• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontroversi Pendapat Ulama Tetang Asuransi

Dalam dokumen PADA LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK (Halaman 197-200)

NON BANK

6. Kontroversi Pendapat Ulama Tetang Asuransi

Seperti diketahui bisnis asuransi adalah sesuatu yang baru

dalam literatur fiqih Islam dan termasuk dalam masalah

kontem-porer yang baru terangkat kepermukaan pada pertengahan abad ke 18, yaitu tepatnya setelah Ibnu Abidin (1784- 1836 M),

seorang ahli hukum Islam yang menganut mazhab Hanafi,

mengomentari tentang praktik praktik asuransi dalam kitabnya

Rad al-Mukhtar32. Para ulama sempat berbeda pendapat dalam menentukan keabsahan praktik hukum asuransi.

Perbedaan pendapat, lebih-lebih mengenai hal yang baru itu adalah sesuatu yang wajar, karena tidak semua orang sempat menelaah (mengkaji) lebih dalam dan lebih jauh tentang pokok persoalan yang dianggap baru waktu itu, disamping juga tentu waktu itu bahan literaturnya belum cukup tersedia. Dengan kondisi yang keterbatasan itu maka kita yang hidup dimasa kini dapat memahami mengapa terjadi kontroversi (perbedaan pendapat) pada waktu itu.

Sekedar melihat perbedaan (kontroversi) tentang pema-ham an asuransi itu dahulu, penulis angkat disini sebagai bahan kajian ilmiah untuk memberitahu saja kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang bahwa hal itu dahulu pernah terjadi, disebabkan oleh keterbatasan kesempatan untuk mengkaji dan keterbatan bahan literatur yang bisa digunakan untuk dijadikan bahan kajian. Namun sekarang kontroversi itu alhamdulillah dapat dikatakan sudah tidak terdengar lagi. Ini menunjukan bahwa pengembangan ilmu dan pemahaman orang terhadap sesuatu yang baru itu selalu dinamis seiring dengan kemajuan zaman yang sudah bisa menghadirkan bahan kajian (literatur) tentang sesuatu yang dipersoalkan itu.

Secara garis besar kontropersial pendapat ulama terhadap masalah ini dapat dipilah menjadi dua kelompok besar, pertama kelompok yang mengharamkan asuransi, dan yang kedua kelompok yang membolehkan asuransi. Kedua kelompok ini mempunyai hujjah masing dan memberikan alasan hukum

32 Muhammad Ma’sum Billah, Principle and practices of Takaful and Insurance Compared, IIUM Press Kuala Lumpur 2001.

penguat terhadap yang disampaikannya. Dianatara pendapat para ulama ini ada yang mengharamkan asuransi dalam bentuk apapun dan ada yang membolehkan semua bentuk asuransi.

Disamping itu adapula sub kelompok yang membolehkan asuransi yang bersifat sosial (ijtimai’). Sub kelompok ini pada garis besarnya sama dengan alasan pendapat kedua. Sedang yang mengharamkan asuransi yang bersifat komersial (tijari)

pada garis besarnya sama dengan pendapat pertama. Diantara dua sub kelompok ini ada lagi satu sub kelompok lain yang memandang praktik operasional asuransi itu sebagai sesuatu yang subhat atau tidak jelas hukumnya33. Sub kelompok ini beralasan karena tidak ditemukannya dalil-dalil syar‘i yang secara jelas mengharamkan atau menghalalkan asuransi. Oleh karena itu menurut mereka kita harus berhati-hati didalam berhubungan dengan asuransi34

Pemilahan terhadap terjadi kontroversi dua kelompok besar yang berbeda ini dan tiga sub kelompok lebih kecil yang berbeda pendapat tentang asuransi ini pertamakali dilaku-kan oleh Masyfuk Zuhdi penulis kitab (buku) Masail Fiqhiy-yah menjelaskan alasan utama oleh ulama-ulama yang meng-haramkan asuransi itu karena premi-premi yang dibayarkan oleh para pemegang polis itu diputar dalam praktik riba35. Ulama-ulama yang tergolong mengharamkan asuransi itu oleh Masyfuk disebutkan antara lain: Sayid Sabiq (penulis kitab Fiqh al-Sunnah), Abdullah al-Qalqili (mufti Yordan), Muhammad Yusuf al-Qardhawi (penulis kitab Halal wa Haram fi al-Islam), Mahdi Hasan (Mufti Deoband Saharanpur India), dan Muhammad Ali (Mufti al-‘Ulum Cawnpur India)36.

Selain Masjfuk Zuhdi, Warkum Sumitro menemukan alasan-alasan yang dikemukakan oleh kelompok yang meng-haramkan asuransi itu. Secara komulatif ada enam alasan yang

33 Nandi Rahman, Asuransi Takaful Keluarga menurut Ekonomi Islam, PPS UNMUH Jakarta 2002, hal 4.

34 Hasan Ali, Op cit, dikutip dari Warkum Sumitro, Loc cit.

35 Hasan Ali, Op cit, hal 142.

dikemukakan oleh para ulama yang mengharamkan asuransi itu37:

a. Asuransi mengandung unsur perjudian yang dilarang dalam Islam.

b. Asuransi mengandung unsur ketidakpastian.

c. Ansuransi mengandung unsur riba yang dilarang dalam Islam.

d. Asuransi termasuk jual-beli dan tukar menukar mata uang tidak secara tunai.

e. Asuransi obyek bisnisnya digantungkan pada hidup matinya seseorang, yang berarti mendahului takdir Allah SWT.

f. Asuransi mengandung unsur eksploitasi yang bersifat menekan

Selain apa-apa yang dikemukakan diatas. Mahdi Hasan juga melarang asuransi, dikarenakan oleh hal-hal berikut ini38:

a. Asuransi tak lain adalah riba berdasarkan kenyataan bahwa tidak ada kesetaraan dua pihak yang terlibat, padahal kesetaraan demikian wajib adanya.

b. Asuransi juga adalah perjudian, karena ada pergantungan kepemilikan pada munculnya resiko.

c. Asuransi adalah pertolongan dalam dosa, karena perusahaan asuransi meskipun milik negara, toh merupakan institusi yang mengadakan transaksi dengan riba.

d. Dalam asuransi jiwa ada unsur penyuapan (risywah), karena kompensasi didalamnya adalah untuk sesuatu yang tidak dapat dinilai.

37 Warkum Sumitro, Asas asas Perbankan Islam dan Lembaga Terkaitdi Indonesia,

Raja Grafindo Persada Jakarta 1997, hal 166.

38 Muhammad Muslehuddin, Insurance an Islamic Law (penerjemah Burhan Wirasubrata,Menggugat Asuransi Modern: Mengajukan suatu alternatif baru dalam Perspektif Huku Islam. Lentera Jakarta 1999.

Sedangkan para ulama yang membolehkan praktik asuran-si diwakili oleh beberapa ulama, diantaranya39: Ibnu Abidin, Abdul Wahab Khallaf (penulis kitab Ilmu Ushul al-Fiqh), Mustafa Ahmad Zarqa (Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Syariah Universitas Syiria), Muhammad Yusuf Musa (Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir), Syekh Ahmad asy-Syarbashi (Direktur Asosiasi Pemuda Muslim), Syekh Muhammad al-Madani ( Dekan di Universitas al-Azhar), Syekh Muhammad Abu Zahrah, dan Abdurrahman Isa (penulis kitab al-Muamalat al-Haditsah wa Ahkamuha).

Menurut pendapat para ulama yang membolehkan karena didalam asuransi itu:

a. Tidak terdapat nash al-Qur’an dan Hadis Nabi yang melarang.

b. Terdapat kesepakatan dan kerelaan anatar kedua belah pihak.

c. Asurannsi menguntungkan kedua belah pihak.

d. Asuransi mengandung kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat diinvestasikan dalam kegiatan pembangunan.

e. Asuransi termasuk akad mudharabah antara pemegang polis dan perusahaan asuransi.

f. Asuransi termasuk syirkah at-ta’awuniyah, usaha bersama yang didasarkan pada prinsip tolong menolong.

Dalam dokumen PADA LEMBAGA KEUANGAN BANK DAN NON BANK (Halaman 197-200)