• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Kewarisan Kompilasi Hukum Islam

Dalam dokumen WARIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM SKRIPSI (Halaman 59-78)

BAB II KETENTUAN PENGATURAN WARIS-

B. Ketentuan Kewarisan Kompilasi Hukum Islam

Orang islam yang akan membagi warisan tidak harus tunduk pada ketentuan warisan menurut Hukum Kewarisan Islam. Hal ini didasrkan pada pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama yang berbunyi:

“Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memetus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama

11 Abdurrahman, 2010, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, hlm.53-62

Islam di bidang: 1. Perkawinan 2. Waris 3. Wasiat 4. Hibah 5. Wakaf 6. Zakat 7. Infaq 8. Shadaqah 9. Ekonomi syariah

Di dalam penjelasan khususnya pasal 49 huruf b ditegaskan bahwa bidang kewarisan adalah mengenai penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan pelaksanaan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris.

Terdapat pembaruan yang cukup menonjol dalam Kompilasi Hukum Islam, terutama jika dibandingkan dengan sistem kewarisan yang dikembangkan oleh ahlussunnah. Cerminan asas bilateral dalam Kompilasi Hukum Islam adalah pasal 174 ayat 2 yang berbunyi: “Apabila semua ahli waris ada maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.” Kalimat pendek dalam pasal ini mengakhiri polemik panjang tentang apakah anak wanita dapat menghijab (menghalangi) saudara pewaris atau tidak.

Sistem kewarisan yang dikembangkan ahlussunnah menegaskan bahwa hanya anak lelaki saja yang dapat menghijab saudara pewaris. Konsekuensi berikutnya dari diterimanya asas bilateral adalah dikenalnya pranata pembagian tempat (plaatsvervulling) dalam Kompilasi Hukum Islam.

Ada perbedaan yang sangat menonjol antara kedudukan cucu (ahli waris dalam garis lurus kebawah) dari anak lelaki dan cucu dari anak wanita. Dua jenis ini tidak mungkin mewaris bersama-sama, sebab cucu dari anak lelaki menghijab cucu dari anak wanita. Cucu dari anak lelaki berkedudukan sebagai ahli waris dzul

fardh atau ashabah, sedangkan cucu dari anak wanita berkedudukan sebagai dzul rahm. Ketentuannya adalah ahli waris dzul rahm baru mewaris apabila tidak ada ahli waris dzul fardh atau ashabah.

KHI yang merupakan kumpulan materi/bahan hukum islam yang tersebar di berdagai kitab fikih klasik, disamping bahan-bahan lain yang berhubungan, kemudian diolah melalui proses dan metode tertentu, lalu dirumuskan dalam bentuk yang serupa perundang-undangan (yaitu dalam pasal-pasal tertentu) lahir berdasarkan dan berlandaskan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tertanggal 10 Juli 1991.

Khusus mengenai buku II tentang Kompilasi Hukum Islam, KHI memuat enam bab, 43 pasal, terhitung mulai pasal 171 sampai dengan pasal 214 dengan perician sebagai berikut:12

Bab I Ketentuan Umum pasal 171, yaitu:

a. Hukum kewarisan adalah peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.

b. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.

c. Ahli waris adalah orang yang saat pada meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

12Penulis hanya akan memerinci sampai pada Pasal 192-193 Bab IV Buku II KHI

d. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa harta benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya.

e. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.

Sedangkan dalam bab II pasal 172, ahli waris dipandang beragama islam apabila diketahui Kartu Identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.

Pasal 173, seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena:

a. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pewaris.

b. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Pasal 174, ayat (1), kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari:

a. Menurut hubungan darah:

1. Golongan lelaki terdiri dari: ayah, anak lelaki, saudara lelaki, paman, dan kakek.

2. Golongan wanita terdiri dari: ibu, anak wanita, saudara wanita, dan nenek.

Sedangkan pada ayat (2), apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Pada pasal 175, ayat (1), kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:

a. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai.

b. Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan termasuk kewajiban pewaris maupun menagih piutang.

c. Menyelesaikan wasiat pewaris.

d. Membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak.

Ayat (2), tanggung jawab ahli waris terhadap hutang atau kewajiban pewaris hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya.

Bab III tentang besarnya bagian13 yaitu pasal 176, anak perempuan bila hanya seorang ia memperoleh separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama memperoleh dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Contoh:

13Dan semua contoh yang akan penulis muat dibelakang diambil dari buku karya Abd. Wahid Hudzaifah, al-Faraidh fi Ilmi al-Mirats, Perc. Mif-Ul Bettet, Pamekasan

Tabel. 1

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 4 Rp.860.000.000 (Rp)

Anak W.

1/2 2 2 / 4 x Rp.860.000.000 430.000.000

Suami

1/4 1 1 / 4 x Rp.860.000.000 215.000.000

Sdr. W. Skdg.

2/3 16 16 / 24 x Rp.600.000.000 400.000.000

Istri

1/8 3 3 / 24 x Rp.600.000.000 75.000.000

Sdr. W. Skdg.

1/4 1 1 / 4 x Rp.120.000.000 30.000.000

4 JUMLAH 120.000.000

Pada pasal 177, ayah memperoleh sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak. Bila ada anak, ayah memperoleh seperenam bagian. Contoh:

Tabel. 1

1/2 3 3 / 6 x Rp.600.000.000 300.000.000

6 JUMLAH 600.000.000

1/6 4 4 / 24 x Rp.120.000.000 20.000.000

Istri

1/8 3 3 / 24 x Rp.120.000.000 15.000.000

Anak W.

1/2 12 12 / 24 x Rp.120.000.000 60.000.000

Cucu L. dr anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia memperoleh sepertiga bagian. Contoh:

Tabel. 1

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 24 Rp.600.000.000 (Rp)

Ibu

1/6 4 4 / 24 x Rp.600.000.000 100.000.000

Istri

1/8 3 3 / 24 x Rp.600.000.000 75.000.000

Anak W.

1/6 1 1 / 6 x Rp.120.000.000 20.000.000

Suami

1/2 3 3 / 6 x Rp.120.000.000 60.000.000

2 Sdr. L. Skdg.

Tabel. 3

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 12 Rp.860.000.000 (Rp)

Ibu

1/3 4 4 / 12 x Rp.860.000.000 286.666.666,7

Istri

1/4 3 3 / 12 x Rp.860.000.000 215.000.000

Sdr. L. Seibu

1/6 2 2 / 12 x Rp.860.000.000 143.333.333,3

Anak L. dr Sdr. atau duda bila bersam-sama dengan ayah. Contoh:

Tabel. 1

1//4 3 3 / 12 x Rp.600.000.000 150.000.000

12 JUMLAH 600.000.000

Tabel. 2

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 6 Rp.120.000.000 (Rp)

Ibu 1/3 sisa (1/6)

3

1

Masalah Umariyah

20.000.000 Ayah

ashabah (1/3) 2 40.000.000

Suami

1/2 3 3 / 6 x Rp.120.000.000 60.000.000

6 JUMLAH 120.000.000

Pasal 179, duda memperoleh separuh bagian, bila pewaris tidak meninggalkan anak. Dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda memperoleh seperempat bagian. Contoh:

Tabel. 1

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 2 Rp.860.000.000 (Rp)

Suami

1/2 1 1 / 2 x Rp.860.000.000 430.000.000

Sdr. W. Skdg.

1/2 1 1 / 2 x Rp.860.000.000 430.000.000

2 JUMLAH 860.000.000

Tabel. 2

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 4 Rp.600.000.000 (Rp)

Suami

1/4 1 1 / 4 x Rp.600.000.000 150.000.000

Anak W.

1/2 2 2 / 4 x Rp.600.000.000 300.000.000

Sdr. W. Skdg.

ashabah 1 150.000.000

4 JUMLAH 600.000.000

Pasal 180, janda memperoleh seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak. Dan bila pewaris meninggalkan anak, maka janda memperoleh seperdelapan bagian. Contoh:

Tabel. 1

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 4 Rp.860.000.000 (Rp)

Istri

1/4 1 1 / 4 x Rp.860.000.000 215.000.000

Sdr. W. Skdg.

ashabah

3

1 215.000.000

Sdr. L. Skdg.

ashabah 2 430.000.000

4 JUMLAH 860.000.000

Tabel. 2

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 8 Rp.600.000.000 (Rp)

Istri

1/8 1 1 / 8 x Rp.600.000.000 75.000.000

Anak W.

Pasal 181, bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara lelaki dan saudara wanita seibu masing-masing memperoleh seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih maka mereka

1/6 1 1 / 6 x Rp.600.000.000 100.000.000

Suami

1/2 3 3 / 6 x Rp.600.000.000 300.000.000

Ibu

1/3 2 2 / 6 x Rp.600.000.000 200.000.000

6 JUMLAH 600.000.000

Tabel. 2

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 12 Rp.120.000.000 (Rp)

Sdr. W. Seibu

1/6 2 2 / 12 x Rp.120.000.000 20.000.000

Istri

1/4 3 3 / 12 x Rp.120.000.000 30.000.000

Ibu

1/3 4 4 / 6 x Rp.120.000.000 40.000.000

Anak L. dr Sdr.

L. Seayah ashabah

3 3 / 6 x Rp.120.000.000 30.000000

12 JUMLAH 120.000.000

2 2 / 6 x Rp.600.000.000 200.000.000

Suami

1/2 3 3 / 6 x Rp.600.000.000 300.000.000

Ibu

1/6 1 1 / 6 x Rp.600.000.000 100.000.000

6 JUMLAH 600.000.000

Tabel. 4

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 12 Rp.120.000.000 (Rp)

2 >

Sdr.L.Seibu 1/3

4 4 / 12 x Rp.120.000.000 40.000.000

Istri

1/4 3 3 / 12 x Rp.120.000.000 30.000.000

Ibu

1/6 2 2 / 12 x Rp.120.000.000 20.000.000

Anak L. dr Sdr.

L. Seayah 1/3

3 3 / 12 x Rp.120.000.000 30.000000

12 JUMLAH 120.000.000

Pasal 182, bila seorang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia memperoleh separuh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama –sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama memperoleh dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara-saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki adalah dua berbanding satu dengan saudara perempuan. Contoh:

Tabel. 1

Ahli Waris Saham

Asal Masalah Harta Pusaka Perolehan 2 Rp.860.000.000 (Rp)

Sdr. W. Skdg.

1/2 1 1 / 2 x Rp.860.000.000 430.000.000

Suami

1/2 1 1 / 2 x Rp.860.000.000 430.000.000

2 JUMLAH 860.000.000

1/2 1 1 / 2 x Rp.600.000.000 300.000.000

Suami

1/2 1 1 / 2 x Rp.600.000.000 300.000.000

2 JUMLAH 600.000.000

8 8 8 / 13 x Rp.120.000.000 73.846.153,85

Istri

1/4 3 3 3 / 13 x Rp.120.000.000 27.692.307,69

Sdr. L. Seibu

1/6 2 (-1) 2 2 / 13 x Rp.120.000.000 18.461.538,46

13 13 JUMLAH 120.000.000

Tabel. 4

8 8 8 / 13 x Rp.860.000.000 529.230.769,2

Istri

1/4 3 3 3 / 13 x Rp.860.000.000 198.461.538,5

Sdr. W. Seibu

1/6 2 (-1) 2 2 / 13 x Rp.860.000.000 132.307.692,3

13 13 JUMLAH 860.000.000

1/4 1 1 / 4 x Rp.600.000.000 150.000.000

4 JUMLAH 600.000.000

1/4 1 1 / 4 x Rp.120.000.000 30.000.000

4 JUMLAH 120.000.000

Tabel. 7

1/6 1 1 / 6 x Rp.600.000.000 100.000.000

6 JUMLAH 600.000.000

1/6 1 1 / 6 x Rp.120.000.000 20.000.000

6 JUMLAH 120.000.000

Pasal 183, para ahli waris boleh bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya.

Pasal 184, bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dan kewajibannya, maka baginya diangkat wali berdasarkan keputusan Hakim atas usul anggota keluarga.

Pasal 185, ayat (1), ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si pewaris maka kedudukannya bisa digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang

tersebut dalam pasal 173. Ayat (2), bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Pasal 186, anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.

Pasal 187, Ayat (1), bilamana pewaris meninggalkan harta peninggalan, maka oleh pewaris semasa hidupnya atau oleh para ahli waris boleh ditunjuk beberapa orang sebagai pelaksana pembagian harta warisan dengan tugas:

a. Mencatat dalam suatu daftar harta peninggalan, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak yang kemudian disahkan oleh para ahli waris yang bersangkutan, bila perlu dinilai harganya dengan uang.

b. Menghitung jumlah pengeluaran untuk kepentingan pewaris sesuai dengan pasal 175 ayat (1) sub a, b, dan c.

Ayat (2), sisa dari pengeluaran dimaksud di atas adalah merupakan harta warisan yang harus dibagikan kepada ahli waris yang berhak.

Pasal 188, para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan bisa mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta waris. Bila ada di antara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan boleh mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian harta warisan.

Pasal 189, ayat (1), bila harta warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian yang luasnya kurang 2 hektar, agar dipertahankan kesatuannya sebagaimana semula, dan dimamfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli

waris yang bersangkutan. Ayat (2), bila ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak dimungkinkan karena di antara para ahli waris yang bersangkutan ada yang memerlukan uang, maka lahan tersebut dapat dimiliki oleh seorang atau lebih ahli waris dengan cara membayar harganya kepada ahli waris yang berhak sesuai dengan bagiannya masing-masing.

Pasal 190, bagi pewaris yang beristri lebih dari seorang, maka masing-masing istri berhak memperoleh bagian atas gono gini dari rumah tangga dengan suaminya, sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak para ahli warisnya.

Pasal 191, bila pewaris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali, atau ahli warisnya tidak diketahuai ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya kepada Baitul Mal untuk kepentingan agama Islam dan kesejahteraan umum.

Bab IV mengenai masalah apabila terjadi kasus kekurangan dan/atau kelebihan harta pusaka pada saat pembagian. Yaitu pasal 192, Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris Dzawil Furudh menunjukkan bahwa angka pembilang lebih besar daripada angka penyebut, maka angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang, dan baru sesudah itu harta warisan dibagi secara aul menurut angka pembilang. Dan pasal 193, Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris Dzawil Furudh menunjukkan bahwa angka pembilang lebih kecil daripada angka penyebut, sedangkan tidak ada ahli waris ashabah, maka pembagian harta warisan tersebut

dilakukan secara radd, yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris, sedang sisanya dibagi secara berimbang di antara mereka.

Dalam dokumen WARIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM SKRIPSI (Halaman 59-78)

Dokumen terkait