B. Karya-karya Farid Esack
3. Aplikasi Hermeneutika Pembebasan
Farid Esack meskipun seorang doktor dalam bidang tafsir, tetapi sejauh ini belum menulis kitab tafsir seutuhnya, hanya dalam Qur’an Liberation and Pluralism, ia banyak menulis tentang penafsiran terhadap berbagai tema al-Qur’an, tentang hubungan dengan agama lain serta menggali sisi-sisi revolusiener dari al-Qur’an dan hadis. Esack, mengkontektualisasikan tema-tema pokok al-Qur’an menuju perjuangan membela ketidakadilan khususnya yang terjadi di Afrika Selatan.
Dalam mengaplikasikan metode tafsirnya terhadap ayat-ayat al-Qur’an, Esack mula-mula mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang setema, kemudian memahami arti dasar kata yang dituju, dan selanjutnya melakukan kontektualitas makna ayat terhadap sosio-historis ketika ayat itu turun. Esack melakukan interpretasi ayat al-Qur’an dengan ayat yang lain yang setema. Metode tafsir Farid Esack termasuk kategori tafsir maudluiy.
75 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 108.
Esack sering merujuk pada karya-karya penafsir terpilih yang mewakili arus besar tafsir dan teologi Islam. Di dalamnya tercakup pemikir tradisional Ibn Jarir al- Thabari, w. 923, pemikir skolastik Mu’tazilah, Mahmud ibn ‘Umar al-Zamakhsyari, w. 1144, maupun Asy’ariyah, Fakhr al-Dîn al-Razi, w 1209, demikian pula wakil dari tradisi esoteric, Muhyi al-Din ibn al-‘Arabi, w. 1240, serta beberapa penafsir kontemporer, baik dari Sunni Rasyid Ridha, w. 1935, dan dari Syi’ah Muhammad Hussain al-Thabathaba’i, w.1981.76
Esack memahami kitab suci al-Qur’an, menggunakan hermeneutika.
Sebagaimana diakuinya sendiri dalam penafsiranya dipengaruh oleh hermeneutika Fazlur Rahman dan Mohammad Arkoun.77 Walaupun Esack mengkritik keduanya.
Esack memadukan kedua pemikiran tersebut sehingga membuahkan sebuah konsep hermeneutika mapan dalam memahami Al-Qur’an dalam konteks pembebasan Afrika Selatan.
Esack memakai teori Double Movement Rahman. Yang mana dalam merespon realitas terdapat dua pergerakan. Pertama memahami al-Qur’an sebagai keseluruhan, lewat perintah dan ketetapan khusus yang diturunkan sebagai respon terhadap situasi tertentu. Gerakan ini dilakukan melalui dua tahap. Pertama, mempelajari situasi historis dan tuntutan moral etisnya, mendahului kajian atas teks-teks al-Qur’an dalam situasi spesifik. Kedua, menggeneralisasi jawaban-jawaban spesifik dan membingkainya sebagai pernyataan tentang tujuan moral sosial umum.
76 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Prespective of Interreligious Solidarity againts Oppression, (England: Oneword Publication, 1997), h. 116.
77Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 72.
Hal ini diperoleh dari teks-teks spesifik dengan melihat latar belakang sosio-historis suatu alasan yang kerap muncul di belakang pemberlakuan hukum-hukum.
Pergerakan kedua, menerapkan tujuan umum yang telah diperoleh dari pergerakan pertama kedalam konteks sosio-historis konkret masa kini untuk mengubah dan menetapkan prioritas bagi menyegarkan implementasi nilai-nilai al-Qur’an.78
Penggunaan metode hermeneutika Fazlur Rahman dalam penafsiran Farid Esack terlihat ketika menafsirkan QS. al-Anfâl: 2-4, yang menurutnya bisa mewakili bagaimana al-Qur`an menggunakan kata iman dalam bentuk bendanya.
ََمَّن إ
(2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (3) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (4) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.
Esack selanjutnya memberikan penekanan pada setting sosio-histories dimana ayat itu turun. Ayat ini muncul di awal surat al-Anfâl (rampasan perang) yang sebagian besar bercerita tentang perang badar dan perjanjian suci. Karena muncul diawal surah, ayat ini sering dipandang sebagai peringatan kepada beberapa sahabat
78Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 100-101.
Nabi yang bersikap berlebihan terhadap hasil rampasan perang hal ini menimbulkan persoalan pembagian harta. Setelah diberi tahu bahwa harta itu milik umat secara bersama, dan keinginan mereka atas harta tak semestinya merusak ikatan sosial mereka, para sahabat kemudian diingatkan pada watak iman, iman bisa ternodai oleh keserakahan mereka. Bisa dibuktikan dari konteks ayat ini bahwa iman dikontraskan dengan keserakahan harta.79
Farid Esack juga memakai metode hermeneutika Muhammad Arkoun.
Menurut Esack penerapan ide-ide hermeneutika Arkoun digambarkan dengan baik oleh cara dia menganalisis proses pewahyuan dan bagaimana ayat tertulis bisa menjadi kitab pegangan (canon). Yaitu menjadi sakral dan otoritatif. Arkoun membedakan dengan tiga tingkatan. Pertama, adalah firman tuhan sebagai yang transenden, tak terbatas, dan tak terjamah oleh manusia secara keseluruhan. dengan beberapa fragmen saja yang diwahyukan lewat nabi-nabi.80 Kedua, adalah wujud historis firman tuhan itu melalui nabi-nabi Israel (dalam bahasa Ibrani), Yesus dari Nazareth (bahasa Arami), dan Muhammad (bahasa Arab). Wujud ini dihapalkan dan disampaikan secara lisan dalam waktu yang panjang sebelum dituliskan.81
Ketiga, objektifikasi firman tuhan berlangsung (al-Qur`an menjadi mushaf, yang tertulis) dan kitab suci ini pun bisa dibaca oleh kaum beriman hanya lewat versi
79 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 158.
80 Tingkatan ini ditunjukan lewat ungkapan al-lauhul mahfuzh (QS. al-burûj: 22) dan ummul kitab (kitab asli) (QS. al-Zukhruf: 4).
81Arkoun menegaskan bahwa mendefinisikan kitab suci sebagai ucapan tuhan Yesus dan muhammad disampaikan lewat bahasa manusia dan dikumpulkan dalam canon tertutup dibawah kondisi historis konkret.
tertulisnya, terlindung dalam canon yang secara resmi tertutup.82 Proses analisis Arkoun tentang pewahyuan, objektifikasi dan interpretasinya, serta interaksi dengan orang beriman di satu sisi, dan hubungannya dengan sejarah penyelamatan disisi lain dianggap oleh Esack sebagai keperluan untuk memperoleh sebuah pengertian dan makna yang sejalan dengan tuntutan-tuntutan yang muncul dalam upaya memperjuangkan keadilan dan pembebasan.83
Penggunaan metode hermeneutika Arkoun terlihat misalnya pada penafsiran Esack tentang iman. Saat menafsirkan QS. al-Anfâl 2-4 tentang iman Farid Esack melakukan pendekatan linguistik kritis, Esack mendefinisikan iman tidak hanya dari kata asal84 namun juga menekankan pada bagaimana iman dalam al-Qur`an85, dan iman secara semantik (merujuk kepada Tosihiko Izutsu).86 pendekatan historis sebagaimana di sampaikan diatas. Farid Esack dalam menafsirkan iman juga menghimpun hasil penafsiran para mufasir yang mewakili arus besar tafsir dan teologi Islam.87
Selain mendapat pengaruh dari para sarjana Muslim seperti Fazlur Rahman dan Arkoun, Hermeneutika yang dibangun Farid Esack juga dipengaruhi oleh beberapa sarjana non muslim barat, seperti David Tracy, Gadamer, James J. Buckley
82Objektifikasi tekstual, menurut arkoun tak lepas dari fakta-fakta historis yang tergantung pada agen-agen sosial politik, bukan pada tuhan. Beberapa “prosedur manusia yang tak sempurna” yang menetukan bentuk tertulis itu adalah “transmisi lisan” pemakaian bentuk grafis yang tak sempurna itu konflik antar suku dan pembacaan yang tak pernah dilaporkan.
83Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 104.
84Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 159.
85Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 160
86Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 162-163.
87Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 157.
dan Francis Schussler Fiorenza. Sebagaimana diakui oleh Esack sendiri, dalam membangun rumusan metodologi hermeneutika penerimaan (reception hermeneutics) dari James J. Buckley dan Francis Schussler Fiorenza.88
Hermeneutika Penerimaan yang biasanya dibahas sebagai salah satu kategori fungsionalisme dalam kajian tekstual. Sebagaimana banyak hal lain dalam ilmu sosial, berbagai tipologi menjadi tidak memadai ketika diterapkan dalam kajian tradisional Islam. Fungsionalisme, yang biasanya dilawankan revelasionisme, berfokus pada pemakaian teks dan mengklaim teks-teks tertentu bisa disebut kitab suci hanya jika ia telah lulus “uji fungsional dan pragmatik tertentu”. Meski para pemikir dan organisasi Muslim yang terlibat dalam pencarian apresiasi kontekstual Al-Qur’an benar-benar melihat nilai esensial kitab itu dalam kerangka fungsinya di masa kini, namun tak satupun yang memandang dirinya bertentangan dengan revelasionis. Kategori semacam ii dapat dikatakan tak ada dikalangan muslim. ini bukanya menyangkal bahwa ada perbedaan jelas dalam soal fokus. Sebenarnya, dengan sedikit pergeseran makna, kita bisa saja bicara soal fungsionalisme dalam tradisi Islam.
Hermeneutika penerimaan berfokus pada proses interpretasi dan bagaimana individu atau kelompok yang berbeda menggunakanya. Menurut Francis Schussler Fiorenza, interpretasi seperti ini “perlu memperhatikan bukan hanya teks atau audiens awal teks itu, melainkan juga transformasi jangkauan masa lalu dan sekarang. Hermeneutika penerimaan dengan demikian mengubah analisis soal
88 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 51.
bagaimana suatu teks telah atau sedang diterima “menjadi studi tentang pemaknaan teks tersebut. Berbeda dengan positivisme historis yang cenderung memperhatikan makna- makna yang tetap dan pasti, hermeneutika penerimaan menuntut agar beragam penerimaan atas teks itu, “termasuk pemahaman yang populer saat itu sebagai kongkretisasi pemaknaanya, dilibatkan dalam masalah penafsiran teks tersebut. Dengan demikian, menurut Esack mengutip dari Francis Schussler Fiorenza, hermeneutika penerimaan “akan memasukan ke dalam usaha interpretasi masalah pergeseran jangkauan pemahaman beragam audiensnya dan transformasi antara harapan masa lalu dan sekarang terhadap teks tersebut. Hermeneutika penerimaan menurut Esack dapat dilibatkan dalam pendekatan memahami teks Qur’an menjadi nyata, ketika memahami bagaimana umat Islam memandang Qur’an.89
89 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 52.
87 A. Kesimpulan
Dari uraian pada bab-bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Farid Esack seorang Intlektual organik dari Afrika Selatan.
Meskipun seorang tokoh internasional dalam bidang tafsir, tetapi sejauh ini belum menulis kitab tafsir seutuhnya, hanya dalam Qur’an Liberation and Pluralism, Kontribusi Esack terbesar dalam penafsiran terhadap berbagai tema al-Qur’an, tentang hubungan dengan agama lain serta menggali sisi-sisi revolusiener dari al-Qur’an dan hadis. Esack, mengkontektualisasikan tema-tema pokok al-Qur’an menuju perjuangan membela ketidakadilan khususnya yang terjadi di Afrika Selatan.
2. Dalam mengaplikasikan metode tafsirnya terhadap ayat-ayat Qur’an, Farid Esack mula-mula mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang setema, kemudian memahami arti dasar kata yang dituju, dan selanjutnya melakukan kontektualitas makna ayat terhadap sosio-historis ketika ayat-ayat itu turun. Metode tafsir Farid Esack termasuk kategori tafsir maudluiy. Dalam memahami kitab suci al-Qur’an, Esack menggunakan hermeneutika yang
dipengaruhi Fazlur Rahman dan Mohammad Arkoun, walaupun Esack mengkritik keduanya. Esack memadukan kedua pemikiran tersebut membuahkan konsep hermeneutika dalam konteks pembebasan Afrika Selatan dari rezim Apharteid.
3. Sebagai Intlektual global Esack merespon berbagai isu-isu global, diantaranya: tentang Hak Asasi Manusia, Pluralisme, dan Gender.
Esack dalam merespon Pluralisme menggunakan ayat Al-Maidah ayat 51. Menurut Esack meski ayat ini tak menginzinkan afinitas dengan Yahudi dan Nasrani menyangkut pihak yang dzalim, bukan solidaritas dengan pihak lain yang tertindas dan dieksploitasi. Keyakinan Esack berdasarkan tentang berbagai ulasan atas turunya ayat ini, salah satunya dari Thabari yang menyatakan bahwa dimalam perang Uhud, sekelompok Muslim merasa takut bahwa kaum kafir akan mengalahkan mereka.
Beberapa diantara mereka menunjukan tanda-tanda akan bergabung dengan Yahudi, mencari perlindungan dari mereka, dan bahkan menjadi Yahudi sementara yang lain dengan umat kristiani di syuriah.
4. Farid Esack memiliki pandangan bahwa Hak Asasi Manusia tidaklah bisa dipisahkan dengan hak dengan penciptanya. Esack mendasarkan pada hadits Nabi Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari
Syu'bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu'alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. Surat Al-An’am ayat 151 juga menjadi dasar Esack dalam merespon tentang Hak Asasi Manusia, yang berisikan larangan membunuh semena-mena.
ْمُكَّلَعَل يهيب ْمُكاَّصَو ْمُكيلَذ ِّيقَْلْيبِ لايإ َُّللَّا َمَّرَح يتَِّلا َسْفَّ نلا اوُلُ تْقَ ت لاَو َنوُليقْعَ ت
5. Hak untuk menghormati diri sendiri, kemuliaan, dan kesetaraan terhadap perempuan, menurut Esack karna Allah berfirman dalam suart Al-Isra’ ayat 70,
يتاَبِّييَّطلا َنيم ْمُهاَنْ قَزَرَو يرْحَبْلاَو ِّيَبْلا يفِ ْمُهاَنْلََحََو َمَدآ ينَِب اَنْمَّرَك ْدَقَلَو
لاييضْفَ ت اَنْقَلَخ ْنَّيمِ ٍيريثَك ىَلَع ْمُهاَنْلَّضَفَو
6. Resonansi pemikiran hermeneutika Farid Esack di Indonesia sejauh penulis melihat pemikiran-pemikiran Esack banyak dijadikan objek dalam penelitian khususnya Karya tulis ilmiah.
Hermeneutika pembebasan yang diusung Esack jadi favorit untuk terus digemakan. Secara tidak langsung ingin mengungkapkan bahwa ada kesamaan frekuensi dengan Afrika Selatan, tentang ketidakadilan masih berlangsung di Indonesia. Meskipun penggunaan gagasan Esack hanya pada diskusi bukan untuk perjuangan pembebasan sebagaimana terjadi di Afrika Selatan.
B. Saran
Seperti yang telah dijelaskan di atas, Apa yang dilakukan oleh Esack merupakan upaya terobosan untuk mengusung sebuah hermeneutika Alquran dalam merespon persoalan aktual eksistensial manusia khususnya terkait isu-isu Globalisasi. Penelitian ini merupakan penelitian literalis yang masih perlu eksplorasi untuk membuka ruang-ruang penafsiran dalam merespon isu-isu terkini.
91
(Yogykarta Tiara Wacana, 2002).
Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer, Yogyakarta: LkiS, 2010.
Abul A'la Mawdudi, Human Right in Islam, al-Tawhid Islamic Journal, Vol-4.
Agus Budiman, Politik Apartheid Di Afrika Selatan, Jurnal Artefak, Vol. 1, No. 1, Januari 2013.
Ahmad Ibrahim Abushouk, “Globalization and Muslim Identity: Challenges and Prospects”, The Muslim World, Volume 96, 2006.
Ahmad Khudhori Saleh dan Erik Sabti Rahmawati berjudul “Kerjasama Umat Beragama dalam al-Qur’an Prespektif Hermeneutika Farid Esack”, (malang: Uin Maliki Press, 2011).
Ahmad Khudori Soleh “Kerjasama Umat Beragama dalam al-Qur’an; Perspektif Hermeneutika Farid Esack” Jurnal Penelitian Keislaman (Vol. 6, No. 2, 2010: 247-266).
Ahmad Saifulloh, Pengaruh Skeptisisme Terhadap Konsep World Theology dan Global Theology, Jurnal KALIMAH Vol. 11, No. 2, September 2013.
Ahmad Suaedy, Gerakan Muslim Progresif Pasca Rejim Suharto Di Indonesia, Jurnal Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama Vol. 10, No. 2, Juli – Desember 2018.
Albert Hasibuan, Titik Pandang Untuk Orde Baru, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997.
Anis Malik Thoha, “Konsep World Theology dan Global Theology: Eksposisi Doktrin Pluralisme Agama Smith dan Hick”, dalam Jurnal Islamia, Th. I, No. 4, Januari-Maret 2005, (Jakarta: Khairul Bayan, 2005).
Ann Elizabeth Mayer, Islam dan Ham: Lain Isu Lain Konteks, dalam Dekonstruksi Syari’ah II, cet. 2, terj. Farid Wajdi, Yogyakarta: LKIS 2009.
Antonio Gramsci, Selections From The Prisaon Notebooks (New York:
International Publishers, 1987).
Budi Winarno, Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer, Yogyakarta 2014 CAPS (Center of Academic Publishing Servise).
Chandra Kurniawan, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Ekonomi pada Mahasiswa, Jurnal Media Wahana Ekonomika, Vol. 13, No. 4, Januari 2017.
Coleman, P. T., K. Mazzaro, R. Ben-Yehuda, N. Redding, D. Burns, A. Bartoli, A. Civico and A. Yee (2014). ‘Resonance in Complex Social Systems: A summary and synthesis of the literature’. Di akses dari:
https://conflictinnovationlab.files.wordpress.com/2014/03/resonance-project-final-june-2014.pdf
Ervand Abrahamian, Radical Islam: The Iranian Mojahedin, London: I. B. Tauris, 1989.
Farid Esack , On Being A Muslim, Fajar Baru Spiritualitas Islam Liberal-Plural, (Yogyakarta: IRCISOD, 2003).
___________, On Being a Muslim, Menjadi Mulim di Dunia Modern, terj. Dadi.
Darmadi dan Jajang Jahroni (Jakarta: Erlanga, 1999).
___________, Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Prespective of Interreligious Solidarity againts Oppression, (England: Oneword Publication, 1997).
Gabriel Said Reynolds, “Introduction: “The Golden Age of Qur'anic studies”, Gabriel Said Reynolds, New Perspectives on the Qurʾān: The Qurʾān in Its Historical Context 2, (London: Routledge, 2011).
Hadari Namawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991.
Harold Coward, Pluralisme dan Tantangan Agama-Agama, (Yogyakarta:
Kanisius, 1989).
Helen Tierney, Women's Studies Encyclopedia, Vol. I (NewYork: Green Wood Press).
Ibn Manzur, Lisan Al-Arab (Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1979).
John Hick, Problems of Religious Pluralism, (New York: St. Martin’s Press, 1985).
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia (Cet. I; Jakarta:
Gramedia, cet. XII, 1983).
Kaelan, Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner (Yogyakarta:
Paradigma, 2010).
Kenichi Ohmae, Next Global Stage: The: Challenges and Opportunities in Our Borderless World (New Jersey: Wharton School Publishing, 1995).
Mahmud Hamdi Zaq Zuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, Pustaka Pesantren Yogyakarta 2004.
Mahmudah Noorhayati dan A. Rafiq Zainul Mun’im, Pluralisme Agama Farid Esack Dalam Konteks Indonesia,” (Jember: STAIN Jember Press, 2015).
Mahmudah Noorhayati dan A. Rafiq Zainul Mun’im, Pluralisme Agama Farid Esack Dalam Konteks Indonesia,” (Jember: STAIN Jember Press, 2015).
Majda El Muhtaj, DimensiDimensi HAM: Mengurai Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Jakarta: Rajawali Press, 2008.
Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman, 3rd edition, London:
Paul Church’s Yard, 1976.
Micklewait. J dan Wooldridge. A, A Future Perfect : The Challenge and Hidden Promise of Globalization, New York: Crown Publishing Group, 2003.
Muhammad Legenhausen, Pluralitas dan Pluralisme Agama, terj Arif Mulyadi dan Ana Farida (Jakarta: Lentera Baristama, 2002).
Muhammad Nizar Hidayat, Diaspora Uyghur dan Hak Sipil di Xinjiang Cina, Jurnal Interdependence, Vol. 1, No.3 September-Desember 2013.
Nayef R.F. Al-Rodhan and Gérard Stoudmann, “Definitions of Globalization: A Comprehensive Overview and A Proposed Definition”, Geneva Centre for Security Policy, 2006.
Peter Byrne, Prolegomena to Religious Pluralism, (London: Macmillan Press, 1995).
Rhona K. M. Smith, Textbook on International Human Rights (6th ed.), Oxford university Press, 2016.
Shadaab Rahemtulla, Qur'an of the Oppressed: Liberation Theology and Gender Justice in Islam (Oxford: Oxford University Press, 2017).
Suroto, Konsep Masyarakat Madani Di Indonesia Dalam Masa Postmodern (Sebuah Analitis Kritis), Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan: Volume 5, Nomor 9, Mei 2015.
Syamsuddin Arif, Menyikapi Feminisme dan Isu Gender, Jurnal al-Insan, vol. 2, no. 3 (2006).
Teguh Sulistia, Peran Internasional Criminal Court Dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Oleh Militer, Indonesian Journal of International Law, Vol 5, No 1 2007.
Umi Sumbulah & Nurjanah, Pluralisme Agama Makna dan Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama, Malang: UIN-Maliki Press, 2013.
Victoria Neufeldt, Webster's New World Dictionary (New York: Webster's New World Cleveland, 1984).
Zakiyuddin Baidhawy, Hermeneutika Pembebasan al-Qur’an: Perspektif Farid Esack dalam Abdul Mustaqim-Sahiron Syamsudin, Studi Al-Qur’an Kontemporer; Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2002).
96 Ayahanda : Mu’arifin
Ibunda : Almh. Umi Sintyah
Alamat Asal : Bendungan Rt. 02 Rw 05 Klodran Colomadu Karanganyar B. Riwayat Pendidikan
SD Ta’mirul Islam : Lulus Tahun 2003 MTs Ta’mirul Islam : Lulus Tahun 2006 Darussalam Gontor : Lulus Tahun 2010 IAIN Surakarta : Lulus Tahun 2015 UIN Sunan Kalijaga : Lulus Tahun 2020 C. Pengalaman Organisasi
Ketua Umum Kopma IAIN Surakarta Periode 2012 - 2013 Ketua HMJ Ushuludin (paruh waktu) Periode 2013
Ketua Lembaga KOPINDO (Koperasi Pemuda Indonesia) Jawa Tengah Periode 2014 - 2017