• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGSURAN PAJAK (PPH PASAL 25)

Dalam dokumen PAJAK PENGHASILAN DI MASA COVID 19 (Halaman 166-171)

PAJAK PENGHASILAN UMUM

J. ANGSURAN PAJAK (PPH PASAL 25)

Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan mengatur mengenai perhitungan besarnya angsuran pajak bulanan yang harus dibayar oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan.

Selain pemotongan dan penyetoran, Wajib Pajak juga harus melakukan angsuran pajak (PPh Pasal 25). Angsuran pajak dilakukan setiap bulan atau masa lain, seperti saat dilakukannya transaksi atau saat diterima atau diperolehnya penghasilan. Angsuran pajak ini harus dibayar paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.

Pelunasan pajak tersebut merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat inal, seperti pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan lain, penghasilan berupa hadiah undian, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/

atau bangunan, PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 23. Pajak penghasilan bersifat inal tersebut tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang.

ANGSURAN PAJAK DALAM TAHUN PAJAK BERJALAN

Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:

1. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan

2. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan (Pasal 24) dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.

Contoh 1:

Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan

tahun 2021 Rp 50.000.000,00

dikurangi:

A. PPh yang dipotong pemberi Kerja (Pasal 21)

Rp 15.000.000,00 B. PPh yang dipungut oleh pihak lain

(Pasal 22)

Rp 10.000.000,00 C. PPh yang dipotong oleh pihak lain

(Pasal 23)

Rp 2.500.000,00 D. Kredit Pajak Penghasilan LN (Pasal 24) Rp 7.500.000,00 +

Jumlah kredit pajak Rp 35.000.000,00

-Selisih Rp 15.000.000,00

Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2022 adalah sebesar Rp1.250.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 12).

ANGSURAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 OLEH WAJIB PAJAK BARU, BANK, SEWA GUNA USAHA DENGAN HAK OPSI, BUMN, BUMD, DAN WAJIB PAJAK TERTENTU LAINNYA

Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 oleh Wajib Pajak baru, bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, BUMN, BUMD, Wajib Pajak Masuk Bursa, dan Wajib Pajak tertentu lainnya adalah sebagai berikut.

1. Wajib Pajak Baru

Wajib Pajak baru adalah Wajib Pajak orang pribadi dan badan yang baru pertama kali memperoleh penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dalam tahun pajak berjalan. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12.

Apabila Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan dan dari pembukuannya dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto iskal dihitung berdasarkan pembukuannya. Sedangkan apabila Wajib Pajak hanya menyelenggarakan pencatatan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau menyelenggarakan pembukuan tetapi dari pembukuannya tidak dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto

iskal dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atas peredaran atau penerimaan bruto.

Bagi Wajib Pajak orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto iskal yang disetahunkan tersebut dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

Bagi wajib pajak baru berupa Wajib Pajak badan yang mempunyai kewajiban membuat laporan berkala, besarnya angsuran PPh Pasal 25 adalah sebesar pajak penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas proyeksi laba-rugi iskal pada laporan berkala pertama yang disetahunkan, dibagi 12.

2. Bank dan Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi

Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi (ϔinancial lease) adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi iskal menurut laporan keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan dikurangi PPh Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12.

Dalam hal Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi tersebut adalah Wajib Pajak baru, maka besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk triwulan pertama adalah jumlah Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas perkiraan laba-rugi iskal triwulan pertama yang disetahunkan, dibagi 12.

3. BUMN dan BUMD

Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, kecuali Wajib Pajak bank dan Wajib Pajak Sewa Guna Usaha dengan hak opsi, adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi iskal menurut Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah disahkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan PPh Pasal 22

dan Pasal 23 serta PPh Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri tahun pajak yang lalu, dibagi 12.

Dalam hal Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) tersebut belum disahkan, maka besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum bulan pengesahan adalah sama dengan angsuran PPh Pasal 25 bulan terakhir tahun pajak sebelumnya.

4. Wajib Pajak Masuk Bursa dan Wajib Pajak

Lainnya yang Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak Masuk Bursa dan Wajib Pajak Lainnya yang Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi iskal menurut laporan keuangan berkala terakhir yang disetahunkan dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan PPh Pasal 22 dan Pasal 23 serta Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12.

Tertentu Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha di bidang perdagangan yang mempunyai tempat usaha lebih dari satu atau mempunyai tempat usaha yang berbeda alamat dengan domisili.

5. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha

Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu ditetapkan sebesar 0,75% dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha tersebut.

K. PELUNASAN KEKURANGAN PEMBAYARAN PAJAK

Dalam dokumen PAJAK PENGHASILAN DI MASA COVID 19 (Halaman 166-171)