Oleh:
Mahdi Asnani 1620010036
TESIS
Diajukan Kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Gelar Master of Arts (M.A.)
Program Study Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Hermeneutika Qur’an
YOGYAKARTA 2020
i
Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap penulisan tesis yang berjudul : PENAFSIRAN FARID ESACK TERHADAP ISU-ISU GLOBAL
DAN RESONANSINYA DI INDONESIA Yang ditulis oleh:
Nama : Mahdi Asnani, S.Ud
Nim : 1620010036
Jenjang : Magister (S2)
Program Studi : Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi : Hermeneutika Qur’an
Saya berpendapat bahwa tesis tersebut sudah dapat diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam rangka memperoleh Magister Studi Islam.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Yogyakarta, 9 Desember 2020
Pembimbing
Dr. phil. Munirul Ikhwan, Lc., MA.
NIP.19840620 201801 1 001
v
PENGESAHAN TUGAS AKHIR
Nomor : B-13/Un.02/DPPs/PP.00.9/01/2021
Tugas Akhir dengan judul : MENJADI MUSLIM DI ERA GLOBAL: Studi Penafsiran Farid Esack Terhadap Isu-Isu Global dan Resonansinya Di Indonesia
yang dipersiapkan dan disusun oleh:
Nama : MAHDI ASNANI, S.Ud.
Nomor Induk Mahasiswa :1620010036
Telah diujikan pada : Jumat, 18 Desember 2020 Nilai ujian Tugas Akhir : B+
dinyatakan telah diterima oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
TIM UJIAN TUGAS AKHIR
Ketua Sidang/Penguji I
Dr. Ramadhanita Mustika Sari SIGNED
Valid ID: 600f61001db86
Valid ID: 600ed5ee6d1ff
Penguji II
Dr. Munirul Ikhwan SIGNED
Valid ID: 600edf9da5180
Penguji III
Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A.
SIGNED
Valid ID: 600fa2a9ab03c
Yogyakarta, 18 Desember 2020 UIN Sunan Kalijaga
Direktur Pascasarjana
Prof. Noorhaidi, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D.
SIGNED
vi
dan Kebudayaan RI Nomor 158/1987 dan 0543 b/U/1987, tanggal 22 Januari 1988.
A. Konsonan Tunggal
Huruf Arab
Nama Huruf Latin Keterangan
ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س
Alif Bā’
Tā’
Ṡā’
Jīm Ḥā’
Khā’
Dāl Żāl Rā’
zai sīn
Tidak dilambangkan b
t ṡ j ḥ kh
d ż r z s
Tidak dilambangkan be
te
es (dengan titik di atas) je
ha (dengan titik di bawah) ka dan ha
de
zet (dengan titik di atas) er
zet es
vii ط
ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ـه ء ي
ṭā’
ẓȧ’
‘ain gain
fā’
qāf kāf lām mīm nūn wāw
hā’
hamzah yā’
ḍ ṭ ẓ
‘ g f q k l m
n w h
` Y
te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah)
koma terbalik di atas ge
ef qi ka el em
en w ha apostrof
Ye
B. Konsonan Rangkap karena Syaddah Ditulis Rangkap ةدّدعتـم
ةّدع
ditulis ditulis
Muta‘addidah
‘iddah
viii
Semua tā’ marbūtah ditulis dengan h, baik berada pada akhir kata tunggal ataupun berada di tengah penggabungan kata (kata yang diikuti oleh kata sandang “al”). Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa indonesia, seperti shalat, zakat, dan sebagainya kecuali dikehendaki kata aslinya.
ةمكح ةـّلع ءايلولأاةمارك
ditulis ditulis ditulis
ḥikmah
‘illah karāmah al-auliyā’
D. Vokal Pendek dan Penerapannya ---- َ---
---- َ--- ---- َ---
Fatḥah Kasrah Ḍammah
ditulis ditulis ditulis
A i u
ل عف رك ذ بهذ ي
Fatḥah Kasrah Ḍammah
ditulis ditulis ditulis
fa‘ala żukira yażhabu
E. Vokal Panjang
ix ىسنـ ت
3. Kasrah + ya’ mati مـيرك
4. Dammah + wawu mati ضورف
ditulis ditulis ditulis ditulis ditulis
tansā ī karīm
ū furūḍ
F. Vokal Rangkap 1. fathah + ya’ mati
مكنيـب
2. fathah + wawu mati لوق
ditulis ditulis ditulis ditulis
ai bainakum
au qaul
G. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata Dipisahkan dengan Apostrof
متـنأأ
ُ ا تّدع مـتركشنئل
ditulis ditulis ditulis
A’antum U‘iddat La’in syakartum H. Kata Sandang Alif + Lam
x نأرقلا
سايقلا
ditulis ditulis
Al-Qur’ān Al-Qiyās
2. Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis sesuai dengan huruf pertama Syamsiyyah tersebut
ءامّسلا سمّشلا
ditulis ditulis
As-Samā’
Asy-Syams
I. Penulisan Kata-kata dalam Rangkaian Kalimat Ditulis menurut penulisannya
ضورفلاىوذ
ةّنـّسلا لهأ
ditulis
ditulis
Żawi al-furūḍ
Ahl as-sunnah
xi Tesis ini kupersembahkan untuk:
1. Almarhum Ibu dan Bapak tercinta yang telah mendidik dan membesarkanku sehingga aku dapat menapaki kehidupan.
2. Kepada sahabat-sahabat yang telah memberikan motivasi dan masukan dalam menjalani perkuliahan di UIN Sunan Kalijaga sehingga saya dapat menyelesaikan Tesis ini.
xii
“Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa”.
-Muh. Yamin-
Right or wrong my country, lebih-lebih kalau kita tahu, Negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru itu pula kita wajib memperbaikinya
-Prof. Doctor Soeharso-
Rumongso melu handarbeni ,Wajib melu hangrungkebi, Mulat sario hangroso wani
(merasa ikut memiliki, wajib ikut mempertahankan, mawas diri dan berani bertanggung jawab)
-Pangeran Sambernyowo/KGPAA Mangkunegoro I-
xiii
Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, tiada hal yang lebih layak selain bersyukur kehadirat Allah SWT, sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia dan nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita, shalawat beriring salam tak lupa kita panjatkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. Syukur Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini yang berjudul PENAFSIRAN FARID ESACK TERHADAP ISU-ISU GLOBAL DAN RESONANSINYA DI INDONESIA sebagai salah satu syarat untuk menempuh ujian akhir guna memperoleh gelar Magister of Art (M.A.) pada Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Hermeneutika al-Qur’an.
Dalam proses penyelesaian tesis ini tidak luput dari bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, sehingga dengan penuh rasa penghormatan penulis mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Phil Al Makin, MA selaku rektor UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta.
2. Bapak Prof. Noorhaidi, M.A, M.Phil., Ph,D. selaku dekan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta.
3. Ibu Dr. Nina Mariani Noor, M.A.selaku koordinator program Magister Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
4. Bapak Dr. Munirul Ikhwan, Lc., MA selaku dosen pembimbing tesis yang telah sabar membimbing, mencurahkan ilmu, dan meluangkan waktu untuk memberikan arahan untuk menyelesaikan tesis ini.
5. Seluruh dosen di lingkungan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta.
xiv
memberikan semangat dalam menyelesaikan tesis ini.
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga segala saran dan masukan menjadi amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Semoga karya penulis ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaatmemperluas wawasan di Hermeneutika al-Qur’an.
Yogyakarta, 9 Desember 2020
Peneliti
Mahdi Asnani
xv
Globalisasi, sebagai solusi untuk merefleksikan teks terhadap realitas sosial. Isu- isu yang sering terjadi dan menjadi perbincangan adalah Isu Pluralisme Agama, Isu tentang Hak Asasi Manusia, dan Isu yang berkaitan dengan Gender. Farid Esack merupakan salah satu intelektual internasional yang mempunyai misi memaknai ulang ajaran agama untuk untuk memberi pemahaman baru mengenai Nilai-nilai Islam agar sesuai dengan zaman. Esack berasal dari Afrika selatan, Ia tumbuh dimasa wilayah afrika selatan saat itu sedang di jajah oleh apharteid yang menindas. Melalui berbagai usahanya, Esack berhasil merelevansikan ajaran agama islam sehingga dapat merespon isu-isu global yang beredar tersebut. Selain sebagai penafsir, Esack adalah seorang aktifis yang bergerak di bidang gender dan aktifis pembebasan Afrika Selatan.
Dalam penelitian bersifat kepustakaan ini, menggunakan kerangka teori Intektual Organik Antonio Gramsci. Kajian ini menggunakan pendekatan historis- filosofis dan pendekatan resonansi. Penggunaan pendekatan dimaksudkan menganalisis tiga unsur kajian, yakni: (a) menganalisis teks itu sendiri; (b) merunut akar-akar historis secara kritis latar belakang tokoh tersebut mengapa ia mengusung gagasan hermeneutika pembebasannya; dan (c) menganalisa kondisi sosio-historis yang melingkupi tokoh tersebut. Pendekatan filosofis, akan mengungkap pemikiran Farid Esack yang merespon isu-isu globalisasi.
Pendekatan resonansi sosial mengukur sejauh mana pemikiran Farid Esack memiliki resonansi pada tokoh-tokoh di Indonesia.
Kesimpulan penelitian bahwa bangunan pemikiran Farid Esack sangat dipengaruhi oleh keadaan sosial-politik Afrika Selatan. Proses mengaplikasikan metode tafsirnya terhadap ayat-ayat al-Qur’an, Esack mula-mula mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang setema, kemudian memahami arti dasar kata yang dituju, dan selanjutnya melakukan kontektualitas makna ayat terhadap sosio-historis ketika ayat-ayat itu turun. Metode tafsir Farid Esack termasuk kategori tafsir maudlu’i. Proses memahami kitab suci al-Qur’an, Esack menggunakan hermeneutika yang dipengaruhi Fazlur Rahman dan Mohammad Arkoun, walaupun Esack mengkritik keduanya. Esack memadukan kedua pemikiran tersebut membuahkan konsep hermeneutika dalam konteks pembebasan Afrika Selatan dari rezim Apharteid. Resonansi pemikiran hermeneutika Farid Esack di Indonesia banyak ditemukan lingkup kajian akademis. Pemikiran-pemikiran Esack banyak dijadikan objek dalam penelitian khususnya Karya tulis ilmiah.
Hermeneutika pembebasan yang diusung Esack jadi favorit untuk terus digemakan. Secara tidak langsung ingin mengungkapkan bahwa ada kesamaan frekuensi dengan Afrika Selatan, tentang ketidakadilan masih berlangsung di Indonesia. Meskipun penggunaan gagasan Esack hanya pada diskusi bukan untuk perjuangan pembebasan sebagaimana terjadi di Afrika Selatan.
xvi
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PENGESAHAN TUGAS AKHIR ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN ... vi
PERSEMBAHAN ... xi
MOTTO ... xii
KATA PENGANTAR ... xiii
ABSTRAK ... xv
DAFTAR ISI ... xvi
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ... 4
D. Kajian Pustaka ... 5
E. Kerangka Teori ... 10
F. Metode Penelitian ... 11
G. Sistematika Pembebasan ... 15
xvii
2. Peran Sosial Politik ... 23
B. Karya-Karya Farid Esack ... 29
C. Hermeneutika Pembebasan ... 33
1. Theologi Pembebasan ... 34
2. Kunci-kunci Hermeneutika Pembebasan ... 35
3. Aplikasi Hermeneutika Pembebasan ... 46
BAB III : PENAFSIRAN FARID ESACK TERHADAP ISU-ISU GLOBAL ... 53
A. Pluralisme Pembebasan ... 57
B. Hak Asasi Manusia ... 63
C. Jihad Kesetaraan Gender ... 70
BAB IV : RESONANSI PEMIKIRAN FARID ESACK DI INDONESIA ... 74
A. Indonesia dalam Pusaran Globalisasi ... 74
B. Peta Resonansi Pemikiran Farid Esack di Indonesia ... 76
1. Resonansi Pemikiran Farid Esack di Dunia Akademik ... 78
2. Resonansi Pemikiran Farid Esack oleh Kalangan Aktivis ... 85
BAB V : PENUTUP ... 87
A. Kesimpulan ... 87
B. Saran ... 90
DAFTAR PUSTAKA ... 91
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 96
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kata globalisasi diambil dari global yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi atau pengertian yang pasti kecuali sekedar definisi kerja sehingga maknanya tergantung pada sudut pandang orang yang melihatnya. Istilah Globalisasi sendiri barangkali tercipta pada tahun 1944 oleh Oliver Reiser and Blodwen Davies.1 Selanjutnya menjadi slogan yang digunakan oleh para peneliti di berbagai disiplin ilmu setelah runtuhnya Uni Soviet dan meredanya perang dingin akhir dekade abad 20.2 Pada perkembangan terakhir, gambaran umum tentang seluruh definisi Globalisasi adalah proses integrasi transnasional dan transkultural dari aktivitas manusia dan non-manusia yang mencakup sebab- sebab, jalur, dan konsekuensinya.3
Dari definisi diatas bisa disimpulkan, bahwa tidak ada lagi batasan jarak dan wilayah dalam globalisasi. Semua orang bisa mendapatkan informasi, mendiskusikan, dan mempraktekanya dengan mudah dan cepat melalui teknologi komunikasi. Termasuk di dalamnya kebiasaan-kebiasaan yang mendunia, sehingga dapat membawa pengaruh terhadap pergesekan nilai. Disadari maupun tidak dapat memberikan pengaruh pada sikap dan perilaku manusia. Menurut penulis hal ini mengancam para pemeluk agama Islam, yang di dalamnya banyak
1 Ahmad Ibrahim Abushouk, “Globalization and Muslim Identity: Challenges and Prospects”, The Muslim World, Volume 96, 2006, h. 487.
2 Ahmad Saifulloh, Pengaruh Skeptisisme Terhadap Konsep World Theology dan Global Theology, Jurnal KALIMAH Vol. 11, No. 2, September 2013, h. 214.
3 Nayef R.F. Al-Rodhan and Gérard Stoudmann, “Definitions of Globalization: A Comprehensive Overview and A Proposed Definition”, Geneva Centre for Security Policy, 2006.
ajaran yang bertolak belakang dengan budaya barat. Sebagai contoh kerusuhan yang terjadi di Perancis tentang larangan penggunaan jilbab.4
Globalisasi membawa pengaruh pada sistem yang sudah mapan dan melahirkan nilai-nilai baru dalam hubungan antar individu. Banyak orang menjadi bersikap konsumtif dan boros, lebih banyak membeli barang sekunder seperti kebutuhan entermaiment, sampai pada hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Konsumtivitas tersebut sampai menggiring manusia hingga bersikap individual karena merasa dimudahkan oleh teknologi dan tidak lagi membutuhkan orang lain.5 Keindividualan tersebut akan melahirkan kesenjangan sosial, dimana yang kaya dapat terus menikmati era globalisasi, sedangkan yang miskin akan semakin menderita. Pada akhirnya agama dan penganutnya akan terpengaruh oleh era globalisasi.
Pada wilayah agama, Era globalisasi menginisiasi munculnya dua kelompok perkembangan.6 Pertama, fundamentalisme keagamaan (religious fundamentalism) dimana kaum agamawan dianggap gagal berinteraksi dan beradaptasi dengan globalisme. Yang kedua, teologi global (global theology), Yang mana menurut kelompok ini globalisasi tidak perlu ditentang karena ia sudah menjadi kenyataan dan tidak mungkin untuk dihindari. Dampaknya, umat beragama termasuk Islam perlu merekonstruksi pemikiran dan keyakinan
4 Lihat, https://www.voaindonesia.com/a/larangan-jilbab-picu-ketegangan-di perancis/1707996.html diakses tanggal 09 November 2019 pukul 20:20.
5 Chandra Kurniawan, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Ekonomi pada Mahasiswa, Jurnal Media Wahana Ekonomika, Vol. 13, No. 4, Januari 2017, h.
107-118.
6 Anis Malik Thoha, “Konsep World Theology dan Global Theology: Eksposisi Doktrin Pluralisme Agama Smith dan Hick”, dalam Jurnal Islamia, Th. I, No. 4, Januari-Maret 2005, (Jakarta: Khairul Bayan, 2005), h. 48.
agamanya yang tradisional agar senada dengan nilai-nilai yang dianggap universal dan bersifat modern.
Masih mengenai Globaisasi, disisi lain ia juga melahirkan nilai-nilai yang baik. Diantaranya lahirnya Deklarasi Hak Asasi Manusia (The Declaration of Human Rights) dimana Kebebasan dan kesetaraan setiap orang dijamin.7 Era Globalisasi tidak mentolelir Rasialisme dan semua ras memiliki derajat yang sama, sehingga setiap individu saling menghormati satu sama lain. Kesetaraan juga diberlakukan pada jenis kelamin, dimana perempuan memiliki derajat yang sama.
Berbicara mengenai Globalisasi tidak sedikit intelektual muslim, seperti para penafsir, dan tokoh aktifis Islam berusaha membawa Islam kedalam konteks globalisasi. Para tokoh tersebut berusaha memaknai kembali ajaran Islam untuk memberikan pemahaman bahwa nilai-nilai Islam relevan dengan nilai-nilai Globalisasi. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:, Rashid Ridho, Muhammad Abduh, Abdul Aziz Jawais, Hasan Hanafi, Fadlur Rahman, dan Farid Esack.
Farid Esack merupakan salah satu intelektual internasional yang mempunyai misi memaknai ulang ajaran agama untuk untuk memberi pemahaman baru mengenai Nilai-nilai Islam agar sesuai dengan zaman. Esack berasal dari Afrika selatan, Ia tumbuh dimasa wilayah afrika selatan saat itu sedang di jajah oleh apharteid yang menindas. Melalui berbagai usahanya, Esack berhasil merelevansikan ajaran agama islam sehingga dapat merespon isu-isu global yang
7 http://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/ diakses 2 januari 2020 pukul 01.30.
beredar. Selain sebagai penafsir, Esack adalah seorang aktifis yang bergerak di bidang gender dan aktifis pembebasan Afrika Selatan.
Dari berbagai kinerja Esack terkait isu-isu yang dibawa globalisasi diatas, peneliti tertarik untuk mengkaji pemikiran Farid Esack dalam memahami ayat- ayat al-Qur’an. Juga terkait bagaimana Esack dalam merespon isu-isu global yang beredar. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti memilih judul penelitian ini dengan “PENAFSIRAN FARID ESACK TERHADAP ISU ISU GLOBAL DAN RESONANSINYA DI INDONESIA”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Siapa Farid Esack dan bagaimana kontribusinya dalam membangun hermeneutika pembebasan ?
2. Sebagai Intlektuual global Bagaimana Farid Esack merespon isu-isu global?
3. Sejauhmana resonansi pemikiran hermeneutik Farid Esack di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Guna lebih fokus pada pembahasan dan tidak terlalu melebar dari pembahasan, oleh karena itu, penelitian ini bertujuan sebagai berikut
1. Mengenali Farid Esack dan sejauh mana kontribusinya dalam studi hermeneutika pembebasan.
2. Menampilkan potret pemikiran Farid Esack, tentang isu-isu global.
3. Mengetahui sejauhmana resonansi pemikiran Farid Esack di Indonesia.
D. Manfaat dan Kegunaan
1. Secara akademis penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan ilmiah bagi khazanah intelektual Islam, khususnya dalam bidang tafsir al-Qur’an, yang berkaitan dengan kajian-kajian atas karya Farid Esack.
2. Memberikan arah baru dalam kajian tafsir al-Qur’an. Kususnya dalam penafsiran.
E. Tinjauan Pusataka
Dewasa ini penelitian tentang al-Qur’an semakin diminati baik oleh kesarjanaan Muslim maupun non-Muslim. Tidak salah jika disebut bahwa telah datang The Golden Age of Qur’anic Studies (masa keemasan studi al- Qur’an),8 daya pikat yang luar biasa sehingga menghasilkan ribuan penelitian.
Sebagaimana tulisan ini fokus pada penelitian tentang Farid Esack membuka sudut pandang baru dalam studi al-Qur’an. Kendati demikian, Tulisan ini bukanlah yang pertama dalam mengkaji tentang Farid Esack. Penulis menemukan banyak penelitian yang membahas tentang Farid Esack mulai terbitan rentang waktu tahun 1995 sampai tahun 2017. Hasil penelitian bermacam-macam mulai dari yang sudah berbentuk buku, disertasi, tesis, skripsi, dan artikel dalam jurnal maupu artikel dalam buku antologi.
Selanjutnya akan kami paparkan.
Pertama buku karya Ahmad Khudhori Saleh dan Erik Sabti Rahmawati berjudul “Kerjasama Umat Beragama dalam al-Qur’an Prespektif
8 Gabriel Said Reynolds, “Introduction: “The Golden Age of Qur'anic studies”, Gabriel Said Reynolds, New Perspectives on the Qurʾān: The Qurʾān in Its Historical Context 2, (London:
Routledge, 2011), h. 2.
Hermeneutika Farid Esack”.9Buku ini sebagaimana ditulis dalam pengantarnya, pada dasarnya adalah perpaduan antara artikel Ahmad Khudhori Saleh10 dan tesis Erik Sabti Rahmawati11 karna kedua tulisan tersebut memiliki tema yang sama. Fokus pembahasan di dalam buku tersebut tentang bagaimana penafsiran Farid Esack mengenai ayat-ayat yang berhubungan dengan pluralisme agama dan kerjasama antar umat beragama.
Buku kedua berjudul “Pluralisme Agama Farid Esack Dalam Konteks Indonesia” karya Mahmudah Noorhayati dan A. Rafiq Zainul Mun’im.12 Pembahasan dalam buku ini pada awalnya mengeksplorasi padangan Farid Esack tentang pluralisme agama. Selanjutnya mempertimbangkan relevansi pandangan tersebut pada konteks ke-Indonesiaan. Sejauh penulis membaca, buku ini hanya memberikan gmbaran umum, kurang menyajikan analisa yang mendalam. Pada akhirnya buku ini kurang memberikan relevansi yang utuh pada konteks ke-Indonesiaan, karna hanya melihat pada hubungan keagamaan antar warga minus dengan pemerintahan.
Ketiga buku karya Shadaab Rahemtulla dengan judul “Qur’an of the Oppressed Liberation Theology and Gender Justice in Islam”.13 Pada dasarnya ini adalah Desertasi yang dibukukan, dengan nama penulis yang
9 Ahmad Khudhori Saleh dan Erik Sabti Rahmawati berjudul “Kerjasama Umat Beragama dalam al-Qur’an Prespektif Hermeneutika Farid Esack”, (malang: Uin Maliki Press, 2011).
10 Ahmad Khudori Soleh “Kerjasama Umat Beragama dalam al-Qur’an; Perspektif Hermeneutika Farid Esack” Jurnal Penelitian Keislaman (Vol. 6, No. 2, 2010: 247-266).
11 Erik Sabti Rahmawati, “Pluralisme Agama dan Solidaritas Antar Iman Dalam Al- Qur’an”, Tesis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.
12 Mahmudah Noorhayati dan A. Rafiq Zainul Mun’im, Pluralisme Agama Farid Esack Dalam Konteks Indonesia,” (Jember: STAIN Jember Press, 2015).
13 Shadaab Rahemtulla, Qur'an of the Oppressed: Liberation Theology and Gender Justice in Islam (Oxford: Oxford University Press, 2017).
sama. Desertasi yang ditulis oleh Shadaab Rahemtulla14 dengan judul
“Through The Eyes of Justice: A Comparative Study of Liberationist and Women’s Readings of The Qur’an”. Desertasi ini mengambil Farid Esack sebagai salah satu kajian bahan bersama Asghar Ali Engineer, Amina Wadud dan Asma Barlas. Desertasi ini membahas bentuk baru dalam menafsirkan al- Qur’an sebagai jawaban permasalahan Islam kontemporer. Dan bentuk baru definisi politik dan islam yang radikal.
Selanjutnya, adalah beberapa tesis yang menjadikan Farid Esack bahan kajianya. Pertama ada tesis karya Naibin15 berjudul “Teologi Pembebasan Islam dan Implikasinya Bagi Etika Keberagamaan Umat Islam”.
Tesis ini berupaya mengungkap aspek teologi pembebasan dari Asghar Ali Engineer dan Farid Esack. Pembahasan meliputi perbedaan dan persamaan metodologi dan kunci hermeneutik yang digunakan oleh keduanya. Menurut tesis ini, implikasi dari teologi pembebasan terhadap etika keberagamaan adalah sikap toleransi, open minded, dan gerakan solidaritas antar agama.
Tesis lain dengan judul “Teologi Autentik Studi atas Gagasan Teologi Pembebasan Farid Esack” karya Imam Iqbal16. Tesis ini menitik beratkan pembahasan pada perdebatan autentitas teologi di Afrika Selatan dan teologi pembebasan Farid Esack. Disisi lain Tesis ini memiliki implikasi di ilmu
14 Shadaab Rahemtulla, Through The Eyes of Justice: A Comparative Study of Liberationist and Women’s Readings of The Qur’an, Desertasi, Faculity of Oriental Studies University of Oxford, 2013.
15 Naibin, Teologi Pembebasan Islam dan Iplikasinya Bagi Etika Keberagamaan Umat Islam (Studi Komparasi Pemikiran Asghar Ali Engineer dan Farid Esack), Tesis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2016.
16 Imam iqbal, Teologi Autentik (Studi atas Gagasan teologi Pembebasan Farid Esack), Tesis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2007.
kalam pada level metodologis, tidak menjadikan al-Qur’an sebagai sumber utama islam, tetapi harus diimbangi dengan perjuangan menegakan ajaran teologi diranah sosial-kemasyarakatan. Terakhir tesis yang ditulis oleh Basri17
“Epistimologi Tafsir Ayat-Ayat Pembebasan (Studi Atas Penafsiran Farid Esack)”.
Sesuai judulnya tesis ini secara garis besar membahas epistimologi penafsiran Farid Esack. Dan menguji kebenara hasil penafsiran tersebut dengan teori korespondensi, teori koherensi, dan teori pragmatik.
Beberapa skripsi juga membahas tentang Farid Esack, antara lain.
Skripsi Moch Nur Ichwan18 yang berjudul “Hermeneutika Alqur’an: Analisis peta perkembangan metodologi tafsir Alqur’an Kontemporer“. Dalam tulisanya, Nur Ichwan menjadikan Farid Esack salah satu kajian bersama Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, dan Amina Wadud Muhsin. Skripsi tersebut berusaha menggambarkan peta perkembangan metodologi penafsiran Al- Qur’an kontemporer. Dalam analisanya, Pembahasan mengenai Farid Esack hanya persoalan metodologi dan belum mengarah pada tema-tema tertentu.
Skripsi Siti Nur Hidayah19 dengan judul “Hermeneutika Alqur’an:
Study atas metode penafsiran Al-Qur’án Farid Esack. Tulisan ini juga masih pada pembahasan metode hermeneutikanya dan belum mengarah pada penafsiran Farid Esack secara partikular. Skripsi Fuad Faizi20 dengan judul
17 Basri, Epistimologi Tafsir Ayat-Ayat Pembebasan (Studi Atas Penafsiran Farid Esack), Tesis, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2016.
18Moch. Nur Ichwan, “Hermeneutika Al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir Al-qur’an kontemporer”, Skripsi, Fakulutas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1995.
19 Siti Nur Hidayah, “Hermeneutika Al-Qur’an : Study atas Metode Penafsiran Al-Qur’án Farid Esack”, Skripsi, Fakulutas Ushuludin IAIN Surakarta, 2003.
20 Fuad Faizi, “Kajian Kritis Tafsir Resepsi Farid Esack”, Skirpsi, Fakulutas Ushuludin Iain Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.
“Kajian Kritis Tafsir Resepsi Farid Esack”. Fuad Faizi memetakan struktur pemahaman Farid Esack yang menitik beratkan pada aplikasi dan implikasi penggunaan Hermeneutika Resepsi.
Sedangkan mengenai tulisan lainya yang berbentuk artikel, sejauh penulusuran penulis ditemukan beberapa tulisan. Diantaranya tulisan Zakiyudin Baidhawi21 yang berjudul “Hermeneutika pembebasan Alqur’an:
Prespektif Farid Esack”. Tulisan tersebut membuat ulasan umum mengenai metodologi dan pendekatan Farid Esack menafsirkan al-Qur’an dalam konteks pembebasan di Afrika Selatan. Tulisan Sudarman22 “Pemikiran Farid Esack Tentang Hermeneutika Pembebasan Al-Qur’an”. Senada dengan tulisan sebelumnya tulisan ini mengeksprolarasi metode penafsiran Farid Esack kemudian mendiskripsikan pemikiran farid esack secara global.
Tulisan-tulisan diatas pembahasan melingkupi tentang metode hermeneutika Farid Esack dan belum membahas secara spesifik tentang tema- tema tertentu (masih bersifat umum). Sehingga penulis perlu melakukan penelitian lebih lanjut yang menitik beratkan pada pemikiran Farid Esack tentang isu global dan resonansinya di indonesia.
21Lihat dalam Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (eds), Studi Al-Qur’an Kontemporer (Yogykarta Tiara Wacana, 2002).
22 Sudarman, Pemikiran Farid Esack tentang Hermeneutika Pembebasan Al-Qur'an, Al- AdYaN/Vol.X, N0.1/Januari-Juni/2015, Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung. hlm.
96-97.
F. Kerangka Teori
Kerangka teori diperlukan di dalam penelitian ilmiah guna membantu memecahkan masalah yang akan diteliti. Kerangka teori berfungsi sebagai acuan melakukan analisis pada konteks masalah yang akan dicarikan jawabanya. Dan sebagai kerangka analisis untuk menentukan sudut pandang masalah terhadap objek yang dipilih.23 Adapun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kerangka teori Intektual Organik untuk menjawab rumusan masalah.
Penelitian ini menggunakan intelektual organik yang ditulis oleh Antonio Gramsci. Semua orang merupakan intelektual, namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual, selanjutnya Gramsci membagi dua kelompok intelektual. Pertama intelektual tradisional mereka adalah intelektual memiliki posisi dalam ruang lingkup masyarakat yang memiliki aura antar kelas tertentu namun berasal dari hubungan kelas di masa silam dan sekarang serta melingkupi sebuah lampiran untuk pembentukan berbagai kelas historis.24
Berbagai kategori intelektual tradisional memiliki citra terhadap kontiunitas sejarah yang tak terputus, terhadap “kualifikasi-kualifikasi” sebuah esprit de corps (kesetiakawanan), maka merekamelihat dirinya sebagai kelompok sosial yang berkuasa yang otonom dan independen. Pandangan demikian bukan tanpa konsekwensi dalam lapangan ideologi dan politik, konsekwensinya akan makna yang luas: secara sederhana seluruh filsafat idealis dapat dihubungkan dengan kedudukan dari kompleks sosial intelektual, dan dapat didefinisikan
23 Hadari Namawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991, h. 40.
24 Antonio Gramsci, Selections From The Prisaon Notebooks (New York: International Publishers, 1987), h 131
sebagai ekspresi dari utopia sosial ini dimana kaum intelektual menganggap dirinya “independen”, otonom, terbungkusdalam karakter mereka sendiri.25
Kedua, Intelektual organik mereka adalah para pemikir dan yang
mengorganisasi kelas sosial fundamental tertentu. Intelektual organik ini kurang dibedakan oleh profesinya, yang mungkin merupakan karakteristik dari pekerjaan di kelas mereka, dibandingkan dengan fungsinya dalam mengarahkan gagasan dan aspirasi kelas yang menjadi milik mereka secara organik.26 Menjadi intelektual organik Artinyamampu untuk mengaktualisasikan pikiran dan tindakan sekaligus.
Dengan kata lain menjadi intelektual yang membumi dengan sekitarnya. Apabila menjadi tokoh agama bisa membumikan ide-idenya untuk kebaikan semuanya.
Bukan hanya untuk kelompoknya atau golongannya sendiri tetapi bermanfaat pada lingkup yang lebih luas.
G. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah bagian penting dalam sebuah proses penelitian.
Metode yang tidak tepat akan menghasilkan sebuah kajian yang keliru, begitupun sebaliknya, jika metodenya benar, maka hasilnya pun akan benar. Oleh karena metodologi sebagai sebuah proses kerja intelektual, maka keilmiahan dan pembahasan yang sistematis menjadi suatu keharusan. Sebagai langkah awal ialah pengidentifikasian masalah, dan ini telah penulis paparkan pada rumusan masalah untuk menjelaskan urgensi dan signifikansi dari penelitian ini. Dan selanjutnya
25 Antonio Gramsci, Selections From The Prisaon Notebooks (New York: International Publishers, 1987), h 138
26 Antonio Gramsci, Selections From The Prisaon Notebooks (New York: International Publishers, 1987), h 142
ialah merumuskan metode dan pendekatan yang akan dipakai, serta menetapkan urutan langkah pembahasan secara sistematis.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini ialah metode Induktif.
Metode ini diterapkan jika ingin melakukan suatu proses penyimpulan setelah melakukan pengumpulan data dan menganalisanya. Proses induktif ini diterapkan berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan dilakukan analisis, yaitu melalui suatu sintesis dan penyimpulan secara induktif aposteriori.27 Jadi dalam tesis ini penulis akan mendeskripsikan konstruksi epistemologi tafsir ayat-ayat pembebasan dari pemikiran Farid Esack, dengan menganalisa secara kritis dari beberapa karya beliau. Memperjelas model dan sumber penafsirannya dalam menghadapi masalah tertentu, menyoroti metodologinya maupun materi pemikirannya, serta apa tolak ukur kebenarannya.
Penelitian ini ialah penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang data-datanya diperoleh melalui studi pustaka, dengan merujuk kepada sumber utama, yakni beberapa karya Farid Esack. Adapun data-data yang hendak diteliti terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer ialah datadata yang merupakan karya dari Farid Esack itu sendiri terutama yang terkait dengan persoalan epistemologinya, seperti di antaranya: Qur’an, Liberation and Pluralism An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression (1997), On Being a Muslim: Finding a Religious Path in the World Today (1999), The Qur’an : A User’s Guide, dan tulisannya yang berjudul “Spektrum Teologi Progresif di Afrika Selatan” dalam buku Dekonstruksi Syari`ah (II): Kritik
27 Kaelan, Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner (Yogyakarta: Paradigma, 2010), hlm. 186.
Konsep, Penjelajahan Lain. Sedangkan data sekunder ialah buku-buku, kitab, artikel, dan sumber data lainnya yang membahas mengenai pemikiran tokoh tersebut yang merupakan hasil interpretasi orang lain. Dan juga beberapa buku lain yang terkait dengan objek kajian ini yang sekiranya dapat digunakan untuk membantu menganalisis persoalan-persoalan tentang pemikiran FaridEsack.
Pendekatan yang hendak penulis gunakan dalam kajian ini adalah dengan pendekatan historis-filosofis dan pendekatan resonansi. Penggunaan pendekatan ini dimaksudkan untuk menganalisis tiga unsur kajian, yakni: (a) menganalisis teks itu sendiri; (b) merunut akar-akar historis secara kritis latar belakang tokoh tersebut mengapa ia mengusung gagasan hermeneutika pembebasannya; dan (c) menganalisa kondisi sosio-historis yang melingkupitokoh tersebut. 28 Dan dengan filosofis, penulis akan mengungkap pemikiran Farid Esack yang merespon isu—
isu globalisasi. Penulis dengan menggunakan pendekatan resonansi sosial, akan mengukur sejauh mana pemikiran Farid Esack memiliki resonansi pada tokoh- tokoh di Indonesia.
28 Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer, Yogyakarta: LkiS, 2010 hlm. 28.
Dan adapun langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penulis akan menginventarisasi data dan menyeleksinya, khususnya karyakarya Farid Esack, serta buku-buku lainnya yang terkait dengan epistemologi hermeneutika keduanya.
2. Penulis dengan cermat akan mengkaji data tersebut secara komprehensif dan kemudian mengabstraksikan dan mendeskriptifkan bagaimana konstruksi epistemologi hermeneutikanya. Hal ini dilakukan dengan menganalisis terhadap apa hakikat tafsir menurut Farid Esack, bagaimana metode penafsirannya, sumber-sumber penafsirannya, model penafsirannya, serta validitas penafsirannya.
3. Penulis akan memaparkan pandangan Farid Esack tentang isu-isu globalisasi. Tiga isu globalisasi yang terpilih antara lain; Pluralisme, Ham, dan Gender. Pandangan farid esack yang di bangun dari teks dan konteks yang melingkupinya.
4. Penulis akan mengukur sejauh mana pemikiran Farid Esack beresonansi di Indonesia. Objek resonansi dari pemikiran Farid Esack adalah para akademisi dan para aktifis yang mengangkat isu-isu global.
5. Penulis akan membuat kesimpulan-kesimpulan secara cermat sebagai jawaban atas rumusan masalah yang dipaparkan.
H. Sistematika Pembahasan
Secara garis besar, penulisan thesis ini terbagi dalam empat pokok pembahasan yang masing-masing termuat dalam bab berbeda. Agar pembahasan dalam penulisan menjadi utuh, terarah dan sistematis. Penulis menyusun sistematika pembahasanya sebagai berikut:
Bab pertama, adalah pendahuluan. Bab ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitain, manfaat dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Bab ini sebagai pengantar untuk mempermudah memahami pembahasan penelitian yang akan dikaji.
Bab kedua, bab ini mencakup pembahasan tentang latar belakang Farid Esack, yang meliputi; biografi, karir intlektual, peran sosial politik, karya- karya Farid esack dan membahas kontruksi hermeneutika Farid Esack.
Bab ketiga, bab ini merupakan penjelasan bagaimana pandangan farid esack terhadap isu-isu global terdiri dari Pluralisme, Ham, dan kajian gender.
Bab keempat, bab ini merupakan pembahasan terakhir dalam penelitian ini. Berisikan tentang resonansi pemikiran Farid Esack di Indonesia.
Bab kelima, adalah bab penutup yang berisi kesimpulan yang merupakan jawaban dari pokok-pokok masalah yang telah dirumuskan pada sub rumusan diatas. Juga memuat saran-saran yang diharapkan berguna bagi kesinambungan penelitian selanjutnya.
16
Guna mengetahui subyektifitas tokoh, maka pada bab ini akan dipaparkan tentang biografi Farid Esack dan yang digunakan untuk memahami al-Qur’an.
Pemaparan tentang biografi terdiri dari karir intlektual, dan peran sosial politik, dan karya-karya Farid Esack. Metode hermeneutika yang digunakan diseskripsikan secara umum. Hal ini penting untuk mengetahui arah pemikiran Farid Esack secara subyektif.
A. BIOGRAFI FARID ESACK
Farid Esack dilahirkan pada tahun 1959 di sebuah perkampungan kumuh lagi miskin di Cape Town, Wynberg, Afrika Selatan. Esack ditinggalkan ayahnya sejak berumur tiga minggu.1 Tinggal bersama ibu dan enam saudara laki-lakinya,2 hidup mengandalkan gaji kecil ibunya sebagai seorang pekerja pabrik rendahan.3 Menginjak usia 3 tahun, seluruh anggota keluarganya terpaksa pindah ke Bonteheuwel, sebuah kota untuk orang kulit berwarna di Cape Flats,
1 Zakiyuddin Baidhawy, Hermeneutika Pembebasan al-Qur’an: Perspektif Farid Esack dalam Abdul Mustaqim-Sahiron Syamsudin, Studi Al-Qur’an Kontemporer; Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 195.
2 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Prespective of Interreligious Solidarity againts Oppression, , (England: Oneword Publication, 1997), h. 24.
3 Ibid.
Afrika Selatan.4 Karena diberlakukanya Akta Wilayah Kelompok (Groups Areas Act).5
Esack tinggal di Bonteheuwel bertetangga dengan orang Kristen, sama ketika tinggal di Dan bersekolah dasar di daerah tersebut yang didasarkan Pendidikan Nasional Kristen. Menurut Esack hal tersebut adalah idiologi keagamaan konservatif yang bertujuan membentuk warga apartheid yang patuh dan takut pada tuhan.6 Menurut Esack disamping para penganut Kristen, satu- satunya orang beragama lain adalah Tuan Frank, tukang kredit berdarah Yahudi dan Tahirah, dan seorang gadis Bahaí yang orang tuanya melarang anak itu membicarakan agamanya dengan siapa pun.7
Realitas kemiskinan yang menghimpit, membuat Esack dan keluarganya
“mentolerir” kebiasaan untuk saling tolong menolong dan solidaritas yang tinggi antara kalangan yang berbeda keyakinan. Bahkan ia menyambung hidup dari para tetangganya Kristen. Sebab dari merekalah yang sering memberikan makanan ala kadarnya dan memberinya pijaman seolah tanpa akhir.8 Kenyataan bahwa penderitaan menjadi terpikulkan, berkat solidaritas antar agama dengan keyakinan berbeda, membuat Farid Esack curiga pada semua ide keagamaan
4 Pada 1931 Afrika Selatan resmi dibawah jajahan Inggris. Setelah 1910 terjadi perang boer ke-dua antara Belanda dan Inggris. Lihat, Agus Budiman, Politik Apartheid Di Afrika Selatan, Jurnal Artefak Vol. 1 No. 1Januari 2013, h. 17-23.
5 Akta Wilayah Kelompok (Groups Areas Act) yang diberlakukan pemerintah mulai tahun 1961, lihat Farid Esack , On Being A Muslim, Fajar Baru Spiritualitas Islam Liberal-Plural, (Yogyakarta:
IRCISOD, 2003), h. 187.
6 Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas, h. 25.
7 Ibid, h. 25.
8 Ibid.
yang mengklaim keselamatan hanya pada kelompoknya sendiri dan mengilhamkan pada Esack dengan kesadaran akan kebaikan intrinsik antar agama.9
Dari interaksi yang bermakna ini, Esack banyak mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang makna pluralitas dan solidaritas antara sesama, bahkan boleh dikata, benih-benih pluralisme dalam pemikiran Esack justru muncul karena seringnya berinteraksi secara intens, yang sekaligus kerap menjumpai sisi-sisi kebajikan, kesalehan, kasih sayang serta rasa solidaritas sosial dari mereka tanpa memandang dan mempersoalkan asal-muasal agama, idiom teologis, ras, etnis, kultur dan pembedaan diferensiasi sosial lainnya.
Kepercayaan tentang adanya keselamatan bagi suatu agama dipegang erat oleh masyarakat Afrika Selatan, bahkan ketika dihadapkan dengan penggusuran terhadap rakyat, akibat diberlakukanya Akta Wilayah Kelompok (Group Areas Act), masalah agama dan alkoholisme seringkali menjadi faktor yang lebih utama dari pada kelangsungan hidup.10
Islam bagi Esack dan keluarganya menjadi ‘sauh kultural’ dan berperan penting dalam perjuangan kami dalam mempertahankan hidup di tengah padang pasir dan pepohonan Port Jackson di Bonteheuwel. Karena mengaku sesama Islam, maka Esack dan keluarganya sering merapatkan interaksi mereka untuk saling berkomunikasi dengan sesama tetangga muslim. Sehingga meski
9 Ibid.
10 Ibid.
keluarganya tidak tergolong religius, masjid adalah menjadi tempat yang penting untuk mereka melakukan kontak interaksi sesama tetangga muslim. Di samping itu, Esack menjadikan masjid sebagai tempat yang mempunyai nilai romantisme sendiri, sewaktu kecil hingga dewasa disanalah ia bermain sepulang sekolah dan akhir pekan, mendorong gerobak pasir ketika kecil dan menjadi wakil masyarakat yang mengelola masjid ketika dewasa, serta menjadi guru madrasah sejak masih anak sekolahan.11
Berangkat dari pengalaman pahit inilah, Esack mempertanyakan kembali secara kritis terhadap teks-teks keagamaan yang kerap ditafsirkan secara eksklusif. Terlebih, yang sangat esensial mempertanyakan secara radikal makna agama, klaim kebenaran suatu agama. Karena Esack menyadari bahwa dalam konteks penindasan yang sudah sedemikian parah, menghadapi persoalan hidup tidak cukup hanya diatasi dengan memegangi argumen- argumen normatif dan teologis yang terus-menerus ditafsirkan secara eksklusif, konservatif dan ideologis, sementara kenyataan sosial berupa penindasan, kapitalisme, rasisme, dan lain sebagainya terus membayangi setiap saat. Oleh karenanya, dia berkeyakinan kuat bahwa yang dibutuhkan oleh umat Islam dan rakyat Afrika Selatan pada khususnya adalah sebentuk ruh yang baru untuk menafsirkan ulang teks-teks keagamaan demi membebaskan rakyat Afrika Selatan dari belenggu sejarah kolonialisme dan imperialisme yang dilanggengkan oleh rezim apartheid.
11 Ibid.
1. Karir Intelektual Farid Esack
Dengan kepindahan Farid Esack ke Bonteheuwel akibat dari Akta Wilayah Kelompok (Groups Areas Act), Esack tetap menempuh pendidikan secara berkelanjutan meski dengan kondisi diri dan keluarganya yang
‘memprihatinkan’. Esack menyelesaikan Sekolah dasar dan menengahnya di Bonteheuwel, di sebuah sekolah yang menganut kurikulum Pendidikan Nasional Kristen. Kurikulum yang menanamkan idiologi keagamaan yang konservatif untuk membentuk warga apartheid yang taat pada tuhan. Sistem yang dijalankan itu merupakan kebijakan rezim penguasa untuk tetap melanggengkan status quo.12
Setelah menyelesaikan sekolah, pada tahun 1974 Farid Esack mendapatkan beasiswa untuk belajar teologi selama delapan tahun di Pakistan.13Ia kemudian masuk di lembaga scholarship atau lembaga tinggi yang ia tempuh terpisah, yakni: Jami’ah Ulum al-Islamiyah dan Jami’ah ‘Alimiyyah al-Islamiyah. Di sana dia berhasil memperoleh gelar sarjana Hukum dan sarjana Theology Islam. Esack menyebut Jami’ah tersebut amat konservatif, karena menurutnya memandang jelek segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi.14
Latar belakang Farid Esack yang berasal dari keluarga miskin dan tertindas menyebabkan kepekaanya terhadap pelecehan sosial atas kaum
12 Ibid.
13 Ibid., h. 27.
14 Ibid.
minoritas Hindu dan Kristen. Membuatnya merasa tertuntut untuk bergerak terhadap fenomena pelecehan sosial dan agama atas kaum minoritas Hindu dan Kristen yang memang sering ia jumpai di Pakistan. Sebagaimana pemaparan Esack
“Derrick Dean, seorang aktivis muda Kristen, suatu malam mengunjungi saya di ruang madrasah yang saya tempati bersama enam orang lainnya.
Reaksi Haji Bhai Padia, pemimpin Jamaah Tabligh Afika Selatan mengejutkan saya saat itu. Begitu mengetahui bahwa Derrick bukan seorang non Muslim, dia memintanya untuk mengucapkan kalimat syahadat. Saya menghormati Derrick seperti apa adanya, saya pun mencintai Bhai Padia, tapi diam-diam saya merasa malu. Apa yang terjadi di sini adalah logika sederhana yang tadinya begitu saya pegang bahwa “jika kamu menolong Tuhan, niscaya Dia menolongmu”, jadi melemah. Jurang antara teologi konservatif yang melekat dalam diri saya dan praksis-progresif menjadi terang.”15
Dari kejadian-kejadian tersebut, Esack semakin meneguhkan diri dan segera menentukan pilihan gerakan. Jurang antara teologi konservatif yang masih melekat di dalam dirinya dengan teologi praksis progresif semakin terang benderang. Esack sering mengikuti diskusi yang diadakan Gerakan Pelajar Kristen (yang kemudian dinamai Breakthrough). Dari diskusi yang ia ikuti, Esack menyaksikan bagaimana mereka berusaha memaknai hidup sebagai seorang Kristiani dalam lingkungan yang tak adil dan eksploitatif.16
Jalinan antar iman tersebut semakin kuat, hal ini terlihat dengan Esack membangun kerjasama dengan Norman Wray, seorang tokoh paling inspirasional dalam kelompok Breakthrugh dalam beberapa hal, semisal:
15 Ibid.
16 Ibid.
permintaan Norman kepada Esack untuk mengajar Studi Islam di sekolah yang dipimpinnya, kemudian kerja-kerja sosial di Penjara Pusat Karachi, mengajar di perkampungan kumuh Hindu dan Kristen, dan merawat anak-anak terlantar di sana. Pelajaran beharga inilah yang mencoba Esack inspirasikan sebagai perkawinan iman dan praksis di Afrika Selatan.17
Di Pakistan Esack juga disadarkan atas banyaknya kesamaan antara penindasan yang terjadi di Afrika Selatan. Esack menyaksikan banyaknya kesamaan antara penindasan terhadap wanita di kalangan Muslim Pakistan dengan penindasan terhadap orang kulit hitam di Afrika Selatan (Apartheid).
Titik temu tak terelakkan antara pandangan seksis dan rasialis ini yang kemudian semakin membentuk latar belakang yang kuat bagikepedulian, komitmen, dan pola pemikiran Esack menjadi matang.18
Setelah merasa cukup dengan bekal keilmuannya, pada tahun 1982, Esack kembali ke Afrika Selatan dan mulai merintis gerakan pembebasan yang mewarnai aktivitas politik, sosial-keagamaan yang selanjutnya menjadi salah satu pilar kekuatan kelompok Islam progresif di Afrika Selatanuntuk melawan penindasan dari rezim Apartheid. Namun pergerakan dari Esack tak sepi dari berbagai halangan dan rintangan, bahkan hal tersebut datang dari sesama kaum muslim.
17 Ibid., h. 27-28.
18 Ibid., h. 28.
Pada tahun 1989, ia meninggalkan negerinya lagi untuk belajar hermeneutika al-Qur’an di Inggris dan hermeneutika Injil di Jerman. Tepatnya di Universitas Theologische Hochschule, Sankt Geprgen, Frankfrut Am Main Jerman, Esack menekuni studi Bibel selama satu tahun. Sementara di University of Birmingham Inggris, Esack memperoleh gelar doktoralnya dalam kajian Tafsir al-Qur’an.19
Saat ini aktifitas Esack sangatlah padat Dalam bidang akademik, ia menjabat sebagai dosen senior pada Department Of Religious Studies di University of Western Cape. Sampai saat ini Esack menjadi professor tamu dalam Religious Studies di University of Hamburg. Esack juga mengajar sebagai dosen di sejumlah Universitas papan atas seperti Oxford, Harvard, Temple, Cairo, Moscow, Karachi, Cambridge, Birmingham, Amsterdam, CSUN (California State University Nortridge). mengajar mata kuhah yang berkaitan dengan masalah Islam dan Muslim di Afrika Selatan, teologi Islam , politik, environmentalisme dan keadilan jender.
2. Peran Sosial Politik
Pada usia tujuh tahun, Esack telah mulai menancapkan keinginan kuatnya untuk menjadi sosok pemimpin agama (cleric). Dalam gambaran yang ia tulis dalam karya Qur’an Liberation and Pluralism, Esack telah mengenal dan bersentuhan dengan tradisi kehidupan yang plural semenjak kecil, namun juga
19 Farid Esack, On Being a Muslim, Menjadi Mulim di Dunia Modern, terj. Dadi. Darmadi dan Jajang Jahroni (Jakarta: Erlanga, 1999) h. xiv.
dia sangat relegius20. Ketika masih kecil, ia telah menjadi sekretaris masyarakat yang bertugas mengatur masjid dan sebagai guru madrasah. Ia adalah orang yang sangat memegang teguh agama dengan perhatian besar pada penderitaan yang dialami dan disaksikan di sekitarnya. Karena kepercayaanya yg kuat bahwa tuhan pasti adil dan berpihak pada kaum tertindas. Lebih menarik adalah logikanya yang didasarkan pada Allah, “jika engkau menolong allah, allah akan menolongmu dan mengokohkan langkah- langkahmu”21 Artinya, bahwa ia harus ikut andil dalam perjuangan untuk kebebasan dan keadilan, jika saya menginginkan agar Tuhan menolong, maka saya harus menolong Dia. “Dia”
dipahami sebagai “agama-Nya”. Dan inilah yang mendorongnya bergabung dua tahun kemudian dengan jama’ah tabligh, sebuah gerakan revivalis Muslim Internasional, pada umur yang tergolong masing cukup belia, yakni 9 tahun.22
Di sela-sela aktifitas pendidikannya, Esack masih sempat meluangkan waktunya untuk aktif di berbagai organisasi gerakan, seperti di Aksi Pemuda Nasional (National Youth Action), sebuah organisasi yang cukup vokal menentang apartheid, dan Asosiasi Cendekiawan Kulit Hitam Afrika Selatan (SouthAfrica Black Student).23 Dan karena keaktifannya inilah Esack ditahan
20 Ibid.
21 QS. Muhamad: 7.
22 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 26.
23Kedua organisasi yang bermarkas di Gedung Christian Institute ini membawa Esackmenikmati keramahan dan solidaritas dari pemimpinnya, Pendeta Theo Kotze dan para stafnya. Pendeta Theo menawarkan fasilitas beribadah bagi para muslim dan datang mengunjungi keluargaesack setelah dilepas dari tahanan. Pendeta Theo Juga meyakinkan kami bahwa “berurusan”dengan polisi sebenarnya merupakan suatu kehormatan. Akhirnya di tahun 1973 organisasi ini dilarang. lihat Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 27.
oleh pasukan khusus, yang kemudian dikenal sebagai polisi keamanan (Special Branch), Pasal yang di tuduhkan kepadanya adalah lantaran aktivitas di kedua organisasi tersebut Esack sangat gigihdan vokal meneriakkan tuntutan adanya perubahan sosial politik bagi masyarakat Afrika Selatan secara radikal.24
Pada tahun 1983, di Afrika Selatan muncul kontroversi atas konstitusi.Pembukaan konstitusi tersebut diawali kalimat “Dalam ketundukan bersahaja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”, diikuti perincian rumit soal pembagian rasial diantara hamba Allah.Sehingga membuahkan banyak penolakan dari rakyat Afrika Selatan.Sembari presiden Afrika Selatan saat itu, P.W. Botha mencari pembenaran secara teologis dalam kitab suci Bible demi mengembalikan Afrika Selatan yang Apartheid ke dalam komunitas bangsa- bangsa. Sebagian umat berbagai agama menyusun rencana, demi mendobrak isolasi dan menghancurkan konstitusi itu, sebagai langkah awal perjuangan menuju pembebasan.25
Tak tahan untuk hanya melihat, pada tahun 1984 Esack bersama tiga orang temanya, ‘Adli Jacobs, Ebrahim Rasool dan Shamiel Manie dari University of Western Cape, mendirikan organisasi gerakan bernama The Call of Islam ,26 dengan Esack sebagai koordinator nasionalnya. Organisasi tersebut menjadi motor penggerak bagi Esack bukan hanya di bidang intelektual, tapi juga menjalankan aktivitas sosial-politik. Melalui organisasi besarnya ini, Esack
24 Farid Esack, Qur’an Liberation and Pluralism, h. 28.
25 Ibid.
26 Ibid.
berkeinginan kuat untuk menemukan formulasi Islam Afrika Selatan yang berdasarkan pada pengalaman penindasan dan pembebasan yang dia sebut sebagai “a search for an outside model of lslam”.27
Organisasi The Call Of Islam berafiliasi dengan Front Demokrasi Bersatu (United Democratic Front/UDF), sebuah Front Nasionalis Afrika Selatan yang dipimpin Nelson Mandela. UDF berdiri pada 1983,28 dan merupakan organisasi pergerakan terbesar untuk kemerdekaan. UDF adalah pergerakan muslim yang paling aktif memobilisasi aktivitas nasional menentang apartheid, diskriminasi gender, dan pencemaran lingkungan, serta menggalang usaha antariman.
Menurut Esack di dalam UDF sendiri Call Of Islam hanyalah satu dari banyak organisasi berbasis agama yang terlibat dalam perjuangan29
Sejak tahun 1980 penentangan terhadap konstitusi sudah mulai gencar.
Berbagai organisasi keagamaan mulai menentang kebijakan tersebut. Termasuk konflik antara dua ekspresi keagamaan Akomodasionis dan liberasionis (yang sama-sama menentang apartheid) tidak bisa dihindarkan. Menurut Esack Akomodasionis adalah kelompok Konservatif yang berusaha memberi jalan dan membenarkan status quo, dengan mendukung kehendak penguasa, dan mereduksi kemelaratan dengan kepasifan, kepatuhan, dan apatisme.30
27 Burhanudin, Titik Balik Pengalaman Eksistensial Farid Esack: Raison D’etre Hermeneutika Pembebasan Al-Qur’an, makalah diakses pada 6 Januari 2015, dari situs www. Islam lib.com.
28 Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas h. 29.
29 Ibid.
30 Ibid., h. 30.
Perjuangan Esack lewat Call of Islam mendapat hambatan dari kelompok- kelompok Islam konservatif seperti al-Qibla, MYM (Muslim Youth Movement), MSA (Muslim South Africa).31 Mereka mencela Call of Islam karena bersolidaritas dan bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Kristen atas nama pluralisme. Mereka mengajukan “Front alternative murni muslim” menentang apartheid.
Menurut mereka lagi, bekerja sama dengan orang lain dalam perjuangan idiologis akan mengaburkan iman dan Islam seseorang dengan pertimbangan, antara lain : Pertama, aliansi politik mengandung “strategi implicit untuk membela kaum kafir32 dan menghalangi tampilan Islam sebagai kekuatan utama pembebasan. Kedua, dengan berafiliasi dengan UDF sebagai sebuah organisasi keagamaan, kelompok muslim telah mereduksi Islam menjadi sebuah agama dalam pengertian Barat dan tunduk pada idiologi sekuler serta menyangkal watak keutuhan Islam. Ketiga, konsep demokrasi bukan hanya asing bagi kerangka acuan pemerintahan yang islami, bahkan mengakuinya dapat membawa tindakan syirik.33
Lebih ironis lagi, mereka menklaim kafir orang yang bekerjasama dengan agama lain meskipun untuk mencapai tujuan muإia, yakni membebaskan Afrika
31 Gerakan-gerakan Islam ini sebenarnya memiliki semangat yang sama untuk melawan rezim apartheid. Hanya saja, mereka relatif ekslusif dan enggan bekerjasama dengan elemen di luar agama Islam.
Padahal, kita tahu, komunitas Muslim menjadi minoritas di Afsel sehingga sulit menggalang perlawanan yang masif jika melupakan komunitas lainnya di luar Islam .
32 Zakiyuddin Baidhawy, Hermeneutika Pembebasan al-Qur’an, h. 41.
33 Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas, h.70.
Selatan. Bahkan mereka menampilkan justifikasi teologis dengan menyerukan ayat-ayat al-Qur’an, yang sering mereka serukan adalah:34
ْ نَل َو ىَض رَت ْْ
ْْ
َْك نَع
ُْدوُهَي لا ْْ
لا َو ْْ
َىَ َََصَّنلا ْْ
ى َََّتَح ْْ
َْ ََبَّتَت ْْ
ْ ُهَت َََّل م ْْ
ْ
ْ ََُق
َّْن إ ْ
ْ
َدُه
ْ َّاللّ ْْ
َْوُه ْْ
َدُه لا ْْ
ْ ن ئَل َو ْْ
َْت عَبَّتا ْْ
ْ ُهَها َو ََهَأ ْْ
َْد ََعَب ْْ
ْْ
ي َََّلا
َْ َهَ َََج ْْ
َْن ََم ْْ
ْ
ْ ل ع لا
ََم ْ
ْ
َْكَل
َْن م ْ
ْ َّاللّ ْ
ْ ن م ْ
َْو ْ
ْ ي ل لا َو ْ
ْ ري صَن ْ
ْ
١٢٠ (
)
Artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah: 120)35
ََي
ََهُّيَأ ْْ
ْْ
َْني يَّلا اوُنَمآ ْْ
ْْ
لا اوُي خَّتَت ْْ
َْدوُهَي لا ْْ
َىَ َََصَّنلا َو ْْ
َْهَ َََي ل وَأ ْْ
ْ ُه ََُض عَب ْْ
ْ
ُْهََي ل وَأ
ْ ض عَب ْْ
ْ نَم َو ْْ
ْ ُهَّل َوَتَي ْْ
ْ ُك ن م ْْ
ُْهَّن إَف ْْ
ْ ُه ن م ْْ
َّْن إ ْْ
ََّْاللّ ْْ
ْْ
لا د ََهَي ْْ
َْ و َََق لا ْ
ْ
َْني م لََّظلا
ْ ٥١ ( )
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Maidah : 51)36
Keaktifan Esack berlanjut dengan menyuguhkan peranan di berbagai lembaga dan organisasi, seperti: The Organization of People Against Sexism, The Cape Against Racism, danthe World Conference on religion and Peace. Karena bakatnya yang kuat dalam menulis, gagasan dan pemikiranya ia sosialisasikan dalam berbagai tulisan yang tersebar dalam Koran, jurnal, dan majalah di Afrika
34 Ibid., h. 282.
35 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Cahaya Qur’an, 2011), h. 19.
36 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 107.
Selatan. Esack menjadi salah satu figure tokoh yang bergerak memperjuangkan bangsanya. Bahkan pada awal tahun 2007 ia ditunjuk sebagai Ketua Komisi Kesetaraan Jender oleh pemimpin Afrika Selatan yang ketika itu baru terpilih, Presiden Nelson Mandela.37Dari berbagai kesibukan dan aktifitasnya, bisa dikatakan bahwa dalam diri Esack muncul sebuah harmoni gabungan antara intelektualisme dan aktivisme.
B. Karya-karya Farid Esack
Untuk membaca lebih dalam pemikiran seorang tokoh dapat dilakukan dengan mengakses karyanya. Karena hasil karya merupakan pancaran kreatifitas dan cerminan pemikiran seseorang. Untuk itu dengan mengakses karya-karya Farid Esack, diharapkan dapat mengkaji lebih jauh wajah-wajah pemikiranya. Sebagai seorang intelektual dan seorang aktivis, Esack cukup produktif dalam menulis, baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel ilmiah.
1. Qur’an, Liberation and Pluralism; An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity againts Oppression
Buku ini hasil penyempurnaan dari disertasinya di University of Birmingham Inggris, yang kemudian diterbitkan oleh Oxford Oneworld Publications pada tahun 1997.38 Buku ini berisi gagasan Esack tentang perlunya membangun kesadaran aliansi antarumat beragama (interreligious). Yaitu sebuah kekuatan baru untuk menciptakan keadilan
37Farid Esack, Membebaskan yang Tertindas, h. 15.
38Buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dalam edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Watung Budiman dengan judul “Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme; Membebaskan yang Tertindas”