BAB IV PENYELESAIAN SENGKETA YANG TERJAD
A. Persengketaan yang Dialami oleh Urang Bainduak
3. Penyelesaian Sengketa yang Terjadi pada Urang
Cara penyelesaian sengketa dapat dilakukan melalui pengadilan, Alternative Dispute Resolution (ADR), dan melalui lembaga adat. Cara penyelesaian sengketa yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata, yaitu melalui
131
Hasil Wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum, Ketua Kerapatan Adat Nagari Ampang Kuranji, pada hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2013, pukul 18.00 WIB.
pengadilan, sementara itu, cara penyelesaian sengketa yang diatur Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yaitu
Alternative Dispute Resolution (ADR). Ada lima cara penyelesaian sengketa melalui ADR, yang meliputi: l. konsultasi; 2. negosiasi; 3. mediasi; 4. konsiliasi; atau 5. penilaian ahli.132
Konsultasi adalah perundingan yang dilakukan antara para pihak tanpa melibatkan pihak ketiga dalam penyelesaian sengketa mereka. Negosiasi merupakan sarana bagi para pihak untuk mengadakan komunikasi dua arah dirancang untuk mencapai kesepakatan sebagai akibat adanya perbedaan pandangan terhadap sesuatu hal dan dilatarbelakangi oleh kesamaan/ketidaksamaan kepentingan di antara mereka. Mediasi adalah pengikutsertaan pihak ketiga dalam proses penyelesaian sengketa, di mana pihak ketiga ini bertindak sebagai penasihat. Konsiliasi adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan tersebut. Penilaian ahli adalah suatu cara penyelesaian sengketa di mana para pihak menunjuk seorang ahli yang netral untuk membuat penemuan fakta-fakta yang mengikat ataupun tidak, atau bahkan membuat pengarahan materi tersebut secara mengikat. Sementara itu, dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, maka cara penyelesaian perselisihan dalam masyarakat dilakukan secara damai.133 Penyelesaian sengketa secara damai merupakan cara untuk mengakhiri sengketa atau konflik yang terjadi
132
Lihat Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Op.Cit, hlm. 142.
133
dalam masyarakat menggunakan cara musyawarah sehingga kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan, mereka sama-sama saling menerima satu sama lain. Sementara itu, lembaga yang berwenang menyelesaikan konflik, meliputi: 1. Pemerintah; 2. Pemerintah Daerah; 3. Pranata Adat; 4. Pranata Sosial; serta 5. Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Sosial.134
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga pola penyelesaian sengketa dalam masyarakat, yang meliputi: 1. Pengadilan; 2. ADR dan 3. Damai. Di samping ketiga cara di atas, dikenal juga cara penyelesaian sengketa melalui lembaga adat dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Lembaga adat dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat di Indonesia bersifat lokal karena masing- masing etnis atau daerah mempunyai lembaga adat dan nilai-nilai yang berbeda antara satu sama lain. Seperti, misalnya dalam masyarakat etnis Samawa dikenal Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dan Lembaga Kedamangan di Palangkaraya. Damang adalah pimpinan adat kedamangan yang berfungsi sebagai kepala adat. Eksistensi Damang sebagai Hakim Perdamaian Adat diakui dan ditaati oleh masyarakat suku Dayak di Palangkaraya.135 Demikian halnya di Minangkabau, termasuk Nagari Ampang Kuranji lembaga adatnya dikenal dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN), di mana penyelesaian sengketa dilakukan dengan cara musyawarah dan mufakat.136
134
Pasal 40 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial.
135
Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Loc.Cit, hlm. 143.
136
Hasil Wawancara dengan Erman Datuk Mangkudum, Ketua Kerapatan Adat Nagari Ampang Kuranji, pada hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2013, pukul 18.00 WIB.
Nazir menjelaskan bahwa sengketa tanah ulayat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat. Hal ini terlihat dalam fatwa adat bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakek. Hal ini berarti unsur yang berkembang dalam masyarakat selalu diperhatikan. Unsur itu dikenal dengan tali tigo sapilin, yaitu agama, adat dan undang-undang, ketiga unsur tersebutlah yang dibangun Nagari. Pengukuhan Nagari sebagai satu kesatuan masyarakat hukum adat dalam Peraturan Daerah (PERDA) Propinsi Sumatera Barat No. 13 Tahun 1983 menyatakan bahwa setiap sengketa tanah adat terlebih dahulu diselesaikan melalui pengadilan adat dan pada tingkat terakhir diselesaikan melalui Kerapatan Adat Nagari (KAN).137
PERDA No. 13 Tahun 1983 memberikan dasar dalam proses penyelesaian sengketa tanah ulayat dalam KAN dilaksanakan di balai adat oleh suatu majelis hakim. Dalam pengambilan keputusan pembuktian suatu unsur yang sangat penting dalam persidangan, sehingga kepada para pihak diberi kesempatan untuk mengajukan bukti, baik alat bukti surat maupun bukti lain dan saksi. KAN yang ditetapkan itu mempunyai tugas dan fungsi sebagai peradilan perdamaian nagari akan dilakukan oleh suatu dewan juri yaitu dewan yang dibentuk oleh kerapatan Nagari yang anggotanya sebagai berikut:138
1. Wakil ketua dari kerapatan nagari sebagai dewan juri.
2. Empat orang yang diangkat oleh pimpinan harian serta dari anggota kerapatan nagari menjadi anggota dewan juri.
3. Penghulu suku dari pihak yang bersengketa menjadi anggota. 4. Seorang panitera.
137
M. Nazir, Penyelesaian Sengketa Tanah di Minangkabau, (Padang: Pusat Penelitian UNAND, 1988), hlm. 77-78.
138
Berdasarkan PERDA No. 13 Tahun 1983, penyelesaian sengketa tanah adat dilakukan sebagai berikut:139
1. Untuk sengketa yang terjadi dalam kaum, yaitu:
a. Tingkat kaum, pada tingkat ini sengketa diselesaikan oleh mamak kepala waris.
b. Tingkat suku, jika sengketa dalam kaum tidak dapat diselesaikan pada tingkat kaum, maka dapat diajukan pada tingkat suku yang diselesaikan oleh penghulu suku.
c. Tingkat KAN jika sengketa tidak dapat diselesaikan pada tingkat suku, maka dapat diajukan pada KAN.
2. Untuk sengketa yang terjadi antarkaum, yaitu:
a. Tingkat antarkaum jika terjadi sengketa antarkaum, maka akan diselesaikan oleh penghulu Nan Ampek.
b. Tingkat Kerapatan Adat Nagari, jika sengketa tidak dapat diselesaikan dalam tingkat suku, maka penyelesaiannya melalui KAN.
Apabila para pihak merasa belum puas dengan keputusan KAN, maka dapat melanjutkan pada peradilan negeri.
B. Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ampang Kuranji Sebagai Lembaga Adat