PENELITIAN INTERNAL DOSEN T.A. GENAP 2018/2019
DISPARITAS PRODUK HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM PERKARA MAWALI
(STUDI KASUS BEBERAPA PUTUSAN DAN PENETAPAN)
TIM PENGUSUL:
Zaitun Abdullah, S.H., M.H.
NIDN: 0014126403 Putri Ayu Maharani, S.H., M.H.
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PANCASILA
Maret 2019
2 DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 2
ABSTRAK ... 4
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 5
B. Permasalahan... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Kerangka Teori... 8
E. Kerangka Konsep ... 14
F. Metode Penelitian... 16
1. Jenis dan Sifat P4enelitian ... 17
2. Jenis Data ... 17
3. Pengolahan Data ... 18
G. Tinjauan Pustaka ... 19
BAB II. TEORI TENTANG HUKUM KEWARISAN ISLAM DAN AHLI WARIS PENGGANTI A. Pengantar ... 23
B. Dasar Hukum Kewarisan Islam ... 24
a. Al-Qur’an ... 25
b. Sunnah/Hadits ... 29
c. Ijtihad ... 30
C. Asas Asas Kewarisan Islam ... 31
3
D. Unsur-unsur Kewarisan ... 35
a. Pewaris ... 35
b. Harta Peninggalan dan Harta Warisan ... 35
c. Ahli waris ... 40
E. Ahli Waris Pengganti (Mawali) ... 46
1. Menurut Bilateral Hazairin ... 46
2. Mawali Menurut Kompilasi Hukum Islam ... 50
BAB III. ANALISIS DIPARITAS PRODUK HAKIM PENGADILAN AGAMA TERHADAP PERKARA MAWALI A. Kasus Posisi ... 55
1. Putusan Nomor 2635/Pdt.G/PA.JS ... 55
2. Penetapan Nomor: 6/Pdt.P/2013/PA.Sgt ... 56
3. Penetapan Nomor 108/Pdt.P/2014/PA.JB ... 57
4. Penetapan Nomor 0044/Pdt.P/2014/PA JS ... 58
5. Putusan Nomor : 1284/Pdt.G/2014/PA.TL ... 60
6. Putusan Nomor 192/Pdt.G/2015/PA.Sgt ... 61
B. Analisis Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Dalam Perkara Mawali ... 63
BAB IV. PENUTUP A. SIMPULAN ... 70
B. SARAN ... 71
4 Abstrak
Kedudukan ahli waris pengganti yang selanjutnya disebut mawali dalam hukum kewarisan Islam terus saja mengalami perdebatan. Hal ini disebabkan aturan mengenai mawali disandarkan pada Q.S 4:33 yang multi interpretasi. Pada KHI yang lebih banyak mengambil pola pikir Hazairin mengakomodir aturan mawali pada Pasal 185. Namun kenyataannya terdapat beberapa perbedaan tajam pemikiran hakim dilihat dari beberapa produk hukum hakim Pengadilan Agama.
Atas dasar hal tersebut menarik untuk diteliti Mengapa terjadinya disparitas produk hakim pengadilan agama pada perkara mawali? Jenis penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan mengumpulkan data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan menganalisis beberapa putusan hakim dan penetapan. Selain itu juga memerlukan tambahan data primer melalui wawancara hakim, dan pengajar hukum waris Islam, sehingga dapat menemukan kebenaran dari fakta yang mutakhir. Hasil penelitian memperlihatkan terjadinya disparitas produk hakim pengadilan agama karena pola pikir hakim sangat terpengaruh oleh berbagai mahzab yang dianut oleh hakim, dan merupakan kebebasan hakim untuk menggunakan dasar hukum Kompilasi Hukum Islam (KHI) atau literatur fiqh yang lainnya. Selain itu batas interpretasi samapai batas manakah mawali hanya sampai cucu, keponakan atau yang lainnya termasuk atau tidak. Setiap hakim yang memutus perkara mawali akan lebih mempertimbangkan aspek maslahah dari masing-masing pihak yang berpekara dengan bersandarkan kepada aspek yuridis, sosiologi, filosofis dan psikologis. saran dari peneliti yaitu KHI diharapakan, dirubah dan dapat menjadi bagian dari hukum positif yaitu memasukkan konsep mawali ke dalam peraturan-perundangan yang sifatnya lebih mengikat seperti Peraturan Mahkamah Agung atau peraturan lainnya.
5 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum Islam merupakan salah satu sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Keberlakuan Hukum Islam dapat terlaksana melalui beberapa jalan atau cara pendekatan, salah satunya dengan Pendekatan Peradilan (Judicative Approach). Peradilan Agama di Indonesia lahir atas dasar tuntutan kepentingan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, agar ada tempat bagi umat Islam Indonesia dapat menyelesaikan masalahnya secara legal dan sesuai kepercayaannya melalui institusi Negara sesuai sumber hukumnya.
Menurut Harun Nasution:1
Sumber Hukum Islam adalah al-Qur’an dan al hadist. Karena tidak semua pengaturan di dalam al-Quran dan al-hadist terperinci akhirnya dibutuhkan penafsiran dan pemahaman lebih dalam mengenai pengaturan hukum Islam berbentuk Fiqh, agar jelas pelaksanaan aturan dalam al- Quran dan al-hadist dan itupula yang disebut ijtihad2.
Adanya kerancuan pemahaman dan penghayatan masyarakat Islam Indonesia terhadap makna fiqh dan syari’ah telah menjadi indikasi mandegnya penegakkan hukum Islam di Indonesia. Kerancuan itu tidak terbatas kepada masyarakat awam, tetapi meliputi kalangan ulama dan lingkungan pendidikan
1 Harun Nasution, “Ijtihad Sumber Ketiga Ajaran Islam”, dalam Haidar Bagir (ed.), Ijtihad dalam Sorotan, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 112.
2 Upaya maksimal seorang mujtahid dalam memperoleh pengetahuan tentang hukum- hukum syara’
6
serta perguruan tinggi Islam, dan praktisi. Mereka, menurut Yahya Harahap selalu mengidentikan “fiqh” dengan “syari’ah”.3
Hal ini tidak terlepas dari pengaruh adanya beberapa penafsiran yang dihasilkan beberapa ahli fiqh yang berbeda-beda, seperti kita ketahui bersama adanya Madzhab Syafi’i, Madzhab Hambali, Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki. Dapat kita ambil contoh, menurut kalangan Madzhab Maliki mahar masuk sebagai rukun dalam perkawinan sementara menurut Madzhab syafi’i mahar tidak termasuk rukun. Pada pemikiran kalangan penganut Madzhab Hanafi perkawinan tanpa walipun sah, namun menurut kalangan syafi’iah sahnya perkawinan itu harus disertakan dengan adanya wali.4
Adanya beberapa perbedaan pemahaman yang disebabkan perbedaan madzhab tersebut berimbas pada rekruitmen Hakim Pengadilan Agama yang menganut bermacam-macam Madzhab. Jadi sebelum adanya Kompilasi Hukum Islam, Hakim di Pengadilan Agama memutus perkara hukum keluarga sesuai dengan Madzhab yang mereka anut masing-masing, hal inilah yang merupakan titik tolak munculnya disparitas putusan Hakim yang tajam.
Pada tahun 1991, terbitlah Instruksi Pressiden No. 1 tahun 1991 (Inpres No. 1 tahun 1991) tentang Kompilasi Hukum Islam . Sejak kelahiran Kompilasi Hukum Islam, keberadaan hukum Islam di bidang perdata menjadi terangkat derajatnya terutama dibidang perkawinan, hibah, wasiat, wakaf dan warisan. Lahirnya Kompilasi Hukum Islam bertujuan untuk menyingkirkan
3 Yahya Harahap, Informasi Materi Kompilasi Hukum Islam : Upaya mempositifkan hukum Islam dalam “Berbagai Pandangan terhadap Kompilasi Hukum Islam ”, Ditbinbapera (ed.).
(Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 1993), hlm. 160.
4 Irfan “Wali Nikah Dalam Pandangan Mazhab Hanafi Dan Syafi’i Dan Relevansinya dengan UU. No. 1 tahun 1974”, Al-Risalah, Vol.15 Nomor 2 Nopember 2015. Makasar: Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar. hlm. 211.
7
paham private Affair dalam badan Peradilan agama yang akan menimbulkan disparitas hukum yang tajam sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum, menyamakan persepsi terhadap penerapan hukum Islam dan mempercepat keserasian pemikiran antar umat Islam di Indonesia. Kecenderungan lain adalah adanya tuduhan bahwa Kompilasi Hukum Islam sebagai penyebab pemecah belah kesatuan umat Islam, sebagai alat pelenyap madzhab.5
Ternyata dengan kehadiran KHI saja bahkan tidak cukup untuk menyamakan pandangan hakim pengadilan agama dalam memutus perkara mawali. Mawali atau ahli waris pengganti adalah salah satu status ahli waris yang tidak disepakati keberadaanya oleh sebagian besar mazhab kewarisan Islam. Hal itu terjadi karena konsep mawali adalah konsep ijtihadiyah. Di Indonesia berkembang dua mazhab kewarisan Islam yaitu “mazhab Patrilinial Syafi’i dan mazhab Bilateral Hazairin. Mazhab Bilateral Hazairin mengenal adanya ahli waris pengganti atau mawali, sedangkan mazhab Patrilinial Syafi’i tidak mengenal adanya ahli waris pengganti atau mawali.
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menjadi pegangan para hakim di Pengadilan Agama, dalam Pasal 185 dan 186 mengatur mengenai ahli waris pengganti. Namun dalam pasal tersebut juga tidak jelas dalam garis manakah ahli waris pengganti dapat diberlakukan; apakah garis lurus ke bawah saja (cucu), atau juga berlaku untuk garis ke samping dalam kondidi pewaris kalalah (keponakan) atau dapat berlaku juga untuk garis lurus ke atas
5Agus Yunih, Tesis : “Paradigma Pergeseran Pola Pikir Hakim Peradilan Agama Pasca Lahirnya KHI” (UIN: Imam Bonjol Padang, 2000) yang mengambil teori Gustave E. von Grunebaum, Islam Kesatuan dan Keragaman, Pemikiran seperti ini juga dianut dalam siatem hukum common law “common law system” dimana undang-undang dimenangkan secara kaku terhadap yurisprudensi, dan tidak bisa diganggu gugat. Yahya Harahap, Kekuasaan Kehakiman yang Bebas dan Tidak Terikat, Diktat Kuliah Program Pendidikan Calon Hakim Tahun 1992 di Jakarta, hal.. 63-64
8
(kakek atau nenek). Dengan demikian dalam praktiknya tidak semua hakim di Pengadilan Agama mau menggunakan pasal mengenai ahli waris pengganti tersebut dan atau juga tidak sepakat tentang siapa sajakah yang dapat menjadi ahli waris pengganti. Dengan demikian maka terdapat perbedaan pendapat tentang keberadaan ahli waris pengganti sehingga menimbulkan putusan hakim yang berbeda.
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan, yaitu: Mengapa terjadinya disparitas produk hakim Pengadilan Agama dalam memutus perkara-perkara mawali?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui sebab terjadinya disparitas produk hakim Pengadilan Agama dalam memutus perkara-perkara mawali.
D. Kerangka Teori
Maslahat atau maslahah secara etimologi berarti kebaikan atau faidah.
Maslahah, adalah bentuk tunggal dari masalih (jamak) yang secara bahasa berarti manfaat, baik, faedah, kebaikan, kegunaan6. Lawan katanya adalah al- mafsadah yaitu sesuatu yang banyak keburukannya. Secara terminologi, al- Gazali yang lebih banyak memberikan penjelasan dibanding dengan Imam
6Jasser Auda menyebutnya dengan interest, good, benefit, utility. Dalam Maqasid Al- Syariah as Philosophy of Islamic Law, A Systems Approach (London, The International Institute of Islamic Thought, 2008), hlm.120. Hal ini juga senada dengan pendapat Mohammad Hashim Kamali, Principles of Islamic Jurisprudence, (Kuala Lumpur: Ilmiah Publisher Sdn., 1998), hlm.
267.
9
Haramain al Juwaini dan Abul-Husayn al-Basri. Al Ghazali memberi definisi maslahah sebagaimana dikutip dalam Shatibi’s Philosophy of Islamic Law sebagai berikut :
In its essential meaning (aslan) it (maslaha) is an expression for seeking something useful (manfa’a) or removing something harmful (madarra). But this is not we mean, because seeking utility and removing harm are the purposes (maqashid) at which the creation (khalaq) aims and the goodness (salah) of creation (mandkind) consists in realizing their goals (maqasid). What we mean by maslaha is the preservation of the maqsud (objective) of the law (shar’) which consists of five things : preservation of religion, of life, of reason, of descendents and of property. What assures the preservation of these five principles (usul) is maslaha and whatever fails to preserve them is mafsada and its removal is maslaha.7
Dengan konsep maslahah ini pula syariah senantiasa memiliki relevansi dengan konteks zamannya sehingga tetap up to date digunakan di segala zaman, shahih likulli zaman wa makan.
Dalam Theories of Islamic Law, Nyazee mengatakan bahwa maslahah dapat diaplikasikan sebagai alas dasar ketetapan hukum, dan maslahah ini dapat dijadikan dasar berfikir ketika memperluas ketetapan hukum kepada kasus-kasus baru. Inilah yang merupakan basis doktrin maslahah8.
Secara terminologi, beberapa cendekiawan memberikan rumusan yang beragam tetapi mempunyai makna yang hampir sama. Al-Syatibi mengemukakan definisi al-maslahah: “sesuatu yang dipahami untuk memeliharanya sebagai suatu hak hamba dalam bentuk meraih kemaslahatan
7Muhammad Khalid Masud, Shatibi’s Philosophy of Islamic Law, (Malaysia; Islamic Book Trust, 2000), hlm.139.
8Imran Ahsan Khan Nyazee, Theorie of Islamic Law: The Methodology of Ijtihad, (New Delhi: Adam Publishers& Distribution, 1996), hlm. 236-237.
10
dan menolak kemafsadatan yang untuk mengetahuinya tidak didasarkan pada akal semata”.9
Al-Gazali menjelaskan tentang maslahah yaitu,
pada dasarnya maslahah adalah suatu yang mendatangkan manfaat (keuntungan) dan menjauhi kemudaratan (kerugian). Namun menurut Ghazali hakikat dari maslahah adalah memelihara tujuan syara’.
Tujuan syara’ dimaksud adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.10
Al-Khawarizmi menyatakan maslahah adalah memelihara tujuan hukum Islam dengan menolak bencana/kerusakan/hal-hal yang merugikan manusia.11
Dari situ dapat dibedakan antara pengertian maslahah secara umum dan maslahah secara syar’i. Maslahah syar’i adalah maslahah yang bersandar kepada hukum syara’ sedangkan maslahah umum adalah maslahah sekedar pemenuhan kebutuhan manusia dan karenanya mengandung hawa nafsu.12 Sedangkan menurut Abdul Wahab Khallaf mengartikan maslahah mursalah adalah suatu maslahah (kebaikan) yang tidak disyariatkan hukumnya untuk mewujudkan maslahah itu dan juga tidak terdapat dalil yang menunjukkan atas pengakuannya atau pembatalannya.13
Konsep maslahah ternyata tidak statis tetapi lebih mengikuti perkembangan zaman, Muhammad Maslehuddin menyatakan bahwa konsep maslahah harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan realitas sosial yang terus berubah sehingga hukum Islam terlihat sejalan dengan
9Ibid.
10Kutbuddin Aibak, “Al-Maslahah Al-Mursalah Sebagai Penalaran Istishlahi Dalam Upaya Penerapan Maqashid Asy-Syariah”, Jurnal Ahkam Volume 11, Nomor 1 Juli 2009. hlm. 20.
11Mahmuzar, “Maslahah Mursalah Suatu Metode Istimbath Hukum”, artikel pdf, hlm. 6- 7.
12Kutbuddin Aibak, Log. Cit., hlm. 22.
13Abd. Wahab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam (Ilmu Uhul Fiqh). (Jakarta:
Radjawali Pers. 1993), hlm .126.
11
perubahan masyarakat dan flexibilitasnya terjaga.14 Dengan demikian dapat menumbuhkan keputusan-keputusan hukum Islam yang kontekstual sesuai dengan konsep maslahah pada zamannya. Lebih jauh konsep maslahat dapat memberi legitimasi bagi aturan hukum baru dan memberi keluasan bagi mujtahid untuk mengelaborai ketentuan-ketentuan yang tidak ditegaskan dalam Quran dan Hadis.
Konsep maslahah, yang pada intinya menggunakan pendekatan mendahulukan kebaikan menghindari kerugian.15 Tiga persyaratan maslahah untuk dijadikan dasar penetapan hukum, yaitu:16
1. kesejahteraan sejalan dengan kehendak hukum islam dan didukung nash/kejelasan secara umum;
2. kesejahteraan yang bersifat rasional dan pasti sehingga benar-benar menghasilkan kesejahteraan dan menghindarkan kesengsaraan;
dan;
3. kesejahteraan itu menyangkut kepentingan orang banyak bukan individu atau sekelompok kecil tertentu. Melalui pendekatan ini ajaran islam melarang individu mengambil keuntungan yang merugikan kepentingan ekonomi publik.
Pada dasarnya dalam ajaran Islam, termasuk dalam masalah kewarisan, bertujuan untuk mendatangkan kemaslahatan dan sekaligus menolak kemudaratan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kemaslahatan dalam maqashid al-syari‘ah mencakup lima hal pokok (al-ushul al-khamsah), yakni: perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Masing-masing dari lima hal pokok
14Muhammad Maslehuddin, Philosophi of Islamic Law and The Orientalists, (New Delhi:
Markazi Maktaba Islami, 1985). hlm. 160.
15Arvie Johan, “Larangan Monopoli Menurut Hukum Islam Dan Perhatian Yang Sebaiknya Diberikan: Pendekatan Hukum dan Ekonomi”, hlm. 7. Dapat ditelusuri pada H. Said Agil Husin Al-Munawar, “Konsep al-Maslahah sebagai Salah Satu Sumber Perundangan Islam”, Islamiyyat, Vol. 18 & 19, 1998, hlm. 60-61.
16Ibid.
12
tersebut mempunyai peringkat dlaruriyyat (primer, pokok), hajiyyat (sekunder, kebutuhan), dan tahsiniyyat (tersier, keindahan).17
Kemaslahatan yang bingkai dalam maqoshidasy syariah tersebut apabila dimasukkan dalam hukum kewarisan Islam maka dapat dipahami sebagai berikut :
a. Perlindungan terhadap agama. Dengan melaksanakan ketentuan Allah tentang pembagian waris merupakan simbol ketundukan seorang hamba terhadap Tuhannya. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam QS al-Nisa ayat 13, artinya:
“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah.
Orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai- sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar”.
b. Untuk memelihara keutuhan dan kerukunan keluarga. Dengan membagi harta peninggalan dengan sistem kewarisan Islam, diharapkan tidak lagi ada perpecahan antara keluarga dikarenakan memperebutkan bagian-bagiannya. Hal ini secara rinci telah disebutkan dalam al-Qur’an khususnya surat al-Nisa ayat 11 dan 12.
c. Memberi jaminan terhadap ahli waris, dapat hidup berkecukupan, setelah ditinggalkan oleh si pewaris.
d. Untuk memelihara harta, khususnya berkaitan dengan pendistribusian harta. Dengan sistem waris Islam, diharapkan tidak ada penimbunan harta bagi sesorang. Harta dapat didistribusikan secara adil kepada seluruh ahli waris.
17 Pembagian mashlahah dengan tiga katagori: dlaruriyyat, hajiyyat dan tahsiniyyat dalam lima hal pokok tersebut adalah perspektif al-Ghazali dan al-Syatibi. Sedangkan bagi al-Thufi, mashlahah bersifat mutlak, tanpa batas. Kekuatannya berkisar pada katagori: rajih/qawiy dan arjah/aqwa, dan mencakup masalahah dunyawiyyah dan mashlahah ukhrawiyyah.
13
Selain keempat point tersebut yang berkaitan dengan maqoshidu syariahmasih dapat dilihat dari hikmah adanya ketentuan mengenai kewarisan sebagai berikut 18:
a. Islam mendudukkan anak bersamaan dengan orang tua pewaris serentak sebagai ahli waris. Dalam sistem kewarisan di luar Islam, orang tua dimungkinkan mendapat hak warisan kalau pewaris meninggal dengan tidak meninggalkan keturunan. Suami istri mendapat hak saling mewarisi. Hal ini bertentangan dengan tradisi Arab jahiliyah yang menjadikan istri sebagai harta warisan.
b. Memelihara keutuhan keluarga. Pembagian warisan berkaitan langsung dengan harta benda, apabila tidak diberikan berdasarkan ketentuan-ketentuan (rincian bagian) sangat mudah menimbulkan sengketa di antara ahli waris. Hal ini dikarenakan secara fitrah manusia itu sangat senang terhadap harta.
c. Sebagai sarana untuk mencegah kesengsaraan atau kemiskinan ahli waris. Hal ini terlihat bahwa dalam sistem kewarisan Islam memberi bagian sebanyak mungkin kepada ahli waris dan kerabat.Harta warisan bukan saja terhadap anak-anak pewaris, tetapi orang tua, suami-istri, saudarasaudara, cucu bahkan kakek dan nenek.
d. Sebagai sarana pencegahan dari kemungkinan penimbunan harta kekayaaan pada seseorang. Dengan dirincinya aturan tentang pembagian waris, diharapkan tiap ahli waris mendapatkan hak yang semestinya secara proporsional.
Berkaitan dengan masalah mawali yang tidak diatur secara tegas dalam al-qur,an
Secara filosofis bahwa maslahah dirumuskan dalam rangka menyesuaikan antara tektual aturan hukum yang ada dalam wahyu dengan realitas konteks kehidupan umat beragama sehari-hari. Namun, pada tataran substansinya, boleh dibilang bahwa mashlahah adalah suatu kondisi dari upaya mendatangkan sesuatu berdampak positif (manfaat) serta menghindarkan diri dari hal-hal yang berdimensi negatif (madlarat).
Kajian tentang mashlahah ini seringkali digunakan untuk memberikan kepastian akademik bagi penyelesaian perbedaan pendapat yang seringkali
18Sri Lum’atus Sa’adah, Maqashid Al-Syari’ah Dalam Hukum Kewarisan Islam, Fakultas Syari’ah Iain Jemberal dalam Jurnal Ahwal, Vol. 7, No. 1 April 2015.
14
terjadi diantara para ulama dan umaro dalam menetapkan hukum yang tidak ada aturannya secara tegas dalam al-qur’an dan tidak dijumpai pula contoh penyelesaiannya dari sunnah.
Keberadaan konsep mawali dalam system kewarisan bilateral dan KHI termasuk dalam konteks mencari kemaslahatan dan menciptakan keadilan dalam hukum kewarisan islam.
Kaitan konsep mawali dengan konteks mashlahah ini, kemudian memiliki momentum ketika berhadapan dengan gagasan positivasi hukum Islam di Indonesia dalam hal ini KHI. Konsep mawali ini menawarkan performa elastisitas hukumIslam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekalian alam.dengan demikian menunjukkan bahwa hukum islam dapat berlaku bagi semua.
E. Kerangka Konsep
Suatu konsep bukan merupakan gejala yang akan diteliti akan tetapi merupakan suatu abstraksi dari gejala tersebut.19 Dengan demikian, untuk mendapat suatu abstraksi maka perlu dibuat pembatasan-pembatasan istilah.
Adapun pembatasan istilah-istilah yang dimaksudkan dalam penulisan penelitian ini adalah:
1. Disparitas merupakan kata benda yang artinya adalah perbedaan; jarak:
contoh ada -- upah yang diterima oleh para pekerja pabrik itu.20
19Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 1.
20Kamus Besar Bahasa Indonesia, (20 Mei 2019) terdapat pada situs
<https://kbbi.web.id/disparitas>.
15
2. Penetapan adalah keputusan Pengadilan atas perkara permohonan, sedangkan putusan adalah keputusan Pengadilan atas perkara gugatan berdasarkan adanya suatu sengketa. 21
3. Peradilan Agama adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam.22
4. Pengadilan adalah Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama di lingkungan Peradilan Agama.23
5. Hakim adalah Hakim pada Pengadilan Agama dan Hakim pada Pengadilan Tinggi Agama.24
6. Hukum Islam adalah hukum (sekumpulan norma) yang bersumber dan menjadi bagian agama Islam, dengan sumber hukum berasal dari Quran, Hadis dan ijtihad.25
7. Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.26 8. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan
meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.27
21 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, penjelasan Pasal 60.
22 Ibid., Pasal 1 angka 1.
23 Ibid., Pasal 1 angka 2.
24 Ibid., Pasal 1 angka 3.
25 Daud Ali. Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata hukum Islam di Indonesia, (Depok: Rajawali Pers, 2017), hlm, 42.
26 Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, Pasal 171 huruf a.
27 Ibid., Pasal 171 huruf b.
16
9. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.28
10. Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya.29
11. Harta waris adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.30
12. Mawali adalah ahli waris pengganti yang akan menggantikannya (ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pewaris), menerima bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapaknya.31
F. Metode Penelitian
Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis metodologis, dan konsisten melalui analisis kontsruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.32
28 Ibid., Pasal 171 huruf c.
29 Ibid., Pasal 171 huruf d.
30 Ibid., Pasal 171 huruf e.
31 Sajuti Thalib, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 150.
32 Soekanto dan Mamudji, Op. Cit., hlm. 1.
17 1. Jenis dan Sifat Penelitian
Dalam sebuah tulisan ilmiah perlu ditentukan metode yang akan digunanakan untuk menganalisa data yang ada. Dengan demikian, agar tulisan ini menjadi tulisan ilmiah maka perlu ditetapkan metode yang digunakan pada penelitian ini. Jenis metode yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian hukum normatif. “Biasanya, pada penelitian hukum normatif yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder, yang mungkin mencakup bahan hukum primer, sekunder dan tertier”.33
Oleh karenanya, penelitian ini dimulai dengan identifikasi atas kaidah hukum yang telah dirumuskan dalam berbagai peraturan perundang- undangan.34
Dari sudut sifat penelitiannya, penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, atau gejala lain. Maksudnya adalah terutama untuk mempertegas hipotesis agar dapat membantu di dalam memperkuat teori-teori lama, atau di dalam menyusun teori-teori baru.35
2. Jenis Data
Dari sudut jenis datanya, penelitian ini melakukan telaah atas bahan pustaka atau data sekunder.36 Untuk memperoleh data sekunder, digunakan
33 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 2010 ), hlm. 52.
34 Soekanto dan Mamudji, Op.Cit., hlm. 15.
35 Soekanto, Op.Cit., hlm. 10.
36 Ibid., hlm. 12-13.
18
studi dokumen,37 yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengkaji dan menganalisa literatur atau hasil penelitian, dokumen, dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan. Menurut Greg Churchill, data sekunder ini dapat digolongkan menjadi tiga bahan hukum,38 yang dalam penelitian ini akan menggunakan:
a) bahan hukum primer (Penetapan dan Putusan Hakim di Pengadilan Agama).
b) Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat kaitannya dengan hukum primer dan dapat membantu menganalisis serta memahami bahan hukum primer.
c) Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer dan sekunder bahan-bahan yang digunakan untuk melengkapi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder termasuk Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Selain mengunakan data sekunder, akan dilakukan beberapa wawancara baik secara langsung atau tidak langsung (tertulis) kepada responden untuk mendukung data sekunder tersebut.
3. Pengolahan Data
Dalam penelitian ini data yang berhasil dikumpulkan akan dianalisis secara kualitatif, yaitu menjelaskan permasalahan yang ada dengan mengadakan studi kasus, metode pustaka dan wawancara yang pada akhirnya mencapai suatu simpulan yang merupakan jawaban dari tujuan penulisan tesis
37 Ibid., hlm. 21
38 Ibid., hlm. 51-52.
19
ini. Pendekatan kualitatif sebenarnya merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu apa yang dinyatakan responden secara tertulis atau lisan dan perilaku nyata.39 Dengan demikian, maka dengan mempergunakan metode kualitatif, seorang peneliti terutama bertujuan untuk mengerti atau memahami gejala yang ditelitinya,40 dan penelitian ini dituangkan secara analisis yang bertujuan untuk menarik asas-asas hukum tertentu yang terdapat di dalam hukum positif yang berlaku.
G. Tinjauan Pustaka
Diana Zuhroh, dalam Jurnal al-Ahkam menuliskan hasil penelitiannya tentang Konsep ahli waris dan ahli waris pengganti (Studi Putusan Hakim Pangadilan Agama) tahun 2017. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana hakim hakim PA menyadari dan memahami keberadaan masalah yang tertuang dalam KHI serta bagaimana implikasinya terhadap putusan-putusan mereka. Dari hasil penelitiannya Diana menemukan bahwa tidak semua hakim menyadari akan masalah-masalah yang ada KHI. Hal ini bermula dari kurang fahamnya para hakim akan pengertian ‘ahli waris’ Menurutnya bahwa pengertian ahli waris yang dimuat dalam KHI Pasal 171 c berbeda dengan pengertian ahli waris dalam kitab-kitab fiqh pada umumnya.41
Menurut kitab fiqh yang disebut dengan ahli waris adalah orang yang masih hidup ketika si pewaris meninggal dunia. Sedangkan dalam KHI yang
39 Ibid., hlm. 32.
40 Ibid.
41 Diana Zuhroh. “Konsep Ahli Waris dan Ahli Waris Pengganti: Studi Putusan Hakim Pengadilan Agama”. Dalam Al-Ahkam, (Volume 27 (1), April 2017): 43-58.
20
disebut ahli waris adalah orang yang pada saat meninggalnya mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris. Pengertian ahli waris yang terdapat dalam KHI membuka peluang adanya ahli waris pengganti sebagaimana diatur dalam Pasal 185 dan 186 KHI. Dengan kondisi yang demikian maka amar putusan Hakim melahirkan pertimbangan hukum yang tidak tepat meskipun diktum putusannya secara materiil benar namun secara metodologis tidak bias dipertanggungjawabkan, dan dalam konteks tertentu dapat merugikan salah satu pihak yang berperkara.42
Akhmad Sukris Sarmadi dari IAIN Antasari Banjarmasin, dalam jurnal Al- manahij tahun 2013 melakukan penelitian dengan judul Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI dalam perspektif Maqoshid Al-Syariah mempersoalkan apakah ketentuan Pasal 185 KHI bertentangan dengan hukum Allah, dan hanya merupakan pemikiran hazairin yang ditafsirkan menurut Hukum adat (teori receptie) dengan mengadopsi sistem penggantian yang ada di BW. Berdasarkan kajian maqoshid al-syariah maka peneliti menyimpulkan bahwa ahli waris pengganti dapat diterima keberadaannya dalam hukum Islam. Hal itu dapat dibuktikan bahwa memenuhi unsur normatif dan dasar nash al-Qur’an sebagaimana diatur dalam QS. 4: 7,8,9, 11,12 dan 176 yang bertujuan kemaslahatan para ahli waris. Selain itu ahli waris pengganti merupakan model hukum yang sempurna untuk memahami kemaslahatan hukum dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan bersesuaian dengan hukum adat maupun BW yang dipositifkan di Indonesia.43
42 Ibid.
43 Akhmad Sukris Sarmadi. “Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI Dalam Perspektif Maqasid Al-Syariah”. Dalam Al-manahij (Volume VII No.1, Januari 2013):65-76.
21
Ahmad Zahari dalam jurnal Dinamika Hukum melakukan penelitian dengan judul Telaah Terhadap Pembatasan Lingkup Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI oleh Rakernas Mahkamah Agung RI di Balikpapan 2010 membahas: 44
1. mengenai siapa saja yang dapat menjadi ahli waris pengganti menurut Pasal 185 KHI, sebelum dan setelah adanya pembatasan oleh Rakernas Mahkamah Agung RI di Balikpapan Oktober 2010, dan bagaimana kedudukan dan hak warisnya;
2. bagaimana kedudukan dan hak waris serta pengaturan hukum kerabat selain cucu setelah dilakukannya pembatasan terhadap ahli waris pengganti Pasal 185 KHI
3. Apa tujuan pembatasan ahli waris pengganti dilakukan;
4. problema hukum apa yang dapat terjadi dari pembatasan lingkup ahli waris pengganti?
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pertama Pihak yang dapat menjadi ahli waris pengganti menurut Pasal 185 KHI, sebelumnya adalah:
cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak laki-laki, cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan saudara laki-laki, anak laki-laki dan anak perempuan saudara perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan paman, dan keturunan dari ahli waris pengganti ahli waris pengganti tersebut.45
Kedua, kedudukan mereka bersifat pasti, penuh dan menyeluruh, selama tidak terhalang menurut Pasal 173 KHI. Setelah adanya pembatasan oleh Rakernas Makamah Agung RI dengan jajaran Pengadilan Tingkat Banding empat lingkungan Peradilan seluruh Indonesia di Balikpapan 10 s.d. 14 Oktober 2010, yang dapat menjadi ahli waris pengganti hanya cucu
44 Ahmad Zahari. “Telaah Pembatasan Lingkup Ahli Waris Pengganti Pasal 185 KHI Oleh Rakernas Mahkamah Agung RI di Balikpapan Oktober 2010”. Dalam Dinamika Hukum (Volume 14 No. 2, Mei 2014): 324-339.
45 Ibid.
22
saja, yaitu cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak laki-laki, serta cucu laki-laki dan cucu perempuan dari anak perempuan. Kerabat (ahli waris pengganti) selain cucu, disamping kedudukan dan hak warisnya tidak berkepastian, pengaturan hukumnya juga menjadi tidak jelas.46
Ketiga, tidak ada urgensi yang cukup memadai, yang dapat dijadikan daya dorong dilakukannya pembatasan, kecuali sekedar upaya untuk lebih mendekatkan lagi hukum kewarisan KHI dengan doktrin hukum kewarisan Syafi`ì khususnya dan Ahlussunnah wal Jamaah umumnya yang diskriminatif.47
Keempat, problema hukum yang dapat timbul akibat pembatasan ahli waris pengganti adalah penyelesaian kasusnya pertama sejalan dengan doktrin Syfi`i dan Ahlussunnah wal jamaah yang diskriminatif, namun tidak sejalan dengan jiwa Al-Quran yang tidak mengenal diskriminasi, lebih mengutamakan baitulmal daripada kerabat pewaris, sehingga bertentangan dengan Al-Qur- an surat Al-Anfal ayat 75 dan Al-Ahzab ayat 6, dan tidak sejalan dengan semangat pembaharuan yang dibawa oleh KHI dan jiwa Al- Quran surat An-Nisa ayat 7.48
46 Ibid.
47 Ibid
48 Ibid
23 BAB II
TEORI TENTANG HUKUM KEWARISAN ISLAM DAN AHLI WARIS PENGGANTI
A. Pengantar
Kewarisan Islam diambil dari nilai-nilai agama Islam yang kemudian dijadikan sistem kehidupan untuk mengatur hubungan antar manusia. Hukum kewarisan Islam termasuk dalam bidang muamalah ahwal syahsiyah (hukum keluarga), yang berasas kemanfaatan, bersifat bijaksana dan sesuai dengan fitrah manusia. Diciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang berbeda kondisi fitrahnya (perempuan: mentruasi, mengandung, melahirkan, menyusui) mengakibatkan perbedaan fungsi dan tugasnya yang berakibat pula pada perbedaan bagian warisan. Berbeda hak karena berbeda fungsi dan peran.
Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka system hukum kewarisan Islam menjadi salah satu system hukum yang berlaku di Indonesia. Namun ketentuan mengenai Kewarisan Islam belum mempunyai peraturan yang mengikat untuk semua warga Negara muslim di Indonesia.
Saat ini aturannya baru dalam bentuk Inpres, yaitu Inpres No…….tentang Kompilasi Hukum Islam. Secara peraturan perundang-undangan, Inpres tidaklah mengikat, namun hanya sebagai pegangan Hakim di Pengadilan Agama. Walaupun demikian, keputusan Hakim di Pengadilan agama lebih banyak mengacu kepada Kompilasi Hukum Islam tersebut.
Secara keilmuan, terdapat dua faham (mazhab) tentang hukum kewarisan Islam yang berkembang di Indonesia, yaitu system kewarisan Syafi’I dan system kewarisan Hazairin. System kewarisan Syafi’I sering kali dianggap mengikuti pola Patrilinial bangsa Arab dimana al-Qur’an turun. Sedangkan system kewarisan Hazairin seringkali dianggap mengikuti pola bilateral, sehingga seringkali disebut dengan Bilateral Hazairin.
24
Pola Patrilinial yang disematkan pada Syafi’I diinterpretasikan dari bagian laki-laki yang mendapat dua kali bagian perempuan. Sedangkan pola bilateral yang difahami oleh Hazairin merujuk pada al-Qur’an S.4 : 23 yang artinya sebagai berikut :
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan;
anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Berdararkan ayat tersebut, Al-Quran memberikan ketentuan garis hukum bahwa perkawinan yang dilarang pada garis laki-laki (saudara-saudara bapakmu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki), dilarang pula pada garis perempuan (saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan). Oleh sebab itu Hazairin berpendapat bahwa al-Qur’an adalah Bilateral49.
Untuk membahas tentang Hukum Kewarisan Islam maka terlebih dahulu harus dipahami dasar hukum, asas dan unsur-unsur yang terdapat dalam hukum kewarisan Islam.
B. Dasar Hukum Kewarisan Islam
Al-Qur’an dan Hadis dijadikan sebagai dasar dan sumber hukum Islam. Dalam Al-Qur’an S. 4 : 59 Allah berfirman; “H ai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu……….”.
49 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral menurt Qur’anj dan Hadits, (Jakarta : Tintamas, 1982), hlm. 83.
25
Ayat tersebut mengandung makna bahwa setiap Muslim wajib menaati (mengikuti) kemauan atau kehendak Allah, kehendak rasul, dan kehendal ulil amri yakni orang yang mempunyai kekuasaan atau “penguasa”. Kehendak Allah berupa ketetapan tertulis dalam Al-Qur’an, kehendak rasul berupa sunnah terhimpun dalam kitab-kitab hadis, kehendak penguasa dimuat dalam peraturan perundang-undnagan atau dalam hasil karya orang yang memenuhi syarat untuk berijtihad karena mempunyai “kekuasaan” berupa ilmu pengetahuan untuk mengalirkan (ajaran) hukum Islam dari dua sumber utamanya yakni Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis yang memuat sunnah Nabi Muhammad.50
a. Al-Qur’an
Pembicaraan mengenai ayat-ayat kewarisan dalam al-Qur’an, maka terdapat dua kelompok ayat-ayat yang mengatur tentang kewarisan; yaitu ayat- ayat yang langsung menjelaskan mengenai pembagian harta warisan dan ayat- ayat yang tidak langsung menjelaskan mengenai pembagian harta warisan.
Ayat-ayat yang langsung mengatur tentang pembagian harta warisan yaitu terdapat pada ayat-ayat berikut ini :
1) Surat An-Nisaa’ ayat 7
Surat ini mengatur penegasan bahwa laki-laki dan perempuan dapat mewaris yaitu: bagi laki-laki ada bagian warisan dari apa yang ditinggalkan ibu bapaknya dan aqrabun (kerabat dekat), dan bagi perempuan ada bagian warisan dari apa yang ditinggalkan ibu bapaknya dan aqrabun.
50 Mohammad Daud Ali, Op. Cit., hlm. 73.
26
2) Surat An-Nisaa’ ayat 11
Surat ini mengatur perolehan anak dengan tiga garis hukum, perolehan ibu dan bapak dengan tiga garis hukum, serta soal wasiat dan utang.
3) Surat An-Nisaa’ ayat 12
Surat ini mengatur perolehan duda dengan sua garis hukum, soal wasiat dan utang. Perolehan janda dnegan dua garis hukum, soal wasiat dan utang, dan perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah dengan dua garis hukum, soal wasiat dan utang.
4) Surat An-Nisaa’ ayat 33
Surat ini mengatur mengenai mawali (ahli waris pengganti) yang mendapat harta peninggalan dari bu bapaknya, mengenai mawali yang mendapat harta peninggalan dari aqrabun-nya, mengenai mawali yang mendapat harta peninggalan dari tolan seperjanjiannya, dan perintah agar pembagian bagian tersebut dilaksanakan.
5) Surat An-Nisaa’ ayat 176
Surat ini menerangkan mengenai arti kalalah dan mengatur mengenai perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah.
Selanjutnya, beberapa ayat lain yang berkenaan dengan perihal hukum kewarisan secara tidak langsung adalah sebagai berikut51:
1) Surat An-Nisaa’ ayat 1 yang berkenaan dengan arham (hubungan darah) yang dalam terjemahannya berbunyi: “Wahai manusia!
Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri
51 Sayuti Thalib, Op. Cit, hlm. 51-53.
27
yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (perliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
2) Surat An-Nisaa’ ayat 8 yang menjelaskan tentang ulul qurba diberi rezeki dari harta peninggalan, yang dalam terjemahannya berbunyi:
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
3) Surat Al-Baqarah ayat 180 yang menjelaskan tentang diwajibkannya seseorang yang hendak meninggal berwasiat kepada ibu, bapak, dan aqrabun-nya, yang dalam terjemahannya berbunyi: “Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika ia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”
4) Al-Baqarah ayat 233, yang menjelaskan tentang tanggung jawab ahli waris yang dalam terjemahannya berbunyi: “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurnya. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya.
28
Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
5) Surat Al-Baqarah ayat 240, yang menjelaskan tentang perintah berwasiat untuk isteri yang dalam terjemahannya berbunyi: “Dan orang-orang yang akan mati di antara kamu dan meninggalkan isteri- isteri, hendaklah membuat wasiat untuk isteri-isterinya (yaitu) nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah). Akan tetapi, jika mereka keluar (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (mengenai apa) yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri dalam hal-hal yang baik. Allah Maha Perkasa, Mmaha Bijaksana.”
6) Surat Al-Anfal ayat 75, yang menjelaskan tentang pengertian ulul arham yang lebih dekat, yang dalam terjemahannya berbunyi: “Dan orang-orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
7) Surat Al-Ahzab ayat 6, yang menjelaskan tentang pengertian ulul arham yang lebih dekat, yang dalam terjemahannya berbunyi: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri
29
dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris- mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kita (Allah).”
8) Surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5 yang menjelaskan tentang anak angkat yang dalam terjemahannya ayat 4 berbunyi: “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya, dan Ia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Ia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Ia menunjukkan jalan (yang benar)”. Ayat 5 berbunyi, “panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
b. Sunnah/Hadits
Sumber hukum yang kedua adalah sunnah atau hadits. Dalam bidang hukum kewarisan Islam, hubungan al-qur’an dan sunnah atau hadits
30
mempunyai tiga fungsi; pertama sebagai penguat al-qur’an, kedua sebagai penjelas al-qur’an dan ketiga sebagai membentuk hukum yang baru yang tidak ada dalam al-qur’an.52
Hadits sebagai penguat al-qur’an dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim yang intinya adalah sebagai berikut;
“Berikan faraa’id bagian yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an kepada yang berhak menerimanya dan selebihnya berikanlah kepada keluarga laki-laki yang terdekat”.
Hadits sebagai penjelasan Al-Qur’an, yaitu Sunnah Rasulullah SAW tentang batasan wasiat hanya sepertiga dari harta warisan, dan merupakan penjelasan dari ayat 180 dan 240 Surat Al-Baqarah. Dimana dalam kedua ayat tersebut tidak dijelaskan berapa harta warisan diberikan dalam wasiat tersebut. Hadits sebagai membentuk hukum baru, artinya belum ada hukum warisan di dalam Al-Qur’an, misalnya ketentuan hukum antara orang yang berlainan agama, salah satunya beragama Islam, tidak saling mewarisi.
c. Ijtihad
Ijtihad dari segi istilah berarti menggunakan seluruh kemampuan dengan semaksimal mungkin untuk menetapkan masalah hukum. Ijtihad dalam hukum warisan sejak zaman dulu telah dilakukan oleh umat Islam, salah satu ijtihad yang menonjol adalah yang dilakukan golongan Ahli Sunnah. Kemudian di Indonesia ijtihad hukum warisan ini dilakukan oleh
52 Bphn, Laporan Akhir Kompendium Bidang Hukum Waris, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2011, hlm. 58.
31
Hazairin sebagaimana akan dibahas dalam penelitian ini mengenai masalah mawali. Perbedaan pokok diantara Ahlusunnah dan Hazairin adalah pada pemhaman terhadap kedudukan perempuan dalam sistem hukum warisan. Hal ini dikarenakan dasar analisis pengembangan hukum warisan yang diatur dalam Al-Qur’an berbeda. Menurut Ahlu sunnah berdasarkan sistem patrilinel yang menjadi budaya Arab sebelum Islam, sedangkan Hazairin atas dasar sistem bilateral atau parental yang berprinsip kedudukan antara laki-laki dengan perempuan sama.
Di samping adanya perbedaan pandangan para ahli hukum Islam, terdapat pula kesamaan dalam usaha menggali dan merumuskan pengembangan hukum warisan Islam, yang disebut ijmak, baik berlaku secara formal atau tidak formal.Dalam hal ini, Kompilasi Hukum Islam dapat ditempatkan sebagai hasil ijtima Ulama Indonesia tentang kewarisan di Indonesia.
C. Asas Asas Kewarisan Islam
Dalam Hukum Islam dikenal adanya asas umum dan asas khusus. Asas umum adalah asas yang terdapat dalam setiap perbuatan hukum, sedangkan asas khusus adalah asas yang terdapat dalam satu bidang saja. Yang termasuk asas umum adalah asas keadilan, asas kepastian hukum dan asas manfaat.
Sedangkan asas khusus kewarisan islam adalah asas ijbari, asas bilateral, asas individual, asas semata akibat kematian. Dalam penelitian ini dibahas asas yang langsung berkaitan dengan hukum kewarisan yaitu asas khusus.
Yang pertama adalah asas Ijbari. Kata Ijbari mengandung arti paksaan (compulsori) yaitu melakukan sesuatu diluar kehendak sendiri. Asas ijbari ini
32
dapat dilihat dari beberapa segi, yakni dari segi peralihan harta,dari segi jumlah harta yang beralih, dan dari segi kepada siapa harta itu beralih.
Unsur ijbari dari segi cara peralihan mengandung arti bahwa harta orang yang mati itu beralih dengan sendirinya, bukan dialihkan siapa-siapa kecuali oleh Allah SWT. Oleh karena itu kewarisan dalam Islam diartikan dengan peralihan harta bukan pengalihan harta, karena pada peralihan berarti beralih dengan sendirinya sedangkan pada pengalihan adanya usaha seseorang. Asas ijbari dalam peralihan ini dapat dilihat dalam surah An-Nisa ayat 7.
Bentuk Ijbari dari segi jumlah berarti bahwa bagian atau hak ahli waris dalam harta warisan sudah jelas ditentukan oleh Allah, sehingga pewaris maupun ahli waris tidak mempunyai hak untuk menambah atau mengurangi apa yang ditentukan itu. Bentuk ijbari dari segi kepada siapa harta itu beralih berarti bahwa mereka yang berhak atas harta peninggalan itu sudah ditentukan secara pasti, sehingga tidak ada suatu kekuasaan manusiapun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsur ijbari dapat dipahami dari kelompok ahli waris sebagaimana disebutkan Allah dalam surah An-Nisa ayat 11, 12, dan 176.
Kedua asas bilateral. Asas bilateral mengandung arti bahwa harta warisan beralih kepada atau melalui dua arah. Hal ini berarti setiap orang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak garis kerabat yaitu dari pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan dari pihak kerabat garis keturunan perempuan.53
53 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta:Kencana, 2006, hlm. 208-209.
33
Asas ini dapat dilihat dalam surah An-Nisa ayat 7, 11,12, dan 176 yang tegas mengatakan bahwa hak kewarisan dalam seseorang menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal dunia bisa diperoleh dari dua sumber yaitu dari sumber garis keturunan bapak dan bisa juga dari garis keturunan ibunya. Atas dasar tersebut maka peralihan harta pewaris yang dianggap memenuhi rasa keadilan adalah memberikan harta pewaris kepada keluarganya yang paling dekat. Keluarga pewaris yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris adalah keturunannya (furu‟), aswalnya ( kakek ke atas), dan semua ashabah pewaris, tanpa mengesampingkan suami atau istri yang merupakan partner hidup pewaris sekaligus sebagai kongsi dalam mencari kebutuhan hidup bersama.54
Hukum Islam mengajarkan asas kewarisan secara individual dengan arti bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi untuk dimiliki secara perorangan.
Masing-masing ahli waris menerima bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dengan ahli waris lainnya. Keseluruhan harta warisan dapat dinyatakan dengan nilai tertentu yang mungkin dibagi- bagi, kemudian jumlah tersebut dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar bagian masing- masing.55
Setiap ahli waris berhak atas bagian yang didapatnya tanpa tergantung dan terikat dengan ahli waris lainnya. Hal ini didasarkan dalam ketentuan bahwa setiap insan sebagai pribadi mempunyai kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajibannya, yang dalam ushul fiqih disebut ahliyat al-
54 Ibid.
55 Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974, hal. 31. Sebagaimana dikutip oleh Amir Syarifuddin. hlm. 17.
34
wujud. Dalam pengertian ini setiap ahli waris berhak menuntut secara sendiri- sendiri harta warisan itu dan berhak pula untuk tidak berbuat demikian.
Hukum Islam menetapkan bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan menggunakan istilah “kewarisan” hanya berlaku setelah yang mempunyai harta meninggal dunia. Dengan demikian, hukum kewarisan Islam hanya mengenal satu bentuk kewarisan yaitu kewarisan akibat kematian semata atau dalam hukum perdata disebut dengan kewarisan ab intestato dan tidak mengenal kewarisan atas dasar wasiat yang dibuat pada waktu masih hidup yang disebut dengan kewarisan bij testament.
Ketiga asas semata karena kematian. Asas kewarisan akibat kematian ini mempunyai ikatan erat dengan asas ijbari yang disebutkan sebelumnya.
Apabila seseorang telah memenuhi syarat sebagai subjek hukum pada hakikatnya ia dapat bertindak sesuka hatinya terhadap seluruh kekayaannya.
Akan tetapi, kebebasan itu hanya pada waktu ia masih hidup saja. Ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan nasib kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Meskipun seseorang mempunyai kebebasan untuk berwasiat, tetapi terbatas hanya sepertiga dari keseluruhan kekayaannya.56
Keempat adalah Asas Keadilan Berimbang. Asas ini dapat diartikan adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan. Secara dasar dapat dikatakan bahwa faktor perbedaan jenis kelamin tidak menentukan dalam hak kewarisan artinya laki- laki mendapat hak kewarisan begitu pula perempuan mendapat hak kewarisan sebanding dengan yang di dapat oleh laki-laki.
56Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam (Sebagai Pembaruan Hukum di Indonesia), Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hlm. 31.
35 D. Unsur-unsur Kewarisan
Unsur-unsur kewarisan terdiri dari ; adanya pewaris; adanya harta peninggalan dan adanya ahli waris.
a. Pewaris
Pewaris adalah orang yang meninggal dunia, yang hartanya diwarisi oleh ahli warisnya.57 Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf b disebutkan bahwa pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan ada dua bentuk meninggal dunia : pertama, meninggal dunia secara nyata, artinya seseorang meninggal dunia, dapat dibuktikan dengan panca indera atau melalui medis.58
Kedua, meninggal dunia secara yuridis; artinya seseorang dianggap meninggal dunia karena putusan pengadilan, yang dibuktikan dengan putusan hakim. Kemungkinkan orang tersebut masih hidup tetapi disebabkan oleh sesuatu hal tertentu seperti perang, tsunami dan lain-lain, maka orang itu dianggap meninggal dunia. Dengan adanya putusan Pengadilan itu harta pewaris dapat dibagi kepada para ahli warisnya.
b. Harta Peninggalan dan Harta Warisan
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) ada dua jenis harta yang berkaitan dengan kewarisan,yaitu harta peninggalan dan harta warisan. Dalam
57A. Rachmad Budiono, Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 1999, hlm. 9.
58 Bphn., Op.Cit. hlm.70
36
Pasal 171 huruf d menjelaskan tentang harta peninggalan, yaitu “Harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya”. Berdasarkan definisi tersebut, harta peninggalan yang dimaksud adalah harus benar-benar menjadi milik dan atau hak-hak pewaris. Sedangkan harta warisan menurut Pasal 171e adalah “harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat”. Dengan kata lain; harta warisan adalah harta yang sudah bersih, sudah dikurangan dari kewajiban – kewajiban yang harus dilunasi oleh ahli waris; yaitu biaya-biaya perawatan dan pengurusan jenazah pewaris, maupun hutang pewaris kepada pihak ketiga.
Harta bawaan atau disebut juga dengan harta milik masing-masing dari suami dan istri atau harta milik suami atau istri adalah harta yang diperoleh suami atau istri sebelum terjadinya perkawinan yang berasal dari warisan dari kedua ibu-bapak dan kerabat, hibah, hadiah dan harta yang diperoleh dari usaha sendiri. Untuk harta bawaan yang diperoleh dari warisan, hibah, hadia serta sodoqoh dari ibu-bapak dan kerabat mereka masing-masing setelah menikah dan bukan karena usahanya sendiri, tetapi adalah diusahakan setelah mereka bersamasama sebagai suami-istri termasuk harta bawaan. Harta bawaan ini menjadi milik mutlak dari masing-masing suami atau istri dan dikuasai sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta tersebut.
Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 87 ayat (1) dan (2) menjelaskan:
(1) Harta bawaan masing-masing suami dan isteri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah
37
dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.
(2) Suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sodaqah atau lainnya.
Dalam pengelolaan harta bawaan ini tidak dibenarkan adanya percampuran antara harta suami dan harta isteri walaupun telah terjadi perkawinan. Hal ini dijelaskan dalam Kompilasi pasal 86 ayat (1) “Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan.” Oleh karena itu, harta peninggalan yang berbentuk harta bawaan ini tidak ada sangkut paut dengan milik dan hak-hak orang lain kecuali yang bersangkut paut dengan hak pewaris sewaktu hidup dan sebelum dikuburkan.
Harta bersama, menurut Pasal 35 (1) adalah harta yang diperoleh selama masa perkawinan. Apabila terjadi putusnya perkawinan baik karena perceraian atai kematian maka harta bersama dibagi dua antara suami dan istri dengan tidak menghitung siapa yang mencari lebih banyak. Ada kemungkinannya istri tidak berpenghasilan namun hanya membantu suami dalam memelihara anak- anak di rumah, atau istri ikut bersama-sama suami mencari harta untuk menghidupi keluarganya, dan bahkan ada yang sebaliknya isteri yang mencari harta dan suami menggantikan posisi isteri memelihara anak di rumah.
Dengan kenyataan ini, maka perolehan harta dalam satu rumah tangga, tidak dapat dipungkiri bahwa berasal dari perolehan suami dan isteri. Bekerja ini hendaklah diartikan secara luas, hingga seorang isteri yang pekerjaannya tidak nyata-nyata menghasilkan kekayaan, seperti memelihara dan mendidik anak- anaknya, dianggap sudah bekerja. Dan harta kekayaan yang diperoleh secara kongkrit oleh suami menjadi milik bersama. Dalam kenyataan hidup
38
berkeluarga, antara pewaris dan ahli waris tidak menutup kemungkinan terdapat harta peninggalan menjadi milik bersama apakah itu wujudnya harta benda atau hak-hak. Keberadaan harta bersama dalam satu keluarga susah untuk menghindarinya karena hampir semua keluarga yang ada memiliki harta bersama. Suami isteri misalnya, sama-sama berusaha untuk menghidupi keluarganya, istri melayani segala keperluan dan kebutuhan suami untuk dapat memperoleh harta dalam kehidupan rumah tangganya.
Dalam fiqh Islam ada istilah tirkah, yaitu segala sesuatu yang ditinggalkan oleh pewaris baik berupa harta benda dan hak kebendaan atau bukan hak-hak kebendaan. Harta tirkah juga meliputi utang piutang baik yang berkaitan dengan kbendaan seperti gadai atau yang berkaitan dengan kreditur seperti mahar dan lain sebagainya.
Rumusan harta peninggalan dalam KHI Pasal 171 d, mirip dengan rumusan harta tirkah yang dikemukakan oleh Muhammad Jawad Mughniyah.
menurutnya harta tirkah adalah harta peninggalan orang yang meninggal dunia, yaitu segala sesuatu yang dimilikinya sebelum meninggal baik berupa benda maupun utang atau berupa hak atas harta seperti hak usaha, hak jual beli, hak menerima ganti rugi dan hak atas harta yang timbul karena menjadi wali seseorang yang terbunuh.59
Membandingkan rumusan harta peninggalan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 171 huruf d dengan rumusan tirkah yang dikemukakan oleh para ahli fiqh pada dasarnya sama, yaitu “harta benda” dan “hak-hak”.
59 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta : Basrie Press, 1994), hlm.73. bandingkan dengan pendapat Muhammad Ali As-Shabuni. Muhammad Ali As-Shabuni dalam memberikan defenisi harta peninggalan menggunakan istilah at-tarakah (harta warisan) yaitu “apa-apa yang ditinggalkan manusia sesudah wafatnya, baik berupa harta dan hak-hak keuangan atau bukan keuangan”.
39
Harta tirkah mencakup keseluruhan harta yang ditinggalkan orang yang meninggal, sedangkan harta warisan hanya mencakup harta yang dibagikan kepada ahli waris setelah harta peninggalan pewaris dikurangi dengan hutang atau hal lainnya. Harta tirkah belum tentu merupakan harta waris, tetapi harta waris sudah tentu merupakan harta tirkah.
Namun, dalam perkembangannya, pemahaman mengenai harta tirkah dan harta warisan mengalami pergeseran. Harta warisan disebut juga harta peninggalan (tirkah) yang dapat dibagi kepada ahli waris setelah harta keseluruhan pewaris dipisahkan dari harta suami-isteri dan harta pusaka, harta bawaan yang tidak boleh dimiliki, dikurangi hutang-hutang dan wasiat.60 Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa semua harta yang ditinggalkan orang yang meninggal disebut dengan harta keseluruhan, bukan harta tirkah (harta peninggalan) sebagaimana dapat dilihat dari dua defenisi harta tirkah (harta peninggalan) pada masa sebelumnya. Dalam bukunya, Otje Salman juga telah mendefenisikan harta tirkah yaitu harta warisan dan akan diberikan terhadap para ahli waris dari orang yang meninggal dunia tersebut. Harta tirkah merupakan harta peninggalan sesudah dikurangi biaya penguburan, utang dan wasiat.61
Demikian pula Wirdjono Prodjodikoro mempersamakan harta warisan sebagai harta tirkah (harta peninggalan) dan mendefenisikannya sebagai sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih.
Sejumlah harta dalam keadaan bersih maksudnya adalah bahwa harta
60Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), hlm.47
61Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT.Refika Aditama,2006), hlm.19