• Tidak ada hasil yang ditemukan

Length 6,5 Height 3 feet meters

Dalam dokumen 3. PERANCANGAN BANGUNAN (Halaman 83-108)

Windows, Doors And Other Surfaces Walls Construction Material

Deflection Material Size Quanti ty

Front

Concrete, painted Plyw ood paneling

2,2

x

1

1

Back Concrete, painted Glass, w indow s

0

x

0

0

Left

Concrete, painted Glass, w indow s

0

x

0

0

Right Concrete, painted Glass, w indow s

0

Carpet on concrete Glass, w indow s

0

x

0

0

Floor Wood floor Glass, w indow s

0

x

0

0

125 Hz 250 Hz 500 Hz 1000 Hz 2000 Hz 4000 Hz

Calculated Results

Estimated Probable RT60 value of this room is 1.5 seconds.

Probable best case RT60 value of this room is 1.21499999seconds.

Probable worst case RT60 value of this room is 1.78500000seconds.

Reverberation Time atau waktu dengung adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu sumber bunyi yang dihentikan seketika untuk turun untensitasnya sebanyak 60 dB dari intensitas awal.

Faktor- faktor yang mempengaruhi Reverberation Time, antara lain:

volume ruang, luas permukaan, bidang- bidang pembentuk ruang, tingkat penyerapan permukaan bidang, dan frekuensi yang mucul dalam ruangan.

t = 0.16 V (3.1)

A

dengan t = waktu dengung (detik) V= volume ruangan (m3)

A = total absorpsi dari masing- masing permukaan bidang batas ruangan (m2), yaitu Σ (luas permukaan) x koefisen absorbsi

Perhitungan akhir mencari Reverberation Time untuk aktivitas musik dengan waktu dengung disarankan 1 sampai 2 detik; dengan waktu dengung ideal 1,5 detik (memenuhi).

Penyelesaian akustik pada lantai studio:

Lantai studio sebaiknya dirancang dengan model lantai ganda (raised- floor).

Sistem ganda ini idealnya terbuat dari material yang berbeda agar getaran tidak mudah diteruskan.

Faktor lain, peletakkan kedua lantai tersebut juga disusun tidak menempel satu dengan yang lain (ada ruang di antara keduanya yang berisi udara), sehingga peredaman getaran lebih maksimal.

Gambar 3.99. Detil Lantai Ganda Studio Musik

Penyelesaian akustik pada plafond ruang studio:

Untuk mengurangi getaran, komstruksi plafon ruang studio idealnya tidak dipasang menempel pada rangka atap.

Untuk penutup ruangan, digunakan konstruksi dak beton sesuai dengan perhitungan di atas. Sebagai lapisan akustik, diberi karpet pada beton (carpet on concrete) mengingat karpet merupakan bahan piranti lunak yang menyerap frekuensi tinggi dengan baik.

Gambar 3.100. Detil Plafon Dak Beton Studio Musik

Penyelesaian akustik pada dinding ruang studio:

Seperti halnya lantai, untuk mengurangi getaran, idealnya dinding studio dirancang sebagai dinding ganda dari bahan yang berbeda, dengan rongga yang berisi udara. Untuk meningkatkan kemampuan peredaman getarannya, maka dalam rongga udara juga dapat diletakkan glass wool.

Dalam ruangan ini, digunakan dinding bata tebal 15 cm ganda. Untuk penyerapan frekuensi tinggi makin baik, digunakan material lunak korden sesudah dinding dengan diberi jarak.

Bentukan dinding secara denah menghindari bentukan dinding yang sejajar, sehingga dinding lapis II tidak sejajar dengan dinding lapis I.

Gambar 3.101. Detil Dinding Ganda Studio Musik

Gambar 3.102. Penggunaan Korden Kain pada Studio Musik

Untuk dinding yang membatasi ruang observasi/ ruang perantara, digunakan dinding ganda dan peletakkan jendela ganda untuk meminimalkan adanya perambatan bunyi.

Gambar 3.103. Penggunaan Jendela Ganda pada Ruang Perantara

Gambar 3.104. Potongan Perspektif Bangunan Terapi Zone Tempo (non skala)

Detil- detil lain:

-

Gambar 3.105. Detil C pada Potongan Perspektif

Gambar 3.106. Detil D pada Potongan Perspektif (indoor planting)

Gambar 3.107. Potongan Perspektif Studio Musik

• R. Terapi Validasi

Gambar 3.108. Denah R. Terapi Validasi

Gambar 3.109. R. Terapi Validasi

Terapi ini bertujuan agar mengembalikan perasaan klien yang berusaha menghindar dari realita, khusunya realita di masa tuanya.

Menggunakan metode desentitiasi, mengurangi secara perlahan- lahan. Misal:

ketika ada seorang Lansia takut untuk naik lift, dimulai dengan proses berdiri di depan lift. Proses kedua berdiri di depan lift dalam keadaan pintu terbuka, dst sampai perasaan takut tersebut hilang.

Contoh penggunaan musik dalam terapi ini; adalah kegiatan menyanyi atau bermain alat musik pada saat rasa nyeri menyerang seorang atau sejumlah

Lansia. Tujuannya: mengalihkan perhatian supaya rsa sakit bisa berkurang dan memberikan rasa senang; meskipun rasa nyeri tersebut tidak sembuh 100%.

Disain ruangan terdapat 1 meja besar berbentuk dinamis dan 1 buah lingkaran yang berfungsi sebaggai panggung yang digunakan untuk cerita.

Gambar 3.110. Perabot R. Terapi Validasi

• R. Just..Action!!

Gambar 3.111. Denah R. Just..Action!

Gambar 3.112. R. Just..Action!

Tujuan: berpikiran positif terhadap apa yang sedang dihadapi ( termasuk apa yang dihadapi di hari tua).

Mengambil satu dari tumpukan kartu action, kemudian melakukan perintah hanya yang ada di kartu action.

Karena terapi berbasis musik, sehingga action- action yang diambil menggunakan lagu- lagu. Lansia terpilih harus menyanyikan atau paling tidak belajar menyanyikan lagu yang tertera di kartu action.

Ingin sedikit merefleksikan kehidupan masa tua, dimana mereka sebagian besar sudah kehilangan kendali terhadap sesuatu (misal: perusahaan, anak, dll) dan bisanya terlampiaskan pada sesama Lansia (marah- marah, memerintah Lansia lain) Æ bagaimana ketika suatu saat mereka dihadapkan pada situasi dimana kita tidak mempunyai kendali apapun selain pasrah dan berserah.

Disain ruangan seperti ruang karaoke, dengan TV di depan dan posisi 10 tempat duduk melingkar. Material akustik hampir sama dengan R. Banting, ditambah dengan adanya lantai ganda karena keberadaannya di lantai 2.

Tetenger menuju ke bangunan Zone Tempo ini menggunakan elemen patung ayam yang berpasang- pasangan sehingga mengeluarkan bunyi.

Diharapkan aik secara pendengaran (bunyi), tetapi juga secara visual bisa

membantu para Lansia untuk mengidentifikasi di bangunan terapi mana mereka berada.

Gambar 3.113. Tetenger pada Bangunan Zone Tempo

Gambar 3.114. Tampak Zone Tempo 4 Sisi (non skala)

Gambar 3.115. Perspektif Eksterior Zone Tempo

Gambar 3.116. Aksonometri Struktur Zone Tempo

3.7.2. Pendalaman Akustik untuk Bangunan Pendalaman ( Paviliun Staccato)

• Paviliun Staccato merupakan salah satu dari 3 paviliun yang ada di Gasebu.

Ketiga paviliun tersebut mengakomodasi Lansia dengan karakter: Lansia yang Mengalami Depresi dan Lansia yang Mengalami Gangguan Sensori, serta Lansia Mandiri yang tinggal di tengah- tengah 4 karakter dasar Lansia Yang Hidup dengan Fobia.

• Paviliun Staccato 22 Lansia dan 4 orang pramurukti yang juga tidur dan menginap di paviliun. Setiap kamar Lansia dihuni 2 Lansia. Semua ruang publik (seperti Kamar Mandi, R. Makan, Dapur, dll) diakses secara bersama- sama; berbeda dengan tipe hunian- apartment.

Gambar 3.117. Denah Paviliun Staccato Lt. Dasar (non skala)

Gambar 3.118. Denah Paviliun Staccato Lt. Tingkat (non skala)

Untuk Lansia yang tiggal di paviliun, ada beberapa kemungkinan:

• Menggunakan kursi roda

• Menggunakan alat bantu jalan

• Bisa berjalan sendiri

Hal ini berkaitan dengan Paviliun Staccato ini diakomodasikan bagi Lansia dengan karakterisik: Lansia yang Mengalami Depresi dan Lansia yang Mengalami Gangguan Sensorik. 2 karakteristik ini ada kemungkinan besar mengalami gangguan fisik, terutama untuk Lansia yang Mengalami Gangguan Sensori.

Ruangan- ruangan di dalam paviliun:

• Kamar Tidur

Setiap kamar tidur berisi 2 Lansia

Untuk disain perabot, berbeda dengan tempat tidur pada umumnya. Disain tempat tidur disesuaikan dengan perilaku Lansia yang cenderung “harus lebih berhati- hati”. Coakan berbentuk ¾ lingkaran, agar Lansia bisa berdiri di satu titik (di pusat lingkaran) dan tangan Lansia pada radius lingkaran tersebut bisa melakukan semua hal yan berkaitan dnegan tempat tidur: mengambil baju di lemari, menaruh barang di meja memorabilia, menuju ke tempat tidur, serta meletakkan alat bantu jalan (walker, cane, atau crutch )

Gambar 3.119. Denah Kamar Tidur

Gambar 3.120. Pergerakan Lansia di Kamar Tidur

Titik Pusat Lingkaran sebagai Center of Action. Kotak biru ada space untuk meletakkan walker, crane, atau crutch. Kecenderungan yang biasanya terjadi adalah para Lansia terlalu binggung dahulu dengan meletakkan alat bantu jalan, sehingga kesulitan ketika harus naik ke tempat tidur.

Kotak hijau adalah lemari pakaian, dan kotak ungu adalah meja memorabilia (meja yang digunakan untuk meletakkan barang- barang yang memberikan memory manis, misal: foto keluarga, foto anak-cucu, dll).

Peletakkan antar 1 tempat tidur dengan tempat tidur yang lain merupakan mirror, dengan harapan antara satu Lansia dengan Lansia yang lain bisa dengan mudah saling mengawasi (karena saling berhadapan, dan tidak ada lemari atau dinding pembatas).

Lingkaran merah merupakan emergency button yang tersambung di ruang kepala pramurukti untuk tiap paviliun.

Gambar 3.121.

Area Dengan Sensor Temperatur Tubuh Di Setiap Pintu Kamar

Kecenderungan Lansia untuk disorientasi (termasuk kamarnya sendiri) dijawab dengan adanya sensor temperatur dengan radius 0,5 m yang bisa mengeluarkan bunyi lagu yang berbeda. Setiap kamar mengeluarkan bunyi yang berbeda.. Radius kecil dipilih agar sensor tidak malah menganggu penghuni paviliun dengan berbunyi secara bersamaan. Harapannya, tema musik bukan hanya menjadi sebuah rentetan rutinitas di bangunan terapi saja, tetapi juga sampai pada tempat di mana para Lansia menghabiskan malam.

Gambar 3.122. Detil Pintu Kamar Tidur

Dengan adanya sensor temperatur tubuh yang menghasilkan bunyi, penyelesaian akustik pada pintu menjadi penting karena pintu merupakan celah yang paling mungkin akan terjadinya perembesan bunyi (kecenderungan pintu untuk dibuka dan ditutup). Untuk itu, disain pintu kamar tidur dibuat agar dapat menutup dengan cepat sesudah dibuka.

Gambar 3.123. Situasi Kamar Tidur

Gambar 3.124. Suasana Exterior Paviliun.

Selang- seling antara warna merah dan ungu mengambil ekspresi warna dari bangunan terapi untuk Zone Dynamic dan Zone Expressions. Selain itu, untuk mempermudah pengidentifikasian para Lansia ketika ingin masuk kamar melalui pintu yang ada di teras.

Gambar 3.125. Potongan Perspektif Kamar Tidur

Adanya teras pada setiap kamar agar supaya mengingatkan mereka akan suasana rumah, di mana teras menjadi bagian yang selalu ada dalam rumah.

Selain itu, teras juga menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan sesama Lansia, baik Lansia satu paviliun maupun penghuni Gasebu yang lain (interaksi di luar paviliun).

Gambar 3.126. Peletakkan Teras di Setiap Kamar

• Kamar Mandi

Kamar mandi untuk Lansia di paviliun ini ada 2 macam, yaitu kamar mandi untuk Lansia yang berkursi roda dan kamar mandi untuk Lansia yang tidak berkursi roda. Total ada 6 buah kamar mandi, 3 di lantai 1 dan 3 di lantai 2,

Gambar 3.127. Tiga Buah Kamar Mandi pada Setiap Lantai Paviliun

Kamar mandi yang paling kiri dikondisikan untuk Lansia yang menggunakan kursi roda, sedang kamar mandi tengah dan kiri untuk lansia yang tidak menggunakan kursi roda.

Gambar 3.128. Sirkulasi Kamar Mandi untuk Lansia Berkursi Roda

Gambar 3.129. Sirkulasi Kamar Mandi untuk Lansia Tidak Berkursi Roda Untuk area kamar mandi, baik untuk Lansia yang berkursi roda dan tidak berkursi roda; dibagi menjadi 2 bagian yaitu area kering dan area basah.

Antara area kering dan area basah dibedakan dengan ketinggian lantai dan railing. Railing juga berfungsi sebagai pegangan bagi Lansia yang ingin mandi. Tipe alat mandi yang digunakan adalah shower dengan kondisi air panas dan dingin.Pemilihan shower dengan pertimbangan agar kamar mandi lebih terkesan clear dan selain itu shower lebih mudah digunakan.

Gambar 3.130. Potongan Perspektif Kamar Mandi

Adanya kursi pada kamar mandi, agar para Lansia ketika di kamar mandi mengalami gangguan (misal tiba- tiba pusing, dll) bisa berhenti sejenak.

Selain itu, kursi juga bisa digunakan untuk mandi.

Gambar 3.131. Situasi Kamar Mandi

• Ruang Makan dan Pantry

Gambar 3.132. Denah Ruang Makan dan Pantry

Untuk ruang makan, dibedakan untuk mereka yang menggunakan alat bantu jalan atau menggunakan kursi roda. Di kotak oranye, disediakan space untuk mereka yang menggunakan kursi roda (hanya terdapat meja tanpa kursi).

Tetapi pembedaan tidaklah mutlak harus seperti itu, bisa dilakukan pemindahan kursi di mana saja.

Pantry yang terletak di sebelah ruang makan, memudahkan para Lansia yang masih bisa membereskan perlengkapan makannya sendiri bisa dilakukan sendiri. Di pantry disediakan space untuk meletakkan piring kotor (kotak

hijau). Diletakkan di tengah pantry, agar Lansia yang menggunakan kursi roda juga bisa meletakkan piring kotor mereka sendiri (diperlukan space untuk radius kursi roda).

• Ruang Santai

Gambar 3.133. Denah Ruang Santai

R. Santai digunakan secara bersama- sama dengan penghuni Lansia lain.

Kotak hijau adalah kotak yang digunakan untuk meletakkan crane atau crutch.

Gambar 3.134. Situasi R. Santai

Gambar 3.135. Aksonometri Struktur Paviliun

3.8. Sistem Struktur

Sistem struktur yang digunakan dalam kawasan bangunan ada 2 macam.

• Sistem rangka kolom beton- balok beton dengan rincian sebagai berikut.

Kolom beton diameter 40-50 cm, Balok beton 50x30 cm Kuda kuda pipa baja diameter 2 dim, Gording Kanal C 150

• Sistem rangka kolom baja- balok beton Kolom baja IWF 500, Balok beton 50x30 cm

Kuda- kuda pipa baja diameter 2 dim, Gording Kanal C 150

Untuk penutup atap semua menggunakan atap tegola, agar dengan mudah menyesuaikan bentukan lengkung karena modul dmensinya yang cendrung kecil- kecil.

Gambar 3.136. Potongan AA (non skala)

Gambar 3.137. Potongan BB (non skala)

3.9. Sistem Utilitas 3.9.1 Utilitas Air Bersih

Air PDAM digunakan untuk keperluan sehari - hari ( kamar mandi, permainan air, keperluan servis )

PDAM Æ meter Æ tandon Æ pompa Æ kran, wastafel, ruang filter dll

3.9.2. Utilitas Air Kotor dan Kotoran

Mengingat bangunan terapi adalah bangunan dengan massa banyak , maka air kotor dan kotoran dibuang pada septictank dan sumur resapan yang terletak pada masing- masing massa bangunan .

3.9.3. Utilitas Air Panas

Kebutuhan air panas cukup krusial untuk para Lansia, mengingat kecenderungan mereka mandi menggunkan air panas. Air panas berasal dari air bersih, kemudian dilewatkn pemanas yang berada di ruang tandon yang kemudian dialirkan ke area hunian dan area bangunan terapi untuk keperluan mandi, wastafel, serta fixture- fixture yang lain.

3.9.4. Sistem Pembuangan Sampah

Sampah dibuang ke tong sampah kemudian diangkut secara menual ke tempat pembuangan sementara yang berada di tepi jalan, dekat bangunan servis.

Setiap hari dimbil oleh truk pengangkut sampah ( pada jalur khusus yang disediakan ). Oleh truk dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Gambar 3.138. Aksonometri Utilitas

Dalam dokumen 3. PERANCANGAN BANGUNAN (Halaman 83-108)

Dokumen terkait