• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Asuransi Syariah

Dalam dokumen PADA LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK (Halaman 184-187)

NON BANK

3. Karakteristik Asuransi Syariah

Asuransi syariah sebagai salah satu bentuk lembaga ke-uangan syariah yang digali dan dibangun atas dasar nilai-nilai syariah memiliki karakteristik tertentu yang membedakan asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Diantara karak-teristik atau ciri-ciri tertentu itu adalah sebagai berikut12:

a. Akad yang dilakukan adalah akad al-takafuli.

b. Selain tabungan peserta dibuat pula tabungan derma

(tabarru).

c. Merialisir prinsip bagi hasil.

Pada prisip yang pertama mengandung arti bahwa akad yang digunakan dalam pelaksanaan asuransi bukan tabaduli

(saling mengganti atau saling menukar), sebagaiman yang dibuat dalam asuransi konvensional terjadi penukaran antara pembayaran premi yang distorkan peserta asuransi dengan pembayaran klaim yang diserahkan perusahaan asuransi. Salah satu syarat sahnya akad tabaduli adanya kejelasan tentang berapa yang akan dibayar dan berapa yang akan diterima. Sedangkan penggunaan akad tabaduli dalam asuransi kovensional telah menyebabkan adanya ketidak pastian tentang komulasi pem-bayaran premi yang harus distor peserta asuransi.

Hal itu terjadi apabila peserta tertimpa musibah pada saat kontrak berlangsung. Waktu sejak akad dilakukan sampai tertimpa musibah tidak tentu, bisa panjang dan bisa pendek yang tentu saja menentukan besarnya premi yang distor peserta. Oleh karena itu akad tabaduli dalam asuransi konvensional mengandung

12 Djazuli dan Yadi Janwari, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat, Raja

unsur gharar (ketidakpastian)13. Berbeda dengan asuransi konven-sional, dalam asuransi takaful (asuransi syariah) akad yang di-guna kan adalah akad takafuli (saling menanggung dan saling menjamin). Akad takafuli ini dilakukan diantara sesama peserta asuransi – tidak seperti dalam asuransi konvensional akad dilakukan antara peserta dengan perusahaan asuransi. Dalam akad takafuli kejelasan berapa yang harus diberikan dan berapa yang akan diterima tidak menjadi syarat. Oleh karena itu asuransi takafuli dalam hal ini akad (transaksi) terlepas dari unsur .

Karakteristik kedua dari asuransi takaful adalah adanya tabungan tabarru’ (derma). Dalam asuransi takaful khususnya dalam asuransi keluarga, sejak awal peserta telah diberitahu bahwa tabungan (premi) yang distornya akan disisihkan se ba-gian untuk tabarru’. Tabungan yang distor peserta akan dipilah menjadi dua, yaitu tabungan peserta dan tabungan tabarru’ (derma).

Tabungan peserta adalah tabungan yang diberikan kem-bali kepada peserta disaat masa kontrak telah habis atau ter-timpa musibah atau mengundurkan diri. Sedangkan tabung-an tabarru’ adalah tabungtabung-an kebaiktabung-an ytabung-ang diinfaktabung-an pe ser ta untuk membantu peserta lain yang tertimpa musibah. Tabungan tabarru’ ini tidak akan kembali lagi kepada peserta yang ber sang-kutan apabila masa kontraknya telah berakhir atau meng undur-kan diri. Secara syari’ adanya tabungan tabarru’ sesungguhnya merupakan realisasi dari prinsip ta’awun dalam asuransi ta-kaful14. Dengan demikian tabungan tabarru’ merupa kan ciri khas dari asuransi takaful atau syariah yang tidak ditemukan dalam asuransi konvesional.

Karakteristik ketiga dari dari asuransi takaful (syariah) ialah ditetapkannya bagi hasil (mudharabah dan musyarakah). Prinsip ini dilakukan pada saat penyerahan premi oleh peserta kepada perusahaan asuransi (akad mudharabah) dan saat investasi dari perusahaan asuransi kepada investor (akad mudharabah dan

musyarakah). Premi yang distor peserta oleh perusahaan asuransi

13 Djazuli dan Yadi Janwari, Ibid, hal 123.

disatukan dalam kumpulan Dana Peserta yang kemudian diinvestasikan kepada investor dengan prinsip bagi hasil, yaitu keuntungan dan kerugian ditanggung bersama (profit and loss sharing).

Keuntungan yang diperoleh asuransi takaful (syariah) dari investasinya kemudian dibagi lagi dengan peserta asuransi pada saat peserta tertimpa musibah, mengundurkan diri, atau masa kontrak habis. Ciri ini menandai bahwa asuransi ta kaful (syariah) merupakan solusi dari masalah bunga yang kontro ver-si al dalam asuranver-si konvenver-sional yang diberlakukan selama ini.

Dalam perspektif Karnaen A. Parwataatmaja (1996) me-ngemukakan ada empat ciri dari asuransi takaful (syariah), yaitu masing-masing:

a. Dana asuransi diperoleh pemodal dan peserta asuransi didasarkan atas niat dan semagat persaudaraan untuk saling membantu pada waktu yang diperlukan.

b. Tata cara pengelolaan tidak terlibat dengan unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat Islam.

c. Jenis asuransi takaful (syariah) terdiri dari Takaful keluarga, yang memberikan perlindungan kepada peserta atau ahli warisnya sebagai akibat kematian dan sebagainya, dan takaful umum, yang memberikan perlindungan atas kerugi-an harta benda karena kebakarkerugi-an, kecurikerugi-an dkerugi-an sebagai nya. d. Terdapat Dewan Pengawas Syariah yang bertugas

meng-awasi operasional perusahaan agar tidak menyimpang dari tuntunan syariah Islam15.

Dari karakteristik yang dikemukakan Karnaen A. Per-wataat maja ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi dan dicermati16, yaitu:

1) Niat dan semangat berasuransi syariah harus didasarkan

15 Karnaen A.Perwataatmaja, Membumikan Ekonomi Islam di Indonesia, Usaha Kami Depok, 1996, hal 235

pada tujuan untuk saling membantu dan tolong menolong

(ta’awun) diantara sesama anggota (peserta) asuransi.

2) Pengelolaan dana yang disetor peserta dalam bentuk premi dilakukan dengan cara yang terbebas dari unsur maysir, gharar, dan riba.

3) Pengawasan Dewan Pengawas Syariah harus benar-benar berfungsi, sehingga semua aktivitas asuransi takaful (sya-riah) ini tidak keluar dari koridor yang sudah ditentukan oleh syariah.

Karakteristik tersebut diperkuat lagi oleh asuransi takaful (syariah) dengan berkomitmen dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh nilai-nilai asuransi Islami sebagai berikut: 1) Takwa merupakan landasan utama dalam mengelola

lem-baga keuangan syariah.

2) Amanah terhadap kepercayaan pemegang saham dan investor.

3) Kepuasan dan manfaat selalu dirasakan oleh nasabah dan relasi.

4) Budi pekerti yang luhur (akhlaq al-karimah melandasi etos kerja para pimpinan dan karyawan.

5) Forum pembinaan sumber daya manusia (SDM) ditujukan untuk mencapai profesionalisme yang berlandaskan nilai-nilai Ialami.

6) Ukhuwwah merupakan landasan komunikasi internal dan ekternal.

7) Lingkungan dan negara insya Allah mendapat mamfaat-nya17.

Dalam dokumen PADA LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK (Halaman 184-187)