KONTRAK KEUANGAN SYARIAH
G. ASAS PERJANJIAN (KONTRAK) DALAM HUKUM ISLAM
Azas perjanjian (kontrak) dalam hukum Islam juga berlaku dalam kontrak keuangan syariah, karena pengaturan keuangan syariah merupakan bagian dari bisnis syariah. Asas tersebut dirumuskan sebagai berikut12:
1. Asas Ibahah (Mabda’ al-ibahah)
Asas ini adalah asas umum hukum Islam dalam bidang muamalah secara umum. Asas ini dirumuskan dalam adagium “Pada asasnya segala sesuatu itu boleh dilakukan sampai ada dalil yang melarangnya”. Asas ini merupakan kebalikan dari asas yang berlaku dalam masalah ibadah. Dalam hukum Islam untuk tindakan-tindakan ibadah berlaku asas bahwa bentuk-bentuk ibadah yang sah adalah bentuk-bentuk yang disebutkan dalam dalil-dalil syariah.
Orang tidak dapat membuat bentuk baru ibadah yang tidak pernah ditentukan oleh Nabi SAW. Bentuk-bentuk baru ibadah yang dibuat tanpa pernah diajarkan Nabi SAW itu diisebut bid’ah
dan tidak sah hukumnya. Sebaliknya dalam tindakan-tindakan muamalat berlaku asas sebaliknya, yaitu segala sesuatu itu sah dilakukan sepanjang tidak ada larangan tegas atas tindakan itu. Bila dikaitkan dengan tindakan hukum, khususnya perjanjian, maka itu berarti bahwa tindakan hukum dan perjanjian apapun dapat dibuat sejauh tidak ada larangan khusus mengenai perjanjian tersebut.
2. Asas Kebebasan Berakad (Mabda’ Hurriyah at-Ta’uqud)
Hukum Islam mengakui kebebasan berakad, yaitu suatu prinsip hukum yang menyatakan bahwa setiap orang dapat membuat akad jenis apapun tanpa terikat kepada nama-nama yang telah ditentukan oleh undang-undang syariah dan me-masukan klausul apa saja kedalam akad yang dibuatnya itu sesuai dengan kepentingannya sejauh tidak berakibat makan harta sesama dengan jalan yang batil.
Namun demikian dilingkungan mazhab-mazhab yang berbeda terdapat perberbedaan pendapat menge nai luas sempit-nya kebebasan tersebut. Nas-nas Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW serta kaidah-kidah hukum Islam me nun jukkan bahwa hukum Islam menganut asas kebebasan berakad. Asas
kebebas-an berakad ini merupakkebebas-an konkretisasi lebih jauh dkebebas-an spesifikasi
Adanya asas kebebasan berakad dalam hukum Islam didasarkan kepada beberapa dalil antara lain adalah:
a. Firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (perjanjian-perjanjian)”(QS Al-Maidah [5]: 1). b. Sabda Nabi SAW, “Orang-orang Muslim itu senantiasa setia
kepada syarat-syarat (janji-janji) mereka” (HR al-Hakim). c. Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang menjual pohon
korma yang sudah dikawinkan. Maka buahnya adalah untuk penjual (tidak ikut terjual), kecuali apabila pembeli mensyarankan lain” (HR Bukhari).
d. Kaidah hukum Islam, “Pada asasnya akad itu adalah kesepakatan para pihak dan akibat hukumnya adalah apa yang mereka tetapkan atas diri mereka melalui janji” .
Cara menyimpulkan kebebasan berakat dari ayat yang dikutip pada pada surah Al-Madidah ayat 1 diatas adalah:
Bahwa menurut kaidah usul fikih (metodologi penemuan
hukum Islam), perintah dalam ayatini menunjukan wajib. Artinya memenuhi akad itu hukumnya wajib.Dalam ayat ini akad disebutkan dalam bentuk jamak yang diberi kata sandang “al” (al-uqud).
Menurut kaidah usul fiqih, jamak diberi kata sandang “al”
menunjukan keumuman. Dengan demikian dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang dapat apat membuat akad apa saj baik yang bernama maupun yang tidak bernama dan akad-akad itu wajib dipenuhi.
3. Asas Konsensualisme (Mabda’ ar-Radha’iyyah)
Asas konsensualisme menyatakan bahwa untuk terciptanya suatu perjanjian cukup dengan tercapainya kata sepakat antara para pihak tanpa perlu dipenuhinya formalitas-formalitas ter-tentu. Dalam hukum Islam pada umumnya perjanjian-perjanjian itu bersifat konsensual.
Para ahli hukum Islam biasanya menyimpulkan asas kon-sensualisme dari dalil-dalil hukum berikut:
a. Firman Allah, “Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali (jika makan harta sesama itu dilakukan) dengan cara tukar-tukar berdasarkan perizinan timbal balik (kata sepakat) diantara kamu” (QS An-Nisa [4]: 29).
b. Firman Allah, “Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari mas kawin itu atas dasar senang hati (perizinan, consent). Maka makanlah ambillah) pemberian itu sebagai suatu yang sedap lagi baik akibatnya (QS An-Nisa [4]: 4).
c. Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya jual beli itu berdasarkan kata sepakat” (HR Ibnu Hiban dan Ibnu Majah).
d. Kaidah hukum Islam, “Pada asasnya perjanjian (akad) itu adalah kesepakatan para pihak dan akibat hukumnya apa yang mereka tetapkan melalui janji”13.
4. Asas janji itu mengikat
Dalam Al-Qur’an hadis Nabi SAW terdapat banyak perintah
agar memenuhi janji. Dalam kaidah usul fiqih “perintah itu pada
dasarnya menunjukan wajib. Ini berarti bahwa janji itu mengikat dan wajib dipenuhi. Diantara ayat dan hadis dimaksud adalah: a. Firman Allah, “… dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu
akan diminta pertanggung jawabannya” (QS Al-Isra [17]: 34).
b. Hadis Nabi SAW, “janji itu adalah utang” (HR Bukhari).
5. Asas Keseimbangan (Mabda’ at-Tawazun fi
al-Mu’amalah)
Meskipun secara faktual jarang terjadi keseimbangan antara para pihak dalam bertransaksi, namun hukum perjanjian Islam tetap menekankan perlunya keseimbangan itu, baik keseimbangan apa yang diberikan dan apa yang diterima mau-pun keseimbangan dalam memenuhi risiko.
Asas keseimbangan dalam transaksi (antara apa yang diberikan dan apa yang diterima) tercermin pada dibatalkannya
13 Syamsul Anwar, Ibid, hal 88, dikutip dari Az-Zakra, Syarh Qawa’id al-Fiqhiyyah, Dar al-Garbi al-Islami Bairut 1983, hal 105.
suatu akad yang mengalami ketidak seimbangan prestasi yang mencolok. Asas keseimbangan dalam memikil risiko tercermin dalam larangan terhadap riba, dimana dalam transaksi riba
hanya debitur yang memikul segala risiko atas kerugian usaha, sementara kreditor bebas sama sekali dan harus mendapat prosentase tertentu sekalipun pada saat dananya mengalami kembalian negatif.
6. Asas Kemaslahatan
Dengan asas kemaslahatan dimaksudkan bahwa akad yang dibuat oleh para pihak bertujuan untuk mewujudkan kemas-lahatan bagi mereka dan tidak boleh menimbulkan kerugian
(mudharat) atau keadaan memberatkan (masyaqqah). Apabila dalam pelaksanaan akad terjadi suatu perubahan ke adaan yang tidak dapat diketahui sebelumnya serta mem ba wa kerugian yang fatal bagi pihak bersangkutan sehingga mem beratkanya, maka kewajibannya dapat diubah dan disesuai kan kepada batas yang masuk akal.
7. Asas Amanah
Dengan asas amanah dimaksudkan bahwa masing-masing pihak beriktikad baik dalam bertransaksi dengan pihak lainnya dan tidak dibenarkan salah satu pihak mengeksploitasi ketidaktahuan mitranya. Dalam kehidupan masa kini banyak sekali obyek transaksi yang dihasilkan oleh salah satu pihak melalui suatu keahlian yang amat spesialis dan profesionalime yang tinggi sehingga ketika ditransaksikan pihak lain yang menjadi mitra transaksi tidak banyak mengetahui seluk beluk-nya. Oleh karena itu ia sangat banyak bergantung pada pihak yang menguasainya.
Profesi kedokteran misalnya terutama dokter spesialis ha-nya diketahui dan dikuasai oleh dokter saja. Masyarakat umum tidak mengetaui seluk beluk profesi tersebut. Oleh karena itu ketika seorang pasien sebagai salah satu pihak yang bertransaksi akan diterapkan suatu metode pengobatan dan penanganan penyakitnya, sang pasien sangat tergantung kepada informasi dokter untuk mengambil keputusan menjalani metode tersebut.
Oleh karena itu dalam hukum perjanjian Islam dituntut adanya sikap amanah dari pihak yang menguasainya dan memberi informasi yang sejujurnya kepada pihak lain.
Dalam hukum Islam, terdapat suatu bentuk perjanjian (kontrak) yang disebut perjanjian amanah. Salah satu pihak hanya bergantung kepada informasi jujur dari pihak lainnya untuk mengambil keputusan untuk menutup perjanjian ber-sangkutan. Diantara ketentuannya adalah bahwa bohong atau menyembunyikan informasi yang semestinya disampaikan dapat menjadi alasan pembatalan akad bila dikemudian hari ternyata informasi itu tidak benar yang telah mendorong pihak lain untuk menutup perjanjian.
Contoh paling sederhana dalam hukum Islam adalah akad murabahah, yang merupakan salah satu bentuk akad amanah. Pada zaman sekarang wilayah akad amanah tidak hanya dibatasi pada akad seperti murabahah, tetapi juga meluas kedalam akad
takaful (asuransi) bahkan juga banyak juga banyak akad yang pengetahuannya yang mengenai obyeknya dikuasai oleh salah satu pihak saja.
8. Asas Keadilan
Keadilan adalah tujuan yang hendak diwujudkan oleh se-mua hukum. Dalam hukum Islam keadilan adalah langsung me rupa kan perintah Al-Qur’an yang menegaskan, “Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (QS Al-Maidah [5]: 8). Keadilan merupakan sendi setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak.
Seringkali dizaman modern akad ditutup oleh salah satu pihak dengan pihak lain tanpa ia memiliki kesempatan untuk me-lakukan negosiasi mengenai klausul akad tersebut, karena klausul akad tersebut telah dibakukan oleh pihak lain. Tidak mustahil dalam pelaksanaannya akan timbul kerugian kepada pihak yang menerima syarat baku itu karena didorong oleh kebutuhannya. Dalam hukum Islam kontemporer telah di terima suatu asas bahwa demi keadilan syarat baku itu dapat diubah oleh peng-adilan apabila memang ada alasan untuk itu.
Apa yang dibicarakan dalam sub bab 3 Asas-asas kontrak syariah yang bersumber dari Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah dengan sub bab 4 Asas Perjanjian dalam Hukum Islam (menurut Syamsul Anwar) ternyata tidak ada hal-hal ber-tentangan satu sama lain, malah saling menguatkan dan mem-perkaya substansi Hukum Kontrak Keuangan Syariah yang sedang dibahas ini.