• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Antioksidan Dengan Metode DPPH

Metode yang dapat dilakukan untuk uji aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (1,1-Difenil-2-pikrilhidrazil). Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dipilih karena ujinya sederhana, mudah, cepat, dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel untuk evaluasi aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam sehingga digunakan secara luas untuk menguji kemampuan senyawa yang berperan sebagai pendonor elektron (Hanani, dkk., 2005).

Prinsip dari metode uji aktivitas antioksidan ini adalah pengukuran aktivitas antioksidan secara kuantitatif yaitu dengan melakukan pengukuran

30

penangkapan radikal DPPH oleh suatu senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis sehingga dengan demikian akan diketahui nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang dinyatakan dengan nilai IC50 (Inhibitory Concentration). Nilai IC50 didefenisikan sebagai besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam radikal bebas sebanyak 50%. Semakin kecil nilai IC50 maka aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi. Prinsip kerja dari pengukuran ini adalah adanya radikal bebas stabil yaitu DPPH yang dicampurkan dengan senyawa antioksidan yang memiliki kemampuan mendonorkan hidrogen, sehingga radikal bebas dapat diredam (Ridho, 2013).

Selain DPPH aktivitas antioksidan juga bisa diuji dengan menggunakan metode ABTS, dan FRAP. ABTS adalah suatu radikal dengan pusat nitrogen yang mempunyai karakteristik warna biru-hijau, yang bila tereduksi oleh antioksidan akan berubah menjadi bentuk non radikal dari berwarna menjadi tidak berwarna.

Metode ABTS sangat sensitif terhadap cahaya, bahkan pembentukan ABTS memerlukan waktu inkubasi selama 12-16 jam dalam kondisi gelap (Setiawan, dkk., 2018).

Radikal stabil memiliki warna violet intens yang berkurang dengan kehadiran antioksidan atau radikal lain, yang memungkinkan mengukur efek bleaching yang disebabkan oleh senyawa tertentu. Ketika larutan DPPH dicampur dengan zat yang dapat menyumbangkan atom hidrogen maka ini menimbulkan bentuk tereduksi dengan hilangnya warna ungu (Molyneux, 2004).

Senyawa yang memiliki kemampuan penangkap radikal umumnya merupakan pendonor atom hidrogen (H), sehingga atom H tersebut dapat

31

ditangkap oleh radikal DPPH (hidrazil) untuk berubah menjadi bentuk netralnya (Hidrazin) (Herman, 2010).

Gambar 2.2 Reaksi Radikal DPPH dengan Antioksidan (Windono, dkk., 2001).

32 BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental (Experimental Research). Penelitian meliputi penyiapan bahan tumbuhan, identifikasi tumbuhan, pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak daun gaharu secara maserasi, skrining fitokimia pada ekstrak daun gaharu, pembuatan minyak kemiri, formulasi sediaan serum kosmetik, pengujian aktivitas antioksidan sediaan serum kosmetik menggunakan metode pemerangkapan radikal bebas DPPH, penentuan mutu fisik sediaan serum (pengamatan organoleptis, pengamatan tipe emulsi, uji homogenitas, pengukuran pH, pengujian daya sebar, pengukuran viskositas serta penentuan stabilitas sediaan). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Sumatera Utara, dan Laboratorium Farmasetika Dasar Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi aluminium foil (Total Warp), alat tanur (Nabertherm), batang pengaduk, beaker glass (Pyrex), blender (philips), botol ekstrak, cawan porselen, deg glass, gelas ukur (Oberoi), grinder, Hotplate (Hanna), kaca arloji, kertas perkamen, kertas saring, klem, kondensor, kurs porselen, kuvet labu tentukur (Iwaki), lemari pengering, lumpang dan alu, magnetic stirrer, neraca analitik (Mettler Toledo), object glass, oven (Memmert), penangas air, pH meter (ATC), pH indikator (Nesco), pipet tetes, pot

33

plastik, rotary evaporator (Haake D), secrew press machine, serbet, spatula, spektrofotometer UV-Visibel (Shimadzu), spuit (One-med), statif, sudip, tanur (Neotherm), tissue (Nice) dan viscometer (NDJ-85).

3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah alfa-naftol, amil alkohol, aquadest, asam asetat anhidrat, asam klorida pekat, asam nitrat, asam sulfat pekat, biru metil, ekstrak etanol daun gaharu, etanol 96%, isopropanol, karbopol, kloroform, larutan dapar pH asam (pH 4,01), larutan dapar pH netral (pH 7,01), metanol, metil paraben, miyak kemiri, n-heksan, parfum, propil paraben, pereaksi Bouchardart, pereaksi Dragendorf, pereaksi Meyer, pereaksi Molish, serbuk DPPH, serbuk Mg, setil alkohol, sorbitol, timbal (II) asetat, toluene, trietanolamin (TEA) dan tween 80.

3.2 Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara purposif, yaitu tanpa membandingkan dengan tanaman yang sama dari daerah lain. Sampel yang digunakan adalah daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) yang diperoleh dari Jl. Tridarma, Kec. Medan Baru, Kota Medan, dan Kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) yang diperoleh dari Pasar Sore Jamin Ginting, Kec. Medan Baru, Kota Medan.

34 3.3 Identifikasi Sampel

Identifikasi sampel daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd dilakukan di Laboratorium “Herbarium Medanense (MEDA)” Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.

3.4 Pengolahan Sampel

3.4.1 Pengolahan Daun Gaharu

Daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dibersihkan dari kotoran dan dicuci dengan air mengalir kemudian ditiriskan, lalu ditimbang dan diperoleh berat basah. Kemudian dikeringkan di dalam lemari pengering dengan suhu 30-40⁰C hingga kering dan rapuh, lalu ditimbang berat keringnya. Selanjutnya simplisia kering diblender sampai menjadi serbuk dan disimpan dalam wadah plastik serta disimpan ditempat yang kering sebelum dilakukan proses ekstraksi dengan cara maserasi.

3.4.2 Pembuatan Minyak Biji Kemiri

Diambil biji kemiri dan dipisahkan dari cangkangnya lalu digrinder agar lebih halus, pembuatan minyak biji kemiri dilakukan dengan metode pengepresan panas menggunakan compression machine dengan suhu 80⁰C. Minyak yang diperoleh kemudian ditampung dan diendapkan beberapa hari. Hasil minyak kemudian disaring dan ditimbang beratnya.

35 3.5 Pembuatan Pereaksi

3.5.1 Pereaksi Asam Klorida 2N

Sebanyak 16,67 mL asam klorida pekat dilarutkan dalam air suling hingga Volume 100 mL (Ditjen POM, 1979).

3.5.2 Pereaksi Asam Sulfat 2 N

Sebanyak 5,4 mL asam sulfat pekat kemudian diencerkan dengan air suling hingga 100 mL (Ditjen POM, 1979).

3.5.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1%

Sebanyak 1 g besi (III) ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air secukupnya hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).

3.5.4 Pereaksi Bouchardat

Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam 20 mL air suling, ditambahkan iodium sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 mL (Ditjen POM, 1995).

3.5.5 Pereaksi Dragendorff

Sebanyak 8 g bismut (III) nitrat dilarutkan dalam asam nitrat 20 mL kemudian dicampur dengan larutan kalium iodida sebanyak 27,2 g dalam 50 mL air suling. Diamkan campuran sampai memisah sempurna. Larutan jernih diambil dan diencerkan dengan air secukupnya hingga 100 mL (Depkes RI, 1980).

3.5.6 Pereaksi Mayer

Sebanyak 1,3 g merkuri (II) klorida dilarutkan dalam 60 mL air suling.

Kemudian pada wadah lain sebanyak 5 g kalium iodida dilarutkan dalam 10 mL air lalu campurkan keduanya dan ditambahkan air suling hingga 100 mL (Depkes RI, 1980).

36 3.5.7 Pereaksi Molish

Sebanyak 3 g alfa-naftol ditimbang, kemudian dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga volume 100 mL (Depkes RI, 1980).

3.5.8 Pereaksi Timbal (II) asetat 0,4M

Sebanyak 15,7 g timbal (II) asetat dilarutkan dalam air bebas karbondioksida hingga 100 mL (Ditjen POM, 1979).

3.6 Pemeriksaan Makroskopik Daun Gaharu dan Biji Kemiri

Pemeriksaan makroskopik dilakukan pada daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dengan mengamati bentuk, bau, warna dan rasa dari simplisia gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd).

3.7 Pemeriksaan Mikroskopik Daun Gaharu dan Biji Kemiri

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dilakukan dengan cara menaburkan serbuk simplisia di atas object glass yang telah ditetesi dengan kloralhidrat, dipanaskan di atas api bunsen, lalu ditutup dengan deck glass kemudian diamati di bawah mikroskop (Depkes RI, 2000).

37

3.8 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Daun Gaharu 3.8.1 Penetapan Kadar Air

Pemeriksaan kadar air daun gaharu dilakukan dengan metode destilasi toluen (Azeotropi).

1. Penjenuhan toluen

Sebanyak 200 mL toluen dan 2 mL air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudiaan toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 mL (WHO, 1998).

2. Penetapan kadar air

Sebanyak 5 g sampel yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat berisi toluen tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes perdetik sampai bagian air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluene.

Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar, setelah air dan toluen memisah sempurna volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.

Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 1998).

3.8.2 Penetapan Kadar Sari Larut Air

Sebanyak 5 g sampel dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL airkloroform (2,5 mL kloroform dalam air suling 1000 mL) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Diuapkan 20 mL filtrat sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan dalam oven pada suhu 105⁰C

38

hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar sari larut air (Depkes RI, 1995).

3.8.3 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol

Sebanyak 5 g sampel dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol 96%

dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Diuapkan 20 mL filtrat sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan dalam oven pada suhu 105⁰C hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar sari larut air (Depkes RI, 1995).

3.8.4 Penetapan Kadar Abu Total

Sebanyak 2 g sampel ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijarkan perlahan-lahan pada suhu 550⁰C hingga arang habis, lalu didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Kemudian dihitung kadar abu total (WHO, 1998).

3.8.5 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam

Abu yang telah diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, kemudian dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijarkan, didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar abu tidak larut asam (WHO, 1998).

39

3.9 Pemeriksaan Karakteristik Minyak Biji Kemiri 3.9.1 Pemeriksaan Kadar Air

Pemeriksaan kadar air minyak biji kemiri dilakukan dengan metode destilasi toluen (Azeotropi).

1. Penjenuhan toluen

Sebanyak 200 mL toluen dan 2 mL air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudiaan toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml (WHO, 1998).

2. Penetapan kadar air

Sebanyak 5 g minyak biji kemiri yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat berisi toluene tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes perdetik sampai bagian air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen.

Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar, setelah air dan toluen memisah sempurna volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.

Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 1998).

3.9.2 Penetapan Kadar Abu Total

Sebanyak 2 g sampel ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijarkan perlahan-lahan pada suhu 550⁰C hingga arang habis, lalu didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Kemudian dihitung kadar abu total (WHO, 1998).

40

3.9.3 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam

Abu yang telah diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, kemudian dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijarkan, didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar abu tidak larut asam (WHO, 1998).

3.10 Skrining Fitokimia Simplisia Daun Gaharu

Skrining fitokimia dilakukan pada serbuk simplisia daun gaharu dan ekstrak daun gaharu :

3.10.1 Alkaloida

Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit. Didinginkan dan disaring.

Filtrat dipakai untuk percobaan sebagai berikut:

a. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal bewarna putih atau kuning.

b. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

c. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan merah atau jingga. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas (Depkes RI, 1995).

41 3.10.2 Flavonoida

Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 20 mL air panas, dididihkan selama 10 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 mL filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 mL asam klorida pekat dan 2 mL amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).

3.10.3 Tanin

Sebanyak 0,5 g sampel disari dengan 10 ml air suling kemudian disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 mL dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida. Jika terjadi warna hijau, biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).

3.10.4 Saponin

Sebanyak 0,5 g sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air panas, didinginkan kemudian dikocok selama 10 detik, jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan busa tersebut tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, maka hasil tersebut menunjukkan terdapatnya saponin (Depkes RI, 1995).

3.10.5 Steroid/Triterpenoid

Sebanyak 1 g sampel dimaserasi dengan 10 mL n-heksana selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap, pada sisa ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna biru atau hijau menunjukkan adanya steroid dan timbul warna merah, pink atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Farnsworth, 1966).

42 3.10.6 Uji Glikosida

Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 mL campuran etanol 95%

dengan air suling (7:3) dan 10 mL asam sulfat 2 N, lalu direfluks selama 1 jam, kemudian didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 mL air suling dan 25 mL timbal (II) asetat 0,4 M, lalu dikocok dan didiamkan 5 menit, kemudian disaring. Filtrat disari dengan 20 mL campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Lapisan air diambil kemudian ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molisch, ditambahkan hati -hati 2 mL asam sulfat pekat. Jika terbentuk cincin warna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (Depkes RI, 1995).

3.11 Skrining Fitokimia Minyak Biji Kemiri

Skrining fitokimia dilakukan pada serbuk simplisia daun gaharu dan ekstrak daun gaharu :

3.11.1 Alkaloida

Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit. Didinginkan dan disaring.

Filtrat dipakai untuk percobaan sebagai berikut:

a. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal bewarna putih atau kuning.

b. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

43

c. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan merah atau jingga. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan diatas (Depkes RI, 1995).

3.11.2 Flavonoid

Skrining fitokimia dilakukan pada golongan flavonoid untuk membuktikan adanya senyawa fenolik dalam minyak biji kemiri yang berpotensi sebagai antioksidan. Uji flavonoid dilakukan dengan penambahan NaOH 2N pada 2 mL minyak kemiri yang telah dipanaskan di atas waterbath selama 2 jam perubahan warna kuning menjadi bening karena penambahan asam menunjukkan adanya flavonoid. Selain itu juga dibuktikan dengan penambahn NaOH dan HCl pada 2 mL minyak biji kemiri yang telah diuapkan selama 2 jam di atas waterbath menunjukkan adanya kuning atau orange menunjukkan adanya kandungan flavonoid (Sopoetro, 2020).

3.11.3 Tanin

Sebanyak 0,5 g sampel disari dengan 10 mL air suling kemudian disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 mL dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida. Jika terjadi warna hijau, biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).

3.11.4 Saponin

Sebanyak 0,5 g sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air panas, didinginkan kemudian dikocok selama 10 detik, jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan busa tersebut tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, maka hasil tersebut menunjukkan terdapatnya saponin (Depkes RI, 1995).

44 3.11.5 Steroid/Triterpenoid

Sebanyak 1 g sampel dimaserasi dengan 10 mL n-heksana selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap, pada sisa ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna biru atau hijau menunjukkan adanya steroid dan timbul warna merah, pink atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Farnsworth, 1966).

3.11.6 Uji Glikosida

Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 mL campuran etanol 95%

dengan air suling (7:3) dan 10 mL asam sulfat 2 N, lalu direfluks selama 1 jam, kemudian didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 mL air suling dan 25 mL timbal (II) asetat 0,4 M, lalu dikocok dan didiamkan 5 menit, kemudian disaring. Filtrat disari dengan 20 mL campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Lapisan air diambil kemudian di tambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molisch, ditambahkan hati -hati 2 mL asam sulfat pekat. Jika terbentuk cincin warna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (Depkes RI, 1995).

3.12 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Gaharu

Berdasarkan Farmakope Herbal Edisi II (2017) pembuatan ekstrak etanol daun gaharu dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sebanyak 200 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam maserator, ditambahkan pelarut etanol 96% sebanyak 2 L. Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk, diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi, kemudian diulangi penyarian dengan etanol 96% sebanyak 1L. Hasil yang diperoleh dipekatkan

45

dengan rotary evaporator pada suhu 40º-60ºC sampai sebagian besar pelarutnya menguap dan dilanjutkan proses penguapan di atas penangas air sampai diperoleh ekstrak kental.

3.13 Formula Sediaan Serum

Formula acuan yang digunakan untuk basis serum dalam penelitian ini berdasarkan formula emulgel menurut Handayani, dkk., (2015).

R/ Carbopol 0,5

TEA 1

Methylparaben 0,06

Prophylparaben 0,03

Tween 60 5

Span 60 5

Paraffin Cair 5

Propilenglikol 10 Aquadest ad 100 ml

46

Formula F0: Blanko (serum tanpa sampel)

Formula F1: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,3% dan minyak biji kemiri 2%

Formula F2: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,5% dan minyak biji kemiri 2%

Formula F3: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,7% dan minyak biji kemiri 2%

3.14 Pembuatan Sediaan Serum

Pembuatan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) yaitu ditimbang minyak biji kemiri, lalu dicampurkan dengan larutan sorbitol yang telah diukur menggunakan beaker glass, lalu diaduk hingga homogen menggunakan magnetic stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 30 menit (Fase minyak).

Dicampurkan metil paraben, propil paraben yang telah ditimbang, dan kemudian dilarutkan dengan aqua DM di atas Hotplate hingga larut sempurna.

Selanjutnya ditambahkan karbopol dan kemudian diaduk menggunakan stirrer hingga terbentuk basis gel.

47

Tween 80 yang telah diukur dimasukkan ke dalam beaker glass dan ditambahkan ekstrak etanol daun gaharu dan diaduk hingga homogen menggunakan stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 30 menit (Fase air).

Kemudian ditambahkan fase minyak ke dalam fase air dengan cara meneteskannya sedikit demi sedikit dengan menggunakan pipet tetes, hingga homogen dengan magnetic stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 15 menit pada suhu kamar. Kemudian dimasukkan basis gel secara perlahan-lahan sambil di stirrer sampai homogen.

3.15 Evaluasi Mutu Fisik

3.15.1 Pemeriksaan Tipe Emulsi

Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan cara meneteskan 1 tetes sediaan di atas gelas objek, ditambah 1 tetes metil biru, dicampur merata, jika terjadi warna biru homogen, maka tipe emulsi adalah minyak dalam air (M/A) (Putra dan Setyawan, 2014).

3.15.2 Pemeriksaan Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan dengan cara sampel serum dioleskan sebanyak 50 mg pada gelas objek yang bersih (Aghel, dkk., 2007). Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979).

3.15.3 Uji Stabilitas Fisik

Pemeriksaan stabilitas fisik sediaan meliputi warna, aroma, tekstur dan sensasi dikulit dengan cara mengamati penampilan visual dan sensasi dikulit (Oktami, dkk., 2021). Uji stabilitas fisik diuji selama 12 minggu (minggu ke-0,

48

minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3, minggu ke-4, minggu ke-8 dan minggu ke-12) dengan penyimpanan disuhu kamar (Farhamzah dan Indrayati, 2019).

3.15.4 Pengukuran pH

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar pH netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tissue. Sampel dilihat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dilarutkan dalam larutan 99 mL akuades. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditujukan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).

3.15.5 Viskositas

Pengujian viskositas dilakukan dengan menempatkan sampel dalam viscometer hingga spindel terendam. Spindel diatur dengan kecepatan 50 rpm.

Angka konstan yang ditunjukkan oleh viscometer merupakan nilai viskositas dari sediaan (Hasrawati, dkk., 2020).

3.15.6 Daya Sebar

Pengujian daya sebar dilakukan menggunakan kaca berbentuk kotak 20x20 cm dan 7x7 cm (Sasmiyandri, dkk, 2019). Di atas serum diletakkan bahan transparan lain dan pemberat sehingga berat kaca bulat dan pemberat 150 gram, didiamkan selama 1 menit, kemudian dicatat diameter penyebarannya (Sayuti, 2015).

49

3.16 Pengujian Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH

Metode pengujian antioksidan yang digunakan yaitu radikal bebas 1,1- diphenyl-2 picrylhidrazyl (DPPH). Serum digunakan sebagai sampel uji dan vitamin C digunakan sebagai pembanding.

3.16.1 Pembuatan Larutan Induk Baku DPPH 0,5mM

Sebanyak 10 mg serbuk DPPH dilarutkan dengan metanol hingga 50 mL.

Diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 200 μg/mL (Molyneux, 2004).

3.16.2 Pembuatan Larutan Blanko

Sebanyak 1 mL larutan DPPH 0,5mM dipipet kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 mL, dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40 μg/mL).

3.16.3 Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum DPPH

Larutan DPPH konsentrasi 40 μg/mL dihomogenkan diukur absorbansi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang gelombang 400-800 nm (Molyneux, 2004).

3.16.4 Penentuan Waktu Kerja (Operating Time)

Larutan DPPH konsentrasi 40 μg/mL diukur serapannya untuk menentukan operating time larutan DPPH dalam metanol sampai menit ke-60.

3.16.5 Pembuatan Larutan Induk Baku Ekstrak Etanol Daun Gaharu

Sebanyak 25 mg ekstrak dilarutkan dengan methanol hingga 50 mL.

Diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 200 μg/mL (Molyneux, 2004).

50

3.16.6 Pembuatan Larutan Induk Baku Serum Kosmetik 0,3%

Sebanyak 8,33 g serum kosmetik dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan ekstrak dengan konsentrasi 1000 μg/mL.

3.16.7 Pembuatan Larutan Induk Baku Serum Kosmetik 0,5%

3.16.7 Pembuatan Larutan Induk Baku Serum Kosmetik 0,5%