3.1. Masalah Disain
Lansia supaya tetap sehat dan bugar, tidak boleh menghentikan rutinitasnya. Oleh sebab itu, dalam Griya Sehat Bugar ini saya ingin Lansia tetap hidup dalam keceriaan alunan musik. Sehingga, rumusan masalahnya adalah
“Bagaimana mendisain Griya Sehat Bugar untuk para Lansia yang hidup dalam keceriaan alunan musik?” Keceriaan dalam alunan musik sebagai pekerjaan atau rutinitas. Tujuan akhirnya adalah peningkatan taraf kehidupan para Lansia yang semakin baik, sehingga berdampak positif bagi kesehatan dan kualitas hidup para Lansia.
3.2. Pendekatan Perancangan
Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan Perilaku. Menurut Clovis Heimsath, manusia tidak secara langsung dipengaruhi oleh arsitektur, karena organisasi sosial yang menjadi motivasi harus dipikirkan.
Perilaku tertentu dapat terjadi, karena elemen- elemen kegiatan sosial berada di dalam keteraturan. Elemen- elemen tersebut adalah:
• Kegiatan sosial yang ditampung bangunan.
• Derajat fleksibilitas yang dinyatakan oleh setiap kegiatan.
• Kebiasaan- kebiasaan yang mempengaruhi atau dipengaruhi.
• Latar belakang dan sasaran dari peserta (partisipan).
Kemudian apa peranan bangunan? Bangunan harus merupakan suatu pelayan sosial dalam arti yang paling luas, dan harus fleksibel dimana kegiatan sosial ditentukan.
Definisi Lansia ( Lanjut Usia) yang digunakan dalam disain ini adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas, sesuai dengan Undang- Undang No 13/ th. 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia. Dalam Griya Sehat Bugar Lansia ini, perilaku para Lansia memegang peranan sangat penting karena para disain ini Lansia yang menjadi subjek. Para Lansia menghabiskan
keseharian mereka untuk beraktivitas dan bahkan tinggal di dalam kompleks ini.
Perilaku para Lansia jelas berbeda dengan manusia usia produktif. Perubahan yang terjadi pada usia lanjut antara lain: perubahan fisik, perubahan mental, perubahan psikososial, dan perubahan spiritual. Perubahan- perubahan ini yang menyebabkan kemunduran, baik dalam hubungan dengan sesama maupun hubungan dengan diri sendiri.
Perubahan tersebut yang menyebabkan kebiasaan- kebiasaan para lanjut usia seringkali bebeda dengan usia produktif yang lain. Tidak mengherankan, mengingat kondisi fisik mereka menurun seiring dengan bertambahnya usia.
Seperti yang dikemukakan di awal, 2 tipe Lansia yang digunakan dalam proses disain, yaitu:
3.2.1. Lansia yang Tidak Mampu Menerima Ketuaan (Hidup dengan Fobia) Terdapat 6 tipe di dalamnya
• Lansia yang Mengalami Kekacauan Mental
• Lansia yang Menunjukkan Agresi
• Lansia yang Menunjukkan Kemarahan
• Lansia yang Mengalami Depresi
• Lansia yang Menunjukkan Manipulasi
• Lansia yang Mengalami Gangguan Sensorik
Karena sifatnya yang hampir sama, maka 6 klasifikasi disempitkan menjadi 4 klasifikasi.
3.2.2. Lansia yang Mampu Menerima Ketuaan (Lansia Mandiri)
Adalah: :Lansia yang dengan senang hati menjalani masa tuanya. Hal- hal yang dapat membuat para lansia enjoy menghadapi masa tuanya, antara lain:
• Tidak terputusnya rantai rutinitas.
• Mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri.
• Mempunyai semangat yang tinggi.
• Terbiasa dengan gaya hidup yang sehat dan seimbang.
Dalam mendisain Griya Sehat Bugar ini, dilakukan pendekatan pada tipe Lansia yang Hidup dengan Fobia. Masing- masing bangunan terapi didisain
berdasarkan 4 karakteristik tersebut karena prioritas penanganan bagi mereka.
Untuk Lansia Mandiri, mereka berfungsi untuk membimbing para Lansia yang Hidup dengan Fobia dengan beraktivitas bersama mereka.
3.3. Konsep Perancangan
Diagram 3.1. Konsep Perancangan
Dari hasil pendekatan dan obeservasi terhadap para Lansia, terutama pada tipe Lansia yang Hidup dengan Fobia; didapatkan kecenderungan Lansia yaitu Out of Control. Yang dimaksud dengan Out of Control adalah kecenderungan untuk lepas kendali, terutama terhadap hal- hal di sekeliling yang tidak sesuai dengan keinginan masing- masing Lansia. Misal, kecenderungan Lansia mengomel ketika makanan yang disajikan bukan makanan kesukaan; atau marah- marah ketika harus berbagi dengan sesama Lansia. Kemudian, bagaimana cara mengatasi kecenderungan tersebut? Hal tersebut dapat diatasi dengan adanya terapi- terapi bagi para Lansia. Dengan adanya terapi yang berkesinambungan
atau terus- menerus, diyakini bisa secara perlahan mengatasi kecenderungan Out of Control. Stimulasi memang harus diberikan secara terus- menerus, meskipun bukanlah sesuatu yang berat. Stimulasi tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas- aktivitas para Lansia di dalam kompleks ini.
Kemudian pertanyaan kembali muncul, terapi macam apa yang mampu mengakomodir kebutuhan para Lansia sekaligus menyelesaikan kecenderungan Out of Control? Dari sekian banyak terapi bagi para Lansia, Terapi Musik muncul sebagai solusi atas masalah yang dihadapi para Lansia tersebut. Apakah yang dimaksud dengan Terapi Musik?
Terapi musik terdiri dari dua kata, yaitu “terapi” dan “musik”. Kata
“terapi” berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang untuk membantu atau menolong orang. Berbeda dengan berbagai terapi dalam lingkungan psikologi yang justru mendorong klien untuk bercerita tentang permasalahan- permasalahannya, terapi musik adalah terapi yang bersifat nonverbal.
Semua terapi musik mempunyai tujuan yang sama, yaitu:
• Membantu mengekspresikan perasaan
• Membantu rehabilitasi fisik
• Memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi
• Meningkatkan memori
• Menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi dan membangun kekuatan emosional
Dengan demikian, terapi musik juga diharapkan untuk dapat membantu mengatasi stress, mencegah penyakit, dan meringankan rasa sakit. Peran musik dalam terapi musik tentunya bukan seperti obat yang dapat dengan segera menghilangkan rasa sakit. Musik juga tidak dapat segera mengatasi sumber penyakit. Hasilnya mungkin akan berbeda jika klien dilibatkan secara aktif dalam serangkaian aktivitas musik yang dirancang secara khusus.
Menurut National Assocation for Music Therapy (1960) di Amerika Serikat, mendefinisikan terapi musik sebagai berikut:
Penerapan seni musik secara ilmiah oleh seorang terapis, yang menggunakan musik sebagai sarana untuk mencapai tujuan- tujuan terapi tertentu melalui perbuahan perilaku.
Karena sifatnya yang satu- satunya mampu memberikan efek terapi baik bersifat psikis sekaligus fisik, M u s i k diangkat sebagai konsep dalam kompleks ini. Keseluruhan disain merupakan implementasi dari Musik, yang diterjemahkan dengan berbagai ragam cara.
Tabel 3.1. Kebutuhan Ruang untuk Lansia yang Mengalami Kekacauan Mental dan Karakter Musik yang Dibutuhkan
Tabel 3.2. Kebutuhan Ruang untuk Lansia yang Menunjukkan Kemarahan dan Karakter Musik yang Dibutuhkan
Tabel 3.3. Kebutuhan Ruang untuk Lansia yang Mengalami Depresi dan Karakter Musik yang Dibutuhkan
Tabel 3.4. Kebutuhan Ruang untuk Lansia yang Mengalami Gangguan Sensori dan Karakter Musik yang Dibutuhkan
3.5. Program Ruang yang Direncanakan
Proyek ini merupakan suatu kompleks massa, yang dibagi menjadi 4 bagian secara garis besar. Antara lain: Fasilitas Utama (termasuk Hunian), Fasilitas Penunjang, Fasilitas Pengelola, dan Fasilitas Servis.
3.5.1. Fasilitas Utama
Merupakan fasilitas sehari- hari para lansia beraktivitas; dari pagi hingga menjelang sore hari untuk Lansia non penghuni dan sepanjang waktu untuk Lansia penghuni. Tujuan utama dari Fasilitas Utama ini adalah peningkatan Activity Daily Living (ADL); yang merupakan kemampuan untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari- hari. Selain sebagai sarana memperbaiki kualitas hidup, fasilitas utama ini juga bertujuan sebagai ajang para Lansia berkreasi dan menjalin relasi dengan sesama Lansia; baik sesama penghuni Gasebu maupun Lansia yang tidak menghuni di Gasebu namun datang setiap hari.
Meliputi 4 bagian: Area Terapi, Area Hunian, Area Komersial, dan Area Medis.
3.5.1.1. Area Terapi
Terapi yang diselenggarakan pada kompleks bangunan ini tidak semata- mata hanya berupa terapi fisik saja, tetapi juga meliputi terapi psikis. Kegiatan terapi terjadwal, dan mengalami pengulangan tiap 4 hari terapi sekali (lihat Lampiran untuk lebih detil). Setiap harinya kegiatan terapi dipadukan antara yang bersifat senang- senang, maupun terapi yang bersifat murni medis.
( Deskripsi masing- masing ruang terapi dijelaskan lebih lanjut di sub-bab 3.6.
Aplikasi Disain)
Lansia yang berada di Gasebu ini mempunyai 2 karakter utama; yaitu Lansia Mandiri dan Lansia yang Hidup dengan Fobia. Untuk Lansia yang mandiri, pemenuhan akan terapi tertentu bisa disesuaikan atas keinginan masing- masing. Untuk Lansia yang hidup dengan fobia; keberadaan ruang- ruang terapi tidak lepas dari kebutuhan para Lansia dengan fobia akan kecenderungan “Out of Control”. Oleh karena itu, ruang- ruang terapi tercipta berdasarkan karakteristik- karakteristik pada Lansia dengan fobia. Lansia mandiri berkewajiban untuk
membimbing para Lansia dengan fobia, masuk bersama mereka. Hal tersebut mempunyai 2 keuntungan:
• Untuk Lansia Mandiri
Dengan adanya bantuan- bantuan terhadap sesamanya yang membutuhkan, mampu meningkatkan kepercayaan diri para Lansia (merasa dibutuhkan) yang akhirnya berdampak positif bagi kehidupan sehari- hari serta bagi kesehatan.
• Untuk Lansia yang Hidup dengan Fobia
Dengan keterbatasan yang ada, datangnya bantuan dari sesama merupakan hal yang baik untuk kelanjutan hidup mereka. Perasaan “saya tidak sendiri di dunia ini” juga akan berdampak positif bagi pikiran dan pada akhirnya pada kesehatan paa Lansia; sesuai dengan konsep “Mind and Body” dalam istilah psikologi yang menyatakan bahwa adanya hubungan yang erat antara pemikiran dan tubuh secara jasmani.
Didapatkan 4 bangunan terapi, sebagai pemenuhan terhadap 4 karakteristik Lansia yang Hidup dengan Fobia:
• Lansia yang mengalami kekacauan mental
• Lansia yang mengalami kemarahan
• Lansia yang mengalami depresi
• Lansia yang mengalami gangguan sensori
Meskipun ruang- ruang diciptakan untuk 4 tipe Lansia yang hidup dengan fobia, bukan berarti pengguna bangunan hanya terbatas Lansia- lansia sesuai karakteristiknya saja. Karena semua tipe Lansia, membutuhkan semua terapi yang harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Untuk Fasilitas Utama, asumsi pengguna bangunan sebagai berikut:
• Para Lansia dibagi di dalam kelompok- kelompok kecil.
1 kelompok berisi 10 lansia, campuran pria+wanita.
Setiap harinya ada jadwal- jadwal aktivitas, dimulai dari pk 07.00-15.00.
Skedul aktivitas berulang setiap 4 hari sekali, dan lansia yang bertugas jaga di Toko Bunga maupun Café (bergantian setiap harinya, 1 hari 2 shift) tidak melakukan aktivitas room-to-room.
Jadi, kapasitas pengguna ruang- raung utama maksimal untuk 10 orang.
• Penomoran kelompok antara kelompok 1-20 kelompok. Total diperkirakan ada 200 lansia di Gasebu (Griya Sehat Bugar) ini dengan komposisi 100 lansia yang tinggal dan 100 lansia yang masih tinggal dengan keluarganya (setiap hari datang).
• Untuk aktivitas sehari- harinya, merupakan kombinasi antara hal-hal yang bersifat menghibur (senang- senang, santai- santai) hingga terapi- terapi yang bermanfaat untuk kesehatan.
3.5.1.2. Area Hunian
Ada 2 tipe hunian, yaitu:
• Tipe Paviliun ( ± 100 Lansia ) Ada 3 paviliun.
Asumsi tempat tinggal untuk tipe Lansia yang mengalami depresi dan Lansia yang mengalami gangguan sensori .
1 Kamar @ 2 Lansia.
Tiap Paviliun dikawal 4 orang pramurukti yang juga tinggal di dalam paviliun.
Semua ruang bersifat kebersamaan; ruang bersama, kamar mandi bersama, dll Untuk kamar mandi, disiapkan 1 kamar mandi khusus untuk pengguna kursi roda.
• Tipe Apartemen ( ± 100 Lansia )
Asumsi tempat tinggal untuk tipe Lansia yang mengalami kekacuan mental dan Lansia yang mengalami kemarahan.
2 tipe Lansia tersebut dianggap lebih mandiri, sehingga tipe apartemen dipandang lebih aman.
Ada 2 macam, @ dihuni 1 Lansia dan @ dihuni 2 Lansia Tidak ada pramurukti, karna kecenderungan lebih mandiri.
3.5.2. Area Komersial
Area komersial bertujuan untuk subsidi silang untuk kehidupan Lansia, sebagai pemenuhan kebutuhan sehari- hari. Dengan adanya area komersial ini kemungkinan para Lansia bertemu dengan orang banyak semakin besar, dan rantai rutinitas para Lansia akan terus terjaga. Dan dengan adanya tanggung jawab
yang diemban para Lansia, gairah dan semangat hidup akan semakin meningkat.
Sebagian besar area komersial diperuntukkan untuk Lansia Mandiri, karena tingkat mobilitas Lansia Mandiri masih cukup tinggi.
Ada 3 ruang untuk area komersial, yaitu:
• Cafe
Jenis makanan dan minuman cenderung mudah, dan ready-to-eat sehingga proses memasak diminimalkan, hanya tinggal menyiapkan saja. Untuk kala tertentu dijadikan tempat untuk berkaraoke bersama dengan keluarga para Lansia atau pengunjung cafe.
• Toko Bunga dan Kebun Bunga
Merupakan fasilitas untuk menyalurkan hobi berkebun para Lansia, yang sebagian besar ditemukan pada saat eksplorasi tetapi masih kurang tersedianya fasilitas tersebut di beberapa panti. Dalam Toko Bunga juga disediakan ruang konsultasi bagi para pengunjung yang membutuhkan saran atas bunga atau rangkaian bunga tertentu.
• Art and Craft Station
Ruang ini merupakan ruang pamer seluruh barang- barang yang dibuat sendiri oleh para Lansia di Gasebu. Selain dipamerkan, pengunjung diperkenankan untuk membeli beberapa koleksi dari Gasebu, atau mungkin bisa memesan dalam jumlah yang banyak. Fasilitas ini juga menjembatani kemampuan seni para Lansia yang terkadang kurang diakomodir karena kurangnya sarana dan prasarana.
Aktivitas yang dilakukan di ruang- ruang komersial, tentu saja disesuaikan dengan kemampuan para Lansia mengingat kemampuan fisik yang sudah menurun.
3.5.3. Area Medis
Untuk perawatan medis, disediakan Day Care. Day Care tersebut tidak hanya untuk penghuni saja tetapi terbuka juga untuk Lansia umum. Perawatan medis untuk para Lansia ada 2 macam; perawatan rutin (check kesehatan), maupun perawatan medis untuk penyakit- penyakit lain. Jika penyakit terlalu parah dan peralatan medis di Day Care kurang memenuhi, maka dapat dikirim ke rumah sakit terdekat ( Rumah Sakit Mitra Keluarga atau Rumah Sakit Marien).
Selain itu, juga terdapat ruang isolasi yang digunakan bila dikemudian hari ada penyakit menular yang sebaiknya tidak dirawat bersama dengan pasien lain.
3.5.4. Fasilitas Penunjang
Fasilitas untuk mempermudah mobilitas para Lansia, terutama untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari sehingga tidak perlu binggung untuk keluar dari Gasebu.
Antara lain:
• Mini Market
• Coin Laundry Service
• R. Telpon
3.5. Aplikasi Disain
Konsep yang sudah didapat kemudian diaplikasikan ke dalam disain, sehingga disain mempunyai suatu arti / nilai / dasar yang membedakannya dari disain yang lainnya.
3.6.1. Penzoningan
Gambar 3.1. Situasi
area servis komersial
hunian + penunjang
area terapi
Gambar 3.2. Penzoningan
Zoning diletakkan berdasarkan zona aman dan tenang, 2 hal yang dirasa paling penting untuk para Lansia. Untuk zona yang paling aman dan tenang berada di tengah- tengah site, difungsikan untuk area hunian (lingkaran biru) dengan tingkat kebisingan yang paling rendah serta pengamanan paling tinggi.
Area hunian sengaja tidak diletakkan menghadap lapangan golf dengan pertimbangan: mereka tidak terlalu dimanjakan di dalam Gasebu ini. Sehingga pelaksanaan terapi- terapi menjadi satu hal yang penting di dalam Gasebu ini.
Area hunian juga didekatkan dengan area pendukung dan fasilitas medis berkaitan dengan kemudahan penanganan kesehatan secara mendadak dan pemenuhan kebutuhan sehari- hari bagi para Lansia.
Untuk area komersial (lingkaran ungu) diletakkan paling depan, arah frontal dari jalan raya dengan tujuan agar kemungkinan dilihat atau dari segi paling visible (paling mudah dilihat orang), mengingat area komersial merupakan area dengan tingkat hubungan dengan masyarakat/ orang luar paling tinggi. Untuk bangunan- bangunan terapi (lingkaran kuning), dihadapkan ke arah lapangan golf agar mendapatkan view yang paling bagus. Sebagian besar waktu para Lansia ini
dihabiskan di ruang- ruang terapi, sehingga golf view yang bagus memberikan view tersendiri di tengah- tengah kesibukan mereka.
Area pengelola berada di tengah- tengah antara area komersial dan area hunian dengan maksud agar pengawasan menjadi mudah. Selain itu, area pengelola terdapat fasilitas hunian untuk Penanggung Jawab Harian yang bertugas untuk memantau para Lansia, 24 jam sehari. Peletakkan area pengelola di dekat area hunian akan memberi kemudahan Penanggung Jawab Harian untuk menjalankan tugasnya. Area servis diletakkan dekat dengan area pengelola, agar pengawasan juga semakin mudah, dan juga memberi kesempatan untuk membuka akses loading dock untuk cafe dan kebun bunga.
Day Care F. Pengelola
ENTRANCE!
Gambar 3.3. Peletakkan Entrance
Peletakkan entrance didasarkan pada pertimbangan kemudahan akses pengunjung, penghuni, tamu penghuni, serta arus kendaraan. Dari entrance, pengguna bangunan harus dimudahkan dalam hal pencapaian ke ruang- ruang yang berkaitan. Kemungkinan pengguna bangunan yang terlibat dalam kaitan peletakkan entrance, antara lain:
• Pengunjung dengan tujuan mencari informasi (1)
• Pengunjung yang ingin bertemu dengan personil pengelola (2)
• Lansia yang datang setiap hari untuk beraktivitas bersama (3)
• Lansia yang ingin ke Daycare (4)
• Lansia yang akan menjadi penghuni (5)
• Tamu penghuni yang ingn berkunjung (6)
Gambar 3.4. Flowchart di Entrance
Entrance diletakkan di tengah segitiga fungsi ruang- ruang yang menjadi tujuan pertama dari pengguna bangunan sehingga bagi pengunjung yang baru pertama kali masuk ke bangunan ini tidak merasa kesulitan untuk mencari jalan menuju ruang yang ingin dicapai.
Gambar 3.5. Vista dari
Jln. Bukit Darmo Golf 1
Gambar 3.6. Vista dari Jln. Bukit Darmo Golf 2
3.6.2. Pola Penataan dan Bentuk Massa Bangunan
Gambar 3.7. Tampak Atas
• Penerapan konsep MUSIK pada kompleks ini terlihat dominan pada sekumpulan massa berbentuk lengkung (massa- massa bangunan Non Terapi yang notabene adalah fasilitas umum) yang mengekspresikan secara analog sebuah Kunci (key signature) dalam sebuah komposisi alunan musik. Sebuah key signature merupakan awal dari sebuah musik, yang diekspresikan melalui fungsi ruang- ruang di dalamnya yang berhubungan langsung dengan kehidupan para Lansia dengan harapan para Lansia juga mempunyai awal yang baik dalam kegiatan setiap harinya.
Gambar 3.8. Massa Lengkung yang Mengekspresikan Treble Clef- Key Signature
• Untuk 4 massa bangunan terapi (Fasilitas Utama), mengekspresikan karakter musik dari masing- masing tipe Lansia yang Hidup dengan Fobia; yaitu (1) Zone Harmony – (2)Zone Tempo – (3)Zone Dynamic – (4)Zone Expressions . Setiap hari mereka pergi ke masing- masing pusat sehat dan bugar (bangunan- bangunan terapi) sehingga pencapaian maupun tetenger setiap mass terap menjadi sangat penting sehingga para Lansa tidak mudah tersesat, Penjelasan selengkapnya, di lembar khusus tiap zone.
Gambar 3.9. Massa Terapi yang Mengekspresikan 4 Karakter Musik bagi Lansia
• Bagi para Lansia, sirkulasi antar massa harus sangat diperhatikan. Selain pola sirkulasi yang jelas, juga tetenger- tetenger setiap massa perlu diperhatikan.
kemudahan itu tercermin, antara lain:
Hanya sirkulasi di dalam area hunian dengan sistem room- corridor- room.
Hal tersebut akan memudahkan para Lansia mengidentifikasi bahwa mereka berada di area hunian.
Open space luas yang berada di tengah- tengah penataan massa digunakan sebagai sirkulasi eksternal pada area hunian. Sehingga memudahkan para Lansia sekaligus mengingatkan para Lansia ketika mereka sedang berinteraksi dengan sesama di lain paviliun.
Perembesan ke ruang- ruang terapi juga dibuat mudah, yang diperjelas dengan elemen landscape berupa hard material untuk pedestrian, dan yang lain
berupa soft material. Sehingga jalur yang ditempuh ke masing- masing terapi dengan mudah diingat para Lansia
Pola- pola yang jelas dan cenderung radial pada elemen landscape, sehingga orientasi bangunan tetap terjaga, dan para Lansia juga tidak mudah disorientasi.
3.6.3. Gambaran Kegiatan Sehari- Hari Para Lansia dalam Gasebu
Gambar 3.10. Pagi Hari- Keluar dari Paviliun
Setiap hari pk 06.00 para Lansia keluar dari area Hunian, dengan sebelumnya mandi dan siraman rohani di dalam paviliun masing- masing. Lansia yang mengalami kesulitan berjalan (memakai kursi roda, crane, crutch, atau walker) bila masih memungkinkan bisa dibantu oleh pramurukti.
Gambar 3.11. Senam Pagi
Setelah keluar dari area hunian masing- masing, para Lansia diajak untuk senam pagi, tentu saja dengan materi senam yang cenderung lebih ringan. Senam ini bertujuan agar kebugaran tubuh terjaga sekaligus ajang para Lansia untuk menggerakkan badan, mengingat minimnya kesempatan para Lansia untuk menggerakkan badan.
Gambar 3.12. Gambar 3.13.
Menuju ke Zone Harmony Menuju ke Zone Tempo
Gambar 3.14. Gambar 3.15.
Menuju ke Zone Dynamic Menuju ke Zone Expressions Masing- masing Lansia yang sudah dikategorikan dalam 4 karakter, setiap harinya pergi “ngantor” ke 4 bangunan massa terapi sebagai Pusat Sehat dan Bugar, sesuai dengan jadwal. 4 bangunan terapi masing- masing mempunyai tetenger berupa sesuatu yang mengeluarkan musik.
Gambar 3.16. Bersantai di Luar Bangunan Terapi
Adakalanya para Lansia ketika menjalani aktivitas di dalam bangunan terapi merasa jenuh dan bosan, bisa memanfaatkan space di luar bangunan yang sudah didisain untuk mereka duduk- duduk sekedar melepas lelah atau berbincang- bincang dengan sesama Lansia; memanfaatkan view ke lapagan golf.
Gambar 3.17. Menerima Kunjungan dari Anak, Cucu, atau Saudara
Perasaan yang paling bahagia dirasakan ketika para Lansia ini mendapat kunjungan; baik dari sanak- saudara, anak, cucu, tetangga, atau siapapun juga.
Perhatian tersebut berarti banyak untuk para Lansia; yang bisa meningkatkan semangat para Lansia. Untuk itu; dalam Gasebu ini selain menerima tamu di R.
Sowan, dapat juga dilakukan di open space yang berada di depan hunian bila menginginkan suasana outdoor sambil menikmati gemericik air.
Gambar 3.18. Saling Menyapa Teman- teman Lansia dari Balkon
Keunggulan sistem kamar yang masing- masing mempunyai teras, baik di lantai 1 maupun 2 selain agar selalu teringat akan suasana rumah; juga agar para Lansia mempunyai kesempatan untuk saling menyapa antar sesama penghuni.
Jadi, hubungan yang terjalin tidak hanya sebatas dalam bangunan terapi, tetapi juga di area hunian
Gambar 3.19. Gambar 3.20 Ekspresi Lansia 1 Ekspresi Lansia 2
3.6.4. Sirkulasi Kompleks Bangunan
Sirkulasi oleh pengguna bangunan dalam kompleks ini dibagi menjadi:
• Sirkulasi Lansia penghuni
area terbatas area terbatas
Gambar 3.21. Sirkulasi Lansia Penghuni
Diagram 3.2. Flow Chart Lansia Penghuni
Untuk sirkulasi penghuni, sebagian besar aktivitas dilakukan dalam bangunan terapi. Sirkulasi penghuni antar massa dicapai dengan penggunaan hard material perkerasan concrete beraneka warna, dipadu- padan dengan soft material rumput agar dengan mudah dibedakan mana yang merupakan jalur sirkulasi dan mana yang tidak bisa diinjak. Pembedaan yang kontras ini diharapkan tidak membuat para Lansia ketika menjalankan aktivitasnya merasa kebingungan
memilih jalan mana yang harus ditempuh. Area terbatas merupakan daerah di mana aksesnya ditutup agar Lansia d Gasebu ini tidak melarikan diri. Penutupan akses dilakukan dengan peletakkan pagar tanaman.
Open Space yang berada di tengah- tengah kompleks ini menjadi sentral sirkulasi. Oleh karena itu, pada open space ini disediakan street furniture supaya bisa digunakan para Lansia untuk duduk- duuk sekedar melepas lelah atau bercengkrama dengan sesama Lansia. Selain itu, bentuknya yang bundar dan luas memudahkan para Lansia untuk mendeteksi keberadaan open space ini.
Khusus untuk Lansia Mandiri (panah hijau), mereka diberi kesempatan untuk beraktivitas di area komersil, dimana bisa bertemu dengan banyak orang sekaligus menyalurkan hobi mereka. Karena menempuh jarak yang lebih jauh, maka fasilitas komersial diutamakan untuk Lansia Mandiri.
Gambar 3.22. Denah Lantai Tingkat
Untuk sirkulasi di dalam bangunan, pencapaian antar ketinggian lantai yang berbeda ditempuh menggunakan lift hidrolis pada masing- masing bangunan terapi. Tangga masih disediakan, mengingat kemungkinan evakuasi pada saat terjadinya kebakaran. Disain tangga berbeda dengan tangga biasa; terutama pada
banyaknya jumlah bordes. Setiap 5 anak tangga diberi 1 bordes agar para Lansia yang sering merasa kesulitan naik tangga, bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menaiki tangga lagi.
Gambar 3.23. Tangga pada Bangunan Terapi
• Sirkulasi Lansia yang datang setiap hari
Diagram 3.3. Flow Chart Lansia yang Datang Setiap Hari
Untuk Lansia yang datang setiap hari hari (bersama- sama beraktivitas tetapi tidak menginap), sirkulasinya hampir sama dengan Lansia penghuni. Hanya akses terhadap Hunian tidak terpenuhi. Untuk itu, jadwal para Lansia yang datang setiap hari lebih mundur 1 jam dari Lansia penghuni; dengan pertimbangan dalam waktu 1 jam tersebut cukup untuk mengosongkan dan menutup area hunian.
• Sirkulasi tamu penghuni
Gambar 3.24. Sirkulasi Tamu Penghuni
Diagram 3.4. Flow Chart Tamu Pengunjung
Untuk sirkulasi tamu penghuni; sebatas hanya di R. Sowan, R. Humas ( melakukan pembayaran, menerima report Lansia), Fasilitas Pengelola (menanyakan perkembangan, memberikan instruksi khusus, dll), Fasilitas Komersial (bincang- bincang bersama Lansia, dll) dan Open Space (melakukan kunjungan). Lansia penghuni dilarang untuk membawa masuk tamu penghuni, kecuali dalam keadaan genting dan ketidakmampuan Lansia penghuni untuk turun dari tempat tidur.
Pada waktu- waktu tertentu (misal: bila ada acara di R. Gathering) yang mengundang keluarga atau kerabat dalam ruang pertemuan; parkir bila menggunakan area parkir di semi- basement dengan kapasitas 50 mobil.
Gambar 3.25. Denah Lt. Semi Basement
• Sirkulasi pengunjung yang mencari informasi
Gambar 3.26. Denah Ruang Jendela Informasi
Ruang jendela infomasi diletakkan di dekat entrance dan dropping area;
mengingat kemungkinan pengunjung yang mencari informasi baru pertama kali melakukan kunjungan ke Gasebu sehingga mudah ditemukan.
Diagram 3.5. Flow Chart Pengunjung Mencari Informasi
• Sirkulasi pengunjung fasilitas komersial
Gambar 3.27. Foyer pada Fasilitas Komersial
Diagram 3.6. Flow Chart Pengunjung Fasilitas Komersil
Untuk pengunjung yang ke Gasebu hanya bertujuan untuk ke area komersial, disediakan space sebagai foyer/ entrance kedua yang juga berfungsi sebagai dropping area bagi pengunjung yang hanya ingin pergi ke fasilitas komersil. Dari foyer terssebut, langsung berhubungan dengan 3 fasilitas komersil yaitu: Art+Craft Station, Toko Bunga, dan Cafe yang dihubungakan melalui pintu- pintu.
Untuk pengunjung yang dengan niatan hanya ke fasilitas komersil namun sudah turun di Entrance utama, maka dapat mengambil jalan tembus dari entrance ke fasilitas komersil, melalui foyer yang ada di depan Fasilitas Pengelola.
• Sirkulasi pengelola
Gambar 3.28. Denah Fasilitas Pengelola
Pengelola terbagi menjadi: Penanggung Jawab Harian, Kepala Bagian Hunian, Kepala Bagian Terapi, dan Kepala Bagian Medis yang masing- masing bertanggung jawab terhadap kewajiban tugasnya masing- masing. Secara garis besar, para pengelola ini dengan mudah bisa mengakses semua fasilitas dalam kompleks bangunan ini dalam jam- jam kerja karena mereka yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup para Lansia.
Untuk menjaga kualitas hidup para Lansia selama dalam area Gasebu ini, maka pengelola bertugas untuk melakukan pengawasan secara rutin dengan berkeliling.
• Sirkulasi terapis
Diagram 3.7. Flow Chart Terapis
Untuk terapis, setiap harinya harus check clock di Ruang Penanggung Jawab Harian. Hal ini untuk mempermudah pengawasan terhadap hadirnya para terapis di setiap aktivitas para Lansia. Setelah itu, mereka berangkat ke masing- masing bangunan terapi. 1 terapis meng-handle 10 Lansia. Untuk Lansia dengan karakter yang paling lemah (di zone Expressions), maka para terapis dibantu oleh pramurukti mengingat sebagian besar Lansia yang berada di zone Expressions tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri (memakai kursi roda, cane, crutch atau walker). Untuk ruang loker, ruang ganti, dan ruang tunggu bagi terapis, difasilitasi di masing- masing bangunan terapi.
Gambar 3.29. Denah Ruang Terapis di Zone Tempo
• Sirkulasi servis
loading dock 1
loading dock 2
Gambar 3.30. Sirkulasi Servis pada Lantai Dasar
Untuk sirkulasi servis, di lantai dasar ada 2 macam: sirkulasi untuk Fasilitas Servis (ruang genset, PLN, Trafo, dll) –panah warna hijau. Loading Dock 1 merupakan loading dock untuk ruang- ruang ME sedangkan loading dock 2 untuk fungsi ruang cafe (bahan makanan, minuman) dan kebun bunga (bibit, pupuk, dll); dan sirkulasi servis yang menuju ke lantai semi basement – panah warna biru. Untuk mobil pengangkut jenasah, mengikuti jalur Loading Dock 1.
dumb waiter
Gambar 3.31. Sirkulasi Servis pada Lantai Semi Basement
Sirkulasi servis pada lantai basement digunakan untuk bahan makanan dari dapur umum (yang menyediakan makanan dan minuman sehari- hari bagi Lansia).
Transfer dari lantai basement sampai dapur umum menggunakan dumb waiter yang diletakkan di sebelah lift. Untuk gudang penyimpanan bahan makanan diletakkan di lantai semibasement, berdekatan dengan dumb waiter ke dapur umum.
3.6.5. Ekspresi/ Tampilan Bangunan
Ekspresi yang ingin ditampilan tidak lepas dari ekspresi MUSIK yang merupakan konsep secara keseluruhan di bangunan ini.
Secara garis besar, ekspresi dibagi menjadi 2:
• Ekspresi massa melengkung
Merupakan analog dari elemen- elemen musik.
• Ekspresi 4 bangunan terapi
Merupakan metaphor dari 4 karakter musik bagi Lansia yang Hidup dengan Fobia. Masing- masing mempunyai bentukan yang berbeda, namun disatukan
dengan bentukan yang ingin mengekspresikan bentuk tubuh Lansia yang cenderung membungkuk. Bentukan ini yang menjadi aksesn tersendiri dalam setiap bangunan terapi yang membentuk benang merah untuk k4empat bangunan terapi tersebut.
Gambar 3.32. Perspektif Bird Eye 1
Gambar 3.33. Tampak 01
Gambar 3.34. Tampak 02
Gambar 3.35. Tampak 03
Penjelasan ekspresi bangunan, dibawah ini:
• Ekspresi massa melengkung
Gambar 3.36. Tampak Massa Melengkung dan Elemen Musik Pembentuk Ekspresi Bangunan
Entrance merupakan awal perjalanan seluruh pengguna bangunan.
Bentuknya yang menganalogikan bass clef (kunci F) pada sebuah partitur musik.
Key Signature- Bass Clef juga merupakan penanda bahwa sebuah komposisi musik siap dibuat. Peletakkan key signature pada sebuah partitur juga mengawali sebuah perjalanan komposisi musik, juga diaplikasikan pada kompleks ini.
Untuk massa Daycare dan R. Gathering, mengekspresikan sebuah staff (garis paranada) yang dalam sebuah musik yang membantu mengidentifikasi ketinggian sebuah nada.
staff key signature
Gambar 3.37. Partitur 1
Massa Hunian- Apartment dan Hunian- Paviliun berusaha mengekspresikan sebuah rangkaian musik yang terdiri dari: bar line, staff, dan not. Bar Line dibentuk oleh rangkaian kolom miring yang sekaligus berfungsi sebagai penahan atap. Staff dibentuk secara tersirat oleh rangkaian jalusi horisontal dan pot tanaman pada teras setiap lantai. Not diekspresikan oleh sunshading kotak- kotak dengan 4 warna; yaitu warna yang mencerminkan karakter Lansia di 4 bangunan terapi; mengingat Hunian- Apartment dan Hunian- Paviliun merupakan tempat tinggal para Lansia yang beraktivitas di 4 massa terapi.
not
Gambar 3.38. Partitur 2 Bar Line
Gambar 3.39. Tampak Fasilitas Komersil dan Elemen Musik Pembentuk Ekspresi Bangunan
Untuk Fasilitas Komersil, ingin mengekspresikan tanda
<
(cressendo, yang artinya: semakin lama semakin keras). Bentukan ini dipilih untuk mengekspresikan: dengan adanya Gasebu ini, para Lansia diharapkan bisa diterima masyarakat sebagai beban dan Gasebu ini menjadi ajang para Lansia untuk lebih menyuarakan keberadaannya di tengah keluarga dan masyarakat semakin lama semakin keras. Facade pada toko bunga, juga mengekpresikan MUSIK; dengan bentukan bunga yang disusun layaknya barisan “not” dalam sebuah partitur musik.Gambar 3.40. Facade Toko Bunga
• Ekspresi 4 bangunan terapi
Gambar 3.41. Tampak Bangunan Terapi dan Karakter Musik Bagi Lansia Pembentuk Ekpresi Bangunan
Bentukan dan facade ke-empat massa terapi ini mengespresikan kebutuhan musik untuk 4 karakteristk Lansia yang Hidup dengan Fobia. Karakteristik seperti apa untuk masing- masing tipe akan dikemukakan pada penjelasan tiap massa terapi. Yang akan dibahas di sini adalah elemen penyatu atau benang merah pada 4 massa ini:
• Zone Harmony
Gambar 3.42. Tampak Samping Zone Harmony (non skala)
Bentukan disusun bereratan, dengan bentukan yang sama. Hal ini sesuai dengan pernyataan harmony adalah kombinasi 3 atau lebih tone yang membentuk sebuah keteraturan. Secara fungsi, bentukan tersebut merupakan teras pada bangunan terapi ini. Secara facade, keteraturan diekspresikan dengan penataan yang sejajar dan simetri bila dilihat secara perletakkan pada dena.
Untuk warna biru yang dipilih, warna biru mengekspresikan suasana yang tenang; yang cenderung dimiliki oleh Lansia pada karakter ini ( paling sehat dibanding 3 karakter yang lain).
• Zone Tempo
Gambar 3.43. Tampak Belakang Zone Tempo (non skala)
Bentukan disusun lebih rapat dibanding zone Harmony, yang ingin mengekspresikan ketukan yang lambat yang merupakan tipe musik pada karakter ini. Selain itu, ingin juga mengekpresikan perulangan yang merupakan ciri khas dari tipe Lansia ini (Lansia yang Menunjukkan Kemarahan). Secara fungsi, digunakan sebagai sun shading karena tepat menghadap barat. Pemilihan warna hijau dengan pertimbangan warna hijau memberikan kesegaran, dan dirasa cocok untuk Lansia yang sendang menunjukkan kemarahan agar kemarahannya mudah berkurang.
• Zone Dynamics
Gambar 3.44. Tampak Belakang Zone Dynamic (non skala)
Adanya satu bentukan yang berlawanan dan paling besar, ingin mengekspresikan stressing yang merupakan unsur dominan dalam tipe musik bagi Lansia pada karakter ini. Stressing ini dipaparkan dalam media pembedaan ukuran, pembedaan arah, serta pembedaan material dari 2 tipe
bentuk yang lain. Secara fungsi, 2 bentukan > digunakan sebagai teras untuk area R. Selayang Pandang, yang memang didisan agar para Lansia memandang jauh ke depan dengan memanfaatkan golf view sebagai objek yang dilihat.
Pemilihan warna merah, ingin mengekspresikan semangat yang membara bagi Lansia dengan tipe Mengalami Depresi. Semangatnya untuk lepas dari rasa depresi tersebut yang menjadi pertimbangan penggunaan warna merah pada karakter Lansia yang ini.
• Zone Expressions
Gambar 3.45. Tampak Depan Zone Expressions (non skala)
Bentukan hanya berjumlah satu bila dilihat secara frontal tampak depan. Hal ini berkaitan dengan ekspresi yang ingin dimunculkan. Pemilihan jumlah 1 ini dipertimbangkan berdasarkan pemakai bangunan yaitu tipe Lansia yang Mengalami Gangguan Sensori; dimana mereka cenderung paling tidak mandiri dibanding yang lain. Dengan jumlahnya yang hanya 1;
memudahkan mereka mengidentifikasi bangunan terapi ini.
Untuk pemilihan warna ungu; karena dinilai warna ungu merupakan warna yang ekspresif dan unik.
Gambar 3.46. Perspektif Kawasan
3.6.6. Penjelasan Masing- masing Bangunan Terapi, kecuali Zone Tempo
Di bawah ini merupakan penjelasan dari 3 Bangunan Terapi. Zone Tempo tidak dibahas dalam pembahasan di sini, karena Zone Tempo dan Paviliun Staccato merupakan 2 bangunan pendalaman yang akan dibahas dalam sub-bab
3.6.6.1. Zone Harmony
• Sasaran: Lansia yang Mengalami Kekacauan Mental
• Lansia yang Mengalami Kekacauan Mental Æ (binggung) Æ harus dibuat TENANG. Supaya tenang Æ harus diarahkan. Musik yang mengarahkan Æ musik dengan chord- chord yang jelas (misal:perpindahan yang selalu mayor).
• Harmony adalah: kombinasi 3 atau lebih tone yang jelas dan teratur.
• Disain:
Kejelasan dan keteraturan diekspresikan dari bentukan massa yang sederhana, dengan pola penataan ruang yang teratur (kotak- kotak).
Secara bentukan, atap tunggal menaungi ingin mengekspresikan kesederhanaan. Secara denah, keteraturan ruang dalam bentuk kotak- kotak sederhana. Secara facade, keteraturan diekspresikan dengan penataan bentuk
yang sejajar dan simetri bila dilihat secara perletakkan pada denah (difungsikan sebagai teras dan jalan keluar menuju outdoor dari bangunan tsb)
Gambar 3.47. Denah Zone Harmony Lt. Dasar (non skala)
Gambar 3.48. Denah Zone Harmony Lt. Tingkat (non skala) Aktivitas dengan MUSIK pada bangunan terapi Zone Harmony:
• Mini Fitness
Gambar 3.49. Mini Fitness
Ruang olahraga bagi para lansia. Bersifat olahraga ringan, tetapi dilakukan secara rutin dan teratur. Kebiasaan para lansia yang enggan menggerakkan tubuh akan menyebabkan kurang terlatihnya fungsi otot- otot tubuh,.
Selain ada beberapa alat- alat berat, juga terdapat space untuk aerobic ringan.
Disain ruangan dengan material lantai dilapis karpet agar mampu meredam bila alat- alat fitness jatuh.
• R. Hukuman
Gambar 3.50. R. Hukuman
Ruang hukuman ini bukan secara fisik, hanya dibentuk oleh perasaan atau situasi (atmosphere) dari sebuah ruang.
Biasanya para lansia yang masih sering rewel atau sering marah- marah akan dimasukkan ke ruangan ini.
Selain itu, hukuman dapat juga berupa memberikan bantuan bagi sesama Lansia dalam melakukan sesuatu.
Tujuannya: agar Lansia menyadari kesalahannya, dan semakin har bisa semakin baik.
Disain ruangan dengan sebagian besar bermaterial gelap, dengan daerah- daerah yang diterangi lampu spot dari atas sehingga suasana mencekam lebih terasa.
• R. Workshop
Gambar 3.51. R. Workshop
Tipe pekerjaan di ruang ini adalah tipe sambung menyambung (conveyor).
Misal: ketika membuat pekerjaan tangan bubut kain; orang I menyiapkan benang, orang II memasukkan benang ke dalam jarum, dst sampai pada orang X pekerjaan tersebut sudah selesai.
Dengan tipe kerja seperti itu, meningkatkan rasa tanggung jawab sekaligus belajar untuk mempertahankan kerja sama antar tim klik 10-nya.
Disain ruangan menggunakan meja berbentuk huruf U agar pengawasan pekerjaan mudah dilaksanakan.
• R. Suasana Hati
Gambar 3.52. R. Suasana Hati
Ruang yang mengakomodasi kebutuhan para Lansia untuk berekspresi sesuai dengan suasana hati yang sedang dirasakan.
Pelampiasan suasana hati tersebut dicapai dengan mencoret- coret di dinding, menggambarm dll.
Disain ruangan menggunakan papan tulis super besar dan lebar mengelingi 4 sisi ruangan.
• R. Me!Myself!and Others!
Merupakan ruang rekonsiliasi antar kelompok, dengan jalan mengobrol bersama, dll.
Dapat juga digunakan untuk menyelesaikan konflik yan terjadi antar kelompok, yang pada dasarnya bertujuan untuk membina hubungan baik dengan sesama Lansia dengan tidak memikirkan ego masing- masing.
Disain ruangan kosong, tanpa sekat- sekat. Bila digunakan, peletakkan kursi- kursi saja di dalam ruangan membentuk lingkaran, atau tergantung pada kebutuhan aktivitas. Disain ruang yang kosong mempermudah Lansia untuk bergerak dan melakukan rekonsiliasi.
• R. Massage
Merupakan salah satu ruang relaksasi bagi para lansia.
Musik menjadi dasar dari terapi relaksasi ini, karena dengan musik dapat memberi efek rileks.
Dengan ketenangan yang diciptakan, bisa juga digunakan para lansia yang suka melakukan meditasi yoga, dll.
Disain ruangan, dibedakan antara area untuk Lansia pria dan wanita.
• R. Speech
Di sini para lansia wajib me-recall hal- hal yang terjadi selama 1 minggu yang lalu dan menuturkan kepada sesama lansia.
Kegiatan utamanya adalah mendongeng, baik cerita fiktif atau nonfiktif kepada teman- teman lansia lain. Teman- teman lansia lain bisa menimpali dongeng’an tersebut.
Sifatnya komunikasi dalam 2 arah; antara para Lansia dengan penanggung jawab ruang, serta antar sesama Lansia.
Disain ruang cenderung kosong, fleksibel, dan minim perabot. Peletakkan kursi- kursi sesuai dengan kebutuhan; apakah bercerita dalam kelompok besar atau kecil. Penggunaan ruang selalu dengan kursi mengingat Lansia tidak diperkenankan untuk duduk di atas lantai.
• R. Hearing Only
Ruangan yang bersifat komunikasi 1 arah
Tugas para lansia adalah menshare’kan pengalaman, ataupun perasaan yang sedang dialami. Lansia lain yang bertugas mendengarkan tidak boleh merespon, karena semuanya sedang belajar untuk mendengarkan sesamanya, dengan hati.
Ruangan ini bertujuan agar para lansia mampu mempunyai kepekaan terhadap teman- teman lansia lain. Belajar menjadi pendengar yang baik, dan belajar ber-empati terhadap sesama.
Untuk solusi atau kritik dari sebuah penuturan, dikemukakan kemudian.
Disain ruang hampir sama dengan R. Speech, cenderung kosong, fleksibel, dan minim perabot.
Tetenger menuju ke bangunan Zone Harmony menggunakan elemen kerikil yang bisa mengeluarkan suara ketika saling bersentuhan dengan kerikil lain. Untuk bangunan ini, tetenger tidak perlu terlalu menonjol mengingat pengguna bangunan ini adalah Lansia dengan karakteristik yang paling sehat dan paling bugar daripada 3 tipe yang lain.
Gambar 3.53. Tetenger pada Bangunan Zone Harmony
Gambar 3.54. Tampak Zone Harmony 4 Sisi (non skala)
Gambar 3.55. Perspektif Exterior Zone Harmony
Gambar 3.56. Aksonometri Struktur Zone Harmony
3.6.6.2. Zone Dynamic
• Sasaran: Lansia yang Mengalami Depresi
• Lansia yang Mengalami Depresi Æ sedih dan pesimis Æ harus membuang negative thinking. Supaya emosi bisa keluar Æ mendengarkan lagu- lagu yang semangat. Muik agar bisa mengeluarkan emosi Æ perlu adanya stressing, dan musik yang semangat.
• Dynamic adalah tingkat kekerasan/ kelemahan musik yang bergantung pada amplitudo dari getaran (dicapai dengan penekanan nada).
• Disain:
Stressing diekspresikan dalam bentukan bangunan, dengan 1 bagian dari massa yang beratap datar yang merupakan satu-satunya bagian yang menggunakan atap datar (termasuk bangunan di lingkungan sekitar).
Secara facade, diekspresikan dengan bentukan yang berlawanan dan paling besar (berfungsi sebagai bagian dari R. Selayang Pandang). Stressing ini dipaparkan dalam media pembedaan ukuran, pembedaan arah, serta pembedaan material
Gambar 3.57. Denah Zone Dynamic Lt. Dasar
Gambar 3.58. Denah Zone Dynamic Lt. Tingkat
Aktivitas dengan MUSIK pada bangunan terapi Zone Dynamic:
• R. Ibadah
Di sini tempat para lansia meluapkan semua masalah, dan kembali kepadaNya.
Ruang Ibadah membuat hubungan para lansia bukan hanya sekedar secara horizontal dengan sesama atau keluarga saja tetapi juga secara vertikal tetap
berlangsung. Hal tersebut penting, mengingat betapa kecilnya kita di hadapan Tuhan.
Disain ruangan dibagi menjadi 4 sekat dengan pintu yang berbeda- beda;
dengan pembagian sebagai berikut: Kristen- Katolik, Islam, Hindu, Budha- Konghucu. Hal tersebut bertujuan agar antar agama yang berbeda dalam hal tata cara religi tidak saling mengganggu dan semua mempunyai peranan yang sama.
• R. Games
Gambar 3.59. R. Games
Merupakan ruangan untuk bermain bagi para Lansia. Karena semua dasar terapi menggunakan alat musik, jadi dalam ruang games ini permainan dilakukan diiringi musik.
Contoh permainan yang bisa dimainkan: ular tangga raksasa, dengan dadu raksasa dan perintah- perintah yang berhubungan dengan permainan musik (bernyanyi, mengeluarkan suara- suara binatang, dll).
Disain ruangan tanpa sekat, bisa ditambah alat musik (bisa keyboard, atau piano) atau seperangkat audio yang mendukung permainan.
• R. Ingak- ingat
Ruangan yang berfungsi untuk melatih daya ingat para lansia, mengingat semakin tua proses me-recall ingatan mulai menurun.
Para lansia didengarkan sebuah cerita atau berita actual, dan berkewajiban untuk secara perlahan mengingat kembali hal yang baru disampaikan
Ruangan ini membantu mempertahankan daya ingat yang bersifat sistematis dan terarah.
Disain ruangan fleksibel, hanya disediakan kursi- kursi lipat yang aktivitasnya ditentukan sendiri apakah dalam kelompok besar atau kelompok kecil.
• R. Terapi Reminiscence
Gambar 3.60. Ruang Terapi Reminiscence
Ruangan ini fungsinya hampir sama dengan R. Ingak- Ingat, hanya di ruang Terapi Reminiscence merupakan ruang untuk mengingat- ingat masa lalu.
Mengingat- ingat masa lalu yang positif mampun memberikan respon yang positif juga untuk para Lansia, terutama bagi Lansia yang semangatnya sedang menurun.
Disainnya tidak dalam suatu ruangan khusus, melainkan sebuah foyer yang digunakan untuk memajang bintang- bintang musik maupun bintang film jaman dulu kala; seperti Elvis Presley, Bee Gees, The Beatles, dll.
• R. Selayang Pandang
Ruang ini berujuan untuk melatih kefokus’an para lansia yang sudah mulai menurun.
Diharapkan, para lansia yang selalu berdiam diri di dalam kamar dipaksa untuk melihat sesuatu di sekelilingnya. misal: melihat bintang menggunakan teleskop.
Disediakan 2 buah teras pada lantai 2 yang digunakan sebagai R. Selayang Pandang. Keberadaan di lantai 2 mempunyai keuntungan, terutama dalam hal ketinggian sehingga para Lansia secara bergantian lebih mudah memandang jauh ke lapangan golf.
Dengan keadaan mata yang selalu segar, bagaimana mereka menjalani hari tuanya juga akan menjadi lebih segar.
Tetenger menuju ke bangunan Zone Dynamic menggunakan elemen air yang mengeluarkan gemericik. Oleh karena itu, disusunlah batu berundak- undak yang kemudian dialiri air. Dengan perbedaan ketinggian tersebut, diharapkan bunyi gemericik air tersebut mampu mempermudah para Lansia mengidentifikasi posisi mereka; dengan elemen yang mengeluarkan bunyi sebagai tetenger.
Gambar 3.61. Tetenger pada Bangunan Zone Dynamic
Gambar 3.62. Tampak Zone Dynamic 4 sisi (non skala)
Gambar 3.63. Perspektif Exterior Zone Dynamic
Gambar 3.64. Aksonometri Struktur Zone Dynamic
3.6.6.3.Zone Expressions
• Sasaran: Lansia yang mengalami Gangguan Sensorik
• Lansia yang mengalami Gangguan Sensorik Æ hilangnya rangsangan indera Æ sel motorik dan sensorik tidak berhubungan dengan baik Æ memberikan rangsangan pada indera. Musik yang diperlukan Æ musik yang tidak sekedar mengdengarkan (penambahan gerakan) Æ ikut ritmis musik Æ menggunakan semua indera.
• Musik yang mengundang adanya gerakan tubuh Æ dapat melatih sel- sel motorik dan sensorik yang mulai rusak.
• Disain:
Ekspresif dinyatakan dengan bentukan massa yang cenderung bersudut lancip.
Meskipun demikian pengolahan dalam ruang tidak mengeluarkan sudut- sudut lancip, karena diselesaikan dengan pengolahan bentuk dan fungsi ruang
dalam.Secara facade, bentukan hanya berjumlah satu bila dilihat secara frontal.
Gambar 3.65. Denah Zone Expressions Lt.Dasar
Gambar 3.66. Denah Zone Expressions Lt.Tingkat
Aktivitas dengan MUSIK pada bangunan terapi Zone Expressions:
• R. Fisioterapi
Gambar 3.67. R. Fisioterapi
Fisioterapi adalah pengobatan dari sel-sel tubuh dengan tenaga mekanik maupun tenaga manusia (pemijatan), penyinaran (radiasi), tarikan (fraksi), dan pemanasan (diathermy).
Tujuannya untuk mengembalikan fungsi organ tubuh yang tidak atau kurang berfungsi.
Unit ini hanya bersifat pemulihan fisik, bukan pemulihan cacat fisik.
Gambar 3.68. Gambar 3.69.
Aktivitas Fisioterapi 1 Aktivitas Fisioterapi 2
Disain ruangan, banyak terdapat alat- alat untuk membantu proses fisioterapi.
Selain itu, juga disediakan space kosong yang biasanya digunakan untuk berlatih berjalan (datar) sebagai latihan pemulihan tahap awal.
• R. Terapi Muskoletal
Terapi untuk melatih otot- otot Lansia. Untuk ruangan ini, dapat digunakan keseluruhan Lansia tidak hanya terbatas yang mengalami gangguan pergerakan.
Karena merupakan salah satu terapi medis, maka didampingi tim medis yang memang sudah pakar di bidangnya.
• R. Sensory Theraphy
Merupakan ruangan yang berfungsi untuk terapi kelima alat indera pada manusia: yaitu peraba, penciuman, penglihatan, pendengaran, dan perasa lidah.
Dirancang untuk mempengaruhi sistem syaraf pusat melalui pemberian rangsangan yang cukup pada sensori primer penderita.
• R. Terapi Aphasia
Terapi yang berfungsi untuk menghilangkan gangguan kemampuan bicara, menulis atau pemahaman tanda- tanda yang berkaitan dengan bahasa lisan dan tulisan yang disebabkan kerusakan otak
Terapi biasanya dilakukan dalam kelompok, sehingga ada siklus komunikasi di dalamnya yang berfungsi untuk meningkatkankan kemampuan terhadap bahasa lisan.
Merupakan terapi medis, juga dibawah pengawasan para ahli. Hal tersebut yang menjadi perbedaan ruang- ruang medis dengan fungsi yang hampir sama seperti R. Terapi Aphasia ini dengan R. Speech.
Gambar 3.70. R. Terapi Aphasia
• Whirpool
Kolam air hangat ini merupakan salah satu rangkaian olahraga pagi. Selain para lansia berenang, ada baiknya berendam untuk menghilangkan rasa capai serta pegal- pegal yang berlebihan.
Gambar 3.71. Salah Satu Alternatif Aktivitas Air bagi Lansia
Tetenger menuju ke bangunan Zone Expressions yang mengeluarkan bunyi, menggunakan sangkar burung dan burung di dalamnya diletakkan di dekat pintu masuk. Suara kicauan burung diharapkan bisa membantu para Lansia mengidentifikasi keberadaan mereka. Selain sesuai dengan konsep “musik”, keberadaan sangkar burung dan burung yang notabene merupakan benda hidup (bergerak) membantu secara visual para Lansia yang Mengalami Gangguan Sensorik untuk mengingatkan mereka akan bangunan Zone Expressions ini.
Gambar 3.72. Tetenger pada Bangunan Zone Expressions
Gambar 3.73. Tampak Zone Expressions (non skala)
Gambar 3.74. Perspektif Eksterior Zone Expressions
Gambar 3.75. Aksonometri Struktur Zone Expressions
3.7. Pendalaman Disain
Penerapan musik bagi para Lansia tentu saja berbeda dengan usia produktif, mengingat frekuensi yang mampu didengar mempunyai rentang yang terbatas. Bagi usia produktif, kemampuan mendengar mempunyai rentang 20- 20.000 Hz sedangkan bagi Lansia, kemampuan mendengar mengalami penurunan seiring dengan penurunan fisik sehingga rentang yang bisa didengar mengalami penyempitan menjadi 20- 4000 Hz (panah warna biru). Bunyi- bunyi di atas frekuensi 4000 Hz, tidak dapat didengar dengan baik oleh para Lansia.
Gambar 3.76. Rentang Frekuensi yang Bisa Didengar Manusia
Dengan Pendalaman Akustik, pengkondisian bunyi- bunyian bagi para Lansia mengakibatkan tidak adanya bunyi- bunyian yang bersifat sia- sia. Musik juga digunakan di keseluruhan terapi, sehingga pengkondisian ruangan agar mempunyai akustik yang baik sangat penting. Akustik juga dijadikan sebagai tetenger, mengingat kecenderungan Lansia disorientasi. Dengan musik, membantu para Lansia untuk mencapai tempat yang dituju dan tidak kesasar. Hal lainnya, musik juga dapat digunakan sebagai dasar dari rutinitas dari para Lansia sehingga perasaaan rileks dalam lantunan musik menjadi poin penting dalam disain kawasan ini. Dengan tidak terputusnya rantai rutinitas, membuat hidup mereka makin bergairah, tentu saja menggunakan rutinitas musik.
3.7.1. Pendalaman Akustik untuk Bangunan Pendalaman ( Zone Tempo )
• Sasaran: Lansia yang Menunjukkan Kemarahan
• Lansia yang Menunjukkan Kemarahan Æ amarah (detak jantung cepat) Æ harus dibuat menurunkan amarah. Supaya rasa marah turun Æ menurunkan detak jantung Æ dengan musik yang menurunkan detak jantung Æ musik yang slow (agar detak jantung makin pelan).
• Tempo adalah: kecepatan ketukan (pelan hingga cepat). Adanya perulangan (repetisi).
• Disain:
Secara bentukan massa, repetisi diekspresikan dari bentukan atap berjumlah 3 susun dengan sudut yang sama, hanya berbeda ketinggian. Bentukan denah mengekspresikan “pelan” dengan sudut-sudutnya (sudut tidak sedrastis Zone Dynamic dan Expressions). Untuk ruang dalam, diupayakan repetisi tercermin dengan garis- garis sejajar sebagai bentukan ruang. Secara facade,
Bentukan disusun lebih rapat dibanding zone Harmony, yang ingin mengekspresikan ketukan yang lambat yang merupakan tipe musik pada karakter ini (berfungsi sebagai sunshading). Repetisi/ Perulangan juga tercermin dari bentukan denah lantai 1 dan lantai 2 yang nyaris sama, kecuali di bagian pintu masuk dimana tidak mempunyai lantai 2.
Gambar 3.77. Denah Zone Tempo Lt. Dasar
Gambar 3.78. Denah Zone Tempo Lt. Tingkat
Gambar 3.79. Flow Chart di Lantai 1 Zone Tempo
Beberapa aktivitas yang dilakukan Lansia di Zone Tempo (sesaat setelah melewati pintu masuk)
• Melakukan aktivitas menyiram indoor planting. (panah kuning)
Setiap perwakilan klik 10 (kelompok) mendapat kewajiban menyiram tanaman secara rutin. Hal tersebut untuk selain memelihara rasa tanggung jawab, juga supaya tetap menjaga rutinitas mereka.
• Segera menuju ke ruangan yang sudah terjadwal (panah oranye).
Gambar 3.80. Ilustrasi Pola Lantai
Dengan penegasan pola lantai (bentukan dan material) pada Galeri Nostalgila, mengarahkan para Lansia pada saat berjalan. Dengan adanya railing (garis merah tua) juga membantu para Lansia agar berjalan, juga bisa dibuat pegangan tangan sembari melihat sketsel- sketsel di Galeri Nostalgila.
• Beristirahat sejenak di sofa (panah merah)
Para Lansia yang mudah lelah ketika berjalan panjang, bisa beristirahat dulu di sofa yang disediakan di samping pintu masuk. Tarik nafas sejenak sebelum memulai rangkaian rutinitas hari tersebut. Di samping sofa disediakan dispenser dan meja snack.
Aktivitas dengan MUSIK pada bangunan terapi Zone Tempo:
• R. Planning..First!
Gambar 3.81. Denah R. Planning..First!
Gambar 3.82. Ilustrasi Area Sesudah Pintu Masuk Zone Tempo
Gambar 3.83. Potongan Perspektif R. Planning First
Merupakan ruang terbuka (tidak tersekat oleh dinding 4 sisi) yang bertujuan untuk tetap menanamkan kedisiplinan bagi para lansia di hari tuanya.
Para lansia masing- masing menulis di papan untuk menuliskan target yang akan dituju 1 minggu ke depan, kemajuan baik dalam hal jasmani maupun rohani. Perencanaan bukan sekedar perencanaan pribadi, tapi juga perencanaan kelompok. Ketika datang selanjutnya, evaluasi dilakukan terhadap apa yang mereka rencanakan/ inginkan dengan yang mereka dapat apakah sudah sesuai atau tidak. Di semua planning board, terdapat pegangan tangan untuk memudahkan Lansia menulis atau mencoret sesuatu di board.
Penggunaan terapi musik pada aktivitas ini terletak di yel- yel tiap kelompok yang harus dinyanyikan tiap kali memulai melakukan aktivitas planning.
Diharapkan dengan adanya yel- yel ini, dapat meningkatkan semangat para Lansia.
Untuk area berarsir ungu merupakan area bagi Lansia yang menggunakan kursi roda, cane, crutch, maupun walker dengan pengkondisian railing lebih panjang dan tepat berada di sisi kanan dan kiri para Lansia.
• Beauty Center
Ruang yang paling banyak ditunggu oma- oma. Meskipun mereka sudah menginjak masa tua, tetapi menurut survey banyak di antara mereka yang masih senang melakukan body treatment meskipun hanya hal kecil seperti creambath.
Gambar 3.84. Denah Beauty Center
Hal tersebut memberi kesenangan sendiri bagi para oma, selain memberikan perasaan rileks bagi para Lansia.
Untuk para lansia pria, diberikan juga layanan perawatan tubuh yang hampir sama untuk para lansia wanita. Misal: potong rambut, creambath, dll.
Daerah yang diarsir merah pada gambar 3.48 merupakan area untuk Lansia yg berkursi roda, karena tidak menutup kemungkinan Lansia yang berkursi roda pergi ke bangunan terapi ini.
Dinding pada ruangan ini merupakan dinding yang bisa digeser sehingga bisa berinteraksi langsung dengan Lansia di R. Terapi Cognitve Behaviour.
Dinding partisi dengan material double gyspum board diharapkan mampu meredam suara ketika dinding partisi tidak dibuka dan salah satu atau kedua ruangan sedang melakukan aktivitas musik. Cara lain agar tidak terjadi perembesan suara yang menganggu, dengan membatasi volume musik/ suara yang dikeluarkan.
Gambar 3.85. Potongan Perspektif Beauty Center
Gambar 3.86. Detail Dinding Partisi Double Gypsum Board + Glass Wool
Gambar 3.87. Gambar 3.88.
Layout Perabot Beauty Center Interaksi Lansia dari Meja Beauty
Dalam Beauty Center ini, disain perabot berbeda dengan salon pada umumnya. Lansia di Gasebu yang banyak menghabiskan waktu di masa tuanya dengan sesama Lansia, lebih senang bila di dalam Beauty Center mereka masih bisa ngerumpi. Sehingga, disain perabotnya bukan layaknya salon biasa (duduk menghadap tembok/ cermin). Railing banyak digunakan, untuk membantuk para Lansia yang kesulitan berdiri atau berjalan (warna hijau pada Gambar 3.86).
Meja Beauty didisain duduk saling berhadapan, agar masih bisa berbincang- bincang dengan teman Lansia ketika sedang dirawat tubuhnya. Letak cermin berada di samping sebelah kiri (warna biru pada Gambar 3.87) sedangkan depan wajah lubang besar agar bisa saling menatap mata Lansia yang ada di depannya. Sehingga, dalam Beauty Center ini para Lansia benar- benar dimanjaan dan masih bisa bersenang- senang dan tertawa-tawa bersama sesama Lansia.
• R. Terapi Cognitive Behaviour
Gambar 3.89. Gambar 3.90.
Denah R. Terapi Cognitive Behaviour Perabot R. Terapi Cognitive Behaviour Terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan memahami lingkungan sekitar.
Bisa saja sang terapis memberikan tugas (PR) bagi pasien yang haris dilakukan dalam kehidupan sehari- hari, Misal: kalau ada Lansia yang kurang
pede, diberi tugas untuk menyapa orang asing. Kemudian, terapis akan mengadakan evaluasi terhadap pasien tersebut.
Gambar 3.91. R. Terapi Cognitive Behaviour .
Selain itu, aktivitas bisa dilakukan dengan membentuk kelompok kecil dari klik 10. Sehingga, disain ruangan menggunakan 2 meja berukuran ¾ lingkaran. Lubang yang ditengah merupakan tempat bagi terapis (lingkaran hijau pada Gambar 3.90.) dan 5 Lansia (lingkaran merah).
Meja billiar ditempatkan di ruang ini, merupakan salah satu alternatif alat pada terapi ini. Musik yang digunakan di terapi ini diekspresikan melalui hukuman bagi para Lansia yang melakukan kesalahan, yaitu dengan menyanyi.
Alternatif media simulasi lain yang juga bisa digunakan adalah alat musik.
Dinding partisi yang digunakan sama dengan yang digunakan pada Beauty Center, karena ada kala waktu tertentu terapi bisa dilakukan bersamaan dengan yang lain.
• R. Banting
Merupakan ruang katarsis (pelampiasan) bagi para Lansia; terutama bagi para Lansia yang Menunjukkan Kemarahan yang merupakan prioritas karakteristik pengguna bangunan ini. Tujuannya: agar relieve (lega) terhadap pengalaman- pengalaman yang tidak mengenakkan.
Karena semua terapi kembali ke tema all about music, maka alat- alat yang dibanting pada ruangan ini menggunakan alat- alat musik (dicari yang dalam kondisi tidak seberapa bagus).
Gambar 3.92 Denah R. Banting
Alternatif aktivitas lain adalah diadakan “Festival Mengomel” yang bertujuan sama, mengubah energi marah dijadikan bentuk yang lain, sehingga kemarahan dapat dicegah.
Gambar 3.93. Ruang Banting
Disain ruangan dibuat kedap suara, mengingat bunyi yang dikeluarkan cukup menganggu ruang- ruang disekitarnya. Pemakaian dinding bata tebal 15 cm 2 lapis dengan rongga yang diisi glass wool diharapkan dapat membantu penyerapan suara.
Gambar 3.94. Sketsa Dinding Bata Tebal 15 cm Lapis Dua (Akustik)
Ada 3 bagian ruang maya di dalam ruangan ini, dengan tingkat pelampiasan yang berbeda. Makin tinggi tingkat pelampiasa, penggunaan alat musiknya pun semakin mengeluarkan bunyi- bunyian yang makin keras (misal: gong).
• Lounge/ R. Leyeh- leyeh
Merupakan ruang yang biasanya digunakan pada siang hari bagi para Lansia untuk sekedar beristirahat melepas lelah atau sekedar berhenti sejenak dari rutinitas.
Gambar 3.95. Lounge
Keberadaan lounge memanfaatkan view positif yaitu golf view sehingga dari dalampun para Lansia masih bisa menikmati indahnya hamparan karpet rumput yang bisa dinikmati secara luas karena penggunaan pintu lipat sehingga view bisa maksimal.
Untuk perabot, menggunakan sofa- sofa rendah. Selain sebagai tempat bersantai, bisa digunakan pada terapi teretentu yang letaknya berdekatan (R.
Planning..First!, Beauty Center, atau R. Terapi Cognitive Behaviour).
• R. Baca
Gambar 3.96. Denah R. Baca
Hobby Lansia yang paling banyak ditemukan pada saat survey adalah hobi membaca.
Gambar 3.97. Potongan Perspektif R. Baca
Merupakan ruangan di lantai 2; terbuka yang memanfaatkan lounge sebagai area untuk membaca sekaligus memanfaatkan golf view.
Untuk para lansia yang mempunyai pengelihatan yang masih bagus, kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling banyak mereka lakukan.
Membaca selain menjadi jendela informasi masyarakat luar sana, juga agar pasokan pengetahuan bagi para lansia ini tetap berjalan.
Dari masing- masing klik 10, terdapat 1 Lansia yang menjadi penanggung jawab buku. Lansia ini yang mengkoordinasi dan bertugas mengatur buku.
(posisi di kotak ungu Gambar 3.95)
• Studio Musik
Studio Musik digunakan untuk mengekspresikan kecintaan akan musik.
Meskipun para Lansia sudah tua, tetapi kecintaannya terhadap musik tidak bisa dipungkiri. Sebagian besar dari mereka mempunyai kenangan- kenangan khusus terhadap lagu- lagu tertentu.
Di dalam studio ini, para Lansia diperkenankan bermain musik, bernyanyi dengan kelompoknya. Bila memungkinkan, secara rutin diadakan acara tahunan lomba band seperti Indonesian Idol.
Dalam studio ini disediakan seperangkat alat musik, hingag tempat duduk yang disediakan untuk penonton berjumlah maksimal 1 x klik 10 (10 orang).
Penerapan musik bagi para Lansia berbeda dengan usia produktif, mengingat frekuensi yang mampu didengar mempunyai rentang yang terbatas. Bagi usia produktif, kemampuan mendengar mempunyai rentang 20-20.000 Hz sedangkan bagi Lansia, kemampuan mendengar mengalami penurunan seiring dengan penurunan fisik sehingga rentang yang bisa didengar mengalami penyempitan menjadi 20- 4000 Hz. Bunyi- bunyi di atas frekuensi 4000 Hz, tidak dapat didengar dengan baik oleh para Lansia.
Gambar 3.98. Denah Studio Musik
Prinsip dasar studio musik:
Pada ruang studio, penikmat atau penonton adalah penyaji atau pelakunya sendiri yang jumlahnya cukup terbatas, sehingga pemantulan untuk memperkuat bunyi jarang diperlukan.
Untuk menjaga kualitas bunyi yang dihasilkan, ruangan justru harus didisain untuk menyerap bunyi.
Prinsip akustik pada studio musik bagi pengguna bangunan Lansia:
Pada Lansia, frekuensi rendah sangat menonjol karena mereka kurang bisa mendengar bunyi pada frekuensi tinggi.
Frekuensi rendah menonjol Æ bagaimana menyerap bunyi pada frekuensi tinggi Æ digunakan material yang menyerap frekuensi menengah dan tinggi.
Karakteristik material yang mampu menyerap frekuensi tinggi adalah banyak berpori/ berserat.
Tingkat penyerapan suatu material ditentukan oleh koefisin serap/ koefisien absorbsi material tersebut. Koefisien absorpsi adalah angka yang menunjukkan jumlah/ proporsi dari keseluruhan energi bunyi yang datang