• Tidak ada hasil yang ditemukan

AN264/KPPU/KEP/VIII/2008 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komis

Dalam dokumen KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Tahun 2008 (Halaman 56-60)

dalam Sidang Majelis Komisi Perkara Nomor: 11/KPPU-L/2008; --- 12.Menimbang bahwa dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 7 Oktober 2008, PT

ATB menyampaikan secara tertulis kepada Majelis Komisi, Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan (selanjutnya disebut “LHPL”) yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut: --- 12.1 Eksepsi (Penolakan) Perkara; ---

12.1.1 Proses perkara Nomor 11/KPPU-L/2008 cacat hukum; --- 12.1.1.1. Berdasarkan Surat KPPU dengan nomor: 113/AK/KTP-

PP/III/2008 tertanggal 24 Maret 2008, Perihal: Pemberitahuan Perkara No. 11/KPPU-L/2008 dan Penetapan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor. 32/KPPU/PEN/III/2008 tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor No.11/KPPU-L/2008, tertanggal 4 Maret 2008, KPPU telah menetapkan bahwa PT ATB diduga melanggar 3 (tiga) ketentuan Undang-undang No. 5 Tahun 1999, yaitu;---

(i) Pasal 17 Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Monopoli;--- (ii) Pasal 19 huruf (d) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Penguasaan Pasar (diskriminasi); --- (iii) Pasal 25 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Posisi Dominan; --- 12.1.1.2. Akan tetapi, setelah dilakukannya pemeriksaan terhadap

berkas perkara, khususnya Laporan Pemeriksaan Lanjutan No. 11/KPPU-L/2008 tertanggal 25 Agustus 2008, ternyata Majelis Komisi KPPU telah menetapkan 1 (satu) dugaan pelanggaran baru terhadap PT ATB, yaitu Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Persekongkolan. Majelis Komisi telah memberitahukan secara resmi kepada PT ATB mengenai keputusannya atas dugaan Pasal 22 ini dalam suratnya nomor: 702/AK/AMK/IX/2008 tertanggal 3 September 2008 perihal “Pemberitahuan Sidang Majelis Komisi Perkara No. 11/KPPU-L/2008”, yang ditandatangani oleh Ketua Majelis Komisi (“Pemberitahuan Resmi Sidang Majelis”), dimana dalam angka 2 secara tegas dan jelas dinyatakan

SALIN

AN

halaman 57 dari 180

sebagai berikut; --- “2. Selanjutnya Komisi membentuk Majelis Komisi untuk

menilai, menyimpulkan dan memutuskan perkara

berdasarkan bukti yang cukup tentang telah terjadi

atau tidak terjadinya pelanggaran terhadap Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;”.

Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 mengatur ketentuan sebagai berikut: "Pelaku usaha dilarang

bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.”; ---

12.1.1.3. Jadi terdapat fakta bahwa sebelumnya Tim Pemeriksa telah memeriksa 3 (tiga) dugaan pelanggaran, yaitu terkait dengan Pasal 17, Pasal 19 huruf (d) dan Pasal 25 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, kemudian Tim Pemeriksa menyimpulkan dan menetapkan hanya 1 (satu) dugaan yang akan diajukan dalam persidangan di hadapan Majelis Komisi, yaitu hanya sehubungan dengan dugaan pelanggaran atas Pasal 17 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Monopoli. Ironisnya, bertentangan dengan kesimpulan sebelumnya yang dibuat oleh Tim Pemeriksa tersebut di atas, ternyata Majelis Komisi KPPU telah menyimpulkan lain dan menetapkan dugaan baru terhadap PT ATB berupa pelanggaran Pasal 22 tentang persekongkolan (collusive tender), hal mana jelas-jelas dan sama sekali belum pernah diperiksa sebelumnya oleh Tim Pemeriksa terkait dengan perkara ini;--- 12.1.1.4. Putusan Majelis Komisi sebagaimana dinyatakan dalam

Surat Pemberitahuan Resmi Majelis Komisi jelas-jelas bertentangan dengan (i) Pasal 49, (ii) Pasal 51 (1), (iii) Pasal 52 juncto (iv) Pasal 54 ayat (1) Peraturan KPPU No. 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU (“Peraturan No. 1/2006”), yang mengatur sebagai berikut; ---

(i) Pasal 49 dari Peraturan No. 1/2006 mengatur; ---

SALIN

AN

Pasal 48 disusun dalam bentuk Laporan Pemeriksaan Lanjutan;

(2) Tim Pemeriksa Lanjutan menyampaikan Laporan Pemeriksaan Lanjutan berikut surat, dokumen atau alat bukti lainnya kepada Komisi untuk memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh Terlapor.”.

(ii) Pasal 51 (1) dari Peraturan No. 1/2006 mengatur; ---- “(1) Untuk memutuskan telah terjadi atau tidak

terjadi pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2), Komisi membentuk

Majelis Komisi.”.

(iii) Pasal 52 dari Peraturan No. 1/2006 mengatur; --- “Sidang Majelis Komisi dilakukan untuk menilai, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran”.

(iv) Pasal 54 ayat (1) Peraturan No. 1/2006 mengatur; ---- “Majelis Komisi memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran berdasarkan penilaian Hasil Pemeriksaan Lanjutan dan seluruh surat dan atau dokumen atau alat bukti lain yang disertakan di dalamnya termasuk pendapat atau pembelaan Terlapor”.

Bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Peraturan No. 1/2006 tersebut di atas, ternyata dalam perkara ini dapat disimpulkan bahwa; --- (i) Penetapan Majelis Komisi dalam perkara ini yang

menetapkan dugaan atas pelanggaran Pasal 22 jelas- jelas telah mengesampingkan Laporan Pemeriksaan Lanjutan No. 11/KPPU-L/2008 tertanggal 25 Agustus 2008 (“Laporan Pemeriksaan Lanjutan”) dan seluruh dokumen/bukti (termasuk surat pembelaan PT ATB sebagai Terlapor) yang selama ini hanya diperiksa terkait dengan (i) Pasal 17, (ii) Pasal 19 huruf (d) dan (iii) Pasal 25 ayat (1) Undang- undang Nomor 5 Tahun 1999; dan; ---

SALIN

AN

halaman 59 dari 180

(ii) Sebagai konsekuensi yuridis lebih lanjut, maka keberadaan atau keabsahan pembentukan Majelis Komisi dalam perkara ini sudah jelas menjadi tidak sah dan cacat hukum, karena Majelis Komisi telah menetapkan dugaan baru yang bertentangan dengan keputusan Tim Pemeriksa sebagaimana dinyatakan dalam Laporan Pemeriksaan Lanjutan; --- 12.1.1.5. Selain pelanggaran terhadap Peraturan No. 1/2006,

putusan Majelis Komisi sebagaimana dinyatakan dalam Surat Pemberitahuan Resmi Majelis Komisi jelas-jelas juga bertentangan dengan prinsip yang wajib dijalankan oleh Majelis Komisi dan KPPU sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 75 Tahun 1999 tertanggal 8 Juli 1999 tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“Keppres 75/1999”), dimana Pasal 15 tentang “Tata Kerja” jelas mensyaratkan wajib untuk dilaksanakannya prinsip-prinsip sebagai berikut dalam menjalankan tugasnya, yaitu sebagai berikut; ---

“Semua unsur dilingkungan Komisi dalam melaksanakan tugasnya wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi

dan sinkronisasi.”.

Terjadinya pertentangan atas isi Surat Pemberitahuan Resmi Majelis Komisi yang disatu pihak menetapkan

dugaan pelanggaran Pasal 22 Undang-undang No. 5

Tahun 1999 terhadap PT ATB, dan dikeluarkannya

Laporan Pemeriksaan Lanjutan yang dilain pihak menetapkan dugaan pelanggaran Pasal 17 Undang-undang No. 5 Tahun 1999 terhadap PT ATB, jelas-jelas membuktikan telah terjadi cacat hukum yang mendasar dalam proses hukum (illegal due process of law) dalam perkara aquo, karena tindakan-tindakan atau keputusan- keputusan yang mendasari terbentuknya Majelis Komisi dan pembuatan Laporan Pemeriksaan Lanjutan dalam perkara ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum yang diatur dalam Keppres 75/1999; --- 12.1.1.6. Terakhir, tindakan-tindakan Majelis Komisi yang telah

SALIN

AN

Dalam dokumen KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Tahun 2008 (Halaman 56-60)