• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendalaman Disain

Dalam dokumen 3. PERANCANGAN BANGUNAN (Halaman 68-83)

Penerapan musik bagi para Lansia tentu saja berbeda dengan usia produktif, mengingat frekuensi yang mampu didengar mempunyai rentang yang terbatas. Bagi usia produktif, kemampuan mendengar mempunyai rentang 20-20.000 Hz sedangkan bagi Lansia, kemampuan mendengar mengalami penurunan seiring dengan penurunan fisik sehingga rentang yang bisa didengar mengalami penyempitan menjadi 20- 4000 Hz (panah warna biru). Bunyi- bunyi di atas frekuensi 4000 Hz, tidak dapat didengar dengan baik oleh para Lansia.

Gambar 3.76. Rentang Frekuensi yang Bisa Didengar Manusia

Dengan Pendalaman Akustik, pengkondisian bunyi- bunyian bagi para Lansia mengakibatkan tidak adanya bunyi- bunyian yang bersifat sia- sia. Musik juga digunakan di keseluruhan terapi, sehingga pengkondisian ruangan agar mempunyai akustik yang baik sangat penting. Akustik juga dijadikan sebagai tetenger, mengingat kecenderungan Lansia disorientasi. Dengan musik, membantu para Lansia untuk mencapai tempat yang dituju dan tidak kesasar. Hal lainnya, musik juga dapat digunakan sebagai dasar dari rutinitas dari para Lansia sehingga perasaaan rileks dalam lantunan musik menjadi poin penting dalam disain kawasan ini. Dengan tidak terputusnya rantai rutinitas, membuat hidup mereka makin bergairah, tentu saja menggunakan rutinitas musik.

3.7.1. Pendalaman Akustik untuk Bangunan Pendalaman ( Zone Tempo )

• Sasaran: Lansia yang Menunjukkan Kemarahan

• Lansia yang Menunjukkan Kemarahan Æ amarah (detak jantung cepat) Æ harus dibuat menurunkan amarah. Supaya rasa marah turun Æ menurunkan detak jantung Æ dengan musik yang menurunkan detak jantung Æ musik yang slow (agar detak jantung makin pelan).

• Tempo adalah: kecepatan ketukan (pelan hingga cepat). Adanya perulangan (repetisi).

• Disain:

Secara bentukan massa, repetisi diekspresikan dari bentukan atap berjumlah 3 susun dengan sudut yang sama, hanya berbeda ketinggian. Bentukan denah mengekspresikan “pelan” dengan sudut-sudutnya (sudut tidak sedrastis Zone Dynamic dan Expressions). Untuk ruang dalam, diupayakan repetisi tercermin dengan garis- garis sejajar sebagai bentukan ruang. Secara facade,

Bentukan disusun lebih rapat dibanding zone Harmony, yang ingin mengekspresikan ketukan yang lambat yang merupakan tipe musik pada karakter ini (berfungsi sebagai sunshading). Repetisi/ Perulangan juga tercermin dari bentukan denah lantai 1 dan lantai 2 yang nyaris sama, kecuali di bagian pintu masuk dimana tidak mempunyai lantai 2.

Gambar 3.77. Denah Zone Tempo Lt. Dasar

Gambar 3.78. Denah Zone Tempo Lt. Tingkat

Gambar 3.79. Flow Chart di Lantai 1 Zone Tempo

Beberapa aktivitas yang dilakukan Lansia di Zone Tempo (sesaat setelah melewati pintu masuk)

• Melakukan aktivitas menyiram indoor planting. (panah kuning)

Setiap perwakilan klik 10 (kelompok) mendapat kewajiban menyiram tanaman secara rutin. Hal tersebut untuk selain memelihara rasa tanggung jawab, juga supaya tetap menjaga rutinitas mereka.

• Segera menuju ke ruangan yang sudah terjadwal (panah oranye).

Gambar 3.80. Ilustrasi Pola Lantai

Dengan penegasan pola lantai (bentukan dan material) pada Galeri Nostalgila, mengarahkan para Lansia pada saat berjalan. Dengan adanya railing (garis merah tua) juga membantu para Lansia agar berjalan, juga bisa dibuat pegangan tangan sembari melihat sketsel- sketsel di Galeri Nostalgila.

• Beristirahat sejenak di sofa (panah merah)

Para Lansia yang mudah lelah ketika berjalan panjang, bisa beristirahat dulu di sofa yang disediakan di samping pintu masuk. Tarik nafas sejenak sebelum memulai rangkaian rutinitas hari tersebut. Di samping sofa disediakan dispenser dan meja snack.

Aktivitas dengan MUSIK pada bangunan terapi Zone Tempo:

• R. Planning..First!

Gambar 3.81. Denah R. Planning..First!

Gambar 3.82. Ilustrasi Area Sesudah Pintu Masuk Zone Tempo

Gambar 3.83. Potongan Perspektif R. Planning First

Merupakan ruang terbuka (tidak tersekat oleh dinding 4 sisi) yang bertujuan untuk tetap menanamkan kedisiplinan bagi para lansia di hari tuanya.

Para lansia masing- masing menulis di papan untuk menuliskan target yang akan dituju 1 minggu ke depan, kemajuan baik dalam hal jasmani maupun rohani. Perencanaan bukan sekedar perencanaan pribadi, tapi juga perencanaan kelompok. Ketika datang selanjutnya, evaluasi dilakukan terhadap apa yang mereka rencanakan/ inginkan dengan yang mereka dapat apakah sudah sesuai atau tidak. Di semua planning board, terdapat pegangan tangan untuk memudahkan Lansia menulis atau mencoret sesuatu di board.

Penggunaan terapi musik pada aktivitas ini terletak di yel- yel tiap kelompok yang harus dinyanyikan tiap kali memulai melakukan aktivitas planning.

Diharapkan dengan adanya yel- yel ini, dapat meningkatkan semangat para Lansia.

Untuk area berarsir ungu merupakan area bagi Lansia yang menggunakan kursi roda, cane, crutch, maupun walker dengan pengkondisian railing lebih panjang dan tepat berada di sisi kanan dan kiri para Lansia.

• Beauty Center

Ruang yang paling banyak ditunggu oma- oma. Meskipun mereka sudah menginjak masa tua, tetapi menurut survey banyak di antara mereka yang masih senang melakukan body treatment meskipun hanya hal kecil seperti creambath.

Gambar 3.84. Denah Beauty Center

Hal tersebut memberi kesenangan sendiri bagi para oma, selain memberikan perasaan rileks bagi para Lansia.

Untuk para lansia pria, diberikan juga layanan perawatan tubuh yang hampir sama untuk para lansia wanita. Misal: potong rambut, creambath, dll.

Daerah yang diarsir merah pada gambar 3.48 merupakan area untuk Lansia yg berkursi roda, karena tidak menutup kemungkinan Lansia yang berkursi roda pergi ke bangunan terapi ini.

Dinding pada ruangan ini merupakan dinding yang bisa digeser sehingga bisa berinteraksi langsung dengan Lansia di R. Terapi Cognitve Behaviour.

Dinding partisi dengan material double gyspum board diharapkan mampu meredam suara ketika dinding partisi tidak dibuka dan salah satu atau kedua ruangan sedang melakukan aktivitas musik. Cara lain agar tidak terjadi perembesan suara yang menganggu, dengan membatasi volume musik/ suara yang dikeluarkan.

Gambar 3.85. Potongan Perspektif Beauty Center

Gambar 3.86. Detail Dinding Partisi Double Gypsum Board + Glass Wool

Gambar 3.87. Gambar 3.88.

Layout Perabot Beauty Center Interaksi Lansia dari Meja Beauty

Dalam Beauty Center ini, disain perabot berbeda dengan salon pada umumnya. Lansia di Gasebu yang banyak menghabiskan waktu di masa tuanya dengan sesama Lansia, lebih senang bila di dalam Beauty Center mereka masih bisa ngerumpi. Sehingga, disain perabotnya bukan layaknya salon biasa (duduk menghadap tembok/ cermin). Railing banyak digunakan, untuk membantuk para Lansia yang kesulitan berdiri atau berjalan (warna hijau pada Gambar 3.86).

Meja Beauty didisain duduk saling berhadapan, agar masih bisa berbincang- bincang dengan teman Lansia ketika sedang dirawat tubuhnya. Letak cermin berada di samping sebelah kiri (warna biru pada Gambar 3.87) sedangkan depan wajah lubang besar agar bisa saling menatap mata Lansia yang ada di depannya. Sehingga, dalam Beauty Center ini para Lansia benar- benar dimanjaan dan masih bisa bersenang- senang dan tertawa-tawa bersama sesama Lansia.

• R. Terapi Cognitive Behaviour

Gambar 3.89. Gambar 3.90.

Denah R. Terapi Cognitive Behaviour Perabot R. Terapi Cognitive Behaviour Terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan memahami lingkungan sekitar.

Bisa saja sang terapis memberikan tugas (PR) bagi pasien yang haris dilakukan dalam kehidupan sehari- hari, Misal: kalau ada Lansia yang kurang

pede, diberi tugas untuk menyapa orang asing. Kemudian, terapis akan mengadakan evaluasi terhadap pasien tersebut.

Gambar 3.91. R. Terapi Cognitive Behaviour .

Selain itu, aktivitas bisa dilakukan dengan membentuk kelompok kecil dari klik 10. Sehingga, disain ruangan menggunakan 2 meja berukuran ¾ lingkaran. Lubang yang ditengah merupakan tempat bagi terapis (lingkaran hijau pada Gambar 3.90.) dan 5 Lansia (lingkaran merah).

Meja billiar ditempatkan di ruang ini, merupakan salah satu alternatif alat pada terapi ini. Musik yang digunakan di terapi ini diekspresikan melalui hukuman bagi para Lansia yang melakukan kesalahan, yaitu dengan menyanyi.

Alternatif media simulasi lain yang juga bisa digunakan adalah alat musik.

Dinding partisi yang digunakan sama dengan yang digunakan pada Beauty Center, karena ada kala waktu tertentu terapi bisa dilakukan bersamaan dengan yang lain.

• R. Banting

Merupakan ruang katarsis (pelampiasan) bagi para Lansia; terutama bagi para Lansia yang Menunjukkan Kemarahan yang merupakan prioritas karakteristik pengguna bangunan ini. Tujuannya: agar relieve (lega) terhadap pengalaman- pengalaman yang tidak mengenakkan.

Karena semua terapi kembali ke tema all about music, maka alat- alat yang dibanting pada ruangan ini menggunakan alat- alat musik (dicari yang dalam kondisi tidak seberapa bagus).

Gambar 3.92 Denah R. Banting

Alternatif aktivitas lain adalah diadakan “Festival Mengomel” yang bertujuan sama, mengubah energi marah dijadikan bentuk yang lain, sehingga kemarahan dapat dicegah.

Gambar 3.93. Ruang Banting

Disain ruangan dibuat kedap suara, mengingat bunyi yang dikeluarkan cukup menganggu ruang- ruang disekitarnya. Pemakaian dinding bata tebal 15 cm 2 lapis dengan rongga yang diisi glass wool diharapkan dapat membantu penyerapan suara.

Gambar 3.94. Sketsa Dinding Bata Tebal 15 cm Lapis Dua (Akustik)

Ada 3 bagian ruang maya di dalam ruangan ini, dengan tingkat pelampiasan yang berbeda. Makin tinggi tingkat pelampiasa, penggunaan alat musiknya pun semakin mengeluarkan bunyi- bunyian yang makin keras (misal: gong).

• Lounge/ R. Leyeh- leyeh

Merupakan ruang yang biasanya digunakan pada siang hari bagi para Lansia untuk sekedar beristirahat melepas lelah atau sekedar berhenti sejenak dari rutinitas.

Gambar 3.95. Lounge

Keberadaan lounge memanfaatkan view positif yaitu golf view sehingga dari dalampun para Lansia masih bisa menikmati indahnya hamparan karpet rumput yang bisa dinikmati secara luas karena penggunaan pintu lipat sehingga view bisa maksimal.

Untuk perabot, menggunakan sofa- sofa rendah. Selain sebagai tempat bersantai, bisa digunakan pada terapi teretentu yang letaknya berdekatan (R.

Planning..First!, Beauty Center, atau R. Terapi Cognitive Behaviour).

• R. Baca

Gambar 3.96. Denah R. Baca

Hobby Lansia yang paling banyak ditemukan pada saat survey adalah hobi membaca.

Gambar 3.97. Potongan Perspektif R. Baca

Merupakan ruangan di lantai 2; terbuka yang memanfaatkan lounge sebagai area untuk membaca sekaligus memanfaatkan golf view.

Untuk para lansia yang mempunyai pengelihatan yang masih bagus, kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling banyak mereka lakukan.

Membaca selain menjadi jendela informasi masyarakat luar sana, juga agar pasokan pengetahuan bagi para lansia ini tetap berjalan.

Dari masing- masing klik 10, terdapat 1 Lansia yang menjadi penanggung jawab buku. Lansia ini yang mengkoordinasi dan bertugas mengatur buku.

(posisi di kotak ungu Gambar 3.95)

• Studio Musik

Studio Musik digunakan untuk mengekspresikan kecintaan akan musik.

Meskipun para Lansia sudah tua, tetapi kecintaannya terhadap musik tidak bisa dipungkiri. Sebagian besar dari mereka mempunyai kenangan- kenangan khusus terhadap lagu- lagu tertentu.

Di dalam studio ini, para Lansia diperkenankan bermain musik, bernyanyi dengan kelompoknya. Bila memungkinkan, secara rutin diadakan acara tahunan lomba band seperti Indonesian Idol.

Dalam studio ini disediakan seperangkat alat musik, hingag tempat duduk yang disediakan untuk penonton berjumlah maksimal 1 x klik 10 (10 orang).

Penerapan musik bagi para Lansia berbeda dengan usia produktif, mengingat frekuensi yang mampu didengar mempunyai rentang yang terbatas. Bagi usia produktif, kemampuan mendengar mempunyai rentang 20-20.000 Hz sedangkan bagi Lansia, kemampuan mendengar mengalami penurunan seiring dengan penurunan fisik sehingga rentang yang bisa didengar mengalami penyempitan menjadi 20- 4000 Hz. Bunyi- bunyi di atas frekuensi 4000 Hz, tidak dapat didengar dengan baik oleh para Lansia.

Gambar 3.98. Denah Studio Musik

Prinsip dasar studio musik:

Pada ruang studio, penikmat atau penonton adalah penyaji atau pelakunya sendiri yang jumlahnya cukup terbatas, sehingga pemantulan untuk memperkuat bunyi jarang diperlukan.

Untuk menjaga kualitas bunyi yang dihasilkan, ruangan justru harus didisain untuk menyerap bunyi.

Prinsip akustik pada studio musik bagi pengguna bangunan Lansia:

Pada Lansia, frekuensi rendah sangat menonjol karena mereka kurang bisa mendengar bunyi pada frekuensi tinggi.

Frekuensi rendah menonjol Æ bagaimana menyerap bunyi pada frekuensi tinggi Æ digunakan material yang menyerap frekuensi menengah dan tinggi.

Karakteristik material yang mampu menyerap frekuensi tinggi adalah banyak berpori/ berserat.

Tingkat penyerapan suatu material ditentukan oleh koefisin serap/ koefisien absorbsi material tersebut. Koefisien absorpsi adalah angka yang menunjukkan jumlah/ proporsi dari keseluruhan energi bunyi yang datang

yang mampu diserap oleh material tersebut. Nilai maksimum koefisien absorpsi adalah 1 untuk permukaan yang menyerap (mengabsorpsi) sempurna.

Dalam disain ini, perhitungan untuk mendapatkan R.T (Reverberation Time) dihitung secara garis besar menggunakan tabel sebagai berikut:

Tabel 3.5. Reverberation Time 60 Calculator (http://www.csgnetwork.com)

RT60 Calculator Required Data Entry

Dalam dokumen 3. PERANCANGAN BANGUNAN (Halaman 68-83)

Dokumen terkait