tuan rumah pertemuan berikutnya serta kepastian tanggal dan tempatnya
2. Mengikuti Pertemuan EWG-MRLs of Pesticides among ASEAN Countries Ke – 16
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan ikut berpartisipasi dalam Pertemuan
Sidang ke-16 EWG-MRLs of Pesticides among ASEAN Countries pada tanggal 18 – 20
Januari 2012 di Vientiane, Laos. Pertemuan dihadiri oleh delegasi dari Kamboja,
Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, perwakilan dari Sekretariat ASEAN.
Berdasarkan hasil sidang disepakati batas maksimum residu sebagai berikut :
a). beta-cyfluthrin pada kubis 0,04 mg/kg (Indonesia)
b). triazophos pada soybean immature (whole pods) 1 mg/kg (Thailand) c). triazophos pada soybean immature (seeds) 0,5 mg/kg (Thailand) d). triazophos pada yard long bean 0,4 mg/kg (Thailand)
e). lambda-cyhalothrin pada okra 0,03 mg/kg (Thailand dan Malaysia) f). imidacloprid pada okra 0,1 mg/kg (Thailand)
g). profenofos pada pummelo 2 mg/kg (Thailand) h). cypermethrin pada carambola 0,2 mg/kg (Malaysia) i). chlorpyrifos pada chilli 3 mg/kg (Thailand)
j). metalaxyl pada pineapple 0,1 mg/kg (Thailand) k). lambda-cyhalothrin pada citrus 0,2 mg/kg (Indonesia) l). thiamethoxam pada orange 0,5 mg/kg (Indonesia)