BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.9 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan Serum
4.9.1 Hasil Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Hasil uji aktivitas antioksidan serum kosmetik dari kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri diukur dengan metode pemerangkapan 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH). Pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/mL dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 516 nm. Panjang gelombang maksimum yang dipergunakan adalah pengukuran yang memberi serapan maksimum (Molyneux, 2004). Karena pada panjang gelombang tersebut perubahan serapan untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar. Gambar spectrum pengukuran maksimum larutan DPPH 40 µg/mL dalam metanol dapat dilihat pada Gambar 4.7 di bawah ini:
5.2 5.4 5.6 5.8 6 6.2 6.4 6.6
50 100 150
Diameter (cm)
Beban (g)
F0 F1 F2 F3
70
Gambar 4.8 Kurva Serapan DPPH 4.9.2 Hasil Penentuan Operating Time
Menit
Gambar 4.9 Pengukuran Operating Time DPPH dalam Metanol (40µg/mL) Pada gambar tersebut diperoleh hasil penentuan Operating Time yang menunjukkan bahwa nilai absorbansi stabil dengan penambahan pelarut metanol yaitu pada menit 30-34, hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur yaitu 30 menit (Molyneux, 2004).
0.97 0.972 0.974 0.976 0.978 0.98 0.982 0.984 0.986
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50 52 54 56 58 60
Series 1
71
4.9.3 Hasil Perhitungan Persen Peredaman Radikal Bebas DPPH
Pengujian aktivitas antioksidan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri pada menit ke-30 setelah penambahan reagen DPPH dengan konsentrasi masing-masing serum 10 µg/mL, 20 µg/mL, 30 µg/mL, 40 µg/mL, 50 µg/mL. Hasil pengujian aktivitas persen DPPH pada larutan serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri dan vitamin C dapat dilihat pada Lampiran 29. Setelah didapatkan data % peredaman maka dibuat grafik antara konsentrasi dan % peredaman. Grafik peredaman DPPH terhadap ekstrak etanol daun gaharu, formulasi sediaan serum dan pembanding vitamin C dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 4.10 % Peredaman Radikal Bebas Ekstrak Etanol Daun Gaharu
33.23 44.37 54.61
79.71 80.12
0 20 40 60 80 100
10 20 30 40 50
% peredaman
Konsentrasi (µg/mL) Ekstrak Etanol Daun Gaharu
72
Gambar 4.11 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula 0
Gambar 4.12 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula I
Gambar 4.13 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula II
33.215
73
Gambar 4.14 % Peredaman Radikal Bebas Sediaan Serum Formula III
Gambar 4.15 % Peredaman DPPH pada Vitamin C
Dari gambar 4.12, 4.13 dan 4.14 di atas dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya konsentrasi larutan uji maka aktivitas peredaman DPPH akan semakin meningkat dikarenakan semakin banyak DPPH yang berpasangan dengan larutan uji.
Perubahan warna ungu dari larutan DPPH setelah dicampur dengan sampel uji menjadi warna kuning. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) memiliki potensi sebagai antioksidan, mengandung golongan senyawa-senyawa yang mempunyai potensi
28.04
74
sebagai antioksidan umumnya merupakan senyawa flavonoida (Kumalaningsih, 2006).
4.9.4 Hasil Nilai IC50
Salah satu parameter yang digunakan untuk menafsirkan hasil dari metode DPPH adalah nilai dari IC50 . Nilai IC50 dari ekstrak, empat formula serum kombinasi ekstrak etanol daun gaharu dan minyak biji kemiri dan vitamin C dapat dilihat pada Tabel 4.12 di bawah ini:
Tabel 4.12 Hasil Persamaan Regresi dan Nilai IC50 dari Sampel Uji dan Pembanding
Nilai IC50 merupakan besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam radikal bebas sebanyak 50%. Semakin Kecil nilai IC50 maka aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi (Ridho, 2013). Nilai IC50 diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier yang didapatkan dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, dimana konsentrasi larutan uji (ppm) sebagai basis (sumbu x) dan nilai persen peredaman sebagai ordinat (sumbu Y).
Larutan Uji Persamaan Regresi Koefisien Korelasi IC50 (µg/mL) Ekstrak
etanol daun gaharu
Y= 1,5722+9,3683 0,9683 25,8438 μg/mL
Formula 0 Y=0,0740+1,1216 0,9663 660,51 μg/mL
Formula I Y = 1,4635X + 8,8205 0,9719 28,1374 μg/mL Formula II Y = 1,4711X + 8,6438 0,9878 27,8096 μg/mL Formula III Y= 1,5722+9,3683 0,9353 26,6720 µg/mL
Vitamin C Y= 11,2235X + 0,922 0,999 4,37 µg/mL
75
Tabel 4.13 Kategori Nilai IC50 Vitamin C Sebagai Antioksidan
No Kategori Konsentrasi (µg/mL)
1 Sangat kuat <50
2 Kuat 50-100
3 Sedang 101-150
4 Lemah 151-200
5 Tidak aktif >500
(Utami, 2017).
Perbedaan angka antioksidan ekstrak etanol daun gaharu, ketiga formula sediaan serum, Vitamin C erat hubungannya dengan kandungan flavonoid.
Semakin banyak senyawa flavonoid yang terkandung maka semakin besar pula total aktivitas antioksidannya (Damar, dkk., 2014).
Hasil analisis IC50 menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun gaharu sebesar 25,8438 µg/mL yang dikategorikan antioksidan yang sangat kuat (<50 ppm) (Utami, 2017). Formula 0 atau formula basis sediaan serum sebesar 600,51 μg/mL, yang menunjukkan bahwa tidak adanya aktivitas antioksidan (600,51 >
500 ppm) (Utami, 2017). Formula I sebesar 28, 1374 µg/mL, formula II sebesar 27,8096 μg/mL, dan formula III sebesar 26,6720 µg/mL, yang dikategorikan antioksidan yang sangat kuat (Utami, 2017). Adanya perbedaan konsentrasi ekstrak yang ditambahkan ke dalam formulasi sediaan serum mempengaruhi aktivitas antioksidannya. Dari hasil yang diperoleh semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan semakin tinggi aktivitas antioksidannya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Widyasanti, dkk., (2016) yang menyatakan semakin besar konsentrasi maka semakin banyak kandungan antioksidan pada ekstrak yang dapat meredam aktivitas radikal bebas.
Vitamin C sebagai kontrol positif diperoleh nilai IC50 lebih besar dari pada sediaan serum yaitu sebesar 4,37 µg/mL. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin besar aktivitas antioksidannya (Widyasanti, dkk., 2016).
76 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat disimpulkan:
a. Kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dapat diformulasikan ke dalam sediaan serum yang hasilnya homogen dengan tipe emulsi minyak dalam air, pH 5,0-5,6, dan stabil untuk 3 formula sampai minggu ke-8, namun pada minggu ke-12 terdapat perubahan warna dan bau pada formula I, formula II dan formula III.
b. Sediaan serum kosmetik yang diformulasikan dari kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) memiliki efek antioksidan karena didapatkan nilai IC50 formula I (F1) sebesar 28,1374 µg/mL; formula II (F2) sebesar 27,8096 µg/mL; dan formula III (F3) sebesar 26,6720 µg/mL yang dikategorikan sebagai antioksidan yang sangat kuat. Aktivitas antioksidan yang paling kuat antara ketiga formula ditujukan oleh formula III yaitu sebesar 26,6720 µg/mL.
5.2 Saran
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar memformulasikan sediaan serum kosmetik kombinasi ekstrak etanol daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) dan minyak biji kemiri (Aleurites moluccanus (L.) Willd) dengan menambahkan zat antioksidan pada sediaan seperti natrium metabisulfit dan
77
sediaan disimpan dalam wadah kedap udara berbahan akrilik agar sediaan tidak mengalami oksidasi.
78
DAFTAR PUSTAKA
Aghel, N., E., Moghimipour., dan A. Ameri. 2007. Characterization of an Anti-Dermatophyte Cream from Zataria Multiflora Boiss. Iranian Journal on Pharmaceutical Sciences Spring. 3(2): Halaman 77-84.
Allen, L.V., Popovich, N.G. dan Ansel, H.C. 1989. Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System. Ninth Edition. Philadelhia:
Lippincot William & Wilkins. Halaman 274.
Aliska, V.T. 2018. Pengaruh Merek, Negara Asal (Country of Origin) dan Reputasi Merek Terhadap Sikap Konsumen Dalam Memilih Produk Kosmetik Korea Innisfree. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Jember.
Halaman 3.
Andini, T., Yusriadi., Yuliet. 2017. Optimasi Pembentuk Film Polivinil Alkohol dan Humektan Propilen Glikol pada Formula Masker Gel Peel Off Sari Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata Duchesne) Sebagai antioksidan.
Jurnal Farmasi Galenika. Vol.3(2). Halaman 168.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2010. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor: HK. 03.42.06.10.4556 Tahun 2010, Tentang Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta.
Costa, R. 2017. Delivery Systems For Cosmetics–From Manufacturing to The Skin of Natural Antioxidants. Powder Technology. Halaman 9.
Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid V1. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 297-307, 321, 325 dan 333-336.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Halaman 10-12
Dewi, M. 2010. Penggunaan Isopropyl Miristat Dalam Mikroemulsi Dapat Membuat Sediaan Menjadi Lebih Stabil. Skripsi. Jakarta Universitas Indonesia. Halaman 22.
Ditjen POM. 2000. Farmakope Indonesia. Jakarta: Depkes RI. Halaman 10-11.
Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Halaman 321-326, 333-337.
Elevitch , C.R. dan Manner, H. (2006). Traditional Tree Initiative: Species Profiles For Pacific Island Agroforestry. Hawai’i: Permanent Agriculture Resourch (PAR). Halaman 5.
Evifania, R,D., dan Apridamayanti, P., Sari, R. 2020. Uji Parameter Spesifik dan Nonspesifik Simplisia Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.).
Jurnal Cerebellum. Vol.6(1). Halaman 18-20.
Farhamzah dan indrayati, A. 2019. Formulasi, Uji Stabilitas Fisik dan Kompaktibilitas Produk Kosmetik Anti-Aging dalam Sediaan Serum Pudding. Pharma Xplore: Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi. Vol.(4)2.
Halaman 1-12.
Farnsworth, N.R. (1996). Biological and Phytochemical Screening of Plants.
Jurnal Of Pharmaceutical Science.Vol. 55(3). Halaman 225-276.
Gultom, R. 2017. Karakterisasi Minyak Biji Kemiri (Candlenut oil) Terhadap Pengaruh Penambahan Antioksidan Butil Hidroksi Toluene (BHT). Jurnal Ilmiah Farmasi Imelda. Vol.1(1). Halaman 1-2.
79
Harimurti, S dan Hidayaturahmah, R. 2016. Pengaruh Variasi Konsentrasi Karbomer Sebagai Gelling Agent Terhadap Viskositas dan pH Sediaan Gel Antiseptik Ekstrak Etanolik Daun Sirih Merah. FKIK. Vol.(1)5.
Halaman 1-8.
Haerani, A., Chaerunisa, A.Y., dan Subarnas, A. 2018. Artikel Tinjauan:
Antioksidan Untuk Kulit. Farmaka. Vol.16(2). Halaman 135-136.
Hanani, E., Abdul, M dan Ryany, S. 2005. Identifikasi Senyawa Antiksidan Dalam spons callyspongiasp dari Kepulauan Seribu. Makalah ilmu kefarmasian. ISSN: 1693-9883. Vol.2(3). Halaman 127-133.
Handayani, M., Mita, N., Ibrahim, A. 2015. Formulasi dan Optimasi Gel Carbopol 940 dan Trietanolamin Dengan Berbagai Variasi Konsentrasi. Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian ke-1. Halaman 55.
Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia Terjemahan dari Phytochemical Methods oleh Kosasi Padmawinata dan Iwang Soediro, Penerbit ITB. Bandung.
Halaman 47.
Has, D.H. 2017. Keamanan Teh Gaharu (Aquilaria malaccensis lamk.) Melalui Uji Toksisitas Skut Oral. Fakultas Kehutanan. Universitas Sumatera Utara.
Skripsi. Halaman 1-2.
Hasrawati, A., dkk. 2020. Pengembangan Ekstrak Etanol Limbah Biji Pepaya (Carica papaya L.) Sebagai Serum Anti Jerawat. Jurnal Fitofarmaka Indonesia. Vol. 7(1). Halaman 3.
Herman , F, T. 2010. Uji Aktivitas Radikal DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) Isolat Alfa Mangostin Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Skripsi. Halaman 8-10.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan Dari De Nuttige Platen Van Indonesia, 1950. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Jakarta, Indonesia. Halaman 4.
Izzati, M.K. 2014. Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Masker Peel-Off Ekstrak Etanol 50% Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.).
Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Jakarta. Halaman 13.
Kalangi, S. 2013. Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik (JBM). Vol.5(3). Halaman 1-9.
Ketaren, S. 2005. Minyak dan Lemak Pangan. Edisi Pertama. Jakarta: Universitas Indonesia. Halaman 6.
Kibbe, A.H. 2000. Hand book pharmaceutical card excipient 5 th. Edition pensylvania university of pharmacy.
Krisnawati., H., Kallio, M., dan Kanninen, M,. 2011. Alleurites moluccana (L.) Willd. Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas. Bogor: Center For International Forestry Research. Halaman 1-5.
Kumalaningsih, S. 2006. Antioksidan Alami Penangkal Radikal Bebas, Sumber Manfaat, Cara Penyediaan, dan Pengolahan. Surabaya: Trubus, Agrisarana. Halaman 8
Kurniawati, Azizah, Y. 2018. Karakteristik Sediaan Serum Wajah Dengan Variasi Konsentrasi Sari Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana) Terfermentasi Lactobacillus bulgaricus. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, Malang. Halaman 2.
Lumbantoruan, D., Rohanah, A., dan Rindang, A. 2014. Uji Pengaruh Suhu Pemanasan Biji Kemiri dengan Menggunakan Oil Press Tipe Ulir
80
Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak yang Dihasilkan. J. Rekayasa dan Pert., Vol.2(3). Halaman 95.
Martawijaya, A., dkk. 1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor, Indonesia. Halaman 9.
Mardhiani, Y.D., dkk. 2017. Formulasi dan Stabilitas Sediaan Serum dari Ekstrak Kopi Hijau (Coffea canephora var. robusta) Sebagai Antioksidan.
Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal. Vol.2(2). Halaman 21-22.
Molyneux, P. 2004. The Use of The Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrzyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Journal Of Science Technology, 26(2). Halaman 211-2019.
Muliyawan D., dan Suriana, N. 2013, A-Z tentang Kosmetika. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Halaman 17;267-269.
Nasution, P.A., Batubara, R., dan Surjanto. 2015. Tingkat Kekuatan Antioksidan dan Kesukaan Masyarakat Terhadap Teh Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) Berdasarkan Pohon Dan Induksi. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Muhammadiyah Jember. Halaman 3.
Nugraha, R., Batubara, R., dan Ginting, H. 2015. Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) Berdasarkan Umur Pohon.
vol 4(1). Halaman 1-9.
Oktami, E., Lestari, F dan Aprilia. 2021. Studi Literatur Uji Stabilitas Sediaan Farmasi Bahan Alam. Prosiding Farmasi. Vol.7(1). Halaman 74.
Oktoba, Z. 2018. Studi Etnofarmasi Tanaman Obat Untuk Perawatan dan Penumbuh Rambut Pada Beberapa Daerah DI Indonesia. Jurnal jamu Indonesia. Vol.3(3). Halaman 83.
Paimin, F.R. 1997. Kemiri; Budidaya dan Prospek Bisnis. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 5-6.
Parwata, I.M.O.A. 2016. Bahan Ajar Antioksidan. Bali: Universitas Udayana.
Halaman 10-11.
Prasetyaningati, D dan Rosyidah, I. 2019. Modul Pembelajaran Estetika.
Jombang: Icme Press. Halaman 3-5.
Prayudo, A. N., O. Novian, Setyadi, dan Antaresti. 2015. Koefisien Transfer Massa Kurkumin Dari Temulawak. Jurnal Ilmiah Widya Teknik. Vol.4(1).
Halaman 2.
Primadiati, R. 2001. Kecantikan, Kosmetika & Estetika, Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama. Halaman 2-3.
Putra, D.A dan Setyawan, I.E. 2014. Pengembangan Basis Cold Cream Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) yang Memenuhi Sifat Farmasetis. Media Farmasi. Vol. 11(2). Halaman 137.
Putri, M.E. 2019. Uji Kualitas Minyak Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd) Dengan Metode Pengepresan Menggunakan Variasi Temperature Dan Ukuran Biji. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Halaman 7.
Rawlins, E.A. 2003. Betley’s Textbook Of Pharmaceutics. Edisi Kedelapan Belas . London: Bailierre Tindall. Hal 335.
Ridho, E.A. 2013. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Buah Laktum (Cayratia trifolia) Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil).
Skripsi. Fakultas Kedokteran. Universitas Tanjung Pura. Halaman 13.
81
Rowe, R.C., Paul, J.S. dan Marian, E.Q. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed. Pharmaceutical Press. USA. Halaman 242-243.
Rowe, R.C., Paul, J.S. dan Sion C.O. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th Ed. Pharmaceutical Press. London. Halaman 32-33.
Rusmin. 2020. Formulasi dan uji mutu fisik sediaan lulur krim dari serum kemiri (Aleurites moluccana (L.) WILLD). Jurnal Kesehatan Yamasi Makasar.
Vol.4(1). Halaman 3-4.
Sari, A.N. 2015. Antioksidan Alternatif Untuk Menangkal Bahaya Radical Bebas Pada Kulit. Journal Of Islamic Science and Technology. Vol.1(1).
Halaman 63-64.
Sasidharan, S., Pyarry Joseph, P., dan Junise. 2014. Formulation and Evaluation of Fairness Serum Using Polyherbal Extracts, International Journal of Pharmacy, Vol.4(3).Halaman 2.
Sasmiyandri, B., Samsul, E., dan Inriyanti, N. 2019. Efektivitas Serum Lidah Buaya (Aloe vera) Terhadap Peningkatan Laju Pertumbuhan Rambut Dan Sun Protection. DOI. Halaman 82.
Sayuti, N.A. 2015. Formulasi Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.). Jurnal Kefarmasian Indonesia.
Vol.5(2). Halaman 76-77.
Sepoetro, M.L. 2020. Optimasi Carbomer 940 dan Parafin Cair pada Lotion Antioksidan Minyak Biji Wijen (Sesamum Indicum L.) dengan Metode Desain Faktorial. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Sanata Dharma.
Halaman 3.
Setiawan, F., Yunita, O., dan Kurniawan, A. 2018. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kayu Secang (Caesalpinia sappan) Menggunakan Metode DPPH, ABTS, dan FRAP. Media Pharmaceutical Indonesia. Vol.2(2).
Halaman 85-87.
Shan, W.Y dan Wicaksono, I.A. 2018. Artikel Tinjauan: Formulasi Gel Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana) dengan Variasi Konsentrasi Basis.
Farmaka. Vol.16(1). Halaman 108-115.
Sidiqque, B.M. 2011. Chemical Composition and Antioxidant Properties of Candlenut Oil Extracted by Supercritical Co2. Jurnal Of Food Sciences.
Vol.76(4). Halaman 535.
Silaban, S.F. 2013. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan. Halaman 7-8.
Sitepu, T.J., Rohana, A., dan Munir, A.R. 2017. Uji Diameter Puli pada Alat Pengempa Minyak Kemiri. J.Rekayasa Pangan dan Pert. Vol.5(3).
Halaman 603.
Stefanus, F. 2021. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Nanoemulgel Ekstrak Etanol Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.). Skripsi. Halaman 61.
Sulistyo, A. 2010. Pengembangan Teknologi Produk Gaharu Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor. Halaman 7.
Sumarna, Y. 2008. Beberapa Aspek Ekologi, Populasi Pohon, dan Permudaan Alam Tumbuhan Penghasil Gaharu Kelompok Karas (Aquilaria spp.) DiWilayah Provinsi Jambi. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam.
Vol.5(1). Halaman 94.
82
Sumarna, Y. 2008. Budidaya dan Rekayasa Produksi Gaharu Temu Pakar Pengembangan Gaharu. Direktoral Jendral RLPS . Jakarta. Skripsi.
Halaman 1-2.
Sumarna, Y. 2002. Budidaya Gaharu. Swadaya. Jakarta: Direktoral Jendral RLPS. Halaman 6.
Surini , S., Mubarak, H., dan Ramadon, D. 2018. Cosmetic Serum Containing Grape (Vitis vinifera L.) Seed Extract Phytosome: Formulation and in vitro Penetration Study. J Young Pharm. Vol.10(2) Halaman 51-55.
Susilo, A., Kalima, T dan Santoso, E. 2014. Panduan Lapangan Pengenalan Pohon Penghasil Gaharu Aquilaria spp. Di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan dan Rehabilitasi International Tropical Timber Organization (ITTO)-CITES Phase II Project. Halaman 23.
Tabri, F dan Angreni, A, R. 2016). Tatalaksana Bercak Hitam Pada Kulit Anak.
Makassar: Al Hayaatun Mufidah. Halaman 1.
Tiwari, P., Kumar, B., Kaur, M., Kaur, G.H. 2011. Phytochemical Screening and Extraction: A review. International Pharmaceutical Sciencia. Vol.1(1).
Halaman 9-10.
Tranggono, Iswari, R, Latifah, dan Fatmah. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Halaman 1-13.
Troy, D.B., dan Beringer, P. 2006. Remington’s Pharmaceutical Sciences 21st Ed.
Massachusetts: Academic Press. Halaman 724.
Utami, M.R., dan Ardiyanti, Y. 2019. Analisis Aktivitas Toksisitas Beberapa Minyak Atsiri Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test. Journal Of Holistic and Healt Sciences. Vol.3(1). Halaman 18.
Ulfah, T., dan Siti, S. 2018. Pengaruh Perbandingan Minyak dan Ampas Biji Kemiri (Aleurites moluccana L. Willd) Terhadap Hasil Jadi Kosmetik Eyebrow Pomade. E-Journal. Vol.7(2). Halaman 16.
Werdhasari, A. 2014.Peran Antioksidan Bagi Kesehatan. Jurnal Biotek Medisiana Indonesia. Vol.3(2). Halaman 3.
Widyasanti, A., Rohdiana, D., dan Ekatama, N. 2016. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Teh Putih (Camellia sinensis) Dengan Metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrilhidrazil). Fortech. Vol.1(1). Halaman 1-9
Winarsi, Hery. 2007. Antioksidan Alami dan Radical Bebas. Kanisius, Yogyakarta. Halaman 83.
Windyaswari, Ari sri., dkk. 2017. Telaah Fitokimia Kulit Batang Kemiri (Aleurites muccana L.) UNJANI. Bandung. Halaman 3-4.
83 LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Hasil Identifikasi Tanaman Gaharu
84 Lampiran 2. Surat Hasil Identifikasi Biji Kemiri
85
Lampiran 3. Gambar Simplisia dan Ekstrak Daun Gaharu
Simplisia daun gaharu
Serbuk simplisia daun gaharu Ekstrak daun gaharu
86 Lampiran 4. Gambar Biji dan Minyak Kemiri
Biji kemiri
Ampas biji kemiri Minyak kemiri
87
Lampiran 5. Gambar Mikroskopik Simplisia Gaharu
Pembuluh kayu bentuk spiral
Jaringan palisade
Rambut penutup
88 Lampiran 6. Gambar Mikroskopik Biji Kemiri
Stomata anomositik
Kristal kalsium oksalat (roset)
Tetes minyak
89 Lampiran 7. Gambar Alat-alat yang Digunakan
Alat-alat gelas Heating mentle
Lumpang dan Alu Mikroskop
Rotary evaporator (Haake D) pH meter
90
Mesin Press ( srew press machine ) Tanur (neotherm)
Viscometer (NDJ-85)
91
Lampiran 8. Perhitungan Rendemen Ekstrak Daun Gaharu dan Minyak Biji Kemiri
Berat basah : 7000 gram Berat Simplisia : 2500 gram
Berat Ekstrak : 33 gram/ 200 gram
% Rendemen Simplisia = Berat simplisia
Berat Basah 𝑥 100%
= 2500 g
7000 g 𝑥 100%
= 35 %
% Rendemen Ekstrak = Berat ekstrak yang didapat
berat simplisia yang diekstraksi 𝑥 100%
= 33 g
200 g 𝑥 100%
= 16,5 %
% Randemen minyak
1. 886 g = hasil : 322 g = 322 g
886 g 𝑥 100% = 36,34%
2. 805 g = hasil : 265 g = 265 g
805 g 𝑥 100% = 32, 91%
Lampiran 9. Perhitungan Konversi Ekstrak ke Berat Daun Gaharu Berat basah : 7000 gram
Berat serbuk kering : 2500 gram Simplisia yang diektraksi : 200 gram Hasil ekstraksi : 33 gram Rendemen : 16,5 % 2500/200 x 33 g : 412,5 gram 3000 g berat basah : 412,5 gram
92
Lampiran 10. Karekterisasi Simplisia Daun Gaharu dan Ekstrak Daun Gaharu - Simplisia Daun Gaharu
a. Penetapan Kadar Air
b. Penetapan Kadar Sari Larut Air
% Kadar sari larut dalam air = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑟𝑖 (𝑔) Rata-rata Kadar sari larut air = 16,31+16,49+17,00
3 = 16,6%
93 c. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol % Kadar sari larut dalam etanol = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑟𝑖 (𝑔)
% Rata-rata Kadar sari larut etanol =14,16+13,47+13,66
3 = 13,76%
94
e. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
% Kadar abu tidak larut asam = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (𝑔)
- Ekstrak Etanol Daun Gaharu a. Perhitungan Kadar Air
95 f. Penetapan Kadar Abu Total
% Kadar abu total = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (𝑔)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑔) 𝑥 100%
No Berat sampel (g) Berat abu (g)
1 2,0042 0,0155
2 2,0157 0,0165
3 2,0170 0,0172
1. % Kadar abu =0,0155
2,0042 𝑥 100% = 0,77 % 2. % Kadar abu =0,0165
2,0157 𝑥 100% = 0,81 % 3. % Kadar abu =0,0172
2,0170 𝑥 100% = 0,85%
% Rata- rata kadar abu = 0,77+0,81+0,85
3 = 0,81 %
g. Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam
% Kadar abu tak larut asam = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (𝑔)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑔) 𝑥 100%
No Berat sampel (g) Berat abu (g)
1 2,0042 0,0126
2 2,0157 0,0137
3 2,0170 0,0151
1. % Kadar abu tak larut asam =0,0126
2,0042 𝑥 100% = 0,77 % 2. % Kadar abu tak larut asam =0,0137
2,0157 𝑥 100% = 0,81 % 3. % Kadar abu tak larut asam = 0,0137
2,0170 𝑥 100% = 0,85%
% Rata- rata kadar abu tak larut asam =0,62+0,67+0,74
3 = 0,67 %
96 Lampiran 11. Karekterisasi Minyak Biji Kemiri
a. Perhitungan Kadar Air
% kadar air = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟 (𝑚𝑙)
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑔)× 100%
No Berat sampel (g) Volume air (ml)
1 5,0560 0,1
2 5,0162 0,1
3 5,0190 0,0
1. Kadar air = 0,1 𝑚𝑙
5,0560𝑔× 100% = 1,97%
2. Kadar air = 0,1 𝑚𝑙
5,0162 𝑔× 100% = 1,97%
3. Kadar air = 0 𝑚𝑙
5,0190 𝑔× 100% = 0 %
% Rata-rata kadar air = 1,97% + 1,97% + 0 %
3 = 1,31 %
b. Penetapan Kadar Abu Total
No Berat sampel (g) Berat abu (g)
1 2,1070 2,8571
2 2,0811 0,4997
3 2,0359 2,8979
1. Kadar abu = 2,8571
2,1070 × 100% = 2,85%
2. Kadar abu = 0,4997
2,0811× 100% = 0,49%
3. Kadar abu = 2,8979
2,0359× 100% = 2,89%
% Rata-rata kadar abu = 2,85% + 0,49% + 2,89 %
3 = 2,07 %
97
c. Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam
% Kadar abu tak larut asam = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (𝑔)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑔) 𝑥 100%
No Berat sampel (g) Berat abu (g)
1 2,1070 0,033
2 2,0811 0,037
3 2,0359 0,042
4. % Kadar abu tak larut asam = 0,033
2,1070 𝑥 100% = 1,56%
5. % Kadar abu tak larut asam = 0,037
2,0811 𝑥 100% = 1,17 % 6. % Kadar abu tak larut asam = 0,042
2,0359 𝑥 100% = 2,06%
% Rata- rata kadar abu tak larut asam =1,56+1,17+2,06
3 = 1,59 %
Lampiran 12. Pembuatan Simplisia Daun Gaharu
Dibersihkan dari pengotor
Dicuci dengan air mengalir
Ditiriskan dan ditimbang
Dikering anginkan
Di serbukkan dengan cara diblender
Simplisia gaharu 200 gram
Serbuk Simplisia Daun Gaharu Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.)
98
Lampiran 13. Bagan Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Gaharu
Dimaserasi dalam 2 L etanol 96%
Direndam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk
Diamkan selama 18 jam
Dipisahkan maserat dengan cara filtrasi
Dimaserasi dalam 1 L etanol 96%
Direndam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk Diamkan selama 18 jam
Dipisahkan maserat dengan cara filtrasi
Dievaporasi ekstrak menggunakan rotary evaporator pada suhu 40°- 60°C
Diuapkan hasil evaporasi di atas penangas air sampai terbentuk ekstrak kental
200 g serbuk simplisia daun gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.)
Ekstrak Kental berwarna kehitaman sebanyak 33 g
Residu Maserat I
Maserat II Residu
99 Lampiran 14. Pembuatan Minyak Biji Kemiri
Dipisahkan dari cangkangnya
Di grinder agar lebih halus
Di press menggunakan compression
machine dengan metode pengepresan panas dengan suhu 80ºC
Ditampung dan kemudian diendapkan beberapa hari
Disaring dan disimpan dalam wadah tertutup
2 kg Biji Kemiri
Minyak biji kemiri
100
Lampiran 15. Bagan Penentuan Panjang Gelombang
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL
Dicukupkan menggunakan metanol hingga garis tanda
Dihomogenkan
Dipipet 1 mL
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 mL
Dicukupkan dengan metanol hingga garis tanda
Dihomgenkan
Diukur panjang gelombang 400-800 nm 10 mg Serbuk DPPH
Larutan Blanko DPPH 0,5 nM (Konsentrasi 200 µg/mL)
Larutan DPPH (Konsentrasi 40 µg/mL)
Panjang Gelombang Maksimum (516 nm)
101
Lampiran 16. Bagan Penentuan Waktu Kerja (Operating time)
Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer
UV-Visibel pada panjang gelombang 516 nm setiap 1 menit selama 60 menit
Diamati waktu larutan mulai menghasilkan absorbansi stabil
Lampiran 17. Bagan Pengujian Aktivitas Antioksidan Serum
Dipipet masing-masing 0,05; 0,1; 1,5; 2,0, dan 2,5
mL untuk mendapatkan konsentrasi 10;20;30;40, dan 50 µg/mL
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 mL
Ditambahkan 2 mL larutan DPPH
Dicukupkan dengan metanol hingga garis tanda, diinkubasi selama 30 menit
Diukur dengan spektrofotometer UV-Visibel dengan panjang maksimum 516 nm, diperoleh absorbansi
Dihitung persen peredaman
Dihitung IC50
Serum konsentrasi 0,3%; 0,5%; dan 0,7%
Nilai IC50
Larutan DPPH 40 µg/mL
Waktu kerja (30 menit)
102
Lampiran 18. Bagan Pengujian Aktivitas Antioksidan Vitamin C
Dimasukkan kedalam labu tentukur 25 mL
Dicukupkan dengan metanol hingga garis tanda
Dihomogenkan
Dipipet masing-masing 2; 4; 6; 8, dan 10 mL untuk mendapatkan konsentrasi 2; 4; 6; 8, dan 10 µg/mL
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 mL
Ditambahkan 2 mL larutan DPPH
Dicukupkan dengan metanol hingga garis tanda
Diinkubasi selama 30 menit
Diukur dengan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang maksimum
Dihitung persen peredaman
Dihitung nilai IC50
25 mg Serbuk Vitamin C
Larutan Induk Baku Vitamin C (Konsentrasi 100 µg/mL
Absorbansi
Nilai IC50
103 7000 g Daun Gaharu Basah
2500 g Daun Gaharu Kering
200 g Serbuk Simplisia
104
Lampiran 20. Gambar Uji Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Gaharu
Uji kadar abu Uji kadar abu tidak larut asam
Uji kadar sari larut etanol Uji kadar sari larut air
Uji kadar air
105
Lampiran 21. Gambar Uji Karakteristik Minyak Biji Kemiri
Uji kadar air
Uji kadar air Uji kadar abu
Kadar abu tak larut asam
Lampiran 22. Skrining Fitokimia Simplisia Daun Gaharu dan Minyak Kemiri - Daun Gaharu
Golongan senyawa kimia
Gambar Hasil
Alkaloid
(-)
Tanin
(+)
106 Flavonoid
(+)
Saponin
(+)
Steroid/triterpen
(+)
Glikosida
(+)
Keterangan: (+) = Ada (-) = Tidak ada