• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR HUKUM PENGANGKATAN URANG

A. Prosedur dan Syarat-syarat Pengangkatan Urang

Prosedur pengangkatan urang bainduak pada masyarakat adat Minangkabau di Nagari Ampang Kuranji harus dilaksanakan agar urang bainduak tersebut diterima secara sah oleh keluarga, suku dan masyarakat Nagari Ampang Kuranji.

Pelaksanaan upacara adat pengangkatan urang bainduak di Nagari Ampang Kuranji, harus melalui prosedur dan syarat yang sudah diatur oleh ketentuan adat setempat (adat nan taradat). Prosedur pengangkatan urang bainduak sebagai berikut:

Pertama, urang bainduak harus menyampaikan terlebih dahulu kepada keluarga kandungnya (asal) bahwa ia akan berinduak di Nagari Ampang Kuranji, apabila keluarga kandungnya telah menyetujui keinginan urang bainduak, maka orang tua kandung atau salah seorang keluarganya menghadap kepada calon induaknya untuk menyatakan persetujuan, akan tetapi apabila tidak bisa datang dapat diwakili dengan surat persetujuan (terlampir).

Kedua, orang tua yang mengangkat anak (induak) menghadap dan menyatakan maksud pengangkatan urang bainduak kepada tanganai (tungganai) sukunya (suku wanita yang mengangkat anak). Tanganai akan menanyakan pada

orang tua yang akan mengangkat anak tentang asal usul urang bainduak tersebut.102 Apabila orang tua kandung dari si urang bainduak berasal dari nagari tetangga maka

tanganai akan mendatangi tanganai dari orang tua kandung si urang bainduak untuk menanyakan kebenaran perihal pengangkatan anak tersebut (biasa disebut dengan

managak tanggo). Apabila ada kata sepakat di antara kedua keluarga, maka kesepakatan pengangkatan urang bainduak dibuat di atas kertas bermaterai dengan dihadiri oleh saksi dari kedua belah pihak, namun sedapat mungkin pernyataan tersebut dibuat di atas kertas bermaterai sehingga ada hitam di atas putih (sebagai alat pembuktian). Namun demikian tidak tertutup kemungkinan apabila dibuat secara notariel yaitu di hadapan notaris.103

Berdasarkan hasil penelitian pada Kantor Notaris di Kabupaten Dharmasraya belum ada yang meminta dibuatkan akta pengangkatan urang bainduak. Masyarakat Nagari Ampang Kuranji menganggap bahwa pengangkatan anak secara adat sudah dianggap cukup. Berita Acara Rapat Adat Pengangkatan Anak dapat dituangkan ke dalam akta apabila masyarakat Nagari Ampang Kuranji memintanya kepada Notaris. Hal ini dapat memperkuat keabsahan pengangkatan anak tersebut.

Setelah kesepakatan pernyataan penyerahan urang bainduak dibuat pada saat itu juga urang bainduak dinyatakan dapat diterima pada keluarga calon induaknya. Selanjutnya tanganai menghadap kepada “Urang Tuo”, dari suku induaknya. Yang

102

Asal usul urang bainduak pada umumnya meliputi: nama, suku, agama, pekerjaan, daerah asal, dan alamat. Hasil Wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, pada hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2013, pukul 18.00 WIB.

103

Hasil Wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, pada hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2013, pukul 18.00 WIB.

dikatakan sebagai urang tuo adalah orang yang paling dipercaya oleh ninik mamak

dan penghulu dalam suatu suku dan merupakan tempat bertanya penghulu sekaligus penasehat dalam satu kaum, urang tuo inilah yang memanggil tanganai untuk mengadakan rapat (duduak), di Nagari Ampang Kuranji terdapat 3 (tiga) urang tuo

(1. Tuo Nagari Sungai Sengik Tigo Kohgong adalah Tarzon; 2. Tuo Nagari Sungai Baye Tigo Tuo adalah Nabris; dan 3. Tuo Nagari Malayu Koto Tinggi adalah Zonnafri). Selanjutnya tanganai menyampaikan hal pengangkatan anak kepada

Urang Nan Ampek Jini” yaitu penghulu, dubalang (hulubalang), manti dan malin

dari suku wanita yang mengangkat anak untuk mengadakan rapat kecil di rumah orang yang akan mengangkat anak.

Dalam rapat tersebut urang nan ampek jini dan tanganai akan menanyakan kepada calon induak tentang keinginannya untuk melaksanakan upacara adat pengangkatan anak tersebut, dalam rapat kecil tersebut disepakati dan ditentukan kapan waktu (hari dan tanggal) upacara adat dilaksanakan, serta binatang yang akan dipotong pada saat acara adat tersebut apakah memotong kambing atau ayam.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, pada umumnya biaya untuk pelaksanaan upacara adat pengangkatan anak bukan berasal dari calon induak, akan tetapi berasal dari urang bainduak yang diberikan kepada calon induaknya, karena motivasi pengangkatan anak ini, biasanya berasal dari urang bainduak. Pada umumnya dalam pelaksanaan upacara adat pengangkatan anak dilaksanakan dengan acara potong kambing. Upacara adat pengangkatan anak ini oleh masyarakat

Minangkabau Nagari Ampang Kuranji disebut dengan “acara manarimo kamanakan

baru”, (menerima kemenakan baru).

Menurut konsep orang Minangkabau dari latar belakang sejarahnya, kemenakan dibedakan kepada 4 (empat) jenis, yaitu:104

1. Kamanakan batali darah, atau batali paruik yaitu yang keturunannya langsung dari urang asa (orang asal).

2. Kamanakan batali adat atau batali budi, yaitu yang keturunannya sebagai pendatang yang sederajat.

3. Kamanakan batali ameh, yaitu yang keturunannya sebagai pendatang yang bersaudara dengan keturunan urang asa.

4. Kamanakan di bawah lutuik, yaitu keturunan yang tadinya menghambatkan diri pada urang asa.

Menurut Erman Datuk Mangkudum Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, setelah upacara adat pengangkatan anak dilaksanakan, maka urang bainduak termasuk dalam kategori kamanakan batali ameh.105

Sebelum upacara adat pengangkatan anak dilaksanakan urang bainduak

diwajibkan menyediakan biaya, sebagai berikut:106

1. Untuk Kas KAN : 100.000,-

2. Untuk rumah induak : 500.000,- 3. Untuk ninik mamak 7 x 100.000,- : 700.000,- 4. Untuk Tuo Nagari 3 x 100.000,- : 300.000,-

5. Untuk Ketua KAN : 100.000,-

6. Untuk Pak Jorong setempat : 100.000,- 7. Untuk bantuan pembangunan surau : 200.000,-

104

Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia (dalam Kajian Kepustakaan), (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 98.

105

Hasil wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, pada hari Kamis, 23 Mei 2013, pukul 18.00 WIB.

106

Hasil wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, pada hari Kamis, 23 Mei 2013, pukul 18.00 WIB dan sebagaimana tercantum dalam hasil Rapat Keputusan Musyawarah KAN di Kantor BAMUS Nagari Ampang Kuranji, tanggal 6 Januari 2012.

Bagi urang bainduak yang berasal dari luar Kabupaten Dharmasraya atau yang berasal dari Kabupaten Dharmasraya yang berbeda sukunya dengan calon

induaknya harus memotong 1 (satu) ekor kambing (± Rp. 2.000.000 sudah termasuk asam garamnya) sedangkan yang berasal dari nagari tetangga dan sesuku dengan calon induaknya, memotong seekor ayam.

Apabila urang bainduak berasal dari daerah setempat (Kecamatan Koto Baru) dan berada di bawah payung suku lain dari suku ibu yang mengangkat, harus ada rekomendasi dari ninik mamak yang ditinggalkan dan diketahui oleh Wali Nagari.

Syarat-syarat tersebut di atas, mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Minangkabau di Nagari Ampang Kuranji. Kambing artinya pengorbanan dari urang bainduak untuk induaknya, 2 (dua) helai kain putih artinya induak bertanggung jawab sampai si urang bainduak meninggal dunia atau sebaliknya, di mana 1 (satu) helai digunakan untuk mengkafani induak (apak jo amak) apabila meninggal dunia dan 1 (satu) helai lagi untuk urang bainduak apabila meninggal dunia.

Setelah hari dan tanggal ditentukan serta syarat-syarat sudah dipenuhi maka satu hari sebelum upacara adat pengangkatan anak berlangsung, ninik mamak dari suku wanita yang mengangkat anak, wajib atau harus mengantarkan carano107 kepada

107

Carano adalah wadah khusus terbuat dari logam, di dalamnya terdapat sirih dan kelengkapannya, seperti buah pinang, gambir, kapur dari kulit kerang. Sirih dan pinang adalah lambang formalitas dalam interaksi komunikasi adat masyarakat Minangkabau. Makna sirih adalah secara simbolik sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaraan. Suatu pemberian dapat juga berupa barang berharga, meskipun nilai simbolik suatu pemberian tetap lebih utama daripada nilai intrinsiknya. Dalam pepatah adat disebutkan, “siriah nan diateh, ameh nan di bawah”. Dengan sirih suatu acara sudah menjadi acara adat, meskipun tidak atau belum disertai dengan pasambahan kato (persembahan kata). Sirih dan pinang juga mempunyai makna

ninik mamak yang lain yaitu kepada “Datuak nan salapan”,108 karena setiap acara pemotongan kambing ini harus dijalankan carano menurut adat Nagari Ampang Kuranji, kambing dianggap sebagai bagian dari pusako/pusaka ninik mamak untuk itu harus dijalankan carano kecuali pemotongan kambing tersebut dilaksanakan untuk acara-acara di mesjid atau mushallah/surau. Tujuan diantarkan cerana adalah mengundang ninik mamak untuk menghadiri acara penerimaan kemenakan baru tersebut dan supaya acara penerimaan kemenakan diakui oleh seluruh suku yang ada di Nagari Ampang Kuranji dan Pemerintahan Nagari.

Apabila cerana tidak dijalankan, acara adat batal dan ninik mamak yang mengadakan acara adat tersebut dapat dituntut oleh ninik mamak yang lain. Jika ninik mamak se nagari menuntut maka ninik mamak yang mengadakan acara akan dijatuhi sanksi adat. Sanksi adat tersebut tergantung pada kesepakatan ninik mamak se nagari yang dimusyawarahkan dalam rapat wirid bulanan nagari, jenis hukumannya berupa: penghulu dan para tanganai suku yang mengadakan acara tersebut dicabut haknya sebagai panghulu dan tanganai, kemudian diwajibkan membayar denda 1 (satu) ekor kambing kepada nagari.109

Misalnya yang melaksanakan upacara adat pengangkatan anak adalah kemenakan Datuk Bandaro (Suku Piliang), maka Datuk Bandaro harus mengantarkan

pemberitahuan adat yang lahiriah, baik pemberitahuan yang ditujukan pada orang tertentu atau pada khalayak ramai. Lihat Amir Sjarifoedin Tj.A, Op.Cit, hlm. 79.

108

Datuak nan salapan di Nagari Ampang Kuranji terdiri dari Dt. Rajo Lelo, Dt. Rajo Penghulu, Dt. Mangku Rajo, Dt. Bandaro, Dt. Marajo, Dt. Mangkudum, Dt. Penghulu Mudo dan Dt. Tumenggung.

109

Hasil wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, pada hari Kamis, 23 Mei 2013, pukul 21.00 WIB.

cerana tersebut kepada ninik mamak yang lain (datuk yang delapan). Adapun isi

cerana adalah: sirih dan rokok. Saat ini penggunaan sirih sudah jarang dilakukan, sehingga di lapangan yang ditemui adalah rokok.

Cerana juga diantarkan kepada Wali Nagari, adapun isi cerananya adalah sirih dan rokok disertai dengan jantung kambing yang belum dimasak ini dianggap sebagai undangan bagi Wali Nagari agar Pemerintahan Nagari mengakui acara penerimaan kemenakan baru tersebut. Cerana disampaikan juga kepada seluruh masyarakat Nagari Ampang Kuranji sebagai isyarat undangan menghadiri acara penyambutan kemanakan baru tersebut.

Setelah cerana diantarkan pada seluruh ninik mamak yang lain maka pada hari acara adat, datuk yang lain (datuk yang delapan) akan hadir untuk menyaksikan acara adat tersebut. Sebelum acara adat dimulai, salah satu ninik mamak yang hadir akan mewakili ninik mamak yang diundang untuk berbicara dalam bahasa pantun dan menanyakan maksud mereka diundang, ninik mamak yang menjadi tuan rumah menerangkan maksud undangan dan diadakannya acara adat tersebut. Setelah ninik mamak rumah minta izin pada ninik mamak yang diundang untuk melaksanakan acara adat, barulah acara adat dibuka oleh salah satu ninik mamak rumah dengan didahului

ucapan “Bismillahirohmanirrohim”.

Kemudian atas permintaan ninik mamak yang delapan maka ninik mamak

rumah yang mengadakan acara tersebut memanggil supaya ibu dan ayah angkat dan

ninik mamak rumah bertanya pada orang tua yang mengangkat anak tentang asal usul anak yang diangkat.

Apabila anak yang diangkat masih mempunyai orang tua kandung, dan bertempat tinggal di daerah Kecamatan Koto Baru, biasanya orang tua kandung si anak atau salah seorang ninik mamaknya diundang untuk hadir dalam acara tersebut. Namun apabila orang tua kandungnya berada di luar Kecamatan Koto Baru, cukup yang menggantikannya melalui surat persetujuan dari keluarga asalnya bahwa yang bersangkutan bersedia diangkat sebagai anak angkat oleh salah satu suku di Nagari Ampang Kuranji.

Apabila upacara adat sudah berlangsung, surat yang dimaksud belum ada maka ninik mamak meminta pada orang tua yang mengangkat anak untuk mengurus surat tersebut setelah acara adat, setelah surat itu selesai harus diperlihatkan pada

ninik mamaknya.

Setelah pembahasan tentang surat-surat menyangkut anak angkat kemudian dilakukan penggiliran kepala kambing yang telah dimasak untuk dicicipi oleh datuak dan salapan, untuk memberikan tanda persetujuan mereka. Mulai sejak upacara adat maka anak angkat tersebut resmi menjadi anggota keluarga yang mengangkat dan resmi menjadi anggota suku ibu angkatnya serta diterima oleh bakonya (keluarga/ suku ayah angkatnya). Setelah acara adat selesai, ninik mamak berkewajiban untuk mendaftarkan acara adat pengangkatan anak tersebut pada Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN). Fungsi pendaftaran tersebut adalah untuk mendapatkan pengesahan,

pengakuan dan pengumuman bahwa urang bainduak tersebut telah diterima secara sah (adat) di keluarga orang tua angkatnya.

Pengangkatan anak atau penerimaan kemenakan baru yang dapat didaftarkan pada Kerapatan Adat Nagari (KAN) hanyalah pengangkatan anak yang diangkat secara adat, namun dari jumlah anak angkat yang ada di Nagari Ampang Kuranji masih ada yang belum didaftarkan walaupun telah dilaksanakan upacara adat pengangkatan anak. Hal ini disebabkan oleh karena tidak adanya sanksi adat apabila tidak didaftarkan. Anak yang diangkat tanpa upacara adat/tidak resmi, tidak dapat didaftarkan pada Kerapatan Adat Nagari (KAN) karena keberadaan anak itu sendiri tidak diakui oleh Pemerintahan Nagari dan suku-suku se Nagari Ampang Kuranji.110

Di Nagari Ampang Kuranji, tidak ditemukan seseorang pun yang mengangkat

urang bainduak tanpa terlebih dahulu orang tua angkatnya (induak) menikah, hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh Amiluf Dt. Penghulu Sati, Wali Nagari Ampang Kuranji.

Menurut Amiluf Dt. Penghulu Sati, Wali Nagari Ampang Kuranji:111

“Bahwa urang bainduak tidak dibenarkan untuk bainduak kepada orang yang belum menikah, apabila induaknya seorang janda atau duda harus terlebih dahulu dimusyawarahkan kepada Wali Nagari dan seluruh tanganai yang ada, dan biasanya Wali Nagari dan tanganai akan menolaknya. Induaknya harus sepasang, sehingga tidak dibenarkan seorang janda atau duda menerima pengangkatan urang bainduak”.

110

Hasil wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji, pada hari Kamis, 23 Mei 2013, pukul 18.00 WIB.

111

Hasil wawancara dengan Amiluf Dt. Penghulu Sati, Wali Nagari Ampang Kuranji, pada hari Senin, 20 Mei 2013, pukul 10.00 WIB.

Di Nagari Ampang Kuranji, tidak ada pembatasan jenis kelamin, akan tetapi mayoritas urang bainduak adalah laki-laki, walaupun masyarakat Minangkabau di Nagari Ampang Kuranji menganut sistem kekerabatan berdasarkan garis ibu. Demikian halnya dengan batas usia juga tidak ada pembatasan, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah, pada umumnya urang bainduak adalah mereka yang telah menikah.

Menurut Lili Suryani:112

“Tidak ada batasan usia antara induak dan urang bainduak, yang terpenting kedua belah pihak senang dan para tanganai sepakat/setuju. Sewaktu saya mengangkat urang bainduak bernama Sam, saat itu usia saya 37 tahun dan

usia Sam 30 tahun”.

Dokumen terkait