A. Metodologi dan Corak Karya Hadis
3. Masa Pengembangan Kajian Hadis:
Sebagaimana pembahasan pada bab lalu, kajian hadis pada masa ini berjalan cukup dinamis. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat karya-karya hadis yang muncul yang ditulis oleh para penulis Indonesia. Sebagaimana penulis menemukan beberapa karya hadis yang terangkum dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.2.
Karya Hadis Abad XX-Sekarang
No Penulis Karya
1. M. Syuhudi Ismaʻil - Pengantar Ilmu Hadis - Kaedah Keshahihan Sanad Hadis
- Metodologi Penelitian Hadis
- Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual - Cara Praktis Mencari Hadis
- Hadis Nabi menurut Pembela, Pengingkar, dan Pemalsunya
2. Ali Mustafa Yaqub - Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis
- Kritik Hadis
- Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam - Hadis-hadis Bermasalah
Kar Karakteristik Karya Hadis di Indonesia Abad XVII Hingga Awal Abad XXI
- Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan - Thuruq fî Fahm al-Hadîts
3. Said Agil Munawwar - Studi Kritis Hadis Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual Asbâb al-Wurûd 4. Luthfi Fathullah - Pribadi Rasulullah Saw:
Telaah Kitab Taudhîh ad-Dalâ‟il fî Tarjamat Hadîts asy-Syamâ‟il
5. Kamaruddin Amin - Rethinking Hadith Critical Methods
6. Daud Rasyid Sitorus - as-Sunnah fî Indunesia:
Baina Ansariha wa Khusumiha 7. Nizar Ali - Memahami Hadis Nabi:
Metode dan Pendekatannya - Hermeneutika dalam Tradisi Keilmuan Hadis: Studi tentang Tipologi Pemahaman Hadis
8. Suryadi - Rekonstruksi Metodologi Pemahaman Hadis
9. Daniel Djuned - Paradigma Baru Hadis dan Rekonstruksi Fiqh al-Hadis
10. Achmad Usman - Hadis Ahkam 11. Muhibbin - Hadis-hadis Politik
12. Abu Bakar - Hadis Tarbawi
Muhammad
13. Muhammad Zuhri - Hadis Nabi: Telaah Historis dan Metodologis 14. Danusiri - Sikap Rakyat Terhadap
Penguasa, Refleksi Hadis 15. M. Thalib - Amalan Shahih Menurut
Hadis Shahih
16. M. Abdurrahman - Pergeseran Pemikiran Hadis: Ijtihad al-Hâkim dalam Menentukan Status Hadis 17. M. Fatih
Suryadirlaga
- Membina Keluarga Mawaddah wa Rahmah dalam Bingkai Sunnah Nabi - Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis: ke Arah Pemahaman Hadis yang Ideal dan Komprehensif 18. Ahmad Mudjab
Mahalli
- Dialog-Dialog Rasulullah 19. Badri Khaeruman - Otentitas Hadis: Studi
Kritis atas Kajian Hadis Kontemprer
20. Hasyim Abbas - Kritik Matan Hadis:
Versi Muhadditsîn dan fuqahâ‟
Jika dilihat dari judul-judul yang tertera pada tabel di atas, pada periode ini kajian hadis di Indonesia semakin berkembang secara pesat. Tidak hanya kajian mengenai kitab hadis saja (baik yang berbahasa Arab, maupun yang berbahasa Melayu atau
Kar Karakteristik Karya Hadis di Indonesia Abad XVII Hingga Awal Abad XXI
Indonesia), kajian ilmu-ilmu hadis hingga kritik sanad dan matan pun sudah mulai bermunculan.
Dari segi buku-buku hadisnya, beberapa hal yang dikaji mengenai hadis di antaranya adalah arti dan pengertian sunnah, sejarah hadis, ilmu kritik hadis dan metodologi dalam memahami suatu hadis, di mana dalam memahami hadis tersebut adalah dengan melihat sisi kontekstual dari hadis itu. Salah satu corak hadis yang terdapat dalam karya tersebut adalah corak hadis fiqhi (ahkam), walaupun ini bisa juga dikategorikan dalam kajian hadis dengan model maudhu‟i (tematik) yang juga mengarah kepada pemahaman kritik hadis kontekstual-positivism. Sama halnya juga yang telah disimpulkan oleh Abdul Aziz Muslih dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa pada rentang waktu 1995-2005 lebih bercorak fiqhi dan tematik.258
Artinya, karya-karya hadis pada periode ini, sebagian besar merupakan kajian hadis yang mengangkat tema-tema tertentu dalam penulisannya. Misalnya, hadis ahkam, hadis tarbawi, hadis-hadis politik dan tema-tema lainnya. Dari sisi teknik penulisan, rata-rata karya hadis tematis di atas adalah mengawalinya dengan memaparkan hadis yang berbahasa Arab terdahulu, baru kemudian dituliskan terjemahannya, untuk selanjutnya diberi syarh serta pemahaman terhadap hadis tersebut.
Begitu juga, pada periode ini munculnya tawaran metode interpretasi seperti hermeneutika dan kontekstualisasi ayat atau hadis yang menjadi karakteristik tersendiri pada periode ini. Selain itu, juga ada ʻilm maʻânî al-hadîts, yaitu suatu disiplin ilmu yang berusaha memahami matan hadis secara tepat dengan memperhitungkan faktor-faktor yang berkaitan dengannya.
258 Abdul Aziz Muslih, Sketsa Genealogi Kajian Hadis di Indonesia, (Kebumen: Sanjemedia, 2016), h.
Seperti ada beberapa pengkaji hadis yang sudah mulai memahami hadis dengan beberapa metode dan pendekatan seperti Said Agil Munawar yang memahami hadis dengan pendekatan sosio-historis-kontekstual,259 dan Buchari M memahami hadis dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan banyak lagi yang lainnya pengkaji hadis di Indonesia yang menerapkan beberapa metode dan pendekatan dalam memahami hadis.260
Begitu juga dengan Syuhudi Ismail, salah satu pemikirannya yaitu tentang metode pemahaman terhadap matan hadis dalam bukunya yang berjudul Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual:
Telaah Maʻani al-Hadis Tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal. Menurut beliau bahwa ada matan hadis yang harus dipahami secara tekstual, kontekstual dan ada pula yang harus dipahami secara tekstual dan kontekstual sekaligus. Ini menunjukkan bahwa kandungan hadis Nabi itu ada yang bersifat universal, temporal dan lokal.261
Berbeda dengan Ali Mustafa Yaqub, beliau lebih mengedepankan kritik sanad untuk mengetahui apakah suatu hadis bisa diterima dan sebaliknya ditolak setelah itu baru menelaah kritik matannya. Hal ini terlihat dari karya-karyanya
259 Lihat Said Agil Munawar, Studi Kritis Hadis Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).
260 Buchari M, Kaidah Kesahihan Matn al-Hadis dan Metodologi Pemahaman Hadis (Suatu Kajian Hermeneutik), (Jakarta: Nuansa Madani, 1999).
261 Muhammad Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Maʻânî al-Hadîts tantang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal, (Jakarta_Bulan Bintang, 1994).
Kar Karakteristik Karya Hadis di Indonesia Abad XVII Hingga Awal Abad XXI
seperti Kritik Hadis262 dan Imam Bukhâri dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis.263
Melihat karya-karya yang lahir pada masa sekarang, kajian hadis di Indonesia terdapat perkembangan dan pergeseran yang sangat signifikan, tidak hanya dalam bahasan tentang ilmu sanad akan tetapi lebih kepada konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi pemahaman hadis itu sendiri. Menarik bahwa kajian hadis sekarang tidak lagi hanya sebatas memahami teksnya saja, tetapi juga melihat sisi kontekstualnya untuk disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat dan kehidupan zaman sekarang.264 Artinya, karya hadis yang lahir lebih cenderung menggunakan pendekatan adab ijtimâʻi (sosial-kemasyarakatan) yang mengaitkan hadis dengan permaslahan kontekstual.
Dari pemaparan di atas, telaah karya-karya pemikiran hadis di Indonesia dapat tergambar dan terbaca dengan jelas. Walaupun berporos pada pemikiran yang berasal dari Timur Tengah, kecenderungan metodologi serta sensitivitas kajian hadis di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dikarenakan tidak lain karena kondisi wilayah yang berbeda sehingga memerlukan pemahaman secara kontekstual yang sesuai dengan keadaan di wilayah Indonesia.
262 Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004).
263 Yaqub, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004).
264 Muhajirin, Kebangkitan Hadis, h. 105.
B. Apresiasi Masyarakat Terhadap Karya Hadis di