BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
4. Aparatur Sipil Negara (ASN)
a. Pengertian Apartur sipil Negara (ASN)
Dalam undang-undang nomor 5 tahun 2015, tentang Aparatur sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang dinaikkan oleh pejabat pemerintah atau diserahi tugas Negara lainya dan digaji berdasarkan peraturan undang-undang dasar. Pegawai negeri sipil yang disingkat PNS adalah warga Negara Indonesia yang telah memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai pegawai ASN secara tetap bagi pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan
a. Pegawai Negeri Sipil
Menggunakan logeman dengan standar yang bersifat memperhatikan hubungan antara pegawai negeri dengan memberikan pengertian pegawai negeri setiap pejabat yang mempunyai hubungan dinas dengan Negara. Pegawai negeri sipil, menurut kamus besar bahasa Indonesia , pegawai berarti “orang yang bekerja pada pemerintah” (perusahaan dan sebagainya) sedangkan negeri berarti Negara atau pemerintah, jadi pegawai negeri sipil adalah orang yang bekerja pada Negara atau pemerintah.
Pengertian pegawai menurut Mahfud M.D 1999, dalam buku hukum dan pilar-pilar demokrasi, terbagi dalam dua bagian yaitu pengertian ekstensif dan pengertian stipulatif ( perluasan pengertian).
1) Pengertian Stipulatif
Pengertian stipulatif berlaku saat pelaksanaan semua peraturan-peraturan kepegawaian, dan biasanya dalam pelaksanaan segala peraturan perundang-undangan,kecuali diberikan defenisi lain.
2) Pengertian Ektensif
Pegawai negeri yang berkaitan dengan pergantian stipulatif, ada sebagian golongan yang sebenarnya bukan pegawai negeri. Hak tersebut dalam hal terentu biasa dianggap sebagai dan di perlakukan sama dengan pegawai negeri, artinya di samping pengertian spitulatif ada pengertian yang hanya berlaku dalam hal-hal tertentu.
b. Prinsip Aparatur Sipil Negara (ASN)
Prinsip adalah suatu ungkapan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh kelompok/seseorang sebagai sebuah pedoman untuk berfikir atau bertindak. Di dalam undang-undang Nomor 5 tahun 2014 tentang aparatur sipil Negara mengenai prinsip ASN yang berperan sebagai perekat persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesaia dan sebagai profesi yang ditujukan untuk membentuk ASN yang mampu menyelenggarakan pelayanan publik. Prinsip ASN sebagai profesi telah dalam undang-undang Nomor 5 tahun 2014 tentang aparatur sipil negarapasal 3.
ASN sebagi profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut : a. Kode etik
b. Nilai dasar
c. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
d. Komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan publik e. Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas
f. Kualifikasi akademik, dan g. Profesionalitas jabatan
c. Nilai Dasar Aparatur Sipil Negara (ASN)
Dalam konsep Good Governance, ASN di tuntut memiliki equity, equality, loyality, dan accountility. Tidak cuma itu enam pokok integritas dalam birokrasi pemerintahan yaitu konsitensi, kedisiplinan, kejujuran, ketegasan, ,cinta profesi, dan prioritas profesi adalah bagian yang harus diresapi, dipahami, dan diaktualisasikan dalam kehidupan Apartaur Sipil Negara. Dalam mengembangkan keutamaan pelayanan bagi masyarakat maka harus ditanamkan nilai-nilai dasar kepada pegawai ASN supaya
mampu menghasilkan pegawai ASN yang memiliki integritas, netral, professional dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme serta dapat menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat. Untuk itu maka dalam undang-undang nomor 5 tahun 2014 pasal 4 yaitu :
a. Memegang teguh idiologi pancasila
b. Menjalankan tugas secara professional dan tidak berpihak c. Membuat kepututusan berdasarkna prinsip keahlian d. Mengabdi pada Negara dan rakyat Indonesia
e. Menciptakan ligkungan kerja yang non diskriminatif
f. Mempertanggung jawaban tindakan dan kinerjanya kepada publik
g. Setia dan mempertahankan undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta pemerintahan yang sah
h. Memelihara dan menunjang tinggi standar etika yang luhur
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, akutrat, tepat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun
j. Memiliki kemapuan dalam melaksankan kebijakan dan program pemerintah
k. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karier
l. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
m. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama
n. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi, dan Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai
d. Jabatan-jabatan Aparatur Sipil Negara (ASN)
Jabatan ASN terdiri atas : jabtan Administrasi, jabatan fungsional dan jabatan pimpinan tinggi.
a. Jabatan Administrasi, yaitu sekelompok jabatan yang berisi tugas dan fungsi berkaitan dengan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan. jabatan administrasi terdiri atas jabatan administrator, jabatan, jabatan pengawas, dan jabatan pelaksana.
b. Jabatan fungsional, yaitu sekelompok jabatan yang berisi funsi dan tugas yang berkaitan dengan pelayanan funsional dan berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. Jabatan funsional dalam ASN terdiri atas jabatan fungsional kahlian dan jabatan fungsional keterampilan.
c. Jabatan pemimpin tinggi yakni sekelompok jabatan tinggi pada instansi pemerintahan. Jabatan pemimpin tinggi tediri atas :
d. Jabatan pimpian tinggi utama meliputi kepala lembaga pemerintah non kementrian.
e. Jabatan pimpinan tinggi madya meliputi sekretaris jendral kementrian, sekretaris kementrian, sekretaris utama, sekretaris jendral kesekretariatan lembaga Negara, sekretaris jendral lembaga nonstruktual, direktur jendral, deputi, inspektur jenderal, inspektur utama, kepala badan, staf ahli mentri, kepala sekreteriat presiden, kepala sekreteriat wakil presiden sekreteriat militer presiden, sekretariat daerah provensi, dan jabatan lain setara.
f. Jabatan pimpinan tinggi pertama meliputi direktur, kepala biro asisten deputi, sekrertaris direktorat jenderal, sekretaris inspector jenderal,
sekretaris kepala badan, kepala pusat, inspektur, kepala balai besar asisten sekreteriat daerah provensi, secretariat daerah kabupaten/kota, kepala dinas, kepala badan provensi, sekreteriat dewan perwakilan rakyat daera, jabatan lain setara.
e. Manajemen ASN
Manajemen ASN dalam hal ini dimaksudkan sebagai pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang memiliki dasar, etika profesi, profesioanal, bersih dari praktek korupsi, bebas dari intervensi politik, kolusi, dan nepotisme. Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi Pembina ASN dan berwenang menetapkan pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pejabat, selain pejabat pimpinan tinggi utama serta funsional keahlian utama, kepada :
a. Menteri dan kementerian b. Pimpinan lembaga di LPNK
c. Sekretaris jenderal di sekretariat lembaga nagara dan lembaga non struktual
d. Gubernur di provinsi
e. Bupati/walikota kabupaten/kota.
Dalam undang-undang ASN nomor 5 tahun 2014 pasal 2 manajemen ASN berlandaskan pada asas :
a. Profesionalitas b. Netralitas
c. Efektif dan efesien d. Delegasi
e. Kapasitas hokum
f. Proporsionalitas g. Akuntabilitas h. Keterbukaan
i. Persatuan dan kesatuan j. Nondiskriminatif
k. Keterpaduan l. Kesejatraan
m. Keadilan dan kesejahteraan
Dalam konsep manajemen strategis sumber daya manusia, pendekatan yang disusun dalam undang-undang Aparatur Sipil Negara ini ialah pengembangan potensi human capital bukan pendekatan administrasi kepegawaian. Pada prinsipnya strategi manajemen sumber daya manusia adalah rumusan mendasar mengenai daya pendayagunaan sumber daya manusia sebagai usaha mempertahankan atau meningkatkan kemapuan terbaik (prima) melalui tenaga kerja yang dimilikinya. Dalam konteks undang-undang Aparatur Sipil Negara, konsep pengembangan human capital dapat dilihat dalam pasal 51 undang-undang ASN, didalam pasal tersebut menyatakan bahwa manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan merit system. Manajemen ASN sendiri dalam pasal 1 ayat 5 didefenisikan merupakan pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang professional, memiliki etika profesi, nilai dasar, bebas dari intervensi politik, bersih dari korupsi, dan nepotisme. Selanjutnya merit system dalam pasal 1 angka 22 didentifikasikan sebagai kebijakan dan manajemen SDM yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secra adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang
politik, ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, asal usul, umur, status pernikahan, atau kondisi kecacatan.