• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mawali Menurut Kompilasi Hukum Islam

BAB II. TEORI TENTANG HUKUM KEWARISAN

E. Ahli Waris Pengganti (Mawali)

2. Mawali Menurut Kompilasi Hukum Islam

Pada dasarnya hukum kewarisan Islam tidak mengenal istilah ahli waris pengganti. Hukum waris Islam di Indonesia baru mengenal adanya ahli waris pengganti setelah di keluarkannya Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Ketentuan tersebut jika di dasarkan pada al-Qur’an memang tidak ada ayat yang mengatur masalah waris pengganti secara jelas, akan tetapi al- Qur’an bisa mengimbangi

78 Ismuha, Penggantian Tempat Dalam Hukum Waris Menurut KUHPerdata, Hukum Adat dan Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978 ), hlm. 79-80.

50

setiap kepentingan, keadaan dan memberikan ketentuan hukum terhadap semua peristiwa dengan cara tidak keluar dari syari’at dan tujuan-tujuannya. Jika dilihat dari latar belakang sebelum munculnya Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, dalam menyelesaikan masalah mengenai harta warisan biasanya mengacu kepada kitab-kitab fiqh yang beragam, yang mana kitab fiqh waris madzhab Syafi’i lebih dominan digunakan di Indonesia.

Di dalam ketentuan-ketentuan hukum warisan menurut madzhab syafi’i tidak terlepas dari pengaruh sistem kewarisan Sunni yang mana hampir secara konsisten diarahkan kepada keunggulan kerabat dari pihak laki-laki dalam prioritas perolehan bagian harta peninggalan.

Misalnya, mendahulukan saudara sebapak dibanding saudara seibu (dalam dzawi al-furudh maupun ashabah), mendahulukan ashabah sebagai kelompok ahli waris dari kerabat langsung laki-laki, dengan beberapa pengecualian, dalam memperoleh sisa harta waris untuk dzawi al-arham sebagai kelompok ahli waris dari garis kerabat perempuan.

Menurut sistem hukum kewarisan Sunni, terdapat tiga prinsip kewarisan: pertama, ahli waris perempuan tidak dapat menghijab (menghalangi) ahli waris laki-laki yang lebih jauh. Kedua, hubungan kewarisan melalui garis laki-laki lebih diutamakan daripada garis perempuan. Adanya penggolongan ahli waris menjadi ashabah dan dzawu al-arham merupakan contoh yang jelas. Ketiga, tidak mengenal ahli waris pengganti.79

79 Hazairin, Op. Cit., hlm. 76-77.

51

Berbeda dengan konsep kewarisan Sunni, konsep kewarisan KHI mengenal konsep ahli waris pengganti sebagaimana diperkenalkan oleh Hazairin. Konsep ahli waris pengganti di dalam Kompilasi Hukum Islam sebagaimana tertuang dalam Pasal 185 KHI, yang lengkapnya berbunyi:

Ayat (1). ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173.

Ayat (2): Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Dari rumusan Pasal 185 KHI mengenai ahli waris pengganti diatas dapat dipahami bahwa:

Ayat pertama, secara tersurat mengakui ahli waris pengganti, yang merupakan hal baru untuk hukum kewarisan Islam. Karena di Timur Tengah-pun belum ada Negara yang melakukan seperti ini, sehingga mereka perlu menampungnya dalam lembaga wasiat wajibah. Ayat pertama ini juga menggunakan kata “dapat” yang tidak mengandung maksud imperatif. Hal ini berarti bahwa dalam keadaan tertentu dimana kemashlahatan menghendaki keberadaan ahli waris pengganti maka keberadaannya dapat diakui, namun dalam keadaan tertentu bila keadaan tidak menghendaki, maka ahli waris pengganti tersebut tidak berlaku. Ayat pertama ini secara tersirat mengakui kewarisan cucu melalui anak perempuan yang terbaca dalam rumusan “ahli waris yang meninggal lebih dahulu” yang digantikan anaknya itu mungkin laki-laki dan mungkin pula perempuan. Ketentuan ini menghilangkan sifat diskriminatif yang ada pada hukum kewarisan Ahlusunnah.

52

Ayat kedua, menghilangkan kejanggalan penerimaan adanya ahli waris pengganti dengan tetap menganut asas perimbangan laki-laki dan perempuan. Tanpa ayat ini sulit untuk dilaksanakan penggantian ahli waris karena ahli waris pengganti itu menurut asalnya hanya sesuai dengan sistem Barat yang menempatkan kedudukan anak laki-laki sama dengan perempuan.

Dari gambaran tersebut maka konsep ahli waris pengganti di dalam Kompilasi Hukum Islam dapat di rumuskan sebagai berikut:

1. Menurut Kompilasi Hukum Islam, yang termasuk ahli waris pengganti adalah semua keturunan, ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pewaris

2. Menurut Kompilasi Hukum Islam jumlah bagian yang diterima waris pengganti tidak boleh melebihi (maksimal sama) dari bagian yang seharusnya yang diganti.

3. Menurut Kompilasi Hukum Islam kedudukan cucu baik keturunan lakilaki maupun keturunan perempuan sama-sama berhak menggantikan kedudukan ayahnya.

Ada perubahan yang cukup penting dan mendasar mengenai pengaturan kedudukan cucu dalam Kompilasi Hukum Islam dibandingkan dengan ijtihâd ulama Ahlussunnah tersebut. Menurut Ahlussunnah hanya cucu dari anak laki-laki dan kemenakan laki-laki dari saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki sebapak saja yang dapat tampil sebagai ahli waris dzawi al-furudh atau ashabah. Sedangkan selebihnya, yakni cucu dari anak perempuan, kemenakan perempuan dari saudara laki-laki

53

kandung atau saudara laki-laki sebapak dan seluruh kemenakan dari saudara ibu, hanya dipandang sebagai ahli waris dzawi al- arham. Ahli waris dzawi al-arham ini hanya mungkin mewaris apabila ahli waris dzawi al-furudh atau ashabah tidak ada.

Konsep ahli waris pengganti di dalam Kompilasi Hukum Islam ini sebagaimana dalam BW dikenal dengan istilah Plaatsvervulling.

Pemberian bagian kepada ahli waris pengganti (terutama bagi para cucu), walaupun tidak seperti Plaatsvervulling dalam BW, ini sejalan dengan doktrin mawali Hazairin dan cara succession perstrepsi dan prinsip representasi yang dapat dipakai oleh golongan Syi’ah. Namun demikian, dalam Kompilasi Hukum Islam tersebut bagian ahli waris pengganti dibatasi, tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengan ahli waris yang diganti.80

Apabila dilihat ketentuan Pasal 185 KHI ayat (1), maka dapat dikatakan bahwa seorang cucu dapat bertindak sebagai ahli waris pengganti untuk menggantikan kedudukan orang tuanya yang telah meninggal dunia terlebih dahulu daripada pewaris. Dari kalimat “dapat menggantikan kedudukan” tersebut berarti cucu juga berhak atas bagian yang seharusnya diterima oleh orang tuanya apabila masih hidup.

Dari ketentuan tersebut akan menimbulkan permasalahan lain.

Permasalahan tersebut adalah pada ketentuan ayat (2), yang menegaskan bahwa bagian dari ahli waris pengganti tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti. Misalnya saja ahli waris yang

80 Suparman Usman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2008), hlm. 199.

54

digantikannya laki-laki dan ahli waris yang sederajat dengannya adalah perempuan. Apabila ahli waris laki-laki tersebut meninggal lebih dahulu dari pewaris, maka menurut ketentuan ayat (1) anaknya berhak menggantikan kedudukannya dan menerima bagian yang seharusnya dia terima yaitu dengan ketentuan 2 : 1. Seperti diketahui bahwa bagian ahli waris laki-laki adalah dua kali bagian ahli waris perempuan. Dalam hal ini, cucu dari anak laki-laki tersebut karena dia bertindak sebagai ahli waris pengganti menggantikan kedudukan orang tuanya, maka dia akan mendapatkan bagian lebih banyak dari bibinya (ahli waris yang sederajat dengan ayahnya). Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan ketentuan Pasal 185 ayat (2) KHI.

55 BAB III

ANALISIS DIPARITAS PRODUK HAKIM PENGADILAN AGAMA TERHADAP PERKARA MAWALI

A. Kasus Posisi

1. Putusan Nomor 2635/Pdt.G/PA.JS

Berdasarkan putusan Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan Almarhumah Sartumi (Pewaris) telah meninggal dunia dengan ahli waris sebagai berikut:

a. Murtini binti Astro Wijoyo (Penggugat I) mendapat 1/7 bagian

b. Sumarni binti Astro Wijoyo mendapat 1/7 bagian, jatuh kepada ahli warisnya:

1) Wagino Hadi Purwanto (Tergugat I);

2) Bambang Purwanto (Tergugat II);

3) Endang Ekowati (Tergugat III);

4) Tri Wulansari (Tergugat IV);

5) Wahyudi Purnomo, jatuh kepada ahli warisnya:

a) Eka Budi Setiowati (Tergugat V);

b) Putri Widyaningrum (Tergugat VI);

c) Syafira Septiani (Tergugat VII); dan d) Febby Radia Damayanti;

c. Prayitno bin Astro Wijoyo (Penggugat II) mendapat 2/7 bagian;

d. Sumiyati binti Astro Wijoyo mendapat 1/7 bagian, jatuh kepada ahli warisnya:

1) Seno Setiawan (Penggugat VI);

2) Pandu Sosiawan (Penggugat VII);

3) Aldo Priyo Wibowo; dan

e. Warsito bin Astro Wijoyo mendapat 2/7 bagian, jatuh kepada ahli warisnya:

1) Waryono (Penggugat III);

2) Siwi Hartari (Penggugat V);

3) Untung Hariyadi (Penggugat IV);

4) Wajinem; dan 5) Cahya Andini;

Kesimpulan dari kasus diatas, terdapat mawali cucu dan cicit walaupun mawali tidak diputuskan berapa bagiannya masing-masing hanya

56

dijelaskan mereka berhak menggantikan bagian masing-masing orang tua mereka, akan tetapi tidak menggunakan dasar hukum mawali hanya menggunaka Pasal 172 KHI tentang bagian anak.

2. Penetapan Nomor: 6/Pdt.P/2013/PA.Sgt

Pada penetapan Pengadilan Sengeti ini merupakan permohonan dari ahli waris seorang laki-laki bernama H. Maasoem bin H. Sahak (Pewaris I) meninggal dunia karena sakit pada tanggal 25 Februari 2013.

Sementara istinya Hj. Misah binti H. Jamak(Pewaris II) meninggal dunia karena sakit pada tanggal 16 Maret 2013.

Bahwa semasa hidupnya para Pewaris hanya satu kali menikah dan selama pernikahan tersebut telah melakukan hubungan layaknya suami istri (ba'da dukhul) hingga dikaruniai anak yang masih hidup 5 (lima) orang:

1) Mat Baijuri bin H. Maasoem;

2) H. Mat Baigustam bin H. Maasoem;

3) Mis Bainur binti H. Maasoem;

4) Mis Bainah binti H. Maasoem;

5) Mat Bai Hadi bin H. Maasoem;

6) Mat Bai Idham bin H. Maasoem telah meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 2002 dengan meninggalkan anak 2 (dua) orang, yakni:

a. Nur Safitri binti Mat Bai Idham;

b. Fahrur Dendi bin Mat Bai Idham;

Berdasarkan permohonan pemohon untuk meminta penetepan ahli waris dalam hal ingin mencairkan uang tabungan di Bank Mandiri Cabang Sengeti atas nama H. Maasoem, maka Majelis Hakim menetapkan ahli waris dari almarhum H. Maasoem bin H. Sahak dan Hj. Misah binti H.

Jamak adalah:

1) Mat Baijuri Bin H. Maasoem;

2) H. Mat Baigustam Bin H. Maasoem;

3) Mis Bainur Binti H. Maasoem;

57 4) Mis Bainah Binti H. Maasoem;

5) Mat Baihadi Bin H. Maasoem;

6) Nur Safitri Binti Mat Bai Idham (ahli waris pengganti);

7) Fahrur Dendi Bin Mat Bai Idham (ahli waris pengganti);

Pada penetapan ini majelis hakim hanya menetapkan yang berhak menjadi ahli waris termasuk ahli waris pengganti (mawali), walaupun tidak ditetapkan berapa bagian masing-masing ahli waris termasuk bagian mawali. Majelis Hakim berpedoman pada ketentuan Pasal 174 ayat (2) dan Pasal 185 ayat (1) dan (2) Kompilasi Hukum Islam dan berdasarkan ketentuan hukum tersebut dihubungkan dengan fakta-fakta hukum di atas, maka anak-anak dan cucu-cucu para Pewaris adalah ahli waris para Pewaris, sebaimana firman Allah QS. An-Nisa sebagai berikut:

Artinya: “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separuh harta...

(Q.S. an-Nisa’, 4, [11],dan Qs. An-Nisa ayat 12)

Artinya: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya. dan (jika ada) orang-orang yang kamu Telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

(Q.S.an-Nisa’, 4, [33]).

3. Penetapan Nomor 108/Pdt.P/2014/PA.JB

Pada penetapan Pengadilan Agma Jakarta Barat ini terdiri dari 68 pemohon yang merupakan 13 saudara, keponakan dari saudara yang telah meninggal terlebih dahulu dari Pewaris (mawali) dan istri dari keponakan Pewaris yang meninggal tanpa pernah menikah atau disebut mati Kalalah.

Majelis hakim menetapkan mengabulkan sebagian permohonan pemohon

58

yaitu menetapkan 2 (dua) saudara pewaris yaitu pemohon 12 dan 13 dan 46 orang keponakan pewaris sebagai ahli warisnya. Hal ini diputus oleh Majelis Hakim berdasarkan pasal 185 KHI dan surat An-nisaa ayat 176. Dalam penetapan ini hakim tidak menentukan bagian masing-masing ahli waris karena dalam permohonan para pemohon meminta menetapkan membagi rata harta warisan.

4. Penetapan Nomor 0044/Pdt.P/2014/PA JS

Pada penetapan Pengadilan Agama Jakarta Selatan ini, Pewarisnya adalah almarhumah Hj. Raden Nganten Srijati binti Rebin Kertosentono mempunyai 6 orang saudara kandung yang nama-namanya, sebagai berikut :

a. R. Soebagio bin Rebin Kertosentono saudara laki-laki dari Pewaris;

b. R. Supono bin Rebin Kertosentono saudara laki-laki dari Pewaris;

c. R. Sukirno bin Rebin Kertosentono saudara laki-laki, dari Pewaris;

d. Rr. Sulastri binti Rebin Kertosentono saudara perempuan, dari Pewaris.

e. R. Soedjono bin Kertosentono saudara laki-laki dari Pewaris

Majelis Hakim menggunakan dasar hukum tentang mawali dalam Pasal 185 ayat (1) dan (2) Kompilasi Hukum Islam, yaitu :

(1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173;

(2) Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

59

Majelis Hakim menetapkan Raden Hj. Nganten Srijati binti Kertosentono telah meninggal dunia pada tanggal 23 Maret dan yang menjadi Waris, yaitu :

1) Siti Aminah binti Mustari (isteri/janda dari R. Soebagio bin Rebin Kertosentono)

2) Toto Sudarto bin R. Soebagio;

3) R. Bambang Sukaryono bin R. Soebagio;

4) Rr. Suhartati binti R. Soebagio;

5) Bambang Sunarto bin R. Soebagio;

6) RB. Suprijanto bin R. Soebagio;

7) Rr. Nurhaeni binti R. Soebagio;

8) Rr. Yetiningsih binti R. Soebagio;

9) Sumartini binti R.Soepono bin Rebin Kertosentono;

10) Sumarsono bin R. Soepono;

11) Asita Sintiasih binti Abdul Madjid (isteri/janda R.Sukirno bin Rebin Kertosentono);

12) Andi Kartono bin R. Sukirno;

13) Dodi Wangkoro bin Sukirno;

14) Ranu Widjaya bin Sutonadi (suami/duda dari Almh.Sulastri binti Rebin Kertosentono)

15) Endang Sukowati binti Ranu Wijaya;

16) Rongowuni bin Ranu Wijaya;

17) Bambang Senggono bin Ranu Widjaya;

18) Mulyani binti Ranu Wijaya;

19) Suryono bin Ranu Wijaya;

20) Anjarsari binti Ranu Wijaya 21) Guratno bin Ranu Wijaya;

22) H. Harum Sutoyo bin Ranu Wijaya;

23) Ida Susilawati binti R. Soedjono bin Rebin Kertosentono;

24) Netty Soedjono binti R. Soedjono;

25) Anto Ogy SE bin R. Soedjono;

26) Murningsih binti R. Soedjono;

27) Raden Dede Mulyanto bin R. Soedjono;

28) Edi Sutarto bin R.Soetardjo bin Rebin Kertosentono;

29) Bambang Sutaryanto bin R. Soetardjo;

30) Endah Maryati binti R. Soetardjo;

31) Sri Handayani binti R. Soetardjo 32) Retno Wahyuni binti R. Soetardjo;

33) Meri Haryati binti R. Soetardjo

Pada kasus ini hakim mengabulkan untuk mencabut perkara Nomor 0044/Pdt.P/2014/PA JS, karena para pihak telah sepakat membuat Surat Perjanjian Kesepakatan Penetapan dan Pembagian Harta Warisan dari

60

Pewaris Hj. R. Nganten Srijati binti Rebin Kertosentono yang dibuat dan ditandatangani di atas materai. Perkara ini dicabut karena Para Pemohon akan menyelesaikan secara kekeluargaan, sehingga tidak dapat diketahui berapa bagian mawali kepononakan dalam perkara ini.

5. Putusan Nomor : 1284/Pdt.G/2014/PA.TL

Pada putusan Pengadilan Agama Trenggalek ini Majelis Hakim menetapkan menerima Eksepsi Para Tergugat, dalam Konpensi, menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke Verklaard). Eksepsi diterima karena penggugat melakukan error in persona karena salah memasukan pihak dalam perkara ini.

Penggugat mendalilkan Alm. PEWARIS mempunyai 5 (lima) saudara kandung seayah seibu yang terdiri dari 4 (empat) saudara perempuan (Al Ukhtusy- Syaqieqah), yaitu:

1. TERGUGAT I sebagai Tergugat I 2. TERGUGAT II sebagai Tergugat II 3. TERGUGAT III sebagai Tergugat III 4. TERGUGAT IV sebagai Tergugat IV 5. TERGUGAT V sebagai Tergugat V

Adalah Salah dan Keliru. Yang benar bahwa Alm. PEWARIS mempunyai 5 (lima) Saudara kandung, yaitu:

1) TERGUGAT I sebagai Tergugat I 2) TERGUGAT II sebagai Tergugat II 3) TERGUGAT III sebagai Tergugat III 4) ANAK IV AYAH TERGUGAT 5) TERGUGAT V sebagai Tergugat V

Bahwa ANAK IV AYAH TERGUGAT telah meninggal dunia pada hari Minggu tanggal 22-07-2007 di Dusun Krajan Desa Beji Kec.Boyolangu Kab.Tulungagung dan dalam perkawinannya dengan TERGUGAT IV (Tergugat IV) telah dikaruniai 2 (dua) anak kandung perempuan yang telah dewasa, yaitu;

61 a. ANAK I TERGUGAT IV b. ANAK II TERGUGAT IV

Dimana yang ditarik sebagai pihak Tergugat bukan TERGUGAT IV sebagai Tergugat IV adalah salah dan kurang para pihak, dikarenakan masih ada pihak lain yang seharusnya juga ditarik sebagai pihak Tergugat juga, yaitu: ANAK I TERGUGAT IV dan ANAK II TERGUGAT IV yang merupakan 2 (dua) anak kandung dari hasil perkawinan antara ANAK IV AYAH TERGUGAT dengan TERGUGAT IV;

Penggugat menjawab Majelis Hakim seharusnya bisa menetapkan mawali atau ahli waris pengganti dari Almarhum ANAK IV AYAH TERGUGAT, begitu juga dengan tidak dimasukkan semua ahli waris dalam suatu gugatan pembagian waris menjadi pihak adalah tidak masalah karena tidak diharuskan semua ahli waris ditarik sebagai Tergugat sesuai Yuris Prudensi MA No: 1218K/Pdt/1983.

Pada perkara ini juga tidak bisa diketahui berapa bagian mawali keponakan yang meawakili orang tuanya yang telah meninggal karena hakim menerima eksepsi tergugat dan menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima (NO).

6. Putusan Nomor 192/Pdt.G/2015/PA.Sgt

Pada putusan ini yang menjadi ahli waris menurut Majelis Hakim Pengadilan Agama Sangeti adalah anak anak laki-laki paman kandung, yaitu:

1) Sarto bin Sanmiharjo = 1/4 (satu per empat) X 2/3 (dua per tiga) = 2/12 (dua per dua belas) = 1/6 (satu per enam), sebagai bagian waris;

2) Prayitno bin Sanmiharjo = 1/4 (satu per empat) X 2/3 (dua per tiga) = 2/12 (dua per dua belas) = 1/6 (satu per enam), sebagai bagian waris;

3) Slamet bin Sanmiharjo = 1/4 (satu per empat) X 2/3 (dua per tiga) = 2/12 (dua per dua belas) = 1/6 (satu per enam), sebagai bagian waris;

4) Turi bin Sanmiharjo = 1/4 (satu per empat) X 2/3 (dua per tiga) = 2/12 (dua per dua abelas) = 1/6 (satu per enam), sebagai bagian waris;

Menetapkan porsi pembagian harta waris pewaris yang disebutkan dalam amar putusan poin 3 (tiga), adalah sebagai berikut:

1) Tursiem (anak angkat) mendapatkan 14/126 (empat belas per seratus dua puluh enam), sebagai wasiat wajibah

62

2) Rati binti Sanmiharjo (anak perempuan dari anak laki-laki paman kandung Pewaris) mendapatkan 2/126 (dua per seratus dua puluh enam), sebagai dua puluh enam), sebagai wasiat wajibah;

10) Misral bin Nurman (anak tiri) mendapatkan 7/126 (tujuh per seratus dua puluh enam), sebagai wasiat wajibah

11) Sarto bin Sanmiharjo (anak laki-laki dari anak laki-laki paman kandung Pewaris) mendapatkan 21/126 (dua puluh satu per seratus dua puluh enam), sebagai bagian waris;

12) Prayitno bin Sanmiharjo (anak laki-laki dari anak laki-laki paman kandung Pewaris) mendapatkan 21/126 (dua puluh satu per seratus dua puluh enam), sebagai bagian waris;

13) Slamet bin Sanmiharjo (anak laki-laki dari anak laki-laki paman kandung Pewaris) mendapatkan 21/126 (dua puluh satu per seratus dua puluh enam), sebagai bagian waris;

14) Turi bin Sanmiharjo (anak laki-laki dari anak laki-laki paman kandung Pewaris) mendapatkan 21/126 (dua puluh satu per seratus dua puluh enam), sebagai bagian waris;

Perkara ini merupakan perkara yang paling menarik diantara perkara lainnya karena mawali yang ditarik menjadi ahli waris adalah anak laki-laki dari anak laki-laki-laki-laki paman kandung pewaris, karena pewaris mati kalalah dan merupakan anak tunggal yang tidak mempunyai saudara

63

ataupun ahli waris lainnya. Bahkan hartanya sebelumnya sudah diserahka ke baitul mal karena dianggap tidak ada pewaris atau mati punah.

B. ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM PERKARA MAWALI

Berdasarkan kasus posisi di atas dapat diringkas menjadi tabel berikut mengenai mawali:

64

65

Memperhatikan keenam kasus mewaris diatas bahwa terjadi disparitas putusan hakim pengadilan agama dalam memutus perkara mawali baik itu dari garis keturunan lurus ke bawah atau keturunan menyamping. Bahkan diantara beberapa putusan ada yang tidak menggunakan dasar hukum pertimbangan mawali yaitu Q.S. 4:33 dan Pasal 185 KHI yaitu:

Artinya: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya. dan (jika ada) orang-orang yang kamu Telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (Q.S. an-Nisa’, 4, [33]).

Pasal 185 menyatakan bahwa:

(1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173.

(2) Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Hal yang paling menarik untuk dicermati adalah bahwa ajaran mawali atau ahli waris pengganti merupakan bagian dari ajaran Bilateral Hazairin, yang mulai diterapkan oleh hakim pengadilan agama dalam memutus atau menetapkan perkara waris. Namun demikian, dalam memutus perkara sering kali hakim tidak konsisten dan memcapur adukan dengan ajaran patrinial syafei’ yaitu contohnya

66

pada kasus posisi yang keenam, yang menjadi ahli waris hanya ashobah bi nafsihi dan golongan dzawil arham mendapat wasiat wajibah.

Semua yang dilakukan hakim dalam memutus dan menetapkan hal yang berbeda dilihat berdasrkan aspek yuridis, sosiologi, filosofis dan psikoloagi masing-masing perkara yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini tentu disandarkan pada prinsip maslahah yang lebih mengutamakan aspek kepentingan masing-masing pihak yang beperkara.

Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 orang hakim pengadilan agama dan 1 orang akademisi menghasilkan jawaban beragam tergantung pemahaman dan mahzab yang digunakan oleh masing-masing pihak. Salah satu jawaban yang menarik saat ditanya apakah pergantian ahli waris bersifat belum pasti atau hal ini sudah berbentuk hukum yang harus dilaksanakan Bapak Agus Yunih, Ketua Pengadilan Agama Purwerojo menjawab:81

Cucu laki-laki dari anak laki-laki yang ditinggal mati ayahnya bisa mempunyai dua kedudukan sekaligus yaitu sebagai ahli waris ashabah dan sebagai ahli waris pengganti. Apabila cucu tersebut diberikan kebebasan untuk memilih, sudah tentu akan memilih kedudukan yang lebih menguntungkan.

Oleh karenanya, pemberlakukannya, menurut saya harus bersifat

“imperatip” atau wajib, sehingga tidak menimbulkan tafsir lain seperti halnya yang dirumuskan KHI yang bersifat jarang dan tidak pasti.

Demikian bagi saya sebagai seorang hakim tidak boleh berbeda-beda (ragam) di dalam penerapannya, sehingga membuat ketidakpastian.

Sementara 2 hakim Pengadilan Agama Pengaria Bapak Ahmad Zainul Anam dan Bapak Armansyah menyatakan:82

Sudah pasti. Telah ada payung hukumnya. Konsep ahli waris pengganti telah dituangkan dalam Peraturan Ketua Mahkamah Agung Nomor:

81 Wawancara dengan Hakim Ketua Pengadilan Agama Purwerejo, Bapak Agus Yunih, (16 Juni 2019).

82 Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Pasir Pengaraian, Bapak Ahmad Zainul Aznam dan Bapak Armansyah, (16 Juni 2019).

67

KMA/032/SK/IV/2006, tentang Pemberlakuan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. Perlu diketahui, bahwa salah satu aturan perundang-undangan yang sah menurut konstitusi adalah

KMA/032/SK/IV/2006, tentang Pemberlakuan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. Perlu diketahui, bahwa salah satu aturan perundang-undangan yang sah menurut konstitusi adalah

Dokumen terkait