• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas-Asas Hukum dalam Kewarisan Islam

Dalam dokumen WARIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM SKRIPSI (Halaman 24-38)

BAB II KETENTUAN PENGATURAN WARIS-

B. Asas-Asas Hukum dalam Kewarisan Islam

Hukum kewarisan Islam merupakan salah satu bagian dari keseluruhan hukum Islam yang mengatur peralihan harta benda lagal dari orang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya yang masih hidup.

Sebagai produk hukum agama yang bersumber dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam hukum kewarisan Islam di samping memiliki khas dan corak tersendiri yang membedakan dengan hukum kewarisan yang lain juga terkandung didalamnya asas-asas. Sehingga dari ragam asas-asas tersebut tampaklah terlihat bentuk karakteristik dari hukum kewarisan Islam itu sendiri.7

Hukum kewarisan Islam diambil dari ayat-ayat hukum kewarisan dalam al-Qur’an dengan penjelasan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam lewat Sunnah-Nya dan tambahan keterangan dari para pakar fiqh. Dalam sub (B) ini akan dikemukakan asas-asas sehubungan dengan peralihan harta benda peninggalan dari seorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya, berikut pola kepemilikan harta oleh ahli waris, serta jumlah dan/atau kadar bagian yang diterima, dan juga saat-saat terjadinya

5Ibid., hlm.19

6Ibid., hlm.5

7Ibid., hlm.19

peristiwa peralihan harta benda dimaksud. Adapun asas-asas dimaksud akan penulis sebutkan, terangkan, serta jelaskan satu persatu di bawah ini.

1. Asas Hanya Ajal Tiba8

Islam telah menggariskan tentang kewarisan dan/atau peralihan harta benda seseorang kepada orang lain berlaku hanya apabila ada peristiwa kematian dari orang yang mempunyai harta benda dimaksud. Artinya harta benda seseorang tidak bisa beralih terhadap orang lain dengan istilah kewarisan jika yang mempunyai harta masih hidup. Dan juga artinya semua pola dan ragam bentuk peralihan harta benda seseorang yang masih hidup baik kontan maupun dieksekusi setelah yang bersangkutan meninggal, tidak dinamakan kewarisan menurut agama. Oleh karenanya hukum kewarisan Islam tidak mengenal kewarisan yang bersifat wasiat yang dibuat pada saat masih hidup yang dalam hukum perdata dikatakan kewarisan bij testament, melainkan hanya berlaku pada satu pola yaitu kewarisan dikarenakan hanya ajal tiba yang dalam BW disebut kewarisan ab intestato.9

2. Asas Personal10

Agama menerangkan bahwa kewarisan berasaskan personal, dengan kata lain harta pusaka dapat dibagi-bagi untuk dimiliki yang bersifat perseorangan dengan para ahli waris masing-masingmemperoleh bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dan terkait dengan ahli waris yang lain. Keseluruhan harta kewarisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang dapat dibagi-bagi; kemudian jumlah tersebut

8Tercermin dalam rumusan berbagai istilah yaitu hukum kewarisan, pewaris, ahli waris dan harta peninggalan dalam Pasal 171 pada Bab I Ketentuan Umum, Kompilasi Hukum Islam (KHI)

9Amir Syarifuddin, op.cit, hlm.26

10 Di dalam Kompilasi Hukum Islam dapat dipahami dari mengenai besarnya bagian ahli waris tercantum dalam Bab III Besarnya Bahagian Pasal 176 sampai dengan Pasal 180 KHI

diberikan kepada semua ahli waris yang berhak sesuai jumlah dan kadar bagian masing-masing.

Semua ahli waris berhak memperoleh bagian yang didaptnya tanpa bergantung dan terikat dengan ahli waris yang lain. Hal demikian berdasarkan ketentuan jika setiap orang sebagai pribadi memiliki kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajiban yang di dalam literatur karya ulama salaf disebut ahliyatil wujub. Pengertiannya dalam konteks ini ialah, setiap ahli waris berhak menuntut secara perseorangan harta warisan dan pula berhak untuk tidak.

Pola personal dalam kewarisan Islam dimaksud secara mafhum dapat dilihat dalam sebagian ayat al-Qur’an tentang aturan yang menyangkut pembagian harta pusaka itu sendiri. Di dalam surat an-Nisa’ ayat ke 7 secara garis besar menjabarkan bahwasanya laki-laki dan/atau wanita sama-sama mempunyai hak mendapatkan warisan baik dari orang tua dan/atau sanak kerabat, dengan bagian yang telah ditentukan.

Ditambah dengan surat an-Nisa’ ayat ke 11, 12 dan terakhir ayat ke 176 juga menerangkan lebih spesifik hak masing-masing ahli waris secara personal sesuai jumlah dan/atau kadar bagian yang telah ditentukan dan ditetapkan. Dan lagi di ayat ke 12 dijelaskan tentang bentuk dan model yang tidak tertentu seperti anak laki bersama dengan anak wanita atau di ayat 176 saudara laki dan saudara wanita, dijabarkan pula bagi anak laki bagiannya sama dengan bagian dua anak wanita terkait dengan perimbangan pembagiannya. Dan dari perimbangan pembagian itu nanti akan jelas pula bagian untuk masing-masing ahli waris.

Dalam beberapa bentuk dan kasus memang terdapat bagian secara bersama, seperti anak laki dengan anak wanita di surat an-Nisa’ ayat 11, saudara laki dengan saudara wanita di ayat 176, dua orang anak wanita memperoleh dua pertiga dalam ayat ke 11, dua orang saudara wanita memperoleh dua pertiga dalam ayat 176 dan mendapatkan sepertiga bagi saudara-saudara yang berserikat jika yang meninggal tidak memiliki ahli waris langsung dalam surat an-Nisa’ ayat ke 12. Namun demikian, pola kelompok dimaksud hanya bersifat sementara yaitu sebelum terjadi pembagian yang bersifat personal diantara ahli waris yang bagiannya berserikat.

Ayat-ayat yang menerangkan dan/atau menjelaskan pembagian harta pusaka yang bersifat personal khususnya ayat ke 11 dan 12 Allah Subhanahu Wa Ta’ala sambung dengan ayat ke 13 dan 14 yang memberi petunjuk dan penegasan bahwa pembagian secara personal merupakan ketentuan dan ketetapan yang digariskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mengikat dan wajib dilaksanakan oleh setiap muslim dengan sanksi berat kelak di neraka bagi yang melanggar, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bila kemudian telah dijalankan pembagian secara terpisah di antara ahli waris yang bagiannya berserikat maka untuk selanjutnya masing-masing ahli waris mempunyai hak mutlak dan/atau penuh untuk menggunakan harta benda dimaksud. Walau adanya kebebasan membelanjakan harta benda dimaksud akan tetapi terdapat ketentuan-ketentuan lain yang dalam literatur-literatur ulama salaf dinamakan ahliyatit tasharruf yaitu di mana seseorang diperbolehkan oleh agama untuk menggunakan dan/atau membelanjakan harta bendanya.

Ada enam macam golongan ahli waris (dan/atau diluar konteks kewarisan) yang tidak memenuhi syarat diperbolehkannya untuk bertindak atas hartanya, yaitu;

1. Anak kecil yaitu anak yang belum mencapai usia baligh 2. Orang gila yaitu orang yang tidak sempurna akalnya

3. Orang Gendeng yaitu orang yang menghambur-hamburkan dan/atau menggunakan harta benda bukan pada tempatnya11

4. Orang pailit yaitu orang yang mempunyai tanggungan hutang besar dan harta benda yang ada tidak cukup untuk melunasi tanggungan hutangnya12 5. Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh yaitu orang sakit yang sudah

mendekati ajal dan/atau maut13

6. Budak atau hamba sahaya menggunakan harta benda tuannya tanpa seizin tuannya yang mengakibatkan kerugian

Maka harta warisan yang diperolehnya berada dibawah kuasa walinya atau pengampunya dan dapat digunakan atau dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari enam macam golongan dimaksud. Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam ayat ke 5 surat an-Nisa’ yang secara eksplisit menyatakan tidak diperbolehkannya menyerahkan harta benda kepada orang safih, yaitu orang yang belum dewasa umur maupun akal. Sehingga dengan memandang bahwa pada satu sisi setiap ahli waris berhak secara penuh atas harta pusaka yang didapatkannya dan di sisi lain ada sebagian ahli waris yang tidak berhak menggunakan hartanya sebelum ”pencekalan” oleh syari’at dicabut

11Muhammad ibn Qasim Gaza, Syarh Ghayah Ikhtishar, Maktabah Syamilah, App, juz.1, hlm.173

12Dan telah divonis (pailit) oleh hakim peradilan

13Tidak diperbolehkan menggunakan harta melebihi sepertiga kekayaan

dengan alasan karena belum dewasa misalkan, maka ahli waris yang telah dewasa (yang lain) bisa saja tidak memberikan harta warisan secara personal kepada ahli waris yang belum dewasa dimaksud. Artinya dalam kasus seperti tersebut, saudara yang lebih tua di antara beberapa orang bersaudara (yang belum dewasa) bisa menguasai sendiri harta berkelompok tersebut untuk sementara waktu.

Meskipun demikian akan tetapi status personalnya harus tetap diperhatikan dengan mengadakan perhitungan terhadap bagian masing-masing ahli waris, memelihara harta orang yang belum pantas mengelola hartanya, kemudian menyerahkan harta tersebut pada saat yang berhak telah cakap menggunakannya.

Tidak ada pihak yang dirugikan dengan pola seperti tersebut sebagaimana dinyatakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala lewat firmannya dalam surat an-Nisa’ ayat ke 2.

Melenyapkan pola personalnya dengan jalan mencampur adukkan harta warisan tanpa perhitungan dan dengan sengaja menjadikan hak kewarisan itu bersifat kelompok atau bersama berarti menyalahi ketentuan dan ketetapan disebut di atas. Hal demikian akan mengakibatkan pelakunya terkena sanksi sebagaimana yang disebutkan di akhir ayat ke 2 surat an-Nisa’ yaitu dosa yang besar.

Pemaparan dimaksud di atas dapat ditarik benang merah bahwasanya pola kewarisan bersama atau kelompok tidak seirama dengan ajaran islam, karena cara itu dikhawatirkan akan memakan hak anak yatim yang terdapat dalam harta tersebut. Perbuatan tersebut mempunyai kekhususan dikenai sanksi dosa besar.

3. Asas Ijbar14

Dalam hukum Islam, peralihan harta dari orang yang telah meninggal pada orang yang masih hidup belaku dengan sendirinya tanpa usaha dari yang akan meninggal atau kehendak dari yang akan menerima. Cara peralihan seperti ini di sebut secara ijbar.

Kata ijbar mengandung arti “paksaan”, yaitu melakukan sesuatu di luar kehendak sendiri. Pengertiyan wali mujbir dalam terminology fiqih munakahat mengandung arti si wali dapat mengawinkan anak gadisnya di luar kehendak anak gadisnya itu dan tanpa memerlukan persetujuan dari anak yang akan dikawinkannya itu. Begitu pula kata jabari dalam terminologi ilmu kalam mengandung arti paksaa, dengan arti semua perbuatan yang dilakukan oleh seoang hamba, bukanlah atas kehendak dari hamba tersebut, tetapi adalah sebab kehendak dan kuasa Allah SWT. Sebagaimana yang berlaku menurut aliran jabariyah.15

Diterapkannya asas Ijbar dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti bahwa peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut kehendak Allah tanpa bergantung kepada kehendak dari pewaris ataupun permintaan dari ahli warisnya. Unsur paksaan sesuai dangan arti terminologi tersebut telihat dari segi bahwa ahli waris terpaksa menerima kenyataan perpindahan harta kepada dirinya sesuai dengan yang telah ditentukan. Hal ini berbeda dengan kewarisan menurut hukum perdata (BW) yang peralihan harta warisan bergantung kepada kemauan pewaris serta kehendan dan kerelaan ahli waris yang akan menerima, tidak berlaku dengan sendirinya.

14 Asas Ijbar dalam Kompilasi Hukum Islam juga mengenai cara peralihan harta warisan, juga disebut dalam ketentuan umum tersebut pada Pasal 182 ayat (2) KHI

15Amir Syarifuddin, 2004, Hukum Kewarisan Islam, Kencana, Jakarta, hlm.17

Adanya unsur ijbar dalam unsur kewarisan Islam tidak akan memberatkan orang yang akan menerima warisan, karena menurut ketentuan hukum Islam ahli waris hanya berhak menerima harta yang ditinggalkan dan tidak berkewajiban memikul hutang yang ditinggalkan oleh pewaris. Kewajiban hanya sekedar menolonng membayarkan hutang pewaris dengan harta yang ditinggalkannya dan tidak berkewajiban melunasi hutang itu dengan harta sendiri.

Dalam BW diberikan kemungkinan untuk tidak menerima harta kewarisan, karena menerima akan berakibat menaggung resiko untuk melunasi hutang pewaris.

Ijbar dari segi pewaris mengandung arti bahwa sebelum meninggal ia tidak dapat menolak peralihan harta tersebut. Apapun kemauan pewaris terhadap hartanya, maka kemauannya itu dibatasi oleh ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Oleh karena itu, sebelum meninggal ia tidak perlu memikirkan atau merencanakan sesuatu terhadap hartnya, karena dengan kematiannya itu secara otomatis hartanya akan beralih kepada yang mewarisinya, baik ahli waris itu suka atupun tidak suka.16

Adanya asas Ijbar dalam hukum kewarisan Islam dapat terlihat dari beberapa segi, yaitu dari segi peralihan harta, dari segi jumlah harta yang beralih, dan dari segi penerimaan peralihan harta.

Unsur ijbar dari segi peralihan mengandung arti bahwa harta orang yang meninggal itu beralih dengan sendirinya, bukan dialihkan oleh siapa-siapa kecuali oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kewarisan dalam Islam diartikan dengan peralihan harta, bukan pengalihan harta. Karena dalam peralihan berarti beralih

16Amir Syarifuddin, 2004, Hukum Kewarisan Islam, Kencana, Jakarta, hlm.18

dengan sendirinya. Sedangakan dalam pengalihan berarti nampak usaha seseorang. Asas Ijbari dalam peralihan ini dapat dilihat dari firman Allah SWT.

Dalam surat An-Nisa’ asas Ijbari dalam peralihan ini dapat dilihat dari firman Allah SWT. Dalam surat An-Nisa’ ayat ke 7. Ayat ini menjelaskan bahwa bagi seorang laki-laki maupun perempuan ada nashib dari harta peninggalan orang tua dan karib kerabat. Katanashib berarti bagian, saham, atau jatah dalam bentuk sesuatu yang diterima dari pihak lain. Dari kata nashib itu dapat dipahami bahwa dalam jumlah harta yang ditinggalkan si pewaris, disadari atau tidak telah terdapat hak bagi ahli waris. Dalam hal ini, pewaris tidak perlu menjanjikan sesuatu sebelum ia meninggal, begitu pula ahli waris tidak perlu meminta haknya.

Bentuk ijbar dari segi jumlah harta yang beralih berarti bahwa bagian atau hak ahli waris dalam harta warisan sudah jelas telah ditentukandan ditetapkan oleh Allah SWT, sehingga pewaris maupun ahli waris tidak mempunyai hak untuk menambah atau mengurangi apa yang telah ditentukan dan ditetapkan itu. Setiap pihak terikat pada yang telah ditentukan dan ditetapkan.

Adanya unsur ijbar dari segi jumlah itu dapat dilihat dari kata mafrudh yang secara etimologi berarti “telah ditentukan atau telah diperhitungkan.” Kata-kata tersebut dalam terminologi ilmu fiqh berarti sesuatu yang telah diwajibakan Allah SWT. Kepada hamba-Nya. Dengan menggabungkan kedua kemungkinan pengertian itu, maka maksudnya ialah: sudah ditentukan dan ditetapkanjumlahnya dan harus dilakukan sedemikian rupa, mengikat dan memaksa.

Bentuk ijbar dari segi penerima peralihan harta itu berarti bahwa mereka yang berhak atas harta peninggalan itu sudah ditentukan secara pasti, sehingga

tidak ada suatu kuasadan daya manusiapun yang dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsurijbari dapat dipahami dari kelompok ahli waris sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam ayat ke 11, 12, dan 176surat an-Nisa'.

4. Asas Adil Imbang17

”Adil” merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata ’adla. Di dalam al-Qur’an kata ’adla atau turunannya dikutip lebih dari 28 kali. Sebagian darinya diturunkan oleh Allah dalam bentuk kalimat perintah (thalab) dan sebagian dalam bentuk kalimat kabar (insya’). ”Adla” diungkapkan dalam konteks yang berbeda dan arah yang berbeda pula. Sehingga, juga akan memberikan pengertian yang berbeda pula sesuai dengan maksud dan tujuan dari penggunaan kata ’adla dimaksud.

Dalam hubungannya dengan hak yang berkenaan dengan materi, khususnya yang berkaitan dengan waris, kata dimaksud dapat dimaknai sebagai keseimbangan antara yang diperoleh dengan kebutuhan dan kegunaan.

Atas dasar definisi dimaksud, terlihat dengan jelas asas keadilan dalam pembagian harta waris dalam hukum Islam. Secara mendasar dapat disebutkan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak menentukan hak waris dalam islam. Dengan maksud wanita pun mendapatkan hak yang sama kuatnya untuk memperoleh harta pusaka sebagaimana laki-laki. Hal demikian secara jelas dikatakan dalam surat an-Nisa’ ayat ke 7 yang menyamakan kedudukan laki-laki dan wanita dalam

17Dalam Kompilasi Hukum Islam ialah mengenai besarnya bagian yang di dalam Pasal 176–180 KHI, juga dikembangkan dalam penyelesaian perolehan yang dilakukan pada waktu penyelesaian pembagian warisan melalui pemecahan secara Aul (Pasal 192 KHI), Rad (Pasal 193 KHI), Takharuj atau Tashaluh atau Damai (Pasal 183 KHI). Termasuk soal ahli waris pengganti (Pasal 185 KHI)

hak sama memperoleh harta pusaka. Sementara itu, dalam ayat ke 11, 12, dan 176 surat an-Nisa’ diungkapkan kesamaan kekuatan hak menerima harta waris antara anak laki-laki dan anak wanita, ayah dan ibu, suami dan isteri, saudara laki-laki dan saudara wanita.

Berkaitan kadar jumlah bagian yang diperoleh oleh laki-laki maupun wanita terdapat dua bentuk. Kesatu, laki-laki memperoleh jumlah yang sama banyaknya dengan wanita, seperti ibu dan ayah yang sama memperoleh seperenam (1/6) dalam keadaan pewaris meninggalkan anak kandung, begitu juga saudara laki-laki dengan saudara wanita seibu yang sama memperoleh seperenam (1/6) dalam kasus pewaris seorang kalalah sebagaimana yang termuat dalam ayat ke 12 surat an-Nisa’. Kedua, laki-laki memdapatkan bagian dua kali lipat dari yang diperoleh oleh wanita dalam kasus yang sama, yaitu anak laki-laki dengan anak wanita dalam surat an-Nisa’ ayatke 11 dan saudara laki-laki dengan saudara wanita sekandung dan yang seayah dalam ayat ke 176 surat an-Nisa’. Dalam kasus yang lain, duda memperoleh dua kali lipat dari yang diperoleh janda, yaitu seperempat (1/4) banding seperdelapan (1/8) jika pewaris meninggalkan anak, dan setengah (1/2) banding seperempat (1/4) bila pewaris tak meninggalkan anak sebagaimana Allah firmankan dalam ayat ke 12 surat an-Nisa’.

Ditinjau dari segi kadar bagian yang diperoleh saat menerima harta pusaka, memang terdapat ketidak samaan. Namun, hal demikian bukan berarti tidak imbang dan adil, sebab keadilan dalam agama tidak diukur dengan kadar jumlah yang diperoleh saat menerima harta pusaka, melainkan juga dihubungkan pada kebutuhan dan kegunaan.

Secara umum, boleh dikatakan laki-laki membutuhkan lebih banyak materi dibanding wanita. Hal itu karena laki-laki memikul kewajiban dan beban ganda, yaitu selain untuk dirinya sendiri juga terhadap keluarganya, termasuk di dalamnya adalah wanita, semisal ibunya, istrinya dan lain sebagainya. Sehingga apabila kadar jumlah bagian yang diperoleh dikaitkan dengan kewajiban dan tanggungjawab seperti yang telah dimaksudkan di atas, maka akan terlihat bahwa kadar manfaat yang akan dirasakan laki-laki sama dengan apa yang dirasakan oleh wanita. Meskipun pada mulanya laki-laki memperoleh dua kali lebih banyak dari bagian yang diperoleh wanita, namun sebagian yang didapat akan diberikannya kepada wanita dalam statusnya sebagai pembimbing yang bertanggungjawab. Inilah keadilan dalam konsep ajaran Islam.

Meskipun kerabat garis ke atas, yaitu orang tua dan kerabat garis ke bawah, yaitu anak-anak sama berhak atas harta pusaka dalam kasus yang sama, bahkan dalam ayat ke 11 surat an-Nisa’ dinyatakan bahwa keduanya memiliki kedudukan sama, akan tetapi terdapat perbedaan dalam kadar jumlah waris yang diperolehnya. Anak memperoleh bagian rata-rata lebih banyak dibandingkan dengan bagian yang diperoleh orang tua. Adanya perbedaan ini dapat ditelaah dan dikaji dari aspek hakkewajiban dan tanggungjawab, maka tanggungjawab orang tua terhadap anak lebih besar daripada tanggungjawab anak terhadap orang tua.

Hak waris yang didapat oleh yang mewarisi pada hakikatnya merupakan kontinuitas tanggungjawab pewaris terhadap keluarganya dan/atau yang mewarisi, sehingga kadar jumlah bagian yang didapat ahli waris berimbang

dengan ketidaksamaan tanggungjawab seseorang (yang kemudian menjadi pewaris) terhadap keluarga (yang kemudian menjadi yang mewarisi).

Bagi seorang laki-laki tanggungjawab utamanya adalah istri dan anak-anaknya. Yang demikian adalah beban dan kewajiban agama yang harus dipikul dan ditanggungnya .

5. Asas Bilateral18

Membicarakan asas ini, berarti membicarakan tentang kemana arah peralihan harta itu dikalangan ahli waris. Asas Bilateral dalam kewarisan mengandung arti bahwa harta warisan melalui 2 arah. Hal ini berarti bahwa setiap orang menerima kewarisan dari kedua belah pihak garis kekerabatan, yaitu pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan pihak kerabat garis keturunan perempuan.

Asas Bilateral ini dapat secara nyata dilihat dalam firman Allah dalamsurat An-Nisa’ayat ke 7, 11, 12, dan 176. Dalam ayat 7 dijelaskan bahwa seorang laki-laki berhak mendapat warisan dari piahak ayahnya dan juga dari pihak ibunya. Ayat ini merupakan dasar dari kewarisan bilateral itu. Secara terperinci, asas Bilateral itu dapat dipahami dalam ayat-ayat selanjutnya.

Dalam ayat 11 dijelaskan:

a. anak wanita berhak menerima warisan dari kedua orang tuanya sebagaiman yang didapat oleh anak laki dengan perbandingan seorang anak laki-laki menerima sebayak yang didapat oleh dua orang anak wanita.

18Dapat dibaca dalam Kompilasi Hukum Islam pada pengelompokan ahli waris seperti tercantum dalam Pasal 174 (ayat 1) yaitu ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek (golongan laki-laki) serta ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek (golongan perempaun) menurut hubungan darah

b. Ibu berhak mendapat warisan dari anaknya, baik laki-laki maupun wanita.

Begitu juga ayah sebagai ahli waris laki-laki berhak menerima warisan dari anak-anaknya, baik laki-laki maupun wanita.

Dalam ayat 12 dijabarkan:

a. Bila pewaris adalah seorang anak laki-laki yang tidak mempunyai yang mewarisi langsung (anak atau ayah), maka saudara laki-laki dan wanita berhak mendapatkan bagian dari harta pusaka.

b. Bila pewaris adalah seorang anak wanita yang tidak mempunyai yang

b. Bila pewaris adalah seorang anak wanita yang tidak mempunyai yang

Dalam dokumen WARIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM SKRIPSI (Halaman 24-38)

Dokumen terkait