• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. BIOGRAFI FARID ESACK

2. Peran Sosial Politik

Pada usia tujuh tahun, Esack telah mulai menancapkan keinginan kuatnya untuk menjadi sosok pemimpin agama (cleric). Dalam gambaran yang ia tulis dalam karya Qur’an Liberation and Pluralism, Esack telah mengenal dan bersentuhan dengan tradisi kehidupan yang plural semenjak kecil, namun juga

19 Farid Esack, On Being a Muslim, Menjadi Mulim di Dunia Modern, terj. Dadi. Darmadi dan Jajang Jahroni (Jakarta: Erlanga, 1999) h. xiv.

dia sangat relegius20. Ketika masih kecil, ia telah menjadi sekretaris masyarakat yang bertugas mengatur masjid dan sebagai guru madrasah. Ia adalah orang yang sangat memegang teguh agama dengan perhatian besar pada penderitaan yang dialami dan disaksikan di sekitarnya. Karena kepercayaanya yg kuat bahwa tuhan pasti adil dan berpihak pada kaum tertindas. Lebih menarik adalah logikanya yang didasarkan pada Allah, “jika engkau menolong allah, allah akan menolongmu dan mengokohkan langkah- langkahmu”21 Artinya, bahwa ia harus ikut andil dalam perjuangan untuk kebebasan dan keadilan, jika saya menginginkan agar Tuhan menolong, maka saya harus menolong Dia. “Dia”

dipahami sebagai “agama-Nya”. Dan inilah yang mendorongnya bergabung dua tahun kemudian dengan jama’ah tabligh, sebuah gerakan revivalis Muslim Internasional, pada umur yang tergolong masing cukup belia, yakni 9 tahun.22

Di sela-sela aktifitas pendidikannya, Esack masih sempat meluangkan waktunya untuk aktif di berbagai organisasi gerakan, seperti di Aksi Pemuda Nasional (National Youth Action), sebuah organisasi yang cukup vokal menentang apartheid, dan Asosiasi Cendekiawan Kulit Hitam Afrika Selatan (SouthAfrica Black Student).23 Dan karena keaktifannya inilah Esack ditahan

20 Ibid.

21 QS. Muhamad: 7.

22 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 26.

23Kedua organisasi yang bermarkas di Gedung Christian Institute ini membawa Esackmenikmati keramahan dan solidaritas dari pemimpinnya, Pendeta Theo Kotze dan para stafnya. Pendeta Theo menawarkan fasilitas beribadah bagi para muslim dan datang mengunjungi keluargaesack setelah dilepas dari tahanan. Pendeta Theo Juga meyakinkan kami bahwa “berurusan”dengan polisi sebenarnya merupakan suatu kehormatan. Akhirnya di tahun 1973 organisasi ini dilarang. lihat Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 27.

oleh pasukan khusus, yang kemudian dikenal sebagai polisi keamanan (Special Branch), Pasal yang di tuduhkan kepadanya adalah lantaran aktivitas di kedua organisasi tersebut Esack sangat gigihdan vokal meneriakkan tuntutan adanya perubahan sosial politik bagi masyarakat Afrika Selatan secara radikal.24

Pada tahun 1983, di Afrika Selatan muncul kontroversi atas konstitusi.Pembukaan konstitusi tersebut diawali kalimat “Dalam ketundukan bersahaja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”, diikuti perincian rumit soal pembagian rasial diantara hamba Allah.Sehingga membuahkan banyak penolakan dari rakyat Afrika Selatan.Sembari presiden Afrika Selatan saat itu, P.W. Botha mencari pembenaran secara teologis dalam kitab suci Bible demi mengembalikan Afrika Selatan yang Apartheid ke dalam komunitas bangsa-bangsa. Sebagian umat berbagai agama menyusun rencana, demi mendobrak isolasi dan menghancurkan konstitusi itu, sebagai langkah awal perjuangan menuju pembebasan.25

Tak tahan untuk hanya melihat, pada tahun 1984 Esack bersama tiga orang temanya, ‘Adli Jacobs, Ebrahim Rasool dan Shamiel Manie dari University of Western Cape, mendirikan organisasi gerakan bernama The Call of Islam ,26 dengan Esack sebagai koordinator nasionalnya. Organisasi tersebut menjadi motor penggerak bagi Esack bukan hanya di bidang intelektual, tapi juga menjalankan aktivitas sosial-politik. Melalui organisasi besarnya ini, Esack

24 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 28.

25 Ibid.

26 Ibid.

berkeinginan kuat untuk menemukan formulasi Islam Afrika Selatan yang berdasarkan pada pengalaman penindasan dan pembebasan yang dia sebut sebagai “a search for an outside model of lslam”.27

Organisasi The Call Of Islam berafiliasi dengan Front Demokrasi Bersatu (United Democratic Front/UDF), sebuah Front Nasionalis Afrika Selatan yang dipimpin Nelson Mandela. UDF berdiri pada 1983,28 dan merupakan organisasi pergerakan terbesar untuk kemerdekaan. UDF adalah pergerakan muslim yang paling aktif memobilisasi aktivitas nasional menentang apartheid, diskriminasi gender, dan pencemaran lingkungan, serta menggalang usaha antariman.

Menurut Esack di dalam UDF sendiri Call Of Islam hanyalah satu dari banyak organisasi berbasis agama yang terlibat dalam perjuangan29

Sejak tahun 1980 penentangan terhadap konstitusi sudah mulai gencar.

Berbagai organisasi keagamaan mulai menentang kebijakan tersebut. Termasuk konflik antara dua ekspresi keagamaan Akomodasionis dan liberasionis (yang sama-sama menentang apartheid) tidak bisa dihindarkan. Menurut Esack Akomodasionis adalah kelompok Konservatif yang berusaha memberi jalan dan membenarkan status quo, dengan mendukung kehendak penguasa, dan mereduksi kemelaratan dengan kepasifan, kepatuhan, dan apatisme.30

27 Burhanudin, Titik Balik Pengalaman Eksistensial Farid Esack: Raison D’etre Hermeneutika Pembebasan Al-Qur’an, makalah diakses pada 6 Januari 2015, dari situs www. Islam lib.com.

28 Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas h. 29.

29 Ibid.

30 Ibid., h. 30.

Perjuangan Esack lewat Call of Islam mendapat hambatan dari kelompok-kelompok Islam konservatif seperti al-Qibla, MYM (Muslim Youth Movement), MSA (Muslim South Africa).31 Mereka mencela Call of Islam karena bersolidaritas dan bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Kristen atas nama pluralisme. Mereka mengajukan “Front alternative murni muslim” menentang apartheid.

Menurut mereka lagi, bekerja sama dengan orang lain dalam perjuangan idiologis akan mengaburkan iman dan Islam seseorang dengan pertimbangan, antara lain : Pertama, aliansi politik mengandung “strategi implicit untuk membela kaum kafir32 dan menghalangi tampilan Islam sebagai kekuatan utama pembebasan. Kedua, dengan berafiliasi dengan UDF sebagai sebuah organisasi keagamaan, kelompok muslim telah mereduksi Islam menjadi sebuah agama dalam pengertian Barat dan tunduk pada idiologi sekuler serta menyangkal watak keutuhan Islam. Ketiga, konsep demokrasi bukan hanya asing bagi kerangka acuan pemerintahan yang islami, bahkan mengakuinya dapat membawa tindakan syirik.33

Lebih ironis lagi, mereka menklaim kafir orang yang bekerjasama dengan agama lain meskipun untuk mencapai tujuan muإia, yakni membebaskan Afrika

31 Gerakan-gerakan Islam ini sebenarnya memiliki semangat yang sama untuk melawan rezim apartheid. Hanya saja, mereka relatif ekslusif dan enggan bekerjasama dengan elemen di luar agama Islam.

Padahal, kita tahu, komunitas Muslim menjadi minoritas di Afsel sehingga sulit menggalang perlawanan yang masif jika melupakan komunitas lainnya di luar Islam .

32 Zakiyuddin Baidhawy, Hermeneutika Pembebasan al-Qur’an, h. 41.

33 Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas, h.70.

Selatan. Bahkan mereka menampilkan justifikasi teologis dengan menyerukan ayat-ayat al-Qur’an, yang sering mereka serukan adalah:34

ْ نَل َو

kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah: 120)35

ََي

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Maidah : 51)36

Keaktifan Esack berlanjut dengan menyuguhkan peranan di berbagai lembaga dan organisasi, seperti: The Organization of People Against Sexism, The Cape Against Racism, danthe World Conference on religion and Peace. Karena bakatnya yang kuat dalam menulis, gagasan dan pemikiranya ia sosialisasikan dalam berbagai tulisan yang tersebar dalam Koran, jurnal, dan majalah di Afrika

34 Ibid., h. 282.

35 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Cahaya Qur’an, 2011), h. 19.

36 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 107.

Selatan. Esack menjadi salah satu figure tokoh yang bergerak memperjuangkan bangsanya. Bahkan pada awal tahun 2007 ia ditunjuk sebagai Ketua Komisi Kesetaraan Jender oleh pemimpin Afrika Selatan yang ketika itu baru terpilih, Presiden Nelson Mandela.37Dari berbagai kesibukan dan aktifitasnya, bisa dikatakan bahwa dalam diri Esack muncul sebuah harmoni gabungan antara intelektualisme dan aktivisme.

Dokumen terkait