• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi Disain

Dalam dokumen 3. PERANCANGAN BANGUNAN (Halaman 21-68)

Konsep yang sudah didapat kemudian diaplikasikan ke dalam disain, sehingga disain mempunyai suatu arti / nilai / dasar yang membedakannya dari disain yang lainnya.

3.6.1. Penzoningan

Gambar 3.1. Situasi

area servis

Zoning diletakkan berdasarkan zona aman dan tenang, 2 hal yang dirasa paling penting untuk para Lansia. Untuk zona yang paling aman dan tenang berada di tengah- tengah site, difungsikan untuk area hunian (lingkaran biru) dengan tingkat kebisingan yang paling rendah serta pengamanan paling tinggi.

Area hunian sengaja tidak diletakkan menghadap lapangan golf dengan pertimbangan: mereka tidak terlalu dimanjakan di dalam Gasebu ini. Sehingga pelaksanaan terapi- terapi menjadi satu hal yang penting di dalam Gasebu ini.

Area hunian juga didekatkan dengan area pendukung dan fasilitas medis berkaitan dengan kemudahan penanganan kesehatan secara mendadak dan pemenuhan kebutuhan sehari- hari bagi para Lansia.

Untuk area komersial (lingkaran ungu) diletakkan paling depan, arah frontal dari jalan raya dengan tujuan agar kemungkinan dilihat atau dari segi paling visible (paling mudah dilihat orang), mengingat area komersial merupakan area dengan tingkat hubungan dengan masyarakat/ orang luar paling tinggi. Untuk bangunan- bangunan terapi (lingkaran kuning), dihadapkan ke arah lapangan golf agar mendapatkan view yang paling bagus. Sebagian besar waktu para Lansia ini

dihabiskan di ruang- ruang terapi, sehingga golf view yang bagus memberikan view tersendiri di tengah- tengah kesibukan mereka.

Area pengelola berada di tengah- tengah antara area komersial dan area hunian dengan maksud agar pengawasan menjadi mudah. Selain itu, area pengelola terdapat fasilitas hunian untuk Penanggung Jawab Harian yang bertugas untuk memantau para Lansia, 24 jam sehari. Peletakkan area pengelola di dekat area hunian akan memberi kemudahan Penanggung Jawab Harian untuk menjalankan tugasnya. Area servis diletakkan dekat dengan area pengelola, agar pengawasan juga semakin mudah, dan juga memberi kesempatan untuk membuka akses loading dock untuk cafe dan kebun bunga.

Day Care F. Pengelola

ENTRANCE!

Gambar 3.3. Peletakkan Entrance

Peletakkan entrance didasarkan pada pertimbangan kemudahan akses pengunjung, penghuni, tamu penghuni, serta arus kendaraan. Dari entrance, pengguna bangunan harus dimudahkan dalam hal pencapaian ke ruang- ruang yang berkaitan. Kemungkinan pengguna bangunan yang terlibat dalam kaitan peletakkan entrance, antara lain:

• Pengunjung dengan tujuan mencari informasi (1)

• Pengunjung yang ingin bertemu dengan personil pengelola (2)

• Lansia yang datang setiap hari untuk beraktivitas bersama (3)

• Lansia yang ingin ke Daycare (4)

• Lansia yang akan menjadi penghuni (5)

• Tamu penghuni yang ingn berkunjung (6)

Gambar 3.4. Flowchart di Entrance

Entrance diletakkan di tengah segitiga fungsi ruang- ruang yang menjadi tujuan pertama dari pengguna bangunan sehingga bagi pengunjung yang baru pertama kali masuk ke bangunan ini tidak merasa kesulitan untuk mencari jalan menuju ruang yang ingin dicapai.

Gambar 3.5. Vista dari

Jln. Bukit Darmo Golf 1

Gambar 3.6. Vista dari Jln. Bukit Darmo Golf 2

3.6.2. Pola Penataan dan Bentuk Massa Bangunan

Gambar 3.7. Tampak Atas

• Penerapan konsep MUSIK pada kompleks ini terlihat dominan pada sekumpulan massa berbentuk lengkung (massa- massa bangunan Non Terapi yang notabene adalah fasilitas umum) yang mengekspresikan secara analog sebuah Kunci (key signature) dalam sebuah komposisi alunan musik. Sebuah key signature merupakan awal dari sebuah musik, yang diekspresikan melalui fungsi ruang- ruang di dalamnya yang berhubungan langsung dengan kehidupan para Lansia dengan harapan para Lansia juga mempunyai awal yang baik dalam kegiatan setiap harinya.

Gambar 3.8. Massa Lengkung yang Mengekspresikan Treble Clef- Key Signature

• Untuk 4 massa bangunan terapi (Fasilitas Utama), mengekspresikan karakter musik dari masing- masing tipe Lansia yang Hidup dengan Fobia; yaitu (1) Zone Harmony – (2)Zone Tempo – (3)Zone Dynamic – (4)Zone Expressions . Setiap hari mereka pergi ke masing- masing pusat sehat dan bugar (bangunan- bangunan terapi) sehingga pencapaian maupun tetenger setiap mass terap menjadi sangat penting sehingga para Lansa tidak mudah tersesat, Penjelasan selengkapnya, di lembar khusus tiap zone.

Gambar 3.9. Massa Terapi yang Mengekspresikan 4 Karakter Musik bagi Lansia

• Bagi para Lansia, sirkulasi antar massa harus sangat diperhatikan. Selain pola sirkulasi yang jelas, juga tetenger- tetenger setiap massa perlu diperhatikan.

kemudahan itu tercermin, antara lain:

Hanya sirkulasi di dalam area hunian dengan sistem room- corridor- room.

Hal tersebut akan memudahkan para Lansia mengidentifikasi bahwa mereka berada di area hunian.

Open space luas yang berada di tengah- tengah penataan massa digunakan sebagai sirkulasi eksternal pada area hunian. Sehingga memudahkan para Lansia sekaligus mengingatkan para Lansia ketika mereka sedang berinteraksi dengan sesama di lain paviliun.

Perembesan ke ruang- ruang terapi juga dibuat mudah, yang diperjelas dengan elemen landscape berupa hard material untuk pedestrian, dan yang lain

berupa soft material. Sehingga jalur yang ditempuh ke masing- masing terapi dengan mudah diingat para Lansia

Pola- pola yang jelas dan cenderung radial pada elemen landscape, sehingga orientasi bangunan tetap terjaga, dan para Lansia juga tidak mudah disorientasi.

3.6.3. Gambaran Kegiatan Sehari- Hari Para Lansia dalam Gasebu

Gambar 3.10. Pagi Hari- Keluar dari Paviliun

Setiap hari pk 06.00 para Lansia keluar dari area Hunian, dengan sebelumnya mandi dan siraman rohani di dalam paviliun masing- masing. Lansia yang mengalami kesulitan berjalan (memakai kursi roda, crane, crutch, atau walker) bila masih memungkinkan bisa dibantu oleh pramurukti.

Gambar 3.11. Senam Pagi

Setelah keluar dari area hunian masing- masing, para Lansia diajak untuk senam pagi, tentu saja dengan materi senam yang cenderung lebih ringan. Senam ini bertujuan agar kebugaran tubuh terjaga sekaligus ajang para Lansia untuk menggerakkan badan, mengingat minimnya kesempatan para Lansia untuk menggerakkan badan.

Gambar 3.12. Gambar 3.13.

Menuju ke Zone Harmony Menuju ke Zone Tempo

Gambar 3.14. Gambar 3.15.

Menuju ke Zone Dynamic Menuju ke Zone Expressions Masing- masing Lansia yang sudah dikategorikan dalam 4 karakter, setiap harinya pergi “ngantor” ke 4 bangunan massa terapi sebagai Pusat Sehat dan Bugar, sesuai dengan jadwal. 4 bangunan terapi masing- masing mempunyai tetenger berupa sesuatu yang mengeluarkan musik.

Gambar 3.16. Bersantai di Luar Bangunan Terapi

Adakalanya para Lansia ketika menjalani aktivitas di dalam bangunan terapi merasa jenuh dan bosan, bisa memanfaatkan space di luar bangunan yang sudah didisain untuk mereka duduk- duduk sekedar melepas lelah atau berbincang- bincang dengan sesama Lansia; memanfaatkan view ke lapagan golf.

Gambar 3.17. Menerima Kunjungan dari Anak, Cucu, atau Saudara

Perasaan yang paling bahagia dirasakan ketika para Lansia ini mendapat kunjungan; baik dari sanak- saudara, anak, cucu, tetangga, atau siapapun juga.

Perhatian tersebut berarti banyak untuk para Lansia; yang bisa meningkatkan semangat para Lansia. Untuk itu; dalam Gasebu ini selain menerima tamu di R.

Sowan, dapat juga dilakukan di open space yang berada di depan hunian bila menginginkan suasana outdoor sambil menikmati gemericik air.

Gambar 3.18. Saling Menyapa Teman- teman Lansia dari Balkon

Keunggulan sistem kamar yang masing- masing mempunyai teras, baik di lantai 1 maupun 2 selain agar selalu teringat akan suasana rumah; juga agar para Lansia mempunyai kesempatan untuk saling menyapa antar sesama penghuni.

Jadi, hubungan yang terjalin tidak hanya sebatas dalam bangunan terapi, tetapi juga di area hunian

Gambar 3.19. Gambar 3.20 Ekspresi Lansia 1 Ekspresi Lansia 2

3.6.4. Sirkulasi Kompleks Bangunan

Sirkulasi oleh pengguna bangunan dalam kompleks ini dibagi menjadi:

• Sirkulasi Lansia penghuni

area terbatas area terbatas

Gambar 3.21. Sirkulasi Lansia Penghuni

Diagram 3.2. Flow Chart Lansia Penghuni

Untuk sirkulasi penghuni, sebagian besar aktivitas dilakukan dalam bangunan terapi. Sirkulasi penghuni antar massa dicapai dengan penggunaan hard material perkerasan concrete beraneka warna, dipadu- padan dengan soft material rumput agar dengan mudah dibedakan mana yang merupakan jalur sirkulasi dan mana yang tidak bisa diinjak. Pembedaan yang kontras ini diharapkan tidak membuat para Lansia ketika menjalankan aktivitasnya merasa kebingungan

memilih jalan mana yang harus ditempuh. Area terbatas merupakan daerah di mana aksesnya ditutup agar Lansia d Gasebu ini tidak melarikan diri. Penutupan akses dilakukan dengan peletakkan pagar tanaman.

Open Space yang berada di tengah- tengah kompleks ini menjadi sentral sirkulasi. Oleh karena itu, pada open space ini disediakan street furniture supaya bisa digunakan para Lansia untuk duduk- duuk sekedar melepas lelah atau bercengkrama dengan sesama Lansia. Selain itu, bentuknya yang bundar dan luas memudahkan para Lansia untuk mendeteksi keberadaan open space ini.

Khusus untuk Lansia Mandiri (panah hijau), mereka diberi kesempatan untuk beraktivitas di area komersil, dimana bisa bertemu dengan banyak orang sekaligus menyalurkan hobi mereka. Karena menempuh jarak yang lebih jauh, maka fasilitas komersial diutamakan untuk Lansia Mandiri.

Gambar 3.22. Denah Lantai Tingkat

Untuk sirkulasi di dalam bangunan, pencapaian antar ketinggian lantai yang berbeda ditempuh menggunakan lift hidrolis pada masing- masing bangunan terapi. Tangga masih disediakan, mengingat kemungkinan evakuasi pada saat terjadinya kebakaran. Disain tangga berbeda dengan tangga biasa; terutama pada

banyaknya jumlah bordes. Setiap 5 anak tangga diberi 1 bordes agar para Lansia yang sering merasa kesulitan naik tangga, bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menaiki tangga lagi.

Gambar 3.23. Tangga pada Bangunan Terapi

• Sirkulasi Lansia yang datang setiap hari

Diagram 3.3. Flow Chart Lansia yang Datang Setiap Hari

Untuk Lansia yang datang setiap hari hari (bersama- sama beraktivitas tetapi tidak menginap), sirkulasinya hampir sama dengan Lansia penghuni. Hanya akses terhadap Hunian tidak terpenuhi. Untuk itu, jadwal para Lansia yang datang setiap hari lebih mundur 1 jam dari Lansia penghuni; dengan pertimbangan dalam waktu 1 jam tersebut cukup untuk mengosongkan dan menutup area hunian.

• Sirkulasi tamu penghuni

Gambar 3.24. Sirkulasi Tamu Penghuni

Diagram 3.4. Flow Chart Tamu Pengunjung

Untuk sirkulasi tamu penghuni; sebatas hanya di R. Sowan, R. Humas ( melakukan pembayaran, menerima report Lansia), Fasilitas Pengelola (menanyakan perkembangan, memberikan instruksi khusus, dll), Fasilitas Komersial (bincang- bincang bersama Lansia, dll) dan Open Space (melakukan kunjungan). Lansia penghuni dilarang untuk membawa masuk tamu penghuni, kecuali dalam keadaan genting dan ketidakmampuan Lansia penghuni untuk turun dari tempat tidur.

Pada waktu- waktu tertentu (misal: bila ada acara di R. Gathering) yang mengundang keluarga atau kerabat dalam ruang pertemuan; parkir bila menggunakan area parkir di semi- basement dengan kapasitas 50 mobil.

Gambar 3.25. Denah Lt. Semi Basement

• Sirkulasi pengunjung yang mencari informasi

Gambar 3.26. Denah Ruang Jendela Informasi

Ruang jendela infomasi diletakkan di dekat entrance dan dropping area;

mengingat kemungkinan pengunjung yang mencari informasi baru pertama kali melakukan kunjungan ke Gasebu sehingga mudah ditemukan.

Diagram 3.5. Flow Chart Pengunjung Mencari Informasi

• Sirkulasi pengunjung fasilitas komersial

Gambar 3.27. Foyer pada Fasilitas Komersial

Diagram 3.6. Flow Chart Pengunjung Fasilitas Komersil

Untuk pengunjung yang ke Gasebu hanya bertujuan untuk ke area komersial, disediakan space sebagai foyer/ entrance kedua yang juga berfungsi sebagai dropping area bagi pengunjung yang hanya ingin pergi ke fasilitas komersil. Dari foyer terssebut, langsung berhubungan dengan 3 fasilitas komersil yaitu: Art+Craft Station, Toko Bunga, dan Cafe yang dihubungakan melalui pintu- pintu.

Untuk pengunjung yang dengan niatan hanya ke fasilitas komersil namun sudah turun di Entrance utama, maka dapat mengambil jalan tembus dari entrance ke fasilitas komersil, melalui foyer yang ada di depan Fasilitas Pengelola.

• Sirkulasi pengelola

Gambar 3.28. Denah Fasilitas Pengelola

Pengelola terbagi menjadi: Penanggung Jawab Harian, Kepala Bagian Hunian, Kepala Bagian Terapi, dan Kepala Bagian Medis yang masing- masing bertanggung jawab terhadap kewajiban tugasnya masing- masing. Secara garis besar, para pengelola ini dengan mudah bisa mengakses semua fasilitas dalam kompleks bangunan ini dalam jam- jam kerja karena mereka yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup para Lansia.

Untuk menjaga kualitas hidup para Lansia selama dalam area Gasebu ini, maka pengelola bertugas untuk melakukan pengawasan secara rutin dengan berkeliling.

• Sirkulasi terapis

Diagram 3.7. Flow Chart Terapis

Untuk terapis, setiap harinya harus check clock di Ruang Penanggung Jawab Harian. Hal ini untuk mempermudah pengawasan terhadap hadirnya para terapis di setiap aktivitas para Lansia. Setelah itu, mereka berangkat ke masing- masing bangunan terapi. 1 terapis meng-handle 10 Lansia. Untuk Lansia dengan karakter yang paling lemah (di zone Expressions), maka para terapis dibantu oleh pramurukti mengingat sebagian besar Lansia yang berada di zone Expressions tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri (memakai kursi roda, cane, crutch atau walker). Untuk ruang loker, ruang ganti, dan ruang tunggu bagi terapis, difasilitasi di masing- masing bangunan terapi.

Gambar 3.29. Denah Ruang Terapis di Zone Tempo

• Sirkulasi servis

loading dock 1

loading dock 2

Gambar 3.30. Sirkulasi Servis pada Lantai Dasar

Untuk sirkulasi servis, di lantai dasar ada 2 macam: sirkulasi untuk Fasilitas Servis (ruang genset, PLN, Trafo, dll) –panah warna hijau. Loading Dock 1 merupakan loading dock untuk ruang- ruang ME sedangkan loading dock 2 untuk fungsi ruang cafe (bahan makanan, minuman) dan kebun bunga (bibit, pupuk, dll); dan sirkulasi servis yang menuju ke lantai semi basement – panah warna biru. Untuk mobil pengangkut jenasah, mengikuti jalur Loading Dock 1.

dumb waiter

Gambar 3.31. Sirkulasi Servis pada Lantai Semi Basement

Sirkulasi servis pada lantai basement digunakan untuk bahan makanan dari dapur umum (yang menyediakan makanan dan minuman sehari- hari bagi Lansia).

Transfer dari lantai basement sampai dapur umum menggunakan dumb waiter yang diletakkan di sebelah lift. Untuk gudang penyimpanan bahan makanan diletakkan di lantai semibasement, berdekatan dengan dumb waiter ke dapur umum.

3.6.5. Ekspresi/ Tampilan Bangunan

Ekspresi yang ingin ditampilan tidak lepas dari ekspresi MUSIK yang merupakan konsep secara keseluruhan di bangunan ini.

Secara garis besar, ekspresi dibagi menjadi 2:

• Ekspresi massa melengkung

Merupakan analog dari elemen- elemen musik.

• Ekspresi 4 bangunan terapi

Merupakan metaphor dari 4 karakter musik bagi Lansia yang Hidup dengan Fobia. Masing- masing mempunyai bentukan yang berbeda, namun disatukan

dengan bentukan yang ingin mengekspresikan bentuk tubuh Lansia yang cenderung membungkuk. Bentukan ini yang menjadi aksesn tersendiri dalam setiap bangunan terapi yang membentuk benang merah untuk k4empat bangunan terapi tersebut.

Gambar 3.32. Perspektif Bird Eye 1

Gambar 3.33. Tampak 01

Gambar 3.34. Tampak 02

Gambar 3.35. Tampak 03

Penjelasan ekspresi bangunan, dibawah ini:

• Ekspresi massa melengkung

Gambar 3.36. Tampak Massa Melengkung dan Elemen Musik Pembentuk Ekspresi Bangunan

Entrance merupakan awal perjalanan seluruh pengguna bangunan.

Bentuknya yang menganalogikan bass clef (kunci F) pada sebuah partitur musik.

Key Signature- Bass Clef juga merupakan penanda bahwa sebuah komposisi musik siap dibuat. Peletakkan key signature pada sebuah partitur juga mengawali sebuah perjalanan komposisi musik, juga diaplikasikan pada kompleks ini.

Untuk massa Daycare dan R. Gathering, mengekspresikan sebuah staff (garis paranada) yang dalam sebuah musik yang membantu mengidentifikasi ketinggian sebuah nada.

staff key signature

Gambar 3.37. Partitur 1

Massa Hunian- Apartment dan Hunian- Paviliun berusaha mengekspresikan sebuah rangkaian musik yang terdiri dari: bar line, staff, dan not. Bar Line dibentuk oleh rangkaian kolom miring yang sekaligus berfungsi sebagai penahan atap. Staff dibentuk secara tersirat oleh rangkaian jalusi horisontal dan pot tanaman pada teras setiap lantai. Not diekspresikan oleh sunshading kotak- kotak dengan 4 warna; yaitu warna yang mencerminkan karakter Lansia di 4 bangunan terapi; mengingat Hunian- Apartment dan Hunian- Paviliun merupakan tempat tinggal para Lansia yang beraktivitas di 4 massa terapi.

not

Gambar 3.38. Partitur 2 Bar Line

Gambar 3.39. Tampak Fasilitas Komersil dan Elemen Musik Pembentuk Ekspresi Bangunan

Untuk Fasilitas Komersil, ingin mengekspresikan tanda

<

(cressendo, yang artinya: semakin lama semakin keras). Bentukan ini dipilih untuk mengekspresikan: dengan adanya Gasebu ini, para Lansia diharapkan bisa diterima masyarakat sebagai beban dan Gasebu ini menjadi ajang para Lansia untuk lebih menyuarakan keberadaannya di tengah keluarga dan masyarakat semakin lama semakin keras. Facade pada toko bunga, juga mengekpresikan MUSIK; dengan bentukan bunga yang disusun layaknya barisan “not” dalam sebuah partitur musik.

Gambar 3.40. Facade Toko Bunga

• Ekspresi 4 bangunan terapi

Gambar 3.41. Tampak Bangunan Terapi dan Karakter Musik Bagi Lansia Pembentuk Ekpresi Bangunan

Bentukan dan facade ke-empat massa terapi ini mengespresikan kebutuhan musik untuk 4 karakteristk Lansia yang Hidup dengan Fobia. Karakteristik seperti apa untuk masing- masing tipe akan dikemukakan pada penjelasan tiap massa terapi. Yang akan dibahas di sini adalah elemen penyatu atau benang merah pada 4 massa ini:

• Zone Harmony

Gambar 3.42. Tampak Samping Zone Harmony (non skala)

Bentukan disusun bereratan, dengan bentukan yang sama. Hal ini sesuai dengan pernyataan harmony adalah kombinasi 3 atau lebih tone yang membentuk sebuah keteraturan. Secara fungsi, bentukan tersebut merupakan teras pada bangunan terapi ini. Secara facade, keteraturan diekspresikan dengan penataan yang sejajar dan simetri bila dilihat secara perletakkan pada dena.

Untuk warna biru yang dipilih, warna biru mengekspresikan suasana yang tenang; yang cenderung dimiliki oleh Lansia pada karakter ini ( paling sehat dibanding 3 karakter yang lain).

• Zone Tempo

Gambar 3.43. Tampak Belakang Zone Tempo (non skala)

Bentukan disusun lebih rapat dibanding zone Harmony, yang ingin mengekspresikan ketukan yang lambat yang merupakan tipe musik pada karakter ini. Selain itu, ingin juga mengekpresikan perulangan yang merupakan ciri khas dari tipe Lansia ini (Lansia yang Menunjukkan Kemarahan). Secara fungsi, digunakan sebagai sun shading karena tepat menghadap barat. Pemilihan warna hijau dengan pertimbangan warna hijau memberikan kesegaran, dan dirasa cocok untuk Lansia yang sendang menunjukkan kemarahan agar kemarahannya mudah berkurang.

• Zone Dynamics

Gambar 3.44. Tampak Belakang Zone Dynamic (non skala)

Adanya satu bentukan yang berlawanan dan paling besar, ingin mengekspresikan stressing yang merupakan unsur dominan dalam tipe musik bagi Lansia pada karakter ini. Stressing ini dipaparkan dalam media pembedaan ukuran, pembedaan arah, serta pembedaan material dari 2 tipe

bentuk yang lain. Secara fungsi, 2 bentukan > digunakan sebagai teras untuk area R. Selayang Pandang, yang memang didisan agar para Lansia memandang jauh ke depan dengan memanfaatkan golf view sebagai objek yang dilihat.

Pemilihan warna merah, ingin mengekspresikan semangat yang membara bagi Lansia dengan tipe Mengalami Depresi. Semangatnya untuk lepas dari rasa depresi tersebut yang menjadi pertimbangan penggunaan warna merah pada karakter Lansia yang ini.

• Zone Expressions

Gambar 3.45. Tampak Depan Zone Expressions (non skala)

Bentukan hanya berjumlah satu bila dilihat secara frontal tampak depan. Hal ini berkaitan dengan ekspresi yang ingin dimunculkan. Pemilihan jumlah 1 ini dipertimbangkan berdasarkan pemakai bangunan yaitu tipe Lansia yang Mengalami Gangguan Sensori; dimana mereka cenderung paling tidak mandiri dibanding yang lain. Dengan jumlahnya yang hanya 1;

memudahkan mereka mengidentifikasi bangunan terapi ini.

Untuk pemilihan warna ungu; karena dinilai warna ungu merupakan warna yang ekspresif dan unik.

Gambar 3.46. Perspektif Kawasan

3.6.6. Penjelasan Masing- masing Bangunan Terapi, kecuali Zone Tempo

Di bawah ini merupakan penjelasan dari 3 Bangunan Terapi. Zone Tempo tidak dibahas dalam pembahasan di sini, karena Zone Tempo dan Paviliun Staccato merupakan 2 bangunan pendalaman yang akan dibahas dalam sub-bab

3.6.6.1. Zone Harmony

• Sasaran: Lansia yang Mengalami Kekacauan Mental

• Lansia yang Mengalami Kekacauan Mental Æ (binggung) Æ harus dibuat TENANG. Supaya tenang Æ harus diarahkan. Musik yang mengarahkan Æ musik dengan chord- chord yang jelas (misal:perpindahan yang selalu mayor).

• Harmony adalah: kombinasi 3 atau lebih tone yang jelas dan teratur.

• Disain:

Kejelasan dan keteraturan diekspresikan dari bentukan massa yang sederhana, dengan pola penataan ruang yang teratur (kotak- kotak).

Secara bentukan, atap tunggal menaungi ingin mengekspresikan kesederhanaan. Secara denah, keteraturan ruang dalam bentuk kotak- kotak sederhana. Secara facade, keteraturan diekspresikan dengan penataan bentuk

yang sejajar dan simetri bila dilihat secara perletakkan pada denah (difungsikan sebagai teras dan jalan keluar menuju outdoor dari bangunan tsb)

Gambar 3.47. Denah Zone Harmony Lt. Dasar (non skala)

Gambar 3.48. Denah Zone Harmony Lt. Tingkat (non skala) Aktivitas dengan MUSIK pada bangunan terapi Zone Harmony:

• Mini Fitness

Gambar 3.49. Mini Fitness

Ruang olahraga bagi para lansia. Bersifat olahraga ringan, tetapi dilakukan secara rutin dan teratur. Kebiasaan para lansia yang enggan menggerakkan tubuh akan menyebabkan kurang terlatihnya fungsi otot- otot tubuh,.

Selain ada beberapa alat- alat berat, juga terdapat space untuk aerobic ringan.

Disain ruangan dengan material lantai dilapis karpet agar mampu meredam bila alat- alat fitness jatuh.

• R. Hukuman

Gambar 3.50. R. Hukuman

Ruang hukuman ini bukan secara fisik, hanya dibentuk oleh perasaan atau situasi (atmosphere) dari sebuah ruang.

Biasanya para lansia yang masih sering rewel atau sering marah- marah akan dimasukkan ke ruangan ini.

Selain itu, hukuman dapat juga berupa memberikan bantuan bagi sesama Lansia dalam melakukan sesuatu.

Tujuannya: agar Lansia menyadari kesalahannya, dan semakin har bisa semakin baik.

Disain ruangan dengan sebagian besar bermaterial gelap, dengan daerah- daerah yang diterangi lampu spot dari atas sehingga suasana mencekam lebih terasa.

• R. Workshop

Gambar 3.51. R. Workshop

Tipe pekerjaan di ruang ini adalah tipe sambung menyambung (conveyor).

Misal: ketika membuat pekerjaan tangan bubut kain; orang I menyiapkan benang, orang II memasukkan benang ke dalam jarum, dst sampai pada orang X pekerjaan tersebut sudah selesai.

Misal: ketika membuat pekerjaan tangan bubut kain; orang I menyiapkan benang, orang II memasukkan benang ke dalam jarum, dst sampai pada orang X pekerjaan tersebut sudah selesai.

Dalam dokumen 3. PERANCANGAN BANGUNAN (Halaman 21-68)

Dokumen terkait