BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Pembuatan Pereaksi
3.5.6 Pereaksi Mayer
3.5 Pembuatan Pereaksi
3.5.1 Pereaksi Asam Klorida 2N
Sebanyak 16,67 mL asam klorida pekat dilarutkan dalam air suling hingga Volume 100 mL (Ditjen POM, 1979).
3.5.2 Pereaksi Asam Sulfat 2 N
Sebanyak 5,4 mL asam sulfat pekat kemudian diencerkan dengan air suling hingga 100 mL (Ditjen POM, 1979).
3.5.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1%
Sebanyak 1 g besi (III) ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air secukupnya hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes RI, 1995).
3.5.4 Pereaksi Bouchardat
Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam 20 mL air suling, ditambahkan iodium sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 mL (Ditjen POM, 1995).
3.5.5 Pereaksi Dragendorff
Sebanyak 8 g bismut (III) nitrat dilarutkan dalam asam nitrat 20 mL kemudian dicampur dengan larutan kalium iodida sebanyak 27,2 g dalam 50 mL air suling. Diamkan campuran sampai memisah sempurna. Larutan jernih diambil dan diencerkan dengan air secukupnya hingga 100 mL (Depkes RI, 1980).
3.5.6 Pereaksi Mayer
Sebanyak 1,3 g merkuri (II) klorida dilarutkan dalam 60 mL air suling.
Kemudian pada wadah lain sebanyak 5 g kalium iodida dilarutkan dalam 10 mL air lalu campurkan keduanya dan ditambahkan air suling hingga 100 mL (Depkes RI, 1980).
36 3.5.7 Pereaksi Molish
Sebanyak 3 g alfa-naftol ditimbang, kemudian dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga volume 100 mL (Depkes RI, 1980).
3.5.8 Pereaksi Timbal (II) asetat 0,4M
Sebanyak 15,7 g timbal (II) asetat dilarutkan dalam air bebas karbondioksida hingga 100 mL (Ditjen POM, 1979).
3.6 Pemeriksaan Makroskopik Daun Gaharu dan Biji Kemiri
Pemeriksaan makroskopik dilakukan pada daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dengan mengamati bentuk, bau, warna dan rasa dari simplisia gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd).
3.7 Pemeriksaan Mikroskopik Daun Gaharu dan Biji Kemiri
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dilakukan dengan cara menaburkan serbuk simplisia di atas object glass yang telah ditetesi dengan kloralhidrat, dipanaskan di atas api bunsen, lalu ditutup dengan deck glass kemudian diamati di bawah mikroskop (Depkes RI, 2000).
37
3.8 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Daun Gaharu 3.8.1 Penetapan Kadar Air
Pemeriksaan kadar air daun gaharu dilakukan dengan metode destilasi toluen (Azeotropi).
1. Penjenuhan toluen
Sebanyak 200 mL toluen dan 2 mL air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudiaan toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 mL (WHO, 1998).
2. Penetapan kadar air
Sebanyak 5 g sampel yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat berisi toluen tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes perdetik sampai bagian air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluene.
Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar, setelah air dan toluen memisah sempurna volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.
Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 1998).
3.8.2 Penetapan Kadar Sari Larut Air
Sebanyak 5 g sampel dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL airkloroform (2,5 mL kloroform dalam air suling 1000 mL) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Diuapkan 20 mL filtrat sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan dalam oven pada suhu 105⁰C
38
hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar sari larut air (Depkes RI, 1995).
3.8.3 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
Sebanyak 5 g sampel dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol 96%
dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Diuapkan 20 mL filtrat sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan dalam oven pada suhu 105⁰C hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar sari larut air (Depkes RI, 1995).
3.8.4 Penetapan Kadar Abu Total
Sebanyak 2 g sampel ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijarkan perlahan-lahan pada suhu 550⁰C hingga arang habis, lalu didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Kemudian dihitung kadar abu total (WHO, 1998).
3.8.5 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
Abu yang telah diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, kemudian dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijarkan, didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar abu tidak larut asam (WHO, 1998).
39
3.9 Pemeriksaan Karakteristik Minyak Biji Kemiri 3.9.1 Pemeriksaan Kadar Air
Pemeriksaan kadar air minyak biji kemiri dilakukan dengan metode destilasi toluen (Azeotropi).
1. Penjenuhan toluen
Sebanyak 200 mL toluen dan 2 mL air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam, kemudiaan toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml (WHO, 1998).
2. Penetapan kadar air
Sebanyak 5 g minyak biji kemiri yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat berisi toluene tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes perdetik sampai bagian air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen.
Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar, setelah air dan toluen memisah sempurna volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.
Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 1998).
3.9.2 Penetapan Kadar Abu Total
Sebanyak 2 g sampel ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs dipijarkan perlahan-lahan pada suhu 550⁰C hingga arang habis, lalu didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Kemudian dihitung kadar abu total (WHO, 1998).
40
3.9.3 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
Abu yang telah diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, kemudian dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijarkan, didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap, kemudian dihitung kadar abu tidak larut asam (WHO, 1998).
3.10 Skrining Fitokimia Simplisia Daun Gaharu
Skrining fitokimia dilakukan pada serbuk simplisia daun gaharu dan ekstrak daun gaharu :
3.10.1 Alkaloida
Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit. Didinginkan dan disaring.
Filtrat dipakai untuk percobaan sebagai berikut:
a. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal bewarna putih atau kuning.
b. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.
c. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan merah atau jingga. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas (Depkes RI, 1995).
41 3.10.2 Flavonoida
Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 20 mL air panas, dididihkan selama 10 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 mL filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 mL asam klorida pekat dan 2 mL amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).
3.10.3 Tanin
Sebanyak 0,5 g sampel disari dengan 10 ml air suling kemudian disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 mL dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida. Jika terjadi warna hijau, biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).
3.10.4 Saponin
Sebanyak 0,5 g sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air panas, didinginkan kemudian dikocok selama 10 detik, jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan busa tersebut tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, maka hasil tersebut menunjukkan terdapatnya saponin (Depkes RI, 1995).
3.10.5 Steroid/Triterpenoid
Sebanyak 1 g sampel dimaserasi dengan 10 mL n-heksana selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap, pada sisa ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna biru atau hijau menunjukkan adanya steroid dan timbul warna merah, pink atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Farnsworth, 1966).
42 3.10.6 Uji Glikosida
Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 mL campuran etanol 95%
dengan air suling (7:3) dan 10 mL asam sulfat 2 N, lalu direfluks selama 1 jam, kemudian didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 mL air suling dan 25 mL timbal (II) asetat 0,4 M, lalu dikocok dan didiamkan 5 menit, kemudian disaring. Filtrat disari dengan 20 mL campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Lapisan air diambil kemudian ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molisch, ditambahkan hati -hati 2 mL asam sulfat pekat. Jika terbentuk cincin warna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (Depkes RI, 1995).
3.11 Skrining Fitokimia Minyak Biji Kemiri
Skrining fitokimia dilakukan pada serbuk simplisia daun gaharu dan ekstrak daun gaharu :
3.11.1 Alkaloida
Sebanyak 0,5 g sampel ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit. Didinginkan dan disaring.
Filtrat dipakai untuk percobaan sebagai berikut:
a. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal bewarna putih atau kuning.
b. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.
43
c. Sebanyak 3 tetes filtrat ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan merah atau jingga. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan diatas (Depkes RI, 1995).
3.11.2 Flavonoid
Skrining fitokimia dilakukan pada golongan flavonoid untuk membuktikan adanya senyawa fenolik dalam minyak biji kemiri yang berpotensi sebagai antioksidan. Uji flavonoid dilakukan dengan penambahan NaOH 2N pada 2 mL minyak kemiri yang telah dipanaskan di atas waterbath selama 2 jam perubahan warna kuning menjadi bening karena penambahan asam menunjukkan adanya flavonoid. Selain itu juga dibuktikan dengan penambahn NaOH dan HCl pada 2 mL minyak biji kemiri yang telah diuapkan selama 2 jam di atas waterbath menunjukkan adanya kuning atau orange menunjukkan adanya kandungan flavonoid (Sopoetro, 2020).
3.11.3 Tanin
Sebanyak 0,5 g sampel disari dengan 10 mL air suling kemudian disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 mL dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida. Jika terjadi warna hijau, biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).
3.11.4 Saponin
Sebanyak 0,5 g sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air panas, didinginkan kemudian dikocok selama 10 detik, jika terbentuk busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan busa tersebut tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, maka hasil tersebut menunjukkan terdapatnya saponin (Depkes RI, 1995).
44 3.11.5 Steroid/Triterpenoid
Sebanyak 1 g sampel dimaserasi dengan 10 mL n-heksana selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap, pada sisa ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna biru atau hijau menunjukkan adanya steroid dan timbul warna merah, pink atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Farnsworth, 1966).
3.11.6 Uji Glikosida
Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 mL campuran etanol 95%
dengan air suling (7:3) dan 10 mL asam sulfat 2 N, lalu direfluks selama 1 jam, kemudian didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 mL air suling dan 25 mL timbal (II) asetat 0,4 M, lalu dikocok dan didiamkan 5 menit, kemudian disaring. Filtrat disari dengan 20 mL campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Lapisan air diambil kemudian di tambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molisch, ditambahkan hati -hati 2 mL asam sulfat pekat. Jika terbentuk cincin warna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (Depkes RI, 1995).
3.12 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Gaharu
Berdasarkan Farmakope Herbal Edisi II (2017) pembuatan ekstrak etanol daun gaharu dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sebanyak 200 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam maserator, ditambahkan pelarut etanol 96% sebanyak 2 L. Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk, diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi, kemudian diulangi penyarian dengan etanol 96% sebanyak 1L. Hasil yang diperoleh dipekatkan
45
dengan rotary evaporator pada suhu 40º-60ºC sampai sebagian besar pelarutnya menguap dan dilanjutkan proses penguapan di atas penangas air sampai diperoleh ekstrak kental.
3.13 Formula Sediaan Serum
Formula acuan yang digunakan untuk basis serum dalam penelitian ini berdasarkan formula emulgel menurut Handayani, dkk., (2015).
R/ Carbopol 0,5
TEA 1
Methylparaben 0,06
Prophylparaben 0,03
Tween 60 5
Span 60 5
Paraffin Cair 5
Propilenglikol 10 Aquadest ad 100 ml
46
Formula F0: Blanko (serum tanpa sampel)
Formula F1: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,3% dan minyak biji kemiri 2%
Formula F2: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,5% dan minyak biji kemiri 2%
Formula F3: Serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu 0,7% dan minyak biji kemiri 2%
3.14 Pembuatan Sediaan Serum
Pembuatan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) yaitu ditimbang minyak biji kemiri, lalu dicampurkan dengan larutan sorbitol yang telah diukur menggunakan beaker glass, lalu diaduk hingga homogen menggunakan magnetic stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 30 menit (Fase minyak).
Dicampurkan metil paraben, propil paraben yang telah ditimbang, dan kemudian dilarutkan dengan aqua DM di atas Hotplate hingga larut sempurna.
Selanjutnya ditambahkan karbopol dan kemudian diaduk menggunakan stirrer hingga terbentuk basis gel.
47
Tween 80 yang telah diukur dimasukkan ke dalam beaker glass dan ditambahkan ekstrak etanol daun gaharu dan diaduk hingga homogen menggunakan stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 30 menit (Fase air).
Kemudian ditambahkan fase minyak ke dalam fase air dengan cara meneteskannya sedikit demi sedikit dengan menggunakan pipet tetes, hingga homogen dengan magnetic stirrer pada kecepatan 1500 rpm selama 15 menit pada suhu kamar. Kemudian dimasukkan basis gel secara perlahan-lahan sambil di stirrer sampai homogen.
3.15 Evaluasi Mutu Fisik
3.15.1 Pemeriksaan Tipe Emulsi
Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan cara meneteskan 1 tetes sediaan di atas gelas objek, ditambah 1 tetes metil biru, dicampur merata, jika terjadi warna biru homogen, maka tipe emulsi adalah minyak dalam air (M/A) (Putra dan Setyawan, 2014).
3.15.2 Pemeriksaan Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan cara sampel serum dioleskan sebanyak 50 mg pada gelas objek yang bersih (Aghel, dkk., 2007). Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979).
3.15.3 Uji Stabilitas Fisik
Pemeriksaan stabilitas fisik sediaan meliputi warna, aroma, tekstur dan sensasi dikulit dengan cara mengamati penampilan visual dan sensasi dikulit (Oktami, dkk., 2021). Uji stabilitas fisik diuji selama 12 minggu (minggu ke-0,
48
minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3, minggu ke-4, minggu ke-8 dan minggu ke-12) dengan penyimpanan disuhu kamar (Farhamzah dan Indrayati, 2019).
3.15.4 Pengukuran pH
Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar pH netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tissue. Sampel dilihat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dilarutkan dalam larutan 99 mL akuades. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditujukan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).
3.15.5 Viskositas
Pengujian viskositas dilakukan dengan menempatkan sampel dalam viscometer hingga spindel terendam. Spindel diatur dengan kecepatan 50 rpm.
Angka konstan yang ditunjukkan oleh viscometer merupakan nilai viskositas dari sediaan (Hasrawati, dkk., 2020).
3.15.6 Daya Sebar
Pengujian daya sebar dilakukan menggunakan kaca berbentuk kotak 20x20 cm dan 7x7 cm (Sasmiyandri, dkk, 2019). Di atas serum diletakkan bahan transparan lain dan pemberat sehingga berat kaca bulat dan pemberat 150 gram, didiamkan selama 1 menit, kemudian dicatat diameter penyebarannya (Sayuti, 2015).
49
3.16 Pengujian Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH
Metode pengujian antioksidan yang digunakan yaitu radikal bebas 1,1- diphenyl-2 picrylhidrazyl (DPPH). Serum digunakan sebagai sampel uji dan vitamin C digunakan sebagai pembanding.
3.16.1 Pembuatan Larutan Induk Baku DPPH 0,5mM
Sebanyak 10 mg serbuk DPPH dilarutkan dengan metanol hingga 50 mL.
Diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 200 μg/mL (Molyneux, 2004).
3.16.2 Pembuatan Larutan Blanko
Sebanyak 1 mL larutan DPPH 0,5mM dipipet kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 mL, dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40 μg/mL).
3.16.3 Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum DPPH
Larutan DPPH konsentrasi 40 μg/mL dihomogenkan diukur absorbansi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang gelombang 400-800 nm (Molyneux, 2004).
3.16.4 Penentuan Waktu Kerja (Operating Time)
Larutan DPPH konsentrasi 40 μg/mL diukur serapannya untuk menentukan operating time larutan DPPH dalam metanol sampai menit ke-60.
3.16.5 Pembuatan Larutan Induk Baku Ekstrak Etanol Daun Gaharu
Sebanyak 25 mg ekstrak dilarutkan dengan methanol hingga 50 mL.
Diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 200 μg/mL (Molyneux, 2004).
50
3.16.6 Pembuatan Larutan Induk Baku Serum Kosmetik 0,3%
Sebanyak 8,33 g serum kosmetik dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan ekstrak dengan konsentrasi 1000 μg/mL.
3.16.7 Pembuatan Larutan Induk Baku Serum Kosmetik 0,5%
Sebanyak 5 g serum kosmetik dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan ekstrak dengan konsentrasi 1000 μg/mL.
3.16.8 Pembuatan Larutan Induk Baku Serum Kosmetik 0,7%
Sebanyak 3,57 g serum kosmetik dilarutkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan ekstrak dengan konsentrasi 1000 μg/mL.
3.16.9 Pembuatan Larutan Uji Serum Kosmetik
Sebanyak 0,05 mL; 0,1 mL; 1,5 mL; 2,0 mL, dan 2,5 mL larutan induk dipipet dan ditambahkan 1 mL larutan induk DPPH kemudian ditambahkan metanol hingga 5 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi masing-masing 10 μg/mL; 20 μg/mL; 30 μg/mL, 40 μg/mL dan 50 μg/mL. Diinkubasi selama 30 menit dan diukur absorbansi masing-masing konsentrasi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang maksimum 516 nm.
3.16.10 Pembuatan Larutan Induk Baku Vitamin C
Sebanyak 25 mg vitamin C dilarutkan dalam labu tentukur 25 mL lalu dicukupkan dengan metanol hingga 25 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 1000 μg/mL.
51 3.16.11 Pembuatan Larutan Uji Vitamin C
Sebanyak 2 mL; 4 mL; 6 mL; 8 mL; dan 10 mL diambil dari masing-masing larutan vitamin C, ditambahkan sebanyak 2 mL dari larutan induk DPPH (konsentrasi 200 μg/mL) kemudian ditambahkan metanol hingga 10 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi masing-masing 2 μg/mL; 4 μg/mL; 6 μg/mL;
8 μg/mL dan 10 μg/mL. Diinkubasi selama 30 menit dan diukur absorbansi masing-masing konsentrasi larutan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh.
3.16.12 Penentuan Persen Peredaman Radikal Bebas DPPH
Penentuan persen peredaman radikal bebas DPPH oleh ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dihitung menggunakan rumus (Molyneux, 2004).
Aktivitas Peredaman (%) = Abs.kontrol – Abs.sampel
Abs.kontrol x100 % 3.16.13 Penentuan Nilai IC50
Penentuan hasil metode peredaman DPPH adalah dengan menghitung IC50
nilai ini menunjukkan bahwa sampel uji dapat menyebabkan peredaman sebanyak 50% dari aktivitas DPPH, hal ini dapat dilihat juga dari perubahan warna dari sampel uji yang berwarna ungu pekat ketika ditambahkan DPPH akan berubah menjadi kekuningan. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi sampel (μg/mL) sebagai absis (sumbu x) dan nilai persen aktivitas peredaman sebagai ordinat (sumbu Y) (Molyneux, 2004).
52 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan
Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa sampel adalah benar daun gaharu jenis (Aquilaria malaccensis Lam.) termasuk dalam suku Thymelaeceae dan sampel biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) termasuk dalam suku Euphorbiaceae.
4.2 Hasil Karakteristik Simplisia 4.2.1 Pemeriksaan Makroskopik
Hasil pemeriksaan makroskopik daun gaharu berbentuk bundar telur-lonjong, tipis, tidak berbulu, ukuran 5-14 x 2,5-5 cm, ujung lancip, pangkal lancip, tirus, tumpul, tepi bergelombang, warna daun hijau tua, permukaan bawah hijau terang (Susilo, dkk., 2014). Dan hasil pemeriksaan makroskopik biji kemiri adalah biji kemiri berbentuk bulat telur dengan rata-rata panjang 3 cm dan lebar 2,5 cm. Kulit biji kemiri bertekstur keras dan kasar dengan tebal 2,5 mm. Biji dan kulitnya sulit untuk dipisahkan karena saling menempel kuat. Daging biji kemiri bewarna putih dan mengandung minyak (Yulianti dan Kurniawati, 2004).
Kandungan minyak pada biji kemiri sekitar 55-56% (Tanaka, 2012).
53 4.2.2 Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan dilakukan terhadap simplisia daun gaharu dan serbuk biji kemiri. Hasil pemeriksaan mikroskopik simplisia daun gaharu menunjukkan adanya rambut penutup, stomata, jaringan palisade dan pembuluh kayu bentuk spiral. Hasil pemeriksaan serbuk biji kemiri menunjukkan adanya tetes minyak dan kristal kalsium oksalat.
4.3 Hasil Skrining Fitokimia 4.3.1 Hasil Skrining Daun Gaharu
Hasil skrining fitokimia terhadap simplisia daun gaharu dan ekstrak daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia dan Ekstrak Daun Gaharu
No. Golongan Hasil Hasil
1. Alkaloid - -
2. Flavonoid + +
3. Saponin + +
4. Steroid/triterpenoid + +
5. Tanin + +
6. Glikosida + +
Keterangan: (+) Positif : Mengandung golongan senyawa (-) Negatif: Tidak mengandung golongan senyawa
Pada Tabel 4.1 di atas menyatakan bahwa serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam) memiliki kandungan metabolit sekunder yaitu flavonoid, saponin, steroid/triterpenoid, tanin dan glikosida.
Pengamatan komponen fitokimia terhadap serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) didasarkan dengan adanya perubahan hasil reaksi. Adanya senyawa flavonoid ditandai dengan timbulnya warna jingga pada lapisan amil alkohol, adanya senyawa saponin ditandai dengan
54
adanya buih setinggi 1 cm yang terbentuk, adanya senyawa glikosida ditandai dengan terbentuknya cincin ungu pada uji glikon, adanya senyawa tanin ditandai dengan timbulnya warna hijau kehitaman dan adanya senyawa steroid/triterpenoid ditandai dengan timbulnya warna merah ungu dan lama kelamaan menjadi biru kehijauan.
4.3.2 Hasil Skrining Minyak Biji Kemiri
Hasil skrining fitokimia terhadap minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Skrining Fitokimia Minyak Biji Kemiri
No. Golongan Hasil
1. Alkaloid -
2. Flavonoid +
3. Saponin -
4. Steroid/triterpenoid -
5. Tanin -
6. Glikosida -
Keterangan: (+) Positif : Mengandung golongan senyawa (-) Negatif: Tidak mengandung golongan senyawa
Pada Tabel 4.2 di atas menyatakan bahwa minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) memiliki kandungan metabolit sekunder yaitu flavonoid, yang menunjukkan warna kuning/orange dengan penambahan NaOH dan HCl Pada 2 mL minyak biji kemiri yang telah diuapkan selama 2 jam di atas waterbatch (Sepoetro, 2020).
4.4 Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Gaharu
4.4 Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Gaharu