Pulau Batam yang dari sejak semula merupakan
bonded zone, yaitu pulau industri yang dari sejak awal
diperuntukkan bagi kawasan industri dan perumahan. Atas dasar itulah, dalam Perjanjian Konsesi telah disepakati bahwa PT ATB hanya akan bertanggung jawab membangun jaringan distribusi air bersih sampai kemeteran konsumen, kecuali pada wilayah kawasan industri dan perumahan yang dibangun oleh developer swasta; --- Adanya penegasan dalam ketentuan yang diatur dalam Perjanjian Konsesi dan fakta mengenai Pulau Batam sebagai bonded zone tersebut di atas, memberikan dasar yang sah untuk mematahkan asumsi yang keliru dari Tim Pemeriksa untuk memberlakukan perbandingan hal yang sama dengan kondisi yang diterapkan oleh PT. Aetra Air Jakarta sebagai pemilik hak monopoli konsesi air di sebagian wilayah di Jakarta, karena kondisi sumber daya air di Pulau Batam tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi sumber daya air yang terjadi di wilayah DKI Jakarta; --- Kalaupun memang benar developer mengalami kerugian berupa pengeluaran biaya tambahan untuk (i) membangun tanki penampungan air, (ii) memberikan subsidi pembayaran tagihan air kepada penghuni rumah yang belum memiliki meteran air, (iii) pembelian pipa, pembelian pompa air, instalasi pembagian air, pembuatan sumur dan (iv) pembelian air bersih dari tanki (sebagaimana hal ini diasumsikan secara keliru oleh KPPU hanya berdasarkan angket belaka), maka mereka jelas mempunyai hak sesuai dengan hukum yang berlaku untuk menuntut PT ATB. Faktanya sampai sekarang, tidak ada tuntutan ganti rugi terhadap PT ATB dari developer yang merasa mengalami kerugian; --- Jadi telah terbukti dan tidak dapat dibantah lagi
SALIN
AN
halaman 111 dari 180
kebenarannya bahwa jelas tidak ada sama sekali dasar bagi KPPU untuk menyimpulkan telah terjadi kerugian bagi developer atas pelaksanaan kebijakan pengelolaan sumber daya air oleh PT ATB sejak tanggal 16 Juli 2007, sebagaimana hal ini keliru dinyatakan oleh Tim Pemeriksa dalam Laporan Pemeriksaan Lanjutan; --- (ii) Tidak benar terdapat kerugian terhadap kontraktor; ----
Analisa KPPU yang menyebutkan bahwa ada kontraktor yang dirugikan karena pihak pengembang (developer) hanya membayar jasa pekerjaan pembangunan jaringan air kepada kontraktor apabila rumah yang dibangun sudah terpasang air (Bab IV, angka 4 huruf b, sub angka 2, halaman 37, Laporan Pemeriksaan Lanjut Perkara) juga sama sekali tidak benar, karena dapat dibuktikan secara sah dibawah ini bahwa kontraktor sama sekali tidak mengalami kerugian; --- Berikut ini dapat disampaikan bukti-bukti berupa perjanjian-perjanjian yang telah disepakati oleh kontraktor dan developer terkait dengan pembangunan instalasi pipa, yaitu antara lain sebagai berikut; ---
(a) Surat Perintah Kerja No.
018/PRM/SPK/PKP/VII/06 tertanggal 31 Juli 2006, yang dibuat oleh dan antara: (i) PT. Putera
Karyasindo Prakarsa, selaku Pengembang/Developer; dan (ii) PT. Mega
Abadi Sukses, selaku Kontraktor yang akan melaksanakan pekerjaan Jaringan Air Bersih di Batam Centre dengan nama Proyek “PURIMAS Residence” (“SPK No. 018”) (Bukti Lampiran – 22 Surat Pembelaan) dapat diketahui fakta sah tentang cara pembayaran berdasarkan angka 7 dari SPK No. 018 tersebut, sebagai berikut (kutipan); ---
“(a) Tahap-1 : sebesar 85%
dibayarkan setelah pekerjaan Jaringan ATB selesai 100% dan ditandatanganinya
SALIN
AN
Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Pertama (BASTP-1)
(b) Tahap-2 : sebesar 10% dibayarkan setelah masa pemeliharaan selama 90 hari berakhir dan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Kedua (BASTP-2)
(c) Tahap-3 : sebesar 5% dibayarkan setelah pekerjaan Penyambungan Water Meter ATB selesai 100% dan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Ketiga (BASTP-3).”
(b) Surat Perintah Kerja No. 032/SPK/MPS-SP/X/07 tertanggal 29 Oktober 2007, yang dibuat oleh dan antara: (i) PT. Megah Persada Semesta, selaku Pengembang/Developer; dan (ii) PT. Cipta Niaga Mandiri, selaku Kontraktor yang melaksanakan pekerjaan pengadaan dan pemasangan jaringan air bersih untuk 297 unit rumah di Perumahan Putra Kelana Jaya, Tahap II, Bengkong Sadai – Batam (“SPK No. 032”) (Bukti Lampiran – 23 Surat Pembelaan) dapat diketahui fakta sah tentang cara pembayaran berdasarkan angka V dari SPK No. 032 tersebut, sebagai berikut (kutipan); --- “1. Pembayaran ke I sebesar 30% dari nilai
kontrak setelah dipotong retensi 5% yaitu sebesar Rp. 91.200.000,- (sembilan puluh satu juta dua ratus ribu rupiah). Pada saat material Jaringan pipa dia 6”, 4”, 2” dan accessories tiba di lapangan.
2. Pembayaran ke II sebesar 50% dari nilai kontrak setelah dipotong retensi 5% yaitu sebesar Rp. 152.000.000,- (seratus lima puluh dua juta rupiah) dibayarkan setelah pekerjaan jaringan pipa dia 6”, 4”, 2” dan accessories terpasang.
3. Pembayaran terakhir yaitu sebesar 20% dari nilai kontrak setelah dipotong retensi 5% yaitu sebesar Rp. 60.800.000,- (enam puluh juta delapan ratus ribu rupiah) dibayarkan bertahap sesuai meteran air yang terpasang.
4. Ppn 10% (apabila ada) dan PPh 2% dipotongkan disetiap transaksi
SALIN
AN
halaman 113 dari 180
(c) Surat Perintah Kerja tertanggal 28 Juli 2008, yang dibuat oleh dan antara: (i) PT. Tiara Mantang, selaku Pengembang/Developer; dan (ii) CV. Pharama Karya Jaya, selaku Kontraktor yang melaksanakan pekerjaan pemasangan Jaringan Pipa Air di Perum Pesona Mantang, Bengkong (“SPK 28 Juli 2008”) (Bukti Lampiran – 25 Surat Pembelaan) dapat diketahui fakta bahwa cara pembayaran adalah sebagai berikut (kutipan);--- “Pembayaran pekerjaan dilakukan 10% diawal
pekerjaan, dan sisanya dilakukan sesuai dengan persentase opneman pekerjaan.”;
(d) Surat Perjanjian Kerja No. 18/MB- BV/MAS/E/V-08 tertanggal 6 Mei 2008, yang dibuat oleh dan antara: (i) PT. Mytecon Batindo, selaku Pengembang/Developer; dan (ii) PT. Mega Abadi Sukses, selaku Kontraktor yang melaksanakan pengadaan dan instalasi Jaringan Pipa Air Bersih Proyek Town House di Baloi View – Sei Ladi (“SPK No. 18/08”) (Bukti Lampiran – 25 Surat Pembelaan), dimana berdasarkan Pasal 4 dari SPK No. 18/08 tersebut dapat diketahui fakta bahwa pembayaran akan dilakukan bila pekerjaan telah selesai 100%;--- Dari kontrak-kontrak yang disepakati oleh kontraktor itu sendiri terdapat fakta yang tidak dapat dibantah lagi bahwa selama ini tata cara pembayaran yang disepakati dalam kontrak kontraktor sama sekali tidak mengaitkan dengan masalah disalurkannya air pada jaringan pipa yang baru dibangun atau tidak. Berdasarkan contoh kontrak-kontrak di atas, jelas bahwa kontraktor telah dapat menerima pembayaran dari developer terlepas dari apakah penyaluran air telah dilakukan oleh PT ATB atau tidak; --- Oleh sebab itu, berdasarkan bukti-bukti di atas, jelas secara nyata telah dapat dibuktikan dalam perkara ini