Karya-karya hadis yang beragam dalam karakteristiknya di Indonesia diapresiasi yang berbeda di beberapa kalangan masyarakat tersebut yang terdiri dari santri, priyayi dan abangan. Apresiasi di sini berupa positif dan negatif. Ada beberapa karya hadis yang diapresiasi positif oleh masyarakat berupa syarh dan terjemah. Begitu juga dengan apresiasi negatif yang berupa kritik.
Perbedaan dari kalangan tersebut bisa kita lihat saat pemilihan dalam menggunakan karya hadis di setiap lembaga.
Dalam hal ini, kalangan santri merespons karya-karya hadis dimana karya tersebut digunakan oleh masyarakat akademik atau pelajar baik di madrasah maupun pesantren. Kategori priyayi menempatkan karya hadis yang lebih diminati oleh kalangan pejabat. Sedangkan kalangan abangan menempatkan masyarakat awam dalam merespons karya-karya hadis.
Seperti dituturkan sebelumnya, minat yang lebih besar terhadap hadis dapat dikatakan sebagai dampak dari modernisme. Mahmud Yunus mencatat bahwa pada tahun 1900-1908 kitab hadis sudah diajarkan di berbagai surau yang menjadi cikal bakal lahirnya madrasah di Sumatera.265
Salah satu tradisi agung (great tradition) di Indonesia adalah tradisi pengajaran agama Islam seperti yang muncul di pesantren Jawa dan lembaga-lembaga serupa di luar Jawa serta Semenanjung Malaya. Pesantren266 sebagai basis keilmuan
265 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta:
Mutiara Sumber Widya, 1985), h. 60.
266 Pesantren adalah sebutan khas untuk lembaga pengajaran ilmu agama Islam di Jawa. Asrama tempat para murid (santri) ini biasanya
Kar Karakteristik Karya Hadis di Indonesia Abad XVII Hingga Awal Abad XXI
Islam, lewat tangan kiainya dalam sejarahnya memang telah melahirkan berbagai karya intelektual. Alasan munculnya pesantren ini adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad yang lalu. Kitab-kitab ini dikenal di Indonesia sebagai kitab kuning. Kebanyakan kiai hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi tidak sedikit juga yang telah menambah khazanah Islam tradisional dengan mengarang kitab sendiri. Ada perbedaan besar antara karya ulama modernis dan reformis dengan karya ulama tradisional. Ulama modernis menulis karyanya dalam bahasa Indonesia dengan huruf latin (kalangan reformis membaca karya-karya ulama Arab biasanya melalui terjemahan bahasa Indonesia).
Sementara ulama tradisional menulisnya dengan bahasa Arab, karena dianggap menambah nilai kehormatan. Kalaupun karya mereka ditulis dalam bahasa setempat, namun tetap memakai huruf Arab.267
Berpijak dari sini bisa dinyatakan bahwa karya-karya hadis yang di gunakan di pesantren cenderung ditulis dalam bahasa Arab maupun huruf Arab. Lebih lagi karya hadis yang dilahirkan dari para pemegang otoritas di pesantren (kiai), seperti kitab Risâlah Ahl-as-Sunnah wa al-Jamâʻah karya KH.
Hasyim Asy‟ari, Jombang yang masih digunakan diberbagai pesantren hingga kini. Lembaga pendidikan pesantren yang
disebut “pondok”. Muncullah kemudian istilah Pondok Pesantren. Istilah ini di Sumatra baru dikenal sejak Indonesia merdeka dan lahirnya Negara Kesatuan Indonesia. Sebelumnya dikenal dengan nama surau atau langgar.
Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Yogyakarta:
Gading Publishing, 2015), h. 85.
267 Penulisan dalam bahasa Arab inilah yang menjadi ciri penting yang membedakan antara ulama modernis dan tradisional. Lebih lengkapnya lihat Bruinessen, Kitab Kuning, h. 88.
didirikannya menjadi pusat kajian hadis dan banyak diminati oleh para kiai dari berbagai daerah. Karena karya hadis yang ditulis dengan bahasa Arab dianggap menambah nilai kemuliaan. Buku-buku berbahasa Indonesia betapapun kualitasnya baik, tetapi dianggap masih di bawah kitab kuning derajatnya oleh kalangan pesantren.
Namun, ada juga beberapa ulama yang memiliki lembaga pesantren menuangkan intelektualnya ke dalam bentuk karya yang berbahasa Indonesia. Seperti Ali Mustafa Yaqub yang menulis Hadis-hadis Bermasalah, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan dan karya lainnya yang telah disebutkan di atas. Karya-karya beliau ini tetap tidak juga menjadi bahan ajar di lembaga yang didirikannya, hanya saja diminati oleh para santri yang belajar kepadanya dan masyarakat pada umumnya.268 Pemilihan terhadap karya beliau dijadikan sebagai konsumsi intelektual dalam memahami dan mendalami hadis dan ilmunya, selain peran dan kontribusinya yang sangat berpengaruh dalam bidang hadis di Indonesia pada abad XXI ini, beliau merupakan ulama yang kharismatik dan dikenal dengan ulama hadis Indonesia.
Selanjutnya, tidak hanya permasalahan dalam pemilihan karakteristik dari suatu karya tersebut, literatur yang digunakan juga tampak lebih dititikberatkan pada aspek ajaran Islam yang terkait dengan fiqh dan akhlak. Hal ini barangkali terkait dengan tujuan dari pengajaran hadis di pesantren itu sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pengamalan keagamaan.
268 Berdasarkan spesifikasi keilmuan, Ali Mustafa Yaqub adalah seorang pakar hadis, tetapi karya yang telah beliau hasilkan tidak hanya terbatas pada kajian hadis saja, tetapi pada kajian keilmuan lainnya juga seperti aqidah, fikih, dakwah dan tafsir.
Kar Karakteristik Karya Hadis di Indonesia Abad XVII Hingga Awal Abad XXI
Berbeda dengan kajian hadis di pesantren, kajian di Perguruan Tinggi menunjukkan kemajuan yang cukup besar.
Kajian terhadap hadis mendapatkan perhatian yang lebih intens lagi ketika hadis menjadi bagian dari mata kuliah yang diajarkan di Perguruan Tinggi Islam.
Karya-karya yang ditulis oleh penulis Indonesia semakin bertambah banyak. Di bidang materi hadis, literatur yang digunakan telah mencakup literatur-literatur primer. Kitab-kitab syarh dari Kitab-kitab-Kitab-kitab primer telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Begitu pula juga jumlah literatur antologi hadis yang disusun oleh penulis Indonesia cukup banyak. Hal ini seakan memberi ruang terhadap kajian hadis untuk lebih dikaji. Lebih jauh, literatur hadis yang ditulis oleh penulis Indonesia juga telah memungkinkan pembacanya untuk melakukan penelitian hadis berdasarkan teori yang dikemukakannya. Karya M. Syuhudi Ismail, misalnya yang berjudul Metodologi Penelitian Hadis Nabi, merupakan contoh literatur hadis tingkat lanjutan dan memiliki kualifikasi ilmiah yang sejajar dengan para penulis literatur hadis yang berasal dari Arab dan negeri lain.
Literatur yang dijadikan buku pegangan lebih menyoroti persoalan terkait dengan bagaimana memahami hadis Nabi Saw dalam konteks Indonesia masa kini. Dari sini, memunculkan beragamnya orientasi penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa baik menyangkut materi hadis maupun ilmu hadis sebagai pisau analisis terkait topik-topik tertentu dan terhadap hadis-hadis yang terhimpun dalam kitab-kitab tertentu. Topik-topik yang dipilih adalah wacana kontemporer
seperti isu kesetaraan jender, kepemimpinan wanita, pendidikan kritis, dan pluralisme politik.
Kemudian, dari kalangan priyayi dan abangan lebih menempatkan karya-karya hadis tersebut sebagai bagian dari lembaga pengajian. Karya-karya yang dipilih lebih cenderung kepada karya yang bersifat pedoman atau hadis sumber hukum. Tidak hanya itu, pemilihan pada karya yang bersifat antologi dan terjemahan juga lebih diminati pada kalangan ini.
Hal ini dikarenakan jenis karya hadis ini lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat kenyataan ini, nampak bahwa pergeseran peran mulai beralih. Jika pada masa lalu pesantren memberikan peran besar dalam kajian dan perkembangan hadis, sekarang dunia akademik nampaknya lebih berperan dalam pengkajian dan pengembangan pembelajaran hadis, bukan berarti pesantren tidak lagi berperan. Berbagai kajian hadis di dunia akademik semakin berkembang, dari karya yang dijadikan referensi berupa terjemahan atau saduran hingga muncul karya hadis dari intelektual Indonesia.
Dengan demikian, respons dan apresiasi terhadap masing-masing karakteristik karya hadis telah menempati ruang tersendiri bagi kalangan masyarakat di Indonesia.
Kar Karakteristik Karya Hadis di Indonesia Abad XVII Hingga Awal Abad XXI
BAB V