• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

1. Asal-usul upacara kenduri sko

Setiap suatu peristiwa yang terjadi, tentu adanya sebab-akibat, begitupun dengan upacar kenduri Sko, yang dilakukan oleh masyarakat Desa Seleman Kecamatan Danau Kerinci. Pada upacara ini masyarakat akan menziarahi makam nenek Si Gindo Kuning yaitu Nenek moyang masyarakat Desa Seleman Kecamatan Danau Kerinci.

Siapakah nenek Sigindo Kuning, dan apa kaitannya dengan Upacara Kenduri Sko?

Nenek Sigindo Kuning yang dimaksud disini adalah Nenek moyang masyarakat Desa Seleman Kecamatan Danau Kerinci. Dikisahkan bahwa, Sigindo Kuning datang ke kerinci, sekitar abad ke-6 Masehi, Segindo Kuning memerintah selama 42 Tahun. Sebelumnya yang pertama kali turun ke tanah Kerinci adalah Kerajaan Koying, yang dikatakan kerajaan Koying adalah wong kecil dan wong gedang, wong disini adalah panggilan seorang ayah kepada anaknya. Setelah habis masa zaman kerajaan Koying, baru zaman kerajaan Si Gindo Kuning.

Si Gindo pertama kali datang ke Kerinci, sebanyak tujuh orang yang berpencar, ketujuh Si Gindo ini berasal dari jawa yaitu Seleman Yogjakarta.

Si Gindo Kuning ini pertama kali menetap di Kerbau Jatuh lalu pindah di Tanjung Pagar, karena tanjung pagar banyak batu-batuan dan susah untuk bercocok tanam, sehingga Si Gindo Kuning pindah lagi menyelusuri Danau Kerinci akhirnya sampai di benda Selago yaitu desa Seleman. Si Gindo

Kuning menetap disana dan sampai pada akhir hayatnya pun di Desa Sleman. Si Gindo Kuning Meninggalkan warisan yaitu Lurah Serah Bumi, panggilan Si Gindo Kuning ini adalah Sko.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ja’far Kadir, mengatakan bahwa:

“Upacara Kenduri Sko ini adalah upacara yang dilaksanakan masyarakat desa Sleman Kecamatan Danau Kerinci,, dimana masyarakat akan mengunjungi atau berziarah kemakam Nenek Sigindo Kuning, yang dipercaya sebagai Nenek moyang orang Desa Seleman, nenek yang pertama kali mengenal cara bercocok tanam. Nenek ini datang datang dari Seleman Yogyakarta. Setelah selesai masa kerajaan Koying yang ada di kerinci, diperkirakan Si Gindo Kuning ini datang pada Abad ke-6 Masehi, dengan beranggotakan 7 orang yang saling berpencar. Kerajaan Si Gindo Kuning ini memerintah selama 42 tahun.

Sebelum menetap di Desa Sleman Kecamatan Danau Kerinci ini Si Gindo Kuning pernah menetap di Kerbau Jatuh lalu pindah di Tanjung Pagar, karena tanjung pagar banyak batu-batuan, dengan menyelusuri danau kerinci, akhirnya sampai di benda Selago yaitu desa Seleman, dan menetap disana hingga akhirnya meninngal dunia pun di Desa Sleman. Nah.., nenek ini meninggalkan warisan disebut dengan Lurah Serah Bumi. Dan disebut dengan Sko adalah”. 51

Hal ini juga dipertegas oleh Bapak Karaman, mengatakan bahwa:

“ acara kenduri ini adalah acara sakral yang dilakukan masyarakat Desa Sleman setiap tahun. Pada acara ini masyarakat akan menziarahi makam nenek Sigindo Kuning. Nenek moyang masyarakat kito di sini.

Di percayo nenek ini lah yang datang pertama kali ke Desa Sleman sebelumnya adalah kerajaan Koying disebut Koying, ketika ayah memanggil anaknya disebut dengan wong kecil dan wong Gedang.

Sigindo kuning ini datang tujuh orang yang masing, masing menyebar, awalnya Si Gindo ini berdiam di Kerbau Jatuh dan pindah ke Tanjung Pagar karena tanah di situ tidak cocok untuk bercocok tanam, sehingga dio pindah ke Sleman ini menelusuri Sungai Kerinci dan menetap hingga akhir hayatnya.”52

Dengan demikian, dari hasil wawancara di atas dapat penulis simpulkan bahwa Nenek Si Gindo Kuning ini merupakan Nenek moyang masyarakat Desa Seleman Kecamatan Danau Kerinci, yang pertama kali

51 Hasil Wawancara Dengan Bapak Ja’far Kadir, Umur: 47 Tahun, Pendidikan terakhir:

SI (Starata I), Alamat: Desa Sleman, Pekerjaan: Ketua Adat Sekaligus PLS UPTD Kec. Tanah Kampung, Interview Pada Tanggal 20 Maret 2018.

52 Hasil Wawancara Dengan Bapak Karaman, Umur: 53 Tahun, Pendidikan Terakhir:

SMP, Alamat: Desa Sleman, Pekerjaan: Tani, Interview Pada Tanggal 15 Maret 2018.

mengajarkan atau mewariskan cara bercocok tanam53, sehingga masyarakat mengunjungi makam Nenek Sigindo Kuning ini untuk berziarah, pada saat panen padi di sawah.

Acara Kenduri Sko yang menggunakan nasi kunyit pada saat upacara hasil panen padi, berawal dari Nenek Sigindo Kuning, sebab ketika Si Gindo Kuning menerima tamu para raja-raja dari jambi menggunakan Nasi Kunyit dan bunga-bunga sembilan macam, sebagai tanda penuh kehormatan. Hingga sampai sekarang nasi kunyit masih di gunakan oleh anak cucu untuk acara kenduri Sko.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ja’far Kadir, mengatakan bahwa:

“dahulu menurut cerita, Si gindo kuning ini menggunakan nasi kunyit pada saat penerimaan tamu para raja-raja jambi, sebagai rasa hormat, hingga pada saai ini pun masih digunakan pada saat acara kenduri Sko berlangsung”54

Hal ini juga dipertegas oleh bapak Abuzar, mengatakan bahwa:

“ kenapa ketika acara kenduri Sko ini masyarakat mengatakan berawal dari nenek sigindo kuning ini, karena pada acara kenduri Sko ini biasanya masyarakat membawa nasi kunyit, sama halnya dengan Si Gindo Kuning ketika mengadakan pertemuan atau ada

53Dari zaman dahulu, masyarakat Kerinci, terkenal dengan hasil panen padi yang berlimpah, ada terdapat mite yaitu Putri Tangguk, di Negeri kecil bernama Bunga Tanjung terletak dalam kecamatan Danau Kerinci. Dahulu kala hiduplah seorang perempuan bernama Putri Tangguk, Putri ini sudah bersuami dan beranak tujuh. Dikatakan Putri Tangguk, yaitu mempunyai sawah hanya seluas tangguk (alat penangkap ikan kira-kira seluas tampah penampi beras).

Walaupun demikian, Jika panen hasil padi di sawah itu banyak sekali. Setiap sudah menuai, padi itu akan tumbuh dan menguning lagi, dituai lagi, muncul lagi, begitulah seterusnya tidak pernah habis. Sehinnga putri tangguk dapat memenuhi ketujuh lumbung padinya. Suatu hari putri tangguk pergi kesawah dan diperjalanan, putri ini terpeleset karena jalan licin, akhirny dengan hati kesal dan marah putri tanggukpun menyerakkan padi hasil tuaiannya kejalan yang licin, pengganti pasir.

Seketika itu putri tangguk mendapatkan petunjuk melalui mimpinya, bahwa salah satu padi yang diserakkannya adalah raja padi, dan putri tanggukpun mendapatkan kutukan bahwa sampai anak cucunya akan sengsara.Lihat: Kaslani, Cerita Rakyat Dari Jambi 2, (Jakarta: Grafindo, 1998), Hlm, 41.

54 Hasil Wawancara Dengan Bapak Ja’far Kadir, Umur: 47 Tahun, Pendidikan terakhir:

SI (Starata I), Alamat: Desa Sleman, Pekerjaan: Ketua Adat Sekaligus PLS UPTD Kec. Tanah Kampung, Interview Pada Tanggal 20 Maret 2018

tamu raja-raja jambi, yang datang beliau menggunakan Nasi kunyit sebagai kehormatan.”55

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa nasi kunyit yang digunakan pada saat upacara Kenduri Sko yang dibawa oleh masyarakat sebagai rasa hormat dan rasa terimakasih atau rasa syukur, karena telah diberikan hasil panen.

Nenek Si Gindo Kuning membawa peran yang sangat bersejarah bagi kebudayaan Desa Seleman Kecamatan Danau kerinci, sebagai Nenek moyang yang membawa kebudayaan sebagai bercocok tanam, sehingga pada saat acara Kenduri Sko masyarakat akan mengunjungi makam Si Gindo Kuning.

Adapun yang dikatakan Kenduri Sko adalah Saka. Kenduri berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah, dan sebagainya, sedangkan Sko atau Saka56 berarti pihak ibu, sko itu bukan untuk disimpan dan bukan untuk di puja dan di puji, tetapi sko itu untuk di pelajari di dalam Sko itu terdapat mengenai surat-surat atau tembo-tembo yang harus kita pelajari.

Sko disini adalah sko yang datang dari ibu yaitu Sko tanah yang boleh di-ico artinya boleh diolah, digarap, dan dimanfaatkan. Dalam hal ini, Sko yang digarap adalah Sko tanah berupa sawah. Kenduri ini dilaksanakan

55 Hasil Wawancara Dengan Bapak Abuzar, Umur: 38 Tahun, Pendidikan terakhir: SMA Pekerjaan: Tani, Interview Pada Tanggal 18 Maret 2018

56 Dalam masyarakat desa Seleman, kecamatan Danau Kerinci pusaka yang berasal dari ibu disebut Sko. Sko yang berasal dari pihak ibu terdiri dari Sko tanah dan Sko gelar. Sko tanah boleh di ico artinya boleh di garap, di olah dan dimanfaatkan, berupa tanah peranian atau sawah.

Sedangkan Sko gelar adalah gelar boleh di pakai yang mana sko gelar itu dihibahkan oleh ibu kepada mamak atau saudara laki-laki ibu sebagai penerima mandat.

Pusaka yang datangnya dari bapak dinamai “harta”, pusaka yang datangnya dari guru dinamai “ilmu”, sedangkan pusaka yang datang dari orang banyak dinamai “gawe kerabat” atau gotong royong.

ketika hasil panen padi di sawah. Pada masyarakat Sleman kecamatan danau Kerinci, upacara sakral ini dilaksanakan setiap tahun ataupun setahunsekali, setiap kali hasil panen padi di sawah.

Hal ini di pertegas oleh bapak Afrizal, mengatakan bahwa:

“kenduri merupakan upacara perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, dimana peristiwa disini adalah kenduri Sko, Sko disi sko atau saka yang berasal dari Ibu, yaitu Sko tanah yang boleh di-ico artinya boleh di olah, boleh di garap, dan boleh di manfaatkan. Sko ini berupa sawah. Adapun acara kenduri Sko yang dimaksud adalah upacara yang dilaksanakan setiap setahun sekali ketika panen hasil padi di sawah. Sko atau saka bukan untuk disimpan dan bukan untuk di puja dan di puji tapi untuk di pelajari.”57

Hal ini juga dipertegas oleh bapak Abuzar, mengatakan bahwa:

“yang dimaksud dengan kenduri adalah acara makan bersama untuk memperingati suatu hal atau peristiwa yang sangat penting, begitupun yang upacara sakral di Desa Sleman ini, upacara kenduri Sko, Sko atau saka yang berasal dari ibu, berupa sko tanah yang boleh digarap dan dimanfaatkan oleh masyarakat, anak cucu berupa sawah. Hasil dari pada sawah ini adalah berupa padi, jadi setiap hasil panen ini diadakan upacara yaitu setahun sekali atau setiap tahun”.58

Hal ini juga dipertegas oleh bapak Ja’far Kadir, mengatakan bahwa:

“kenduri Sko ini adalah suatu acara makan bersama, seluruh masyarakat Desa Seleman untuk memperingati peristiwa atau rasa syukur terhadap hasil panen, dimana Sko disini adalah Sko yang berasal dari Ibu, yaitu Sko tanah yang boleh di garap atau diolah dan dimanfaatkan berupa tanh persawahan. Dimana acara ini dilaksanakan setiap tahun selesai hasil panen padi di sawah. Dalam sko terdapat mengenai surat-surat atau tembo-tembo yang harus dipelajari.”59

57 Hasil Wawancara Dengan Bapak Afrizal, Umur: 29 Tahun, Pendidikan Terakhir:

Sarjana strata I Hukum, Alamat: Desa Sleman, Pekerjaan: Stap pemerintah Desa, Interview Pada Tanggal 17 Maret 2018

58 Hasil Wawancara Dengan Bapak Abuzar, Umur: 38Tahun, Pendidikan Terakhir:

SMA, Alamat: Desa Sleman, Pekerjaan: Tani, Interview Pada Tanggal 18 Maret 2018

59 Hasil Wawancara Dengan Bapak Ja’far Kadir, Umur: 47 Tahun, Pendidikan terakhir:

SI (Starata I), Alamat: Desa Sleman, Pekerjaan: Ketua Adat Sekaligus PLS UPTD Kec. Tanah Kampung, Interview Pada Tanggal 20 Maret 2018.

Dengan demikian, Sko disini adalah Sko yang berasal dari ibu, dalam masyarakat kerinci Desa Seleman, Sko yang diperingati setiap tahun setiap hasil panen padi disawah.

2. Perbedaan kenduri Sko dan Kenduri Pusaka dalam sistem pelaksanaan

Dokumen terkait