• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Gaharu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Gaharu

Hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dapat dilihat pada Tabel 4.3. Hasil perhitungan pemeriksaan karakterisasi serbuk daun gaharu dapat dilihat pada Lampiran 10.

55

Tabel 4.3 Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Gaharu

Hasil penetapan kadar air simplisia daun gaharu diperoleh sebesar 7,96%, hal ini sesuai dengan standarisasi kadar air simplisia secara umum dengan syarat tidak lebih dari 10% (Depkes RI, 1995). Penetapan kadar air dilakukan untuk memberi batas maksimal kandungan air dalam sampel, karna jumlah air yang tinggi dapat menjadi media tumbuhanya bakteri dan jamur sehingga dapat merusak senyawa yang terkandung dalam sampel (Depkes RI, 2000).

Penetapan kadar sari larut air dilakukan dengan dua pelarut, yaitu air dan etanol. Penetapan kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa kimia yang bersifat polar yang terkandung dalam sampel, sedangkan penetapan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa larut dalam etanol baik senyawa polar maupun non polar. Hasil pengujian kadar sari larut air yang diperoleh yaitu 16,60% dan kadar sari larut etanol sebesar 13,76%. Hal ini mnunjukkan bahwa senyawa kimia serbuk simplisia daun gaharu lebih banyak tersari dalam air dibandingkan dengan jumlah senyawa kimia yang tersari dalam etanol, karena berdasarkan kepolaran dan kelarutan, senyawa yang bersifat polar akan lebih mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa non polar akan mudah larut dalam pelarut non polar (Depkes RI, 2000).

No. Pemeriksaan Hasil

Hasil Penelitian

56

Penetapan kadar abu total untuk mengetahui kadar zat anorganik yang terdapat pada sampel, sedangkan penetapan kadar abu tak larut asam untuk mengetahui kadar zat anorganik yang tidak larut dalam asam (Ditjen POM, 1979).

Hasil pengujian kadar abu total yaitu 5,12%. Kadar abu total yang baik menurut standar yang tercantum dalam buku Material Medika Indonesia adalah tidak lebih dari 8%, maka kadar abu simplisia daun gaharu memenuhi standar.

Kadar abu tidak larut asam dilakukan berdasarkan panduan buku Material Medika Indonesia. Kadar abu tidak larut asam yaitu 0,90%. Standar kadar abu tidak larut asam menurut standar yang tercantum dalam buku material medika Indonesia adalah tidak lebih dari 1%, maka dapat disimpulkan bahwa kadar abu tak larut asam simplisia daun gaharu memenuhi standar. Besarnya angka kadar abu dan kadar abu tak larut asam yang diperoleh menandakan adanya pengotor yang terdapat pada simplisia yang berasal dari kandungan silikat seperti tanah atau pasir, bahkan unsur logam perak, timbal maupun merkuri akibat kontaminan lingkungan sekitar (Evifania, dkk., 2020). Hasil karakterisasi yang diperoleh untuk kadar sari larut dalam air dan kadar sari larut dalam etanol jauh berbeda dengan penelitian Stefanus (2021), tetapi masih memenuhi syarat buku Material Medika Indonesia yaitu >5% (Depkes RI, 1989). Menurut Gaman dan Sherington (1992), penetapan kadar sari yang larut dalam air dan etanol dilakukan untuk mengetahui adanya zat berkhasiat yang terdapat dalam pelarut yang digunakan.

Semakin tinggi kadar yang dihasilkan maka semakin tinggi zat berkhasiatnya.

57 4.5 Hasil Ekstraksi Simplisia Daun Gaharu

Hasil ekstraksi dari 200 gram serbuk simplisia daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) menggunakan etanol 96% sebanyak 2 L secara maserasi, maserat kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 40º-60ºC sampai sebagian besar pelarutnya menguap, lalu dilanjutkan proses penguapan di atas penangas air sampai terbentuk ekstrak kental berwarna kehitaman sebanyak 33 g dengan hasil nilai randemen sebesar 35%.

Pada penelitian ini digunakan pelarut etanol 96% karena merupakan pelarut yang aman digunakan dalam obat-obatan, sesuai dengan lisensi badan POM. Etanol juga memiliki polaritas yang tinggi sehingga dapat mengekstrak bahan lebih banyak dibandingkan jenis pelarut lain (Ditjen POM, 2000).

4.6 Hasil Karakterisasi Ekstrak Daun Gaharu dan Minyak Biji Kemiri

Hasil pemeriksaan karakterisasi ekstrak daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dapat dilihat pada Tabel 4.4. Hasil perhitungan pemeriksaan karakterisasi ekstrak daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan dapat dilihat pada Lampiran 11.

Tabel 4.4 Hasil Karakterisasi Ekstrak Daun Gaharu

No. Pemeriksaan Hasil

Penelitian Sebelumnya (Stefanus, 2021)

1. Penetapan Kadar Air 9,88% 5,99%

2. Penetapan Kadar Abu Total 0,81% 0,87%

3. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam 0,67 % 0,61 % Hasil pemeriksaan karakterisasi penetapan kadar air dari ekstrak etanol daun gaharu yaitu 9,88%, dimana hasil memenuhi syarat penetapan kadar air yaitu tidak melebihi 10% (Ditjen POM, 1995). Kandungan air yang tinggi dapat

58

menyebabkan ketidakstabilan pada simplisia maupun ekstrak, bakteri dan jamur akan cepat tumbuh dan bahan aktif yang terkandung didalamnya dapat terurai.

Kadar air yang melebihi persyaratan dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme seperti jamur. Batas kadar air minimal yang dikandung ekstrak akan berpengaruh terhadap lama penyimpanan sebelum ekstrak digunakan (Nasution, dkk., 2015).

Uji kadar abu dilakukan untuk melihat kandungan mineral internal dan eksternal sebagai pengaruh proses pengolahan dari awal hingga terbentuknya ekstrak. Semakin tinggi kadar abu menyatakan kadar mineral bahan yang semakin tinggi. Prosedur uji kadar abu yang dilakukan yaitu sesuai prosedur berdasarkan buku Material Medika Indonesia, didapatkan kadar abu ekstrak etanol daun gaharu yaitu sebesar 0,81%, yaitu memenuhi standar. Kadar abu tak larut asam ekstrak etanol daun gaharu sebesar 0,67%, yaitu memenuhi standar dan tidak berbeda jauh dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Stefanus (2021).

Tabel 4.5 Hasil Karakterisasi Minyak Biji Kemiri

No. Pemeriksaan Minyak biji kemiri

1. Penetapan Kadar Air 1,31%

2. Penetapan Kadar Abu Total 2,07 %

3. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam 1,59%

Hasil pemeriksaan karakterisasi penetapan kadar air dari minyak biji kemiri yaitu 1,31%, dimana kadar air yang dihasilkan masih normal dan sesuai dengan SNI minyak kemiri yaitu 5%. Kadar air dalam minyak merupakan salah satu tolak ukur mutu minyak. Semakin rendah kadar air dalam minyak maka mutunya semakin baik (Sitepu, dkk., 2017). Kadar abu total sebesar 2,07% dan kadar abu tak larut asam sebesar 1,59%. Besarnya kadar abu dan kadar abu tak larut asam menandakan adanya pengotor yang terdapat pada minyak biji kemiri,

59

yang berasal dari debu dan pasir. Penetapan kadar abu total dan abu tak larut asam untuk minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) belum ada literatur yang mencantumkannya, sehingga belum mempunyai standarisasi.

4.7 Hasil Formulasi Serum Kosmetik dari Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Gaharu dan Minyak Biji Kemiri

Sediaan serum kosmetik dari kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri diformulasikan dengan memodifikasi formula serum pada penelitian yang dilakukan oleh Handayani, dkk., (2015).

Formula yang dimodifikasi yaitu penurunan konsentrasi karbopol dari 0,5% menjadi 0,3%. Penurunan karbopol menjadi 0,3% dikarenakan pada saat orientasi dengan menggunakan karbopol 0,5% didapatkan hasil sediaan yang masih kental sedangkan konsistensi yang diharapkan ialah semi cair. Karbopol akan membentuk gel yang stabil pada pH optimum 5-6.

Selanjutnya dimodifikasi Trietanolamin dari 1 gram menjadi 5 tetes, dikarenakan pada saat orientasi TEA 1 gram pH sediaan tidak memenuhi persyaratan pH fisiologis kulit, dan pada saat penambahan TEA 5 tetes pH yang didapatkan sudah memenuhi persyaratan. Pemberian trietanolamin ini dapat memberikan suasana basa (Tsabita, dkk., 2020). Penambahan TEA dimaksudkan sebagai pengatur pH yang diinginkan yaitu 4,5-6,5. Reaksi pada saat penambahan TEA adalah terjadinya penggumpalan yang ditandai dengan mengentalnya sediaan. Mekanisme yang terjadi adalah gugus COO- dari karbopol berikatan dengan TEA, sehingga membuat sediaan menjadi lebih kental. Hal ini disebabkan oleh pergeseran kesetimbangan karbopol yang dari bentuk asam setelah

60

mengembang dalam air menjadi bentuk garam ketika terkena TEA yang berifat basa (Christian, 2016).

Pada penelitian ini parafin cair digantikan dengan minyak biji kemiri, karena penggunaan parafin pada formula sebelumnya sebagai fase minyak dapat diganti dengan minyak biji kemiri dengan keunggulan yaitu sebagai emollient (pelembut), thickening agent (pengental). Konsentrasi minyak biji kemiri yang digunakan sebesar 2%, berdasarkan orientasi yaitu memberikan efek lembab dan halus pada kulit. Kelembapan dan kehalusan merupakan salah satu efek dari antioksidan (Yumas, 2016).

Penggunaan tween 60 dan span 60 menyebabkan bentuk sediaan serum berwarna putih yang menyebabkan bentuk tampilan visual yang kurang menarik ketika ditambahkan ekstrak etanol daun gaharu, sehingga penggunaan bahan ini diubah menjadi tween 80 agar diperoleh warna bening pada formula basis serum.

Tween 80 juga digunakan sebagai agen pengemulsi sediaan. Propilen glikol digantikan dengan sorbitol sebagai humektan karena sorbitol lebih mudah larut dengan basis serum.

Pada sediaan ditambahakan ekstrak etanol daun gaharu dengan konsentrasi 0,3%, 0,5%, dan 0,7%. Konsentrasi diperoleh melalui orientasi dan berdasarkan nilai IC50 sementara yang didapat dari penelitian sebelumnya yang kemudian dikonversikan kedalam bentuk persen. Kenaikan konsentrasi sebesar 0,2% dipilih berdasarkan hasil orientasi dengan pertimbangan bentuk visual dari sedian serum tidak terlalu pekat. Hasil sediaan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri bewarna kuning kehijauan dan beraroma parfum.

61 4.8 Hasil Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Serum 4.8.1 Hasil Penentuan Tipe Emulsi

Berdasarkan pengujian hasil yang dilakukan, serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri mempunyai tipe emulsi minyak dalam air (M/A) karena biru metil yang dapat terlarut dan memberikan warna yang homogen. Data penentuan tipe emulsi dapat dilihat pada Gambar 4.1 dibawah ini:

Gambar 4.1 Hasil Penentuan Tipe Emulsi

Dari hasil pengujian tipe emulsi diperoleh bahwa semua formula merupakan serum dengan tipe emulsi minyak dalam air (M/A) dibuktikan dari hasil warna biru metil yang segera terdispersi keseluruhan (Lachman, dkk., 1994).

4.8.2 Hasil Pemeriksaan Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan dengan cara sampel serum dioleskan sebanyak 50 mg pada gelas objek yang bersih, lalu diratakan, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979). Hasil pengamatan homogenitas dapat dilihat pada Gambar 4.2 dibawah ini:

F0 F1 F2 F3

62

Gambar 4.2 Hasil Uji Homogenitas

Dari uji homogenitas yang dilakukan pada sedian serum blanko dan serum kombinasi ekstrak daun gaharu dan minyak biji kemiri 0,3%, 0,5%, dan 0,7%

semua sediaan serum tidak terdapat butiran-butiran kasar pada objek gelas, maka sediaan serum dikatakan homogen.

4.8.3 Hasil Uji Stabilitas Fisik

Ketidakstabilan formulasi dapat dideteksi dalam beberapa hal dengan suatu perubahan dalam penampilan fisik, warna, bau, rasa, dan tekstur dari formulasi tersebut (Allen, dkk., 1989).

Hasil stabilitas sediaan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak kemiri yang dibuat dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak dan blanko yang dilakukan uji evaluasi selama 12 minggu (minggu ke-0, minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3, minggu ke-4, minggu ke-8 dan minggu ke-12) pada suhu kamar, diamati perubahan warna, bau, pemisahan fase, dan konsistensi sediaan. Hasil stabilitas sediaan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dapat dilihat pada Gambar 4.3 dibawah ini:

0% 0,3% 0,5% 0,7%

F0 F1 F2 F3

63

Gambar 4.3 Sediaan Serum Sebelum Penyimpanan 12 Minggu

Tabel 4.6 Data Organoleptis Sediaan Serum Sebelum Penyimpanan 12 Minggu

Gambar 4.4 Sediaan Serum Setelah Penyimpanan 12 Minggu Tabel 4.7 Organoleptis Sediaan Serum Setelah Penyimpanan 12 Minggu

Formula

Penampilan

Warna Bau Konsistensi

F0 Putih Tidak ada Agak kental

F1 coklat sedikit tengik Agak kental

F2 Coklat tua Sedikit tengik Agak kental

F3 Coklat tua Sedikit tengik Agak kental

Formula

Penampilan

Warna Bau Konsistensi

F0 Putih Tidak ada Agak kental

F1 Kuning kehijauan Bau khas bahan Agak kental F2 Kuning kehijauan Bau khas bahan Agak kental F3 Kuning kehijauan Bau khas bahan Agak kental

F0 F1 F2 F3

64

Tabel 4.8 Data Organoleptis Sediaan Serum Setelah Penyimpanan 12 Minggu

Keterangan: - : Tidak terjadi perubahan +: Terjadi perubahan

Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan bahwa uji stabilitas sediaan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) pada suhu kamar selama 12 minggu memberikan hasil stabil untuk 3 formula sampai minggu ke-8, namun pada minggu ke-12 ada perubahan warna menjadi lebih gelap dan terjadi perubahan bau menjadi sedikit tengik pada formula 1, formula 2, dan formula 3. Hal ini bisa disebabkan cara pengemasan dalam botol plastik selama penyimpanan, perubahan warna dan bau tengik yang terjadi karena udara yang masuk melalui celah botol plastik yang kurang rapat sehingga menyebabkan sediaan mengalami oksidasi.

Produk kosmetik seperti lotion, foundation, toner, dan serum sebaiknya dikemas dalam botol kosmetik kedap udara atau airless dispensers. Botol dengan sistem kedap udara akan meminimalisasi terjadinya oksidasi, bahan yang cocok untuk botol kosmetik kedap udara adalah akrilik (Putri, 2017).

Parameter Formula

65 4.8.4 Hasil Pengukuran pH

Penentuan pH sediaan dilakukan menggunakan pH meter. Dari percobaan yang diperoleh, hasil dapat dilihat pada Tabel 4.9 di bawah ini:

Tabel 4.9 Data Pengukuran pH Sediaan Serum

Keterangan: F0: Blanko (serum tanpa sampel)

F1: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,3% dan minyak penyimpanan 12 minggu pH yang diperoleh mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan pH pada saat sediaan selesai dibuat, semakin banyak konsentrasi ekstrak etanol daun gaharu yang ditambahkan kedalam sediaan serum Formula 1, formula 2, dan formula 3 maka pH semakin menurun atau semakin asam, karena pH dari ekstrak etanol daun gaharu yaitu 4 (asam). Penurunan pH juga terjadi karena bertambahnya lama waktu penyimpanan tetapi masih menunjukkan kisaran pH fisiologis kulit yaitu 4,5-6,5 (Tranggono dan Latifah, 2007). Dimana pH sediaan tidak boleh terlalu asam karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit, sedangkan jika pH terlalu basa dapat menyebabkan kulit bersisik (Sembiring, 2016).

66

Gambar 4.5 Grafik Pengukuran pH Sediaan Serum 4.8.5 Hasil Pengukuran Viskositas Sediaan Serum

Uji viskositas bertujuan untuk mengetahui perubahan nilai viskositas pada sediaan serum selama penyimpanan. Penentuan viskositas dilakukan menggunakan alat Viskometer Brookfield NDJ-8S. Perubahan nilai viskositas dapat disebabkan karena faktor lingkungan. Uji viskositas sediaan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dapat dilihat pada Tabel 4.10 dibawah ini:

Tabel 4.10 Data Pengukuran Viskositas Sediaan Serum

(mPa’s)

Keterangan: F0: Blanko (Serum tanpa sampel)

F1: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,3% dan minyak

67

Gambar 4.6 Grafik Pengaruh Waktu Penyimpanan Terhadap Viskositas Serum Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Gaharu dan Minyak Biji Kemiri.

Nilai viskositas serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri mengalami penurunan selama penyimpanan 12 minggu. Penurunan viskositas sediaan dipengaruhi oleh gelling agent yang digunakan yaitu karbopol.

Menurut Rowe, dkk., (2009), karbopol 940 diketahui mampu membentuk struktur matriks gel yang sempurna pada pH 7,7 sehingga penurunan pH sediaan dapat menurunkan viskositas sediaan dikarenakan adanya perubahan struktur matriks gel, keadaan ini disebut dengan sineresis, yaitu molekul air yang terjebak dalam matriks gel keluar dari matriks dan mengakibatkan menurunnya nilai viskositas selama penyimpanan.

Viskositas sediaan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) yang diperoleh berkisar antara 499-452 mPa.s sesuai dengan penelitian (Harimurti dan Hidayaturahmah, 2016) yaitu semakin lama penyimpanan maka nilai viskositas juga semakin menurun. Menurut Mardhiani, dkk., (2018), viskositas sediaan serum yang baik berada pada rentang 230-1150 mPa.s.

0 Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Viskositas Serum

68

4.8.6 Hasil Pengukuran Daya Sebar Sediaan Serum Tabel 4.11 Data Pengukuran Daya Sebar Sediaan Serum

Formula Waktu (menit) Beban (g)

Keterangan: F0: Blanko (Serum tanpa sampel)

F1: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,3% dan minyak memiliki rentang daya sebar dengan diameter 5,1-5,7; Formula I sebesar 5,8-5,9;

Formula II sebesar 6,0-6,3 dan Formula III sebesar 6,2-6,4. Uji daya sebar dilakukan untuk menjamin pemerataan serum saat diaplikasikan kekulit. Daya sebar yang baik antara 5-7 cm (Sayuti, 2015). Daya sebar dipengaruhi oleh viskositas, semakin tinggi viskositas maka diameter daya sebar sediaan akan semakin kecil (Shan dan Wicaksono, 2018). Gambar pengukuran daya sebar dapat dilihat pada Lampiran 32.

69

Gambar 4.7 Grafik Pengukuran Daya Sebar Sediaan Serum

4.9 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan Serum

4.9.1 Hasil Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Hasil uji aktivitas antioksidan serum kosmetik dari kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri diukur dengan metode pemerangkapan 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH). Pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/mL dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 516 nm. Panjang gelombang maksimum yang dipergunakan adalah pengukuran yang memberi serapan maksimum (Molyneux, 2004). Karena pada panjang gelombang tersebut perubahan serapan untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar. Gambar spectrum pengukuran maksimum larutan DPPH 40 µg/mL dalam metanol dapat dilihat pada Gambar 4.7 di bawah ini:

5.2 5.4 5.6 5.8 6 6.2 6.4 6.6

50 100 150

Diameter (cm)

Beban (g)

F0 F1 F2 F3

70

Gambar 4.8 Kurva Serapan DPPH 4.9.2 Hasil Penentuan Operating Time

Menit

Gambar 4.9 Pengukuran Operating Time DPPH dalam Metanol (40µg/mL) Pada gambar tersebut diperoleh hasil penentuan Operating Time yang menunjukkan bahwa nilai absorbansi stabil dengan penambahan pelarut metanol yaitu pada menit 30-34, hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur yaitu 30 menit (Molyneux, 2004).

0.97 0.972 0.974 0.976 0.978 0.98 0.982 0.984 0.986

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50 52 54 56 58 60

Series 1

71

4.9.3 Hasil Perhitungan Persen Peredaman Radikal Bebas DPPH

Pengujian aktivitas antioksidan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri pada menit ke-30 setelah penambahan reagen DPPH dengan konsentrasi masing-masing serum 10 µg/mL, 20 µg/mL, 30 µg/mL, 40 µg/mL, 50 µg/mL. Hasil pengujian aktivitas persen DPPH pada larutan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri dan vitamin C dapat dilihat pada Lampiran 29. Setelah didapatkan data % peredaman maka dibuat grafik antara konsentrasi dan % peredaman. Grafik peredaman DPPH terhadap ekstrak etanol daun gaharu, formulasi sediaan serum dan pembanding vitamin C dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.10 % Peredaman Radikal Bebas Ekstrak Etanol Daun Gaharu

33.23 44.37 54.61

79.71 80.12

0 20 40 60 80 100

10 20 30 40 50

% peredaman

Konsentrasi (µg/mL) Ekstrak Etanol Daun Gaharu

72

Gambar 4.11 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula 0

Gambar 4.12 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula I

Gambar 4.13 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula II

33.215

73

Gambar 4.14 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula III

Gambar 4.15 % Peredaman DPPH pada Vitamin C

Dari gambar 4.12, 4.13 dan 4.14 di atas dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya konsentrasi larutan uji maka aktivitas peredaman DPPH akan semakin meningkat dikarenakan semakin banyak DPPH yang berpasangan dengan larutan uji.

Perubahan warna ungu dari larutan DPPH setelah dicampur dengan sampel uji menjadi warna kuning. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) memiliki potensi sebagai antioksidan, mengandung golongan senyawa-senyawa yang mempunyai potensi

28.04

74

sebagai antioksidan umumnya merupakan senyawa flavonoida (Kumalaningsih, 2006).

4.9.4 Hasil Nilai IC50

Salah satu parameter yang digunakan untuk menafsirkan hasil dari metode DPPH adalah nilai dari IC50 . Nilai IC50 dari ekstrak, empat formula serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri dan vitamin C dapat dilihat pada Tabel 4.12 di bawah ini:

Tabel 4.12 Hasil Persamaan Regresi dan Nilai IC50 dari Sampel Uji dan Pembanding

Nilai IC50 merupakan besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam radikal bebas sebanyak 50%. Semakin Kecil nilai IC50 maka aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi (Ridho, 2013). Nilai IC50 diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier yang didapatkan dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, dimana konsentrasi larutan uji (ppm) sebagai basis (sumbu x) dan nilai persen peredaman sebagai ordinat (sumbu Y).

Larutan Uji Persamaan Regresi Koefisien Korelasi IC50 (µg/mL) Ekstrak

etanol daun gaharu

Y= 1,5722+9,3683 0,9683 25,8438 μg/mL

Formula 0 Y=0,0740+1,1216 0,9663 660,51 μg/mL

Formula I Y = 1,4635X + 8,8205 0,9719 28,1374 μg/mL Formula II Y = 1,4711X + 8,6438 0,9878 27,8096 μg/mL Formula III Y= 1,5722+9,3683 0,9353 26,6720 µg/mL

Vitamin C Y= 11,2235X + 0,922 0,999 4,37 µg/mL

75

Tabel 4.13 Kategori Nilai IC50 Vitamin C Sebagai Antioksidan

No Kategori Konsentrasi (µg/mL)

1 Sangat kuat <50

2 Kuat 50-100

3 Sedang 101-150

4 Lemah 151-200

5 Tidak aktif >500

(Utami, 2017).

Perbedaan angka antioksidan ekstrak etanol daun gaharu, ketiga formula sediaan serum, Vitamin C erat hubungannya dengan kandungan flavonoid.

Semakin banyak senyawa flavonoid yang terkandung maka semakin besar pula total aktivitas antioksidannya (Damar, dkk., 2014).

Hasil analisis IC50 menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun gaharu sebesar 25,8438 µg/mL yang dikategorikan antioksidan yang sangat kuat (<50 ppm) (Utami, 2017). Formula 0 atau formula basis sediaan serum sebesar 600,51 μg/mL, yang menunjukkan bahwa tidak adanya aktivitas antioksidan (600,51 >

500 ppm) (Utami, 2017). Formula I sebesar 28, 1374 µg/mL, formula II sebesar 27,8096 μg/mL, dan formula III sebesar 26,6720 µg/mL, yang dikategorikan antioksidan yang sangat kuat (Utami, 2017). Adanya perbedaan konsentrasi ekstrak yang ditambahkan ke dalam formulasi sediaan serum mempengaruhi aktivitas antioksidannya. Dari hasil yang diperoleh semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan semakin tinggi aktivitas antioksidannya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Widyasanti, dkk., (2016) yang menyatakan semakin besar konsentrasi maka semakin banyak kandungan antioksidan pada ekstrak yang dapat meredam aktivitas radikal bebas.

Vitamin C sebagai kontrol positif diperoleh nilai IC50 lebih besar dari pada sediaan serum yaitu sebesar 4,37 µg/mL. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin besar aktivitas antioksidannya (Widyasanti, dkk., 2016).

76 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat disimpulkan:

a. Kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dapat diformulasikan ke dalam sediaan serum yang hasilnya homogen dengan tipe emulsi minyak dalam air, pH 5,0-5,6, dan stabil untuk 3 formula sampai minggu ke-8, namun pada minggu ke-12 terdapat perubahan warna dan bau pada formula I, formula II dan formula III.

b. Sediaan serum kosmetik yang diformulasikan dari kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) memiliki efek antioksidan karena didapatkan nilai IC50 formula I (F1) sebesar 28,1374 µg/mL; formula II (F2) sebesar 27,8096 µg/mL; dan formula III (F3) sebesar 26,6720 µg/mL yang dikategorikan sebagai antioksidan yang sangat kuat. Aktivitas antioksidan yang paling kuat antara ketiga formula ditujukan oleh formula III yaitu sebesar 26,6720 µg/mL.

5.2 Saran

Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar memformulasikan sediaan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dengan menambahkan zat antioksidan pada sediaan seperti natrium metabisulfit dan

77

sediaan disimpan dalam wadah kedap udara berbahan akrilik agar sediaan tidak mengalami oksidasi.

78

DAFTAR PUSTAKA

Aghel, N., E., Moghimipour., dan A. Ameri. 2007. Characterization of an Anti-Dermatophyte Cream from Zataria Multiflora Boiss. Iranian Journal on

Aghel, N., E., Moghimipour., dan A. Ameri. 2007. Characterization of an Anti-Dermatophyte Cream from Zataria Multiflora Boiss. Iranian Journal on