BAB IV PENYELESAIAN SENGKETA YANG TERJAD
B. Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji Sebaga
2. Asas dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa oleh
Pada hakikatnya terdapat 3 (tiga) asas dalam menyelesaikan sengketa yang harus dipedomani oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, yaitu: rukun, patut dan laras.155
a. Rukun
“Rukun adalah suatu asas kerja yang menjadi pedoman dalam penyelesaian
persoalan hukum adat, sedangkan kerukunan adalah suatu asas yang isinya berhubungan dengan pandangan dan sikap orang dalam menghadapi hidup bersama dalam lingkungan sesama untuk menghadapi hidup bersama seperti
masyarakat aman, tenteram dan sejahtera”.156
Dalam kehidupan sehari-hari asas kerja kerukunan ini dituangkan ke dalam ajaran kehendak bersama yang dibedakan pula menjadi ajaran musyawarah dan mufakat. Menurut Koesnoe:157
“Musyawarah adalah suatu tindakan seseorang bersama orang lain untuk
menyusun suatu pendapat bersama yang bulat atas suatu permasalahan yang dihadapi oleh seluruh masyarakatnya. Sedangkan mufakat adalah menyelesaikan perbedaan kepentingan pribadi seseorang terhadap orang lain.
154
Hasil wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum, Ketua Kerapatan Adat Nagari Kenagarian Ampang Kuranji, pada hari Selasa, 6 Agustus 2013, pukul 18.00 WIB.
155
Ibid.
156
Moh. Koesnoe, Catatan-catatan terhadap Hukum Adat Dewasa Ini, (Surabaya: Airlangga Universitas Press, 1997), hlm. 44.
157
Dalam hal ini perundingan diarahkan pada titik yang berbeda antara kehendak masing-masing pihak harus saling bersikap memberi dan menerima untuk
sampai pada persamaan pendirian atau kehendak”.
Masyarakat Adat Minangkabau di Nagari Ampang Kuranji musyawarah ini diungkapkan dalam suatu peribahasa:158
“Dicari kata nan sabuah, dicari rundiang nan saiyo. Duduak surang
basampik-sampik duduak basamo balapang-lapang. Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaek”, maksudnya sebelum diambil suatu keputusan terlebih dahulu dimusyawarahkan.
b. Patut
“Patut adalah suatu pengertian yang menunjukkan kepada alam keselarasan
dan seketika pula kepada pikiran yang sehat ditunjukkan pada penilaian atas suatu kejadian baik dalam bentuk perubahan maupun keadaan. Sebagai
pengertian demikian patut berasal dari unsur alam susila dan akal sehat”.159 Jadi ajaran kepatutan mengarah kepada usaha mengurangi jatuhnya seseorang ke dalam rasa malu.
c. Laras
“Pada ajaran keselarasan mencerminkan bahwa jawaban atas suatu perkara
di dalam suatu masyarakat ada dua kemungkinan. Pertama bahwa jawaban yang diberikan memang tetap tetapi tidak memuaskan para pihak. Karena itu rasa dendam timbul dan permusuhan antara pihak-pihak semakin besar. Keduanya jawaban itu diterima oleh pihak dan seluruh masyarakat sebagai memuaskan. Dengan jawaban itu baik yang bersangkutan maupun masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara wajar”.160
Jadi ajaran kelarasan memusatkan perhatian kepada cara bagaimana isi jawaban yang kedua itu dapat dicapai. Di dalam adat Minangkabau, ajaran kelarasan 158 Ibid, hlm. 45. 159 Ibid, hlm. 50. 160 Ibid, hlm. 53.
ini dirumuskan menjadi satu dengan ajaran kepatutan dengan mempergunakan perkataan-perkataan:
“Sepanjang alur dan patut. Beraja kepada alur dan patut”. “1. Alur adat adalah peraturan-peraturan dalam adat Minangkabau yang asalnya dibuat dengan kata mufakat oleh penghulu suku setempat (adat istiadat) dan sewaktu-waktu dapat dirubah dengan mufakat (adat babuhua sentak). 2. Alur pusaka ialah peraturan-peraturan yang telah ada dan diterima dari nenek moyang mereka, misalnya gelar pusaka, pusaka dan lain-lain”.161
Jadi dalam penyelesaian sengketa di Minangkabau harus dilihat dari konteksnya apakah alur pusaka atau alur adat. Kalau alur adat dapat berubah sedangkan alur pusaka sudah demikian adanya.
Mekanisme penyelesaian sengketa secara tradisional dilakukan oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN). Kerapatan Adat Nagari mengadakan sidang dengan menghadirkan semua penghulu suku yang delapan. Apabila ada suatu masalah/ sengketa yang akan diselesaikan atau diajukan oleh masyarakat, maka semua penghulu suku berkumpul di Kantor Badan Musyawarah (BAMUS) atau di rumah
kamanakan yang ditunjuk untuk mengadakan wirid bulanan Kerapatan Adat Nagari (surat undangan terlampir). Dalam wirid tersebut dihadiri oleh Wali Nagari beserta staf, ninik mamak dan nan ampek jinih, Ketua Lembaga Nagari dan staf, Tuo Nagari,
Kepala Jorong, Ketua Pemuda dan Tokoh Masyarakat.162
Dalam wirid bulanan nagari tersebut mereka bermusyawarah untuk mengambil suatu keputusan mengenai persoalan yang akan diselesaikan atau yang
161
Hasil wawancara dengan Amiluf Dt. Penghulu Sati, Wali Nagari Ampang Kuranji, pada hari Senin, 20 Mei 2013, pukul 10.00 WIB.
162
Hasil wawancara dengan Aan Putra, Sekretaris Kerapatan Adat Nagari Kenagarian Ampang Kuranji, pada hari Senin, 5 Agustus 2013, pukul 11.00 WIB.
diajukan oleh masyarakat. Di sini mereka menyalurkan pendapat serta buah pikiran masing-masing mengenai masalah atau persoalan itu, sehingga berakhir dengan suatu keputusan. Dan keputusan baru dijalankan apabila diperoleh kata sepakat tersebut.
Setiap sengketa adat harus diselesaikan secara berjenjang naik bertangga turun mulai dari lingkungan kaum, lingkungan suku dan nagari, bila penyelesaian kaum tidak diperoleh dapat dilanjutkan ke tingkat suku, dan bila pada tingkat suku tidak terdapat penyelesaian dapat dilanjutkan ke tingkat Kerapatan Adat Nagari (KAN).163
Sesuai dengan Keputusan Gubenur Sumatera Barat Nomor 08 Tahun 1994 tentang Pedoman Penyelesaian Sengketa Adat di Lingkungan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam Provinsi Sumatera Barat, Pasal 1 mengatakan:
a. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak mengato, adat mamakai adalah merupakan falsafah, pedoman serta arah yang akan ditempuh oleh Kerapatan Adat Nagari untuk menyelesaikan sengketa adat dalam nagari. b. Mamak Kepala Waris adalah lelaki tertua atau dituakan dalam kaumnya yang
dapat bertindak ke dalam ke luar dalam menyelesaikan masalah kaumnya. c. Penghulu suku adalah penguasa adat dalam suku atau orang yang dituakan
dalam sukunya dan mewakili sukunya ke luar dan ke dalam.
d. Kerapatan Adat Nagari (KAN) adalah Lembaga Permusyawaratan dan permufakatan adat tertinggi yang telah ada dan diwarisi secara turun-temurun sepanjang adat di tengah-tengah masyarakat nagari yang dipimpin oleh ketua Kerapatan Adat Nagari.
e. Sengketa adat adalah setiap sengketa atau permasalahan yang menyangkut
sako dan pusako serta permasalahan adat lainnya.
f. Penyelesaian yang dimaksud dalam pedoman atau keputusan ini adalah penyelesaian berbentuk perdamaian sepanjang adat.
163
Hasil wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum, Ketua Kerapatan Adat Nagari Kenagarian Ampang Kuranji, pada hari Selasa, 6 Agustus 2013, pukul 16.00 WIB.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa KAN itu terdiri dari unsur- unsur penghulu adat yang berlaku menurut adat dalam masing-masing nagari sesuai dengan penerapan.
Apabila dilihat ketentuan adat Minangkabau di mana seorang penghulu Andiko dari kaum atau raja dari kemenakannya yang berfungsi sebagai kepala pemerintahan dan menjadi pemimpin, menjadi hakim dan pendamai di dalam kaumnya, ia juga menjadi jaksa dan pembela yang dihadapi kaumnya terhadap orang luar.164
164