BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Efektivitas sistem mutasi di badan kepegawaian daerah kabupaten Luwu Utara diharapkan mampu menerapkan sistem yang ideal agar terwujudnya pegawai yang berkualitas. Adapun pembahasan secara rinci mengenai hal diatas maka indikator yang di pakai dalam Analisis Efektivitas Sistem Mutasi Aparatur Sipil Negara di Badan Kepegawaian daerah Kabupaten Luwu Utara selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut :
1. Pencapaian Target
Pencapaian target dalam hal ini diartikan sejauh mana penempatan target sesuai dengan penempatan pegawai sesuai dengan bidangnya. Berkaitan dengan mutasi maka dalam memutasikan pegawai harus sesuai dengan posisi pekerjaanya. Sehingga pegawai yang dimutasi dapat bekerja dengan baik dan efektif. Bagi pegawai yang dimutasi sesuai dengan bidang pekerjaanya akan mampu menghasilkan kinerja yang lebih optimal.
Berkaitan dengan pencapaian target dalam sistem mutasi maka dalam hal ini Kepala BKPSDM Kabupaten Luwu Utara beliau mengatakan bahwa :
“penempatan pegawai di Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia masih ada beberapa pegawai yang belum sesuai dengan kompetensinya tetapi disini berusaha untuk supaya nanti kedepannya penempatan pegawai lebih disesuaikan dengan latar belakang pendidikannya, dan disini juga kita menerima usulan bahwa instansi tersebut membutuhkan pegawai dengan strata S1 atau misalkan kita yang menyediakan dan mengirim pegawai tersebut kepada instansi yang membutuhkan, dan disini juga masih kurang sarana dan prasarana yang ada.”
Oleh karenanya peneiliti menyimpulkan bahwa sehubungan dengan hal di atas maka sesuai dengan observasi yang diilakukan bahwa pegawai di lingkup kabupaten Luwu Utara masih ada yang belum sesuai dengan latar belakang pendidikan. Namun, pemerintah Kabupaten luwu utara akan berusaha untuk memutasikan pegawai berdasarkan latar belakang Pendidikan.
Proses mutasi biasanya menghasilkan keluhan dari pegawai yang dimutasi. Keluhan tersebut biasanya di karenakan pegawai merasa keberatan untuk dimutasi. Seperti yang dikatakan oleh pegawai Bappeda dalam wawancara sebagai berikut :
’’Ada keluhanku, karena tidak sesuai dengan bidangku, merasaka kesulitan untuk menyesuaikan pekerjaan karena berbeda dengan bidangku sebelumnya, jadi menenurutku, karena saya sudah rasakan
mutasi itu lebih bagus kalau sesuai dengan bidang pekerjaan ta’’.
(Wawancara dengan CF, Senin 09 Agustus 2021)
Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa pegawai yang dimutasi ingin jika pekerjaannya sesuai dengan bidangnya agar tidak sulit dalam melakukan pekerjaan. Ketika mutasi dilakukan sesuai dengan bidang pekerjaan pegawai maka akan memberikan semangat sehingga mampu meningkatkan produktifitas dalam mengahasilkan kinerja yang lebih optimal.
Pada umumnya tujuan utama dalam pelaksanaan mutasi pekerjaan untuk melakukan perubahan pegawai baik dalam dirinya dan sikapnya. Akan tetapi kebanyakan mutasi sekarang dilakukan karena ada kepentingan baik individu maupun kelompok.
Selain dari hasil wawancara di atas mengenai keluhan pegawai setelah dimutasi. Menurut Kepala bagian mutasi Adapula pegawai yang tidak merasa keberatan jika di mutasi. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara berikut :
“ tidak ada keluhan dari PNS yang dipindahkan/mutasi dari satu tempat ke tempat yang lainya karena biasanya pegawai itu menerima begitu saja kalau mau di mutasi dan biasanya pegawai juga ada yang suka kalau dimutasi agar dapat menambah pengalaman yang baru”.(Wawancara dengan SH , Selasa 10 Agustus 2021)
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa ada beberapa pegawai yang tidak keberatan jika di mutasi. Mereka menerima saja tanpa mengeluh dan beberapa pegawai juga suka jika dimutasi karena dapat menambah wawasan dan pengalaman kerjanya.
Wawancara di atas di dukung pula dengan hasil wawancara yang lain berkaitan dengan pegawai yang setuju saja jika dimutasi. Adapun hasil wawancara dengan Kasub bidang mutasi yakni sebagai berikut :
“Tidak ada keluhan dari pegawai, biasanya mereka merasa mutasi itu sudah menjadi hal yang biasa di dalam kepegawaian. Mereka sah-sah saja menerima mutasi jadi pegawai merasa tidak keberatan dengan mutasi”. (Wawancara dengan HS, Rabu 10 Agustus 2021)
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa mutasi di dalam Aparatur Sipil Negara dianggap sudah menjadi hal yang biasa. Jadi wajar saja jika Sebagian pegawai tidak keberatan dengan adanya mutasi. Mutasi biasanya terjadi jika ada kegiatan pilkada.
Kemudian peneliti menanyakan bagaimana efektivitas sistem mutasi di BKD kabupaten Luwu Utara hasil wawancara yang sama dilakukan dengan Kasub bidang pengembangan karier dan promosi yakni sebagai berikut :
Bersangkutan dengan hal di atas maka peneliti menanyakan pegawai yang berada di Kantor Camat Mappedeceng
Menurut bapak Saenuddin mantan pegawai di Kantor camat Mappedeceng bahwa
“mutasi itu bertujuan untuk mencapai kemajuan. Munggkin karena adanya pelayanan kerja kepada rekan tidak sesuai dengan harapan pegawai. Kalau dia orang baru tentu dia kurang memahami karakter orang-orang di sekelilingnya.
Agar tujuan mutasi itu berjalan dengan efektif maka pegawai harus sesuai dengan bidangya dan kualitas orang tersebut mampu mengerjakan segala sesuatu yang sesuai dengan kepentingan umum”,(wawancara Rabu 10 Agustus 2021).
Adapun hasil wawancara berikutnya yang bersangkutan dengan hal di atas sebagai berikut.
“Tidak ada keluhan selama pelaksanaan mutasi jabatan dalam periode kepemimpinan Bupati,Hj. Indah Putri Indriani,SI.P.,M.Si, kinerja pegawai dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik rata-rata baik, tetapi secara umum kinerja pegawai yah begitulah ada Sebagian pegawai yang kinerjanya kurang. Tapi secara umum kinerja pemerintahan berjalan dengan baik” (wawancara Kamis 11 Agustus 2021)
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan publik belum sepenuhnya baik karena adanya pegawai yang kinerjanya masih kurang, ada sebagian pegawai sesuai dengan observasi yang di lakukan peneliri bahwa pegawai di lingkup Kabupaten Luwu Utara yang membuat kinerjanya kurang ada beberapa pegawai yang tidak disiplin atas waktu dan kehadiranya dan kurang mematuhi peraturan yang berada di lingkup Kabupaten Luwu Utara. Dalam periode Bupati Hj. Indah Putri Indriani SI.P.,M.Si secara umum kinerja pemerintahanya berjalan dengan baik.
Sebagian besar pegawai menerima dimutasi tanpa keluhan dan hanya Sebagian kecil pegawai yang mengeluhkan mutasi. Hal ini di dukuung dengan hasil observasi saya selama meneliti.
Berdasarkan peraturan pemerintah tahun 2017 tentang syarat memutasikan pegawai mengacu pada 4 hal yaitu: kualifikasi Pendidikan, kinerja kompetensi, kebutuhan organisas. Dan SKB nya bernilai baik berturut-turut selama dua tahun. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara oleh Kepala Badan Kepegawaian pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Kabupaten Luwu Utara.
“Mengacu pada peraturan pemerintah ada empat syarat memutasikan pegawai yaitu: kualifikasi pendidikan, kinerja,kompetensi, kebutuhan organisasi . dan SKB nya bernilai baik berturut-turut selama dua tahun’’( Hasil Wawancara Bapak Nursalim selaku Kepala BKD Luwu Utara, Senin 09 Agustus 2021).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas dapat diketahui bahwa dalam memutasikan pejabat di BKD Kabupaten Luwu Utara tidak serta merta memutasikan pejabat begitu saja. Tetapi mereka mengacu pada syarat pemerintah yang sudah ditetapkan. Tetapi didalam lingkup pemerintah Kabupaten Luwu utara tidak sepenuhnya memakai syarat peraturan pemerintah.
Hal tersebut diatas belum sesuai dengan observasi penelitian selama dilapangan yang mengamati langsung bahwa BKD di Kabupaten Luwu Utara memutasiikan dengan 4 syarat tersebut.
Memasuki bulan agustus ada beberapa pemutasian di lingkup pemerintah Kabupaten Luwu Utara, dari penjelasan di atas berikut adalah data rekapitulasinya :
2. Kemampuan Adaptasi
Kemapuan adaptasi adalah Ketika kita berbuat jangan pernah memaksakan diri biarkan dia mengalir seperti air dan jangan memaksakan kehendak kita yang bisa berlawanan arah dengan kebiasaan orang-orang dilingkungan tersebut. Hal itu di karenakan di satu wilayah/daerah biasanya kebiasaan orang itu berbeda-beda.
3. Kepuasan kerja
Kemampuan kerja adalah Ketika melakukan kegiatan dan di anggap berhasil atau sukses dan menimbulkan rasa bahagia tersendiri di dalam hati.
4. Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah suatu sikap dan perbuatan yang memiliki beban secara moral dari perbuatan seseorang, dan memiliki konsekuensi terhadap diri seseorang. Oleh karena itu, semua individu harus memiliki rasa tanggung jawab tersebut demi untuk menjaga keseimbangan dalam hidup bermasyarakat.
Adapun rekap data mutasi sebagai berikut:
Tabel 4.1 rekap data mutasi Pegawai Mutasi
Total Esselon III Esselon IV
48 156 204
Adapun Latar belakang responden sebagai berikut:
Tabel 4.2 Latar Belakang Responden
Jabatan Nama Pendidikan
KA. BKD Luwu Utara Drs. Nursalim,M.Si S.2 Administrasi Kabid. Mutasi dan Promosi Sulham, S.Kom S.1 Komputer
Kasubid. Pengembangan Karier
Ardiansyah, S.Sos S.1 Administrasi Negara
Kasubid. Kepangkatan Sitti Yunasti S.kom S.1 Komputer
Mekanisme dalam memutasikan pegawai ada 4 kategori yaitu 1. Kualifikasi Pendidikan
2. Kinerja 3. Kompetensi,
4. Kebutuhan organisasi.
Berdasarkan tabel di atas peneliti mengambil kesimpulan bahwa para pegawai masih ada yang belum sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun, mutasi dapat terjadi karena dilihat dari salah satu kategori seperti kinerja, kompetensi dan kebutuhan organisasi para pegawai sehingga pimpinan dapat memutasikan pejabat tanpa melihat kualifikasi pendidikannya.
Berdasarkan hasil analisis peneliti yang telah dilakukan sesuai dengan observasi di lapangan, yaitu dalam melakukan sistem mutasi ada banyak faktor yang terjadi di kabupaten Luwu Utara, termasuk dalam memutasikan pegawai. Ada beberapa pegawai yang lambat datang ke kantor lalu cepat pulang. Perilaku tersebut dapat menganggu kualitas kerja pegawai.
Terkadang ada sebagian pegawai juga yang tidak memberikan senyuman kepada para tamu-tamu. Seharusnya pegawai harus mencerminkan sikap yang ramah kepada para tamu-tamu karena itu dapat menjadi insan yang berkarakter. Kemudian ada sebagian pegawai yang sangat santai dalam menduduki jabatan, dengan santainya mereka biasanya lambat dalam menangani keluhan dari masyarakat. Masyarakat adalah raja tanpa masyarakat para pejabat tidak akan dapat menduduki jabatan yang tertinggi, jadi seharusnya para pegawai perlu lebih tanggap menyikapi keluhan-keluhan dari masyarakat tersebut. Maka dari itu perlu adanya kinerja yang baik seperti bertanggung jawab pada pekerjaanya yang telah di amanahkan, absensi yang mengatur waktu bekerja bagi pegawai. Absensi bukan hanya mengisi waktu hadir tetapi juga untuk harus bekerja di waktu yang tepat agar kinerjanya baik. Hadir saja belum cukup untuk mengefektifkan kinerja pegawai tetapi juga harus tepat waktu dalam bekerja karena sudah ada waktu yang telah ditentukan untuk mengerjakan tugas-tugas negara yang telah di amanahkan sebagaimana tugas yang harus mereka kerjakan, bukan hanya datang lalu pulang semaunya. Hal tersebut telah sesuai dengan hasil observasi peneliti selama di lapangan bahwa pegawai belum disiplin dalam melaksanakan tugas yang menyebabkan ketidak Efektifnya kinerja pegawai.
Upaya yang perlu dilakukan untuk mengetahu kinerjai pegawai seperti disiplin kehadiran. Setiap kantor harus mempunyai absen untuk
memudahkan mengetahui dan melacak pegawai sejauh mana kedisplinan pegawai dalam bekerja misalnya dalam menggunakan mesin absensi untuk mendapatkan data kehadiran pegawai secara akurat dan otomatis.
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti menguraikan hasil draft wawancara sebagai berikut :
Tabel 4.3 : Draft Wawancara dan Hasil Wawancara di Badan Kepegawaian Dearah Kabupatenen Luwu Utara
Pertanyaan wawancara
BKD Kabupaten Luwu Utara Jawaban KA. BKPSDM Luwu Utara 1. Bagaimana sistem mutasi pegawai
di BKD Kabupaten Luwu Utara
2. Apakah sistem mutasi ASN sudah sesuai dengan latar belakang pendidikan serta kompetensinya ? 3. Apa saja faktor pertimbangan
dalam pelaksanaan mutasi ASN?
4. Apakah BKD Kabupaten Luwu Utara sudah melakukan penilaian kompetensi serta mengevaluasi
1. Mengacu pada peraturan pemerintah ada empat syarat memutasikan pegawai yaitu:
kualifikasi pendidikan, kinerja,kompetensi, kebutuhan organisasi. dan SKB nya bernilai baik berturut-turut selama dua tahun’’
2. Iya karna setiap waktu akan di evaluasi dalam setiap jenjang Laporan kinerja.
3. Ada empat yaitu kualifikasi pendidikan, kinerja, kompetensi, kebutuhan organisasi.
4. Selalu bekerja sama dengan BKN melakukan evaluasi potensi dan kompetensi. Selalu di potret
pelaksanaan kinerja pegawai sebelum dimutasikan ?
5. Apakah pelaksanaan mutasi pegawai di BKD dilakukan sesuai sengan merit sistem dan undang-undang?
dengan tujuan untuk mengetahui apa keunggulanya dan apa kelemahanya dengan dasar itu pimpinan atau Bupati Luwu Utara
merekomendasi BKPSDM
melakukan intropeksi dari sisi manajerial.
5. Belum sepenuhnya dalam sistem manajemen kepegawaian. tetapi Ketua BKD kabupaten Luwu Utara berusaha melakukan merit sistem.
Melakukan pertimbangan strategis.
Selanjutnya adapun pernyataan yang berhubungan dengan hal diatas maka peneliti menanyakan hal berikut :
Tabel 4.4 : Draft Wawancara dan Hasil Wawancara di Badan Kepegawaian Dearah Kabupatenen Luwu Utara mutasi melakukan pengkajian dan ketersedianya Sumber daya manusia di (SEKDA)
2. Apakah dalam sistem mutasi pegawai mengalami hambatan ?
3. Berapa kali anda mengalami mutasi dan mengapa anda dimutasi ?
4. Menurut anda, perlu tidak dilakukan mutasi ? Mengapa ?
2. Tidak ada hambatan karena hal tersebut adalah haq progratif selaku bupati dan pejabat.
3. Dilihat dari rekan jejaknya selama ini sebelum menduduki KA BKD sudah 11 tahun di BKD jadi sekretaris dan kepala bidang sehingga dengan mudah lolos seleksi terbuka.
4. Iya perlu, karena adanya mutasi para pegawai agar pegawai terhindar dari kebosanan pada jabatan.
Berdasarkan obvservasi yang telah saya lakukan, peneliti menyimpulkan bahwa di instansi (Badan kepegawaian dan pengembangan sumber daya manusia) Kabupaten Luwu Utara sepertinya belum melaksanakan sistem memutasikan pejabat seacara ideal. Untuk itu, masih banyak yang perlu dibenahi dalam pelaksanaan mutasi jabatan di daerah Kabupaten Luwu Utara.
Semoga selanjutnya pemerintah Kabupaten Luwu Utara dapat menjadi penyelenggara sistem mutasi pejabat yang ideal.
62 A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dengan judul Analisis Efektivitas Sistem Mutasi Aparatur Sipil Negara di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Luwu Utara maka dapat ditarik kesimpulan bahwa efektifitas sistem mutasi di badan kepegawaian Luwu Utara masih ada yang belum sesuai dengan bidang dan Pendidikan dan kepangkatanya, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti masih belum sepenuhnya mengikuti sistem merit sebagai sistem yang ideal, tetapi masih mengaplikasikan sistem seniority sistem dan spoily sistem, dan kinerja pegawai masih kurang disiplin. Ini dapat dilihat dari hasil penelitian wawancara bahwa sistem yang digunakan belum sepenuhnya efektif.
B. SARAN
Untuk menciptakan pemerintahan yang ideal (good government) kuat dan produktif, maka pemerintah harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotism sehingga terciptalah pemerintahan yang baldatun tayyibatun wa rabbun gafur atau dalam falsafah jawa disebut gemah rifa loh jinawi tatatentram karta raharja tutwuri handayani atau pemerintah yang senantiasa memberikan tauladan yang baik dan selalu mendapat ridha Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Alex S. Nittisemito, 2010. Manajemen Personalia Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Ketiga. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Dunn, Willian N. 2000. Pengantar Analisa Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.
Edwar Mujahid. 2018. Analisis Pelaksanaan Mutasi Jabatan Aparatur Sipil Negara di Lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. (Online), (http:/jurnal.unism,uhpalu.ac,id/index.php/JSM/article/viewFile/296/18 2, diakses 12 April 2021)
Gouzali, Saydam. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia.(Human Resource) Suatu Pendekatan Mikro. Jakarta. Djanbatan.
Hakim Awaloedin Jaka. 2014. Efektivitas Pelaksanaan Mutasi Pegawai Negri Sipil di Dina Bina Marga dan Tata ruang Provinsi Banten. Serang.
Universitas Sultan Ageng Tritayasa.
Handayaningrat. Soewarno. 1985. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta . CV Haji Masagung
Handoko,T,H. 2001. Manajemen Personalia Dan Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta. BPFE Press.
Hasibuan, Melayu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Bumi Aksara./
Hasibuan, Melayu S.P 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia , Jakarrta : Bumi aksara
Hasmiati.2019. Pelaksanaan Mutasi Pegawai Aparatur Sipil Negara di Sekreteriat Daerah Kabupaten Bone.Makassar. Unismuh.
Hariandja, Merihat Tua Efendi, 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Gransindo. Jakarta.
https://bkpsdm.luwuutarakab.go.id/10Oktober 2021/12.20. 7 Desember 2021 https://books.Google.co.id//books?id+kWgvxrjpcjqc&prinsec=copyrighthl&id
8Desember 2021
https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/7808-Full_Text.pdf .9 desember 2021.
Irham , Fahmi. 2014. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta. Alfabeta.
Irawan Prasetya. 2005, Metodologi Penelitian Administrasi. Jakarta. Universitas Terbuka.
Kadarisman, M. 2012. Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Jakarta. RajaGrafindo Persada.
Mahsun, Mohamad.2006. Pengukuran Kinerja Sektor Pabrik : Cetakan Pertama.
Yogyakarta : Penerbit BPFE-Yogyakarta
Moekijat. 1991. Administrasi Kepegawaian Negara. Bandung : Mandar Maju.
Moh. Mahfud M.D. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi. Gama Media.
Yogyakarta.1999.
Nawawi, 2011, Manajemen Sumber Daya Manusia. Alfabeta, Bandung :Refika Aditama.
Pasal 28 ayat b dan c undang-undang republik Indonesia No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. 2014. Jakarta: Republik Indonesia.
Pasal 55 undang-undang republik iIndonesia No 5 tahun 2014, tentang Manajemen Aparatur Sipil Negara. 2014. Jakarta. Republik Indonesia.
R. Terry, George. Dan Leslie. W.Rue. Dasar-Dasar Manajemen.( Jakarta : Bumi Aksara, 2010).
Soerjono Soekanto, 1986, Efektivitas Hukum dan Peranan Saksi , Remaja Karya.
Bandung.
Samsudin. Sadili. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung : Pustaka Setia.
Sastrohadiwiryo, Siswanto, 2002, Manajemen Tenaga Kerja Indonesi ( Pendekatan Administratif dan Oprasional). Jakarta. Bumi Aksara.
Sondang, P. Siagin. 1996. Organisasi Dan Perilaku Administrasi. Jakarta : Bumi Aksara.
Steers, M. Richard. 1985. Efektivitas Organisasi. Jakarta : Erlangga
T Wahyu Muh. 2014. Analisis Pelaksanaan Mutasi Jabatan di Pemerintah Kabupaten Luwu Utara. Makassar. Universitas Hasanuddin.
Were Upuwala Ima, Ilyas Bata Gunawan. 2016. Analisis Kebijakan dan Implikasinya Terhadap Kinerja Pegawai Negri Sipil di Pemerintah Kabupaten Soppeng.jurnal Mirai Management. Vol 1 Nomor 2.
LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Dok. 1 bersama Ibu Hj. Indah Putri Indriani, S.IP., M.Si
Dok. 2 bersama Drs. Nursalim, M.Si
Dok. 3 ruang kerja BKPSDM
Dok. 4 ruangan BKPSDM nampak dari luar
Lampiran 3
BIOGRAFI PENULIS
Emildajaya panggilan Emil lahir di Kapidi pada tanggal 14 Agustus 2000 dari pasangan suami istri Bapak Saenuddin dan ibu Nurlia. Peneliti adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Peneliti sekarang bertempat tinggal di Desa Kapidi Kecamatan Mappedeceng Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Pendidikan yang di tempuh oleh peneliti yaitu SD Mis Islahuddin Mappedeceng lulus tahun 2011, kemudian melanjutkan SMP Negeri 1 Mappedeceng lulus tahun 2014, dan melanjutkan SMK Negeri 1 Masamba yang sekarang berganti nama menjadi SMK Negeri 2 Luwu Utara lulus tahun 2017, dan mulai tahun 2017 mengikuti program S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBIS) Program Studi Manajemen Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, selanjutnya penulis telah menyelesaikan sebuah tugas akhir seorang Mahasiswa dengan judul “ Analisis Efektivitas Sistem Mutasi Aparatur Sipil Negara di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Luwu Utaraa”.