BAB I : PENDAHULUAN
G. Kerangka Teoretis dan Kerangka Konsepsional
a. Kerangka Teoritis
Islam adalah agama para Rasul dan Nabi seluruhnya, dari sejak Nabi Adam.as sampai kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi pemungkas risalah-risalah Allah SAW.33 Islam merupakan agama penyempurnaan terhadap ajaran-ajaran agama yang dibawakan oleh Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, dimana Islam memberikan tuntunan aqidah, syari'ah dan mu'amalat, kesemuanya itu tidak lain adalah untuk kemaslahatan ummat. Islam tidak saja berkisar antara ibadah-ibadah
yaitu menyusun ulang data secara teratur, berurutan, logis, sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan; dan sistematisasi berdasarkan pokok bahasan dan sub-pokok bahasan yang diidentifikasi dari rumusan malasah (systematizing), Ibid, hal. 126
32
Analisis kualitatif artinya menguraikan data secara bermutu dalam bentuk kalimat yang teratur, runtun, logis, tidak tumpang tindih, dan selektif, sehngga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis. Konprehensif artinya analisis data secara mendalam dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian. Lengkap artinya tidak ada bagian yang terlupakan, semuanya sudah masuk dalam analisis. Analisis data dan interpretasi seperti ini akan menghasilkan produk penelitian hukum normatif yang bermutu dan sempurna. Ibid. hlm.127
33
Lihat Al Qur`an dalam surat Al-Baqarah; 128, 132, Al-Maidah; 44, Ali Imran; 52, Al- A'raf; 126, Yunus; 72, 84, Yusuf; 101, Al-Naml; 44, Al-Ahqaaf; 15, dan Asy-Syuura; 13
yang rutinitas tetapi Islam membawa dan mengajarkan kepada ummatnya seluruh persoalan yang dihadapi dalam kehidupan dunia.
Dengan demikian Islam adalah aqidah, ibadah, manhaj kehidupan dan dukungan-dukungan penguatnya, seperti tergambar dalam tabel berikut ini.34
Jihad, amar makruf, nahi mungkar, hukum dan sanksi
Manhaj-manhaj kehidupan, berupa manhaj politik, manhaj ekonomi, manhaj militer, manhaj pendidikan, manhaj akhlak dan manhaj sosial
Rukun-rukun
Dukungan- dukungan
Bangunan
Ibada-ibadah berupa: shalat, zakat, puasa dan haji, dan aqidah yaitu dua syahadat, keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul dan hari kiamat.
I s l a m
Gambar 1. Bangunan Islam dalam kehidupan
Islam memiliki pandangan yang unik tentang kejahatan dan hukuman diantara semua sistem yang ada di permukaan bumi ini. Islam memiliki komitmen teguh terhadap keadilan absolut yang sedapat mungkin untuk diwujudkan dalam kemaslahatan kehidupan masyarakatnya. Karena itu semua kejahatan yang dilarang
34
dalam Islam merupakan perbuatan yang melahirkan kekacauan dan merusak keamanan serta ketertiban dalam masyarakat.
Bila dikaji lebih mendalam posisi hukum di Indonesia, khususnya hukum Islam ternyata masih belum dapat diterapkan secara sempurna, ini mengingat bukan saja karena penduduknya yang notabene pemeluk agama Islam akan tetapi karena negara Indonesia bukan negara Islam. Namun demikian kedudukan hukum Islam di bidang keperdataan di Indonesia mendapat tempat yang sangat bagus dalam hukum positif yang merupakan modifikasi norma-norma agama yang kemudian dirumuskan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, maka lahirlah Undang-Undang No. 7 Tahun 1998 tentang Peradilan Agama. Lalu bagaimana dengan hukum Islam di bidang pidana, ternyata belum mendapat tempat yang bagus, buktinya hukum pidana Islam dianggap hukum yang mempunyai sifat yang sangat kejam dan tidak selaras dengan perkembangan zaman modern35. Pada hal hukum Islam secara spesifik lebih dari semua hukum manusia dan dapat dipertahankan disetiap zaman.36
Hukum pidana positif merupakan hukum publik, dimana hukum pidana tersebut memberikan dan menetapkan sanksi pada perlanggaran norma lainnya. Norma hukum itu adalah norma hukum yang dianggap sangat penting bagi
35
ada dua kelompok besar yang berbeda memegang pendapat bahwa sistem hukum Islam tidak selaras dengan perkembangan zaman. Kelompok pertama, mereka yang tidak punya pengetahuan baik hukum Islam maupun hukum modern sementara kelompok yang kedua, mengenal hukum modern tetapi tidak tahu apa-apa tentang hukum Islam, lihat Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam: penerapan syari'at Islam dalam konteks modernitas, hal. 16
36
Abdul Qadir 'Audah "Criminal Law of Islam" dalam Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam: penerapan syari'at Islam dalam konteks modernitas, Op Cit., hal. 16
kelangsungan hidup masyarakat yang aman dan tertib. Oleh sebab itu hukum pidana pada umumnya memuat aturan-aturan hukum yang mengikat kepada perbuatan- perbuatan yang memenuhi syarat tertentu, suatu akibat yang berupa pidana. Maka dengan syarat tersebut melahirkan suatu perbuatan pidana yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sejalan dengan itu maka KUHP Indonesia memuat dua hal pokok yaitu;
Pertama, memuat pelukisan dari perbuatan-perbuatan orang yang diancam pidana, yaitu syarat yang harus dipenuhi yang memungkinkan Pengadilan menjatuhi hukuman kepada si pelanggar. Kedua, menetapkan dan mengumumkan reaksi apa yang akan diterima orang yang melakukan perbuatan yang dilarang itu.37
Aturan hukum pidana karena itu menjaga dan mempertahankan kepentingan- kepentingan. Memberikan sanksi untuk pencuri, karena menjaga kepentingan harta benda seseorang dari memiliki barang yang tidak sah, memberi sanksi terhadap penghinaan agar menjaga dan mempertahankan ketertiban dalam masyarakat dan sebagainya. Semua itu diatur dalam hukum pidana dengan mengedepankan asas bahwa tiada di pidana seseorang jika tidak ada aturannya, di samping itu asas dalam hukum pidana tidak berlaku surut terhadap perbuatan pidana yang belum ada aturannya. Asas ini yang terdapat dalam Al-Qur`an, yang menekankan bahwa hukum baru berlaku kalau risalahnya telah sampai kepada ummat atau masyarakat yang bersangkutan.
37
Adapun yang menjadi teori, yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang tindak pidana yang berkaitan dengan kesalahan, karena kesalahan dan pertanggungjawaban pidana erat kaitannya. Karena adanya kesalahan menyebabkan terjadinya pertanggungjawaban, akan tetapi yang terlihat menunjukkan pada sebuah kenyataan di lapangan, yang mana terjadi perbedaan dalam praktek hukum yaitu tidak ada satu kesamaan dalam memahami satu bentuk kesalahan dan pertanggunjawaban. Salah satu pandangan yang dikemukakan oleh Schaffmeister menyebutkan bahwa penggunaan kesalahan sebagai dasar pemidanaan bukan suatu keharusan menurut perundang-undangan empiris akan tetapi asas normatif.38 Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Curzon, yang menyatakan bahwa untuk dapat mempertanggungjawabkan seseorang dan karenannya mengenakan pidana terhadapnya.39
Schaffmeister menyatakan bahwa istilah kesalahan mempunyai arti yang berbeda jangkauan dan isinya, yaitu kesalahan dipakai sebagai syarat umum untuk dapat dipidananya perbuatan di samping sifat melawan hukum, dan juga kesalahan dipakai untuk bagian khusus rumusan delik yaitu sebagai sinonim dari sifat tidak berhati-hati.40 Kesalahan dalam hukum pidana adalah suatu ikhwal yang tidak dapat dihindari, kesalahan selalu mempunyai kaitannya dengan tindak pidana yang
38
Chairul Huda, Dari Tiada Pidana tanpa Kesalahan menuju kepada Tiada Pertanggungajawaban Pidana tanpa Kesalahan, Cet. I, (Jakarta: Predana Media, 2006), hal. 2
39
Chairul Huda, Ibid. 40
D. Schaffmeister, N. Keijzer, dkk., editor J.E. Sahetapy, Hukum Pidana; Kumpulan bahan penataran Hukum Pidana dalam rangka kerjasama Hukum Indonesia - Belanda, cet. III, (Yogyakarta: Liberty, 2004), hal. 85
dilakukan oleh setiap orang. Setiap orang tidak ingin terlibat dalam perbuatan terlarang, hanya saja memang patut dan diyakini bahwa orang dapat dipersalahkan karena tindakannya. Suatu perbuatan harus memiliki sifat layak dipidana, dengan kata lain mempunyai relevansi dari sudut pandang hukum pidana.
Sifat kesalahan mempunyai tingkatan yang berkenaan dengan kesengajaan (dolus) dan kesalahan dikarenankan kelelaian (culpa). Dollus dapat di mengerti sebagai berbuat dengan kehendak dan maksud untuk memenuhi unsur-unsur delik sebagaimaan dirumuskan dalam kejahatan. Sedangkan culpa dalam perbuatan kurang mendapat perhitungan terhadap munculnya akibat fatal yang tidak dikehendaki oleh sipelaku tindak pidana.
b. Kerangka Konsepsional
Konsep jinayah atau dalam istilah Indonesia disebut pidana, membicarakan tentang masalah larangan, karena setiap perbuatan yang dilakukan berkaitan dengan larangan selalu terangkum dalam konsep jinayah yang merupakan perbuatan tersebut dilarang oleh syara'. Lahirnya larangan karena perbuatan tersebut mengancam kehidupan sosial masyarakat atau sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Kata jinayaat berasal dari bahasa Arab, ia merupakan bentuk jamak dari kata
jinayah yang diambil dari kata janaaya yang berarti memetik. Adapun kata jinayah menurut syari’at Islam ialah segala tindakan yang dilarang oleh hukum syari’at untuk
dilakukan.41 Berkaitan dengan kejahatan, kata al-jinayat dalam bentuk jama’ jinâyah
berakar dari kata Janaz-Zanba–Jinayatan, yang berarti melakukan kejahatan, hal ini disebut dalam bentuk jamak karena modusnya beragam, adakalanya menyangkut jiwa dan anggota tubuh, adaklalanya dengan sengaja dan tidak sengaja (tersalah).42
Kata jinayat atau disebut dengan Fiqh Jinayah merupakan satu bagian dari bahasan fiqh (Fikih), kalau pemahaman fiqh itu adalah ketentuan yang berdasarkan wahyu Allah dan bersifat amaliah (operasional) yang mangatur tentang kehidupan manusia dalam sistem hubungannya dengan Allah dan manusia, maka fiqh jinayah
secara khusus mengatur tentang pencegahan tindak kejahatan yang dilakukan oleh manusia dan akan diberikan sanksi hukuman sesuai dengan tingkat kejahatan, karenanya tujuan dari ketentuan itu tidak lain diciptakan Allah adalah untuk mendatangkan kemaslahatan ummat. Hal ini dipertegas oleh hadits Nabi SAW, yang mengatakan "tidak boleh terjadi kerusakan terhadap manusia dan tidak boleh manusia melakukan perusakan terhadap orang lain"43.
Segala bentuk tindakan pengrusakan terhadap orang ataupun makhluk lainnya di larang oleh agama dan tindakan tersebut merupakan kejahatan atau disebut dengan
jinayah atau istilah yang lebih tepat untuk itu disebut dengan jarimah. Fiqh jinayah
41
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah jilid 3, diterjemahkan oleh Nur Hasanuddin, Cet. I, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), hal. 399
42
Abd. Rasyid Salim, Meraih Jalan Petunjuk Syarah Bulugul Maram (Hidayatul anam Bisyarhi Bulughul Maram min Adillati al Ahkam), penerj. Bahrun Abubakar Ihsan, Lc, Cet. 1, (Bandung: Nuansa Aulia, 2007), hal. 20
43
Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, edisi pertama, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 253
sendiri berbicara tentang tindak kejahatan yang dilarang Allah pada manusia untuk melakukannya dan oleh karenanya ia berdosa kepada Allah dan akan mendapat sanksi hukuman di akhirat.
Ali ‘Audah menyebutkan, Jinayat dalam pengertian istilah adalah perbuatan yang diharamkan secara syariat, apakah perbuatan itu terjadi terhadap jiwa manusia, hartanya atau selain keduanya.44 Sedangkan dalam kebanyakan ahli fiqih memberikan pengertian secara mutlak terhadap perbuatan yang terjadi pada manusia saja, seperti pembunuhan, melukai dan memukul, namun sebagian fuqaha yang lainnya mengkhususkan penggunaan kata jinayat pada jarimah huduud dan qishash.45
Dalam banyak kesempatan para fuqaha sering menggunakan kata jinayah
dengan maksud jarimah, penggunaan kata jarimah ini dimaksudkan pada pembatasan perbuatan yang dilarang saja. Dengan mengenyampingkan perbedaan pemakaian kata-kata jinayah di kalangan fuqaha, dapat disimpulkan bahwa kata jinayah dalam istilah fiqih adalah sinonim (muradif) dengan kata jarimah.
Di dalam hukum Islam, setiap tindakan jarimah disebut juga sebagai tindakan jinayah, baik itu hukuman yang dijatuhkan berupa kurungan, denda atau hukuman yang lebih berat. Di samping itu yang menjadi perhatian tentang jarimah ini dalam hukum Islam adalah sifat kepidanaan dari suatu tindak pidana, sementara dalam
44
Abdul Qadir ‘Audah, Al-Tasyri’ al-Janaiy al-Islamiy, Muqaranan bil-Qanunil Wadh’iy, Juz Awal, (Beirut: Muasasah Risalah, 1996), hal. 67
45
hukum positif yang menjadi perhatian adalah berat ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada si pelaku tindak pidana.
Ada beberapa bentuk pidana atau jinayah dengan istilah jarimah yang disebutkan dalam pidana Islam, di lihat dari segi mengerjakannya, yaitu :46
1. Dengan cara berbuat atau melakukan tindak pidana, disebut dengan jarimah ijabiyah/delict commisionis.
2. Dengan cara tidak melakukan/melaksanakan hal yang diperintahkan, disebut dengan jarimah salabiyah/delict ommisonis.
3. Jarimah ijabiyah taqa'u bithariq al-salab/delict commisionis per ommisionem commisa. Jenis jarimah yang ketiga ini adalah menahan seseorang tahanan dengan tidak memberi makan dan tidak memberi minum sehingga tawanan tersebut meninggal. Hal inilah sebagaimana dicontohkan oleh mazhab Maliki, Syafi'i dan Hanbali.
Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai tentang bentuk atau istilah yang tepat terhadap perbuatan itu disebut jinayat atau jarimah, dalam hal ini jarimah dibagi ke dalam tiga golongan :
1. Golongan jarimah hudud, yang terdiri dari perzinahan, menuduh orang lain berzina, meminum minuman khamar (memabukkan), merampok, merusak, membuat onar, murtad dan memberontak.
46
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana, kajian kebijakan kriminalisasi dan dekriminalisasi, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 130
2. Golongan jarimah qishash atau diyat, yang terdiri atas pembunuhan sengaja, pembunuhan mirip sengaja dan pembunuhan tidak sengaja
3. Golongan jarimah ta'zir, yaitu larangan/perintah tentang sesuatu hal yang tidak dirumuskan secara pasti, termasuk sanksinya dan pelaksanaan hukumannya diserahkan kepada pihak penguasa.
Pada hakekatnya, di lihat dari karakter atau sifat dari pelanggaran dan perbuatan pada ketiga golongan di atas, maka hanya jarimah ta'zir yang dapat dianggap sesuai dengan delik-delik hukum pidana. Sementara itu jarimah hudud dan jarimah qishash/diyat lebih dogmatis dan menjadi hak Allah yang tidak mungkin diubah atau dikurangi oleh manusia. Hal ini sangat berbeda dengan delik hukum pidana yang sifatnya dapat diubah, dikurangi, dihapuskan dan diperbaharui sesuai dengan kepentingan hukum atau masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang.
Suatu perbandingan bila di lihat dalam Kitab Undang-Undang Pidana Mesir, terdapat tiga macam penggolongan tindak pidana yang didasarkan kepada berat ringannya hukuman, yaitu; (1) Jinayah (kejahatan); suatu tindak pidana yang diancamkan hukuman mati, hukuman kerja berat seumur hidup, hukuman kerja berat sementara dan hukuman penjara (Pasal 10), (2) Janhah (kejahatan ringan); suatu tindak pidana yang dijatuhi hukuman kurungan lebih dari satu minggu atau hukuman denda lebih dari 100 qirasy (Pasal 11), dan (3) Mukhalafa (pelanggaran); suatu
tindak pidana yang dijatuhi hukuman tidak lebih dari satu minggu atau hukuman denda ynag jumlahnya tidak lebih dari 100 qirasy (Pasal 12).47
Islam menetapkan bentuk-bentuk hukuman untuk suatu tindakan kejahatan atau jinayah berdasarkan apa yang ditetapkan sendiri oleh Allah SWT dalam wahyu- wahyu-Nya dan penjelasannya diberikan oleh Nabi dalam haditsnya. Al-Qur`an telah memaparkan beberapa kejahatan tertentu yang mempunyai dampak negatif terhadap kehidupan umumnya dan ketertiban khususnya dalam masyarakat. Al-Qur`an juga mewajibkan dijatuhi hukuman terhadap kejahatan dalam upaya mencegah dan mengurangi kejahatan dalam masyarakat.
Kejahatan-kejahatan tersebut berupa kejatahan/pelanggaran terhadap jiwa, hal ini bisa berupa pembunuhan atau perusakan anggota tubuh, Kejahatan terhadap harta benda dalam bentuk pencurian, kejahatan terhadap kehormatan dalam bentuk penuduhan zina, kejahatan terhadap keturunan dalam bentuk perzinahan, akal dalam bentuk meminum minuman keras (khamar), kejahatan terhadap agama dalam bentuk kemurtadan (keluar dari agama Islam) dan terhadap perundang-undangan umum kemasyarakatan dalam bentuk menyamun dan membuat kerusakan di muka bumi ini.48
47
Ali Yafie, Ahmad Sukarja, Muhammad Amin Suma, dkk, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, Edisi Indonesia, Jilid I, (Jakarta: Kharisma Ilmu, 2008), hal. 88
48
Mahmud Syaltut, Islam Aqidah dan Syari'ah (Al-Islamu 'Aqidatun wa Syari'atun), Op Cit., hal. 610
Di dalam al-Qur`an ditegaskan bahwa yang termasuk dalam tindak pidana adalah:49
1. Pembunuhan, (al-Baqarah; 178) 2. Pencurian (sirqah), al-Maidah; 38-39) 3. Penzinahan, (an-Nur; 3-5)
4. Tuduhan penzinahan, (4-5)
5. Perusuhan dan pengacau keamanan 6. pemberontakan
7. Kemurtadan
8. Minum Khamar, (al-Maidah; 90-91)
9. Keengganan melaksanakan hukum Allah, (al-Maidah; 44, 45 dan 47)
10. Pelanggaran terhadap aturan Allah yang menyebabkan seseorang harus membayar kafarah ataupun fidiyah, (al-Maidah; 89, 95-96)
Secara tradisional, bentuk-bentuk pidana Islam itu meliputi :50 1. Pidana qishash atas jiwa
2. Pidana qishash atas badan 3. Pidana diyat (denda ganti rugi) 4. Pidana Mati
5. Pidana Penyaliban (salib)
6. Pidana pelemparan batu sampai mati (rajam) 7. Pidana potong kaki atau tangan
8. Pidana pengusiran atau pembuangan 9. Pidana cambuk atau dera dan sebagainya
Selain bentuk-bentuk pidana yang tersebut di atas, baik bentuk yang ditegaskan dalam al-qur`an maupun secara tradisional, ada pidana yang dihukum dengan hukuman hadd. Para fuqaha menyebutnya dengan istilah kejahatan huduud, dimana hukuman dari kejahatan atau tindak pidana tersebut sudah merupakan
49
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Op Cit., hal. 132
50
ketetapan/ditetapkan oleh Allah SWT. Syari'at Islam telah membatasi kejahatan ini dalam tujuh macam, yaitu 51:
1. Zina
2. Menuduh (orang lain) berzina 3. Meminum khamar
4. Mencuri 5. Merampok 6. Menganiaya 7. Murtad
Pengertian hukum Islam diterjemahkan sebagai al~fiqh al Islamy atau dalam kontek tertentu disebut al syar'iah al Islamy, dan yang penekanannya lebih besar adalah al fiqh al Islamy.52 Hasbi Ash Shiddieqi, mendefinisikan hukum Islam itu adalah koleksi daya upaya para ahli hukum untuk menerapkan syari'at atas kebutuhan masyarakat.
Dalam kajian hukum Islam terdapat istilah yaitu; fiqh, syari'ah dan tasyri' Islam, ketiga istilah ini memiliki keterkaitan tetapi mempunyai makna yang berbeda. Kata Fiqh secara etimologi berarti pemahaman yang mendalam yang membutuhkan pengerahan potensi akal.53 Karena norma-norma dasar yang terdapat dalam al-qur`an dan hadits banyak yang bersifat global atau umum, perlu dilakukan perumusan secara mendetil terhadap pemahaman yang umum itu untuk direalisasikan dalam kehidupan
51
Said Hawwa, Op Cit., hal. 658
52
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Cet. IV, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hal. 7
53
sehari-hari yaitu melalui ilmu Fiqh. Karena itu di dalam fiqh membutuhkan aktualita pemikiran untuk merespon perkembangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Secara definitif Ibnu Subkiy dalam kitabnya Jam'u al-Jawami' menyatakan bahwa fiqh berarti; "ilmu tentang hukum-hukum syar'i yang bersifat amaliyah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili"54
Secara leksikal kata Syari'ah berarti "jalan ke tempat pengairan" atau "jalan yang harus diikuti" atau "tempat lalu air di sungai"55 di antara pakar hukum Islam memberikan definisi kepada syari'ah itu dengan "segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlak".56
Di samping istilah syari'ah diterjemahkan oleh Abdullah Yusuf Ali sebagai jalan yang betul yang lebih luas dari sekedar ibadah formal dan ayat-ayat hukum yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad.57 Namun demikian Pengertian syari'ah di sini mempunyai dua makna; pertama, makna yang umum yaitu keseluruhan tata kehidupan dalam Islam, termasuk pengetahuan tentang ketuhanan, dan yang kedua, dalam makna yang khusus yang berkonotasi fiqih yaitu ketetapan hukum yang dihasilkan dari pemahaman muslim yang memenuhi syarat tertentu tentang Al Qur`an dan Sunnah dengan menggunakan metode tertentu.
54
Ibnu Subkiy, Jam'u al-Jawami' dalam Amir Syarifuddin, Garis-garis besar Fiqh, Op. Cit., hal 5
55
Amir Syarifuddin, Ibid., hal. 2
56
Amir Syarifuddin, Ibid., hal. 3
57
Abdullah Yusuf Ali dalamSyahrizal, Hukum Adat dan Hukum Islam di Indonesia,Cet. 1, (Nanggaroe Aceh Darussalam: Yayasan Nadiya, 2004), hal. 74
Antara Fiqh dan Syari'ah menunjukkan hubungan yang sangat erat, karena
Fiqh adalah formula yang dipahami dari syari'ah dan syari'ah tidak dapat dijalankan dengan baik tanpa dipahami melalui fiqh. Hukum secara etimologi berarti man'u yaitu mencegah, hukum juga berarti qadha' yang memiliki arti putusan.
Dalam khazanah ilmu hukum di Indonesia, istilah hukum Islam dipahami sebagai penggabungan dua kata yaitu hukum dan Islam. Hukum adalah seperangkat perundang-undangan yang mengatur tingkah laku yang diakui oleh suatu Negara atau masyarakat yang berlaku dan mengikat untuk seluruh anggotanya.
Pidana (jinayah) adalah segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh seorang
mukallaf yang melanggar perintah atau larangan Allah yang dikhitbahkan kepada orang-orang mukallaf, dikarenakan ancaman hukuman, baik sanksi (hukuman) itu harus dilaksanakan sendiri maupun dilaksanakan oleh para penguasa ataupun Allah sendiri akan menghukumnya baik di dunia maupun di akhirat.58
Istilah jinayah mengacu kepada hasil perbuatan seseorang, biasanya pengertian tersebut terbatas pada perbuatan yang dilarang. Di kalangan fuqaha', perkataan jinayah berarti perbuatan-perbuatan yang terlarang menurut syara'. Istilah lain yang sepadan dengan istilah jinayah adalah jarimah, yaitu larangan-larangan syara' yang diancam Allah dengan hukuman had atau ta'zir.59 Istilah jarimah oleh Imam al-Mawardi mendefinisikannya sebagai berikut60 :
58
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Op Cit, hal. 125
59
A. Djazuli, Op Cit, hal. 1
60
"Segala larangan syara' (melakukan hal-hal yang dilarang dan atau meninggalkan hal-hal yang diwajibkan) yang diancam dengan hukuman had atau ta'zir"
Dalam hukum Islam (syari'at Islam), pertanggungjawaban pidana diartikan pembebenan seseorang dengan hasil (akibat) perbuatan (atau tidak ada perbuatan) yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri, dimana ia mengetahui maksud-maksud dan akibat-akibat dari perbuatannya itu.61
Pertanggungjawaban pidana tersebut ditegakkan atas 3 (tiga) dasar yaitu:62 a. Adanya perbuatan yang dilarang
b. Dikerjakan dengan kemauan sendiri
c. Pembuatnya mengetahui terhadap akibat perbuatan tersebut
Menurut Djazuli, dalam bukunya Fiqh Jinayah, menyebutkan bahwa pertanggungjawaban pidana didasarkan kepada tiga prinsip, yaitu:
1. Melakukan perbuatan yang dilarang dan atau meninggalkan perbuatan yang diwajibkan,
2. Perbuatan tersebut dikerjakan atas kemauan sendiri, artinya si pelaku memiliki pilihan yang bebas untuk melaksanakan atau tidak melakukan perbuatan tersebut,
3. Si pelaku mengetahui akan akibat perbuatan yang dilakukan.63
61
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, Op Cit., hal. 154
62
Ahmad Hanafi, Ibid.
63
Hukuman yang merupakan cara pembebanan pertanggungjawaban pidana