• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas Asas Kewarisan Islam

BAB II. TEORI TENTANG HUKUM KEWARISAN

C. Asas Asas Kewarisan Islam

Dalam Hukum Islam dikenal adanya asas umum dan asas khusus. Asas umum adalah asas yang terdapat dalam setiap perbuatan hukum, sedangkan asas khusus adalah asas yang terdapat dalam satu bidang saja. Yang termasuk asas umum adalah asas keadilan, asas kepastian hukum dan asas manfaat.

Sedangkan asas khusus kewarisan islam adalah asas ijbari, asas bilateral, asas individual, asas semata akibat kematian. Dalam penelitian ini dibahas asas yang langsung berkaitan dengan hukum kewarisan yaitu asas khusus.

Yang pertama adalah asas Ijbari. Kata Ijbari mengandung arti paksaan (compulsori) yaitu melakukan sesuatu diluar kehendak sendiri. Asas ijbari ini

32

dapat dilihat dari beberapa segi, yakni dari segi peralihan harta,dari segi jumlah harta yang beralih, dan dari segi kepada siapa harta itu beralih.

Unsur ijbari dari segi cara peralihan mengandung arti bahwa harta orang yang mati itu beralih dengan sendirinya, bukan dialihkan siapa-siapa kecuali oleh Allah SWT. Oleh karena itu kewarisan dalam Islam diartikan dengan peralihan harta bukan pengalihan harta, karena pada peralihan berarti beralih dengan sendirinya sedangkan pada pengalihan adanya usaha seseorang. Asas ijbari dalam peralihan ini dapat dilihat dalam surah An-Nisa ayat 7.

Bentuk Ijbari dari segi jumlah berarti bahwa bagian atau hak ahli waris dalam harta warisan sudah jelas ditentukan oleh Allah, sehingga pewaris maupun ahli waris tidak mempunyai hak untuk menambah atau mengurangi apa yang ditentukan itu. Bentuk ijbari dari segi kepada siapa harta itu beralih berarti bahwa mereka yang berhak atas harta peninggalan itu sudah ditentukan secara pasti, sehingga tidak ada suatu kekuasaan manusiapun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsur ijbari dapat dipahami dari kelompok ahli waris sebagaimana disebutkan Allah dalam surah An-Nisa ayat 11, 12, dan 176.

Kedua asas bilateral. Asas bilateral mengandung arti bahwa harta warisan beralih kepada atau melalui dua arah. Hal ini berarti setiap orang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak garis kerabat yaitu dari pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan dari pihak kerabat garis keturunan perempuan.53

53 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta:Kencana, 2006, hlm. 208-209.

33

Asas ini dapat dilihat dalam surah An-Nisa ayat 7, 11,12, dan 176 yang tegas mengatakan bahwa hak kewarisan dalam seseorang menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal dunia bisa diperoleh dari dua sumber yaitu dari sumber garis keturunan bapak dan bisa juga dari garis keturunan ibunya. Atas dasar tersebut maka peralihan harta pewaris yang dianggap memenuhi rasa keadilan adalah memberikan harta pewaris kepada keluarganya yang paling dekat. Keluarga pewaris yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris adalah keturunannya (furu‟), aswalnya ( kakek ke atas), dan semua ashabah pewaris, tanpa mengesampingkan suami atau istri yang merupakan partner hidup pewaris sekaligus sebagai kongsi dalam mencari kebutuhan hidup bersama.54

Hukum Islam mengajarkan asas kewarisan secara individual dengan arti bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi untuk dimiliki secara perorangan.

Masing-masing ahli waris menerima bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dengan ahli waris lainnya. Keseluruhan harta warisan dapat dinyatakan dengan nilai tertentu yang mungkin dibagi- bagi, kemudian jumlah tersebut dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar bagian masing-masing.55

Setiap ahli waris berhak atas bagian yang didapatnya tanpa tergantung dan terikat dengan ahli waris lainnya. Hal ini didasarkan dalam ketentuan bahwa setiap insan sebagai pribadi mempunyai kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajibannya, yang dalam ushul fiqih disebut ahliyat

54 Ibid.

55 Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974, hal. 31. Sebagaimana dikutip oleh Amir Syarifuddin. hlm. 17.

34

wujud. Dalam pengertian ini setiap ahli waris berhak menuntut secara sendiri-sendiri harta warisan itu dan berhak pula untuk tidak berbuat demikian.

Hukum Islam menetapkan bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan menggunakan istilah “kewarisan” hanya berlaku setelah yang mempunyai harta meninggal dunia. Dengan demikian, hukum kewarisan Islam hanya mengenal satu bentuk kewarisan yaitu kewarisan akibat kematian semata atau dalam hukum perdata disebut dengan kewarisan ab intestato dan tidak mengenal kewarisan atas dasar wasiat yang dibuat pada waktu masih hidup yang disebut dengan kewarisan bij testament.

Ketiga asas semata karena kematian. Asas kewarisan akibat kematian ini mempunyai ikatan erat dengan asas ijbari yang disebutkan sebelumnya.

Apabila seseorang telah memenuhi syarat sebagai subjek hukum pada hakikatnya ia dapat bertindak sesuka hatinya terhadap seluruh kekayaannya.

Akan tetapi, kebebasan itu hanya pada waktu ia masih hidup saja. Ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan nasib kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Meskipun seseorang mempunyai kebebasan untuk berwasiat, tetapi terbatas hanya sepertiga dari keseluruhan kekayaannya.56

Keempat adalah Asas Keadilan Berimbang. Asas ini dapat diartikan adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan. Secara dasar dapat dikatakan bahwa faktor perbedaan jenis kelamin tidak menentukan dalam hak kewarisan artinya laki-laki mendapat hak kewarisan begitu pula perempuan mendapat hak kewarisan sebanding dengan yang di dapat oleh laki-laki.

56Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam (Sebagai Pembaruan Hukum di Indonesia), Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hlm. 31.

35 D. Unsur-unsur Kewarisan

Unsur-unsur kewarisan terdiri dari ; adanya pewaris; adanya harta peninggalan dan adanya ahli waris.

a. Pewaris

Pewaris adalah orang yang meninggal dunia, yang hartanya diwarisi oleh ahli warisnya.57 Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf b disebutkan bahwa pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan ada dua bentuk meninggal dunia : pertama, meninggal dunia secara nyata, artinya seseorang meninggal dunia, dapat dibuktikan dengan panca indera atau melalui medis.58

Kedua, meninggal dunia secara yuridis; artinya seseorang dianggap meninggal dunia karena putusan pengadilan, yang dibuktikan dengan putusan hakim. Kemungkinkan orang tersebut masih hidup tetapi disebabkan oleh sesuatu hal tertentu seperti perang, tsunami dan lain-lain, maka orang itu dianggap meninggal dunia. Dengan adanya putusan Pengadilan itu harta pewaris dapat dibagi kepada para ahli warisnya.

b. Harta Peninggalan dan Harta Warisan

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) ada dua jenis harta yang berkaitan dengan kewarisan,yaitu harta peninggalan dan harta warisan. Dalam

57A. Rachmad Budiono, Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Bandung: PT.

Citra Aditya Bakti, 1999, hlm. 9.

58 Bphn., Op.Cit. hlm.70

36

Pasal 171 huruf d menjelaskan tentang harta peninggalan, yaitu “Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya”. Berdasarkan definisi tersebut, harta peninggalan yang dimaksud adalah harus benar-benar menjadi milik dan atau hak-hak pewaris. Sedangkan harta warisan menurut Pasal 171e adalah “harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat”. Dengan kata lain; harta warisan adalah harta yang sudah bersih, sudah dikurangan dari kewajiban – kewajiban yang harus dilunasi oleh ahli waris; yaitu biaya-biaya perawatan dan pengurusan jenazah pewaris, maupun hutang pewaris kepada pihak ketiga.

Harta bawaan atau disebut juga dengan harta milik masing-masing dari suami dan istri atau harta milik suami atau istri adalah harta yang diperoleh suami atau istri sebelum terjadinya perkawinan yang berasal dari warisan dari kedua ibu-bapak dan kerabat, hibah, hadiah dan harta yang diperoleh dari usaha sendiri. Untuk harta bawaan yang diperoleh dari warisan, hibah, hadia serta sodoqoh dari ibu-bapak dan kerabat mereka masing-masing setelah menikah dan bukan karena usahanya sendiri, tetapi adalah diusahakan setelah mereka bersamasama sebagai suami-istri termasuk harta bawaan. Harta bawaan ini menjadi milik mutlak dari masing-masing suami atau istri dan dikuasai sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta tersebut.

Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 87 ayat (1) dan (2) menjelaskan:

(1) Harta bawaan masing-masing suami dan isteri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah

37

dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

(2) Suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sodaqah atau lainnya.

Dalam pengelolaan harta bawaan ini tidak dibenarkan adanya percampuran antara harta suami dan harta isteri walaupun telah terjadi perkawinan. Hal ini dijelaskan dalam Kompilasi pasal 86 ayat (1) “Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan.” Oleh karena itu, harta peninggalan yang berbentuk harta bawaan ini tidak ada sangkut paut dengan milik dan hak-hak orang lain kecuali yang bersangkut paut dengan hak pewaris sewaktu hidup dan sebelum dikuburkan.

Harta bersama, menurut Pasal 35 (1) adalah harta yang diperoleh selama masa perkawinan. Apabila terjadi putusnya perkawinan baik karena perceraian atai kematian maka harta bersama dibagi dua antara suami dan istri dengan tidak menghitung siapa yang mencari lebih banyak. Ada kemungkinannya istri tidak berpenghasilan namun hanya membantu suami dalam memelihara anak-anak di rumah, atau istri ikut bersama-sama suami mencari harta untuk menghidupi keluarganya, dan bahkan ada yang sebaliknya isteri yang mencari harta dan suami menggantikan posisi isteri memelihara anak di rumah.

Dengan kenyataan ini, maka perolehan harta dalam satu rumah tangga, tidak dapat dipungkiri bahwa berasal dari perolehan suami dan isteri. Bekerja ini hendaklah diartikan secara luas, hingga seorang isteri yang pekerjaannya tidak nyata-nyata menghasilkan kekayaan, seperti memelihara dan mendidik anak-anaknya, dianggap sudah bekerja. Dan harta kekayaan yang diperoleh secara kongkrit oleh suami menjadi milik bersama. Dalam kenyataan hidup

38

berkeluarga, antara pewaris dan ahli waris tidak menutup kemungkinan terdapat harta peninggalan menjadi milik bersama apakah itu wujudnya harta benda atau hak-hak. Keberadaan harta bersama dalam satu keluarga susah untuk menghindarinya karena hampir semua keluarga yang ada memiliki harta bersama. Suami isteri misalnya, sama-sama berusaha untuk menghidupi keluarganya, istri melayani segala keperluan dan kebutuhan suami untuk dapat memperoleh harta dalam kehidupan rumah tangganya.

Dalam fiqh Islam ada istilah tirkah, yaitu segala sesuatu yang ditinggalkan oleh pewaris baik berupa harta benda dan hak kebendaan atau bukan hak-hak kebendaan. Harta tirkah juga meliputi utang piutang baik yang berkaitan dengan kbendaan seperti gadai atau yang berkaitan dengan kreditur seperti mahar dan lain sebagainya.

Rumusan harta peninggalan dalam KHI Pasal 171 d, mirip dengan rumusan harta tirkah yang dikemukakan oleh Muhammad Jawad Mughniyah.

menurutnya harta tirkah adalah harta peninggalan orang yang meninggal dunia, yaitu segala sesuatu yang dimilikinya sebelum meninggal baik berupa benda maupun utang atau berupa hak atas harta seperti hak usaha, hak jual beli, hak menerima ganti rugi dan hak atas harta yang timbul karena menjadi wali seseorang yang terbunuh.59

Membandingkan rumusan harta peninggalan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 171 huruf d dengan rumusan tirkah yang dikemukakan oleh para ahli fiqh pada dasarnya sama, yaitu “harta benda” dan “hak-hak”.

59 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta : Basrie Press, 1994), hlm.73. bandingkan dengan pendapat Muhammad Ali As-Shabuni. Muhammad Ali As-Shabuni dalam memberikan defenisi harta peninggalan menggunakan istilah at-tarakah (harta warisan) yaitu “apa-apa yang ditinggalkan manusia sesudah wafatnya, baik berupa harta dan hak-hak keuangan atau bukan keuangan”.

39

Harta tirkah mencakup keseluruhan harta yang ditinggalkan orang yang meninggal, sedangkan harta warisan hanya mencakup harta yang dibagikan kepada ahli waris setelah harta peninggalan pewaris dikurangi dengan hutang atau hal lainnya. Harta tirkah belum tentu merupakan harta waris, tetapi harta waris sudah tentu merupakan harta tirkah.

Namun, dalam perkembangannya, pemahaman mengenai harta tirkah dan harta warisan mengalami pergeseran. Harta warisan disebut juga harta peninggalan (tirkah) yang dapat dibagi kepada ahli waris setelah harta keseluruhan pewaris dipisahkan dari harta suami-isteri dan harta pusaka, harta bawaan yang tidak boleh dimiliki, dikurangi hutang-hutang dan wasiat.60 Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa semua harta yang ditinggalkan orang yang meninggal disebut dengan harta keseluruhan, bukan harta tirkah (harta peninggalan) sebagaimana dapat dilihat dari dua defenisi harta tirkah (harta peninggalan) pada masa sebelumnya. Dalam bukunya, Otje Salman juga telah mendefenisikan harta tirkah yaitu harta warisan dan akan diberikan terhadap para ahli waris dari orang yang meninggal dunia tersebut. Harta tirkah merupakan harta peninggalan sesudah dikurangi biaya penguburan, utang dan wasiat.61

Demikian pula Wirdjono Prodjodikoro mempersamakan harta warisan sebagai harta tirkah (harta peninggalan) dan mendefenisikannya sebagai sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih.

Sejumlah harta dalam keadaan bersih maksudnya adalah bahwa harta

60Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), hlm.47

61Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT.Refika Aditama,2006), hlm.19

40

peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris merupakan sejumlah harta benda serta segala hak setelah dikurangi dengan pembayaran hutang-hutang dan pembayaran lainnya yang diakibatkan oleh kematian si pewaris62.

c. Ahli waris

Muhammad Amin Summa, mendefinisikan ahali waris adalah orang yang bernisbah (memiliki akases hubungan) kepada si mayit karena ada salahs atu dari beberapa sebab yang menimbulkan kewarisan63

Ahli waris adalah orng yang mempunyai hak harta warisan yang dtinggalkan oleh seorang yang telah meninggal dunia. Kemudian orang yang mempunyai hak sebagai ahli waris dalam hukum Islam ada empat faktor utama, yaitu 64:

(1) Adanya perkawinan, suami ahli waris istri sebaliknya istri ahli waris suami;

(2) Adanya nasab atau hubungan darah;

(3) Wala’ orang yang telah memerdekakan budak, dan tidak meninggalkan ahli warisnya;

(4) Hubungan secara Islam, orang Islam yang meninggal dunia tidak meninggalkan ahli waris, dan harta warisannya diserahkan kepada baitul mal untuk kepentingan umat Islam.

Adapun faktor yang menyebabkan hubungan kewarisan adalah adanya hubungan darah atau kekerabatan dan adanya hubungan perkawinan hubungan ditentukan pada saat terjadinya peristiwa kelahiran.65 Hubungan darah sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an Surat An-Nisa ayat 11-12 dan 176.

Selain hubungan kekerabatan, adanya hubungan kewarisan juga disebabkan

62 Mahmud Yunus Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), hlm. 5.

63 Muhamad Amin Summa, Hukum Kewarisan Islam di Dunia Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafino Persada, 2002), hlm. 113.

64 Achmad azhar basyir, Hukum Adat Bagi Umat Islam, (Jogyakarta : Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 1990). hlm.. 56

65 Moh. Muhibuddin Abdul Wahid, Hukum kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 81-84.

41

oleh hubungan perkawinan. Ayat 12 surat an-Nisa’ menyatakan adanya kewarisan suami dan istri. Berlakunya hubungan kewarisan antara suami dan istri didasarkan kepada dua ketentuan. Pertama, bahwa antara keduanya telah berlangsung akad nikah yang sah.66 Ketentuan kedua, bahwa antara suami dan istri masi berlangsung ikatan perkawinan pada saat meninggalnya salah satu pihak.

KHI Pasal 174 mengelompokkan ahli waris kepada dua bagian yaitu karena hubungan darah dank arena hubungan perkawinan. Pengelompokkan model KHI ini yang memang umum berlaku di Indonesia karena di Indonesia tidak mengenal perbudakan (wala,) sedangkan faktor keempat bukan sistem hukum warisan. Dengan demikian dalam pembahasan selanjutnya hanya faktor perkawinan dan faktor nasab atau hubungan darah.

Ahli waris yang disebabkan adanya nasab atau hubungam darah ialah seorang yang mendapatkan hak harta warisan karena adanya hubungan darah dengan pewaris. Baik hubungan darah ke atas, ayah, ibu, hubungan darah ke samping; saudara-saudara terutama hubungan darah ke bawah; anak dan cucu.

Sedangkan hubungan karena perkawinan terdiri dari suami dan istri.

Pengembangan dan pengelompokan ahli waris tidak diatur secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, kemudian para ahli hukum waris Islam di Indonesia muncul suatu pandangan dari Hazairin dengan ijtihadnya berdasarkan kepada latar belakang keaneka ragaman budaya kekerabatan bangsa Indonesia (patrilineal, matrilineal dan bilateral atau parental), menurut beliau hukum warisan yang dikehendaki Al-Qur’an dan as-Sunnah

66 Amir Syarifudin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Isalam Dalam lingkungan Adat Minangkabau, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1984), hlm. 22.

42

adalah sistem hukum warisan bilateral individual atau parental individual.67 Dengan adanya ijtihad dari Hazairin tersebut maka hukum waris Islam di Indonesia berkmbang dengan dua sisten kewarisan yaitu;

1. System kewarisan Patrilinial Syafii

System kewarisan Patrilinial Syafii adalah system kewarisan mengikuti pola dari fiqh salah satu Imam ahlu sunnah yaitu Imam Syafii.

Menurutnya ahli waris dapat digolongkan dalam tiga kelompok yaitu :

a. Ahli waris dzul faraid, b. Ahli waris ashobah c. Ahli waris dzul arham

Ahli waris dzul faraid yaitu ahli waris yang mendapat bagian tertentu yang sudah jelas ada ketentuannya dalam al-qur’an surat an-nisa ayat 11, 12, 33 dan 176. Bagian-bagian tersebut adalah :

1). ½ (setengah)untuk anak perempuan sendiri dan suami apabila istri tidak mempunyai anak,

2). ¼ (seperempat), untuk istri apabila suami tidak mempunyai anak 3). 1/8 (seperdelapan), untuk istri apabila suami mempunyai anak 4). 1/3 (sepertiga), untuk ibu apabila tidak ada anak dan masih ada ayah

5). 2/3 (dua pertiga) untuk anak perempuan yang jumlahnya dua orang atau lebih dan tidak ada anak laki-laki, dan

6). 1/6 (seperenam), untukAyah dan ibu apabila pewaris meninggalkan

Ahli waris ashobah, yaitu ahli waris yang mendapat bagian tidak tertentu

atau mendapat bagian sisa atau mendapat bagian terbuka. Menurut ahlu sunnah Ashobahini terbagi tiga yaitu68;

67 Ibid.

68 Bphn, Op. Cit, hlm. 85.

43

1). Ashobah binafsihi, ahli waris yang menjadi ashobah karena dirinya sendiri atau ahli waris yang tidak bersama kelompok lainnya. kelompok ahli waris ini adalah : (1). Anak laki-laki, (2) Cucu, (3) Saudara kandung, (4) Saudara seayah, dan (5) Paman.

2) ashobah bil-qhoirihi, ahli waris yang menjadi ashobah karena dipengaruhi oleh ahli waris ashobah lainnya. Ashobah bil qhoirihi ini yaitu hanya perempuan yang ditarik oleh anak laki-laki dan Cucu perempuan ditarik oleh saudara kandung atau saudara seayah.

3). Ashabah ma’al ghair ialah ahli waris menjadi ashabah karena bersama sama dengan ahli waris yang lain, seperti saudara bersama-sama anak perempuan. Ashabah ma’al ghairih hanya terbatas pada dua golongan perempuan, yaitu69

a) Saudara perempuan sekandung atau saudara-saudara perempuan sekandung bersama dengan anak perempuan atau anak perempuan dari anak laki-laki.

b) Saudara perempuan seayah atau saudara-saudara perempuan seayah bersama dengan anak perempuan atau anak perempuan dari anak laki-laki, mereka mendapatkan sisa dari peninggalan pembagian sesudah dibagikan kepada golongan dzawil faraidl.

Pewarisan ‘ashabah ma’al ghair didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Abu Musa al-Asy‟ari ketika ditanya tentang seorang anak perempuan, cucu perempuan dan seorang saudara perempuan. Maka ia menjawab: “anak perempuan mendapat separuh dan saudara perempuan separuh.”

Kemudian ia berkata kepada penanya: “pergilah kepada Ibnu Mas‟ud.” Ibnu Mas‟ud ditanya, lalu ia menjawab Kemudian kami mendatangi Abu Musa dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata: “Jangan bertanya kepadaku selama orang alim ini ada di antara kalian.” (HR. Bukhari)70

Ahli waris dzul arham, yaitu ahli waris yang mempunyai

hubungan darah dengan pewaris, tetapi tidak termasuk golongan ahli waris dzawil furudl dan ‘ashabah.71 Menurut Sajuti Thalib72 adalah

71 Ahmad Azhar Basyir , Hukum Waris., (Yogyakarta:UII Press, edisi Revisi 2008), hlm.

39

72 Sajuti Thalib, Op. Cit., hlm. 8.

44

hubungan darah dengan pewaris melalui seorang anggota keluarga perempuan73, ahli waris ini adalah:

(1) Anak dari anak perempuan;

(2) Anak saudara perempuan;

(3) Anak perempuan dari saudara laki-laki;

(4) Anak perempuan dari paman;

(5) Paman seibu;

(6) Saudara laki-laki dari ibu;

(7) Bibi atau saudara perempuan dari ibu;

(8) Saudara bapak yang perempuan;

(9) Bapak dari ibu;

(10) Ibu dari bapak dari ibu; dan ; (11) Anak saudara seibu.

2. System kewarisan bilateral Hazairin, menggolongkan ahli waris sebagai berikut74 :

a. Ahli waris dzul faraid, b. Ahli waris dzul arham,

c. Ahli waris pengganti ( mawali)

Pengertian dzul faraid yang ada di sinii sama persis dengan pengertian dzul faraid yang ada pada system kewarisan Patrilinial syafii;

yaitu ahli waris yang mendapat bagian tertentu sebagaimana yang telah ditetapkan dalam al-qur’an.

Dzul qarabah Pengertian nya ialah ahli waris yang mendapat bagian harta warisan yang tidak tertentu jumlah perolehannya atau bagian sisa.

Dari definisi dan pengertiannya maka dzul qarobah ini sama dengan ashabah menurut golongan Ahli Sunni.

Mawali adalah ahli waris pengganti, yaitu kedudukan ahli waris

Mawali adalah ahli waris pengganti, yaitu kedudukan ahli waris

Dokumen terkait