secara signifikan. Appraisal cost merupakan biaya kualitas yang paling tingi persentasenya. Mencari penyebab permasalahan serta solusi tingginya biaya gaji operator sortir diharapkan penurunan yang terjadi akan berdampak besar terhadap biaya kualitas ATJ.
c. Internal Failure Cost ATJ
Dalam internal failure cost atau biaya kegagalan internal, karena hanya ada satu jenis biaya kegagalan internal maka biaya tersebut memiliki persentase 100% terhadap total biaya kegagalan internal. Biaya kegagalan internal tidak memiliki persentase terhadap total biaya kualitas yang ada pada work center ATJ (persentase di bawah 1%). Perbaikan pada biaya kegagalan internal ini tidak akan berdampak secara signifikan terhadap penurunan biaya kualitas work center ATJ.
Jadi proses analisa lebih lanjut untuk biaya kegagalan internal akan dilakukan jika waktu masih mencukupi untuk dilakukannya analisa lebih lanjut terhadap biaya kegagalan internal.
d. External Failure Cost ATJ
Dalam external failure cost atau biaya kegagalan eksternal, karena hanya ada satu jenis biaya kegagalan eksternal maka biaya tersebut memiliki persentase 100% terhadap total biaya kegagalan eksternal. Akan tetapi karena biaya kegagalan eksternal tidak memiliki persentase terhadap total biaya kualitas yang ada pada work center ATJ (persentase biaya kegagalan internal pada work center ATJ sebesar 0%), maka perbaikan pada biaya kegagalan eksternal ini tidak akan berdampak secara signifikan terhadap penurunan biaya kualitas work center ATJ.
Jadi proses analisa lebih lanjut untuk biaya kegagalan eksternal akan dilakukan jika waktu masih mencukupi untuk dilakukannya analisa lebih lanjut terhadap biaya kegagalan eksternal.
Berikut merupakan tabel penyebab tingginya beberapa biaya kualitas pada ATJ.
Tabel 6.23. Penyebab Tingginya Biaya Kualitas ATJ Elemen Biaya
Kualitas Jenis Biaya
Kualitas Penyebab Tingginya Biaya Kualitas
Prevention
Cost Es Batu Harga es mahal (membeli dari pabrik lain)
Bagian ATJ banyak Gaji
Operator
Sortir Barang langsung dari supplier Bagian ATJ banyak
ATJ terdiri atas 2 lantai Gaji
Operator
Timbang Timbang merupakan salah satu proses penting
Bagian ATJ banyak Appraisal Cost
Gaji Operator
Cuci Bahan ATJ terdiri atas 2 lantai
Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa biaya es yang tinggi hanya karena material yang terlalu mahal karena membeli dari pabrik lain. Penyebab lainnya yang biasanya terdapat pada work center lain tidak terdapat pada ATJ karena metode dan operator es yang ada pada ATJ sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari realisasi pemakaian es perusahaan untuk work center ATJ yang sudah di bawah standar penggunaan es yang ditetapkan oleh PPIC perusahaan.
Penyebab tingginya biaya gaji operator sortir pada ATJ adalah banyaknya jumlah operator sortir karena ATJ terdiri atas banyak bagian, seperti PL, PD, PK, dan lainnya. Hal ini dikarenakan setiap bagian tersebut memiliki operator sortir sendiri-sendiri. Selain itu, barang yang langsung dari supplier lalu langsung diproses untuk produk ATJ juga menyebabkan tingginya biaya gaji operator sortir pada ATJ. Hal ini dikarenakan barang yang langsung dari supplier biasanya masih dalam bentuk campuran ukuran bahan sehingga perlu untuk dipisahkan terlebih dahulu.
Biaya gaji operator timbang yang tinggi disebabkan karena ATJ terdiri atas banyak bagian dan juga terdiri atas 2 lantai yang terpisah atas dan bawah. Hal ini menyebabkan setiap bagian dan setiap lantai memiliki operator timbang sendiri-sendiri. Selain itu, timbang juga merupakan salah satu proses yang penting pada ATJ karena setiap produk ATJ harus ditimbang sebelum di-packing.
Penyebab tingginya biaya gaji operator cuci bahan adalah banyaknya
operator cuci bahan sehingga jumlah operator cuci bahan yang diperlukan oleh ATJ sangat banyak.
6.8.2. Usulan ATJ
Berdasarkan perhitungan dan analisa biaya kualitas yang telah dilakukan maka didapati bahwa biaya kualitas yang besar di work center ATJ adalah biaya es, gaji operator sortir, cuci bahan, dan timbang. Oleh karena itu, usulan yang diberikan bertujuan agar biaya-biaya tersebut dapat diminimalkan. Penjelasan mengenai usulan-usulan yang dibuat dapat dilihat pada sub bab berikut.
6.8.2.1. Formasi Tenaga Kerja ATJ
Berikut beberapa usulan mengenai formasi tenaga kerja ATJ.
a. Operator Cuci Bahan Hasil PK
Menurut pengukuran waktu yang dilakukan operator cuci bahan hasil PK untuk bagian ATJ yang diperlukan hanya 3 orang. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Standar kecepatan PPIC
= 4
Kebutuhan tenaga kerja = 4 58
Operator cuci bahan hasil PK yang ada di bagian ATJ berjumlah 4 orang.
b. Operator Cuci Bahan PDTO
Menurut pengukuran waktu yang dilakukan operator cuci bahan PDTO untuk bagian ATJ yang diperlukan hanya 1 orang. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Standar kecepatan PPIC =
2
Ob =
Kebutuhan tenaga kerja = 2 66 ,
10540 × orang = 0,76 ≈ 1 orang Kondisi sekarang
Operator cuci bahan PDTO yang ada di bagian ATJ berjumlah 2 orang.
c. Operator timbang bag PDTO
Menurut pengukuran waktu yang dilakukan operator timbang bag untuk bagian ATJ yang diperlukan hanya 2 orang. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Standar kecepatan PPIC = 20 kg per jam per orang
Wb = 13,97 detik per bag @ 0,189 kg = 73,90 kg per jam per orang
Kebutuhan tenaga kerja = 4 78 ,
4820 × orang = 1,6 ≈ 2 orang
Terlihat bahwa kecepatan hasil ukur dan standar kecepatan dari PPIC sangat jauh berbeda. Hal ini dikarenakan dalam perhitungan waktu baku tidak dimasukkan keadaan idle dari operator timbang bag. Padahal dalam kenyataan sekarang sangat besar kemungkinan operator timbang bag mengalami idle. Kondisi idle operator timbang bag dikarenakan produk yang akan di timbang tidak ada sehingga harus menunggu hingga produk tersebut datang. Formasi tenaga kerja yang baru ini diusulkan untuk mengurangi waktu idle yang terjadi pada operator timbang final sehinga ia akan bekerja secara terus menerus.
Kondisi sekarang
Operator timbang bag PDTO yang ada di bagian ATJ berjumlah 4 orang.
d. Operator sortir PL
Menurut pengukuran waktu yang dilakukan operator sortir PL untuk bagian ATJ yang diperlukan hanya 13 orang. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Standar kecepatan PPIC = 1.500 kg per jam untuk 22 orang = 68,18 kg per jam per orang
Wb = 44,26 detik per bag @ 1,5 kg = 29,5 detik per kg
Kebutuhan tenaga kerja = 22 03
Operator sortir PL yang ada di bagian ATJ berjumlah 22 orang.
e. Operator sortir PK
Menurut pengukuran waktu yang dilakukan operator sortir PK untuk bagian ATJ yang diperlukan hanya 11 orang. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Standar kecepatan PPIC = 73,05 kg per jam per orang Wb = 42,97 detik per kg
Kebutuhan tenaga kerja = 12 78
Operator sortir PK yang ada di bagian ATJ berjumlah 12 orang.
f. Operator Cuci Tangan
Kegiatan sanitasi cuci tangan keliling dan sanitasi ruangan dapat digabung dan dibebankan pada 1 orang operator saja karena kedua kegiatan ini tidak berlangsung dalam waktu bersamaan. Hal ini berdasarkan data hasil sampling yang dilakukan selama 1 hari penuh pada tanggal 25 Mei 2005.
Tabel 6.24. Work Sampling Operator Sanitasi dan Cuci Tangan di ATJ ATJ
No. Pukul Sanitasi Lingkungan Cuci Tangan
1 8.12
Tabel 6.24. Work Sampling Operator Sanitasi dan Cuci Tangan di ATJ (sambungan)
ATJ
No. Pukul Sanitasi Lingkungan Cuci Tangan
7 9.42 X
8 9.57
9 10.12 X
10 10.27 X
11 10.42
12 10.57 X X
13 11.12
14 11.27 X
15 13.12 X
16 13.27 X
17 13.42
18 13.57 X
19 14.12 X
20 14.27
21 14.42 X
22 14.57 X
Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa operator sanitasi lingkungan dan operator cuci tangan melakukan pekerjaannya secara bersamaan hanya 1 kali saja dari 22 kali pengamatan (sekitar 4,55%).
Kondisi sekarang
Adanya seorang operator sanitasi khusus untuk cuci tangan yang berkeliling membawa tempat cuci tangan pada waktu-waktu tertentu saja. Ada juga operator sanitasi khusus untuk sanitasi lingkungan pada masing-masing ruangan ATJ yang ada (lantai 1 dan lantai 2). Operator sanitasi lingkungan ini juga bertugas untuk membersihkan ruangan dan kotoran yang berjatuhan di lantai produksi. Tugas ini juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja tergantung kondisi ruangan yang terjadi selama proses berlangsung.
g. Operator es
Operator es bertanggung jawab untuk men-supply es untuk seluruh konveyor yang ada pada bagian PDTO ATJ sehingga yang dibutuhkan hanya 1 orang operator saja. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa supply es tidak dilakukan secara kontinu melainkan sewaktu-waktu karena tidak selalu operator PDTO butuh es selama jam kerja secara terus menerus. Lagipula letak konveyor
PDTO ATJ bersebelahan dengan jarak yang cukup dekat. Hal ini didukung dengan hasil work sampling yang dilakukan selama sehari (9 Mei 2005) terhadap operator es. Berdasarkan work sampling ini, didapati bahwa kedua operator es tidak melakukan pekerjaan secara bersamaaan sehingga tugas kedua operator ini dapat dilakukan oleh seorang operator saja.
Tabel 6.25. Work Sampling Operator Es ATJ ATJ
No. Pukul Es 1 Es 2
1 8.12 X
2 8.27
3 8.42 X
4 8.57 X
5 9.12 X X
6 9.27
7 9.42 X
8 9.57
9 10.12
10 10.27 X X
11 10.42
12 10.57
13 11.12 X
14 11.27
15 13.12 X
16 13.27
17 13.42
18 13.57 X
19 14.12 X
20 14.27
21 14.42 X X
22 14.57
Pada tabel 6.25. dapat diketahui bahwa kedua operator es melakukan pekerjaannya secara bersamaan hanya 3 kali saja dari 22 kali pengamatan (sekitar 13,64%).
Kondisi sekarang
Operator es yang ada di bagian ATJ berjumlah 2 orang. Operator es ini bertugas untuk men-supply es pada tiap konveyor yang ada pada bagian PDTO, untuk 1 konveyor terdapat 1 orang operator es.
Perubahan formasi tenaga kerja untuk ATJ dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 6.26. Perbandingan Formasi Tenaga Kerja ATJ
Tenaga Kerja Sekarang Usulan Perubahan
Operator cuci bahan hasil PK 4 orang 3 orang 1 orang
Operator cuci bahan PDTO 2 orang 1 orang 1 orang
Operator timbang bag PDTO 4 orang 2 orang 2 orang
Operator sortir PL 22 orang 13 orang 9 orang
Operator sortir PK 12 orang 11 orang 1 orang
Operator cuci tangan 1 orang Digabung dengan operator
sanitasi lingkungan 1 orang
Operator es 2 orang 1 orang 1 orang
Total 47 orang 31 orang 16 orang
Dampak dari perubahan formasi tenaga kerja
• Biaya gaji operator akan mengalami penurunan
Operator = 16 orang x Rp. 60.678,87 = Rp. 970.861,84
• Perlengkapan kerja operator akan berkurang sebesar Rp. 28.396,67 (untuk perhitungan yang rinci dapat dilihat pada lampiran 41).
6.8.2.2. Es Membuat Sendiri
Es 100% membuat sendiri karena biaya yang dikeluarkan untuk membuat es lebih rendah jika membeli es dari pabrik lain.
Penurunan biaya es yang terjadi
= 84.125,17 kg x Rp. (12,50-10,00) per kg = Rp. 210.312,93 Kondisi sekarang
Es 40% membuat sendiri sedangkan 60% sisanya membeli dari pabrik lain. Es dipakai untuk proses PK, KP, dan bagian PDTO. Selain itu, es juga dipakai untuk menjaga suhu bahan dalam box Thailand ketika akan dipindahkan dari satu bagian ke bagian yang lainnya untuk diproses. Ketika transportasi bahan/bahan membutuhkan es karena work center ATJ memiliki 2 lantai sehingga jarak yang harus ditempuh cukup jauh.
Total penurunan biaya kualitas di ATJ:
Penurunan biaya es Rp. 210.312,93 Penurunan biaya gaji operator + karu Rp. 970.861,84 Penurunan perlengkapan kerja Rp. 28.396,67 +
Rp. 1.209.571,43
Jadi total penurunan biaya kualitas yang diusulkan adalah sebesar 18,80% dari total biaya kualitas yang ada pada ATJ sekarang.
6.9. SE
Pengamatan, pengambilan data, pengolahan data, dan pembuatan usulan pada bagian SE dilakukan selama 7 hari yaitu 9-16 Mei 2005.
6.9.1. Analisa Biaya Kualitas SE
Berikut merupakan pie chart biaya kualitas SE (data dapat dilihat pada tabel 5.2. sampai tabel 5.5).
BIKUAL SE
Appraisal Cost 58,23%
Internal Failure
Cost 0,10%
External Failure
Cost 0%
Prevention Cost 41,66%
Gambar 6.23. Pie Chart Biaya Kualitas SE
Dapat dilihat pada diagram lingkaran di atas untuk work center SE, biaya kualitas yang terbesar ada pada appraisal cost (memiliki persentase sebesar 58,23% dari total biaya kualitas yang ada pada work center SE). Urutan selanjutnya berada pada prevention cost, yang memiliki persentase sebesar 41,66% dari total biaya kualitas yang ada pada work center SE. Untuk internal dan external failure cost tidak berdampak banyak terhadap tingginya biaya kualitas pada work center SE. Hal ini berarti biaya kegagalan, baik kegagalan
internal maupun kegagalan eksternal, yang terjadi pada work center SE sangat rendah bila dibandingkan dengan biaya yang lain.
Berikut merupakan pembahasan lebih rinci terhadap setiap jenis biaya yang terjadi pada work center SE.
a. Prevention Cost SE
Berikut merupakan pie chart prevention cost SE (data dapat dilihat pada tabel 5.2).
PREVENTION COST SE
Klorin 0,04%
Maintenance mesin 0,33%
Kalibrasi 13,57%
Gaji operator QC
5,92% Label plastik
0,00%
Es batu 43,63%
Perlengkapan kerja 10,12%
Gaji Supervisor 5,12%
Gaji Karu 15,35%
Gaji ADM Kitir 5,92%
Gambar 6.24. Pie Chart Prevention Cost SE
Pada diagram lingkaran di atas dapat dilihat berbagai jenis biaya pencegahan (prevention cost) yang terjadi pada work center SE. Di antara semua jenis biaya pencegahan yang memiliki persentase terbesar adalah biaya untuk es batu (sebesar 43,63%). Persentase yang dimiliki oleh jenis biaya pencegahan yang lain sangat jauh di bawah persentase biaya es batu (paling tinggi 15,35%, yaitu biaya gaji karu yang ada di SE). Jadi yang perlu dianalisa lebih lanjut untuk biaya pencegahan agar mendapatkan hasil yang signifikan jika diperbaiki adalah biaya pemakaian es batu pada work center SE. Dalam arti penurunan biaya kualitas yang akan terjadi setelah usulan perbaikan akan berdampak pada penurunan biaya kualitas work center SE. Jika penurunan biaya kualitas yang terjadi masih dirasakan kurang signifikan maka biaya gaji karu yang selanjutnya akan dianalisa secara lebih lanjut.
b. Appraisal Cost SE
Berikut merupakan pie chart appraisal cost SE (data dapat dilihat pada tabel 5.3).
Gambar 6.25. Pie Chart Appraisal Cost SE
Untuk appraisal cost, yang perlu dianalisa secara lebih lanjut terlebih dahulu adalah biaya gaji operator timbang yang memiliki persentase 74,05%.
Urutan selanjutnya adalah biaya gaji operator kontrol (yang memiliki persentase sebesar 6,35%), biaya gaji operator sanitasi, cuci hasil, es, dan keluaran (yang memiliki persentase sebesar 4%). Lalu ada biaya gaji operator blanched tusuk yang memiliki persentase sebesar 2,12%. Untuk biaya biaya internal audit, dan biaya depresiasi mesin memiliki persentase di bawah 1% dari total appraisal cost yang ada di work center SE. Dapat dilihat bahwa selisih persentase biaya antara urutan pertama dan kedua sangat berbeda jauh. Hal ini dapat terjadi karena jumlah atau besar biaya gaji operator kontrol jauh melebihi besar biaya-biaya appraisal yang lainnya. Langkah menganalisa dan mencari penyebab permasalahan serta mencari solusi tingginya biaya gaji operator kontrol dilakukan dengan harapan akan dapat mengurangi appraisal cost secara signifikan.
c. Internal Failure Cost SE
Dalam internal failure cost atau biaya kegagalan internal, karena hanya ada satu jenis biaya kegagalan internal maka biaya tersebut memiliki persentase 100% terhadap total biaya kegagalan internal. Akan tetapi karena biaya kegagalan