TINJAUAN PUSTAKA
1. Areal lahan hutan pulp
Dari tujuh negara penghasil pulp utama dunia, Rusia merupakan negara yang memiliki areal hutan terluas di dunia, yaitu seluas 770 juta ha (Petrov, 2001) bahkan 851,4 juta ha (FAO, 2001). Negara-negara yang memiliki hutan luas lainnya adalah Brazil dengan luas 543,9 juta ha (FAO, 2001), Kanada 244,6 juta ha (FAO, 2001) bahkan 417,6 juta ha (FPAC 2002; NRCan, 2002), dan Indonesia 104,9 juta ha (FAO, 2001) hingga 109,9 (Departemen Kehutanan, 2004a). Luas hutan tiga negara penghasil pulp lainnya, yaitu Chili, Finlandia, dan Swedia kurang dari 30 juta ha, dengan luas hutan Chili sekitar 15,6 juta ha (Cartwright, 2002), Finlandia dengan 20,2 sampai 23 juta ha (METLA, 2003; Hannien, 2004) dan Swedia dengan 22,7 juta ha (SI, 2001). Dengan memperhatikan luas areal hutan, dari tujuh negara penghasil utama pulp dunia, empat negara memiliki areal hutan yang relatif luas di atas 100 juta ha, yaitu Rusia, Brazil, Kanada, dan Indonesia (Tabel 2). Keempat negara tersebut memiliki potensi untuk menghasilkan kayu dalam jumlah yang banyak bagi keperluan industri, termasuk industri pulp.
Tabel 2. Luas areal hutan negara-negara penghasil pulp utama dunia (dalam juta ha)
Areal hutan*)
No. Negara Areal lahan
Total Alam Tanaman
1 Rusia 1,688.9 770.0 752.7 17.3 2 Kanada 922.1 417.6 298.6 119.0 3 Brazil 845.7 543.9 538.9 5.0 4 Indonesia 181.2 110.0 52.3 13.7 5 Chili 74.9 15.6 13.4 2.2 6 Finlandia 33.7 20.2 20.2 - 7 Swedia 41.2 22.7 22.7 - Total 7 negara 3,787.5 2,021.5 1,705.3 316.1
Sumber: FPAC (2002); NRCan (2002); Departemen Kehutanan (2004a); METLA (2003); SI (2001); FAO, (2000).
Keterangan: *)
Hutan di berbagai negara dikelompokkan tidak hanya berdasarkan hutan alam dan hutan tanaman, tetapi berdasarkan kegunaannya seperti hutan untuk kegiatan komersial (termasuk kegiatan industri) serta hutan non-komersial dan cadangan (FPAC, 2002; NRCan, 2002). Hutan di Indonesia terbagi atas hutan suaka alam dan perairan, hutan lindung, dan hutan produksi, yang diantaranya berupa hutan produksi yang dapat dikonservasi (Departemen Kehutanan 2004a). Hutan di Finlandia dan Swedia dikelompokkan berdasarkan kepemilikan, yaitu yang dimiliki oleh perorangan (private), perusahaan (forest company), pemerintah (state government) dan oleh kelompok lainnya seperti parlemen, pemerintah daerah dan gereja (METLA 2003; SI, 2001).
Luas areal hutan dapat memberi indikasi jumlah ketersediaan bahan baku kayu. Semakin luas areal hutan suatu negara semakin besar jumlah kayu yang dapat disediakan negara tersebut. Akan tetapi areal hutan belum dapat mencerminkan besarnya angka riil kayu yang tersedia khusus untuk bahan baku pulp. Untuk mengetahui besarnya persediaan kayu untuk pulp, tidak seluruh luas hutan suatu negara dijadikan dasar, tetapi hanya areal hutan yang khusus disediakan untuk kebutuhan bahan baku pulp yang dijadikan sebagai rujukan. Di Indonesia, hutan tersebut dikelompokan sebagai hutan tanaman industri pulp (HTI)-pulp (Departemen Kehutanan, 2004a).
Luas hutan yang khusus disediakan untuk penyediaan pasokan bahan baku pulp untuk setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda. Di Indonesia misalnya, kawasan hutan sebagai penyedia kayu untuk bahan baku pulp adalah HTI-pulp. Hutan tersebut berupa hutan tanaman khusus untuk bahan baku pulp. Begitu juga dengan Chili dan Brazil, yang menyediakan khusus lahan untuk tanaman pulp (Cartwright, 2002; May, 2002). Pada sis lain, Kanada, Finlandia, Swedia, dan Rusia dengan industri pulp banyak yang terintegrasi dengan industri hasil hutan lain - seperti industri sawn timber, industri plywood dan lainnya - kawasan hutan khusus untuk pulp tidak secara eksplisit dinyatakan (NRCan, 2002; METLA, 2003; SI, 2001; Petrov, 2001). Di negara-negara tersebut, hutan untuk pulp sudah termasuk ke dalam hutan untuk kegiatan komersial secara umum.
1.a. Luas areal lahan hutan untuk pulp
Berdasarkan data dari Kementerian Sumberdaya Alam Kanada (Natural Resources Canada - NRCan) dan Asosiasi Hasil Hutan Kanada (The Forest Products Association of Canada – FPAC), dari 417,6 juta ha lahan hutan di Kanada, areal seluas 234 juta ha merupakan hutan yang diperuntukan untuk kegiatan komersial dan jumlahnya relatif tetap sejak tahun 1978 sampai sekarang (NRCan, 1995; NRCan, 2002; FPAC, 2002). Dari jumlah tersebut, hanya 119 juta ha hutan yang diperuntukan untuk kegiatan industri. Hutan untuk kegiatan industri tersebut menyediakan kayu dari 1,03 juta ha lahan yang boleh ditebang setiap tahunnya (annual allowable cut – AAC).
Tidak ada data pasti mengenai berapa luas lahan yang diperuntukan khusus sebagai lahan untuk pasokan industri pulp. Data yang ada hanya diperkirakan dari luas lahan yang diperuntukan bagi kegiatan industri seluas 119 juta ha. Pada umumnya industri pulp di Kanada terintegrasi atau satu holding company dengan industri hasil hutan lainnya. Sebagai contoh Abitbi Consolidated Ltd, selain memiliki dua buah pabrik pulp (pulp mill), juga memiliki 14 buah sawmills dan tujuh buah newsprint mills (NRCan, 2000). Data mengenai luas hutan yang diperuntukan bagi pasokan bahan baku pulp diperkirakan dengan melakukan konversi produksi pulp terhadap produksi total industri hasil hutan. Sebagai cotoh, produksi pulp Kanada pada tahun 2000 jumlahnya mencapai 26,8 juta ton, dengan kayu yang digunakan untuk memproduksi pulp tersebut sebagian besar (sekitar 73%) menggunakan bahan baku dari residu industri kayu, dan hanya 27% saja yang berasal dari kayu hutan secara langsung (FPAC, 2002). Dengan demikian ketergantungan industri pulp terhadap hutan sebagai penghasil bahan baku langsung relatif kecil, karena by product (residu) industri hasil hutan lainnya memberikan pasokan bahan baku yang lebih besar. Produksi dari industri pulp membutuhkan sekitar 20% kayu dari jumlah kayu yang boleh untuk ditebang (AAC) setiap tahunnya.
Brazil merupakan negara kedua yang memiliki areal hutan terluas di dunia setelah Rusia, dengan luas hutan sebesar 544 juta ha (FAO, 2001). Areal hutan yang digunakan untuk kegiatan komersial jumlahnya mencapai setengah dari luas hutan atau 27% dari luas lahan keseluruhan digunakan sebagai hutan komersial (Seling et al., 2000). Dari areal tersebut, Brazil menyediakan sekitar tujuh juta ha sebagai hutan tanaman industri, yang 30%-nya atau sekitar 2,1 juta ha diperuntukan bagi bahan baku untuk industri pulp dan kertas (WRM, 1998).
Chili memiliki lahan hutan seluas 15,6 juta ha (Catwright, 2002). Menurut penelitian IIED - International Institute for Environment and Development (Lendel-Mills dan Ford, 1999) luas lahan hutan alam mencapai 13,4 juta ha dan hutan tanaman seluas 1,8 juta ha. Dari jumlah tersebut, sekitar 8,9 juta ha merupakan lahan untuk kegiatan komersial produktif (termasuk industri pulp) (http://www.forestry.utoronto.ca/for201/For_cons/Chile/chile.htm). Selain itu, sampai tahun 2000 Chili memiliki lahan tanaman untuk kegiatan komersial seluas
2,1 juta ha (Catwright, 2002), yang sebagian diantaranya merupakan tanaman pinus (Pinus radiata) dengan luas sekitar 1,5 juta ha (Flynn, 2003) dan sebagian kecil berupa tanaman eucalyptus. Hutan tanaman memasok sekitar 90% dari kebutuhan industri hasil hutan di Chili. Asosiasi Hasil Kayu Chili (Corporacion Chilena de la Madera - CORMA) memprediksi jumlah luas hutan tanaman akan mencapai dua kali lipat dalam dua tahun (www.corma.cl). Lahan hutan untuk pasokan bahan baku bagi industri pulp di Chili seluruhnya berasal dari hutan tanaman dan tidak sedikitpun menggunakan kayu dari hutan alam. Setengah dari hutan tanaman yang ada (atau sekitar 1,1 juta ha) digunakan untuk memasok industri pulp (Borregaard dan Röttger, 2000).
Finlandia merupakan negara dengan rasio antara areal hutan terhadap areal lahan keseluruhan yang tertinggi diantara negara-negara penghasil pulp utama di dunia, yaitu sebesar 0,72, atau sekitar 72% dari areal lahannya berupa areal hutan (FAO, 2001). Areal hutan Finlandia luasnya sekitar 21,9 juta ha (FAO, 2001), sementara data lembaga penelitian kehutanan Finlandia (Finnish Forest Research Institute) luas hutan mencapai 23 juta ha (Sevola, 2003). Sekitar 20 juta ha hutan dari luas hutan keseluruhan, dicanangkan untuk menyediakan kayu bagi kebutuhan komersial. Sekitar 65% (13 juta ha) dari hutan tersebut dimiliki oleh swasta non-industri (non-industrial private owners), 20% (4,0 juta ha) dimiliki oleh pemerintah, 9% (1,8 juta ha) dimiliki perusahaan dan sisanya (6%) dimiliki kelompok lainnya (Leppanen, 2001). Peran swasta non-industri sangat besar dalam penyediaan bahan baku bagi kebutuhan industri, termasuk industri pulp. Kepemilikan hutan yang sebagian besar dikuasai swasta non-industri serta pemanfaatan hasil kayu dari hutan yang bukan hanya khusus untuk keperluan industri, tetapi juga untuk keperluan energi dan keperluan lainnya, menyebabkan data yang pasti mengenai areal lahan yang khusus diperuntukan bagi penyediaan bahan baku pulp menjadi sulit untuk ditentukan.
Swedia merupakan salah satu negara yang memiliki rasio areal lahan hutan terhadap areal lahan daratan total yang cukup besar, dengan rasio mencapai 66%. Areal hutan Swedia mencapai luas sekitar 27,1 juta ha areal hutan, dan 98% diantarnya berupa hutan alam (SI, 2001). Dari 27,1 juta ha, dengan sekitar 21,3 juta ha diperuntukan untuk kegiatan komersial. Sebanyak 51% (atau sekitar 11,6)
juta ha dari hutan komersial dimiliki oleh swasta individu, 8,9 juta ha dimiliki oleh perusahaan, 1,1 juta oleh pemerintah dan sisanya dimiliki oleh kelompok lainnya seperti gereja dan pemerintah lokal (SI, 2001). Dengan kepemilikan lahan hutan yang sebagian besar dikuasai oleh swasta secara individu dan tidak adanya data lengkap mengenai peruntukan kayu untuk setiap industri hasil hutan, maka sulit ditentukan berapa besarnya luas hutan yang khusus disediakan untuk memasok bahan baku industri pulp.
Rusia merupakan negara yang memiliki areal lahan hutan terbesar di dunia. Luas hutan Rusia tidak kurang dari 770 juta ha, dengan 98% dari areal hutan tersebut berupa hutan alam (Petrov, 2001). Areal hutan yang digunakan untuk pasokan kayu jumlahnya mencapai 252,2 juta ha.
Hutan di Indonesia berdasar UU Kehutanan No. 41/1999, terbagi atas tiga fungsi, yaitu hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi (Pasal 6). Hutan konservasi diantaranya berupa hutan suaka alam, hutan pelestarian alam dan hutan buru. Hutan produksi berupa hutan yang digunakan untuk kegiatan komersial. Sampai tahun 2003 di Indonesia terdapat sekitar 109,96 juta ha hutan, dengan 52,3 juta ha merupakan hutan suaka alam dan hutan lindung dan 57,6 juta ha berupa hutan produksi (Departemen Kehutanan, 2004a). Hutan produksi terdiri dari hutan produksi terbatas seluas 16,2 juta ha, hutan produksi tetap 27,7 juta ha, dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 13,7 juta ha. Dari areal seluas 13,7 juta ha hutan produksi yang dapat dikonversi atau yang berada dalam kegiatan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI), sebanyak 4,9 juta ha merupakan hutan tanaman yang diperuntukan bagi hutan tanaman industri (HTI) pulp sebagai penyedia bahan baku untuk industri pulp (BIRO, 2001). Sampai tahun 2003, luas hutan untuk industri pulp yang telah direalisasikan penanamannya mencapai 1,42 juta ha yang dikelola oleh 21 perusahaan (Dephut, 2004a).
1.b. Perubahan areal lahan hutan untuk pulp.
Areal lahan hutan secara umum di Kanada selama kurun waktu 1993 sampai tahun 2001 tidak mengalami perubahan (NRCan, 1995; NRCan, 2002), sehingga tidak ada penambahan atau pengurangan dari areal hutan yang telah ada.
Meskipun demikian berdasarkan data yang dikeluarkan oleh NRCan (2000) rata- rata terjadi penanaman pohon di hutan dengan areal seluas 470.000 ha setiap tahunnya. Selain penanaman kembali, Kanada juga menerapkan kebijakan regenerasi alami dalam pemulihan kembali hutan yang disebabkan oleh perambahan dan penebangan atau yang rusak karena terbakar, terserang hama dan terkena penyakit (NRCan, 2001).
Menurut data FAO selama kurun waktu 1990 sampai tahun 2000 Brazil telah kehilangan areal sebanyak 2,3 juta ha/ tahun (FAO, 2001). Meskipun demikian, Brazil juga merupakan salah satu negara yang giat untuk menanam kembali areal hutannya. Rata-rata sekitar 0,14 juta ha areal yang di tanam setiap tahunnya (FAO, 2001). Hal yang sama terjadi di Chili, rata-rata penambahan areal lahan hutan di Chili selama kurun waktu 1990 sampai tahun 2000 mencapai 53 ribu ha setiap tahunnya (Flynn, 2003), sementara menurut CORMA pertumbuhan areal hutan tanaman jumlahnya mencapai 76 ribu ha pertahun (http://www.forestry.utoronto.ca/for201/For_cons/Chile/chile.htm). Setengah dari hutan tanaman tersebut adalah hutan untuk industri pulp, atau penambahan areal hutan tanaman pulp di Chili berkisar antara 38 sampai 43 ribu ha setiap tahunnya.
Penambahan areal lahan hutan di Finlandia relatif kecil, jumlahnya selama kurun waktu 1990 sampai tahun 2000 hanya delapan ribu ha/tahun (FAO, 2001) dan merupakan peremajaan terhadap tanaman yang ditebang. Selama kurun waktu antara 1992 sampai 2001 regenerasi tanaman mencapai 277 ribu ha (METLA, 2003). Begitu juga dengan hutan Swedia, penambahan areal hutannya hanya sedikit sekali yaitu sebesar 1.000 ha/tahun (FAO, 2001) dan merupakan peremajaan terhadap tanaman sebelumnya (SI, 2001). Di lain pihak, rata-rata penambahan areal lahan hutan di Rusia selama kurun waktu 1990 sampai tahun 2000 sekitar 135 ribu ha setiap tahunnya (FAO, 2001).
Luas areal hutan di Indonesia menurut data FAO (FAO, 2001) telah mengalami pengurangan yang cukup besar mencapai lebih dari 1,3 juta ha setiap tahunnya, selama kurun waktu tahun 1990 sampai 2000. Meskipun demikian, pembangunan hutan dan penanaman hutan kembali yang dilakukan Indonesia terutama untuk hutan tanaman (produksi). Penanaman hutan kembali rata-rata sekitar 0,23 juta ha pertahun (FAO, 2001), sementara pembangunan hutan industri
pulp selama kurun waktu 1989 sampai tahun 2003, mencapai jumlah 1,42 juta ha, dengan rata-rata pembangunan HTI-pulp dengan luas 94,7 ribu ha pertahun (Departemen Kehutanan, 2004a).