• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keyakinan pada tuntunan ilahi

Dalam dokumen PADA LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK (Halaman 86-91)

PRINSIP-PRINSIP DASAR KEUANGAN SYARIAH

A. KEUANGAN SYARIAH

1. Keyakinan pada tuntunan ilahi

Alam semesta diciptakan oleh Allah dan Dia juga men cip-takan manusia di muka bumi ini untuk menjadi khalifah yang bertugas memakmurkan kehidupan di bumi itu, melalui ketaat-an kepada perintah-Nya. Perintah-perintah Allah itu tidak di-batasi pada urusan ibadah dan ritual keagamaan saja, melainkan juga mencakup semua bidang kehidupan manusia, termasuk transaksi ekonomi dan keuangan.

Dalam kenyataannya manusia memang memerlukan tun-tunan ilahi, karena manusia itu mempunyai keterbatasan, dan tidak memiliki kekuatan sendiri untuk mencapai kebenaran. Manusia bukan sekedar tidak sempurna, melainkan juga me-miliki rasio yang sering dikacaukan oleh hawa nafsunya sendiri. Setiap muslim harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa perintah-perintah Allah yang disampaikan-Nya melalui Nabi

Muhammad Saw itu haruslah dikuti tidak saja secara harfiah,

tetapi juga secara substansial2.

Kalau dalam sistem keuangan konvensional antara urusan agama dengan urusan pemerintah dijadikan terpisah dan tidak saling tergantung (sekularitas), memang berbeda denga sistem keuangan syariah yang memandang semua aspek kehidupan,

1 Daud Vicary Abdullah dan Keon Chee, Keuangan Syariah, Zaman Jjakarta 2012, hal 20.

termasuk dalam kegiatan keuangan harus ada dalam satu totalitas kehidupan.

Sehingga segala tindakan dan perbuatan manusia termasuk perbuatan dalam bidang keuangan terkontrol dengan baik oleh suprimasi kekuasaan dalam kehidupan didunia ini, yang nanti akan berlanjut dengan kehidupan yang kekal di akhirat.Apakah perbuatan seseorang itu sudah benar atau salah, itu akan dipertanggung jawabkannya nanti dihadapan pengadilan Allah (mizan) di hari kiamat nanti. Kebenaran itu diyakini oleh setiap

muslim sebagaimana tersurat dalam firman Allah berikut ini: “Sesungguhnya kepada Kami-lah mereka kembali. Kemudian se-sung guh nya (kewajiban Kami-lah membuat perhitungan atas mereka” (QS Al-Gasyiyah [88]: 25-26).

a. Tidak ada bunga

Maksudnya tidak boleh menerima bunga dari suatu pin jaman atau diminta membayar bunga atas suatu pin-jaman. Tidak seperti pada sistem konvensional, dimana bank akan mengenakan bunga kepada nasabahnya yang mengambil pinjaman. Di bank syariah nasabah yang meng-ambil pembiayaan tidak dikenakan bunga. Kalau begitu dari mana bank syariah mendapat uang untuk membiayai operasionalnya ?.Tentu saja bank syariah tidak gratis.

Untuk membiayai operasionalnya bank syariah me-ngena kan bagi hasil kepada nasabahnya yang mengambil pembiayaan. Begitu juga kepada nasabah yang menyimpan dana di bank syriah, maka bank syariah akan mengenakan bagi hasil dari dana yang dititipkannya di bank syariah.

Mekanismenya juga beda. Bilamana pada suatu hari seorang nasabah menyimpan dananya di bank konvensional, maka besok harinya nasabah itu sudah mendapatkan per-hitungan bunga. Sedangkan di bank syariah kalau se-orang nasabah menyimpan uangnya, maka bagi hasilnya menunggu dahulu sampai dana itu diikutsertakan dalam suatu pembiayaan. Besarnya bagi hasil itu juga pada

dasarnya berdasarkan kesepakatan yang disebut nisbah bagi hasil.

b. Tidak ada investasi haram

Dana-dana yang dikeluarkan dari bank syariah tidak boleh digunakan untuk investasi yang di haramkan oleh syariah, seperti: memproduksi barang-barang yang diharam-kan oleh syariah, misalnya alkohol, tembakau, khamar, senjata yang tidak diberi kewenangan oleh pemerintah,

pornografi, narkoba dan sejenisnya, atau untuk membiaya

beroperasinya pelacuran (rumah bordil), dan perjudian.

c. Berbagi risiko dianjurkan

Dalam sistem keuangan syariah anjuran berbagi resiko ini bertujuan untuk meningkatkan tranparansi, saling per-caya, dan kejujuran antara bank dengan nasabah. Dan dalam perspektif lain juga dimaksudkan bahwa sistem keuangan syariah itu tidak hanya menuntut kelayakan nasabah penerima pembiayaan, tetapi juga dimaksudkan untuk

mem-buktikan ketahanan finansial bank syariah itu.

Tentu saja untuk maksud ini perlu diatur rambu-rambu-nya, seperti misalnya kerugian (risiko) itu bukan karena kelalaian, keteledoran, atau kesengajaan. Tetapi benar-benar karena bencana alam seperti banjir, tanah longsor atau oleh perbuatan orang lain diluar kemampuan nasabah untuk mempertahankannya seperti misalnya di rampok atau di curi orang yang harus dibuktikan dengan berita acara dari kepolisian.

Bila hal ini dapat dilaksanakan maka berbagi resiko ini tidak hanya akan menjadi ikon bank dan lembaga keuangan syariah non bank, tetapi juga sekaligus menjadi “competitive advantage” (keunggulan bersaing) bank syariah terhadap bank konvensional. Dan yang tidak kalah pentingnya juga berarti bank syariah dalam hubungan dengan relasi (nasa-bah) menempatkan diri dalam posisi yang setara, tidak dalam posisi yang superior seperti pada kebanyakan lembaga keuangan konvensional yang tabu dengan anjuran ini.

Hal ini perlu sekali direalisasikan oleh lembaga keuangan syariah seperti bank syariah dan lembaga keuangan syariah nonbank yang menginginkan memiliki keunggulan bersaing. Tentu saja untuk memulai terasa berat, akan tetapi bila sudah dapat dilaksanakan akan memancing derasnya arus masuk permohonan pembiayaan dari masyarakat pengguna la-yanan pembiayaan perbankan syariah.

d. Pembiayaan didasarkan pada aset riil

Dalam praktik keuangan syariah sudah menjadi keharus-an bahwa pembiayakeharus-an syariah itu harus didasarkkeharus-an atas aset riil. Karena dalam keyakinan sistem keuangan syariah pembiayaan yang disalurkan melalui produk-produk syariah hanya bisa neningkat (berkembang) seiring dengan me -ning kat nya perekonomian riil, dan dengan demikian juga se-kaligus membantu menangkal spekulasi dan ekspansi kredit yang berlebihan3.

Sebaliknya pada sistem konvensional sering terjadi pembiayaan (kredit) itu digunakan tidak untuk aset riil, sehingga pertumbuhannya dari segi jumlah angkanya sering mengejutkan (luar biasa banyaknya), tetapi jumlah itu hanya semu atau terjadi penggelembungan angkanya saja dan pada kenyataannya tidak menambah produksi barang dan jasa,

sehingga yang terjadi adalah inflasi.

Inilah yang sudah beberapa abad yang lalu ditentang oleh pemikir-pemikir ekonomi Islam seperti Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin dan Abdurrahman Ibnu Khaldun dalam bukunya Mukaddimah. Menutut Al-Ghazali uang diibaratkan cermin yang tidak mempunyai warna,

tetapi dapat mereflesikan semua warna. Uang diciptakan

untuk melancarkan pertukaran dan menetapkan nilai yang wajar dari pertukaran tersebut.Uang tidak mempunyai harga

tetapi merefleksikan semua harga. Dalam istilah ekonomi

klasik (konvensional), uang tidak mempunyai kegunaan lang sung (drect utility function).

Kemudian dalam teori ekonomi neo klasik (neo liberal) kegunaan uang timbul dari daya belinya, jadi uang memberikan uang, memberikan kegunaan tidak langsung

(indirect utility function). Apa yang dikemukan para penganut teori konvensional baik liberal maupun neoliberal tentang uang ini, menjadi hal yang sangat menarik perhatian para ekonom muslim seperti misalnya Al-Ghazali dan Abdurrahman Ibnu Khaldun.

Menurut Al-Ghazali “perdagangan dinar dengan dinar ibarat memenjarakan uang, sehingga uang tidak dapat menjalankan fungsinya. Makin banyak yang diperdagangkan, makin sedikit yang dapat berfungsi sebagai alat tukar4

Dua ratus tahun setelah Al-Ghazali, di Tunisia telah hadir seorang tokoh ulama sekaligus juga ekonom yaitu Abdurrahman Ibnu Khaldun (Abu Yazid). Dalam bukunya

Mukaddimah Ibnu Khaldun menjelaskan kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang dinegara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkaat produksi negara tersebut dan neraca pembayaran yang positif. Bisa saja suatu negara menciptakan uang sebanyak-banyaknya (cartal maupun giral), tetapi apabila hal itu bukan merupakan

refleksi pesatnya pertumbuhan sektor produksi, maka uang

yang melimpah itu tidak ada nilainya5.

Di zaman moden sekarang ini apa yang dianalisis oleh Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun ini ternyata terjadi, dan peristiwa itu justru dimotori oleh tokoh ekonomi neo klasik (neo liberal) yaitu Prof. Robert Merton dan Prof. Myron Scholas, keduanya peraih hadiah Nobel yang ber kutat mencari keuntungan dengan menukar uang di bursa efek. Hal itu terjadi pada bulan September 2000 pada sebuah perusahaan scuritas Long Term Capital Management dengan modal US $ 2,2 milyard, dengan dana itu dengan mudah dapat meminjam uang dari

4 Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Dar An-Nahdhah Bairut tt Juz III hal 27, dikutip Adiwarman A.Karim.

5 Adiwarman A.Karim, Ekonomi Mikro Islami, Raja Grafika Jakarta 2007, hal

40milyard.

Surat bergarga itu dijadikan jaminan untuk transaksi yang lebih besar senilai US $ 1, 24 triliun. Apa yang terjadi

setelah itu?. Sektor finansial membesar secara semu, dan

celakanya mereka rugi, sehingga memaksa Federal Reserve

Amerika Serikat memberikan bantuan (billout)dengan alasan untuk mencegah efek domino bangkrutnya perusahaan scuritas tersebut dan perusahaan scuritas lainnya6.

Delapan tahun kemudian (2008) peristiwa yang sama terjadi lagi pada perusahaan skuritas yang menanamkan sahamnya di usaha property dinegara yang sama yang nyaris berimbas ke negara-negara lain termasuk Indonsia. Dengan dua kejadian itu cukup memberikan bukti tentang keunggulan ekonomi syariah, karena sampai saat ini di negara-negara Islam yang konsekwen menerapkan sistem ekonomi syariah, yang tidak membolehkan uang dijadikan sebagai komoditi tidak pernah mengalami resesi7.

Dalam dokumen PADA LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK (Halaman 86-91)