• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas tidak berlaku surut

BAB II : EKSISTENSI ASAS DALAM HUKUM PIDANA ISLAM

B. Asas Hukum Pidana Islam

2. Asas tidak berlaku surut

Dalam hukum pidana Islam tidak dikenal dengan asas berlaku surut (the principal of non retro activity), hal ini adalah konsekwensi dari asas sebelumnya, sama halnya dengan apa yang ada dalam hukum pidana umum yang juga tidak mengenal asas retroaktif. Asas ini berarti bahwa Undang-undang harus berlaku hanya bagi perbuatan-perbuatan yang dilakukan setelah diundangkannya ketentuan tersebut. kelanjutan yang logis dari kenyataan yang demikian bahwa nash-nash pidana tidak mempunyai kekuatan berlaku surut (atsar raj'i) dan sesuatu perbuatan

jarimah hanya dikenakan hukuman menurut aturan pidana yang berlaku pada waktu terjadinya jarimah.

Para sarjana barat menyatakan bahwa asas ini ditetapkan pertama kalinya dalam Pasal 8 the French Decalaration of the Right of Man and the Citizen (1789),

88

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Jama'ah kecuali al-Bukhari dan An-Nasa'i, lihat As-Syaukani, Nail al-Authar, juz VII, (Saudi Arabia: Idarah al-Buhuts al-'Ilmiya, tt), hal. 249

pada hal kenyataannya asas ini sudah diletakkan dalam syari'at Islam lebih dari 1400 tahun yang lalu.89 Syari'at Islam menentang beberapa praktek yang berlaku di antara bangsa Arab pra Islam, akan tetapi setiap larangan dari praktek itu mengandung suatu pernyataan bahwa tiada hukuman yang berlaku surut.90 Semua ayat yang melarang perbuatan-perbuatan maksiat diturunkan sesudah agama Islam tersiar, akan tetapi tidak ada jarimah atau kejahatan yang terjadi sebelum turunnya ayat yang dijatuhi hukuman.

Sebagai contoh sebelum Islam hadir di muka bumi ini, seorang anak diizinkan menikah dengan bekas isteri bapaknya. Islam melarang praktek yang demikian akan tetapi al-Qur`an menyebutkan secara khusus bahwa perbuatan itu hanya dilakukan pada masa sebelum datangnya syari'at Islam. Dalam al-Qur`an disebutkan tentang perkawinan yang demikian pada surat an-Nisaa' ayat 22, yang artinya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk- buruk jalan (yang ditempuh), dan pada ayat 23, yang artinya: "…… (dan diharamkan

bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu) dan menghimpun dalam (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang."91 Tidak hanya dalam hal perkawinan, dalam hal sanksi pidana terhadap perzinaan, pencurian,

89

Topo Santoso, Menggas Hukum Pidana Islam; Penerapan Syari'at Islam dalam Konteks Modernitas, Op Cit., hal. 117

90

Topo Santoso, Ibid.

91

minum khamar dan kajahatan lainnya yang dilakukan sebelum diturunkan ketentuan tentang itu juga tidak dijatuhi hukuman. Sama dengan ketentuan di atas, Rasulullah SAW. tidak menghukum kejahatan karena darah atau perbuatan-perbuatan riba yang terjadi sebelum Islam, tetapi menerapkan larangan tersebut mulai dari turunnya wahyu. Pada pidato haji perpisahannya, Nabi s.a.w. menyatakan:92

"Setiap kesalahan darah yang terjadi di masa jahiliyah harus dihapuskan dan aku mulai dengan tuntutan dari al Hirath Ibnu Abd Al Muthalib; riba yang dilakukan selama periode itu juga dihapuskan mulai dari riba pamanku, al Abbas ibnu Abd. Al Muthalib."

Ternyata tidak saja dalam The Declaration of the Right of Man and Citizen (1789) asas tidak berlaku surut ini yang dimuat, akan tetapi oleh beberapa konstitusi dan Undang-undang dibeberapa negara telah menerapkannya. Jadi para ahli fiqh

modern menyimpulkan bahwa larangan berlaku surut merupakan suatu prinsip dasar (kaedah Ushuliyah) dari syari'at.93

Meskipun dalam hukum pidana Islam dilarangnya berlaku surut, namun dalam keadaan tertentu dapat dikecualikan, artinya peraturan pidana tersebut dapat diberlakukan surut. Hal ini dapat di lihat dari 2 (dua) macam, yaitu :

a. Pada jarimah yang sangat berbahaya dan mengancam ketertiban umum, seperti jarimah qadzaf (menuduh orang melakukan zina) dan hirabah

92

Topo Santoso, Op Cit., hal. 118

93

Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam; Penegakan Syari'at dalam Wacana dan Agenda, Op Cit., hal. 13

(pemberontak/perampokan). Kedua hal ini merupakan perbuatan yang telah terjadi dimasa lampau dan hukumannya atau pidananya tetap menjadi pidana sampai sekarang. Sebagaimana dapat di lihat dalam al-Qur`an surat an-Nur ayat 4, yang artinya:

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka yang menuduh itu delapan puluh kali dera dan jangan kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya dan mereka itulah orang-orang yang fasik".94

Dan untuk perbuatan hirabah, al-Qur`an menyatakan dalam surat al-Maidah ayat 33, menyebutkan yang artinya:

"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri tempat kediamannya…"95

b. Pada jarimah yang menguntungkan tersangka.

Apabila keluar suatu nash atau aturan pidana yang baru dan lebih ringan dari hukuman sebelumnya maka nash inilah yang diterapkan untuknya. Meskipun ketika mengerjakan perbuatannya nash yang berlaku berisi hukuman-hukuman yang lebih berat. Syarat yang diperlukan terhadap nash yang akan diberlakukan surut tersebut adalah bahwa keputusan hukuman yang dijatuhkan kepadanya berdasarkan nash yang lama yang belum mendapatkan kekuatan yang tetap. Alasan pemakaian peraturan atau nash yang lebih meringankan bagi tersangka

94

Departemen Agama RI., Op Cit., hal. 543

95

adalah bahwa tujuan hukuman tersebut memberantas jarimah (kejahatan) atau melindungi masyarakat dari keburukan-keburukannya.

Menurut Osman Abdul Malek al-Saleh, seorang profesor hukum publik dari Universitas Kuwait dan Nagaty Sanad, menyatakan bahwa kebanyakan ahli hukum Islam berpendapat bahwa hanya ada satu pengecualian bagi berlakunya asas ini, yaitu jika yang baru memberikan sanksi yang lebih ringan dibandingkan dengan hukum yang ada pada waktu perbuatan dilakukan; dalam kasus seperti ini hukuman yang lebih ringanlah yang diterapkan.96 Para sarjana-sarjana hukum Inggris berpendapat bahwa berlaku surutnya hukum-hukum yang berat memang masuk akal, sehinga badan-badan perundang-undangan di Mesir dan Perancis menerima berlaku surutnya Undang-undang pidana untuk orang-orang yang biasa melakukan kejahatan.

Dokumen terkait