• Tidak ada hasil yang ditemukan

Selama Tahun 2012, dalam rangka peningkatan kompetensi petugas telah dilakukan kegiatan:

1. Pelatihan Pemetaan Serangan OPT pada Tanaman Pangan

Pemetaan merupakan langkah awal untuk mengetahui penyebaran OPT di suatu wilayah. Pemetaan OPT merupakan dasar dalam menentukan langkah-langkah pengendalian OPT yang timbul, sehingga dampak terhadap penurunan kualitas dan kuantitas produksi pangan pada masa yang akan datang dapat ditekan.

Pelatihan Pemetaan Serangan OPT pada Tanaman Pangan telah dilaksanakan dan diikuti oleh staf teknis dan pejabat fungsional POPT lingkup Direktorat

Perlindungan Tanaman Pangan dan unsur Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Barat, Banten, D.I. Yogyakarta, dan Maluku.

Pemetaan disusun menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) atau “Geographical Information System = GIS”. SIG menyajikan informasi dan pengelolaan data, baik data spasial bergeoreferensi maupun data non-spasial (data numerik/alfanumerik/ atribut) yang cukup komplek secara terpadu. Praktek yang dilakukan pada pelatihan pemetaan sebaran daerah endemis serangan OPT meliputi praktek pengolahan dan analisis data serangan Penggerek Batang Padi (PBP) dan Wereng Batang Coklat (WBC) pada Musim Hujan (MH) dan Musim Kemarau (MK), praktek Penyusunan Peta Sebaran Daerah Endemis PBP Di Indonesia Pada MH, praktek Penyusunan Peta Sebaran Daerah Endemis PBP Di Indonesia Pada MK, praktek Penyusunan Peta Sebaran Daerah Endemis WBC Di Indonesia Pada MH, praktek Penyusunan Peta Sebaran Daerah Endemis WBC Di Indonesia Pada MK, dan praktek pembuatan batas wilayah Kabupaten/Kota baru berdasarkan hasil pemekaran wilayah.

2. Pelatihan Analisis Data Serangan OPT Tanaman Pangan

Analisis serangan OPT merupakan kegiatan untuk menganalisa perkembangan populasi OPT serta penyebaran dan akibat yang ditimbulkan dalam ruang dan waktu tertentu. Informasi tersebut menjadi masukan bagi petugas lapangan dalam pengambilan kebijakan dan menyusun strategi serta teknik pengendalian OPT secara spesifik lokasi, sehingga produktivitas pertanian dapat dipertahankan pada taraf tinggi, kualitas dan kontinuitas terjamin, serta aman terhadap lingkungan.

Pelatihan Analisis Data Serangan OPT Tanaman Pangan telah dilaksanakan dan diikuti oleh staf teknis perllindungan tanaman pangan dan fungsional POPT. Narasumber dan pemandu berasal dari Direktrorat Perlindungan Tanaman Pangan, Balai Besar Peramalan OPT, dan Universitas Gadjah Mada. Analisis data serangan OPT terbagi menjadi dua, yaitu 1) pengolahan dasar/sederhana (menghitung nilai rata-rata contoh, menghitung varian contoh, menghitung varian populasi, mengevaluasi kualitas data, mengevaluasi sebaran data, dan mentransformasi data); dan 2) pengolahan lanjutan/komprehensif (analisis anova, pengembangan sampling, pemetaan, dan peramalan).

Peramalan OPT bertujuan untuk menyusun model peramalan OPT sederhana, akurat dan aplikatif, menyusun saran tindak pengelolaan OPT sesuai dengan prinsip/strategi PHT, serta menekan populasi/serangan OPT, menjaga tingkat produktivitas tanaman dan keamanan lingkungan.

Pengembangan peramalan OPT dilakukan menggunakan metode regresi linier, yaitu analisis statistika yang memodelkan hubungan beberapa variabel menurut bentuk hubungan persamaan linier eksplisit. Model peramalan penyakit BLB pada tanaman padi yang berhasil dikembangkan pada saat pelatihan berlangsung adalah model peramalan penyakit BLB pada Musim Kemarau 2012 dan Musim Hujan 2011/2012 di Indonesia.

3. Training of Trainer Sekolah Lapangan Iklim

Training Of Trainer (TOT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) merupakan suatu proses pembelajaran bagi petugas lapangan dalam mengelola data dan informasi iklim yang pelaksanaannya mengacu kepada sistem SLPHT. Melalui TOT-SLI ini diharapkan petugas terutama yang wilayah kerjanya termasuk kategori daerah rawan banjir/kekeringan mampu melakukan analisis dan evaluasi data dan informasi faktor iklim/cuaca. Disamping itu diharapkan petugas perlindungan tanaman dapat menyampaikan informasi tersebut kepada petani melalui kegiatan SLI, sehingga informasi tersebut dapat dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya tanaman.

Pertemuan TOT SLI pada tahun 2012 telah dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah. Pasca TOT SLI, beberapa hal yang ditindaklanjuti antara lain dengan membentuk ikatan petani alumni SLI dan memberikan mereka kegiatan sehingga tetap berkesinambungan seperti studi banding dan pertemuan antara alumni, serta diharapkan segera melaksanakan TOT di tingkat provinsi maupun kabupaten.

4. Pelatihan Pengenalan dan Aplikasi Pemanfaatan AWS

Automatic Weather Station (AWS) atau Stasiun Cuaca Otomatis Telemetri

Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan merupakan stasiun yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi yang mampu merekam data cuaca terkini secara digital (diatur sesuai kebutuhan). AWS dapat merekam enam jenis unsur cuaca antara lain: curah hujan, suhu (minimum, maksimum dan rata-rata), kelembaban udara (minimum, maksimum dan rata-rata), radiasi matarahari, kecepatan angin, dan arah angin.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan AWS maka perlu dilakukan pengenalan dan aplikasi pemanfaatan AWS tersebut bagi semua pihak yang terkait. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petugas pengelola data di Pusat dan daerah agar mampu mengoptimalkan pemanfaatan AWS di lapangan. Pelatihan telah dilaksanakan dan diikuti oleh petugas pengelola data iklim di 9 Provinsi (Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Timur). Informasi-informasi iklim hasil pengamatan AWS tersebut akan dianalisis dan disebarluaskan kepada petani melalui petugas lapangan (POPT-PHP) sehingga luas lahan terkena serangan OPT dan DPI diharapkan dapat berkurang.

5. TOT PL 1 SLPHT

Kemampuan dan penguasaan materi Pemandu Lapangan (PL) sebagai fasilitator kegiatan SLPHT memegang peran penting dalam pelaksanaan kegiatan secara optimal sesuai konsep dasar PHT. Saat ini, jumlah petugas POPT-PHP yang memiliki pengetahuan di bidang kepemanduan SLPHT masih terbatas sehingga perlu dilaksanakan Training of Trainer (TOT) PL I yang diharapkan dapat mengatasi terbatasnya jumlah tenaga pemandu SLPHT. Training of Trainer (TOT) PL I telah dilaksanakan di Malang, Jawa Timur. Salah satu materi penting TOT adalah pengamatan agroekosistem. Praktek pengamatan agroekosistem dilaksanakan di Desa Kasembon, Batu, Malang yang merupakan hamparan SLPHT tindak lanjut. Wilayah Desa Kasembon tersebut direncanakan menjadi pilot project Rintisan Desa PHT bekerjasama antara Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dengan UPTD BPTPH Provinsi Jawa Timur. Kunjungan peserta ke Rintisan Desa PHT tersebut diharapkan dapat memotivasi peserta untuk mendorong pembentukan desa/kecamatan PHT di provinsi masing-masing.

6. Sosialisasi Pedoman Fungsional POPT

Salah satu butir kegiatan jabatan fungsional POPT adalah pengembangan profesi yang merupakan kegiatan pengembangan diri POPT melalui peningkatan pengetahuan, teknologi, dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalismenya serta pengamalannya kepada masyarakat luas. Salah satu kegiatan pengembangan profesi dimaksud adalah menyusun KTI. Penyusunan KTI berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 34/Permentan/OT.140/6/2011 tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Pejabat Fungsional Rumpun Ilmu Hayat Lingkup Pertanian.

Pedoman tersebut disosialisasikan, khususnya kepada POPT untuk meningkatkan pemahaman dan persamaan persepsi tentang penyusunan KTI sesuai kaidah ilmiah. Untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta pemahaman POPT dalam menyusun DUPAK juga telah dilaksanakan Sosialisasi Draft Pedoman Penyusunan dan Pengajuan DUPAK.

Mengingat beragamnya permasalahan dalam pemberdayaan dan pengembangan jabatan fungsional POPT di daerah, dipandang perlu menyepakati beberapa hal terkait dengan perolehan angka kredit pendidikan formal, persyaratan pendidikan POPT Ahli dan Alih Kelompok, pengukuhan POPT, penerapan peraturan terkait, batas waktu maksimal perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan POPT, pembebasan sementara, dan penilaian KTI.

7. Seminar Sehari Perlindungan Tanaman Pangan

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan wawasan pejabat fungsional POPT, telah dilaksanakan Seminar Sehari bertema “Pengaruh Dampak Perubahan Iklim terhadap Perkembangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Pangan” di Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan pada tanggal 29 Agustus 2012. Peserta seminar adalah POPT perwakilan dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Perkebunan, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, BPTPH (Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat) maupun staf teknis lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Seminar dilaksanakan dengan mengundang Narasumber terkait yang berasal dari IPB, BBSDLP, dan BBPOPT Jatisari . Beberapa hal yang dihasilkan :

1. Dampak Perubahan Iklim berakibat pada :

 Meningkatnya suhu udara sebesar 0,74o C dalam kurun waktu 100 tahun (1906-2005)

 Naiknya permukaan laut sebesar 0,7 mm/ tahun (1961-2003), dalam kurun waktu 100 tahun lagi (tahun 2061), akan menjadi 70 mm

 Terjadinya perubahan spesies flora dan fauna

 Menurunnya frekuensi dan volume hujan pada musim hujan, dan meningkat pada musim kemarau

 Terjadinya perubahan pola dan musim tanam

 Berubahnya siklus hidup organisme sehingga dalam setahun dapat menyelesaikan beberapa generasi

 Meningkatnya frekwensi timbulnya hama atau penyakit manusia, hewan dan tumbuhan

2. Di Indonesia telah dilakukan beberapa kajian terkait perubahan iklim, kegiatan yang telah berlangsung selama 3 tahun, adalah sebagai berikut :  Pengembangan galur padi dan kedelai tahan salinitas dan tahan

kering

 Pengembangan alat-alat pertanian prsesisi  Prediksi Iklim

 Pengembangan kalender tanam dinamik

 Survey pengaruh perubahan iklim pada pergeseran HPT Padi, pengembangan basis data HPT dan pengembangan pengendalian hama terpadu

 Produksi dan pengembangan teknologi pupuk organic dan biofertilizer  Pengembangan sistem irigasi

 Diseminasi dan adaptasi teknologi UKM

3. Dampak perubahan iklim, juga berdampak pada perubahan iklim mikro. Perubahan iklim mikro terhadap serangga hama mempengaruhi :

 Proses biologi OPT (keperidian, siklus hidup, ukuran tubuh, maupun kemampuan makan)

 Kondisi Inang (Morfologi, ketahanan)

 Lingkungan (faktor biologi, musuh alami, keefektifan)

4. Dampak perubahan iklim, juga berdampak pada perubahan iklim mikro. Perubahan iklim mikro terhadap penyakit mempengaruhi :

 Patogen (reproduksi, patogenesitas, penularan, bertahan hidup)  Inang (ketahanan/morfofisiologi, ekspresi gejala)

 Lingkungan (sifat fisiokimia tanah, perkembangan dan dominasi mikroba tanah, filosfer, dn simbion)

5. Contoh kejadian perubahan iklim adalah eksplosi hama wereng batang coklat. Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan curah hujan dan suhu meningkat. Kemungkinan yang terjadi adalah keperidian wereng menjadi tinggi, tanaman menjadi stress sehingga fotosisntesis berada dalam keadaan sub-optimal, lingkungan pada tanaman padi terutama bagian pangkal batang menjadi gelap, suasana anearob, pelapukan bahan organik menjadi lambat, dan keragaman serangga rendah. Dengan kondisi tersebut, ekosistem sawah menjadi lemah, kandungan bahan organik rendah, jaringan padi miskin simbion (endofit), ditambah lagi dengan perilaku petani yang menyemprotkan pestisida dengan tidak

bijaksana yang menyebabkan matinya musuh alami, maka kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya ledakan hama wereng.

6. Tindak lanjut dalam meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh pemgaruh perubahan iklim terhadap perkembangan OPT yaitu :

 Mulai mengamati unsur iklim sebagai penciri serangan hama-penyakit  Mencari model hubungan antara luas/populasi OPT dengan faktor pemicu serangan/iklim yang spesifik lokasi karena serangan OPT umumnya spesifik lokasi

 Penyediaan capacity building : peralatan AWS/stasiun iklim, terutama di sentra-sentra produksi tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, dan kemampuan analisis SDM

 Menyusun peringatan dini luas serangan OPT

E. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen ( SIM )