BAB I. PENDAHULUAN
G. Tinjauan Pustaka
Diana Zuhroh, dalam Jurnal al-Ahkam menuliskan hasil penelitiannya tentang Konsep ahli waris dan ahli waris pengganti (Studi Putusan Hakim Pangadilan Agama) tahun 2017. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana hakim hakim PA menyadari dan memahami keberadaan masalah yang tertuang dalam KHI serta bagaimana implikasinya terhadap putusan-putusan mereka. Dari hasil penelitiannya Diana menemukan bahwa tidak semua hakim menyadari akan masalah-masalah yang ada KHI. Hal ini bermula dari kurang fahamnya para hakim akan pengertian ‘ahli waris’ Menurutnya bahwa pengertian ahli waris yang dimuat dalam KHI Pasal 171 c berbeda dengan pengertian ahli waris dalam kitab-kitab fiqh pada umumnya.41
Menurut kitab fiqh yang disebut dengan ahli waris adalah orang yang masih hidup ketika si pewaris meninggal dunia. Sedangkan dalam KHI yang
39 Ibid., hlm. 32.
40 Ibid.
41 Diana Zuhroh. “Konsep Ahli Waris dan Ahli Waris Pengganti: Studi Putusan Hakim Pengadilan Agama”. Dalam Al-Ahkam, (Volume 27 (1), April 2017): 43-58.
20
disebut ahli waris adalah orang yang pada saat meninggalnya mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris. Pengertian ahli waris yang terdapat dalam KHI membuka peluang adanya ahli waris pengganti sebagaimana diatur dalam Pasal 185 dan 186 KHI. Dengan kondisi yang demikian maka amar putusan Hakim melahirkan pertimbangan hukum yang tidak tepat meskipun diktum putusannya secara materiil benar namun secara metodologis tidak bias dipertanggungjawabkan, dan dalam konteks tertentu dapat merugikan salah satu pihak yang berperkara.42
Akhmad Sukris Sarmadi dari IAIN Antasari Banjarmasin, dalam jurnal Al- manahij tahun 2013 melakukan penelitian dengan judul Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI dalam perspektif Maqoshid Al-Syariah mempersoalkan apakah ketentuan Pasal 185 KHI bertentangan dengan hukum Allah, dan hanya merupakan pemikiran hazairin yang ditafsirkan menurut Hukum adat (teori receptie) dengan mengadopsi sistem penggantian yang ada di BW. Berdasarkan kajian maqoshid al-syariah maka peneliti menyimpulkan bahwa ahli waris pengganti dapat diterima keberadaannya dalam hukum Islam. Hal itu dapat dibuktikan bahwa memenuhi unsur normatif dan dasar nash al-Qur’an sebagaimana diatur dalam QS. 4: 7,8,9, 11,12 dan 176 yang bertujuan kemaslahatan para ahli waris. Selain itu ahli waris pengganti merupakan model hukum yang sempurna untuk memahami kemaslahatan hukum dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan bersesuaian dengan hukum adat maupun BW yang dipositifkan di Indonesia.43
42 Ibid.
43 Akhmad Sukris Sarmadi. “Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI Dalam Perspektif Maqasid Al-Syariah”. Dalam Al-manahij (Volume VII No.1, Januari 2013):65-76.
21
Ahmad Zahari dalam jurnal Dinamika Hukum melakukan penelitian dengan judul Telaah Terhadap Pembatasan Lingkup Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI oleh Rakernas Mahkamah Agung RI di Balikpapan 2010 membahas: 44
1. mengenai siapa saja yang dapat menjadi ahli waris pengganti menurut Pasal 185 KHI, sebelum dan setelah adanya pembatasan oleh Rakernas Mahkamah Agung RI di Balikpapan Oktober 2010, dan bagaimana kedudukan dan hak warisnya;
2. bagaimana kedudukan dan hak waris serta pengaturan hukum kerabat selain cucu setelah dilakukannya pembatasan terhadap ahli waris pengganti Pasal 185 KHI
3. Apa tujuan pembatasan ahli waris pengganti dilakukan;
4. problema hukum apa yang dapat terjadi dari pembatasan lingkup ahli waris pengganti?
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pertama Pihak yang dapat menjadi ahli waris pengganti menurut Pasal 185 KHI, sebelumnya adalah:
cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak laki-laki, cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan saudara laki-laki, anak laki-laki dan anak perempuan saudara perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan paman, dan keturunan dari ahli waris pengganti ahli waris pengganti tersebut.45
Kedua, kedudukan mereka bersifat pasti, penuh dan menyeluruh, selama tidak terhalang menurut Pasal 173 KHI. Setelah adanya pembatasan oleh Rakernas Makamah Agung RI dengan jajaran Pengadilan Tingkat Banding empat lingkungan Peradilan seluruh Indonesia di Balikpapan 10 s.d. 14 Oktober 2010, yang dapat menjadi ahli waris pengganti hanya cucu
44 Ahmad Zahari. “Telaah Pembatasan Lingkup Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI Oleh Rakernas Mahkamah Agung RI di Balikpapan Oktober 2010”. Dalam Dinamika Hukum (Volume 14 No. 2, Mei 2014): 324-339.
45 Ibid.
22
saja, yaitu cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak laki-laki, serta cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak perempuan. Kerabat (ahli waris pengganti) selain cucu, disamping kedudukan dan hak warisnya tidak berkepastian, pengaturan hukumnya juga menjadi tidak jelas.46
Ketiga, tidak ada urgensi yang cukup memadai, yang dapat dijadikan daya dorong dilakukannya pembatasan, kecuali sekedar upaya untuk lebih mendekatkan lagi hukum kewarisan KHI dengan doktrin hukum kewarisan Syafi`ì khususnya dan Ahlussunnah wal Jamaah umumnya yang diskriminatif.47
Keempat, problema hukum yang dapat timbul akibat pembatasan ahli waris pengganti adalah penyelesaian kasusnya pertama sejalan dengan doktrin Syfi`i dan Ahlussunnah wal jamaah yang diskriminatif, namun tidak sejalan dengan jiwa Al-Quran yang tidak mengenal diskriminasi, lebih mengutamakan baitulmal daripada kerabat pewaris, sehingga bertentangan dengan Al-Qur- an surat Al-Anfal ayat 75 dan Al-Ahzab ayat 6, dan tidak sejalan dengan semangat pembaharuan yang dibawa oleh KHI dan jiwa Al-Quran surat An-Nisa ayat 7.48
46 Ibid.
47 Ibid
48 Ibid
23 BAB II
TEORI TENTANG HUKUM KEWARISAN ISLAM DAN AHLI WARIS PENGGANTI
A. Pengantar
Kewarisan Islam diambil dari nilai-nilai agama Islam yang kemudian dijadikan sistem kehidupan untuk mengatur hubungan antar manusia. Hukum kewarisan Islam termasuk dalam bidang muamalah ahwal syahsiyah (hukum keluarga), yang berasas kemanfaatan, bersifat bijaksana dan sesuai dengan fitrah manusia. Diciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang berbeda kondisi fitrahnya (perempuan: mentruasi, mengandung, melahirkan, menyusui) mengakibatkan perbedaan fungsi dan tugasnya yang berakibat pula pada perbedaan bagian warisan. Berbeda hak karena berbeda fungsi dan peran.
Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka system hukum kewarisan Islam menjadi salah satu system hukum yang berlaku di Indonesia. Namun ketentuan mengenai Kewarisan Islam belum mempunyai peraturan yang mengikat untuk semua warga Negara muslim di Indonesia.
Saat ini aturannya baru dalam bentuk Inpres, yaitu Inpres No…….tentang Kompilasi Hukum Islam. Secara peraturan perundang-undangan, Inpres tidaklah mengikat, namun hanya sebagai pegangan Hakim di Pengadilan Agama. Walaupun demikian, keputusan Hakim di Pengadilan agama lebih banyak mengacu kepada Kompilasi Hukum Islam tersebut.
Secara keilmuan, terdapat dua faham (mazhab) tentang hukum kewarisan Islam yang berkembang di Indonesia, yaitu system kewarisan Syafi’I dan system kewarisan Hazairin. System kewarisan Syafi’I sering kali dianggap mengikuti pola Patrilinial bangsa Arab dimana al-Qur’an turun. Sedangkan system kewarisan Hazairin seringkali dianggap mengikuti pola bilateral, sehingga seringkali disebut dengan Bilateral Hazairin.
24
Pola Patrilinial yang disematkan pada Syafi’I diinterpretasikan dari bagian laki-laki yang mendapat dua kali bagian perempuan. Sedangkan pola bilateral yang difahami oleh Hazairin merujuk pada al-Qur’an S.4 : 23 yang artinya sebagai berikut :
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan;
anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Berdararkan ayat tersebut, Al-Quran memberikan ketentuan garis hukum bahwa perkawinan yang dilarang pada garis laki-laki (saudara-saudara bapakmu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki), dilarang pula pada garis perempuan (saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan). Oleh sebab itu Hazairin berpendapat bahwa al-Qur’an adalah Bilateral49.
Untuk membahas tentang Hukum Kewarisan Islam maka terlebih dahulu harus dipahami dasar hukum, asas dan unsur-unsur yang terdapat dalam hukum kewarisan Islam.
B. Dasar Hukum Kewarisan Islam
Al-Qur’an dan Hadis dijadikan sebagai dasar dan sumber hukum Islam. Dalam Al-Qur’an S. 4 : 59 Allah berfirman; “H ai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu……….”.
49 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral menurt Qur’anj dan Hadits, (Jakarta : Tintamas, 1982), hlm. 83.
25
Ayat tersebut mengandung makna bahwa setiap Muslim wajib menaati (mengikuti) kemauan atau kehendak Allah, kehendak rasul, dan kehendal ulil amri yakni orang yang mempunyai kekuasaan atau “penguasa”. Kehendak Allah berupa ketetapan tertulis dalam Al-Qur’an, kehendak rasul berupa sunnah terhimpun dalam kitab-kitab hadis, kehendak penguasa dimuat dalam peraturan perundang-undnagan atau dalam hasil karya orang yang memenuhi syarat untuk berijtihad karena mempunyai “kekuasaan” berupa ilmu pengetahuan untuk mengalirkan (ajaran) hukum Islam dari dua sumber utamanya yakni Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis yang memuat sunnah Nabi Muhammad.50
a. Al-Qur’an
Pembicaraan mengenai ayat-ayat kewarisan dalam al-Qur’an, maka terdapat dua kelompok ayat yang mengatur tentang kewarisan; yaitu ayat yang langsung menjelaskan mengenai pembagian harta warisan dan ayat-ayat yang tidak langsung menjelaskan mengenai pembagian harta warisan.
Ayat-ayat yang langsung mengatur tentang pembagian harta warisan yaitu terdapat pada ayat-ayat berikut ini :
1) Surat An-Nisaa’ ayat 7
Surat ini mengatur penegasan bahwa laki-laki dan perempuan dapat mewaris yaitu: bagi laki-laki ada bagian warisan dari apa yang ditinggalkan ibu bapaknya dan aqrabun (kerabat dekat), dan bagi perempuan ada bagian warisan dari apa yang ditinggalkan ibu bapaknya dan aqrabun.
50 Mohammad Daud Ali, Op. Cit., hlm. 73.
26
2) Surat An-Nisaa’ ayat 11
Surat ini mengatur perolehan anak dengan tiga garis hukum, perolehan ibu dan bapak dengan tiga garis hukum, serta soal wasiat dan utang.
3) Surat An-Nisaa’ ayat 12
Surat ini mengatur perolehan duda dengan sua garis hukum, soal wasiat dan utang. Perolehan janda dnegan dua garis hukum, soal wasiat dan utang, dan perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah dengan dua garis hukum, soal wasiat dan utang.
4) Surat An-Nisaa’ ayat 33
Surat ini mengatur mengenai mawali (ahli waris pengganti) yang mendapat harta peninggalan dari bu bapaknya, mengenai mawali yang mendapat harta peninggalan dari aqrabun-nya, mengenai mawali yang mendapat harta peninggalan dari tolan seperjanjiannya, dan perintah agar pembagian bagian tersebut dilaksanakan.
5) Surat An-Nisaa’ ayat 176
Surat ini menerangkan mengenai arti kalalah dan mengatur mengenai perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah.
Selanjutnya, beberapa ayat lain yang berkenaan dengan perihal hukum kewarisan secara tidak langsung adalah sebagai berikut51:
1) Surat An-Nisaa’ ayat 1 yang berkenaan dengan arham (hubungan darah) yang dalam terjemahannya berbunyi: “Wahai manusia!
Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri
51 Sayuti Thalib, Op. Cit, hlm. 51-53.
27
yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (perliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
2) Surat An-Nisaa’ ayat 8 yang menjelaskan tentang ulul qurba diberi rezeki dari harta peninggalan, yang dalam terjemahannya berbunyi:
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
3) Surat Al-Baqarah ayat 180 yang menjelaskan tentang diwajibkannya seseorang yang hendak meninggal berwasiat kepada ibu, bapak, dan aqrabun-nya, yang dalam terjemahannya berbunyi: “Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika ia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”
4) Al-Baqarah ayat 233, yang menjelaskan tentang tanggung jawab ahli waris yang dalam terjemahannya berbunyi: “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurnya. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya.
28
Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
5) Surat Al-Baqarah ayat 240, yang menjelaskan tentang perintah berwasiat untuk isteri yang dalam terjemahannya berbunyi: “Dan orang-orang yang akan mati di antara kamu dan meninggalkan isteri-isteri, hendaklah membuat wasiat untuk isteri-isterinya (yaitu) nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah). Akan tetapi, jika mereka keluar (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (mengenai apa) yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri dalam hal-hal yang baik. Allah Maha Perkasa, Mmaha Bijaksana.”
6) Surat Al-Anfal ayat 75, yang menjelaskan tentang pengertian ulul arham yang lebih dekat, yang dalam terjemahannya berbunyi: “Dan orang-orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
7) Surat Al-Ahzab ayat 6, yang menjelaskan tentang pengertian ulul arham yang lebih dekat, yang dalam terjemahannya berbunyi: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri
29
dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kita (Allah).”
8) Surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5 yang menjelaskan tentang anak angkat yang dalam terjemahannya ayat 4 berbunyi: “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya, dan Ia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Ia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Ia menunjukkan jalan (yang benar)”. Ayat 5 berbunyi, “panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
b. Sunnah/Hadits
Sumber hukum yang kedua adalah sunnah atau hadits. Dalam bidang hukum kewarisan Islam, hubungan al-qur’an dan sunnah atau hadits
30
mempunyai tiga fungsi; pertama sebagai penguat al-qur’an, kedua sebagai penjelas al-qur’an dan ketiga sebagai membentuk hukum yang baru yang tidak ada dalam al-qur’an.52
Hadits sebagai penguat al-qur’an dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim yang intinya adalah sebagai berikut;
“Berikan faraa’id bagian yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an kepada yang berhak menerimanya dan selebihnya berikanlah kepada keluarga laki-laki yang terdekat”.
Hadits sebagai penjelasan Al-Qur’an, yaitu Sunnah Rasulullah SAW tentang batasan wasiat hanya sepertiga dari harta warisan, dan merupakan penjelasan dari ayat 180 dan 240 Surat Al-Baqarah. Dimana dalam kedua ayat tersebut tidak dijelaskan berapa harta warisan diberikan dalam wasiat tersebut. Hadits sebagai membentuk hukum baru, artinya belum ada hukum warisan di dalam Al-Qur’an, misalnya ketentuan hukum antara orang yang berlainan agama, salah satunya beragama Islam, tidak saling mewarisi.
c. Ijtihad
Ijtihad dari segi istilah berarti menggunakan seluruh kemampuan dengan semaksimal mungkin untuk menetapkan masalah hukum. Ijtihad dalam hukum warisan sejak zaman dulu telah dilakukan oleh umat Islam, salah satu ijtihad yang menonjol adalah yang dilakukan golongan Ahli Sunnah. Kemudian di Indonesia ijtihad hukum warisan ini dilakukan oleh
52 Bphn, Laporan Akhir Kompendium Bidang Hukum Waris, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2011, hlm. 58.
31
Hazairin sebagaimana akan dibahas dalam penelitian ini mengenai masalah mawali. Perbedaan pokok diantara Ahlusunnah dan Hazairin adalah pada pemhaman terhadap kedudukan perempuan dalam sistem hukum warisan. Hal ini dikarenakan dasar analisis pengembangan hukum warisan yang diatur dalam Al-Qur’an berbeda. Menurut Ahlu sunnah berdasarkan sistem patrilinel yang menjadi budaya Arab sebelum Islam, sedangkan Hazairin atas dasar sistem bilateral atau parental yang berprinsip kedudukan antara laki-laki dengan perempuan sama.
Di samping adanya perbedaan pandangan para ahli hukum Islam, terdapat pula kesamaan dalam usaha menggali dan merumuskan pengembangan hukum warisan Islam, yang disebut ijmak, baik berlaku secara formal atau tidak formal.Dalam hal ini, Kompilasi Hukum Islam dapat ditempatkan sebagai hasil ijtima Ulama Indonesia tentang kewarisan di Indonesia.
C. Asas Asas Kewarisan Islam
Dalam Hukum Islam dikenal adanya asas umum dan asas khusus. Asas umum adalah asas yang terdapat dalam setiap perbuatan hukum, sedangkan asas khusus adalah asas yang terdapat dalam satu bidang saja. Yang termasuk asas umum adalah asas keadilan, asas kepastian hukum dan asas manfaat.
Sedangkan asas khusus kewarisan islam adalah asas ijbari, asas bilateral, asas individual, asas semata akibat kematian. Dalam penelitian ini dibahas asas yang langsung berkaitan dengan hukum kewarisan yaitu asas khusus.
Yang pertama adalah asas Ijbari. Kata Ijbari mengandung arti paksaan (compulsori) yaitu melakukan sesuatu diluar kehendak sendiri. Asas ijbari ini
32
dapat dilihat dari beberapa segi, yakni dari segi peralihan harta,dari segi jumlah harta yang beralih, dan dari segi kepada siapa harta itu beralih.
Unsur ijbari dari segi cara peralihan mengandung arti bahwa harta orang yang mati itu beralih dengan sendirinya, bukan dialihkan siapa-siapa kecuali oleh Allah SWT. Oleh karena itu kewarisan dalam Islam diartikan dengan peralihan harta bukan pengalihan harta, karena pada peralihan berarti beralih dengan sendirinya sedangkan pada pengalihan adanya usaha seseorang. Asas ijbari dalam peralihan ini dapat dilihat dalam surah An-Nisa ayat 7.
Bentuk Ijbari dari segi jumlah berarti bahwa bagian atau hak ahli waris dalam harta warisan sudah jelas ditentukan oleh Allah, sehingga pewaris maupun ahli waris tidak mempunyai hak untuk menambah atau mengurangi apa yang ditentukan itu. Bentuk ijbari dari segi kepada siapa harta itu beralih berarti bahwa mereka yang berhak atas harta peninggalan itu sudah ditentukan secara pasti, sehingga tidak ada suatu kekuasaan manusiapun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsur ijbari dapat dipahami dari kelompok ahli waris sebagaimana disebutkan Allah dalam surah An-Nisa ayat 11, 12, dan 176.
Kedua asas bilateral. Asas bilateral mengandung arti bahwa harta warisan beralih kepada atau melalui dua arah. Hal ini berarti setiap orang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak garis kerabat yaitu dari pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan dari pihak kerabat garis keturunan perempuan.53
53 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta:Kencana, 2006, hlm. 208-209.
33
Asas ini dapat dilihat dalam surah An-Nisa ayat 7, 11,12, dan 176 yang tegas mengatakan bahwa hak kewarisan dalam seseorang menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal dunia bisa diperoleh dari dua sumber yaitu dari sumber garis keturunan bapak dan bisa juga dari garis keturunan ibunya. Atas dasar tersebut maka peralihan harta pewaris yang dianggap memenuhi rasa keadilan adalah memberikan harta pewaris kepada keluarganya yang paling dekat. Keluarga pewaris yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris adalah keturunannya (furu‟), aswalnya ( kakek ke atas), dan semua ashabah pewaris, tanpa mengesampingkan suami atau istri yang merupakan partner hidup pewaris sekaligus sebagai kongsi dalam mencari kebutuhan hidup bersama.54
Hukum Islam mengajarkan asas kewarisan secara individual dengan arti bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi untuk dimiliki secara perorangan.
Masing-masing ahli waris menerima bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dengan ahli waris lainnya. Keseluruhan harta warisan dapat dinyatakan dengan nilai tertentu yang mungkin dibagi- bagi, kemudian jumlah tersebut dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar bagian
Masing-masing ahli waris menerima bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dengan ahli waris lainnya. Keseluruhan harta warisan dapat dinyatakan dengan nilai tertentu yang mungkin dibagi- bagi, kemudian jumlah tersebut dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar bagian